30.12.2009 12:09:09 WIB
Oleh MULYADI J. AMALIK
Tahun 1990, Djayadi Hanan mengantongi ijazah SMA. Ketika itu dan hingga kini rumah orangtuanya terletak di kawasan persawahan di daerah 16 Ulu Darat, Seberang Ulu II, Palembang. Tepatnya di Jalan Lematang yang merupakan cabang Jalan Jaya VII, 16 Ulu Darat, SU II, Palembang. Rumah bertiang kayu dan berdinding papan merupakan khas rumah penduduk di areal rawa-rawa di Palembang. Begitu pula rupa tempat tinggal Djayadi saat itu. Orangtuanya memiliki sebidang sawah, bertani dengan cara subsisten. Dari rumahnya, Djayadi berangkat sekolah dengan berjalan kaki sebab SMA Negeri 8 tempatnya menimba ilmu tak begitu jauh. Butuh waktu sekitar 10 menit saja untuk mencapai sekolahnya. Hutan semak belukar yang hijau dan udara yang sejuk tiap pagi sangat enak dinikmati sambil berjalan kaki. Djayadi menjalani itu sepanjang usia SMP dan SMA.
Kakak-kakaknya bekerja sebagai sopir angkutan kota dan berdagang, sedang adik-adiknya bersekolah sambil membantu orangtua atau kakaknya. Djayadi sendiri kerap membantu kakaknya. Mantan Pelajar Teladan Sumatera Selatan tahun 1989 ini terlahir sebagai anak ke-5 dari 9 bersaudara. Ia dan adiknya, Abdullah, termasuk paling sukses dalam dunia akademik. Kini, adiknya itu pun akan kuliah ke Amerika Serikat. “Bapakku sangat disiplin pada kami, anak-anaknya. Setiap subuh kami harus bangun dan tidak boleh tidur lagi. Pokonya beraktivitas apa saja, terutama belajar,” kenang Djayadi terhadap almarhum bapaknya, Hanan, saat begesa (berbincang) dengan penulis di Jakarta (8/12/09). Ia baru saja mengikuti seminar internasional (1-2/12/09) bertema “(Re)Considering Contemporary Indonesia: Striving for Democracy, Sustainability and Prosperity, A Multidisciplinary Perspectives” di Yogyakarta. Kebiasaan yang ditanamkan bapaknya itulah yang membentuk sikap kerja keras dan kuatnya motivasi berprestasi Djayadi dalam hidup sehari-hari. Djayadi Hanan lahir di Palembang, 29 Januari 1972. Pernikahannya dengan Isabella, seorang dokter muda, telah diberkahi Allah dengan 2 orang anak.
Nasib baik tak datang begitu saja. Semua melalui niat, rencana, atau tekat yang mungkin lebih tinggi dibanding istilah cita-cita. Ketika teman-teman SMA-nya kebanyakan melanjutkan kuliah di Bandung dan Yogyakarta, sementara ia hanya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Administrasi Publik Universitas Sriwijaya Palembang (1990-1995), Djayadi bertekat melampaui teman-temannya itu suatu saat kelak. Saat tekatnya tercapai kini, ia tak tinggi hati. Setidaknya, lanang sikok (laki-laki) ini masih suka penesan (bercanda) dan gampang ditemui seperti sebelumnya. Apalagi, bila demi berjumpa kawan lama.
Karir laki-laki bertubuh ramping setinggi 170 cm ini di dunia akademik mulai merangkak naik setelah ia meraih titel Magister Sains dari Departemen Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia cuma butuh waktu 3 tahun untuk kuliah S-2 di UGM tersebut, yaitu 1996-1999. Padahal, pada saat yang sama ia sedang menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia di Jakarta, sebuah organisasi kemasyarakatan untuk pelajar yang berdiri sejak tahun 1947 dengan cabang dan ranting tersebar di Nusantara. Dapat dibayangkan ketinggian mobilitas atau kesibukannya. Januari 2006, tesisnya di Pascasarjana UGM itu diterbitkan oleh penerbit UII Press, Yogyakarta, dengan judul Gerakan Pelajar di Bawah Bayang-bayang Negara: Studi Kasus Pelajar Islam Indonesia (1980-1997). Sebelumnya, Juni 2005, ia telah memublikasikan hasil risetnya (bersama Dr. Frank Feulner dan Andi Rahman Alamsyah) tentang parlemen Indonesia bertajuk Toward a More Effective Indonesian House of Representative.
Otak yang encer berbanding lurus dengan jaringan yang luas di kalangan praktisi dan akademisi nasional dan internasional membawa Djayadi terbang ke Amerika Serikat. Tentu bukan sebagai turis atau ingin menjadi antek asing yang kerap difitnahkan orang-orang yang membenci prestasinya, melainkan untuk kuliah! Sejak tahun 2001 hingga 2003, Djayadi sudah menggondol gelar Master of Arts dalam bidang Hubungan Internasional dari Ohio University, Athens, USA, khususnya pada Program Studi Asia Tenggara. Hoki masih terus melekatinya. Pada tahun 2007 hingga kini, ia dalam proses menjadi doktor (Ph.D) di Departemen Ilmu Politik, The Ohio State University, Ohio, USA.
Jauh sebelum Djayadi Hanan menjadi dosen tetap sejak tahun 2000 di Universitas Paramadina, Jakarta, ia telah banyak menjejakkan kakinya ke mancanegara sebagai peserta maupun pembicara seminar-seminar internasional. Pascareformasi, tepatnya tahun 1999 ia memulai debutnya terbang ke luar negeri hingga kini. Tentu saja, ia tak hendak menjadi Malin Kundang yang lupa kampung, teman, kerabat, saudara, dan orangtua. Ia kini telah cakap membantu ekonomi ibunya dan menolong saudara-saudaranya. Kecakapan berbicara dalam bahasa dusun/kampung, Bahasa Palembang, dan Bahasa Indonesia tetap pula dijaganya dengan baik. Sikap nasionalis yang inklusif itu pulalah yang mendasarinya mendalami bidang Ilmu Perbandingan Politik. Runtuhnya rezim Orde Baru membuat Djayadi berminat kuat mendalami politik nasional, dan kenyataannya, bangsa Indonesia memang memerlukan perubahan tata kepemerintahan ke arah yang lebih baik (good governance). Dewan Perwakilan Rakyat tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, serta jajaran eksekutif pusat hingga daerah merupakan basis utama tata kepemerintahan yang baik itu. Dalam hal ini, konsen Djayadi tersebut bisa dicurahkan untuk perkembangan dan kemajuan politik lokal Sumatera Selatan di samping kepentingannya terhadap pembangunan politik di tingkat nasional.
Nah, bila kita ingin menghitung-hitung dan mengumpulkan para intelektual Sumatera Selatan yang telah besar di rantau nasional atau internasional dalam sebuah perkumpulan atau musyawarah akbar, maka Djayadi ialah salah seorangnya. Pikiran-pikiran cerdasnya pasti bermanfaat bagi wong kito galo.*
