Musi Channel

Pengamen Anjal di Palembang

11.12.2009 17:42:10 WIB

Oleh FIRMAN SATRIA

SUDAH 13 tahun Jai (25) mengais rejeki sebagai pengamen dijalanan kota Palembang. Bukan hanya Jai seorang, melainkan juga adiknya, Abie, juga mengadu nasib sebagai pengamen jalanan. Ada juga bocah-bocah lainnya.

Mereka terpaksa menjadi pengamen karena semenjak kecil sudah ditinggal bapaknnya pergi. “Semenjakditingal bapak, ibu aku jadi tukang cuci untuk menghidupi ketiga orang anaknya,” kata Jai kepada BeritaMusi.Com, Jumat (11/12/2009) di perempatan lampu merah Jalan AR Suprapto, Palembang.

Setiap harinya dari pukul 9 pagi sampai 6 sore, Jai maupun Abie mendapat uang dari hasilnya mengamen kira-kira sebesar Rp20 ribu. Uang itu di pergunakan untuk keperluan makan sehari-hari keluarga dan membayar kontrakan. Selain itu juga untuk membiayai sekolah adik bungsunya, Dewi Sartika, yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA).

Bukan hanya Jai, Anggie (13) setiap harinya mangkal di perempatan lampu merah Km 9 Palembang. “Uang yang didapat, aku berikan kepada ibu dan juga untuk jajan,” katanya kepada Beritamusi.com.

Lantaran kondisi ekonomi keluarga, Anggi putus sekolah pada saat duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Bapaknya bekerja sebagai tukang ojek, dan ibunya tidak bekerja.

“Setiap pagi aku pergi barang teman-teman ke lampu merah, sore harinya aku dijemput bapak,” ujar anak dari pasangan Taufik dan Sur itu.

Diperempatan lampu merah yang sama, bocah lainnya, Frengki, Rico, dan Rinto juga mengamen disana. Frengki (13) dan Rico (11) juga tidak lagi bersekolah seperti Anggi.

Namun berbeda dengan Rinto (16), yang juga mencari uang dengan mengamen. Dia masih terus melanjutkan sekolahnya. Kini anak pasangan Imron dan Ida, duduk di bangku sekolah kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Rinto yang mengaku mengamen sejak tahun 2006 itu, memenfaatkan waktu tidak bersekolahnya untuk mengamen. “ Kalau sekolah masuk pagi, aku ngamen siang sampe sore. Kalau masuk siang, ya ngemennya pagi,” katanya.

Kehidupan jalanan sudah melekat pada mereka. “Untuk mencari uang,” kata mereka. Sekedar untuk jajan, mencukupi kebutuhan sehari-hari, atau bahkan mencukupi kebutuhan sekolah.

Komentar


Berita Terkait