Sajak Sejarah Indonesia
12.12.2009 17:16:55 WIB
Sajak T.WIJAYASejarah Indonesia merupakan petani tua yang buta, menangis tiap pagi, mengharapkan matahari menemukan sebutir biji kacang di kebunnya, yang sepanjang hari dilalui truk-truk penuh batubara.
Air matanya mencekik. Indonesia berlari. Jauh-jauh ke ruang-ruang kerja yang asing. Butuh ribuan tiket pesawat buat menunggunya di meja kasir pelelangan.
Menjelang siang, awan turun menghadap petani tua yang buta, membawa senjata, tapi tak ada pemuda dusun yang mampu menembaki para sopir truk batubara. Bukan perubahan kecuali kuli batubara. Bukan perubahan kecuali presidenmu, bersama istrinya, menjamu tamu pemakan batubara, yang bercerita soal dunia yang butuh lahirnya pemimpin besar.
Sejarah Indonesia merupakan anak petani yang tertembak. Tidak mati. Kecuali menghitung jari menjadi buta. Buta. Buta. Seperti listrik di dusun batubara.
Malam, angin menjatuhkan petani tua dengan ribuan senjata, tapi tak ada pemuda kota yang siap menggunakannya buat menghadang truk-truk bermuatan batubara, meskipun pemukiman mereka terus kumuh dan berbau. Bukan kemenangan kecuali mereka merangkak di atas jembatan kecil dari kayu lapuk melalui parit hitam. Bukan kemenangan kecuali pendidikan yang berakhir di café bermusik jazz yang dimainkan sebuah orkes melayu.
Sejarah Indonesia merupakan cucu petani yang tidak mengenal dan memiliki tanah, kecuali kolam-kolam penggalian batubara mengajaknya tidur hingga menjadi minyak bumi yang baru. Indonesia.
2009
