Cerita Mbah Jana
11.08.2011 03:36:11 WIB
Oleh FIRMAN SATRIAKEBERADAAN situs kapal Sriwijaya yang berada di tanah milik Mbah Jana atau Nurjanah (70), Desa Samirejo, kecamatan Mariana, kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, terus mendatangkan cerita misteri. Ini kali Mbah Janah sering mendengar suara perempuan menangis.
“Mbah ini sedih. Mbah sering mendengar ada suara perempuan menangis dari sana (lokasi situs, red),” kata Mbah Jana saat ditemui tim ekspedisi Tandipulau, beberapa hari lalu.
“Suara tangisnya menyayat hati. Mbah jadi takut ke belakang, apalagi mendekati tempat itu,” ujarnya.
Memang, Mbah Jana adalah orang pertama yang membaca tanda kehadiran perahu kuno, yang diperkirakan ada di masa kerajaan Sriwijaya.
Suatu malam, dia bermimpi kedatangan lelaki yang menggunakan jubah putih, dan bertongkat. Lelaki tua itu kemudian mengatakan ada perahu kuno di belakang rumahnya.
Awalnya cerita itu dianggap omongan biasa oleh suaminya, Tohir. Tapi lantaran berulangkali bermimpi, Tohir akhirnya menuruti istrinya buat menggali tanah berdasarkan petunjuk mimpi tersebut.
Ternyata benar, ditemukanlah sejumlah puing kapal. Tak lama kemudian berbondong-bondong orang datang, mereka pun menggali tanah rawa di sekitar lokasi tersebut. Mereka pun menemukan sejumlah benda seperti keramik, tempayan, manik-manik, dan mangkuk kuno, yang diperkirakan dari masa Dinasti Yuan (1279-1368).
Para arkeolog kemudian mendatangi lokasi tersebut. Mereka pun menyatakan itu merupakan situs budaya. Dan, hasil penelitian mereka, bangkai kapal yang ditemukan diperkirakan perahu kuno dari masa 610-775 Masehi. Pertanggalan itu diperoleh dari uji karbon (C-14) atas sembilan papan kayu dan sebuah kemudi sepanjang 23 meter. Lalu, demi keamanan, puing kapal di masa Sriwijaya itu kemudian dibungkus dan ditimbun kembali ke dalam tanah sejak tahun 1994.
”Sekarang Mbah juga didatangi dua orang. Satu perempuan, dan satunya laki-laki. Mereka minta Mbah menjaga barang (puing kapal, red) itu,” katanya.
Perempuan itu bernama Sairah dan laki-laki bernama Haji Bakti, kata Mbah Jana. Percaya atau tidak, itulah cerita Mbah Jana si penerima petunjuk kehadiran bangkai kapal di masa kerajaan Sriwijaya di tanah rawa miliknya.
