Musi Channel

Bertahan dengan Rokok Pucuk

06.01.2012 01:10:01 WIB

SAAT ini begitu banyak produksi rokok kretek atau filter yang diproduksi industri rokok. Baik nasional maupun international. Lalu, bagaimana dengan produksi rokok tradisional, seperti rokok pucuk? Masih bertahankah?

Ternyata rokok pucuk masih banyak peminatnya, terutama para orangtua. Tak heran, industri rumah tangga rokok pucuk milik Romsiah (60), di Jalan H Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu, Kelurahan 3 Ulu, Kecamatan Sebrang Ulu 1, Palembang, masih bertahan.

Saat memasuki rumah Romsiah, aroma daun nipa terasa menyengat. Begitu pula daun-daun nipa tersampir di dekat jemuran pakaian.

Daun-daun nipa itu didatangkan dari dusun Upang, kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan.

Awalnya, daun nipa ini diseset atau dipisahkan dari lidinya. Kemudian daun-daun nipa ini dijemur, jika hari panas, selama 6 jam. Selanjutnya diasapi dengan belerang, dengan memakai alat yang biasa disebut gerobok asap.

Selanjutnya dipotong-potong, menggunakan alat pematong yang terbuat dari kayu yang biasa disebut rimbakan. Ukuran potongan rokok nipa 12 cm, dan kemudian dibungkus dengan alat pembungkus yang tebuat dari daun nipa juga, yang bernama gendeng.

Setiap gendeng berisi 7 kibatan rokok nipa. Lalu, setiap kibatan berisi 25 ikatan rokok nipa. Setiap gendeng rokok nipa ini dijual seharga Rp45 ribu.

“Daerah pemasaran rokok nipa ini mulai dari Pasar 16, Karang Agung, daerah Jalur sampai ke Malaysia,” kata Romsiah. “Tetapi yang paling banyak minatnya wong daerah atau dusun,” katanya.

Dalam satu hari, usaha keluarga Romsiah dapat menghasilkan tujuh gendeng rokok pucuk. “Ya, cukup buat makan bae. Sebenarnya permintaannya banyak, tapi tak punya modal. Buat beli daun nipa dan mengupah orang lain kalau pemesanan banyak,” katanya.

Komentar