Musi Channel

Perahu Ketek di Palembang

23.10.2009 00:29:04 WIB

Oleh A. LATIF

SEJAK zaman Sriwijaya, perahu merupakan angkutan utama di sungai Musi. Saat ini perahu juga masih digunakan warga Palembang sebagai alat transportasi di sungai Musi. Salah satunya perahu ketek. Disebut perahu ketek, lantaran perahu ini menggunakan mesin, dan mengeluarkan suara "tek, ketek".

Perahu ketek selain digunakan sebagai angkutan penumpang, juga sebagai alat mengangkut barang, dan tempat berjualan, seperti menjual es balok, sayuran, makanan, atau buah-buahan. Yang menyeberangi sungai Musi menggunakan perahu ketek, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp2500, sedangkan buat barang berkisar Rp10-15 ribu.

Namun, sejak adanya kapal pesiar Putri Kembang Dadar dan Segentar Alam yang ada di sungai Musi, membuat para penarik perahu ketek merugi atau penghasilannya menurun.

"Sejak adanya dua kapal pesiar itu, sedikit sekali turis yang menggunakan jasa kami. Sebelum ada kapal itu banyak turis yang naik perahu ketek ini," kata Agus (35), penarik perahu ketek, Palembang, yang ditemui saat mangkal di dermaga Pasar 16 Ilir, Kamis (22/10/2009).

Menurut warga 5 Ulu Palembang, ini, sebaiknya pemerintah mengambil kebijakan agar kapal pesiar itu hanya digunakan buat malam hari, khususnya kepada para turis. "Nah, siang hari biarkan bae, angkutan tradisional seperti perahu ketek ini yang melayani turis," ujarnya.

Saat ini penghasilan rata-rata penarik perahu ketek sebesar Rp20 ribu. Padahal, dulu, saat banyak turis menggunakan jasa mereka, penghasilan berkisar ratusan ribu rupiah. "Misalnya perahu ketek kami disewa keliling sungai Musi atau ke pulau Kemaro," katanya.

"Kami mohon nian Walikota Palembang memikirkan nasib kami nih," ujarnya.

Saat ini berdasarkan catatan dua tahun lalu, ada sekitar 500 perahu ketek yang beroperasi di sungai Musi yang melintas kota Palembang.

Komentar


Berita Terkait