Menyusuri Sungai Buah
24.10.2009 21:22:12 WIB
Oleh A. LATIFInilah muara sungai Buah, yang merupakan anak sungai Musi. Sungai Buah salah satu dari tiga anak sungai Musi, yang mengapit Keraton Kuto Gawang, keraton pertama kerajaan Islam di Palembang. Lokasi keraton Kuto Gawang kini menjadi lokasi pabrik PT Pupuk Sriwijaya.
Selain sungai Buah, sungai yang mengapit keraton Kuto Gawang adalah sungai Taligawe dan sungai Rengas, yang keberadaannya kini sulit dilacak. Ketiga sungai itu digunakan sebagai sarana angkutan warga untuk ke daerah hulu sungai atau kawasan di belakang keraton Kuto Gawang, serta sebagai lokasi aktifitas perdagangan.
Sebelum memasuki muara sungai buah saya harus meminta izin terlebih dahulu kepada petugas TNI AL yang menjaga area sekitar taman PT Pupuk Sriwijaya. Bahkan saya dilarang masuk ke muara sungai Buah, lantaran masuk area PT Pusri. Saya pun terpaksa mengambil foto muara sungai Musi dari arah sungai Musi.
Untuk menyusuri sungai buah ini tiaklah mudah, karena saya harus berjalan memasuki rawa dan semak-semak yang tingginya hanpir sama dengan tinggi badan saya. Petugas TNI AL sempat memperingatkan saya agar berhati-hati, lantaran di semak-semak itu banyak ular. Syukurlah, saya aman dari gangguan ular.
Seperti umumnya anak sungai Musi, jalur sungai Buah berliku, mulai tampak menyempit dan airnya kotor akibat tepian sungai yang didam. Tumpukan sampah justru terlihat di tepian sungai Buah, yang berada di dalam kompleks PT Pusri.
Kian ke hulu sungai Buah ini kian menyempit. Bahkan lintasan sungai Buah di Jalan Residen Abdul Rozak, menjadi sebuah gorong-gorong. Ironinya rawa-rawa dan lebak yang menjadi muara sungai Buah, di Jalan Ramayana, Kalidoni, sebagian sudah ditimbun warga buah membangun rumah.
Lalu, apakah warga di kelurahan Sei-Buah dan Kalidoni tahu dengan sejarah sungai Buah? “Setahu kami, di sepanjang sungai ini dulunya banyak buah-buahan. Saya tidak tahu kalau sungai ini beberapa abad lalu sangat ramai dengan aktifitas perdagangan dan pemukiman penduduk,” kata Adi (24).
Lagu: Seikat Mawar Eliza karya Leo Kristi
