ANGIN

coba

11.10.2011 22:27:11 WIB

KEPADA YANG TERCINTA ABAH, EMAK, WAU, PAPAK, MAMAK
ISTRIKU : ROSY, ANAK-ANAKKU TIO DAN MAYANG DAN ADIK-ADIKKU


PENYAIR BAWAH JEMBATAN

Bagai ditancapkan sebuah paku besar di kepala. Aku terdiam menatapi mayat Angin. Berjuta kesunyian membalut wajah pucatnya. Takkan lagi bibir sinisnya itu meneriakkan bait-bait puisi yang dia tulis dari dalam hati. Takkan lagi tangan kurusnya itu dengan gagah mengepal ke langit. Takkan lagi semangatnya menggedor-gedor jantung. Ah!
Angin ditemukan penduduk di pinggiran Sungai Musi, tersangkut di dekat rumah rakit, mengambang tak bernyawa. Aku hampir tidak bisa mempercayainya manakala Sukma mengabarkan hal itu kepadaku melalui ponsel.
“Tidak mungkin! Itu pasti bukan Angin!” bantahku.
“Aku sekarang sedang berada di lokasi… di dekat mayatnya,” kata Sukma meyakinkanku.
Dia teman sekantorku yang ditugaskan meliput berita-berita kriminal. Aku tidak bisa lagi untuk tidak mempercayainya. Bergegas aku menuju tempat kejadian dengan puluhan pertanyaan yang begitu saja nyangkut di benak.
Entah bagaimana dia bisa terjatuh dan tenggelam di sungai yang membelah Kota Palembang itu. Bunuh diri? Tidak mungkin! Angin pencinta hidup yang menolak untuk dikalahkan oleh keadaan. Tak pernah aku mendengar ia mengeluhkan penderitaannya, kecuali kreativitas berkesenian yang macet membuatnya gelisah, marah, dan frustrasi. Walaupun begitu, sebagai seniman yang hidup di tengah udara berkesenian yang tidak kondusif dia tetap kreatif dan keberadaannya tetap terjaga. Karya-karyanya terus mengalir. Selalu saja ada ide kreatif yang dijadikannya bahan tulisan, baik berupa prosa maupun puisi.
Apakah ada orang yang sengaja membunuhnya, dengan cara mendorongnya ke sungai? Tiba-tiba saja, pertanyaan itu menyeruak. Tapi, aku ragu dengan pikiran negatif semacam itu. Setahuku, dia tidak punya musuh. Dia bukan preman atau orang yang suka berkelahi. Kekerasan bukan bagian dari hidupnya, walau dia menjalani hidup di antara lingkungan yang keras. Dia seorang seniman, seorang penyair yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku, merenung, dan mengamati lingkungan untuk kemudian menuliskannya.
Memang Sungai Musi adalah wilayah kreatifnya. Hampir seluruh karyanya bicara soal Sungai Musi dan orang-orang -terutama yang hidup dan mempertahankan hidup- di sekitar pinggiran sungai dan bawah Jembatan Ampera. Katanya, Sungai Musi adalah rahasia yang tersaput awan, semakin digali akan semakin tebal awan di sekitarnya.
Sewaktu bawah Jembatan Ampera masih menjadi terminal angkot sekaligus juga pasar tradisional yang memanjang dari Pasar 16 ilir sampai ke Benteng Kuto Besak, hari-harinya sering dihabiskan di sana. Siang, dia suka berkeliling menikmati suasana yang semerawut, ketika depot-depot yang menjajakan beraneka ragam dagangan berdesak-desakan dengan los-los penjual ikan dan daging, serta para pedagang kaki lima yang menghampar dagangan beraneka rupa di tepi jalan. Sementara berbagai jenis angkot dari berbagai jurusan, hilir mudik. Belum lagi barisan pondok-pondok penjual aneka jenis pisang yang berjejer memanjang di tepian Sungai Musi, tepat di hadapan Benteng Kuto Besak, sebuah benteng yang dibangun tahun 1780 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin. Benteng itu sampai sekarang masih berdiri dengan kokoh dan dijadikan kantor Kesehatan Kodam II Sriwijaya.
Sekitar dua ratus meter dari benteng itu, terdapat sebuah bangunan yang kini menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II serta Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang. Semula, bangunan ini merupakan Keraton Kesultanan Palembang Darussalam, yang didirikan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Kalau malam, tempat itu menjadi tempat yang rawan, karena di sana berkeliaran perempuan-perempuan malam kelas rakyat, serta banci yang menjajakan diri di sekitar taman dekat situ, juga para copet, rampok, dan maling. Angin sering menghabiskan malam di sana dengan secangkir kopi dan pisang goreng di kedai kaki lima. Suasana semerawut serta rawan kekerasan itu justru banyak mengilhami tulisan dan puisinya. Karena itu, dia dijuluki Penyair Bawah Jembatan Ampera.
Pada waktu Plaza Benteng Kuto Besak akan dibangun, protes berdatangan dari berbagai kalangan, terutama dari para pedagang yang merasa dirugikan, karena harus terusir dari situ. Demonstrasi dan berbagai ungkapan rasa ketidakpuasan disampaikan dan diteriakkan kepada Pemerintah Daerah. Angin pada waktu itu justru mendukung kebijakan Pemerintah melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar.
Orang-orang banyak yang marah kepadanya, terutama para pedagang atau juga preman yang sering menjadi sumber utama tulisannya. Dia pernah diancam oleh orang tak dikenal, bahkan seseorang pernah menempelkan pisau di lehernya karena dianggap tidak berpihak kepada kemiskinan atau pengkhianat yang sudah menerima uang sogokan dari Pemerintah.
Tapi, Angin tak perduli. Tulisan-tulisannya terus saja mengalir.
“Di dalam tubuhku, mengalir air Musi. Kalau kalian pernah meneteskan air mata di Sungai Musi, maka air matamu itu ada di darahku. Tapi, Musi tidak butuh air mata. Musi butuh sentuhan nyata untuk membuatnya bisa tersenyum,” begitu dia menjawab pertanyaan serta cercaan beberapa orang dalam sebuah diskusi kecil yang membahas soal pembangunan itu.
Sekarang dia tak lagi bisa berkata-kata, berdiskusi dengan penuh semangat, atau membacakan puisi-puisi yang baru dia ciptakan. Sudah usai semuanya. Kuusap wajahnya yang pucat, kurapatkan bibirnya yang ternganga tanpa suara. Kugigit bibirku agar tangisku tak meledak. “Tuhan… kenapa dengan cara begini kau renggut nyawanya,” aku membatin.
Semalam, waktu aku pulang dari kantor, dia memang tidak berada di rumah, bahkan sampai aku mau berangkat ke kantor tadi pagi, dia juga belum pulang. Memang begitulah adanya dia. Kadang tidak pulang semalam, dua malam, atau bahkan tiga malam. Dia tidak pernah betah berlama-lama tinggal di rumah, kecuali saat ia sedang greget menulis. Kalau inspirasinya menulis sedang datang, dia sanggup untuk tidak keluar kamar dua hari dua malam.
Kami biasanya bertemu dan mengobrol malam hari, sepulang aku dari kantor, itu pun kalau dia sedang tidak keluar. Karena tidurnya selalu malam, bahkan sering mendekati subuh, dia tidak pernah bangun pagi, kecuali kalau ada janji atau pekerjaan tertentu. Setiap kali aku berangkat kerja, dia masih lelap tertidur, entah jam berapa pastinya dia bangun. Oleh sebab itu, aku tidak pernah berpikir macam-macam, tentang sesuatu hal buruk yang akan menimpanya apabila dia belum pulang.
“Relakanlah ia…,” ucap Tina setengah berbisik.
Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatiku. Lalu berdiri. Orang-orang yang berkerumun di situ tampak menatapku haru, termasuk beberapa orang polisi.
Doni, teman sekantorku yang bertugas sebagai fotograper, mengabadikan peristiwa itu melalui kameranya. Selain memotret jasad Angin. beberapa kali dia mengarahkan lensa kameranya ke arahku.
“Ini surat... ditemukan dari saku jaketnya,” kata Sukma, menyerahkan secarik kertas yang basah.
Dengan gemetar, kubuka lipatan kertas itu. Tampak huruf-huruf yang tertera di kertas itu mengembang oleh air. Kubaca tulisan berbentuk puisi itu.

Kepadamu
Bila satu episode telah lewat
Tak usah lagi kau lawat.
Dia akan tumbuh bagai bunga
Tanpa kau pinta
Dia akan mekar bagai mawar
Tanpa kau sadar
Hidup cuma menjalani takdir
Telah tertulis sejak kau lahir
Mengalir bagai air
Aku ingin abadi di Musi
menjadi bagian dari penyair nanti
Menjadi misteri
sampai kau mati

Oh, Tuhan! Aku tak kuat menahan tangis dan kucuran air mata. Alangkah tragis riwayat hidupnya. Dia jemput kematian dengan cara yang mengharukan.
Tina, yang sedari tadi berdiri di sisiku, meraih kertas itu dari tanganku dan membacanya. Kubiarkan.
“Tampaknya puisi ini memang telah disiapkannya,” komentar Tina setelah membacanya.
Aku diam.
Lalu hening beberapa saat.
“Sebaiknya secepatnya kita beritahukan kabar duka ini kepada keluarganya.” Saran Sukma memecahkan keheningan.
“Cuma aku keluarganya,” ucapku parau.
Sukma seperti tidak percaya, begitu juga Tina.
“Sanak familinya?” tanya Sukma.
Aku menggelengkan kepala.
“Mungkin di luar kota ?” sambung Tina.
Aku menghela napas sarat.
“Aku tidak pernah tahu keluarganya,” ucapku lirih.
Sukma dan Tina tampak bingung atau barangkali heran. Bagaimana mungkin, aku yang sudah begitu akrab dengan Angin, bahkan tinggal serumah; tidak mengenal keluarganya. Tapi, begitulah adanya.
“Selama aku mengenalnya, belum sekalipun dia mau bercerita dari mana asalnya dan siapa keluarganya. Pernah beberapa kali aku mencoba menanyakannya… tapi dia tidak mau menjawab. Dia selalu bilang, bapaknya matahari, ibunya rembulan,” kataku kemudian. “Beberapa orang teman dekatnya pernah juga kutanya, tapi jawaban mereka sama saja.”
Doni tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Tolong urus agar jenazahnya dibawa ke rumahku,” pintaku kepada Sukma. ”Aku ingin jenazahnya disemayamkan di rumahku.”
“Apa tidak sebaiknya diotopsi dulu?” tanya Sukma.
“Otopsi…,”
“Untuk apa?”
“Ya… biar lebih jelas sebab-sebab kematiannya.”
Kupandangi tubuh Angin yang kaku. Ada perasaan tak rela membiarkan dokter menyayat-nyayat tubuh kurusnya untuk mengetahui sebab-sebab kematiannya.
“Tidak. Tidak perlu. Puisinya sudah menjawab semuanya,” tolakku kemudian. “Tolong saja jenazahnya kau bawa ke rumahku. Aku mau pulang duluan. Mau mempersiapkan keperluan untuk pemakamannya.”
“Ya,” jawab Sukma singkat.
Tina mengikutiku pulang ke rumah kontrakanku. Dia membantuku menyiapkan semua keperluan untuk pemakaman Angin, dan juga mengabarkan berita duka itu pada beberapa teman melalui ponselnya.
Rumah kontrakanku yang kecil segera ramai dengan kehadiran tetangga, teman-temanku, dan juga teman-teman Angin. Para wartawan dan seniman berdatangan, mengucapkan bela sungkawa. Mereka semua tidak habis mengerti kenapa Angin mengakhiri hidup dengan cara begitu. Termasuk Kuyung Iful.
Kenangan pun mengalir di antara mereka. Apa yang pernah mereka alami bersama Angin bergetar dari bibir-bibir, menyeruak di antara gelak dan sedak. Manis, pahit, ataupun asam.
Seorang wanita cantik mucul dengan penampilan bagaikan fotomodel. Mengenakan jins dan baju bermotif bunga serta selendang warna gelap yang dibalutkan di kepalanya. Perhatian para pelayat pun segera tertuju kepada wanita yang memakai kaca mata hitam itu. Mulanya aku tidak mengenali wanita itu, tetapi setelah dia semakin dekat, baru aku sadar kalau dia Wulandari. Gadis yang dulu selalu menjadi inspirasi puisi-puisi Angin. Bagaimana dia bisa tahu dan datang secepat ini? Setahuku, dia tinggal di Jakarta.
“Aku yang mengabarinya tadi,” ucap Kuyung Iful yang berdiri di sebelahku, seakan memahami keterkejutanku akan kehadirannya. “Kebetulan semalam dia menelponku dan mengatakan kalau dia sedang berada di kota ini.”
Wulandari menyalami Kuyung Iful, lalu melangkah mendekatiku. Aku merasa dadaku bergetar. Berpandangan beberapa detik, dan kami tak bisa menghindari luapan emosi untuk saling berpelukan. Entah siapa yang memulainya. Kami seperti melepaskan kerinduan yang begitu lama terpendam. Dia meluapkan kesedihannya dalam pelukanku. Sesenggukan menangis.
“Kenapa tidak mengabariku?” tanyaku setengah berbisik.
“Maafkan aku… aku…,” dia tersedak.
“Sudahlah. Sebaiknya kau lihat jenazahnya dan doakan ia,” kataku mencoba untuk tegar.
Kubimbing ia untuk melihat jenazah Angin. Masuk ke rumahku di antara tatapan mata para pelayat. Kubiarkan ia melangkah ke arah jenazah Angin dan bersimpuh dekat kepalanya, lalu tampak berdoa dengan kepala tertunduk.
“Siapa dia?” tanya Tina setengah berbisik.
“Wulandari,” jawabku.
“Keluarganya?”
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Nanti kujelaskan,” jawabku menutup rentetan pertanyaannya.
Setelah berdoa, Wulandari melangkah ke arahku. Kuajak dia untuk duduk, lalu kuserahkan kertas yang berisi puisi terakhir Angin.
“Apa ini?” tanya Wulandari.
“Bacalah.”
Wulandari menerima dan membacanya.
“Oh Tuhan…,” katanya, dengan suara parau dan air mata berlinang. Aku mencoba menenangkannya.
Setelah disemayamkan beberapa saat, jenazah Angin dimandikan, lalu dishalatkan untuk kemudian dimakamkan. Sebelum dia diberangkatkan ke pemakaman, kubacakan puisi terakhirnya.
“Sebelum dia diberangkatkan ke tempat peristirahatannya…izinkan aku membacakan sebuah puisi yang didapatkan di saku jaketnya,” kataku dengan kesedihan mendalam.
Kuperlihatkan kertas yang berisi puisi itu, lalu kubaca perlahan-lahan. Orang-orang tampak terharu, bahkan ada yang meneteskan air mata.
Kami mengusung jenazah Angin ke pemakaman. Memakamkan dan mendoakannya. Memohon agar Tuhan mengampuni segala dosanya dan memberikan tempat yang layak. Wulandari tidak ikut ke pemakaman. Dia berjanji akan datang ke rumahku malamnya untuk ikut membaca yasin.
Tapi sampai acara pembacaan yasin selesai, dia tidak juga muncul. Kucoba menghubungi ponselnya, tapi tidak diaktifkan. Aku kecewa. Aku menyesal tidak sempat bercerita banyak kepadanya, atau bertanya tentang keadaannya sekarang. Begitu banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya, begitu banyak hal yang ingin kuketahui darinya… tapi dia menghilang.
Keesokan harinya, seluruh media lokal memuat puisi terakhir Angin dan menuliskan berita kematiannya. Wulandari mengirim pesan lewat SMS, kalau dia harus segera kembali ke Jakarta. Aku mencoba menghubungi ponselnya berkali-kali, tapi dia matikan ponselnya. Sudahlah, berarti dia memang menolak untuk kuhubungi. Tidak perlu ada pertanyaan kenapa?
Beberapa hari kemudian, semua orang sudah melupakannya. Mungkin juga Wulandari, gadis yang selalu menjadi inspirasi puisi cintanya. Tinggal aku yang bergelut dengan kenangan. Bagaimanapun, aku tidak akan pernah melupakannya sampai akhir hayatku. Tanpa dia belum tentu aku bisa jadi seperti sekarang ini. Jangan-jangan aku cuma menjadi kuli kasar di kota besar ini, atau pulang ke dusun untuk menjadi penyadap getah, seperti orangtuaku.
“Angin tampaknya begitu berarti bagimu,” kata Tina suatu hari, ketika kami menyusun barang-barang milik Angin di rumahku. Peninggalannya itu berupa beberapa potong pakaian, buku-buku, dan tulisan-tulisannya baik berupa puisi maupun prosa.
“Ya. Sayangnya, dia tidak lama tinggal bersamaku.”
Tina memang tidak tahu banyak tentang Angin. Yang dia tahu, Angin itu penyair yang tinggal serumah denganku beberapa bulan belakangan ini. Dia tidak tahu, kalau dulu aku juga lama menumpang di rumah kontrakannya. Angin bukan sekadar sahabat, melainkan juga guru yang memberiku arah hidup.
Hari itu, kuceritakan semuanya tentang aku dan Angin kepada Tina.
Aku dilahirkan di sebuah desa di Kabupaten Musi Banyuasin, tepatnya di Desa Bumiayu, sekitar dua puluh kilometer dari Kota Sekayu, ibu kota Musi Banyuasin. Bapakku cuma petani dengan pekerjaan sampingan menyadap getah karet, sebagaimana kebanyakan orang-orang di desaku. Umur lima tahun, bapakku meninggal. Ia meninggal karena berkelahi dengan harimau.
Dulu di desaku, masih ada harimau yang sesekali muncul ke lokasi perkebunan karet, yang memang letaknya agak jauh di dalam hutan. Kata ibuku, bapakku harus berkelahi dengan harimau demi menyelamatkan seorang perempuan yang hendak dimangsa oleh raja hutan itu.
Bapakku mati dengan tubuh terkoyak-koyak oleh cakar dan gigitan sang harimau, sedangkan harimau itu pun mati oleh tikaman pisau bapakku. Kisah perkelahian bapakku dengan raja hutan itu sempat menjadi pembicaraan yang hangat di desa. Bapakku dipuji, dianggap pemberani, pahlawan, dan segala macam bentuk pujian.
Tapi, pujian tak membuat bapakku hidup kembali sehingga membatalkan status ibuku sebagai janda. Juga perasaan kasihan orang-orang desa kepadaku, tak mengubah apa-apa. Ibu justru harus berjuang sendiri untuk membesarkanku, sampai kemudian seorang lelaki melamarnya.
Bapak tiri tentu tak sama dengan bapak kandung, karena yang diinginkannya adalah ibuku. Terlebih setelah ibu melahirkan adik-adikku, Syaiful dan Nurbaya. Aku merasakan adanya perbedaan perhatian dan kasih sayang dari bapak tiriku. Tapi, perhatian ibu tak pernah berkurang. Itu pula yang selalu menutupi kesedihanku. Sayangnya, umur ibu juga tidak panjang. Setelah lima tahun kematian bapak, ia terserang penyakit muntaber dan meninggal.
Aku sebatang kara. Waktu itu, usiaku belum sampai sepuluh tahun. Pamanku, adik bapak yang bekerja di Palembang, mengambil dan membawaku ke Palembang. Selanjutnya, aku hidup dengan pamanku yang bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah instansi Pemerintah, sedangkan bibiku membuka warung pempek di depan rumah. Anaknya baru dua, waktu itu. Rahmat dan Nuraini. Rahmat berumur enam tahun dan Nuraini empat tahun. Rahmat baru masuk sekolah dasar, sedangkan Nuraini belum sekolah. Aku disekolahkan dan ditugaskan untuk membantu bibi mengasuh kedua saudara sepupuku.
Dua tahun kemudian, bibiku dapat anak lagi, Fitri. Tugasku pun bertambah, selain mengasuh saudara sepupuku, juga membantu bibi di warung. Mencuci piring, atau sesekali menyediakan pempek untuk tamu. Atau, apa saja yang diperintahkan bibi.. Aku tidak pernah protes.
Tamat SD, paman memasukkan aku ke SMP yang sekolahnya siang hari. Dengan begitu, pagi hari aku bisa membantu bibi untuk menyiapkan sarapan pagi dan kesibukan lainnya, termasuk mengantar jemput Nuraini yang baru masuk sekolah dasar. Hari-hari kulalui begitu saja, tanpa kesempatan untuk bermain. Paman selalu mengingatkanku; untuk hidup, kita harus kerja keras. Tamat SMP, aku melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru atau SPG. Kata paman, biar aku cepat dapat kerja. Soalnya setamat SPG, aku bisa menjadi guru. Aku turut saja kemauan paman, karena aku sadar dia yang menyekolahkanku.
Tanggung jawab mengelola warung pempek diserahkan bibi padaku. Sehabis sekolah, warung pempek urusanku. Tidak ada waktu untuk sekadar menikmati masa remaja dengan teman-temanku. Bunga-bunga cinta dalam dadaku, aku simpan dengan baik, karena pamanku sudah mewanti-wanti agar aku tidak pacaran dulu sebelum bekerja.
Sampai suatu ketika, aku menemukan sebuah buku teori sastra di warung pempek. Tentulah buku seorang pengunjung yang tertinggal. Bukunya cukup tebal. Aku simpan saja buku itu di laci. Setiap tamu yang berkunjung ke warung, selalu kutanya, apakah ada yang bukunya tertinggal? Sampai hampir tiga bulan, tidak ada seorang pun yang merasa memilikinya dan atau berkeinginan untuk mengambilnya.
Iseng-iseng, sementara pengunjung sepi, aku baca buku itu. Sedikit demi sedikit sampai tamat. Tapi, aku tak memahaminya. Aku sekadar membacanya.
Karena banyak waktu kosong dan cuma ada buku itu di warung, aku sering mengulangi membacanya. Bait-bait syair puisi yang terdapat dalam buku itu mulai menyentuhku, kumaknai. Tanpa kusadari, muncul keinginan dari dalam dadaku untuk juga menuliskan penderitaan, kekecewaan, terutama kekagumanku pada seorang gadis di sekolahku. Aku merasakan sesuatu yang aneh, yang membuat sesak di dadaku berkurang. Sejak itu, semua yang menyesakkan dadaku aku tuliskan di buku dalam bentuk puisi.
Sekitar sembilan bulan kemudian, muncul seorang lelaki kurus berambut gondrong ke warung. Dia mengenakan jins yang sudah buram warnanya, kaus oblong, dan jaket. Di pundaknya, bergelayut sebuah tas yang cukup besar. Dia memesan kopi. Sambil menikmati kopi, dia mengeluarkan buku dari tasnya, lalu membacanya. Sementara asap rokok, terus mengepul dari sela bibir atau lubang hidungnya.. Santai sekali gayanya. Aku pikir, lelaki itu pastilah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya. Entah mengapa, aku ingat akan buku teori sastra.
“Maaf, Kak. Apa Kakak pernah ketinggalan buku ini di sini?” tanyaku dengan sopan sambil memperlihat buku itu.
Dia mengambil buku itu dan memperhatikannya. Buku itu sudah sangat kusam, karena sudah begitu sering kubaca.
“Ya, betul,” jawabnya sambil terus memperhatikan isi buku itu.
“Buku itu tertinggal di sini. Sudah lama sekali. Dan maaf, kalau sudah kusam begitu. Karena, aku sering membacanya,” ucapku dengan hati-hati.
“Sering?” tanya lelaki itu.
“Ya.”
“Memang buku untuk dibaca, bukan untuk dipajang.”
“Aku bahkan sedikit-sedikit mulai mencoba memahaminya.”
“Kau menyukainya?”
“Mulanya tidak, tapi…,”
“Sekarang kau menyukainya,” tukasnya dengan tak acuh.
“Ya.”
“Berarti, kau juga sudah menulis?”
Agak kaget aku mendengar ucapannya itu. Bagaimana ia bisa tahu.
“Betul,” jawabku kemudian.
“Puisi?”
“Ya.”
“Boleh aku lihat puisi-puisimu itu?”
“Hm, tapi…,”
Aku agak sungkan karena malu.
“Tidak apa-apa,” katanya meyakinkanku.
Aku mengambil puisi-puisiku yang tergabung dalam satu buku. Kuserahkan kepadanya. Dia membacanya dengan serius.
“Sebaiknya puisi-puisi ini, jangan hanya tersimpan. Kirim ke majalah atau koran, biar dapat dibaca khalayak,” komentarnya setelah membaca semua puisiku.
“Aku tidak tahu caranya,” kataku, mencoba untuk mencari tahu lebih dalam maksudnya.
“Kalau begitu, aku pinjam buku puisimu ini. Boleh?”
“Ya, boleh!”
“Buku itu untukmu,” katanya, sambil menyerahkan buku teori sastra yang tadinya hendak kukembalikan kepadanya. Lalu, dia membuka tasnya yang ternyata berisi beberapa buku. Dipilihnya satu, dan diberikannya kepadaku. ”Ini juga untukmu.”
Aku jadi bingung, tapi kuterima buku itu. Buku puisi penyair-penyair dunia.
Beberapa minggu kemudian, dia muncul lagi ke warungku dengan membawa sebuah koran terbitan lokal. Dia serahkan koran itu kepadaku, sambil menunjukkan beberapa buah puisiku yang dimuat. Aku terkejut dan bangga sekali. Koran itu kemudian kutunjukan kepada paman, bibi, serta semua temanku di sekolah. Lebih terkejut lagi ketika kemudian, ternyata aku mendapatkan honor dari karyaku.
Sejak itu, dia sering mampir ke warungku, dan mulai mengajakku mengobrol seputar dunia sastra. Aku baru tahu, kalau dia seorang penyair. Angin, namanya. Nama yang awalnya aneh tapi kemudian akrab.
Ketertarikanku pada sastra pun tumbuh perlahan-lahan, terlebih setelah puisi-puisiku mulai sering dimuat di beberapa media lokal. Aku pun mulai sering bertandang ke rumahnya, dan berkenalan dengan beberapa seniman.Akibatnya, konsentrasiku pada sekolah dan terutama warung pempek mulai terpecah. Paman dan bibi mulai sering memarahiku. Ada sesuatu yang berubah dalam diriku setelah diracuni Angin, bahwa dunia ini ternyata begitu luas.
Lulus SPG, aku pamit kepada paman dan bibi untuk hidup mandiri. Paman dan bibi mencoba menahanku, tapi keputusan sudah kuambil. Aku tidak mau surut. Racun yang ditiupkan Angin sudah mengental di dadaku. Apa pun alasannya, aku harus mencoba hidup mandiri. Ini keputusan pertama dalam sejarah hidupku. Sebuah keberanian untuk memilih. .
Aku pun tinggal di rumah Angin. Ikut ke mana saja Angin pergi dan masuk dalam komunitasnya. Tidak ada lagi perintah masak air, masak nasi, jaga adik, jaga warung, dan segala macam aturan yang mengekangku di rumah paman. Semuanya terserah padaku. Mau tidur, mau bangun, mau pergi, mau pulang, atau mau apa saja… tidak ada yang melarang. Aku menikmati kebebasanku dan merayakannya dengan menggelandang di setiap sudut kota, menyentuh bulan dari terbit sampai tenggelam, menyisir sisi jalan-jalan sepi yang jarang dilalui orang dan menghujam luka-luka yang berceceran di setiap sudut kota.
Aku menulis puisi, cerpen, dan ikut dalam beberapa pementasan teater. Tulisan-tulisanku mulai bertebaran di berbagai media lokal. Seniman-seniman lokal pun mulai kukenal. Mereka menerimaku sebagai seniman muda berbakat. Tetapi ada yang terus menggangguku, membuatku sering bertanya-tanya sendiri setiap kali menahan lapar. Apa yang kucari sebenarnya dengan cara hidup seperti ini?
Berkesenian tidak hanya untuk membahagiakan orang lain, tetapi harus mampu memberikan kebahagian dan kebanggaan kepada diri sendiri. Apa yang kubanggakan sekarang? Sekadar mendapatkan pujian dari sekelompok orang?
Tidak! Aku tidak butuh itu. Aku tidak mau seperti bapakku, dipuji dan dibanggakan di seluruh kampung karena mampu membunuh harimau. Sementara, dia sendiri harus mati dan tak mampu lagi menolong anak serta istrinya lepas dari jerat penderitaan.
Aku pun mulai kerja serabutan. Apa saja. Mulai dari jadi kernet bus kota sampai kuli bangunan. Akibatnya, aku mulai jarang berkarya dan berkumpul dengan sesama seniman. Aku lebih senang teriak-teriak mencari penumpang angkot atau bus kota, atau mengaduk semen dan menyusun batu bata. Angin protes.
“Kau mau kerja apa terserah, mau mabuk juga aku tidak larang. Tapi, jangan bunuh kreativitasmu. Kau itu berbakat. Sayang kalau bakatmu terkubur sia-sia.” katanya suatu ketika.
“Tapi, aku juga tidak mau terkubur sia-sia, hanya karena mempertahankan bakat. Aku berkesenian karena aku mau hidup. Kalau kesenian justru membuatku mati karena kelaparan, apa gunanya?” bantahku.
“Apa ada seniman yang mati karena kelaparan di dunia ini? Tidak ada, Bung! Jangan mencari-cari alasan. Jangan jadikan kemiskinan sebagai kambing hitam. Kau, bukan perutmu yang lapar melainkan jiwamu yang miskin!”
Bagaimana mungkin aku bisa menulis, kalau setiap pulang badan sudah begitu lelah. Lagipula, apa istimewanya seniman? Aku ini orang desa yang terpaksa ikut paman hidup di kota, karena mau hidup. Hal itu pula sebenarnya yang menjadi pertimbanganku untuk pergi dari rumah paman dan tinggal di rumah Angin. Aku pikir, menjadi seniman itu lebih gampang daripada menjadi guru, lebih cepat dapat duit.
Aku tidak memedulikannya. Aku ikut dia dan tinggal di rumahnya, bukan berarti aku harus pula mengikuti cara hidupnya. Aku ikut berkesenian karena aku ingin hidup. Bukan setiap hari harus menahan lapar. Aku tidak mau mati kelaparan. Mungkin aku berlebihan, tetapi begitulah yang kulihat dari cara hidup Angin.
Kebutuhan utamanya kopi dan rokok, bukan nasi. Dia tidak pernah memedulikan waktu makan siang atau makan malam. Kalau ingat dan ada duit, ya makan. Kalau tidak ada duit, tidak usah dipikirkan. Cukup dirasakan, katanya. Kadang-kadang aku bingung sendiri, bagaimana ia masih bisa bertahan hidup dengan cara seperti itu.
Kami pun seperti tidak punya waktu lagi untuk berdialog dengan mesra, apalagi berdiskusi soal sastra, teater, moral, dan dunia yang penuh dengan tipu daya.. Sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika ia masih tidur, aku sudah keluar rumah untuk bekerja. Waktu aku pulang, dia belum pulang. Aku merasa tidak nyaman lagi tinggal di rumahnya. Karena itu, kuputuskan untuk keluar dari rumahnya dan mengontrak rumah sendiri. Angin marah dan kecewa.
“Kau itu kambing, kena hujan saja takut! Pengecut!” hardiknya.”Aku ternyata salah menilaimu. Kau memang tidak berharga! Silahkan keluar dari rumah ini!”
Aku biarkan dia marah, mengoceh panjang lebar dan bahkan memaki-makiku. Aku tidak mau menjawabnya, karena keputusanku sudah bulat.
Lingkungan pergaulanku pun berubah. Kalau sedang bekerja sebagai kuli bangunan, teman-temanku adalah para kuli yang tabah yang berhari-hari mengerahkan tenaga di bawah sengatan matahari untuk memperjuangkan nasib anak istri. Kalau borongan pekerjaan habis, aku ikut jadi kernet angkot atau bus kota, teman-temanku pun para kernet dan sopir serta orang-orang pasar yang sangar.
Pembicaraan pun tidak lagi pada mimpi-mimpi untuk mengubah dunia, tetapi lebih kepada hal-hal sangat sederhana yang tampak jelas di depan mata, yaitu bagaimana supaya tidak mati kelaparan. Untuk itu, semua jalan harus ditempuh. Aku tak lagi menulisi buku dengan puisi, tapi dengan coretan kode buntut. Tak ada istilah diskusi, kecuali berkelahi.
Dunia sastra sudah semakin jauh kulupakan. Kesenian sudah tak lagi menjadi kebutuhan. Bahkan, aku sudah hampir melupakan para seniman yang pernah melukis hidupku dengan harapan. Aku sekarang, tak beda dengan para kernet, kuli bangunan, pencopet, ataupun preman.
Sampai pada suatu hari, ketika aku lagi teriak-teriak di bus kota, seseorang yang duduk di bangku belakang menyapaku.
“Ui, Ngakak Rimba kan?” tegurnya dengan nada bertanya.
Aku menatapnya.
“Kuyung Iful?” balasku, setelah mengingat-ingat beberapa saat.
“Awu!” jawabnya cepat.
“Mau ke mana, Yung, ke kantor?” tanyaku, dengan perasaan malu yang muncul begitu saja.
“Awu! Sore nanti temui aku di warung pojok depan kantorku. Tahu kan tempatnya?”
“Ya,” jawabku sembari mengingat-ngingat tempat yang disebutkannya, karena sudah cukup lama aku tidak berkunjung ke kantornya.
“Jangan tidak dating, aku tunggu,” pintanya.
“Ada apa?”
“Ada perlu. Penting!”
Kuyung Iful adalah wartawan yang cukup dikenal di kalangan seniman, karena dia senang sastra dan sering meliput kegiatan-kegitan yang dilakukan oleh seniman. Di antara sekian banyak wartawan, dia satu di antara beberapa gelintir wartawan yang peduli dengan kehidupan kesenian dan seniman di kota ini. Aku sering mengirimkan tulisan atau puisi kepadanya untuk dimuat pada halaman sastra di koran tempat ia bekerja.
Sore itu, kudatangi warung yang ia maksudkan, walau sedikit pun aku tidak tahu, ada maksud apa ia mengajakku bertemu. Dia sudah menunggu dengan secangkir teh hangat..
“Kopi ?” katanya ketika aku duduk di sampingnya. Dia tahu sekali, bahwa aku suka minum kopi.
“Boleh.”
“Kopi satu lagi!” teriaknya kepada pemilik warung.
Aku membakar rokok.
“Kantorku butuh wartawan. Nga ada minat?”
Aku agak bingung mendengar tawarannya yang begitu tiba-tiba. Dan juga, kurang percaya. Setahuku, tidak gampang untuk menjadi wartawan. Pendidikan paling tidak sarjana.
“Kenapa? Tidak tertarik?” tanyanya lagi, melihat aku tak bereaksi.
Pemilik warung pojok menyerahkan kopi. Kuambil dan kuaduk-aduk.
“Aku ini cuma lulusan SPG.”
“Aku tidak tanya ijazahmu!”
“Aku tahu, tapi…,”
“Ya, Allah. Kenapa nga jadi seperti ini? Bodoh dan tidak percaya diri. Sejak jadi kernet bus, keyakinan pada kemampuanmu sudah habis tampaknya,” ucapnya dengan senyum sinis. “Rimba, aku menawarimu karena aku yakin dengan kemampuan dan wawasanmu. Nga itu bukan kernet bus yang cuma pandai teriak-teriak mencari penumpang. Nga itu penulis berbakat!”
Aku akui, setelah sekian lama menjadi kernet bus atau kuli bangunan, tanpa kusadari ada kesadaran baru yang tumbuh perlahan-lahan dalam dadaku. Bahwa aku bukan siapa-siapa. Cuma kuli, yang mengharapkan uang sepuluh atau dua puluh ribu sehari untuk mempertahankan hidupku di kota besar. Tanpa mimpi-mimpi besar. Aku merasa, beginilah guratan nasib yang harus kuterima dan kujalani.
“Tapi, Yung…,”
“Pulang nanti, nga mandi, lalu berkaca. Lihat siapa yang ada di depan kaca. Seorang penulis berbakat atau cuma kernet bus. Besok temui aku di kantor,” katanya memotong ucapanku.
Dia bangkit, membayar minuman dan pergi meninggalkan warung itu. Meninggalkan aku begitu saja.
Demi Tuhan, aku betul-betul merasa kecil, bodoh dan sia-sia diperlakukannya seperti itu. Tapi, keesokan harinya kutemui juga ia.
“Nga siapa?” tanya Kuyung Iful ketika aku menemuinya di ruang staf redaksi yang sibuk.
Aku bingung dengan pertanyaannya itu. Kenapa dia jadi sombong begini? Pura-pura tidak kenal, padahal dia sendiri yang menyuruh aku datang? Apa dia malu dengan teman-temannya, karena penampilanku.
“Nga siapa?” tanyanya lagi dengan nada agak tinggi.
“Rimba, Yung,” jawabku, seakan ingin mengingatkan kalau-kalau dia lupa.
“Siapa Rimba?”
Gila! Ini betul-betul tidak masuk akal, bagaimana mungkin dia tidak ingat denganku. Baru kemarin kami mengobrol di warung kopi. Apa setelah itu ia mengalami kecelakaan, kepalanya terbentur dan dia mengidap amnesia?
“Sorry, aku tidak kenal dengan nga!” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan aku. Buru-buru kukejar dan kuhadang.
“Yung! Aku Rimba, Rimba penulis, Yung!” kataku mendesaknya untuk mengingatku.
“Oh, penulis. Betul kau penulis?”
“Ya, tulisan-tulisanku dulu sering dimuat di media ini.”
Dia tersenyum. Ditepuk-tepuknya bahuku.
“Jawaban itu yang kuinginkan,” katanya kemudian.
“Maksudmu?”
“Ada dua temanku yang bernama Rimba. Satu kernet bus, satunya lagi penulis. Yang kuharapkan datang, yang kedua. Bukan yang pertama,” katanya ringan. “Sudahlah, sekarang nga ikut aku!” lanjutnya tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk mengekspresikan kebodohan.
Ia mengajakku mengikutinya mencari berita. Selanjutnya, mengajariku bagaimana seharusnya mencari dan menulis berita, serta semua hal tentang kewartawanan dia paparkan padaku.
Sebulan lebih dia memintaku untuk mengikutinya, tanpa aku tahu apa maksudnya Aku baru memahami maksudnya, setelah ia memperkenalkanku kepada pimpinannya, dan mengusulkan supaya aku diterima untuk bekerja di kantor itu sebagai wartawan. Aku diminta untuk melengkapi persyaratan administrasi, dan setelah itu mulailah aku berkeliaran sebagai wartawan.
“Pertama kali meliput, aku ditugaskan untuk menulis tentang Angin,” kataku kepada Tina setelah panjang lebar bercerita.
“Angin pasti terkejut mengetahui kau jadi wartawan,” tebak Tina.
”Justru aku yang terkejut,” ucapku.
“Kenapa?”
“Karena sebenarnya, Angin juga yang mendesak Kuyung Iful untuk mengajakku bekerja sebagai wartawan.”
Tina sekarang yang terkejut, tidak mengira kalau perhatian Angin kepadaku sangat besar.
“Aku sekarang dapat memahami, kenapa kau merasa begitu kehilangan dia,” kata Tina kemudian.
Ya, kepergian Angin melahirkan kehampaan. Ada sesuatu yang hilang di rumahku manakala pulang dari kantor malam hari. Biasanya, setiap kali membuka pintu rumah, selalu kudapatkan Angin tengah mengetik atau menulis puisi, atau membaca atau melamun sambil merokok di beranda belakang rumah; memandangi kehidupan di sekitar Sungai Musi atau sekadar mendengar suara gemericik air.
Rumah kontrakanku memang berada tepat di tepi Sungai Musi. Bagian belakangnya menghadap ke sungai dengan sedikit beranda yang dapat dimanfaatkan untuk sekadar duduk memandangi sungai. Karena alasan itu pula, Angin begitu bersemangat untuk meninggalkan rumah kontrakannya dan bergabung di rumahku. Agar lebih dekat dengan Musi dan leluasa mengungkap misteri yang ada, katanya.
Kalaupun dia sedang tidak berada di rumah atau belum pulang ke rumah saat aku pulang, selalu ada pesan yang dia tulis di sebuah kertas dan ditempelkan di dinding rumah.
“Jangan curigai malam, aku sedang bersamanya sekarang.”
Begitu kata-kata yang sering ditempelkannya di dinding pintu. Aku tidak pernah tahu ke mana pastinya dia pergi. Dia tidak pernah mau menjelaskan ke mana arah dan tujuan langkahnya.
Dia melangkah ke mana saja kaki membawanya. Mendatangi sahabat-sabatnya sesama seniman untuk mengobrol dan berdiskusi, atau sekadar melihat orang-orang yang memancing ikan di atas Jembatan Ampera, ikut nelayan pinggiran Musi mencari ikan, atau mengobrol dengan entah siapa di dekat rumah rakit. Tak jarang pula, dia mendatangi anak-anak jalanan, memperhatikan para gelandangan dan pengemis yang tidur seenaknya di pinggir jalan atau di atas jembatan-jembatan penyeberangan. Dan, entah lorong-lorong gelap mana lagi yang dia akrabi. Aku tidak begitu menghiraukannya, karena memang begitulah cara hidupnya. Biasanya setelah itu, akan ada tulisan yang dia buat untuk dimuat di koran-koran.
Dan setiap kali pulang dari kantor, aku selalu menyempatkan diri untuk membeli martabak atau nasi goreng atau makanan apa saja yang dapat membuat perut kami hangat, yang biasanya kami santap bersama sambil bercerita, berdiskusi, atau berdebat sampai larut malam.
Sekarang Angin tak ada lagi. Dia sudah menjadi bagian dari kenangan. Aku membuka bungkus nasi goreng yang sengaja kubeli sehabis pulang dari kantor tadi. Kupandangi nasi goreng itu dengan lesu dan menyantapnya tanpa nafsu.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Siapa yang menelpon malam-malam begini? Ah, paling-paling Tina. Karena, memang dia yang paling sering menelponku pada jam-jam sepulang kantor seperti ini. Ada-ada saja yang dia ceritakan. Mulai dari suasana kantor yang dianggap tidak kondusif, redaktur yang marah-marah terus, atau lingkungan tempatnya ngepos mencari berita yang membuatnya kesal. Dengan malas, kuambil ponselku. Kulihat nomor pada tayangan di monitornya. Tampak sebuah nomor yang tak kukenal. Kusambungkan.
“Halo,” kataku lemah.
“Hallo! Rimba, ya ?” terdengar suara merdu.
“Betul. Ini siapa?” tanyaku.
“Sudah tidak kenal lagi ya dengan suaraku?”
Aku coba mengingat-ingat pemilik suara itu.
“Wulandari,” katanya.
Aku terkejut. Perhatian terhadap nasi goreng kualihkan pada suara yang keluar di telepon selulerku.
“Rim. Maaf aku baru bisa nelpon. Aku juga minta maaf karena tak bisa ikut takziah di rumahmu malam itu,” lanjutnya.
“Ya. Tapi tidak harus mematikan ponsel, kan? Berkali-kali aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu selalu kau matikan. Wulan, tahukah kalau selama ini aku selalu mencari-cari informasi tentang keberadaanmu, tetapi semuanya gelap. Kau bagai hilang ditelan Jakarta.”
“Cukup, Rim! Cukup! Aku mohon. Tidak usah kau ungkap lagi cerita lama itu. Aku sudah mencoba untuk melupakannya.”
“Kenapa?”
“Karena hanya akan membuat luka baru.”
Aku menanti kata-kata berikutnya.
“Rim. Aku sudah punya kehidupan sendiri sekarang, begitu juga denganmu. Tolong lupakanlah aku, tidak usah lagi berusaha menghubungiku.”
Lalu hubungan telepon seluler itu diputuskannya.
Aku terdiam beberapa saat. Tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Tebersit keinginan untuk menghubunginya kembali, tapi jemari tanganku tak tergerak untuk memencet tombol-tombol pada ponselku. Cuma kupandangi ponsel sialan itu, lalu memandangi nasi goreng yang baru kumakan tiga atau empat sendok Dan, aku merasa muak!

GADIS W

Wijaya Kusuma membukakan pintu mobilnya, mempersilakan Tina masuk dengan penuh rasa hormat. Tina melambaikan tangan sebelum menutup pintu mobil. Aku tersenyum kecil melihat Tina salah tingkah diperlakukan berlebihan seperti itu. Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan halaman kantor. Sudah seminggu lebih Tina dijemput oleh lelaki yang mencintainya itu. Seorang lelaki tampan lulusan es dua dari sebuah universitas terkemuka di Australia, anak seorang pengusaha yang masih ada hubungan keluarga dari pihak ibunya.
Menurut cerita Tina, hubungan kedua keluarga itu sudah terjalin baik sejak lama. Keluarga Tina ataupun keluarga Wijaya Kusuma selalu menyempatkan untuk saling mengunjungi pada hari-hari libur. Karena itu, Tina dan Wijaya Kusuma sudah lama saling mengenal. Keduanya terpisah manakala orangtua Wijaya Kusuma memutuskan untuk memboyong semua anggota keluarganya pindah ke Jakarta. Saat itu, Wijaya Kusuma baru tamat es de, sedangkan Tina masih duduk di kelas tiga es de. Sejak itu, keduanya tidak pernah bertemu, bahkan Tina sudah tidak memikirkannya lagi. Kenangan itu baru terusik kembali, pada saat Wijaya Kusuma dan keluarganya mengunjungi kakek dan neneknya di kota ini, sekitar dua bulan yang lalu. Kesempatan itu dimanfaatkan pula oleh keluarga Wijaya Kusuma untuk mengunjungi rumah keluarga Tina.
Dalam pertemuan kembali dua keluarga itulah, Wijaya Kusuma dan Tina bersua kembali. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan, terutama mengenang kelucuan-kelucuan masa kecil, saat Tina sering digendong dan dicium oleh Wijaya Kusuma. Setelah itu, pembicaraan melebar ke mana-mana. Wijaya Kusuma yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Australia, bercerita tentang Australia dan kehidupan remaja di sana serta strategi-strateginya untuk menghadapi masa depan. Selanjutnya keduanya saling memberi nomor ponsel. Dan sejak itulah, Wijaya Kusuma selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Tina lewat ponsel untuk sekadar berbagi kabar dan cerita.
Sekitar satu bulan yang lalu, Wijaya Kusuma muncul lagi ke rumah Tina. Katanya, kedatangannya untuk menjajaki kemungkinan pengembangan perusahaan papanya di kota ini. Selain itu, alasan lain kenapa ia nekat kembali ke kota ini, tidak lain karena wajah Tina selalu membayangi langkahnya. Perasaan hatinya itu telah diungkapkannya secara langsung kepada Tina. Bahwa dia mencintai Tina, dan berharap Tina mau menjadi istrinya. Hanya saja, sampai saat ini Tina belum memberi jawaban pasti.
“Apalagi yang kau ragukan? Keluargamu dan keluarganya sudah saling kenal. Dia ganteng, pintar, lulusan es dua dari luar negeri. Masa depannya sudah jelas,” kataku, ketika Tina minta saranku.
“Aku sendiri bingung, kenapa hatiku sedikit pun tidak tergugah untuk mengagumi dan mencintainya padahal berbagai cara sudah dia lakukan untuk dapat memikat hatiku,” ucap Tina.
“Hm, aku kira cuma masalah waktu.”
“Apa satu bulan belum cukup?”
“Ya, itu tergantung kalian. Orang bilang, cinta bisa saja datang karena kebersamaan. Mungkin kalian perlu waktu lebih lama.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kau merasakannya.”
“Bagaimana kalau sepuluh tahun lagi perasaan itu baru muncul?”
“Menurutku, yang penting kau mau menerimanya atau tidak. Soal cinta… itu bisa datang belakangan.”
“Itu format kata-kata masa lalu yang diciptakan nenek moyang kita agar dapat meneruskan tradisi perjodohan dalam keluarga. Kata lain dari penjajahan terhadap hak-hak wanita. Dan pada umumnya, hal itu merugikan wanita, membuat wanita menjadi semakin lemah karena sudah diintimidasi oleh sebuah kultur, bahwa wanita ditakdirkan untuk diam dan menerima. Wah, aku bukan wanita semacam itu!” katanya panjang lebar.
Aku tidak mau mendebatnya, karena aku tahu aku akan kalah. Akan banyak teori dan pendapat orang-orang terkemuka yang mengalir dari bibirnya untuk sebuah pendapat yang dia yakini kebenarannya.
“Beberapa hari belakangan ini, aku coba pengaruhi hati nuraniku dengan pikiran-pikiran yang rasional tentang sebuah masa depan yang kau katakan jelas, bila aku kawin denganya. Tapi, hatiku tetap berkata tidak. Karena katanya, cuma cinta yang menjamin sebuah kebahagiaan,” lanjut Tina.
“Banyak orang menikah tanpa dilandasi cinta, tapi rumah tangganya aman, tenteram dan tak terpisahkan sampai kakek-nenek,” ucapku mencoba memberinya perbandingan.
“Kita selalu mengukur kebahagiaan dari kelanggengan perkawinan dalam sebuah rumah tangga. Padahal sebenarnya, tidak sedikit wanita yang menderita sepanjang hidupnya hanya karena alasan untuk mempertahankan keutuhan sebuah rumah tangga. Dia tidak berani minta cerai, karena cerai adalah aib. Dalam budaya kita, aib itu akan berpengaruh pada nama baik keluarganya. Kenapa hal itu terjadi? Tidak lain karena wanita kita dibesarkan dalam tatanan budaya yang mengajarkannya untuk mengabdi kepada suami. Akibatnya, dia tidak pernah berani berkata tidak,” paparnya dengan bersemangat.
Aku diam. Agak sulit mengerti jalan pikirannya. Apakah ungkapan itu merupakan sebuah implementasi dari pemberontakan terhadap isu diskriminasi pada hak-hak wanita yang dilakukan lelaki di negeri ini? Atau, sekadar egoisme yang ditumbuhsuburkan oleh lingkungan dan literatur. Entahlah! Tetapi, sebagai lelaki yang dilahirkan di dusun dengan tradisi budaya daerah yang masih mengalir dalam tatanan kehidupan keluargaku, agak sulit bagiku untuk menerima pemikiran semacam itu. Bagiku, wanita tetaplah wanita. Tidak akan pernah sama dengan laki-laki. Dalam sebuah perkawinan, lelaki adalah kepala keluarga. Hal itu tidak kuungkapkan kepada Tina. Terlalu naif untuk membandingkan sebuah tatanan budaya tradisional dengan pemikiran-pemikiran modern..
“Aku tidak akan pernah menikah kalau tanpa dilandasi cinta,” ucap Tina tegas.
Aku setuju dengan ucapannya itu. Karena, cinta adalah karunia yang harus dijaga keberadaannya. Kehadirannya tidak dapat dipaksakan, dia mengalir seperti air memasuki relung-relung hati paling dalam. Dan, cinta punya kekuatan mahadahsyat yang terkadang mampu membunuh logika manusia.
“Lalu, bagaimana dengan Wijaya?” tanyaku kemudian.
“Aku mencoba untuk bijaksana. Memberinya ruang dalam beberapa hari belakangan ini.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Tapi, aku tidak begitu yakin. Kalau memang benih-benih cinta itu ada, seharusnya sejak pertemuan pertama sudah terasa getarnya.”
Dan sebelum aku mengomentari ucapannya itu, dia sudah lebih dulu memutuskan untuk tidak membicarakan hal itu lagi.
“Sudahlah! Pusing aku memikirkannya. Cuma buang-buang waktu.”
Ah, Tina! Satu lagi lelaki yang akan kau kecewakan, batinku. Di kantorku, kucatat beberapa nama yang kecewa setelah mencoba peruntungannya mendapatkan cinta Tina. Dan, aku sendiri mereka catat sebagai pesaing yang mempunyai keberuntungan, karena keakrabanku dengan Tina. Tetapi, sejak Tina dijemput terus oleh Wijaya Kusuma, mereka mencatat namaku dalam kelompok yang kecewa. Macam-macam komentar mereka, tapi aku tidak begitu memedulikannya.
Aku pikir, Tina memang bukan wanita biasa, yang mudah terjebak dengan atribut dan kata-kata manis lelaki. Dia punya hati yang dia jaga syair dan ritme tembangnya. Lelaki akan tertipu kalau tidak pandai memahami syair dari tembang-tembangnya. Apalagi, kalau terlalu cepat menakar senyuman dan kerling mata.
Aku menghela napas untuk kemudian memacu Vespa-ku memasuki jalan raya yang sudah tampak mulai sepi. Tak ada teman bicara dan bercanda, yang sesekali mencubit pinggangku atau menyandarkan diri di punggungku karena lelah dan mengantuk setelah kerja seharian
Rumah pun menyambut kehadiranku dengan dingin. Tak ada lagi senyum hangat Angin atau sapaan khasnya. Cuma dinding-dinding kayu yang sudah mulai buram warna catnya, poster-poster yang ditempel untuk menutupi lubang pada dinding kayu, pakaian-pakaian kotor yang bergelantungan, koran, majalah, dan buku yang tak tersusun rapi. Tak ada yang bisa kuajak bicara untuk sekadar berbagi. Kulemparkan tubuhku yang lelah ke atas pembaringan, menengadah ke langit-langit kamar yang sudut-sudutnya dihiasi sarang labalaba.
Suara gemericik air dari Sungai Musi yang sesekali ditimpali suara mesin perahu menjadi musik yang mengalun mengantarkan pikiranku menerawang ke mana-mana. Aku teringat Angin. Dia senang sekali mendengar suara gemiricik air itu. Katanya, itu lagu jiwa yang mengalun dari alam.
Terlintas wajah Angin. Wajah lelaki kurus dengan tulang pipi yang menonjol, dan bentuk mata yang cenderung cekung karena kurang tidur. Tahukah dia kalau besok sekelompok penyair akan membacakan puisi-puisi karyanya di Taman Budaya?
Aku menyambut gembira acara itu, karena apa yang mereka lakukan merupakan sebuah pengakuan akan keberadaaan Angin sebagai seorang penyair. Di samping itu, acara pembacaan puisi memang tergolong agak langka di kota ini, terutama pembacaan puisi karya penyair lokal.
Aku bersemangat sekali untuk meliput kegiatan itu, soalnya Angin pernah berkeinginan untuk menggelar acara pembacaan puisi-puisinya di sebuah gedung sebagaimana yang dilakukan W.S. Rendra, Sutarji Calsoum Bahri, Taufik Ismail, dan atau penyair-penyair terkemuka lainnya. Tapi sampai mati, keinginannya itu tak pernah terwujud. Aku berharap di alam sana, Angin juga menyaksikan pementasan itu agar dia bahagia. Setidaknya, setengah dari impiannya sudah akan terwujud.
Aku memutuskan untuk tidur. Aku harus mengistirahatkan tubuh yang seharian kuhela ke sana kemari dan juga pikiranku dari persoalan-persoalan kehidupan yang tak pernah berhenti bergulir. Aku berbalik, menelungkupkan wajah ke bantal, tetapi tidak merasa nyaman karena bau bantal yang sudah lama belum dicuci. Kumiringkan tubuh, kututupi kepalaku dengan bantal, dan kupejamkan mata. Aku justru susah bernapas. Kulemparkan bantal ke samping dengan kesal. Ada kegelisahan yang tak mampu kuusir.
Aku bangkit dari tempat tidur. Kubakar rokok, kuisap dalam-dalam dan kuhembuskan asapnya bersama setumpuk beban di jiwaku.
Beberapa saat kemudian, kuambil sebuah buku antologi puisi Angin. Kubaca puisinya satu-satu, terutama beberapa puisi yang tertuju untuk “W” atau Wulandari. Kutangkap harapan-harapannya, mimpi-mimpinya, dan kekecewaan demi kekecewaannya. Ah, Wulandari! Di mana kau sekarang? Adakah kenangan masa lalu menyeruak di sepimu Seperti Angin yang membawa kerinduannya sampai mati, atau diriku yang terengah-engah mencoba menjauh dari harum aroma tubuhmu. Wulandari kembali masuk kamarku, menjaringku ke masa lalu.
Waktu itu, dia baru tamat SMA. Ikut latihan teater karena iseng. Kehadiran seorang gadis cantik tentu saja disambut dengan riang gembira oleh anak-anak di kelompok teater. Berbagai cara dilakukan untuk mencoba peruntungan memikat hati Wulandari, termasuk Angin.
Setiap kali latihan, dia selalu mendapat perhatian lebih dari Angin. Dan setiap kali pementasan, dia selalu mendapat peran utama. Cewek-cewek yang lain sudah maklum. Di samping cantik, memang kemampuan akting Wulandari lebih baik dari yang lain.
Dengan tinggi badan lebih dari 175 cm dan wajah yang cukup tampan, aku selalu dipilih Angin untuk mendampingi Wulandari sebagai pemeran utama dalam setiap pementasan teater yang disutradarainya. Akibatnya, tentu saja aku mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk selalu dekat dengannya. Cerita percintaan pun berlanjut sampai keluar panggung.
Aku merupakan cinta pertama Wulandari. Hal ini terungkap, ketika pertama kali aku menciumnya. Terasa sekali getaran seluruh tubuhnya menahan gejolak rasa takut yang berbenturan dengan gelora hasrat cinta yang membara. Tubuhnya terasa dingin. Dia menangis dan memukul-mukul tubuhku setelah kulumat habis bibirnya. Tapi setelah pengalaman pertamanya itu, dia pejamkan mata dan pasrahkan semuanya kepadaku.
Cinta yang membara membuat kami lupa, bahwa ada hal-hal yang tak boleh kami lakukan dan tak seharusnya kami lakukan. Tetapi, api cinta itu telah membakar semua kesadaran kami. Kamar rumah kontrakan menjadi saksi bisu dua prilaku anak manusia yang dimabuk cinta.
Dia menangis tanpa suara, menyadari sesuatu yang sangat berharga bagi seorang gadis, telah terenggut.
“Kau menyesal?” tanyaku.
“Tidak,” jawabnya.
“Kenapa menangis?”
“Aku hanya takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau tak lagi bisa menjaga kesetiaanmu, karena apa yang kau inginkan sudah kau dapatkan.”
“Apa kau pikir cuma hal ini yang kuinginkan? Ini cuma pertanda dari sebuah cinta. Aku menginginkan dirimu seutuhnya, merancang dan melalui masa depan bersamamu. Percayalah. Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintaimu.”
Angin yang kemudian mengetahui hubungan kami, tak bisa menyimpan kekecewaannya padaku.
“Kau ini memang playboy! Mata keranjang! Tidak bisa melihat perempuan cantik, pasti mau dipacari!” katanya pada suatu malam. “Dari awal, aku memang sudah merasa, kalau dia bakal jadi korbanmu yang berikutnya.”
Aku diam. Aku tahu kenapa Angin sampai berkata begitu, dia juga mencintai Wulandari. Bahkan, kata Wulandari, Angin secara jujur pernah melontarkan perasaan hatinya itu secara langsung, tetapi dengan alasan yang halus Wulandari menolaknya.
“Aku minta kau tidak meneruskan hubunganmu dengan Wulandari!” lanjutnya.
Aku tertawa mendengar ucapannya itu. Merasa aneh dan lucu. Apa haknya menyuruh aku memutuskan hubungan dengan Wulandari.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena, kau cuma akan mempermainkannya!”
“Bukan karena kau juga mencintainya?”
Dia diam.
“Angin, bukankah kau juga yang mengajarkan padaku, bahwa cinta tidak pernah bisa dipaksakan? Bahwa cinta adalah sesuatu yang jujur, yang keluar dari nurani paling dalam.”
“Tapi, kau tidak sungguh-sungguh mencintainya, kau cuma menjadikannya tempat pelampiasan nafsumu!”
Aku marah dan tersinggung mendengar ucapannya itu. Kurenggut kerah bajunya dengan kasar.
“Maaf, ini untuk pertama kali aku kurang ajar padamu! Aku menghormatimu, tetapi itu bukan berarti kau bisa berbuat sewenang-wenang kepadaku. Aku tahu cara memperlakukan wanita!” kataku dengan suara bergetar.
Kudorong tubuhnya dengan kasar, sehingga ia terhuyung ke belakang. Lalu kutinggalkan ia pergi. Aku takut, tak mampu membendung kemarahan yang berlebih padanya.
Setelah kejadian itu, Wulandari tidak pernah muncul lagi ke tempat latihan. Ketika kudatangi rumahnya, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan; Wulandari pindah ke Jakarta. Aneh! Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa dia pindah tanpa ngomong dulu padaku? Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan Angin pasti tahu alasannya. Kembali kucengkeram leher Angin.
“Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Maafkan aku, Rim. Aku salah, aku salah….”
“Kau apakan dia?” bentakku penuh emosi.
“Pukul aku, Rim! Pukul aku, aku salah… salah….”
Aku menahan amarah yang menggelora di dadaku. Kulepaskan cengkeramanku dengan satu hentakan keras bersamaan dengan jerit kesal.
Angin terduduk dan menangis tersedu-sedu, bercerita di antara sedu-sedannya itu, bahwa dia penyebab mengapa Wulandari sampai memutuskan pindah ke Jakarta. Dia telah membeberkan hubunganku kepada orangtua Wulandari, sekaligus tentang keburukan-keburukanku. Akibatnya, orangtua Wulandari marah dan melarangnya untuk ikut kegiatan teater serta menjalin hubungan denganku. Untuk alasan itulah, Wulandari dipindahkan ke Jakarta.
“Gila! Gila!” teriakku sekeras-kerasnya.
Sejak saat itu, aku menjauh dari komunitas para seniman. Karena di sana selalu ada bayangan Wulandari, ada Angin yang telah memporakporandakan hatiku. Aku kecewa. Aku sempoyongan di jalan gelap bersama para setan dan iblis yang menghidangkan cap Kuntji, Shong Hie, dan beragam merek serta jenis minuman yang memabukkan. Perempuan-perempuan malam menjaringku dalam tawa hambar.
Aku bangun kesiangan. Buru-buru mandi, sarapan dan memacu Vespa-ku meninggalkan rumah kontrakan. Kuputuskan untuk tidak mampir ke kantor dulu, tetapi langsung mengarah ke Gedung Taman Budaya yang terletak di Jakabaring. Sebuah daerah hunian baru yang berkembang dengan cepat setelah Sumatera Selatan menggelar pesta olahraga nasional, PON XVI. Daerah yang letaknya lebih kurang 500 meter dari Jembatan Ampera itu, sebelumnya tak lebih dari rawa-rawa. Karena Pemerintah Daerah memutuskan untuk memusatkan kegiatan PON XVI di sana, maka semua sarana dan prasarana guna menyukseskannya pun dibangun, mulai dari fasilitas olahraga sampai ke akses jalan dan perumahan untuk atlet. Lalu, gedung dan perkantoran pun tumbuh dengan sendirinya. Julukan “tempat jin buang anak” untuk Jakabaring sudah terlindas roda pembangunan.
Gedung Taman Budaya yang berada di Kompleks Graha Serba Guna merupakan salah satu peninggalan PON XVI, menggantikan Gedung Taman Budaya lama yang sudah diratakan dengan tanah untuk ditumbuhi hotel berbintang dan mal. Di Gedung Taman Budaya itu, diharapkan kreativitas berkesenian para seniman dapat tersalurkan.
Ketika aku sampai di sana, acara sudah dimulai. Kulihat Doni sudah siap dengan kameranya di dekat panggung. Aku mengambil tempat di antara para penonton yang mengisi tiga perempat dari kapasitas ruangan. Kulihat beberapa seniman teater, lukis, dan beberapa penyair seangkatan Angin sudah berada di sana. Aku agak lega, setelah mengetahui bahwa baru satu penyair yang tampil.
Angin berhembus kembali di ruangan itu, berputar-putar. Aku merasa antusias mengamati penampilan para penyair yang menginterpretasikan dan mengekspresikan puisi-puisi Angin dengan akting yang lumayan menarik, terutama ketika seorang gadis cantik tampil ke panggung untuk membacakan puisi. Putri Dewi namanya.
“Aku akan membacakan puisi-puisi Angin yang dia tujukan pada ‘W’. Aku akan mencoba masuk dalam kerinduannya pada seseorang yang bernama W. Aku menerjemahkannya sebagai seorang gadis yang dia cintai dan rindukan,” komentarnya sebelum membacakan puisi.
Doni tampak mulai memotret Putri Dewi. Aku geli sendiri melihat akting Doni yang terkadang berlebihan. Sebagai fotografer, penampilannya sangat nyentrik. Dengan rambut gondrong dan tas besar yang dijinjing di pundak, serta atribut lain yang memenuhi pakaiannya, dia sangat mudah dikenali.
Penonton hening. Menunggu kalimat-kalimat puisi mengalir dari bibirnya yang indah. Entah kenapa jantungku berdebar. Aku terhanyut dalam kenangan, menyaksikan Putri Dewi yang membacakan puisi-puisi Angin untuk Wulandari dengan penuh penghayatan.
Wulandari seakan-akan menari di atas panggung dengan kakinya yang langsing dan lincah, tubuhnya terkadang meliuk-liuk dengan tatap mata membangkitkan gelora. Aroma tubuhnya menyebar ke setiap sudut ruangan. Bulir-bulir keringat di ujung hidungnya yang bangir membuat penonton menahan napas. Ia melangkah turun di antara tatapan mata penonton yang seakan tersihir oleh gerakannya. Ia mendekatiku, meliuk-liuk di hadapanku. Bibirnya merekah. Para penonton berdiri, lalu berkerumun mendekat dengan takjub.
Dari atap gedung, kulihat Angin turun. Tangannya yang kurus dan gamang menjulur di antara tangan-tangan lain yang mencoba menyentuh tubuh Wulandari. Tak terjangkau. Dia mencoba membelai rambut Wulandari, yang sebagian anak rambutnya dia biarkan jatuh di wajahku. Angin berteriak memanggil-manggil Wulandari, mencoba menggapai tapi tak pernah sampai.
Gemuruh tepuk tangan di dalam gedung menyadarkan aku dari sebuah khayal yang muncul begitu saja. Penampilan Putri Dewi yang memikat, dengan intonasi lembut menghujam dan penghayatan penuh serta akting yang mengaggumkan, memang pantas mendapat aplaus penonton. Gedung bergemuruh oleh tepuk tangan. Luar biasa gadis itu!
Aku langsung beranjak dari kursi setelah dia menyelesaikan semua pembacaan puisi untuk “W”, mengejarnya ke belakang panggung. Putri Dewi pantas mendapat porsi lebih dalam tulisanku. Kulihat dia tengah diberi ucapan selamat oleh teman-temannya, yang memuji penampilannya. Aku membiarkannya berbagi kebahagiaan beberapa saat, lalu mendekatinya. Kusodorkan tangan untuk memberi ucapan selamat, dia menyambutnya dengan ramah.
“Selamat! Penampilannya bagus sekali,” ucapku mencoba memulai dengan memujinya.
“Terima kasih,” katanya ceria.
“Hm, aku dari koran Cahaya Lokal. Bisa kita ngobrol sebentar?”
“Bisa,” jawabnya.
Kami mengambil tempat yang enak untuk wawancara. Aku merekam dan juga mencatat semua hal yang menarik untuk bisa diangkat dalam tulisan. Namanya Putri Dewi. Mahasiswa semester satu Fakultas Hukum sebuah Universitas Negeri itu ternyata memang mempunyai banyak prestasi. Hobi membaca, suka menulis puisi, dan juga ikut kegiatan teater di kampus.
“Putri tadi membawakan puisi-puisi Angin yang semuanya ditujukan khusus kepada W. Apa alasan Putri memilih puisi-puisi itu?” tanyaku.
“Hm… kenapa, ya? Mungkin karena puisi-puisi itu indah, dan sebagai wanita aku akan merasa tersanjung seandainya puisi itu tertuju padaku,” jawabnya.
“Sebelum membacakannya, apakah Putri juga mencoba menggali dan menerjemahkan maksud dan isi puisi itu, dan atau mungkin, mencari tahu siapa sebetulnya W itu?”
“Ya. Aku sempat bertanya pada seorang penyair yang seangkatan dengannya. Katanya W adalah Wulandari. Seorang gadis yang dicintainya, tapi gadis itu tidak pernah mau menerima cintanya. Karena ternyata, Wulandari telah memiliki kekasih.”
“Sejak kapan Putri mengenal puisi-puisi Angin?”
“Hm…. sejak es em pe, aku sudah menyenangi sastra. Aku suka membaca karya-karya sastra baik novel atau pun puisi. Puisi-puisi Angin sering aku baca di koran-koran lokal yang memuat karya-karyanya.”
“Tapi kenapa justru kuliah di Fakultas Hukum, bukan memilih Fakultas Sastra?”
“Apakah hal itu dilarang?” jawabnya balik bertanya.
“Maksudku, Putri punya hobi sastra dan menurutku Putri punya bakat yang bagus di bidang itu.”
“Hm… seni, khususnya sastra, hanya sekadar hobi.”
“Kalau boleh tahu cita-cita Putri?”
“Lawyer.”
“Terima kasih atas waktunya,” kataku sambil menyalaminya.
Lalu, kutemui Ketua Panitia Penyelenggara kegiatan itu untuk kuwawancarai, juga beberapa orang penyair muda dan penyair seangkatan Angin. Setelah data yang kuperlukan kurasakan cukup untuk bahan berita dan tulisanku, aku langsung ke kantor untuk menulis berita. Seperti yang sudah aku perkirakan, Kuyung Iful marah.
“Ui, gile! Sikak!” panggilnya dengan suara keras, ketika langkahku baru sampai di ruang redaksi.
Aku mendekat sambil tersenyum kecut. Aku pikir, pasti akan diceramahinya.
“Apa senyum-senyum? Masih nak begawe dak? Dari mana, nga?” tanya Kuyung Iful beruntun, sebelum aku bersuara.
“Dari meliput pembacaan puisi memperingati meninggalnya Angin,” jawabku.
“Ui, ngomong… nelpon! Begawe ni ada aturan. Kantor ini bukan punya nenek moyang nga !”
“Habis pulsa, Yung.”
“Tapi, ponsel nga itu jangan tidak diaktifkan! Beli ponsel mampu, beli pulsa tidak mampu. Tulis beritanya sekarang!” perintahnya sambil pergi.
Kulihat ponselku. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal, ternyata ponselku memang belum kuaktifkan. Kuaktifkan ponselku, beberapa saat kemudian, muncul SMS dari Kuyung Iful. Kubaca. Seperti sudah kuduga, isinya memang memerintahkanku untuk meliput kegiatan pembacaan puisi itu.
Aku melangkah ke depan komputer untuk mengetik berita. Kubuat dua berita. Pertama berita tentang penyelenggaraan pembacaan puisi, beberapa pertimbangan mengapa panitia menggelar acara itu, suasana pembacaan, dan penampilan para penyair khususnya Putri Dewi. Berita kedua, kucoba mengulas keberadaan Angin sebagai penyair, dan tanggapan dari beberapa penyair. Lancar dan cepat sekali aku menulisnya, seakan-akan menyalin sebuah buku. Setelah selesai, langsung kuserahkan kepada Kuyung Iful.
Seperti biasa, dia mengoreksi dan mengedit bagian-bagian yang dia anggap kurang layak. Karena dia juga tahu tentang Angin dan Wulandari, tidak sukar baginya untuk menambahi beberapa bagian dari tulisanku.
“Putri Dewi ini pasti gadis cantik,” komentarnya.
“Ya. Cantik orangnya, cantik pula penampilannya. Dia seperti menghipnotis seluruh isi gedung.”
“Terutama nga yang terhipnotis,” ucapnya dengan nada agak sinis.
“Kalau saja Kuyung nonton, aku yakin Kuyung juga akan merasakan hal yang sama.”
“Terhipnotis?”
“Ya! Dan, dia telah membawaku kepada Wulandari.”
Kuyung Iful menatapku. Aku merasa, sudah waktunya untuk bertanya tentang Wulandari kepadanya. Aku berkeyakinan, Kuyung Iful tahu banyak tentang keadaan Wulandari sekarang.
“Yung. Dua hari setelah kematian Angin, Wulandari menelponku tapi hanya sebentar. Hanya untuk memintaku melupakannya, setelah itu, dia matikan ponselnya. Dan aku tidak pernah bisa lagi menghubunginya,” kataku mencoba untuk mencari informasi tentang Wulandari darinya. ”Mungkin Kuyung tahu apa alasannya karena aku yakin, sebenarnya dia sering menelpon kuyung.”
Dia pura-pura tidak mendengar ucapanku.
“Yung!”
Dia menarik napas, menghentikan kegiatannya. Lalu memandangku tajam.
“Aku tidak ada urusan dengan masa lalu kalian, dan aku masih banyak kerja lain untuk ngurusi betine tu,” katanya kemudian. ”Kalaupun aku mengabarkan kepadanya tentang kematian Angin, itu karena malam sebelumnya dia menelponku. Dan, aku tidak tahu dari mana dia dapat nomor ponselku. Dia bertanya tentang nga dan Angin. Kujawab seadanya, lalu kuberikan nomor ponsel nga dengan maksud agar dia menghubungi nga.”
“Tapi, dia tidak menghubungiku.”
“Itu urusannya, bukan urusanku!”
Aku diam.
“Rimba. Kuperhatikan sejak nga bertemu dengan Wulandari pada saat kematian Angin, nga mulai kacau. Kerja kesiangan terus. Ada apa sebenarnya dengan nga? Apa nga masih terus bermimpi untuk mendapatkannya kembali? Jangan bodoh! Masih banyak gadis lain yang lebih baik dia.”
“Aku cuma penasaran.”
“Lupakanlah dia, atau nga mau menghancurkan hidup nga untuk kedua kalinya?” katanya tegas, lalu pergi meninggalkanku.
Aku terhenyak di tempat duduk. Seluruh tubuhku terasa lemas. Aku tidak tahu apa aku dapat melupakan Wulandari, tapi aku merasa bayangan Wulandari semakin menjauh dari jangkauanku. Aku berjalan ke luar ruangan dengan kepala tertunduk, dan hampir menabrak Tina yang menghadang langkahku.
“Hei! Kau kenapa? Sakit?” tanya Tina memandang kemuraman di wajahku.
“Tidak, aku tidak apa-apa.”
“Ada masalah?”
“Tidak ada.”
“Tapi, wajahmu kenapa kusut begitu?”
“Lagi kacau saja.”
“Pulang nanti aku ikut, ya?”
Alisku berkerut. Bukankah ada Wijaya Kusuma yang selalu setia menjemputnya?
“Wijaya Kusuma?” tanyaku.
“Aku bilang, aku mau ikut kamu,” jawabnya.
“Dia tidak menjemputmu?”
“Nanti saja kujelaskan.”
Aku menimbang bimbang.
“Aku selesaikan tulisanku dulu, ya? Sedikit lagi,” katanya sambil melangkah ke arah meja komputernya, sebelum aku menjawab.
Aku menarik napas. Kesal dengan diriku sendiri. Kenapa tidak tegas untuk menolaknya. Dan, memang begitulah yang kualami selama ini, sulit sekali untuk menolak keinginan Tina.
Aku melangkah ke luar kantor dan bermaksud untuk menunggu di warung kopi depan kantor seperti biasanya. Tapi sesampai di depan kantor, kulihat Wijaya Kusuma sudah menunggu di dekat mobilnya. Bagaimana mungkin aku mengantar Tina pulang di hadapan lelaki yang mencintainya?
Aku putuskan untuk pulang sendirian. Kubawa langkahku ke arah Vespa-ku. Kulihat Wijaya Kusuma melangkah mendekatiku. Entah mau apa dia.
“Selamat malam,” sapanya ramah.
“Malam.”
“Tina sudah pulang belum?”
“Belum, masih ngetik berita.”
“Terima kasih,” katanya, lalu melangkah kembali ke dekat mobilnya.
Aku menyalakan mesin Vespa-ku, dan melaju meninggalkan tempat itu menuju jalan raya.


W A R T A W A N

Menjadi wartawan adalah sebuah karunia bagiku. Sebuah status yang membuatku dihargai, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kuyung Iful merupakan nama penting yang memberiku jalan untuk dapat menjadi wartawan, di samping Angin. Kalau Tuhan tidak mengenalkanku pada keduanya, kemungkinan besar aku akan jadi guru SD dengan status yang belum jelas, Pegawai Negeri Sipil atau hanya guru honor. Apalagi sekarang, sarjana keguruan sudah demikian banyak, sedangkan aku cuma tamatan SPG. Jelas aku akan kalah bersaing, karena jenjang pendidikan tentu akan menjadi prioritas pemerintah dalam merekrut guru.
Sudah dapat kubayangkan berapa besar penghasilanku sebulan dari pekerjaan mulia sebagai guru honor di sekolah dasar, belum lagi ditambah dengan isu pemotongan oleh oknum-oknum tertentu serta keterlambatan pembayaran yang sering sekali terjadi.
Agar penghasilanku mencukupi untuk biaya hidup sebulan, tentu aku harus mencari pekerjaan tambahan sesuai dengan keahlian dan kemampuanku. Apa itu mengajar di sekolah lain, berdagang kecil-kecilan, atau menjadi pengojek.
Harapan terbesarku sebagai guru honor tentu saja mendapatkan status yang jelas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tetapi, aku tidak yakin dapat diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Karena menurut beberapa temanku, untuk dapat lulus testing sebagai Pegawai Negeri Sipil, tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan otak. Kita harus punya beking pejabat tertentu dan atau menyiapkan sejumlah uang pelicin untuk orang-orang tertentu.
Satu-satunya yang dapat kuandalkan hanyalah nasib. Tapi, berapa tahunkah nasib baik akan datang padaku? Tidak bisa diperkirakan, karena kenyataannya banyak sekali guru honor yang sudah mengabdi sepuluh tahun lebih, tapi belum juga diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Barangkali karena hal itu pula, aku kemudian lebih mempertimbangkan tawaran Angin untuk menjadi seniman. Menurut Angin, untuk menjadi seniman tidak memerlukan modal apa-apa, kecuali kegigihan untuk mengasah bakat melalui serangkaian kreativitas.

“Aku kira kau punya bakat yang cukup besar untuk menjadi penulis,” kata Angin suatu ketika.
Untuk dapat hidup sebagai seniman, aku tidak mungkin tinggal di rumah paman. Karena selama aku masih tinggal di sana, aku harus terikat dengan segala aturan yang diterapkan paman dan bibi. Sekolah, jaga warung, dan tidur. Mereka tidak mengizinkanku untuk keluyuran tanpa alasan yang jelas.
Aku teringat betapa kecewa dan marahnya paman serta bibi ketika aku pamit untuk keluar dari rumahnya.
“Mencoba hidup mandiri?” tanya paman waktu itu, seperti tidak percaya dengan pendengarannya.
“Betul, Paman,” jawabku.
“Kau ini sudah tidak waras, ya? Kau pikir, bisa hidup tanpa pekerjaan di kota besar? Kau cuma akan menambah jumlah gelandangan di kota ini.”
“Kau pasti dipengaruhi oleh temanmu yang kurus itu kan,” timpal bibi.
“Yang katanya seniman itu?” tanya Paman dengan nada sinis.
“Ya, yang suka ngopi berjam-jam di warung,” jawab bibi.
“Kau juga mau menjadi seniman seperti dia?” tanya paman kepadaku.
“Betul, Paman.”
“Betul? Jadi kau memutuskan keluar dari rumah ini dengan maksud untuk menjadi seniman? Rimba, kau tahu tidak seniman itu apa? Seniman itu orang yang tidak jelas, pemimpi. Mereka tidak pernah bisa menghidupi diri mereka sendiri dengan baik! Kau tahu itu?” nada suara paman tiba-tiba meninggi.
Aku diam.
“Kau itu sadar atau tidak, kalau kau tamatan SPG, Sekolah Pendidikan Guru. Dan paman sudah menghubungi teman paman yang menjadi kepala sekolah sebuah es de. Paman sudah minta tolong dia agar bisa menerimamu mengajar di sana. Dia sudah setuju untuk menerimamu mengajar sebagai tenaga honor.”
“Maaf, Paman. Aku merasa tidak berbakat menjadi guru.”
“Ini bukan soal bakat! Ini soal kesempatan mendapatkan pekerjaan! Sekarang ini, untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah hal yang gampang. Sarjana saja masih banyak yang nganggur, apalagi kau yang cuma tamatan SPG!”
“Betul, Rimba. Lagipula, menjadi guru itu kan bagus? Dihormati,” tambah bibi.
“Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini. Aku merasa lebih pantas untuk menjadi seniman.”
“Seniman… seniman. Tidak! Kalau kau masih menganggapku sebagai pamanmu, dan masih mau kuanggap sebagai keponakanku, turuti kehendakku! Jangan berbuat tolol dan bodoh!” hardik paman dengan mata mendelik lebar, untuk kemudian pergi meninggalkanku. Dia tampak marah sekali.
“Rimba, kami melarangmu karena kami sayang kepadamu. Kau itu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Jadi menurut bibi, sebaiknya kau turuti saja pamanmu,” ucap bibi dengan lemah lembut, setelah paman pergi.
Hatiku sudah beku. Semua larangan paman dan bibi tak bisa membatalkan langkahku untuk pergi dari rumahnya. Dua hari setelah permintaanku secara baik-baik itu tak dikabulkan, aku minggat.
Ternyata pamanku benar, bahwa tidak gampang untuk hidup sebagai seniman itu. Perlu kreativitas lebih dan ketabahan ekstra. Apalagi menjadi seniman yang hidup di lingkungan yang belum sepenuhnya menghargai karya-karya seniman secara layak. Padahal seniman mengandalkan hidup dari karya-karyanya.
Beruntung aku bisa bekerja sebagai wartawan. Walau hampir setiap hari aku harus pergi pagi pulang malam, berkeliaran mencari berita di setiap sudut kota, aku tidak pernah mengeluh dan menolak untuk menyerah. Aku bangga menjadi wartawan, karena profesi yang kujalani ini membuatku merasa berharga dan dihargai. Kalau bukan menjadi wartawan, mana mungkin aku bisa berbicara secara langsung dengan Gubernur, Bupati, Kapolda, para pejabat teras, dan atau orang-orang terpandang lainnya.
Sebagai wartawan media local, gajiku memang tidak seberapa, tapi aku kira jauh lebih baik daripada gaji seorang guru honor. Paling tidak, aku sudah bisa beli Vespa buatan tahun 1986. Memang bukan barang baru, tapi aku begitu bangga memilikinya. Setidaknya, dengan kendaraan itu, aku bisa lebih leluasa melaksanakan tugasku sebagai wartawan.
Tempat pertama kukunjungi setelah membeli Vaspa itu adalah rumah pamanku. Sejak minggat dari rumahnya, baru kali ini aku punya keberanian untuk menampakkan wajah di hadapannya.
Aku datang dengan keragu-raguan, karena menurut perkiraanku, paman dan bibi pasti akan marah. Tetapi, apa pun sikap yang akan mereka perlihatkan padaku, aku harus menemui mereka. Aku ingin paman dan bibiku tahu, bahwa keputusanku untuk keluar dari rumahnya tidak sepenuhnya keliru.
Rumahnya masih seperti dulu, juga warung pempek di depannya. Hanya catnya yang tampak semakin buram. Aku langsung menuju pintu, kuintip ke ruang tamu dari pintu yang terbuka lebar itu, tak ada siapa-siapa di sana. Aku mengetuk beberapa kali dan menyampaikan salam.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” terdengar jawaban suara paman dari dalam kamar.
Jantungku berdebar-debar.
Beberapa saat kemudian, paman muncul dari dalam kamar diiringi bibi. Keduanya tampak terkejut melihat kehadiranku. Aku ingin melangkah masuk dan menyalami tangan keduanya sebagai tanda hormat, tapi aku tidak berani.
“Aku pikir kau sudah mati,” kata paman sinis, lalu membalikkan badan masuk kembali ke kamarnya.
Bibi pun bersikap hampir sama dengan paman. Dia cuma melihatku selintas dengan pandangan hampa, sebelum mengikuti langkah suaminya masuk kembali ke kamar. Aku terpaku beberapa saat di depan pintu rumahnya, rumah yang sangat kukenal. Sekantung oleh-oleh yang sengaja kubelikan untuk mereka, semakin terasa berat di tanganku.
Tetapi aku menyadari, bahwa sikap mereka itu dikarenakan kesalahanku juga. Masih untung paman tidak langsung mengusirku dengan semburan kata-kata pedas. Kujaga hatiku untuk tetap tenang dan tabah. Kuletakkan saja sekantung pelastik oleh-oleh di samping pintu, lalu aku melangkah masuk ke warung. Warung pempek yang juga telah menempa hidupku. Di sana, kulihat seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun, dengan dua orang anak perempuan yang berumur sekitar sepuluh tahun dan lima tahun. Warung pempek itu sedang sepi pembeli, sehingga anak-anak itu memanfaatkannya dengan bermain halma. Anak perempuan yang berumur sekitar sepuluh tahun, menghampiri tempatku duduk.
“Pempek, Kak ?” tanyanya.
Kupandangi gadis kecil itu, juga kakak dan adiknya. Mereka pastilah anak-anak paman dan bibiku yang pernah kuasuh dengan penuh kasih sayang. Rahmat, Nuraini, dan Fitri. Yang menawari aku pempek, pastilah Nuraini. Mereka tidak ingat lagi padaku tampaknya.
“Ya,” jawabku kemudian.
“Minumnya?”
“Air putih saja.”
Rahmat menyiapkan pempek, sedangkan Nuraini menyiapkan air putih. Aku memperhatikan keduanya bekerja. Sudah cukup cekatan mereka melakukannya. Tampaknya bibi telah mengajari mereka dengan baik. Aku terharu, teringat masa laluku di warung itu beberapa tahun yang lalu.
Rahmat menghidangkan pempek di hadapanku.
“Kau pastilah Rahmat,” ucapku menatap lurus ke wajahnya.
“Ya, Kak.”
“Kau… Nuraini kan?” ucapku kepada gadis kecil yang menyusul Rahmat menghidangkan minuman di atas mejaku.
Nuraini mengangguk.
Aku mengalihkan perhatian pada adiknya yang masih asyik memainkan halma di tempatnya.
“Dan itu, Fitri?”
“Kakak siapa?” tanya Rahmat dengan kening agak berkerut.
“Kalian tidak ingat dengan kakak?”
Rahmat dan Nuraini berpandangan sebentar, lalu menggeleng.
“Dulu kakak yang jualan di sini,” jawabku.
Rahmat dan Nuraini tampak mencoba mengingat.
“Kakak juga yang mengasuh kalian,” lanjutku.
“Kak Rimba?” tebak Rahmat.
“Ya.”
Aku memeluk dan menciumi mereka satu per satu dengan penuh kerinduan. Rahmat ingin mengabarkan kehadiranku kepada bapak dan ibunya tapi kularang. Kukatakan, bahwa sekarang bapak dan ibu mereka masih marah padaku. Dan, hal itu memang karena kesalahanku.
“Kenapa dulu Kakak minggat?” tanya Rahmat.
“Sebenarnya kakak tidak minggat. Kakak sudah ngomong,” agak hati-hati aku menjawab pertanyaannya.
“Bapak bilang, Kakak minggat karena ingin jadi seniman,” kata Rahmat lagi.
“Bapakmu berkata begitu?”
“Ya,” jawab Rahmat. “Kakak sekarang sudah jadi seniman?”
Aku tersenyum pahit mendengar pertanyaan Rahmat.
“Kakak sekarang jadi wartawan.”
“Wartawan?”
Rahmat dan Nuraini berpandangan. Mungkin mereka bingung, kenapa aku bisa jadi wartawan. Aku tidak mencoba menjelaskan kepada mereka, karena mereka masih terlalu kecil untuk mengerti.
Sampai aku pulang, paman dan bibiku tetap tidak mau menemuiku. Aku memaklumi kekecewaan mereka padaku.
Tiga hari kemudian, kudatangi lagi rumah mereka. Bibi mempersilahkanku masuk walau dengan sikap yang masih dingin. Sedangkan paman, keluar rumah begitu saja tanpa menoleh atau menyapaku, seolah-olah dia tidak melihat kehadiranku.
Bibi memintaku sabar menghadapi sikap paman, karena paman masih belum bisa menerima kehadiranku.
“Pamanmu sangat marah mengetahui kau minggat dari rumah. Beberapa kali dia mendatangi rumah Angin secara diam-diam dengan maksud untuk menghajarnya, karena menurutnya, Angin lah yang merusak pikiranmu, yang membuatmu berani minggat dari rumah. Beruntung setiap kali ke sana, rumah Angin selalu terkunci. Kalau saja pada saat itu dia bertemu dengan Angin, bibi tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Bibi, menceritakan apa yang diperbuat paman setelah aku minggat dari rumahnya.
Aku memilih untuk lebih banyak diam dan belajar menjadi pendengar yang baik. Menurut bibi, selama ini paman juga selalu mencari tahu kabar dan keberadaanku.
“Dia itu sebenarnya sayang sekali padamu. Kalau kau juga sayang padanya, kau harus tunjukkan kesungguhanmu untuk minta maaf padanya,” ucap Bibi.
Aku memohon kepada bibi untuk membantuku melunakkan hati paman, dan berjanji akan datang lagi. Beberapa hari kemudian, aku datang lagi. Kali ini, paman mau menerimaku.
“Duduk,” katanya dingin.
Aku menuruti perintahnya. Bibi buru-buru duduk di samping paman. Bibi bersikap begitu, tentu dengan maksud untuk menjaga stabilitas emosi paman.
“Aku datang untuk minta maaf, Paman,“ ucapku membuka pembicaraan, karena kulihat dia menyimpan kata-katanya.
Kutunggu reaksinya. Dia menatapku beberapa saat. Tajam dan menghujam. Lalu, dia menarik napas panjang dan menghembuskanya.
“Aku tahu kau sekarang menjadi wartawan. Kau jadi kernet bus pun aku juga tahu .Jangan kau kira aku tidak memedulikanmu. Aku sayang padamu. Dan, aku tidak ingin dianggap telah menyia-nyiakanmu. Apa pun yang terjadi padamu, pamanmu tetap bertanggung jawab. Aku ini pengganti bapakmu, Rimba,” kata paman.
“Aku menyesal, Paman,” ucapku perlahan.
“Sudalah! Mudah-mudahan hal itu ada hikmahnya,” kata bibi.
Setelah itu, paman dan bibi bergantian menasihatiku. Aku belajar dari pengalaman itu, bahwa sebenarnya aku tidak sendirian di kota ini. Masih punya keluarga. Paman, bibi, dan anak-anaknya yang mencintai aku dengan tulus.


PUTRI DEWI

Sayup-sayup aku mendengar suara ketukan di pintu rumahku. Kubuka mataku yang masih diganduli kantuk dengan berat. Ketukan itu terdengar makin jelas. Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu, batinku jengkel. Kulihat jam dinding di hahadapanku. Pukul delapan lebih lima menit. Suara ketukan terdengar lebih keras dibarengi dengan suara salam yang kental. Aku bangkit dari ranjang untuk membukakan pintu. Seorang lelaki keturunan Arab berdiri di ambang pintu.
“Ya Allah, sudah hampir setengah jam ana mengetuk pintu. Ente itu tidur apa mati?” ucap lelaki itu.
“Abu Bakar?” kataku seperti tidak percaya melihat kehadirannya di rumahku.
Maklumlah, dia teman lamaku. Aku mengenalnya waktu aku masih sering jadi kernet bus dulu. Aku pernah dua tiga kali ikut membantunya berjualan di pasar ikan, yang waktu itu masih terletak di bawah Jembatan Ampera. Walaupun dia agak pelit, lumayanlah aku bisa makan siang dan beli rokok. Sejak aku jadi wartawan, kami hampir tidak pernah bertemu.
Dia tertawa senang.
“Alhamdulillah, ente masih mengenali ana. Ana kira sejak ente jadi wartawan, ente sudah tidak lagi kenal dengan ana,” ucapnya lagi, setelah tawanya reda.
“Masuk, masuk!”
“Pantas orang bilang, wartawan itu tiduk dalu tangi awan. Sekarang baru bangun. Jangan-jangan ente tidak pernah sembahyang subuh,” komentarnya sambil melangkah ke arah kursi, dan duduk.
“Sebentar, ya,” kataku sambil melangkah ke belakang.
Aku mencuci muka sebentar, biar segar. Kumur-kumur dan minum segelas air putih. Menyedu dua gelas kopi, dan membawanya ke ruangan tamu.
“Waduh, ente tidak usah repot-repot,” katanya ketika aku menghidangkan kopi itu di atas meja.
Aku tak menghiraukan basa-basinya.
“Apa kabar?” tanyaku sembari menyodorkan tangan menyalaminya.
“Baik. Sekarang ente sudah jadi orang sibuk, tampaknya. Sejak ente jadi wartawan, sulit sekali mencari ente,” jawabnya sambil menjabat tanganku. ”Ente sudah kawin belum?”
“Belum.”
“Belum? Masya Allah! Apalagi yang ente tunggu. Dunia ini sebentar lagi kiamat. Eh, Rimba, tidak baik lama-lama hidup membujang, bahaya. Ente harus cepat cari istri, biar hidup ente lebih teratur.”
Dia mulai memberi nasihat, dan memang dari dulu dia selalu begitu. Senang sekali memberi orang nasihat. Entah apa dia juga suka menasihati dirinya sendiri.
“Oh ya, ana ada baca di Koran. Kabarnya sohib ente yang penyair itu meninggal. Betul itu ?” tanyanya.
“Ya.”
“Ana turut berduka cita. Hm, kata Koran, dia bunuh diri dari atas Jembatan Ampera ”
“Ya.”
“Kenapa dia lakukan itu? Frustrasi atau apa?”
“Aku juga tidak mengerti.”
“Bunuh diri itu perbuatan bodoh, dosa besar! Itu tanda-tanda orang tidak beriman. Mudah putus asa.”
Aku menghirup kopi, dan membakar rokok. Lalu, mempersilakannya untuk minum kopi yang kuhidangkan.
“Minum.”
“Terima kasih.”
Dia menghirup kopi sebentar.
“Sebenarnya, ana datang karena ana ada perlu dengan ente. Ini penting. Ente sebagai sahabat ana harus tolong ana. Ini soal masa depan kampung ana,” katanya setelah itu.
“Soal musi tiga?” tebakku, karena rencana pembangunan Jembatan Musi III yang melintasi perkampungan tempat Abu Bakar tinggal sedang menjadi isu hangat. Soalnya, masyarakat di sana menolak rencana pembangunan jembatan di tempat itu.
“Tepat. Ente kan tahu, kampung ana itu merupakan Cagar Budaya. Dan, kalau ana tidak salah ingat, koran ente pernah memuat tulisan soal keunikan kampung ana beberapa tahun yang lalu. Ana tidak tahu siapa yang menulisnya, tapi ana sempat baca beritanya. Bahwa, keberadaan rumah-rumah tua di kampung ana itu harus dijaga kelestariannya. Nah, sekarang rumah-rumah yang penuh sejarah itu akan digusur karena akan terkena proyek pembangunan musi tiga.”
“Pemerintah pasti akan memberikan ganti rugi.”
“Tentu saja. Di mana-mana di dunia ini, kalau rumahnya harus digusur pemerintah, harus pula diganti. Tapi ganti rugi, bukan ganti untung.”
“Lalu?”
“Ini bukan persoalan fulus, kawan. Tapi, persoalan cagar budaya. Harusnya pemerintah itu berterima kasih kepada kami, karena telah melestarikan budaya. Kalau peninggalan masa lalu itu dimusnahkan, bagaimana anak cucu kita akan tahu dengan ciri khas rumah-rumah masa lalu?”
Aku dengarkan keluhannya.
“Siang ini, kami akan demonstrasi ke Kantor Walikota, Kantor Gubernur, dan DPRD. Nah, ente harus liput itu. Ente harus buat besar-besar di koran ente, bahwa kami menolak pembangunan jembatan musi tiga melewati kampung kami.”
“Berarti kalian menghambat proses pembangunan.”
“Kami tidak menolak pembangunan. Silakan bangun musi tiga, empat, enam, atau sepuluh, atau bangun gedung gedung tinggi. Tapi, jangan lupakan peninggalan sejarah. Karena, peninggalan sejarah adalah aset budaya yang harus terus dijaga kelestariannya biar kita tahu apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita dulu. Kalau ana perhatikan, kita ini tampaknya kurang pandai menghargai sejarah, padahal hari ini tidak akan pernah ada tanpa hari kemarin,” katanya dengan penuh semangat.
Lalu dia bicara panjang lebar soal kampungnya itu, Kampung Al Munawar di 13 Ulu. Bahwa ada delapan bangunan rumah di kampungnya itu yang memiliki kekhasan yang tidak lagi banyak dapat dijumpai di negeri ini. Rumah-rumah bergaya Indies itu hingga kini masih menampakkan keasliannya, baik corak maupun bahan interior rumah yang merupakan perpaduan budaya Palembang dan Timur Tengah.
“Ente kan tau, menurut penelitian yang dilakukan Badan Arkeologi Palembang tahun 1996, perkampungan itu merupakan kawasan arkeologi. Hal itu dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Jadi, pemerintah daerah harus maklum kalau kami protes dan menolak,” lanjutnya.
Aku pikir, wajar saja kalau Abu Bakar begitu bersemangat menolak pembangunan proyek Musi III melewati kampungnya. Terlepas dari soal peninggalan sejarah. Dia ini, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Dulu ia berdagang ikan di pasar tradisional yang terletak di bawah Jembatan Ampera yang meluas ke kiri dan kanan jembatan. Ketika Pemerintah Daerah membangun lokasi wisata Benteng Kuto Besak, pasar tradisonal yang berada di bawah Jembatan Ampera dipindahkan di daerah Jakabaring, dan Abu Bakar dengan terpaksa harus ikut pindah. Walau sebelumnya proses relokasi tersebut sempat menimbulkan demo dari para pedagang, pembangunan terus berlanjut.
Aku tidak banyak berkomentar mendengar luapan kemarahannya. Karena di satu sisi, proyek pinjaman Japanese Bank International Coorporation sebesar 450 milyar tersebut merupakan kesempatan emas bagi pemerintah daerah untuk membangun jembatan baru. Soalnya, Kota Palembang sudah mulai macet. Pemerintah harus mempunyai alternatif untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Lagi pula, selama ini jembatan yang dilewati untuk melintasi Sungai Musi, adalah Jempatan Ampera.
Jembatan yang dibangun mulai April 1962 dan selesai Mei 1965 atas biaya Pemerintah Jepang -sebagai pampasan perang- itu diragukan kekuatannya kalau kapasitas kendaraan yang melewatinya terus meningkat, sementara umurnya semakin tua. Artinya, masyarakat lain justru membutuhkan keberadaan Jembatan Musi III itu. Di sisi lain, sebagai orang yang dirugikan, tentunya masyarakat Kampung Al Munawar punya alasan-alasan pula kenapa mereka menolak proyek tersebut. Memang dilematis. Tapi, yang namanya pembangunan, di mana saja, selalu dilematis dan menimbulkan fenomena baru yang akan jadi sejarah dari sebuah proses perkembangan sebuah kota.
Kujelaskan pada Abu Bakar, yang namanya demonstrasi pasti menarik perhatian wartawan, apalagi masalah kontroversi pembangunan Musi III sedang hangat-hangatnya. Pastilah seluruh wartawan lokal dan nasional, baik itu dari media cetak maupun elektronik, akan meliputnya. Dan, aku sekarang sudah tidak lagi ditugaskan di Kantor Gubernur, sudah digantikan oleh Tina, temanku. Dia pasti akan meliputnya. Tetapi, Abu Bakar tetap ngotot meminta aku untuk melihat aksi mereka. Aku pikir-pikir, tidak ada salahnya aku melihat aksi mereka.
Sebelum ke sana, aku ke kantor dulu. Kalau masih sempat, mau ikut rapat proyeksi. Begitu kaki hendak memasuki ruangan redaksi, Kuyung Iful sudah menghadang langkahku..
“Sekarang juga pergi ke jalan Mawar!” perintah Kuyung Iful tanpa memberi waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Jalan Mawar? Ada urusan apa di sana?” tanyaku bingung.
“Makanya, datang ke kantor itu agak pagi. Ini bukan kantor nenek moyang nga. Sekarang nga susul Doni di rumah Putri Dewi.”
“Putri Dewi?” tanyaku lagi agak kaget.
“Awu! Betine cantik yang nga puji-puji waktu dia membacakan puisi-puisi Angin. Nga buat profilnya.”
“Siap komandan!” ucapku bersemangat.
“Jangan cuma ngomong siap. Sekarang juga nga ke sana!” bentak Kuyung Iful dengan logat daerahnya yang khas.
Memang begitulah adanya Kuyung Iful. Setiap kali ngomong, pasti bahasa daerahnya terbawa-bawa. Bahasa Sekayu. Sekayu merupakan ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin, yang letaknya sekitar 120 kilometer dari Kota Palembang. Dan, dia bangga dengan kedaerahannya itu.
“Orang Jawa saja tidak malu ngomong bahasa Jawa di Palembang ini. Masa kita orang Sumatera Selatan harus malu dengan atribut kedaerahan kita sendiri?” katanya dengan menggebu-gebu, ketika seseorang teman iseng memintanya untuk tidak menggunakan bahasa daerah dalam sebuah rapat redaksi.
“Kalian pikir bahasa Jawa atau Jakarta itu lebih tinggi derajatnya daripada bahasa Sekayu, Komering, atau bahasa apa saja yang ada di Sumatera Selatan ini? Tidak! Kalian salah besar. Bahasa adalah simbol kepribadian. Tapi, kita latah. Kita beranggapan kalau dalam keseharian menggunakan bahasa Jakarta, maka kita dipandang sebagai orang kota yang berpikiran maju. Akibatnya, bahasa nenek moyang kita sendiri hilang, terjajah oleh kelatahan lidah kita sendiri.”
Kalau dia sudah ngomong begitu, tidak ada yang berani membantahnya. Memang pengetahuannya soal budaya cukup luas, terutama budaya daerah Sumatera Selatan.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal untuk kemudian dengan agak terpaksa berbalik melangkah keluar ruangan menuju Vespa yang baru saja kuparkir di halaman depan kantor. Yang namanya perintah atasan, apa pun alasannya, harus dilaksanakan. Apa lagi perintah Kuyung Iful. Dia tidak mau tahu, betapa sulitnya sebuah medan yang harus dihadapi di lapangan. Bagi seorang wartawan, tidak ada alasan untuk menyerah dalam memperoleh berita.
“Wartawan harus tabah, berani, cerdas, dan punya sikap untuk tidak memihak. Kalau tidak tabah, tidak usah jadi wartawan. Karena, akan banyak sekali hambatan yang akan ditemui. Dicaci, diusir, atau malah ditembaki. Dan, harus berani. Tidak ada istilah mundur untuk sebuah kasus yang kita yakini kebenarannya, karena menjadi tugas wartawan untuk mengungkapkan kebenaran sebuah fakta. Harus cerdas, jangan bertindak bodoh. Pandai menangkap sebuah situasi, dan memilih arah berita. Dan terakhir, yang paling penting, harus punya sikap agar kita punya harga diri. Tidak mudah diukur orang dengan apa pun, terutama sen alias duit,” pesan Kuyung Iful padaku, ketika aku baru mulai menjadi wartawan.
Sebagai orang yang idealis, yang kukuh menjaga martabatnya, Kuyung Iful tidak mau mengkhianati profesinya. Apa pun bentuk godaan itu. Prinsipnya, wartawan adalah wartawan. Tugasnya mencari dan menulis berita berdasarkan kebenaran fakta agar masyarakat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Tidak peduli siapa orang yang diberitakan, atau orang yang berada di balik berita itu. Kalau memang jelek, kenapa harus ditulis bagus, begitu juga sebaliknya. Jangan membuat dosa besar dengan cara memanipulasi kebenaran fakta, karena alasan-alasan tertentu yang bersifat menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Hal itu sama saja dengan membodohi dan menyesatkan masyarakat.
Mungkin karena sikapnya itu pula, di jajaran para redaktur, Kuyung Iful termasuk jenis redaktur yang paling tidak disukai oleh sebagian besar wartawan dan juga oleh beberapa redaktur. Dia dianggap makhluk langka yang sudah hampir punah, dan tidak perlu dilestarikan keberadaannya. Orang-orang menyebutnya “sok idealis” dan atau “tidak realistis”.
Dia menjadi hantu yang menakutkan bagi sebagian teman-temanku sesama wartawan di kantor. Menjadi anak buahnya merupakan malapetaka. Dia tak segan-segan untuk memarahi atau memaki wartawan, kalau data penunjang tulisan kurang lengkap atau narasumber yang diwawancarai dianggapnya tidak berkompeten untuk ngomong. Bersiaplah untuk mendengar ocehannya dengan serangkaian ceramah dalam bahasa daerahnya yang terkadang tidak dimengerti semua orang, atau dimintanya untuk melengkapi data dan mencari narasumber baru. Atau, berita yang setengah mati kita buat itu masuk dalam kotak sampahnya. Dia tidak ingin sebuah berita dibuat asal-asalan.
Vespa kesayanganku memasuki Jalan Mawar. Aku berhenti di dekat pagar sebuah rumah besar dan mewah. Di pintu masuk, tampak satpam duduk berjaga-jaga di dalam posnya. Aku menghubungi Doni lewat ponsel.
“Di mana, Don?” tanyaku ketika Doni menyambut nada panggil ponselku.
“Jalan Mawar nomor tujuh,” jawabnya.
Aku agak kaget, karena ternyata alamat itu ada di depanku sekarang. Aku pandangi lagi rumah itu. Bukankah ini rumah Lukman Hakim, pengusaha perkebunan yang terkenal itu? Apakah Putri Dewi anaknya? Pertanyaan-pertanyaan itu menempel di kepalaku saat aku mendorong Vespa ke arah pintu masuk. Seorang satpam menghadangku. Selintas, terbaca namanya yang tertulis di baju dinasnya; Sofyan, SH. Aku tidak tahu, apakah SH itu gelar kesarjanaan, atau singkatan namanya. Yang jelas, aku hampir saja tertawa membacanya. Soalnya, hal itu menambah urutan kebingungan di kepalaku, mengingat banyaknya orang yang salah tempat bekerja di negeri ini.
“Maaf, mau bertemu siapa?” tanya Sofyan, SH dengan sopan.
“Aku dari Harian Cahaya Lokal. Ada janji wawancara,” jawabku.
“Boleh lihat tanda pengenalnya?”
Aku memperlihatkan kartu persku yang selalu kukalungkan di leher. Dia memperhatikannya sebentar.
“Temannya yang bawa tustel tadi, ya?” tanyanya.
“Ya.”
“Silakan parkir motor di sana, nanti saya antar ke dalam,” katanya sambil menunjuk sebuah tempat parkir.
Kulihat, ada dua buah mobil terpakir di situ. Satu LC dan satu lagi BMW merah dengan gambar kelinci di sudut kanan kaca depannya. Motor Doni tampak sudah ada di dekat situ. Aku memarkir Vespa-ku di sebelahnya. Lalu, Pak Satpam yang ramah dan sopan itu mengantarku.
“Mereka ada di kolam renang,” katanya sambil menyisir jalan ke arah kolam renang. Begitu sudah dekat pintu, dia berhenti. “Silakan. Nanti masuk dari pintu itu.”
“Ya, terima kasih,” ucapku terus melangkah ke arah yang ditunjukkannya.
Kulihat seorang gadis berkulit kuning langsat dengan tubuh tinggi semampai dan rambut sebatas bahu sedang berpose di depan kamera Doni. Aku mendekat. Wajah Putri Dewi itu semakin jelas terlihat. Tetapi, kehadiranku tampaknya mengganggu konsentrasinya, sehingga matanya tidak fokus ke kamera. Doni yang tanggap akan hal itu, segera memalingkan wajah..
“Hei, Rim!” sambut Doni dengan senyum mengembang, begitu melihat kehadiranku. “Aku ambil dua tiga petikan lagi, ya?”
Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Doni mengambil beberapa momen. Sesekali, tampak ia mengarahkan gaya.
“Oke, selesai!” teriak Doni, yang tampak puas dengan hasil jepretannya
Putri Dewi mengembangkan senyum padaku. Aku menyalaminya.
“Apa kabar?” tanyaku
“Baik,” jawabnya ramah. ”Terima kasih, ya Kak. Tulisannya waktu itu bagus sekali. Aku merasa tersanjung.”
“Masa?”
“Sungguh!”
“Aku hanya mengungkapkan apa yang kulihat. Kalau memang bagus, kenapa pula harus kutulis jelek?”
“Kak Doni bilang, Kakak juga penyair. Bahkan katanya, kenal baik dengan Angin. Betul itu, Kak?”
“Kalau Doni sudah bilang begitu, bagaimana mungkin aku akan berkata tidak,“ ucapku sambil memandang ke arah Doni yang masih sibuk dengan kameranya.
“Kalau begitu, aku boleh bertanya tentang Angin dan puisi-puisinya?”
“Ya, tetapi setelah selesai wawancara.”
Sambil menikmati hidangan yang disediakan, kami pun terlibat obrolan ringan yang membuat suasana menjadi akrab. Ternyata, Putri Dewi memang anak pengusaha perkebunan yang cukup terkenal itu. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Dua orang kakaknya kuliah di luar negeri. Putri Dewi tidak diizinkan ibunya untuk kuliah di luar negeri, karena belum siap untuk berpisah dengan anak gadis semata wayangnya itu.
“Tapi suatu saat, aku akan menyusul kakaku kuliah di luar negeri. Karena ternyata, lulusan dari luar lebih mendapat penghargaan daripada lulusan lokal,” katanya.
Aku kira dia benar. Kenyataan yang kulihat, bahwa segala sesuatu yang berbau luar negeri selalu mendapat perhatian lebih di negeri tercinta ini. Orang bukan hanya bangga dapat menyelesaikan pendidikan di luar negeri, melainkan juga bangga dengan pakaian produksi luar negeri, termasuk yang hanya berlabel luar negeri. Begitu juga dengan makanan. Orang-orang akan bangga kalau bisa menyantap pizza, hamburger, dan entah apa lagi. Walau sesungguhnya dia tidak merasakan kenikmatan apa-apa, kecuali rasa yang berbeda.
Entah apa sebabnya. Apakah hal itu sebagai pertanda bahwa diam-diam kita masih menyimpan sifat sebagai bekas orang jajahan, yang cenderung ragu dengan kemampuan diri sendiri? Aku tidak mengerti.
Doni, seperti biasanya, tak mau melepaskan momen-momen artistik yang dianggapnya bagus untuk diabadikan. Karena itu, sesekali ia mengarahkan kameranya ke wajah Putri dan menjepretnya. Setelah merasa foto yang diperlukan sudah didapatkannya, Doni pamit.
“Mau ke Kantor Gubernur, ada demo di sana,” katanya sebelum melangkah pergi.
Aku pun mewawancari Putri Dewi. Anak pengusaha perkebunan itu ternyata memang pintar dan mempunyai beberapa prestasi yang cukup pantas untuk dikedepankan. Dan entah mengapa, selama wawancara ada beberapa kali pandangan kami bertemu. Akibatnya, aku agak gugup tapi aku menikmatinya. Sebagai lelaki, aku kira wajar-wajar saja kalau aku mengagumi kecantikannya.
Setelah selesai mewawancarainya, dia menagih janji agar aku menceritakan soal Angin. Kuceritakan apa adanya, termasuk tentang Wulandari. Ternyata, sebagian cerita tentang Angin dan Wulandari sudah dia ketahui dari beberapa penyair. Aku jadi maklum sekarang, kenapa dia begitu bagus membawakan dan menginterpretasikan puisi Angin yang tertuju untuk “W”.
Sehabis wawancara, aku menyusul Doni ke Kantor Gubernur. Sesuai dengan janjiku pada Abu Bakar, aku harus menampakan muka di sana walaupun cuma sebentar. Di halaman depan Kantor Gubernur, tampak sudah ramai. Sekitar empat puluh orang warga Kampung Al Munawar, yang sebagian besar keturunan Arab, tampak telah berkumpul dengan membawa spanduk, kertas-kertas kartun yang bertuliskan pernyataan menentang Proyek Musi tiga. Sebagian dari mereka tampak memakai pakaian gamis. Seseorang tampak berorasi dengan penuh semangat. Polisi dan Polisi Pamong Praja tampak berjaga-jaga dengan siap siaga.
Sejak demonstrasi dilegalisasi, pasca kerusuhan Mei dan menggelombangnya tuntutan reformasi di seluruh negeri, bapak-bapak polisi kebagian tugas baru. Pada saat kerusuhan tahun 1998, mereka sempat bingung bagaimana mengamankan masyarakat kita yang terkenal ramah tamah dan penuh sopan santun, berubah menjadi beringas dan liar menjarah toko-toko, membakar mobil, dan bahkan manusia. Sekarang, bapak-bapak polisi harus mengamankan jalannya demontrasi, agar tidak terjadi hal-hal yang bersifat anarkis. Sebuah tugas yang berat dan perlu kesabaran ekstra dari sekelompok polisi dalam menghadapi tingkah pola demonstran yang beragam.
Tampaknya, demonstrasi menjadi pilihan paling aktual dalam kehidupan demokrasi masyarakat sekarang ini untuk menyalurkan aspirasi yang tersumbat, umumnya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan masyarakat atau kalangan masyarakat tertentu. Mulai dari kenaikan harga, pemilihan kepala daerah, korupsi, dan lain-lain. Mereka yang turun ke jalan pun tidak hanya mahasiswa atau LSM, atau organisasi massa tertentu, tetapi juga petani, buruh, seniman, guru, dan sekelompok masyarakat, seperti halnya masyarakat Kampung Al Munawar sekarang ini.
Kalau dulu guru selalu dianggap sebagai sebuah profesi yang paling sabar, tabah dan patuh terhadap segala kebijakan pemerintah, sekali pun hal itu menyakitkan, sekarang semuanya telah berubah.
Guru telah turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Mereka tampaknya lelah sendiri menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka inginkan sesuatu yang nyata dari pengabdian mereka. Sesuatu yang dapat mengangkat harkat kehidupan mereka secara ekonomi. Aspirasi para guru itu tidak hanya mereka ungkapkan melalui sepanduk, pernyataan-pernyataan, atau orasi. Di sebuah kabupaten di negeri ini, para guru dengan sangat perkasa telah menduduki Kantor Bupati, dan meminta Bupati itu untuk dipecat karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap penyunatan gaji mereka.
Dalam sebuah demonstrasi, biasanya para demonstran akan selalu berhadapan dengan bapak-bapak polisi yang bertugas mengamankan jalannya demonstrasi. Tidak jarang bentrokan terjadi. Kejar-kejaran dengan kayu, lempar-lemparan dengan batu, atau saling pukul.
Aku tidak mengerti apa memang begitu seharusnya sebuah demokrasi berjalan, saat kebebasan justru sering tak terkendali, tuntutan akan sebuah ketidakadilan bergeser ke arah pemaksaan kehendak, yang kemudian berubah menjadi tindak kekerasan dan aksi berutal.
Entah siapa yang pantas disalahkan manakala terjadi bentrokan antara demonstran dan petugas. Karena, kedua belah pihak merasa menjadi pihak yang paling benar. Aparat dianggap terlalu represif dalam mengamankan keadaan, sementara aparat sendiri menganggap para demonstran sudah bertindak anarkis.
Aku sering bingung sendiri, kala menonton tayangan di televisi yang menggambarkan bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan dalam sebuah aksi demonstrasi. Betapa mirisnya atraksi yang disuguhkan kepada kita semua. Pelajaran apa sesungguhnya yang tengah diberikan kepada kita?
Tampaknya, pengalaman telah membuat para polisi belajar. Mereka mulai memahami makna sebuah demontrasi, serta batas kewenangan mereka sebagai pengayom masyarakat. Mereka lebih bijaksana mengantisipasi kemarahan massa, yang terkadang memang keterlaluan. Tidak lagi main pukul, tending, apalagi main tembak seperti film-film koboi buatan Amerika.
Dalam perkembanganya sekarang ini, yang sering bertindak berlebihan justru aparat Polisi Pamong Praja. Aparat polisi made in Pemerintah Daerah itu menjadi sangat populer di kalangan pedagang kaki lima dan pekerja seks komersial. Hampir setiap hari, wajah mereka muncul di televisi. Merubuhkan bangunan bangunan liar, mengangkut gerobak-gerobak pedagang kaki lima, atau merazia para pekerja seks komersial di hotel, losmen, ataupun warung remang-remang di pinggir jalan. Tak jarang, terjadi bentrokan di antara mereka.
Fotografer sibuk mengambil momen. Jepret sana, jepret sini. Kulihat, Doni dengan gayanya yang khas tengah mengabadikan kejadian itu. Juga para wartawan media elektronik. Sementara wartawan cetak dan radio, sibuk mencari data atau narasumber yang pantas untuk diwawancari. Aku mencari-cari Abu Bakar. Mana temanku, yang begitu bersemangat mengajakku untuk meliput demo? Tak kelihatan batang hidungnya.
Tiba-tiba, aku merasa ada yang mencubit pinggangku. Tina sudah menempel di sampingku dengan wajah yang tampak menyimpan kekesalan. Aku tahu, pasti gara-gara tidak jadi kuantar pulang malam itu.
Gadis blasteran Komering-Bandung yang nyasar jadi wartawan itu sudah dua tahun bekerja sebagai wartawan di kantorku. Dan, dia sangat dekat denganku. Kami sering jalan bersama, makan bersama, dan hampir setiap pulang kerja dia ikut Vespa-ku untuk kuantar pulang. Karena itu, sebagian besar teman-teman di kantor menganggap kami berpacaran.
Lulusan Fakultas Pertanian itu, beberapa bulan belakangan menggantikanku ngepos di Bagian Humas Pemerintah Provinsi. Ada lima wartawan koran harian terbitan lokal yang ngepos di sana, berbaur dengan wartawan nasional, wartawan radio, atau sekali-kali juga muncul wartawan dari tvri dan juga tv swasta, serta wartawan-wartawan yang medianya terbit sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan setahun sekali.
Memang sejak dibubarkannya Departemen Penerangan oleh Gus Dur, yang kala itu menjabat sebagai Presiden, era kebebasan pers menjadi bagian dari sebuah proses reformasi di negeri ini. Bubarnya Departemen Penerangan, yang dituding sebagai lembaga yang menyumbat kebebasan pers, menjadi fenomena baru dalam kehidupan insan pers. Pers menjadi industri yang dengan cepat melahirkan media-media baru, baik itu cetak maupun elektronik.
Bermunculanlah koran-koran, majalah-majalah, tabloid-tabloid dengan nama yang beraneka ragam. Ada yang terbit harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, tiga bulanan, sampai ke media yang terbit setahun sekali. TVRI pun semakin terpojok dengan bermunculannya televisi swasta, baik lokal dan nasional.
PWI tak lagi menjadi satu-satunya organisasi wartawan, ada PWI Reformasi, AJI, dan entah apalagi. Wartawan ada di mana-mana. Untuk menghindarkan munculnya wartawan tidak jelas, Dewan Pers kemudian melakukan verifikasi atas organisasi wartawan. Hasilnya, hanya tiga organisasi profesi wartawan yang layak untuk “terus hidup”, yaitu PWI, AJI, dan IJTI. Padahal sebelumnya, sempat muncul sebanyak 30 organisasi wartawan.
Banyaknya media baru yang bermunculan membuat tingkat persaingan semakin tinggi, kejelian dan ketajaman melihat dan menangkap semua momen harus dikedepankan. Dan, wartawan sebagai ujung tombak harus menyadari bahwa di tangan mereka nasib sebuah media dipertaruhkan. Wartawan harus pandai memenuhi kebutuhan berita masyarakat, agar media mereka memiliki banyak pembaca. Sehingga, oplah penjualan meningkat. Kuantitas dan kualitas pembaca berkaitan erat dengan iklan. Siapa yang mau pasang iklan kalau media itu tidak ada pembacanya?
Tetapi, wartawan juga punya keterbatasan-keterbatasan. Baik itu pengetahuan, wawasan, maupun etika. Karena dalam kondisi sekarang, orang menjadi wartawan karena butuh pekerjaan, bukan karena sebuah profesi yang dicita-citakan, yang dilandasi dengan cinta dan semangat pengabdian. Tidak sedikit temanku, yang menjadi wartawan karena sudah bosan melamar menjadi PNS atau ke perusahaan-perusahaan yang sesuai dengan jurusannya waktu kuliah. Akibatnya, tidak sedikit teman-teman, yang dari es de sampai tamat kuliah tidak mengenal atau bahkan mungkin membenci dunia tulis-menulis, menjadi pandai menulis berita karena diterima sebagai wartawan. Jadi, wajar kalau kebanyakan wartawan mencari berita cuma untuk memenuhi kewajibannya saja agar tidak dimarahi redaktur atau dipecat.
Wartawan-wartawan media nasional, baik itu media cetak maupun elektronik, pada umumnya lebih memanfaatkan Bagian Humas di Pemerintah Provinsi sebagai tempat bertemu untuk berbagi informasi. Kadang cuma sebentar muncul, lalu pergi. Mereka jarang meliput kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan provinsi, kecuali kalau ada isu baru yang cukup menarik untuk diberitakan atau demontrasi yang digelar di halaman Kantor Gubernur, atau ada pejabat pusat yang datang ke Pemerintah Provinsi yang dinilai cukup pantas untuk dijadikan narasumber berita. Atau, kalau ada undangan konferensi pers. Sebagai wartawan media nasional, tentu tidak sembarang kegiatan Pemerintah Provinsi mau mereka liput, apalagi kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial.
Tidak demikian dengan media lokal, yang pasarnya adalah masyarakat Kabupaten/Kota di lingkungan Provinsi. Hampir semua kegiatan di Pemerintah Provinsi kami liput, mulai dari kegiatan Gubernur, Sekda, Asisten, termasuk para Kepala Biro. Tak jarang, ada dua acara yang kami anggap menarik untuk diliput, tetapi dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, kami berbagi tugas. Ada yang meliput acara yang satu, ada yang meliput acara lainnya.
Biasanya setelah acara selesai, kami bertemu kembali di Bagian Humas. Berbagi informasi dan data. Saling merekam hasil rekaman sebuah pidato atau wawancara melalui tape kami masing-masing. Lalu, kami buat beritanya.
Kami tahu, bahwa sebenarnya hal itu tidak boleh kami lakukan, karena bagaimana mungkin kita bisa menuliskan sesuatu dengan baik dan benar, kalau kita sendiri tidak melihat langsung kejadiannya? Tetapi, hal itu harus kami lakukan karena kami harus mendapatkan semua berita yang kami anggap menarik. Persoalan dimuat atau tidak, itu urusan redaktur.
Di samping itu, ada pula kelompok wartawan lain, yang koran atau majalahnya terbit tidak beraturan atau yang sama sekali tidak pernah terbit. Kelompok wartawan ini disebut wartawan bodrek. Aku, tidak tahu kenapa dan bagaimana sehingga mereka mendapat julukan wartawan bodrek. Yang jelas, mereka juga dilengkapi kartu pers yang dikeluarkan oleh redaktur dari media mereka sendiri atau bahkan kartu pers yang dikeluarkan oleh sebuah organisasi wartawan.
Biasanya, mereka kumpul dengan sesamanya di tempat-tempat tertentu. Dan sekali-sekali, muncul dalam sebuah acara. Wartawan jenis ini akan bermunculan dari berbagai penjuru mata angina apabila ada konferensi pers. Amplop menjadi sasaran utama.
Tetapi, satu hal yang menarik dari mereka, bahwa mereka sangat pandai mencari dan mendapatkan data korupsi atau penyelewengan dana proyek dari sebuah instansi. Dengan data itu, mereka akan menggertak para kepala instansi atau pimpinan proyeknya, atau siapa saja.
Mungkin karena merasa bersalah atau takut kekucarangan tersebut tersebar luas di muka umum, biasanya akan terjadi proses negoisasi agar data tersebut tidak diberitakan. Maka, uang pun akan mengalir ke tangan sang wartawan. Padahal sebenarnya, mereka tidak punya media untuk menulis, atau jangan-jangan mereka sama sekali tidak bisa menulis. Tetapi, mereka cukup pandai untuk menutupi kekurangan mereka, dengan cara memberikan data itu kepada wartawan lain yang mereka anggap mampu membuat beritanya naik ke permukaan. Atau, data itu mereka berikan kepada LSM.
Kalangan pers merasa jengah dengan keberadaan mereka, dan mereka sering dituding sebagai perusak nama baik pers Padahal sebenarnya, tidak sedikit wartawan yang diam-diam juga turut bermain seperti mereka. Akibatnya, banyak pejabat yang alergi dengan kehadiran wartawan. Karena mereka pikir, wartawan hanya pandai mengorek-ngorek kesalahan orang lain.
Memang pena wartawan itu sangat tajam. Akibat berita yang ditulis wartawan, tidak sedikit pejabat yang harus dicopot dari jabatannya, atau bahkan meringkuk dalam sel penjara. Jadi, wajar saja kalau banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai wartawan, untuk membuat gemetar orang lain.
“Kenapa meninggalkanku?” tanya Tina dengan nada kesal.
“Bagaimana mungkin aku mengantarmu pulang, sementara kekasihmu sudah dengan setia menunggu untuk menjemputmu?”
“Kekasih? Jangan asal ngomong, ya! Sampai sekarang, aku belum memutuskannya untuk menjadi kekasihku!” ucapnya dengan nada setengah mengancam, karena kurang senang dengan pernyataanku.
“Ya, kalau belum sekarang, mudah-mudahan besok atau lusa.”
“Tidak! Tidak akan pernah!”
Dia cemberut, tapi cuma sebentar. Selanjutnya, kami terlibat obrolan kecil sambil terus memperhatikan para demonstran yang bergantian berorasi. Apa yang kami bicarakan tidak lebih tentang hubungannya dengan Wijaya Kusuma yang sampai saat ini belum jelas. Tina belum memutuskan untuk menerima atau menolak lelaki itu sebagai kekasihnya. Entah apa lagi yang dia pertimbangkan.
Pembicaraan terpaksa terhenti, ketika beberapa orang perwakilan demontsran melangkah masuk ke dalam Kantor Gubernur karena akan diterima Sekda. Para wartawan ikut mengiringi, termasuk Tina. Ya, begitulah wartawan, selalu ingin tahu semua. Dan memang, harus begitu. Kalau tidak, akan ketinggalan berita. Redaktur akan marah besar.
“Kenapa ente tidak ikut ke dalam?” terdengar suara Abu Bakar yang sudah berdiri di sampingku.
“Sudah ada temanku,” jawabku sambil menyalaminya.
“Ente masuk saja!”
“Tidak enak dengan temanku.”
“Kenapa tidak enak?”
“Kami kan sudah dibagi tugas. Tenang saja, besok pasti ada beritanya!”
Dia tampak memahami.


T A D U T

“Selamat siang.”
“Siang.”
“Ini Rimba kan?”
“Betul.”
“Aku sudah baca tulisanmu tentang anakku.”
“Maaf, ini siapa?”
“Lukman Hakim, bapak Putri Dewi.”
Agak kaget juga aku menerima telpon dari pengusaha perkebunan itu.
“Aku minta kau datang ke kantorku sekarang, aku mau mengklarifikasi beberapa bagian dari tulisanmu,” lanjutnya.
“Maksud Bapak?”
“Ada beberapa data yang salah, yang merugikan nama baikku. Aku punya hak jawab lan? Aku tunggu,” katanya, lalu memutuskan hubungan telpon.
Aku bingung, apanya yang salah dengan tulisanku? Rasanya, tidak begitu banyak aku mengulas tentang Lukman Hakim dalam tulisan itu. Aku hanya memaparkan, bahwa sebagai anak seorang pengusaha perkebunan yang kaya raya, Putri Dewi satu dari sedikit anak pengusaha kaya yang mau berkecimpung di dunia sastra. Kalau memang ada yang salah, seharusnya Putri Dewi yang punya hak jawab, bukan bapaknya.
Tapi, bagaimana caraku menjelaskannya, dia telah menutup ponselnya. Aku mencoba menghubunginya kembali, tapi pulsaku tidak mencukupi. Tinggal tersisa tujuh ratus rupiah. Karena penasaran, kuputuskan untuk mendatangi kantornya. Sebuah kantor yang lumayan bagus.
Ternyata dia memang sudah menungguku. Sekretarisnya langsung mempersilakan aku masuk ke ruang kerja Lukman Hakim setelah aku memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudku.
“Bapak memang sudah menunggu,” katanya sambil membukakan pintu ruang kerja Lukman Hakim.
Lukman Hakim tengah menelpon, manakala aku memasuki ruangan kerjanya yang dingin dan mewah. Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu memberi isyarat dengan tangannya, mempersilakan aku duduk di kursi tamu. Aku mengambil tempat di kursi yang bagus dan empuk itu.
Setelah selesai menelpon, dia menghampiriku.
“Terima kasih mau datang,” ucapnya seraya duduk di hadapanku.
“Aku hanya mencoba melaksanakan kewajibanku selaku wartawan,” kataku.
Dia tersenyum.
”Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan beritamu. Aku senang membacanya, begitu juga Putri. Aku hanya ingin berkenalan denganmu, karena Putri sempat bercerita tentang dirimu.”
Aku betul-betul terkejut mendengar ucapannya itu. Dalam perkiraanku tadi, dia pasti akan marah-marah, karena begitulah biasanya yang terjadi kalau kami dianggap tidak benar mengetengahkan data dalam sebuah berita. Apalagi kalau data sebuah proyek. Pimpinan proyek atau kepala dinasnya pasti akan uring-uringan, minta hak jawab. Sebagai wartawan, aku mempunyai kewajiban untuk menghargai hak jawab narasumber.
“Aduh, Pak. Bapak telah membuatku gugup,” kataku apa adanya..
Dia tertawa, seakan senang telah mempermainkan perasaanku. Lalu, apa maksudnya menyuruhku datang ke kantornya?
“Kalau aku tidak salah sudah dua kali kamu menulis tentang Putri di koranmu. Aku membacanya.”
“Putri memang pantas untuk ditulis.”
“Sebenarnya maksudku mengundangmu ke sini untuk mengucapkan terima kasih. Ini ada sedikit uang sebagai ungkapan terima kasihku kepadamu,” katanya sambil meletakkan amplop di atas meja.
Aku kaget dan juga bingung. Tak menyangka kalau ia mengundangku hanya untuk memberi uang. Bagaimana mungkin aku menerima pemberiannya. Kantorku mengharamkan hal semacam itu dan mengancam akan memecat wartawan yang ketahuan menerima amplop.
“Ambilah! Ini bukan nyogok. Ini hanyalah sebagai ungkapan perasaan senangku padamu, karena kau telah menulis berita tentang anakku dengan bagus,” lanjutnya lagi.
“Hm, terima kasih atas pujian dan perhatian Bapak. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menerimanya,” jawabku agak berhati-hati, takut menyinggung perasaannya.
“Kenapa? Kau takut dipecat? Aku jamin kau tidak akan dipecat. Justru kalau kau tolak, aku akan tersinggung,” desaknya.
Keimananku sedang diuji, tampaknya. Ucapannya mengisyaratkan pemaksaan kehendak melalui permainan kata-kata. Hal seperti ini sering sekali terjadi, saat perasaan dikedepankan untuk menggoyahkan keyakinan seseorang. Kita sering terjebak, sehingga tanpa sadar mengesampingkan keyakinan kita hanya karena alasan menjaga perasaan pihak lain. Atau, sengaja memanfaatkan perasaan itu sebagai pembenaran dari sebuah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan.
Aku bingung. Tiba-tiba naluriku sebagai wartawan memberiku perintah untuk secara diam-diam merekam ucapannya melalui tape yang biasa kugunakan untuk wawancara. Perlahan-lahan kumasukan tanganku ke dalam tas, dan kupencet tombol untuk merekam.
“Rimba, aku mempunyai banyak teman wartawan. Bos-bosmu pun kenal baik denganku. Hal seperti ini sudah sangat biasa kulakukan. Hampir semua wartawan yang kukenal memahami sikapku. Tidak ada masalah. Ini hanya sebuah tip. Sebuah penghargaan atas apa yang kalian lakukan untukku atau keluargaku. Ya, memang tidak besar, cuma dua juta.”
Deg, dua juta. Bergetar juga dadaku. Jumlah itu lumayan besar buatku. Kalau mengingat jumlah uang di kantungku saat ini, seharusnya aku ambil saja amplop itu. Tapi, tidak. Aku tidak mau terpengaruh.
“Kalau kau dipecat karena menerima uang dariku, kau laporkan padaku. Aku mau melihat muka orang yang memecatmu itu. Oke?”
“Hm, aku kira, bukan itu persoalannya.”
“Lalu apa?”
Aku bingung mau memberi alasan apa lagi.
“Kau tahu dengan Syaiful Bahri?” dia bertanya dengan nada agak sinis.
“Ya, Pak. Dia redakturku,” jawabku.
“Aku sering memberinya uang. Sebelum kau datang ke sini, dia sudah lebih dulu menerima bagiannya. Tidak ada masalah, kenapa kau begitu takut?”
Oh Tuhan, benarkah ucapannya itu atau telingaku yang salah mendengar? Aku tidak peduli dengan wartawan lain. Tetapi, Kuyung Iful yang selama ini kuanggap orang paling bersih di lingkunganku, ternyata diam-diam juga mau menerima amplop?
Tidak! Aku tidak mempercayainya! Ini cuma siasat untuk merusak hatiku. Kuyung Iful tidak serendah itu, dia punya harga diri dan keyakinan. Batinku menolak provokasi yang disodorkan Lukman Hakim.
“Sebagai pengusaha, aku perlu wartawan. Dana-dana seperti ini memang sudah kusiapkan. Aku juga memberikannya dengan ikhlas,” katanya lagi, coba mempengaruhiku.
Aku membekukan hati dari segala bujuk rayunya.
Dia tersenyum sinis, seakan mengejek sikapku. Aku merasa tersudut, tapi tidak mau menyerah.
“Terimalah! Tidak apa-apa,” desaknya.
Aku menguatkan hati, lalu bangkit dari kursi.
“Maaf, Pak. Aku tidak bisa menerimanya,” ucapku tetap pada keyakinanku.
Dia memandangiku tajam, seakan ingin menembus hatiku. Kukumpulkan keberanianku dengan doa-doa agar aku tak goyah.
Dia menghela napas, lalu berdiri.
“Oke, kalau memang tidak mau ” ujarnya setelah itu, dengan nada kecewa.
Dia menyodorkan tangannya kepadaku, kusambut.
“Sejujurnya aku kecewa, tapi aku hargai sikapmu,” lanjutnya.
“Terima kasih, Pak,” kataku lega, seakan lepas dari himpitan beban berat.
“Ya.”
“Aku permisi.”
Dia mengangguk.
Aku pun melangkah keluar dari ruang kerjanya. Mungkin orang berkata, aku bodoh menolak uang pemberiannya. Tapi aku puas, karena merasa telah mematahkan keangkuhannya. Tadinya, pasti dia pikir aku akan menerima uang itu dengan senyum lebar. Setelah itu, tentunya aku tidak lagi bisa mendongakkan kepala di hadapannya.
Sebelum memacu Vespa-ku pergi meninggalkan kantornya, aku mendengarkan hasil rekamanku terlebih dahulu. Ternyata, tidak sia-sia. Hasilnya lumayan bagus, dan mungkin suatu saat, hasil rekaman itu akan kuperdengarkan pada Kuyung Iful, biar dia tahu bahwa seseorang telah berusaha menjelekkan namanya di depanku.
“Rim, kau tadi dicari bos!” kata Doni ketika langkahku sampai di ruang redaksi.
“Bos yang mana?”tanyaku. Soalnya, di kantorku banyak sekali bos. Atau paling tidak, orang yang berlagak seperti bos.
“Kuyung!”
“Mana dia?”
“Barus saja keluar.”
“Oke, terima kasih,” kataku sambil mengambil tempat di depan komputer untuk menulis. Kalau sudah begitu, biasanya akan ada perintah dari Kuyung Iful.
Beberapa saat kemudian, Kuyung Iful menghampiriku.
“Malam nanti jangan lupa liput pementasan tadut,” katanya.
Aku memperhatikannya agak tajam. Seakan mencari kotoran yang melekat di tubuhnya. Apa mungkin, Kuyung Iful mau mengotori dirinya?
“Kenapa nga melihatku seperti itu?” tanya Kuyung Iful agak heran. ”Ada yang aneh dengan diriku?”
Aku seperti tersentak.
“Sorry, Yung ! Hm, Kuyung hadir nanti malam kan?” tanyaku setelah itu.
Sebagai orang yang peduli pada kehidupan kesenian di kota ini, biasanya dia selalu mendapat undangan dari kelompok seniman yang mempunyai hajat untuk mengadakan pementasan.
“Insya Allah,” jawabnya, lalu pergi meninggalkanku.
Aku menghela napas lega, karena hampir-hampir tidak mampu menahan keinginan untuk menyampaikan apa yang baru saja kualami di ruang kerja Lukman Hakim. Aku membakar rokok. Tina mendekatiku.
“Malam nanti kau meliput pementasan tadut kan?” tanya Tina.
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau ikut.”
“Nanti Wijaya mencarimu,” kataku mencoba berkilah.
“Tidak ada urusan dengan dia!” ucap Tina ketus. ”Pokoknya, aku ikut. Aku penasaran mau lihat tadut itu seperti apa.”
“Lebih enak diantar pakai mobil, Tin,” sindirku.
“Kalau aku mau diantarnya pakai mobil, pasti aku tidak akan ikut kamu!” ujarnya dengan mata melotot.
Aku tertawa.
Malam itu, aku pergi dengan Tina menghadiri pementasan tadut.
Tadut merupakan salah satu jenis sastra tutur peninggalan nenek moyang, yang hidup dan berkembang dalam tradisi lokal masyarakat Lahat. Sebuah daerah yang terletak lebih kurang 400 kilometer dari Palembang. Di samping tadut, sebenarnya masih banyak jenis sastra tutur lain yang ada di Sumatera Selatan ini, seperti hering-hering dari Komering, Senjang dari Musi Banyuasin, atau Jelihiman dari Muaraenim. Sayangnya, aset budaya ini kurang mendapat perhatian, sehingga keberadaannya cenderung sulit dilacak, karena sudah tidak banyak lagi orang yang pandai membawakannya. Anak-anak muda sekarang lebih suka budaya baru yang masuk melalui televisi atau internet.
“Sastra tutur merupakan cerminan budaya. Adanya sastra tutur membuktikan kepada kita, bahwa nenek moyang kita bukan hanya pandai bertani atau mencari ikan, tetapi sebenarnya sudah melakukan tradisi intelektual dalam kehidupan kemasyarakatannya. Itu kalau kita sepakat bahwa tradisi sastra merupakan tradisi intelektual,” kata Angin dalam sebuah diskusi sastra. ”Tetapi dalam kenyataannya, sekarang ini kita cenderung meninggalkannya, karena kita anggap tidak sesuai lagi dengan zaman. Bertele-tele dan terlalu naïf. Kita menginginkan sesuatu yang cepat, serba instans. Akibatnya, budaya lama kita tinggalkan sementara kita tidak memiliki budaya baru yang berakar pada bumi tempat kita dilahirkan. Akibatnya, kita menjadi generasi yang gagap. Tiap hari mengimpikan pizza di atas meja, sementara tempoyak yang tersedia tidak kita sentuh. Padahal kita lapar.”
Angin memang sering meneliti dan menulis keberadaan sastra tutur di daerah ini. Untuk memperoleh data yang diperlukannya, tidak jarang Angin menghabiskan waktu berminggu-minggu di sebuah daerah, karena hampir semua daerah di Sumatera Selatan mempunyai tradisi sastra tutur. Tingginya tingkat heteroginitas budaya di Sumatera Selatan, terutama bahasa, telah melahirkan beragam sastra tutur yang masing-masing mempunyai ciri dan keunikan tersendiri.
Aku agak bersemangat menghadiri pementasan “Tadut” yang digelar di sebuah hotel bintang tiga itu. Sudah cukup lama aku tidak melihat pementasan teater di kota ini, apalagi yang digelar di sebuah hotel.
Memang kehidupan teater di kota ini seperti kerakap tumbuh di batu. Sulit sekali berkembang. Dikatakan tidak ada, dia ada. Dikatakan ada, dia tidak ada. Padahal menurut cerita Angin, sekitar tahun delapan puluhan, kehidupan teater di kota ini lumayan bagus. Pementasan-pementasan lumayan sering dilakukan. Taman Budaya “almarhum”, yang dulu dikomersialkan penggunaannya, tidak menyurutkan semangat para seniman teater untuk menggelar pementasan. Dengan berbagai daya dan upaya, mereka masih mampu menyewa gedung itu untuk pementasan teater, walau setahun paling satu atau dua kali. Pementasan lebih sering dilakukan di teater terbuka atau di sekitar halaman Taman Budaya itu sendiri. Naskah yang diangkat pun merupakan naskah-naskah karya dramawan dunia seperti Romeo dan Yuliet, Oedipus Sang Raja, serta karya dramawan-dramawan tenar Indonesia seperti W.S. Rendra, Arifin C. Noer, dan lain-lain.
“Aku tidak habis pikir, kenapa pada saat kebijakan politik pemerintah yang represif dan alergi dengan segala macam kritik, justru kreativitas dan keberanian seniman berkembang dengan baik. Sekarang, ketika pemerintah mereformasi diri, saat kehidupan demokrasi mulai berjalan, seniman-seniman justru bingung. Justru macet, stagnan,” kata Angin suatu ketika.
Pementasan tadut malam itu dibidani oleh sekelompok seniman teater. Dikemas dengan sentuhan teaterikal, para aktor teater coba menginterpretasikan bait-bait syair penutur dalam satu kesatuan akting yang membentuk cerita.
Apa yang mereka tampilkan cukup mampu memberikan hiburan segar. Berkali-kali penonton memberi aplaus kepada para penutur dan para pemain teater di atas panggung yang bermain dengan kompak dan bagus. Tina yang duduk di sampingku, tampak menikmati pementasan. Sekali-sekali ia juga ikut tertawa dan bertepuk tangan. Kuyung Iful juga hadir malam itu, dia duduk di barisan kursi agak depan.
“Banyak orang beranggapan, bahwa sastra tutur itu tidak menarik untuk dipentaskan, apalagi di hotel. Karena, dianggap tidak punya nilai jual. Tapi, Anda lihat malam ini. Kalau dikemas dengan baik, apa pun jenis kesenian itu, tentu akan menghasilkan sebuah tontonan yang baik pula,” ucap sang sutradara dengan bersemangat, ketika kuwawancarai sehabis pementasan.
“Kehidupan sastra tutur sendiri pada kenyataannya sudah mulai ditinggalkan masyarakat. Apa pementasan ini sebagai salah satu usaha melestarikannya?” tanyaku.
“Pementasan ini hanyalah sebuah bentuk kepedulian kami terhadap kekayaan budaya daerah. Karena, sastra tutur mempunyai akar budaya yang jelas di Sumatera Selatan ini. Nenek moyang kita dari dulu sudah memulai tradisi sastra dalam kehidupannya. Karena itu, kalau memang kita punya keinginan untuk melestarikannya, harusnya dia mendapat perhatian lebih untuk dimasyarakatkan lagi, bukan sekadar diingat atau jadi pemanis di setiap pidato. Itu pembusukan namanya. Harusnya sastra tutur ini diperkenalkan kepada dunia luar, termasuk luar angkasa kalau ada penghuninya di sana. Biar semua orang tahu, bahwa daerah kita ini memang berbudaya,” katanya berapi-api.
Begitulah mereka. Kata-kata penuh semangat, dengan diksi yang naik turun serta kritikan yang khas, tampaknya sudah menjadi ciri orang-orang teater kalau berbicara. Ekspresi dan gestur tampaknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka untuk mengungkapkan sesuatu hal. Aku memakluminya, karena aku juga pernah akrab dengan dunia teater. Kalau saja Angin masih hidup, dan menonton pementasan ini, pastilah dia akan senang dan tentu akan menulis di media massa. Tapi, Angin sudah menjadi masa lalu.
Malam itu, aku ingin mengenang Angin, sahabat yang menimbun sepi dan kecewa di dada tipisnya. Waktu melewati Jembatan Ampera, aku putuskan untuk berhenti di sisi jembatan, tempat Angin sering menghabiskan malam.
“Mau apa berhenti di sini?” tanya Tina yang ikut denganku.
Aku tak menghiraukannya, berjalan ke dekat pagar pembatas jembatan. Menatap ke arah sungai yang gelap, ketika satu dua perahu nelayan berayun-ayun dipermainkan arus sungai. Sementara kapal-kapal dan perahu-perahu, tampak tertambat di tepian. Rumah-rumah penduduk di tiap sisi sungai yang terperangkap dalam gelap dan lampu-lampu hias dari Benteng Kuto Besak.
“Ada apa?” tanya Tina. Dia tampak penasaran.
“Aku hanya ingin mengenang Angin.”
“Kau ternyata seorang sentimental,” sindir Tina.
“Tina, sehari sebelum dia memutuskan untuk pindah ke rumahku, aku bertemu dengannya di sini. Waktu itu, aku pulang kerja. Dia terpaku di sini. Lama aku memperhatikannya, tapi dia tidak tahu dengan kehadiranku. Jauh sekali lamunannya.”
“Jangan-jangan pada saat itu, pikiran untuk mengakhiri hidup sudah muncul di benaknya,” tebak Tina.
“Entahlah! Menurutnya, dia lagi merefleksi ulang sejarah hidupnya. Katanya waktu itu, menjadi seniman ternyata penuh dengan tantangan. Kita bukan muncul karena ada cahaya terang di sekitar kita, melainkan karena kegelapan itu sendiri.”
“Kita bukan muncul karena ada cahaya terang di sekitar kita, melainkan karena kegelapan itu sendiri?” Tina mengeja ulang kata-kata itu.
“Jangan curigai kegelapan, jangan takut pada kegelapan. Gelap hanyalah warna,” lanjutku.
“Karena dia berada dalam gelap?”
“Karena gelap bagian dari cahaya.”
“Aku tidak mengerti.”
“Aku berkata begitu juga kepada Angin. Tapi Angin bilang, bukan untuk dimengerti, melainkan direnungkan.”
“Kau sering merenungkannya?”
“Ya.”
Kebisuan menghampiri kami.
“Kau percaya pada guratan nasib?” tanya Tina kemudian, memecah kebisuan.
“Ya.”
“Hadir dan mengalir?”
“Ya.”
“Seperti air?”
“Ya.”
“Kalau begitu, jangan sangsikan hari esok.”
“Aku tidak menyangsikannya.”
“Tapi, kau menyesali masa lalu.”
Aku memandangnya, dia lurus menerawang kegelapan di setiap sudut tepian Sungai Musi.
“Wulandari, Angin. Itu semua masa lalumu!” ucap Tina beberapa saat kemudian. “Kenapa selalu kau bawa ke masa depan? Kau terperosok dalam masa lalumu, Rimba.”
Aku mencoba memahami ucapan Tina.
“Kalau begini terus, kau tak ubahnya tadut!”
“Tadut?”
“Ya.”
“Kau samakan aku dengan tadut?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena, tadut tidak punya kekuatan untuk hidup sendiri di masa depan!”
“Maksudmu?”
“Kalau dia memang punya kekuatan, tidak perlu para seniman teriak-teriak meminta untuk dilestarikan keberadaannya. Dia akan masuk sendiri ke dalam jiwa setiap orok yang baru lahir, tumbuh dan besar bersama-sama. Menjadi satu kesatuan yang bernama identitas,” katanya agak panjang.
Aku terperangah.
“Kau akan kehilangan identitasmu bila kau terus merenda kenangan di setiap langkahmu. Kau harus berani menerima kenyataan. Kalau kau percaya bahwa gelap hanyalah warna, jangan bersembunyi di balik kegelapan itu,” lanjutnya.
“Tidak bolehkah mengenang masa lalu?”
“Tapi, bukan berarti harus masuk kembali ke dalamnya. Semua orang punya masa lalu, Rimba!”
Aku diam. Mencoba menelaah kebenaran ucapan Tina. Apa benar aku sudah terperosok dalam genggaman masa lalu?
Sebuah mobil berhenti di dekat Vespa-ku. Aku dan Tina agak kaget, karena tahu mobil siapa itu. Kami berpandangan. Beberapa saat kemudian, Wijaya Kusuma muncul dari mobil, melangkah ke arah kami dengan senyum dikembangkan kepada Tina.
“Selamat malam,” sapanya.
Aku tak menjawab sapaannya, karena ditujukan kepada Tina.
Tina juga ternyata tidak menjawab.
“Tadi aku menjemputmu ke kantor. Temanmu bilang, ada liputan di hotel. Kucoba susul ke sana, tapi sudah bubar. Ternyata bertemu di sini,” katanya sambil mendekati Tina.
“Aku kan sudah bilang, tidak usah repot-repot menjemputku. Aku bisa pulang sendiri,” ucap Tina ketus.
“Aku tidak merasa repot. Aku senang menjemputmu,” jawabnya tetap dengan senyum. Tina membuang muka.
Wijaya Kusuma mengalihkan perhatiannya kepadaku.
“Oh ya, sorry! Aku tidak melihatmu. Hm, rasanya kita sudah beberapa kali bertemu tapi belum sempat berkenalan,” ucapnya dengan nada meremehkan.
Aku tersenyum sinis. Dia mengulurkan tangan, kusambut.
“Wijaya Kusuma.”
“Rimba.”
“Senang berkenalan denganmu. Dan aku berharap, kapan-kapan kita bisa ngobrol-ngobrol lebih akrab.”
Aku hanya menganggukkan kepala sedikit.
“Oke! Karena sudah malam, aku kira sebaiknya kita pulang,” katanya kepada Tina, seakan hendak mengajak Tina pulang bersamanya.
“Aku ikut Rimba,” ucap Tina.
Dia tampak menghela napas, lalu berkata kepadaku, “Rimba, Tina mau ikut kamu. Hati-hati, ya!”
Aku tersenyum. Merasa lucu melihat tingkahnya. Lalu, dia berbalik dan melangkah dengan kecewa ke mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil itu meluncur pergi.
“Cintanya padamu begitu besar,” ucapku setelah Wijaya Kusuma pergi.
“Mungkin.”
“Harusnya kau tidak mengecewakan dia.”
“Dia harus belajar menerima kekecewaan.”
“Tampaknya dia bukan tipe lelaki yang mudah menyerah.”
“Aku tidak peduli.”
“Dia akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkanmu.”
“Itu haknya.”
“Termasuk mengguna-gunaimu.”
“Ya!”
“Kau tidak takut?”
“Apa kau sedang menakut-nakuti aku?”
Aku tertawa.
“Aku heran padamu, Rim. Kenapa kau begitu bersemangat mempengaruhiku? Apa kau sudah disogoknya?” Tina tampak jengkel.
Aku tertawa lagi.
“Sudahlah, sekarang kita pulang!” ajak Tina.
Aku mengantarnya pulang. Seperti biasa, aku mengantarnya cuma sampai di depan pintu pagar rumahnya. Sebuah rumah sederhana, dengan halaman luas yang ditanami berbagai jenis tumbuhan dan bunga. Menurut Tina, dia yang menanam dan merawat bunga-bunga itu.
Dia tiga bersaudara, satu laki-laki dua perempuan. Kakak laki-lakinya sudah berkeluarga, menetap dan bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Di rumahnya itu, tinggal Tina dan adik perempuannya yang hampir merampungkan studinya di sebuah perguruan tinggi negeri di kota ini.
Bapaknya seorang doktor lulusan dari sebuah universitas di Amerika Serikat, bekerja sebagai dosen di Fakultas Pertanian. Pecinta sastra yang mempunyai pengetahuan luas tentang penyair-penyair dunia.
Ibunya seorang ibu rumah tangga yang begitu pandai menjaga suami dan anak-anaknya. Beberapa kali aku sempat bertandang ke rumahnya, ngobrol dengan keluarganya, terutama membincangkan masalah sastra dengan bapaknya. Sebuah keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Kadang-kadang aku iri kepadanya, atau pada keluarga mana pun yang terlihat harmonis. Dapat berbagi kasih sayang, penderitaan, dan cinta. Aku sering memimpikan hal itu. Berharap kalau nanti aku bekeluarga, punya istri dan anak, aku ingin membahagiakan mereka, berbagi duka, cinta, dan kasih sayang dengan tulus.


DALAM GELAP

Aku agak pagi datang ke kantor. Mobil dan motor yang biasanya memenuhi halaman depan kantor tampak masih sepi. Baru ada tiga motor yang parkir di situ. Vespa-ku mengambil tempat dengan leluasa. Aku pikir, sekali-sekali aku harus datang lebih cepat. Agar bisa melihat senyum Kuyung Iful. Karena, dia satu-satunya redaktur yang sangat peduli pada disiplin, walaupun sebenarnya dia menyadari bahwa menerapkan disiplin untuk masuk kantor tepat waktu pada wartawan sangatlah susah.
Aku baru hendak melangkah ke arah pintu kantor, ketika kulihat Wijaya Kusuma melangkah dengan agak terburu-buru ke arahku. Mau apa dia? Aku berhenti, menantinya.
“Pagi,” sapanya dengan senyum terkembang.
“Pagi.”
“Bisa bicara sebentar?“
Aku mengerutkan alis. Pikirku, ini pasti gara-gara kejadian di atas Jembatan Ampera semalam.
“Sebentar saja.”
“Ada apa?”
“Aku perlu bicara denganmu.”
“Silakan!”
“Hm, kalau di sini, rasanya kurang etis. Soalnya agak pribadi.”
“Agak pribadi?”
“Ya.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Hm, kalau tidak keberatan…aku mengundangmu untuk bertemu nanti malam?”
“Nanti malam?”
“Ya. Terus terang saja, ini menyangkut hubunganku dengan Tina.”
Aku menimbang beberapa saat.
“Baik,” jawabku kemudian.
Aku menyetujuinya. Aku pikir, aku punya kewajiban moral untuk menjelaskan kepadanya tentang hubungan pertemananku dengan Tina. Biar dia tidak salah mengerti. Jadi, aku harus memenuhi undangannya.
Dia menentukan waktu dan tempat untuk bertemu. Sebuah kafe di sebuah hotel. Dia juga berpesan, agar hal ini jangan sampai diketahui Tina. Aku memaklumi dan menyanggupinya.
Malam sepulang kerja, aku langsung mendatangi tempat yang dia janjikan. Aku berharap pertemuan itu nanti dapat menuntaskan kecurigaan, atau barangkali juga kecemburuan, yang mungkin saja bergelayut di dadanya, mengingat kedekatanku dengan Tina.
Aku ingin menjelaskan kepadanya, bahwa Tina bukan perempuan impianku. Dia tidak cocok jadi kekasihku dan apalagi istriku karena prinsip hidupnya yang modern dalam memandang sebuah ikatan perkawinan, bertentangan dengan pandangan sederhanaku sebagai orang desa. Aku tidak pernah mendambakan seorang wanita yang pandai, dengan segudang perdebatan hanya untuk meracik bumbu sayur asam. Aku tidak punya ketabahan untuk menjelaskan kenapa anak dibiarkan minum susu kaleng, sementara air susu ibunya dibiarkan terbuang sia-sia. Aku mengharapkan seorang wanita sederhana yang memahami bagaimana cara mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan tembang dan kasih sayang.
Di antara cahaya remang, kupandangi seluruh isi ruangan yang penuh dengan asap rokok. Suara musik mengalun dari home band, sesekali bercampur dengan derai tawa wanita. Kuperhatikan setiap meja dalam ruangan itu, mencari-cari Wijaya Kusuma.
“Terima kasih kau mau dating.”
Wijaya Kusuma sudah berdiri di sampingku. Dia menyodorkan tangannya, mengajaku bersalaman. Aku menyambutnya.
“Kita duduk di meja sana,” katanya sambil menunjuk sebuah meja kosong yang letaknya agak di sudut.
Aku mengikuti langkahnya.
“Mau minum apa? Bir atau…,” tanyanya setelah kami duduk.
“Apa saja!” jawabku.
Dia memesan bir. Aku membakar rokok, mengisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Waktu aku ditugaskan sebagai wartawan kriminal, tempat remang-remang seperti ini sering kudatangi. Sebagai wartawan yang meliput kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tindak pidana kejahatan seperti pencurian, penodongan, pemerkosaan, pemerasan, narkoba, dan lain-lain, kami tak jarang mengikuti aksi penggerebekan atau penangkapan yang dilakukan oleh polisi baik siang atau malam hari. Agar tidak ketinggalan berita, kami harus selalu siaga mendengarkan informasi. Kami, para wartawan kriminal dan juga teman-teman dari televisi swasta yang punya program khusus mengenai tindak pidana, punya pos tersendiri untuk menjalin komunikasi. Sementara menunggu informasi, kami sering mengisi malam dengan memasuki dunia malam. Sesekali pergi ke bar, tempat karaoke, bermain biliar, atau ke mana saja yang dapat menghilangkan kebosanan kami.
“Aku tidak tahu dari mana harus memulainya,” ucapnya membuka pembicaraan setelah menghirup minumannya. “Tapi aku yakin, sedikit banyak kau mengerti kenapa aku mengajakmu bertemu.”
Aku tak menanggapi, hanya mendengarkan. Sementara, mataku menatap orang-orang yang berdansa di bawah cahaya remang-remang. Terutama, seorang lelaki setengah baya berperut bucit yang sedang mendekap erat pasangannya, seorang wanita muda yang cantik. Aku mengenal lelaki itu. Pengusaha perkebunan yang cukup sukses, Lukman Hakim.
“Tina sering menceritakan dirimu padaku. Namamu tampak selalu menjadi referensi utamanya. Aku tidak tahu kenapa. Aku pikir, yang paling tahu alasannya, cuma kalian berdua,” lanjutnya.
Aku masih tak bersuara. Masih coba menembus cahaya remang-remang agar dapat menangkap dengan jelas wajah wanita itu. Tak dapat kulihat dengan jelas, tapi aku yakin wanita itu bukan istrinya. Terlintas Putri Dewi. Tahukah dia apa yang dikerjakan bapaknya di luar rumah?
Bir pesanan datang. Dia menuangkan bir ke gelasnya dan juga gelasku.
“Silakan!” ucapnya mengajakku untuk menghirup bir yang sudah tersedia.
“Terima kasih.”
Dia menghirup bir dari gelasnya sebentar.
“Hm, kau pasti tahu kalau aku mencintai Tina. Sangat mencintainya. Dan aku berharap, dia akan menjadi istriku. Keluarga kami juga sudah tahu hubungan kami dan sudah sama-sama setuju,” katanya setelah meletakan gelas bir di atas meja.
Aku meraih gelas bir dihadapanku dan meminumnya. Sedikit saja. Sudah cukup lama aku tidak membasahi kerongkonganku dengan minuman itu. Dulu, sewaktu ditinggalkan Wulandari pergi, segala jenis minuman aku tuangkan dalam perutku.
“Mungkin Tina pernah cerita soal itu padamu.”
“Apa hubungannya denganku?” tanyaku.
“Kudengar, dia dekat denganmu.”
“Ya, sebatas teman.”
“Dia juga bilang begitu.”
“Apa salah?”
Wijaya Kusuma menghirup minumannya lagi. Mataku kembali ke lantai dansa. Aku masih mencoba untuk mengenali wajah wanita yang berdansa mesra dengan Lukman Hakim. Sial, dia sudah tak lagi berdansa. Ke mana dia? Kulihat di antara meja-meja yang berada di situ, tak jelas. Hilang dalam keremangan.
“Aku hanya merasa terganggu,” ucapnya setelah menghabiskan bir di gelasnya.
“Terganggu?” Alis mataku agak berkerut mendengar pernyataannya
“Ya. Karena itulah, kita perlu bicara. Perlu saling mengerti dan memahami.”
Kutunggu kata-kata selanjutnya. Dia tampak menuang kembali bir ke dalam gelasnya.
“Aku minta tolong padamu,” katanya setelah itu.
“Minta tolong?“
“Ya. Aku percaya kau pasti mau menolongku.”
“Kalau aku bisa, kenapa tidak?”
“Bisa, pasti bisa!”
Dia menimbang dan menatapku tajam.
“Tolong jauhi Tina!”
“Jauhi Tina?”
“Ya.”
Aku tersenyum sinis. Merasa lucu dengan apa yang dia ucapkan. Aku pikir, dia ini sudah mabuk.
“Kau ini main-main?” tanyaku.
“Aku serius!”
Aku menatapnya sebentar, lalu menghirup bir digelasku sampai habis.
“Kau tidak keberatan kan?” desaknya.
“Aku kira, satu hal yang perlu anda pahami, bahwa kami satu kantor. Setiap hari bertemu, bagaimana mungkin aku melakukan hal itu? Lagipula, kami sudah lama berteman baik,” ucapku.
“Aku tahu agak sulit. Tapi, ini tidak gratis. Aku akan bayar.”
“Maksudmu?”
“Berapa kau minta untuk itu?”
“Untuk apa?”
“Menjauhi Tina!”
Aku diam, mulai merasa kurang nyaman.
“Kau sebutkan saja berapa uang yang kau perlukan,” katanya lagi dengan sombong.
Dia ternyata lebih kurang ajar daripada Lukman Hakim. Aku merasa tersinggung. Dia pikir, harga diriku bisa dia nilai dengan uang. Perutku terasa mual melihat tampangnya. Tapi, aku tahan perasaanku. Aku harus pandai menjaga perasaanku dalam saat-saat seperti ini. Aku justru ingin tahu, sampai sebatas mana kegilaannya itu.
“Ayolah! Kau pasti butuh uang.”
“Oke!” jawabku dengan agak kesal.
“Itu yang aku suka dari wartawan!”
Setan! Apa maksud ucapannya itu? Ini penghinaan korps, dan tidak boleh dibiarkan. Dia harus tahu kalau wartawan punya harga diri. Aku tidak bisa menahan amarahku. Lurus kutatap wajahnya.
“Berapa milyar kau berani bayar untuk itu?” tanyaku.
“Milyar?” Dia tampak kaget. ”Yang betul saja, Bung.”
“Kau membayarku untuk menjauhi Tina, berarti kau membeli Tina dariku. Dan, aku tidak mungkin menghargai Tina dengan uang satu atau dua juta.”
“Maksudku bukan begitu….”
“Kau pikir, aku akan menjual harga diriku? Tidak, kawan! Kau keliru. Ingat tidak semuanya bisa dihargai dengan uang.”
“Rimba, aku tidak bermaksud….”
“Bung! Anda orang berpendidikan. Seharusnya anda lebih pandai dalam memutuskan sesuatu. Kalau semua persahabatan dapat dibeli dengan uang, itu berarti perikemanusiaan dapat dibeli dengan uang. Dan, orang yang menerima uang itu tidak lebih dari seekor binatang. Good night!” kataku berang sambil berdiri dan melangkah pergi.
Dia terkejut dan mencoba menghalangi langkahku.
“Tunggu dulu, tunggu dulu! Jangan salah duga, maksudku….”
Aku mencengkeram leher bajunya dengan cepat.
“Kau bukan hanya menghinaku, tapi juga menghina wartawan! Dan, aku dapat berbuat lebih gila daripada yang kau pikirkan!” hardikku. Lalu, kudorong tubuhnya dengan kuat, sehingga ia sempoyongan ke belakang.
Aku betul-betul kecewa dan marah. Entah setan mana yang mempengaruhinya sampai dia nekat berbuat seperti itu. Aku melangkah dengan cepat dan terburu-buru, tidak ingin dia mengejar lagi dan merengek-rengek menyampaikan penyesalannya. Tidak ada guna.
Karena agak terburu-buru, tanpa sengaja aku menyenggol seorang wanita yang tengah berjalan bergandengan dengan seorang lelaki separuh baya di dekat lobby hotel. Agak kuat juga aku membentur tubuhnya, sehingga ia tampak agak terhuyung. Aku merasa perlu untuk minta maaf. Tetapi, kata-kata itu tidak keluar dari bibirku, ketika kulihat wajah wanita berambut pirang itu. Aku terperangah, tak percaya dengan pandanganku.
“Hati-hati kalau berjalan!” hardik lelaki setengah baya di sampingnya, yang tampak tidak senang dengan kejadian itu.
Aku tak memedulikan lelaki itu. Aku tengah meyakinkan mataku, bahwa wanita yang mengecat rambutnya dengan warna pirang di depanku sekarang adalah Wulandari.
“Wulandari!” tegurku.
“Wulandari?” ujar wanita itu dengan senyum agak mengejek. ”Siapa yang anda maksudkan Wulandari?”
Aku jadi bingung. Dia bukan Wulandari?
“Sudahlah! Dia cuma asal sebut, sok kenal. Jangan-jangan mau menipu,” kata lelaki setengah baya itu sambil merangkul wanita berambut pirang, yang wajahnya mirip sekali dengan Wulandari.
“Wulandari!” panggilku lagi sambil mencoba menghadang langkah keduanya.
Lelaki setengah baya itu kembali maju. Setan tua ini benar-benar siap menjadi pahlawan bagi wanita itu, tampaknya.
“Anda ini mau apa sebenarnya?” bentak lelaki setengah baya itu sambil memasang wajah garang. “Dia bukan Wulandari! Paham?”
Bukan? Alisku berkerut, merasa aneh dengan ucapan lelaki setengah baya itu.
“Atau, aku harus mengaku sebagai Wulandari agar kau puas?” ucap wanita itu dengan nada merendahkan.
Aku tak berkutik. Terpaku di tempatku berdiri, merasa bodoh dan tolol.
Keduanya melangkah pergi. Lelaki setengah baya itu menggerutu kesal.
Setan! Aku memaki dalam hati. Entah siapa yang kumaki, mungkin saja lelaki setengah baya sialan itu, atau mungkin juga Wijaya Kusuma yang mengundang hanya untuk meremehkanku. Atau barangkali, kebodohanku sendiri yang mau saja datang memenuhi undangannya. Padahal, tidak datang juga tidak apa-apa. Bukan urusanku untuk memahami betapa besar cintanya kepada Tina. Mereka mau pacaran, mau kawin atau mau apa, itu urusan mereka.
Dengan lunglai, kuseret langkahku keluar hotel. Di pelataran hotel, kulihat keduanya melangkah ke arah sebuah sedan. Lelaki setengah baya itu membukakan pintu mobilnya, dan wanita berambut pirang masuk ke mobil. Lalu, meluncur keluar dari arena parkir dengan cepat.
Aku mendekati Vespa-ku, kunyalakan. Aku ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, tapi Vespa-ku juga mulai bertingkah. Berkali-kali aku mencoba mengengkolnya, sampai tubuhku berkeringat. Masih juga tidak menyala.
Setan! Kutendang Vespa-ku dengan kesal. Tapi, justru kakiku yang kesakitan. Oh, Tuhan! Kenapa malam ini nasibku naas betul.
“Mogok?” terdengar suara di belakangku.
Aku menoleh, tampak Wijaya Kusuma sudah berdiri di dekatku.
“Perlu kubantu?” lanjutnya lagi.
Kulihat wajahnya. Ada keinginan untuk memukul bibirnya itu dengan tinjuku. Biar luka dan berdarah. Tapi, aku tak melakukannya. Kubuka boks samping, kukeluarkan busi dari mesin. Soalnya, cuma itu pengetahuanku untuk memperbaiki Vespa-ku kalau sedang mogok. Kubersihkan.
“Aku minta maaf, kalau kau tersinggung dengan ucapanku tadi. Sungguh! Aku tidak bermaksud untuk menghina atau merendahkanmu.”
Aku tak memedulikannya. Terus saja membersihkan busi Vespa itu sambil sekali-sekali meniup kotorannya. Terdengar lagi ucapannya.
“Aku menyesal.”
Aku memasang kembali busi yang sudah kubersihkan.
“Wanita yang kau panggil Wulandari itu namanya Tari. Lengkapnya, Lestari,” katanya mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
Aku menatapnya. Berarti, Wijaya Kusuma melihat kejadian tadi.
“Dia wanita panggilan,” lanjutnya.
Wijaya Kusuma menyampaikan informasi itu kepadaku, barangkali dengan maksud agar aku bertanya lebih banyak tentang wanita berambut pirang itu dan melupakan kekesalanku kepadanya. Tapi sayangnya, aku tidak tertarik untuk tahu lebih banyak. Kalau dia memang bukan Wulandari, apa peduliku dengan wanita itu. Kunyalakan kembali Vespa-ku dengan kesal. Kali ini, menyala.
“Lain kali, belajarlah menghargai orang lain, kalau kau ingin dihargai,” ucapku dingin sebelum memacu Vespa-ku untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan Wijaya Kusuma.
Kalau saja dia bisa menghargaiku, aku pasti akan membantunya. Tapi, dia bertindak bodoh! Dia telah merendahkanku dengan uangnya. Dan, aku menolak untuk diperlakukan seperti itu oleh siapa saja. Aku memang butuh uang, bekerja mati-matian untuk mencari uang, tetapi bukan berarti aku harus menjual harga diriku.
Aku menyadari bahwa sekarang ini uang telah menjadi raksasa penindas kehidupan manusia. Uang telah menjadi standar untuk menaikkan atau menurunkan derajat seseorang. Barangkali, atas dasar itu pula, hampir semua orang beranggapan bahwa kaya itu lebih enak daripada miskin. Punya rumah besar dan mewah, mobil bagus, dan uang bertumpuk di bank, dihormati. Mau memiliki apa saja, bisa.
Mungkin karena itu pula, orang-orang sering bermimpi untuk menjadi kaya raya. Sementara aku sendiri, belum pernah bermimpi untuk menjadi orang kaya, karena sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana cara untuk menjadi kaya.
Jalanan sepi yang kulalui menghanyutkanku. Aku tidak memedulikan sekelilingku. Vespa-ku melaju begitu saja mengikuti gundah hati, yang dipicu kejadian di hotel tadi. Beragam pikiran keluar masuk di benakku. Tanpa kusadari, aku asyik bermain-main dengan pikiranku sendiri. Akibatnya aku tak bisa menghindar, ketika sebuah mobil tiba-tiba menyerempet -atau barangkali, menabrak- Vespa-ku dari belakang. Aku hanya terkejut dan merasakan sebuah benturan sangat keras dan rasa sakit yang luar biasa.
Aku terkapar tak berdaya di jalanan sepi. Tak seorang pun akan menolongku. Semua orang telah terlelap dalam tidurnya, karena malam sudah cukup larut. Aku berharap dan berdoa ada orang yang lewat dan melihatku. Tapi, semua menjadi gelap dengan cepat. Aku tak sadarkan diri.
Ketika tersadar, kulihat seekor harimau mendekatiku. Entah dari mana datangnya. Matanya tajam menatap seluruh tubuhku. Dia menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. Aku gemetar. Dia mengaum dan siap menerkam tubuhku yang tak berdaya. Aku pikir, tamatlah riwayatku. Tetapi sebelum taring dan cakarnya yang tajam merobek-robek tubuhku, seorang lelaki kekar menghadang raja rimba itu dengan pisau di tangan. Dia melompat begitu saja, tanpa kuketahui dari mana asalnya. Harimau itu menerkamnya. Lelaki kekar itu menghunus pisau dengan berani. Mereka kemudian bergulat. Lelaki itu berkali-kali menikamkan pisaunya ke perut harimau, yang berusaha memangsa dirinya dengan taring yang tajam dan kuat. Perkelahian berjalan seru dan seimbang, sampai keduanya terkapar bermandikan darah. Aku mencoba berdiri untuk menolong lelaki kekar itu, tapi aku tak berdaya.
Keduanya tiba-tiba bangkit lagi. Sama-sama berlumuran darah. Bertatapan dengan mata memancarkan keberanian. Harimau itu mengaum. Sang lelaki mendongakkan kepala dengan angkuh. Seakan mencemooh gertakan harimau. Aku pikir, perkelahian akan berlanjut. Tetapi ternyata, harimau itu membalikkan badan, melangkah pergi. Barangkali, luka-luka akibat tusukan pisau lelaki itu membuatnya jera. Sang lelaki pemberani itu menatap langkah kaki harimau itu dengan angkuh.
Aku mendekati lelaki itu dengan maksud untuk berterima kasih dan ingin membantu mengobati lukanya. Dia berbalik ke arahku dengan cepat. Aku tak bisa bersuara mendapatkan sorot matanya.
“Pandang aku,” katanya dingin.
Kukumpulkan keberanianku untuk menatap matanya.
“Jangan pernah menyerah pada hidup, karena hidup adalah karunia. Hadapi hidup dengan berani, agar kau rasa nikmatnya sebagai lelaki,” katanya.
Lalu, dia memelukku. Entah kenapa, aku membalas pelukannya dengan lebih erat, sehingga darah dari lukanya kurasakan menyatu dengan tubuhku. Aku merasa mengenal dan merindukannya. Karena itu, aku ingin berlama-lama dalam pelukannya, tetapi dia cepat melepaskan pelukan.
“Jangan menangis. Lelaki tidak boleh dibesarkan dengan air mata. Perjuangkan hidupmu!”
Setelah berkata begitu, dia melangkah pergi. Aku berteriak-teriak memanggil lelaki yang telah menyelamatkan nyawaku itu, tapi dia tak memedulikan teriakanku. Menoleh pun tidak. Aku bermaksud mengejarnya, tetapi langkahku tersandung batu. Aku terjerambab jatuh. Ketika kulihat lagi, dia sudah tidak ada. Aku mencari-cari bayangan langkahnya.
“Rimba!” terdengar seseorang memanggil namaku, berkali-kali.
Aku merasa mengenal suara itu. Kucari arah datangnya suara. Samar-samar kulihat wajah seorang wanita. Kubuka mataku lebar-lebar sehingga pandanganku semakin jelas. Tampak wajah Tina. Kenapa pula ada Tina di sini? Aku merasa heran.
“Rimba,” kembali Tina memanggil namaku.
Kulihat sekelilingku. Di mana sebenarnya aku berada?
Oh, Tuhan! Aku baru sadar, kalau aku berada di ruangan gawat darurat sebuah rumah sakit. Tubuhku tengah terbaring lemah di atas sebuah dipan. Alat pernapasan menempel di hidungku, lalu infus di tanganku. Beberapa bagian dari tubuhku diperban, termasuk kepala.
“Rimba,” kata Tina hati-hati, wajahnya tampak terharu. Tangannya memegang tanganku dengan cemas.
Aku ingin membalas sapanya, tapi mulutku berat sekali untuk bersuara..
“Dokter! Dia sadar!” kata Tina setengah berteriak.
Dokter menghampiriku dengan cepat. Memeriksaku beberapa saat dengan hati-hati dan teliti. Mulai dari denyut nadi, denyut jantung, dan entah apa lagi. Aku pasrah saja. Dalam kondisi seperti sekarang ini, aku memang memerlukan perawatan dari ahli medis.
“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya Tina.
“Tidak apa-apa. Dia hanya perlu banyak istirahat. Nanti saya buatkan resep obat untuknya,” kata Dokter.
“Baik, dokter,” jawab Tina.
Tina mengambil resep dari dokter itu, lalu memberikannya kepada Kuyung Iful, yang rupanya berada di luar ruangan. Kuyung Iful pergi menebus obat di apotek, sedangkan Tina kembali menemaniku.
Setelah kondisiku agak membaik, aku dipindahkan ke sebuah sal perawatan. Alat bantu pernapasan sudah dilepas dari hidungku. Aku agak leluasa bergerak, walau selang infus masih menempel di tanganku. Luka di beberapa bagian tubuhku, menurut dokter yang merawatku, tidak terlalu parah. Cuma luka-luka akibat gesekan dengan aspal. Yang agak mengkhawatirkan, hanyalah bagian kepalaku. Karena dalam kecelakaan itu, bagian kepalaku mengalami benturan cukup keras. Hal itu pula yang membuatku tak sadarkan diri lebih kurang enam jam. Kata dokter, tidak ada pendarahan di kepalaku. Hanya gegar otak ringan.
“Aku ditabrak,” kataku kepada Kuyung Iful, beberapa saat setelah aku dipindahkan ke sal perawatan.
Kuyung Iful merupakan orang yang paling mengkhawatirkan keadaanku, selain Tina. Keduanya bergantian menjagaku, sejak aku tidak sadarkan diri sampai keadaanku mulai membaik.
“Awu. Kami sudah tahu,” jawab Kuyung Iful. ”Yang penting sekarang, nga selamat. Soal siapa dan kenapa nga ditabrak, nanti pihak kepolisian yang akan mengurusnya.”
“Vespa-ku bagaimana? Hancur?”
“Ui, Rimba! Nga jangan banyak pikiran dulu. Soal Vespa, soal segala macam, biar kami yang mengurusnya. Yang penting, nyawa nga tidak hilang. Nga selamat, cepat sembuh! Sekarang, aku mau pulang dulu. Nanti aku ke sini lagi,” lanjut Kuyung Iful.
“Siap, komandan!” jawabku mencoba bercanda.
”Tina tunggu dulu di sini, ya. Kalau kau tinggalkan, nanti dia kabur,” ujar Kuyung Iful kepada Tina.
“Ya, Yung,” jawab Tina.
“Terima kasih, Yung,” ucapku ketika ia hendak melangkah keluar dari ruangan. Dia tidak menghiraukannya.
Tinggal aku dengan Tina. Wajah Tina tampak kuyu. Dia pasti kurang tidur dan capek. Karena, dia sudah berada di rumah sakit ini bersama Kuyung Iful sejak aku dirawat semalam.
“Siapa yang menolong membawaku ke rumah sakit?” tanyaku.
“Kau pasti akan terkejut kalau kusebutkan namanya.”
“Siapa?” tanyaku lagi, penasaran.
“Wijaya….”
“Wijaya Kusuma?”
“Ya. Dan, dia pula yang memberi kabar kepadaku kalau kau jadi korban tabrak lari,” kata Tina.
Aku betul-betul tidak mengerti, bagaimana mungkin ia bisa menjadi malaikat penolongku.
“Menurut Wijaya, sebelum menabrakmu, mobil itu sempat menyalip mobilnya. Mobil itu ngebut. Dan menurut perkiraan Wijaya, pengemudi mobil itu sedang mabuk.”
“Mabuk?”
“Menurut Wijaya, begitu. Sayangnya, dia tidak sempat mencatat nomor polisi mobil itu.”
Aku mencoba mengingat kembali kejadian malam itu. Malam itu, jalanan yang kulalui lengang sekali, hampir tidak ada kendaraan yang melintas. Aku santai sekali mengendarai Vespa-ku. Bahkan, aku sama sekali tidak tahu kalau ada mobil di belakangku. Aku sempat menoleh ketika merasa sesuatu mengahantam Vespa-ku dengan kuat, sehingga aku terpental.
“Katanya, nanti mau ke sini lagi. Tadi dia pulang dulu karena bajunya kotor oleh darah,” lanjut Tina.
“Darahku?”
“Ya.”
Aku diam, merasa berutang budi kepadanya. Tanpa bantuannya, mungkin aku sudah mati sia-sia di pinggir jalan.
Seperti kata Tina, Wijaya Kusuma memang datang membesukku. Dia membawa buah-buahan segar. Aku menyambutnya dengan hati lapang, melupakan kejadian di bar yang sempat melukai hatiku. Beberapa saat kemudian, Kuyung Iful juga muncul. Dia menyarankan supaya Tina pulang saja dulu untuk istirahat.
“Aku sudah memintakan izin kepada redakturmu. Kau tidak usah kerja, istirahat saja dulu. Biar aku yang menemani Rimba,” kata Kuyung Iful.
Tina tidak bisa menolak, karena memang dia sudah kelihatan capek sekali. Wijaya Kusuma memanfaatkan kesempatan itu untuk mengantar Tina pulang. Aku jadi kasihan sendiri melihat Wijaya Kusuma. Begitu berat tampaknya perjuangan untuk dapat meluluhkan hati Tina. Padahal aku yakin, kalau dia mau, masih banyak gadis lain yang akan dengan mudah diraihnya. Tapi, begitulah cinta. Terkadang aneh, dan sangat sulit dimengerti dengan pikiran-pikiran rasional.
“Wijaya itu pacarnya?” tanya Kuyung Iful, setelah keduanya pergi.
“Belum.”
“Belum? Belum bagaimana?”
“Belum pacaran.”
“Masih dalam proses pendekatan?”
“Entahlah, aku sendiri bingung dengan Tina. Mau lelaki yang seperti apa dia. Wijaya Kusuma, menurutnya tidak cocok untuk dirinya. Jadi setahuku, sampai sekarang dia belum mau menerima cinta Wijaya Kusuma.”
“Jangan-jangan dia mencintaimu?” tebak Kuyung Iful.
Aku tertawa.
“Kami hanya berteman, Yung,” kataku setelah tawaku reda.
“Ya. Tapi kan, bisa saja diam-diam dia menaruh hati padamu.”
“Aku rasa tidak…,” jawabku mengambang.
“Jangan pernah berkata tidak pada cinta. Karena, cinta itu terkadang aneh dan sulit dimengerti,” ucap Kuyung Iful.
Aku diam. Aku pikir, tidak ada guna mendebatkan soal itu. Hak Kuyung Iful untuk berpendapat seperti itu. Dia sudah mau berbicara soal cinta pun aku sudah cukup senang.
Teman-temanku, pada umumnya wartawan, bergantian muncul membesuk Mereka tampak prihatin pada nasib sial yang menimpaku, juga geram dan marah kepada orang yang telah menabrakku. Menurut mereka, kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka berjanji akan mendesak polisi untuk mencari tahu siapa yang telah menabrakku.
Aku bersyukur karena ternyata teman-temanku punya solidaritas yang cukup tinggi pada nasib sial atau musibah yang menimpaku. Aku pikir, sikap semacam itu memang harus selalu dijaga dan dipelihara, mengingat kemungkinan intimidasi, ancaman, atau kekerasan terhadap wartawan sangatlah besar. Wartawan harus kuat dan kompak.
Paman dan bibi yang mengetahui musibah itu dari berita di koran sehari setelah kejadian, datang menjengukku. Paman tampak emosional mengetahui aku jadi korban tabrak lari. Dia menasihatiku.
“Kerja sebagai wartawan itu banyak risikonya. Kau harus selalu waspada dan hati-hati. Bukan tidak mungkin, ada orang yang sakit hati padamu. Berita-berita yang kau tulis bisa saja tanpa kau sadari merugikan orang lain, dan tanpa kau sadari pula, ada orang yang dendam kepadamu,” katanya.
“Tapi, rasanya aku tidak punya musuh.”
“Itu katamu! Cuma orang gila yang dengan sengaja menabrak orang lain tanpa alasan.”
Aku renungkan ucapan pamanku. Rasanya sangat beralasan dia berkata begitu. Tetapi, siapa yang sakit hati padaku? Rasanya, aku tidak punya musuh. Aku merasa tidak pernah punya masalah dengan sumber berita, karena berita yang kutulis merupakan fakta dengan data-data akurat yang dapat dipertanggungjawabkan. Lalu, kenapa mobil itu menabrakku? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti.
Paman dan bibi bergantian menjagaku selama aku berada di rumah sakit. Terkadang, Rahmat, Nuraini, atau Fitri ikut menemani mereka. Setiap kali datang, selalu saja membawa makanan, kue-kue kecil, pempek, model, atau kempelang yang merupakan dagangan bibi di warung. Aku pun selalu meminta bibi atau paman untuk membawa pulang aneka buah-buahan atau roti yang sering dibawakan teman-teman yang membesukku.
Suatu saat, aku ceritakan tentang lelaki pemberani yang berkelahi melawan harimau yang kulihat dalam alam bawah sadarku.
“Kau tahu siapa lelaki itu?” tanya paman, setelah aku menuntaskan cerita.
Aku diam, tak menjawab.
“Lelaki itu bapakmu,” kata paman.
“Bapakku?”
“Ya.”
Aku coba menelaah kebenaran ucapan paman, dengan cara membayangkan kembali wajah lelaki gagah itu.
“Cuma dia lelaki yang berani melawan harimau,” paman mencoba meyakinkanku
Ada perasaan menyesal, manakala kepercayaan pada ucapan paman muncul. Kenapa aku tidak lebih lama bercakap-cakap dengannya. Karena, begitu banyak yang ingin kukatakan kepadanya.
“Dia memelukku,” kataku setengah bergumam.
Paman diam beberapa saat, seperti ikut larut dengan perasaanku.
“Rimba, kalau kau sembuh, sebaiknya kau ziarah ke makam ibu bapakmu di dusun,” kata paman kemudian.
“Ziarah?”
“Ya. Sebagai anak, kau perlu menziarahi makam ibu bapakmu agar kau tidak lupa leluhurmu. Kau ada karena mereka. Doa kan mereka.”
Aku terhenyak, merasa lalai dan melupakan mereka. Dulu, sebelum ibuku kawin lagi, dia sering mengajakku ziarah ke makam bapakku. Lalu, aku ziarah ke makam bapak dan ibu, sesaat sebelum diajak paman ke Palembang. Setelah itu?
“Kau masih ingat kan letak makamnya?” tanya paman.
Aku menggeleng. Paman mengerutkan alis. Lurus matanya menatapku. Aku tidak berani membalas tatapannya.
“Jadi selama ini, kau tidak pernah ziarah ke makam orangtuamu?” tanya paman lagi dengan nada sinis.
Aku tak berani mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan itu. Aku menyesal dan merasa berdosa karena telah melupakan kedua orangtuaku. Padahal selama menjadi wartawan, beberapa kali aku ditugaskan kantor untuk meliput berita di Sekayu, ibu kota Musi Banyuasin. Bahkan beberapa kali, aku sempat menginap. Jarak Sekayu ke dusunku hanya sekitar 20 km, tapi aku tidak pernah menyempatkan diri untuk ziarah atau mengunjungi dusunku. Terasa mataku basah.
Paman menghela napas. Aku pasrah menunggu kemarahannya, karena kupikir dia pantas untuk marah. Ternyata aku keliru, paman memilih untuk menahan kemarahannya.
“Sudahlah. Kalau kau sembuh nanti, paman akan menemanimu untuk ziarah ke makam orangtuamu,” ujar paman kemudian.
Setelah itu, kerinduanku akan dusun berkembang dan menyesakkan dada. Sederetan pohon karet, ilalang, dan bunga-bunga rumput disiram percikan air sungai coklat memanjang, bagai melambai-lambai kembali kaki kecilku untuk menyentuhnya. Aku ingin mencari capung di antara semak belukar, atau mengubur diri dalam pasir sungai yang hangat. Aku ingin bapak dan ibuku memandangku dengan bahagia. Bocah yang menyandang masa lalu leluhurnya.


Z I A R A H

Pamanku menepati janjinya. Sehari setelah aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit, kami mudik. Bibi tidak ikut, karena khawatir meninggalkan anak-anaknya di rumah. Maklumlah, anak-anaknya masih kecil-kecil. Si sulung Rahmat baru berumur sekitar dua belas tahun, tentu belum pandai menjaga adik-adiknya, Nuraini dan Fitri. Lagipula pada saat itu, mereka tidak sedang libur sekolah. Bibi tidak mau mengorbankan sekolah anak-anaknya.
Kami berangkat naik bus agak pagi, karena kami tidak merencanakan untuk menginap. Jarak dari Palembang ke dusunku sekitar 150 kilometer, dan biasanya ditempuh selama tiga jam, kalau tidak ada halangan di jalan. Menurut perhitungan paman, sekitar pukul empat sore, kami sudah bisa kembali ke Palembang lagi.
Selama dalam perjalanan, aku lebih banyak melamun, mencoba mengenang kembali masa-masa yang pernah kuhabiskan di dusunku, dan mengingat-ingat kembali suasana dusunku. Sedangkan paman, lebih memilih untuk tidur.
Dusunku terletak di daerah pinggiran sungai, Sungai Musi juga, yang memanjang dari hulu sampai ke hilir. Dusunku terletak di bagian hilir. Dulu sewaktu jalan ke dusunku masih belum diaspal dan mobil belum begitu banyak seperti sekarang, orang-orang lebih memilih menggunakan kapal untuk mudik atau pergi ke Palembang. Setelah jalan-jalan diaspal dan arus transportasi darat mulai lancar, kapal dari kayu itu pun mulai ditinggalkan. Sekarang, keberadaan kapal-kapal itu lebih dimanfaatkan untuk membawa sembako dari Palembang ke dusun-dusun.
Hampir setiap rumah di dusunku mempunyai perahu untuk digunakan beraktivitas di sungai, baik itu untuk mencari ikan maupun pergi ke kebun atau sawah, atau untuk mengangkut hasil panen. Soalnya, letak kebun atau sawah penduduk ada yang jauh dari rumah atau bahkan ada juga yang berada di seberang sungai. Di samping itu, perahu merupakan alat transportasi utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran sungai.
Dulu, rumahku juga terletak di pinggir sungai, tetapi aku sudah tidak ingat lagi di mana tepatnya. Yang aku ingat, bentuk rumahku hampir tak beda dengan bentuk rumah penduduk lainnya. Rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan tiang-tiang menancap di dasar sungai. Tetapi, aku masih menyimpan kenangan masa kecil bersama bapakku, terutama ketika ia mengajariku berenang.
Setiap kali hendak mandi ke sungai, pagi atau pun sore hari, aku selalu minta dukung dari rumah hingga ke sungai. Biasanya, aku yang belum pandai berenang, bermain-main saja di tepi sungai. Lalu, dia memandikanku. Suatu ketika, dia mendukungku di pundaknya dan berenang ke tempat yang agak dalam. Mulanya, aku berteriak-teriak ketakutan, tetapi kemudian menyukainya. Walau terkadang terminum air, aku senang sekali diperlakukan seperti itu. Aku akan tertawa-tawa atau berteriak-teriak girang di pundaknya.
“Karena sungai adalah kehidupan kita, kau harus pandai berenang, sepandai ikan dan buaya,” katanya suatu ketika.
Setelah itu, dia lepaskan peganganku dari pundaknya. Aku gelagapan di air, karena belum bisa berenang. Dibiarkannya aku berusaha untuk tidak tenggelam. Entah berapa banyak air sungai itu masuk ke perutku, sebelum ia menolong. Aku menangis. Dia marah. Bapakku paling tidak suka melihatku menangis. Lelaki tidak boleh cepat mengeluarkan air mata. Lelaki harus kuat dan tabah. Demikian kata-kata yang selalu diucapkannya setiap kali aku menangis. Biasanya, aku akan menghapus air mataku..
Dengan cara begitu, dua tiga hari kemudian aku sudah pandai berenang. Setelah itu, aku mulai sering diajaknya untuk ikut menjaring ataupun menjala ikan di tengah sungai. Ibuku tidak pernah marah atau cemas, mungkin karena dia percaya bahwa bapakku akan selalu dapat melindungiku dari segala marabahaya.
Mata pencaharian penduduk di sana pada umumnya bertani dan berkebun. Sebagian penduduk mengandalkan getah karet dari pohon-pohon karet, sebagian lagi mengandalkan padi dari hasil bersawah. Ada juga penduduk yang mengandalkan hidupnya sebagai nelayan, mencari ikan atau udang di sungai itu dengan cara menjala, menjaring atau memancing. Macam-macam jenis ikan di sungai itu, tetapi yang terkenal adalah ikan patin, baung, dan seluang.
Ikan seluang hanya sebesar jari kelingking. Mudah sekali untuk mendapatkannya, terutama bila sedang musimnya. Kami menyebutnya seluang mudik. Pada saat itu, jumlahnya sangat-sangat banyak. Orang dusunku menangkap jenis ikan itu dengan tangkul, jaring yang diberi tali-tali yang diikatkan pada batang bambu sebagai tongkat untuk mengangkatnya. Jenis ikan itu biasanya merupakan lauk kelas dua, yang tidak begitu disukai orang-orang di dusunku. Tetapi, di rumah makan-rumah makan ternama di Kota Palembang, harga seluang goreng menjadi sangat mahal setelah diramu sedemikian rupa.
Selain di sungai, di rawa dan sawah juga banyak terdapat jenis ikan, seperti gabus, toman, lele, betok, atau sepat. Ikan gabus biasanya digunakan untuk membuat pempek, makanan khas Palembang.
Sawah di dusunku merupakan sawah lebak, karena air di sawah hampir tidak pernah kering, kecuali kalau kemarau panjang yang mengakibatkan air sungai dangkal. Biasanya, sehabis padi dipanen, ikan-ikan di sawah itu sudah besar-besar dan sangat enak untuk dipancing. Orang-orang di dusunku suka memancing ikan gabus dengan menggunakan kodok sawah sebagai umpan. Kodok itu dikaitkan di kail, lalu ditarik-tarik dengan menggunakan tongkat pancing yang terbuat dari bambu sehingga kodok itu seperti tengah berjalan di permukaan air. Pada saat itulah, ikan gabus akan mengejar dan menangkapnya. Ada juga yang suka memancing jenis ikan lain, seperti betok atau sepat.
Paman tidak langsung mengajakku ke lokasi makam bapak dan ibuku, tetapi singgah dulu ke rumah sebuah keluarga dekatku. Kakak sepupu bapakku yang paling tua, Zailani. Aku biasa memanggilnya Mang Jai. Mang Jai merupakan saudara sepupu bapakku. Kata Paman, dia akan sangat marah kalau kami tidak mampir ke rumahnya.
Mang Jai sangat sayang dan perhatian padaku. Waktu aku masih tinggal di rumah paman, dia sering mampir kalau sedang ke Palembang. Kadang-kadang, dia menginap semalam atau dua malam. Biasanya, dia akan menanyakan sekolahku, lalu memberiku nasihat untuk selalu tabah dan kuat menghadapi hidup.
Mang Jai pandai melantunkan senjang, sejenis sastra tutur yang tumbuh dan berkembang di daerah Musi Banyuasin. Tradisi senjang itu sekali-sekali masih ditampilkan dalam acara-acara pernikahan. Tetapi, sudah tidak banyak lagi orang yang pandai melantunkan senjang. Budaya modern yang merambah ke dusunku melalui televisi, tampaknya lebih memikat perhatian anak-anak muda.
Aku selalu senang menerima kehadiran Mang Jai. Di samping tutur katanya yang lembut dan beraroma kasih sayang, setiap kali hendak pulang, dia tidak pernah lupa memberiku uang. Untuk membeli buku, katanya.
Mang Jai merupakan seorang petani karet yang mempunyai beberapa bidang kebun karet. Dari hasil getah karetnya itulah, dia menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya. Anak pertamanya, Rahman, seorang polisi yang betugas dan menetap di Medan bersama anak istrinya. Anak keduanya, Soleha, lulusan Akademi Perawat yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten. Soleha tinggal bersama Mang Jai, dengan suami dan anak-anaknya. Suami Soleha, juga Pegawai Negeri Sipil, bertugas di Kecamatan. Sedangkan anaknya yang paling kecil, Rahim, masih kuliah di Fakultas Pertanian sebuah universitas negeri di Bogor.
Istri Mang Jai meninggal sepuluh tahun yang lalu, karena sakit. Sejak itu, Mang Jai menduda. Beberapa orang sanak keluarga di dusun sering menyarankannya untuk menikah lagi, tapi Mang Jai menolak. Dia lebih memilih untuk membesarkan dan membimbing anaknya sendiri.
Menurut cerita Paman, sejak kecil Mang Jai sangat sayang pada bapakku, begitu juga sebaliknya. Bapakku akan selalu maju lebih dulu untuk membela, kalau ada yang mencoba mengganggu Mang Jai. Karena itu pula, setelah kematian ibu, Mang Jai bermaksud mengasuh dan membesarkanku, tetapi paman bersikeras membawaku ke Palembang. Mang Jai mengalah.
“Dia marah dan kecewa padaku, setelah mengetahui kau pergi meninggalkan rumah. Dia tidak mau nasibmu tersia-siakan. Tapi waktu itu, kau tidak bisa lagi dilarang, kau nekat mau jadi seniman,” kata Paman suatu ketika.
Aku merasa malu mendengar ucapan paman itu, karena pada kenyataannya aku tidak sanggup menjalani hidup sebagai seniman.
“Dia menjadi sangat bangga dan bahagia mengetahui kau menjadi seorang wartawan,” lanjut paman.
Rumah Mang Jai merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu, sebagaimana kebanyakan rumah di dusun. Rumahnya cukup besar dan tampak terawat dengan baik. Letak rumah Mang Jai agak jauh dari sungai.
Waktu kami datang, dia sedang sendirian saja di rumah karena Soleha dan suaminya bekerja. Mang Jai memelukku dengan erat sekali, manakala paman memintaku untuk menyalaminya. Dia seperti hendak melepaskan kerinduan yang bertahun-tahun bergelayut di dadanya.
“Nga kak persis seperti bapak nga,” katanya dalam bahasa Sekayu yang kental. Selintas, aku teringat Kuyung Iful yang suka menggunakan bahasa daerah itu.
Lalu, kami terlibat obrolan di ruang tamu rumahnya. Obrolan yang bernuansa kenangan, mengingatkan kembali cerita tentang bapakku dan keberanian bapakku melawan harimau, yang menurutnya sampai sekarang masih dikenang orang di dusunku. Kisah keberanian anak manusia yang dulu sempat kusesali, karena tidak memberikan kebahagiaan apa pun padaku, kecuali sederetan panjang derita anak yatim piatu. Tapi sekarang, aku merasa ada kebanggaan pada almarhum bapakku. Setidaknya, aku memiliki sejarah keberanian.
Aku sempat menanyakan kabar bapak tiri dan adik-adik tiriku. Walaupun perlakuannya kepadaku dan ibuku dulu sangat buruk, dia tidak bisa dilepaskan dari sejarah hidupku. Dia suami ibuku. Dan anak-anaknya yang dilahirkan dari rahim ibuku, adalah adik-adikku juga.
Menurut Mang Jai, enam bulan setelah kematian ibu, bapak tiriku menikah lagi dengan seorang gadis dari dusunku juga. Dari hasil perkawinannya dengan istrinya yang baru, dia dikaruniai tiga orang anak.
“Beberapa tahun yang lalu, dia dan keluarganya pergi meninggalkan dusun,” kata Mang Jai.
“Pindah?” tanyaku.
“Ya,” jawab Mang Jai.
“Ke mana?”
“Kabarnye ngadu nasib ke Palembang.”
“Palembang?”
“Ya. Kabarnye jadi tukang becak.”
“Anak-anaknya?”
“Dibawanya semua.”
“Mang Jai tahu alamatnya di Palembang?”
“Tidak.”
Aku terdiam. Cerita hidup bapak tiriku dan keluarganya tak lebih dari pengulangan dari serangkaian cerita kaum urban yang nekat mengadu nasib di kota-kota, karena merasa desa tak lagi memberinya penghidupan. Mereka datang tanpa bekal pengetahuan dan keahlian. Akibatnya, sebagian besar di antara mereka menjadi beban bagi kota. Membangun gubuk-gubuk liar di dekat rel kereta api, di bawah jembatan, atau tertidur di emperan toko dan jembatan penyeberangan dengan beralaskan koran-koran bekas. Terdampar di sisi gedung-gedung sebagai gelandangan ataupun pengemis.
“Kenapa dia tinggalkan dusun?” tanyaku kemudian, menyesali keputusannya yang keliru.
“Die tu gile benomor. Gara-gara galak masang nomor buntut dak kene-kene tulah, sawahnye tejual, dem tu, rumahnye pulek. Karene dak suek lagi pencarian di dusun, die nekat ke Plembang,” ucap Mang Jai dengan nada agak kesal.
“Dari dulu, memang dia sudah suka begitu,” gumamku.
Terbayang kembali di pelupuk mataku, bagaimana dulu bapak tiriku berhari-hari mengorek-ngorek sederetan angka di kertas. Bahkan tak jarang, buku tulisku dijadikannya sasaran. Ibu suka melarangnya memasang nomor-nomor kode buntut itu, tapi lelaki itu tidak pernah menghiraukannya. Bahkan tak jarang, gara-gara itu mereka bertengkar. Dan kalau terjadi pertengkaran, tak jarang pula ia memaki-maki dan bahkan memukul ibu. Aku sering menangis diam-diam melihat perlakuannya pada ibu. Aku kasihan pada ibu, tapi aku masih terlalu kecil untuk dapat melawannya.
Aku menghela napas. Betapa judi togel atau buntut telah merusak kehidupan keluarga bapak tiriku. Tapi, begitulah cerita yang sering berkembang di dalam kehidupan masyarakat kita, terutama masyarakat kelas bawah. Judi togel menjadi satu-satunya harapan untuk memperoleh uang secara cepat. Harapan berbau mimpi yang tidak pernah kesampaian.
Waktu aku masih jadi kernet bus atau kuli bangunan, aku juga sering mempertaruhkan uangku untuk judi togel. Aku juga sempat ikut-ikut mengorek-ngorek kertas untuk mendapat nomor yang jitu, menebak rahasia mimpi. Bahkan, aku juga pernah ikut teman tidur di kuburan hanya untuk mendapatkan nomor jitu.
Sebelum berangkat ke lokasi pemakaman, Mang Jai menelpon Soleha. Dia minta agar Soleha menjemput anaknya di sekolah, dan menyiapkan makan siang agak istimewa hari ini. Maklum, anak Soleha baru masuk sekolah dasar, dan biasanya menjadi tugas Mang Jai mengantar dan menjemput cucu kesayangannya itu.
Mang Jai menemani kami ke pemakaman. Dia mengantarku pada dua buah makam yang letaknya berdampingan. Dua buah makam yang tampak bersih dan terawat. Mang Jai pula yang rajin berziarah dan membersihkan kedua makam itu.
“Ini makam bapakmu, dan ini makam ibumu,” kata Mang Jai.
Aku terpaku dihadapan makam orangtuaku. Wanita tabah dan lelaki pemberani yang selalu kurindukan sosoknya. Keharuan yang timbul dari kerinduan tak mampu kuhindarkan. Air mataku mengalir begitu saja. Betapa aku telah melupakan begitu saja dua orang yang teramat kucintai itu. Paman dan Mang Jai membiarkan aku menangis sampai puas.
Setelah itu, Mang Jai memintaku untuk mendoakan keduanya. Mang Jai yang memimpin doa. Aku memohon kepada Tuhan agar mengampuni segala dosanya dan mempertemukan mereka di surga.
Sehabis dari makam, kami kembali ke rumah Mang Jai. Kupik Soleha tampak sibuk menyiapkan makan siang. Dia dibantu oleh seorang gadis cantik yang tampak begitu cekatan menghidangkan nasi dan lauk-pauk di meja makan. Penampilannya sederhana. Tanpa bedak dan gincu di wajahnya, tapi aku menangkap sinar alami dari kulit kuning langsat yang dibungkus jilbab itu. Siapa dia? Tanyaku dalam hati.
Seperti dapat membaca pikiranku, Mang Jai memperkenalkanku kepadanya. Dia tampak malu-malu, wajahnya bersemu merah sewaktu kugenggam tangannya.
“Rimba,” ucapku.
“Nurhasanah,” jawabnya pelan, hampir tak terdengar.
Mang Jai menjelaskan, bahwa Nurhasanah merupakan seorang mahasiswa Fakultas Keguruan jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Palembang. Di samping kuliah, dia juga sudah mulai menjadi guru honor pada sebuah sekolah menengah pertama di Palembang. Dia salah seorang anak dari adik perempuan almarhumah istri Mang Jai.
Rumahnya tidak jauh dari rumah Mang Jai. Menurut Mang Jai, sejak kecil, dia sangat dekat dengan Soleha. Bahkan sebelum Soleha menikah, dia masih sering menginap di rumah Mang Jai. Dia selalu menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah Mang Jai bila sedang mudik ke dusun.
Aku tak mampu menyembunyikan kekagumanku pada kecantikan alami yang terpancar di wajahnya. Karena itu, sesekali kulirik dia pada saat makan bersama. Kupik Soleha tampaknya mengetahui hal itu, dia senyum-senyum melihat tingkahku.
“Dia belum punya pacar, Rim,” bisik Kupik Soleha sehabis makan siang. “Kalau kau tertarik, biar kupik yang mengaturnya.”
“Kupik ini ada-ada saja. Dia kan masih keluarga kita.”
“Apa salahnya? Justru itu lebih baik. Kupik yakin, keluarga di sini akan setuju.”
Aku diam.
“Daripada kau menikah dengan orang lain yang belum jelas latar belakang keluarga dan adat istiadatnya, lebih baik kau pilih dia. Berpendidikan, cantik, pandai mengaji, dan taat beragama. Pokoknya, kupik jamin kau tidak akan kecewa,” kata Kupik Soleha.
Aku percaya dengan ucapan Kupik Soleha, karena memang dia mengenal Nurhasanah sejak kecil. Tapi, aku merasa belum saatnya untuk menerima tawaran itu. Lagipula, tujuanku mudik bukan untuk mencari istri, melainkan untuk ziarah.
“Ya, kalau kau masih ragu, sebaiknya saling kenal dulu. Dia juga kan tinggal di Palembang. Kau temui dia, ya,” lanjut Kupik mencoba memahami apa yang ada di benakku.
“Ya, Pik,” jawabku.
Mang Jai ternyata menawarkan hal yang sama padaku, didukung juga oleh paman. Aku merasa mendapat serangan mendadak. Tidak mengira bakal berhadapan langsung dengan tradisi perjodohan yang masih sering tumbuh dalam sistem kekerabatan masyarakat kita.
Aku bukan menolak tradisi perjodohan. Menurutku, sepanjang kedua belah pihak setuju tanpa unsur paksaan, perjodohan bukanlah sesuatu yang salah. Hanya saja, aku merasa belum siap. Akibatnya, aku jadi serba salah. Ditolak, takut mereka tersinggung. Diterima, aku merasa belum bisa secepat itu memutuskannya. Aku memutuskan untuk lebih banyak diam. Sekali-sekali mengangguk atau tersenyum.
“Kalau kau beristrikan orang kota, pasti lambat laun kau akan melupakan dusunmu. Tempat kelahiranmu, tempat kedua orangtuamu dimakamkan,” ucap paman.
Aku mencoba memaklumi keinginan mereka.


LESTARI

Teman-teman menyambut kehadiranku di kantor dengan memperlihatkan rasa simpati. Menyalami atau sekadar bertanya tentang keadaanku, melihat bekas luka yang sudah hampir mengering di beberapa bagian tubuhku. Ada juga yang berpendapat aku tambah ganteng, kulitku kelihatan lebih putih dan bersih. Aku tidak tahu pendapat itu benar atau tidak, tetapi jelas hal itu sekadar basa-basi.
Tina justru mencubit pinggangku. Dia kesal karena aku tak mengabarinya waktu keluar rumah sakit.
“Kemarin aku membesukmu, tapi kau sudah keluar,” katanya dengan nada kecewa.
“Maaf, Tina. Memang sebenarnya hari ini dokter baru mengizinkan aku keluar dari rumah sakit. Tapi, karena aku merasa sudah sembuh, ya untuk apa aku berlama-lama di situ,” jawabku memberi alasan.
“Harusnya kau beri kabar!” ucapnya dengan kesal sambil melangkah keluar ruangan.
Tina memang pantas untuk kecewa atau marah, karena di antara teman-temanku, perhatian Tina padaku sangat luar biasa. Sikap dan perlakuannya selama aku dirawat sering membuatku terharu.
Sehabis mencari berita, dia selalu menyempatkan diri untuk datang melihat keadaanku, baru setelah itu ke kantor. Tak heran kalau dokter dan perawat di rumah sakit itu beranggapan bahwa Tina kekasihku, termasuk bibi yang beberapa kali bertemu Tina di rumah sakit.
“Pacarmu?” tanya bibi suatu ketika.
“Teman.”
“Dia perhatian sekali kepadamu.”
“Dia teman baikku.”
“Dia cantik.”
Aku cuma tersenyum menanggapi pujian bibi itu.
“Menurut bibi, dia suka padamu,” ucap bibi.
“Dia sudah punya pacar.”
“Pacarmu mana?”
“Belum ada.”
“Masa belum punya pacar?”
“Kalau tidak ada yang mau, bagaimana?” kataku setengah bergurau.
“Rimba, bibi kira sudah saatnya kau punya pacar dan mulai memikirkan untuk beristri. Pekerjaan sudah ada, apalagi yang kau tunggu? Kalau kau mau, bibi punya calon. Orangnya cantik, taat beribadah, dan masih ada hubungan keluarga dengan kita. Nanti bibi perkenalkan dengannya, ya?”
Agak terkejut juga aku mendapatkan tawaran seperti itu dari bibi.
“Hm, biar aku cari sendiri saja, Bi,” kataku menolak dengan halus tawaran bibi.
“Lihat dulu, baru berkomentar.”
Aku hanya diam mendengar ucapan bibi yang tampak begitu yakin bahwa aku akan tertarik dengan gadis pilihannya. Aku pikir, apa yang dia tawarkan itu merupakan bentuk nyata dari kepeduliannya padaku.
Lain lagi dengan Kuyung Iful. Dia kuanggap lebih gila, karena memberiku semangat untuk mendapatkan Tina. Menurutnya, Tina lebih cocok jadi istriku daripada istri Wijaya Kusuma. Dan, aku pasti mampu menaklukan Tina. Entah atas dasar apa Kuyung Iful punya pikiran liar semacam itu.
Anehnya, gara-gara ucapan Kuyung Iful itu, aku mulai memikirkan Tina. Apa betul dia ada hati padaku? Apa betul dia mencintaiku? Apa betul aku pantas menjadi kekasihnya? Aku tidak suka dengan pikiran-pikiran gila itu, aku takut hubungan pertemanan yang telah terjalin begitu baik selama ini menjadi rusak. Tina adalah bagian lain dari sejarah hidupku, dia punya tempat tersendiri di dasar hatiku.
Karena merasa tidak pantas membuatnya kecewa, aku coba mengejarnya dengan maksud untuk memberi alasan yang lebih tepat atau setidaknya membuatnya maklum. Tapi, aku terlambat. Tina sudah lebih dulu naik oplet. Aku tahu tujuannya, dia pasti ke Humas Pemerintah Provinsi, karena memang dia ditugaskan untuk meliput berita di sana. Tapi, aku tak mungkin menyusulnya ke sana, soalnya tadi Kuyung Iful memerintahkanku untuk meliput acara penyuluhan penyalahgunaan narkoba di sebuah hotel berbintang. Lagi pula, nanti sore kami masih bertemu di kantor.
Aku naik oplet menuju hotel tempat acara itu akan digelar. Aku agak bersemangat karena aktor yang diundang untuk memberikan ceramah merupakan salah satu aktor yang aktingnya aku sukai. Aku pikir, pengalamannya sebagai pengguna narkoba dan bagaimana usahanya untuk keluar dari jerat barang haram itu, tentu akan menarik untuk kutulis.
Waktu aku sampai, acara baru akan dimulai. Hampir semua bangku yang disediakan panitia sudah terisi oleh para peserta, yang sebagian besar mahasiswa dan anak-anak sekolah menengah atas. Di barisan depan, tampak beberapa pejabat dari pemerintah dan kepolisian sudah berada di tempatnya, termasuk juga Lukman Hakim. Kenapa pengusaha perkebunan itu muncul di acara ini?
“Hei, Kak Rimba!”
Putri Dewi menyongsong kehadiranku dengan senyum manisnya.
“Kabarnya kakak kecelakaan?” tanyanya sambil memperhatikan tubuhku. Barangkali, ingin melihat bekas luka yang diakibatkan oleh kecelakaan itu.
“Ya.”
“Tapi, tidak apa-apa kan?”
“Ya. Tapi, sempat beberapa hari dirawat di rumah sakit.”
“Maaf ya, tidak sempat besuk. Soalnya, aku baru tahu.”
“Tidak apa-apa.”
“Duduk, Kak.”
Dia mempersilakanku untuk duduk. Aku mengambil tempat di bangku bagian belakang, bergabung dengan beberapa wartawan dari media lain yang tampaknya sudah datang lebih dulu. Mereka menyambutku dengan pertanyaan standar yang biasa ditujukan kepada seseorang yang baru sembuh sakit, atau melihat-lihat bekas luka di tubuhku. Aku pikir, hal itu merupakan bentuk kepedulian mereka padaku.
Seorang teman wartawan bertanya kepada wartawan lain dekatku.
“Siapa cewek cantik itu ? Dari tadi, kulihat dia sibuk sekali,” tanyanya.
“Putri Dewi, anak Lukman Hakim,” jawab teman di sebelahnya.
“Lukman Hakim pengusaha perkebunan itu?”
“Ya.”
“Sibuk sekali dia.”
“Wajar saja. Dia kan ketua panitianya.”
Jadi Putri Dewi yang punya hajatan ini? Pantas saja Lukman Hakim hadir dalam acara ini. Aku merasa semangatku untuk meliput acara itu mengendur. Sejak pertemuan di kantornya beberapa waktu yang lalu, aku tidak lagi bersimpati kepadanya. Apa pun alasannya, aku menganggap dia telah merendahkan wartawan. Memang kata-katanya tidak arogan, tapi menyakitkan.
Mungkin anggapanku ini akan ditentang teman-teman lain, terutama beberapa teman wartawan di sampingku yang tengah berharap-harap akan mendapat amplop dari Lukman Hakim setelah meliput acara ini. Karena kudengar, seseorang di antara mereka telah mengkondisikan untuk wawancara dengan pengusaha perkebunan itu.
“Bosmu juga hadir tampaknya,” kata seorang wartawan dengan nada agak menyindir, ketika melihat Kuyung Iful muncul di ruangan itu.
Aku memperhatikan Kuyung Iful yang melangkah ke barisan depan dengan penuh percaya diri. Bersalaman dengan beberapa undangan, termasuk Lukman Hakim, lalu mengambil tempat duduk di sana.
Aku merasa sindiran itu mengena di hatiku. Ucapan Lukman Hakim, bahwa Kuyung Iful juga diam-diam menerima uang darinya seakan terngingang-ngiang kembali. Aku seakan-akan melihat pertanda kebenaran dari ucapan itu.
Acara jadi terasa hambar dan tidak menarik, walau kulihat para peserta cukup antusias mendengarkan pengalaman pribadi sang aktor terhadap keterlibatannya pada narkoba serta penderitaannya untuk dapat lepas dari jerat barang-barang haram itu. Cerita khas kaum seleberiti yang hidup dalam gemerlap cahaya kota besar, dengan gaya hidup modern yang cenderung memburu kepuasan dan kenikmatan duniawi.
Ponselku berdering. Kuyung Iful. Mau apa dia? Dengan malas, kuangkat ponselku.
“Ada apa, Yung?” tanyaku.
“Nga di mana?”
“Di belakang.”
“Di belakang mana?”
“Bangku belakang.”
“Nga buat dua berita. Satu acaranya, satunya lagi profil Lukman Hakim. Nanti kau wawancarai dia. Aku sudah bilang padanya.”
Aku tidak menjawab perintahnya, hanya mendengarkan saja sampai dia memutuskan sambungan telpon. Aku merasa apa yang dia perintahkan merupakan bentuk lain dari keterikatan pada apa yang pernah atau barangkali sering dia terima dari Lukman Hakim. Sadar atau pun tidak, secara moral dia telah terjajah. Telah menyerahkan sebagian kemerdekaannya kepada Lukman Hakim.
Strategi persahabatan yang dipakai Lukman Hakim itu, barangkali merupakan strategi yang sering digunakan seseorang yang merasa mempunyai kepentingan dengan seseorang yang mempunyai jabatan tertentu dalam sebuah sistem pemerintahan, atau seseorang yang memiliki kewenangan tertentu. Tanpa diminta, mereka memberikan suvenir atau sekadar kado ulang tahun. Dan pada saatnya, mereka akan meminta kembali pemberiannya itu melalui melalui proyek atau kemudahan fasilitas lainnya. Jadi, wajar saja kalau sampai sekarang nama Lukman Hakim selalu harum.
Ponselku berdering lagi. Aku pikir, pasti Kuyung Iful lagi. Kulihat si penelpon di layar ponselku. Ternyata, Wijaya Kusuma. Mau apa pula lelaki satu itu.
“Halo!” sapaku.
“Rim. Ini aku, Wijaya,” terdengar suara Wijaya Kusuma.
“Ya. Apa kabar?”
“Baik. Kau sendiri bagaimana? Sudah sembuh, ya?”
“Ya. Alhamdulillah.”
“Aku sekarang di rumah sakit. Maksudnya mau membesukmu. Ternyata, kau sudah keluar dua hari yang lalu.”
Aku jadi merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, dia telah memperlihatkan niat baiknya padaku belakangan ini.
“Ya, aku minta maaf karena tidak mengabarimu.”
“Tidak apa-apa. Kau sudah betul-betul sehat?”
“Ya.”
“Aku ingin bertemu. Kalau kau punya waktu?”
Mau apa dia? Pertanyaan itu sempat melintas di benakku, tetapi cepat kubuang. Aku pikir, ini kesempatan untuk pergi dari ruangan hotel ini.
“Kapan?” tanyaku.
“Kalau bisa sekarang?”
“Hm, oke!”
“Posisimu di mana? Biar aku jemput?”
Aku menginformasikan di mana dia bisa menemuiku. Sekitar tiga puluh menit kemudian, dia muncul. Aku meninggalkan ruangan itu sebelum acara selesai, duduk di samping Wijaya Kusuma yang mengemudikan mobil. Tidak peduli dengan aktor yang tengah memberi penjelasan kepada anak-anak muda di ruangan itu, betapa narkoba telah membuat karier dan rumah tangganya berantakan.
“Kita cari tempat makan siang yang suasananya enak. Bagaimana?” tanya Wijaya Kusuma.
“Terserah kau saja,” jawabku sekenanya.
Mobil Wijaya Kusuma melaju di antara kendaraan yang melintas di jalan raya Kota Palembang. Sesekali terjebak macet, karena sopir bus kota terkadang dengan sengaja memakan lebih dari separuh badan jalan untuk mendapatkan penumpang.
“Sopir-sopir bus ini tidak pernah mau disiplin,” gerutu Wijaya Kusuma. “Mereka seperti tidak tahu aturan.”
Aku tak menanggapinya, karena hal itu setiap hari kutemui di kota yang terkenal dengan pempek ini. Terkadang, mereka dengan sengaja memperlambat bus di dekat lampu merah, karena ada penumpang di sana. Anehnya, mereka tidak begitu takut dengan polisi lalu lintas yang berjaga di dalam pos dekat lampu merah.
Wijaya Kusuma ternyata mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah rumah makan yang menyajikan aneka masakan khas Palembang, yang menyediakan pondok-pondok untuk makan secara lesehan. Wijaya Kusuma tidak memilih tempat di pondok. Dia menuju ke sebuah meja, aku mengikutinya. Sambil mengambil tempat duduk, mataku berkeliaran memperhatikan suasana di ruangan yang agak terbuka itu.
Pandanganku terhenti pada sebuah meja yang letaknya agak di sudut. Seorang wanita cantik, dengan seorang lelaki setengah baya, tampak tengah menikmati hidangannya. Aku mengenal wanita itu. Dia wanita berambut pirang yang bertemu denganku di sebuah hotel beberapa waktu yang lalu. Wanita yang mirip sekali dengan Wulandari.
Rambutnya tidak lagi panjang dan pirang. Dan, lelaki setengah baya yang menemaninya sekarang, bukan lelaki setengah baya yang menemaninya di hotel waktu itu. Siapa sesungguhnya wanita itu?
Wijaya Kusuma mengikuti gerak mataku sebentar, lalu berkomentar.
“Dari tadi, kulihat kau memperhatikan cewek di sudut itu?”
Aku merasa terjebak dan malu.
“Hm, rasanya aku pernah bertemu dengannya. Hanya saja rambutnya waktu itu… pirang,” ujarku.
“Begitulah dia adanya. Penampilannya memang selalu berubah-ubah.”
“Siapa dia?”
“Namanya Lestari.”
“Lestari?”
“Ya, Lestari.”
Aku ingat, Wijaya Kusuma pernah menginformasikan hal itu saat Vespa-ku mogok di pelataran parkir hotel, sebelum kejadian naas yang menimpaku.
Aku melirik wanita itu lagi.
“Penasaran sekali tampaknya?” sindir Wijaya Kusuma
“Wartawan harus selalu begitu,” jawabku.
Wijaya Kusuma tersenyum singkat.
“Kau yakin namanya Lestari?” tanyaku penasaran.
“Ya, kenapa?”
Aku menyimpan keinginan untuk mengatakan kepada Wijaya Kusuma, bahwa wanita itu mirip sekali dengan Wulandari.
“Tidak, tidak apa-apa,” jawabku kemudian.
“Dia seorang wanita panggilan kelas atas,” kata Wijaya Kusuma.
Aku sudah menduganya.
“Di kalangan lelaki hidung belang Jakarta, dia cukup populer,” lanjut Wijaya Kusuma.
“Jakarta?”
“Ya, entah kenapa dia di kota ini. Apa karena pasarnya mulai sepi, atau karena apa, aku kurang tahu.”
“Tampak kau tahu banyak tentang wanita itu.”
“Seorang temanku pernah mengenalkanku kepadanya. Dia banyak bercerita tentang wanita itu.”
“Bagaimana cara menghubunginya?”
“Kau tertarik?”
“Ya.”
Wijaya Kusuma tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kenapa kau tertawa?” tanyaku agak heran.
“Lelaki memang buaya semua!” jawabnya.
Kami tertawa lepas.
Bersamaan dengan itu, pesanan kami tiba di meja.
“Sekarang kita makan dulu. Sesudah makan, baru kita bahas lagi,” katanya sambil menyambut hidangan.
Aku menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arah meja wanita itu menyantap hidangannya, tetapi dia sudah tidak di sana. Licin betul wanita itu, batinku.
Sambil makan siang, Wijaya Kusuma mengarahkan pembicaraan pada Tina, seolah hendak menyelidiki hubunganku dengan wanita ini. Kembali aku meyakinkannya bahwa antara aku dengan Tina tidak ada hubungan percintaan. Yang ada, hubungan persahabatan semata.
Wijaya Kusuma mengutarakan isi hatinya. Betapa Tina telah membuatnya merasa konyol. Hal itu pula yang memicunya, sehingga nekat mencoba hendak membayarku dengan maksud agar aku menjauhi Tina.
“Aku betul-betul menyesal dan malu setelah kejadian itu,” ucapnya.
“Aku juga minta maaf, kalau harus bersikap kasar padamu,” kataku.
“Aku memahami dan menghargai sikapmu.”
“Terima kasih.”
Dia juga mengungkapkan rasa penasarannya pada Tina. Menurutnya, sudah cukup banyak dia menjalin cinta dengan wanita, tetapi tidak sesulit menundukkan hati Tina.
“Kalau soal cantik, banyak wanita yang jauh lebih cantik dari dia, yang akan dengan mudah kudapatkan. Tapi, inilah anehnya, kenapa aku begitu gila padanya? Semakin aku mencoba mengusir perasaan itu, aku merasa semakin tersiksa. Aku merasa, aku kena batunya sekarang,” kata Wijaya Kusuma.
“Tapi, kau belum menyerah kan?” pancingku.
“Aku bukan tipe lelaki yang mudah menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan,” jawabnya mantap.
“Aku suka hal itu, dan berharap kau mendapatkannya,” ucapku.
Selesai makan siang, Wijaya Kusuma mengantarku pulang. Mobilnya kuminta untuk berhenti di depan sebuah lorong yang menuju rumahku, karena mobil tidak mungkin masuk ke dalam lorong kecil itu.
“Rumahmu yang mana?” tanya Wijaya Kusuma.
“Rumahku masuk lorong ini. Sekitar tiga ratus meter dari sini,” jawabku. ”Kalau mau mampir, mobil diparkir saja di sini, kita jalan ke dalam.”
“Aku rasa lain kali saja, soalnya aku masih ada kerja,” tolaknya
“Tidak apa-apa, tapi kau masih ada janji yang belum kau penuhi,” ucapku.
“Janji?”
“Wanita itu tadi.”
“Kau sungguh-sungguh?”
“Ya.”
“Tapi, tarifnya lumayan tinggi.”
“Tidak apa.”
Wijaya Kusuma mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
“Kau catat nomor hp ini,” katanya.
Aku mencatatnya.
“Kau hubungi nomor itu. Kalau dia tanya tahu dari mana, bilang dari Wij. Nanti dia akan menghubungi wanita itu. Kalau kau bernasib baik, wanita itu yang akan menghubungimu,” kata Wijaya Kusuma.
“Terima kasih,” ucapku sambil melangkah keluar dari pintu mobilnya.
“Selamat bersenang-senang!” kata Wijaya Kusuma sambil melambaikan tangan dan memacu mobilnya pergi dari situ.
Aku memandangi nomor ponsel itu, sembari mengingat-ingat petunjuk Wijaya Kusuma. Ternyata, sulit juga menghubungi wanita itu. Muncul pertanyaan di benakku, berapa besar uang yang harus kubuang untuk memuaskan rasa penasaranku?
Setelah itu, aku melangkah memasuki lorong sempit yang berukuran lebih kurang satu setengah meter itu. Beberapa orang yang kukenal menyapaku dan menanyakan keadaanku, karena sebagian besar orang di dekat tempatku tinggal itu mengetahui musibah yang kualami.
Sesampai di rumah, kucoba menghubungi nomor ponsel yang diberikan Wijaya Kusuma. Aku pikir, aku tidak perlu menunda-nunda. Tetapi, ponselnya tak bisa dihubungi. Kucoba berkali-kali, tetap saja tidak bisa dihubungi. Aku kira, ponsel itu sedang tidak diaktifkannya. Kuputuskan untuk mengirimkan SMS, dengan harapan begitu ponselnya diaktifkan, beritaku akan sampai di ponselnya.
Aku Herman. Teman Wij. Butuh Lestari. Begitulah bunyi pesanku. Herman adalah nama samaranku, yang terlintas begitu saja di benak ketika hendak menulis pesan itu. Lalu kukirimkan. Aku tidak tahu apakah benar atau salah kalimat yang kutulis itu. Yang penting, pesanku sudah terkirim.
Beberapa saat setelah itu, ponselku berdering. Terasa dadaku berdebar. Pikirku, Lestari menghubungiku. Aku menyiapkan diri untuk menjadi Herman, pengusaha muda yang sukses. Sekaranglah saatnya bakat aktingku yang telah lama tidak kulatih kuasah kembali. Kuangkat ponselku, kulihat pengirimnya. Aku kecewa, karena yang menghubungiku Kuyung Iful.
Aku memutuskan untuk tidak menerima telponnya. Aku sedang tidak ingin berkomunikasi dengannya. Kupandangi telpon seluler itu sebentar, lalu kuletakkan begitu saja di atas meja.
Alat komunikasi modern itu terkadang membuat kita membenci teknologi, karena telah melahirkan beban baru dalam peradaban manusia. Selagi manusia membutuhkan alat itu, maka tanpa dia sadari kebebasannya telah terbatasi. Kita tak lagi punya tempat yang nyaman untuk menikmati kesendirian, ada desakan kepentingan yang terkadang tak cukup penting untuk sekadar kita pedulikan.
Kuyung Iful menghubungiku lagi. Kubiarkan dering ponsel itu sampai berhenti sendiri. Dia mencoba lagi, tetap tak kuangkat. Aku sengaja melakukan hal itu biar dia marah besar atau memaki-maki.
Kalau aku datang ke kantor, sudah dapat dipastikan bahwa suaranya sudah sampai ke telingaku sebelum bayanganku sampai. Tetapi, dia harus menunggu sampai besok, karena aku sudah memutuskan untuk tidak pulang lagi ke kantor hari ini. Aku tidak akan menulis berita apa pun hari ini, khususnya berita tentang anak pengusaha perkebunan itu, apalagi berita tentang pengusaha perkebunan itu.
Mungkin perbuatanku ini akan mendapat sanksi, karena sudah dengan sengaja melalaikan perintah dan tugas. Aku tidak peduli!


IDEALISME ITU

Keesokan harinya, aku putuskan untuk tidak masuk kerja. Hal ini kulakukan untuk menjaga nama baik Kuyung Iful, agar dia punya alasan untuk disampaikan kepada Pimpinan Redaksi atau teman-teman lain, bahwa aku tidak menulis berita tentang penyuluhan narkoba itu karena kondisi kesehatanku belum begitu pulih. Bukan karena aku menolak perintah Kuyung Iful atau alasan-alasan lain yang dapat menimbulkan kecurigaan. Dengan begitu, kalaupun kemudian Kuyung Iful sendiri yang menulis berita itu, teman-teman lain pasti akan maklum.
Berita itu ternyata dimuat di halaman depan, lengkap dengan foto Putri Dewi selaku ketua panitia, dan juga foto aktor yang memberikan penyuluhan. Di halaman tengah, ada pula berita tentang Lukman Hakim, pengusaha sukses yang punya kepedulian tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba. Dari kode berita, aku tahu bahwa Kuyung Iful yang menulis kedua berita itu.
Setelah melihat-lihat sebentar kedua berita itu di kios koran kaki lima, aku naik oplet menuju bengkel, tempat Vespa-ku diperbaiki. Entah separah apa kerusakan pada motorku akibat kecelakaan itu. Aku lebih suka menyebut kejadian itu sebagai kecelakaan daripada tabrak lari. Dengan begitu, aku dapat mengurangi dendam terhadap orang yang menabrakku, yang sampai sekarang belum diketahui siapa orangnya.
Aku membutuhkan Vespa-ku itu. Separah apa pun rusaknya, akan tetap kuperbaiki karena cuma itu kendaraan yang kumiliki. Tanpa kendaraan, langkahku terasa agak terhambat. Mau ke mana-mana harus naik oplet atau becak, atau jalan kaki.
Sesampai di bengkel, kulihat Vespa-ku sudah selesai diperbaiki, sudah siap untuk dibawa keliling-keliling lagi.
“Berapa biayanya?” tanyaku kepada pemilik bengkel itu.
“Sudah, sudah dibayar,” jawab pemilik bengkel itu.
“Sudah dibayar bagaimana?” tanyaku heran.
“Sudah ada orang yang membayar semua biaya perbaikan.”
Alisku berkerut.
“Siapa yang membayarnya?”
“Kami tidak tahu siapa orang itu. Dia hanya membayar semua biaya perbaikan, lalu pergi,” katanya.
“Masih ingat bagaimana bentuk atau rupa orangnya?
Aku mencoba mencari tahu. Pikirku, dengan begitu, aku akan tahu siapa orang yang telah membayar biaya perbaikan kendaraanku ini.
“Waduh! Aku sudah tidak begitu ingat, Pak,” jawab pemilik bengkel itu, entah jujur atau berbohong.
“Kapan dia membayarnya?”
“Dua hari yang lalu.”
“Berapa biayanya?”
“Lima ratus tiga puluh ribu rupiah.”
“Ada pesan darinya?”
“Ya. Katanya, Vespa ini akan diambil oleh pemiliknya. Namanya Rimba. Karena alasan itu pula, aku tadi minta diperlihatkan KTP dan STNK Vespa ini.”
Aku mereka-reka orang yang membayar biaya perbaikan Vespa-ku. Pasti orang itu punya alasan-alasan tertentu sehingga dia mau mengeluarkan uang dari sakunya. Tapi, siapa dia?
“Memangnya bukan bapak yang menyuruh orang itu membayar biaya perbaikan Vespa ini?” tanya pemilik bengkel.
“Kalau aku yang menyuruhnya, mana mungkin aku akan banyak tanya seperti ini.”
“Artinya, biaya perbaikan Vespa ini dibayari seseorang.”
“Justru itu aku ingin tahu, siapa orang itu.”
“Mungkin dia punya utang budi dengan Bapak.”
Utang budi? Siapa yang telah berutang budi padaku? Setahuku, justru dirikulah yang banyak berutang budi kepada orang lain.
Ya, sudahlah! Aku anggap saja sebagai rezeki. Bahwa Tuhan telah membukakan hatinya untuk menolong sesama manusia yang tengah dilanda musibah. Walaupun sebenarnya, sikap semacam itu di zaman sekarang ini sudah teramat langka, apalagi dalam kehidupan di kota besar. Tolong menolong secara ikhlas hanya ada dalam cerita masa lalu nenek moyang kita. Sekarang, semua harus ada hitungannya. Siapa dan untuk kepentingan apa menolong?
Vespa kubawa meluncur ke rumah pamanku, karena tadi pagi paman memintaku untuk datang ke rumahnya. Entah untuk apa, aku tidak menanyakannya. Aku takut, pertanyaanku itu dianggapnya sebagai sebuah kesombongan. Sebagai paman, sebenarnya dia telah mencoba sebaik mungkin untuk menggantikan posisi bapakku. Hal itu baru kusadari akhir-akhir ini.
Ketika Vespa-ku sampai di depan rumah paman, Nuraini dan Fitri yang berada di warung, berteriak memanggil ibunya, memberi kabar kedatanganku. Aku memberikan plastik berisi apel dan jeruk yang kubeli di toko buah. Mereka tampak senang sekali menerimanya. Bibi muncul dan menghampiriku dengan wajah cerah.
“Ayo, masuk! Ada tamu istimewa!” sambutnya sambil setengah menyeretku ke rumahnya.
“Tamu istimewa?” tanyaku bingung.
“Ya. Masuklah dulu!” kata bibi lagi.
Aku baru paham dengan sikap bibi itu, setelah langkahku sampai ke ruang tamu rumahnya. Di salah satu kursi tamu, tampak seorang gadis berjilbab tengah berbicara dengan paman. Nurhasanah.
“Nah, ini dia Rimba!” sambut paman.
Selintas, dia melirik kehadiranku. Aku mengembangkan senyum padanya. Mukanya bersemu merah.
“Apa kabar, Nur?” sapaku sambil mengambil tempat.
“Baik, Yung,” jawabnya.
“Kalian ngobrol lah dulu, ya. Paman ada kerja sebentar,” kata paman sambil melangkah keluar.
“Bibi mau masak dulu,” timpal Bibi, untuk kemudian melangkah masuk ke bagian belakang rumahnya.
Aku bingung melihat sikap paman dan bibi yang tampak begitu kompak untuk sama-sama meninggalkan kami berdua di ruangan itu. Jangan-jangan, mereka telah merencanakan hal ini, batinku. Begitu kuatnya keinginan mereka untuk menjodohkanku dengan Nurhasanah.
Kebisuan sempat singgah beberapa saat. Aku sempat bingung mau ngomong apa. Nurhasanah sendiri lebih banyak menunduk. Aku berusaha mencari-cari kata untuk memancingnya berbicara agar suasana tidak kaku. Sebagai wartawan, tentu tidak begitu sulit bagiku melontarkan pertanyaan-pertanyaan agar terjalin komunikasi dua arah. Dia ternyata bercita-cita untuk menjadi guru.
“Kenapa memilih fakultas keguruan?”
“Bapak menginginkan agar aku menjadi guru, Yung.”
“Jadi, bukan karena keinginanmu sendiri?”
“Bapak bilang agar lebih gampang mendapatkan pekerjaan. Di samping itu, menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Ternyata bapak benar, setidaknya sekarang aku sudah bekerja sebagai guru honor.”
“Cita-citamu sendiri sebenarnya apa?”
“Ingin menjadi guru yang baik.”
“Apa ada guru yang tidak baik?”
“Ya, mungkin saja.”
Kami terlibat pembicaraan sekitar pekerjaan. Dari ucapan-ucapannya, aku menyimpulkan bahwa dia gadis yang cerdas.
Dia juga menanyakan pekerjaanku. Aku menjelaskan apa adanya, bagaimana sesungguhnya pekerjaan seorang wartawan itu. Kesulitan-kesulitan yang sering ditemui di lapangan, serta waktu kami yang banyak tersita untuk pekerjaan.
“Kuyung dulu memang bercita-cita untuk menjadi wartawan?” tanyanya.
“Tidak.”
“Cita-cita Kuyung apa?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Ya, tidak ada.”
“Kenapa?”
Aku memaparkan kepadanya sejarah hidupku. Dengan begitu, aku berharap dia memaklumi kenapa aku tidak punya cita-cita. Tampaknya, sedikit-sedikit dia sudah tahu hal itu. Bibi dan paman sudah banyak bercerita padanya tentang aku.
Bibi dan paman juga memaksaku untuk mengantarnya pulang.
“Biar tahu rumahnya,” kata bibi.
Aku tentu tidak mungkin menolaknya, apalagi tampaknya Nurhasanah tidak keberatan kuantar pakai Vespa.
Nuraini dan Fitri bertepuk gembira ketika Nurhasanah duduk di jok belakang Vespa-ku. Dua saudara sepupuku itu tampaknya turut mendukung rencana bapak dan ibunya. Mereka semua ingin agar aku segera memiliki istri.
Nurhasanah mengontrak sebuah bedeng yang letaknya tidak jauh dari kampus tempatnya kuliah. Dengan begitu, dia tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk sampai ke kampusnya. Cukup berjalan kaki. Nurhasanah tinggal bersama teman satu kampusnya, Fadilah. Mereka menanggung biaya sewa kontrak bersama-sama, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk keperluan kontrak rumah lebih ringan.
Aku sempat mampir sebentar dan diperkenalkannya dengan Fadilah yang juga berasal dari dusunku. Fadilah juga mengenakan jilbab, tetapi wajahnya biasa-biasa saja. Hanya saja, dia lebih berani dan terbuka.
“Kalau ada waktu, main-main ke sini, Yung,” kata Fadilah manakala aku pamit untuk pulang.
“Ya,” jawabku singkat.
Nurhasanah dan Fadilah mengantar langkahku sampai ke ambang pintu.
“Terima kasih, ya Yung,” katanya.
“Ya.”
“Hati-hati!” lanjutnya.
Aku hanya mengangguk sambil melepaskan senyum, lalu kutancap gas Vespa menuju rumah kontrakanku.
Kuyung Iful sudah berdiri menyambut kehadiranku di depan pintu rumah kontrakanku. Agak terkejut juga aku melihat keberadaanya. Aku pikir, dia pasti akan melampiaskan amarah. Seperti yang telah kuduga, suaranya telah sampai ke telingaku sebelum mesin Vespa-ku mati.
“Nga masih sakit? Atau, kabel di otak nga ada yang putus akibat kecelakaan itu?” ucapnya seperti tak mau menyia-nyiakan waktu. “Kalau kabel di otak nga ada yang sudah putus, sebaiknya nga masuk rumah sakit jiwa.”
Aku pura-pura tidak mendengar ungkapan kemarahannya. Begitulah adanya Kuyung Iful.
“Sudah lama, Yung?” tanyaku sambil melangkah ke arah pintu.
“Ui, nga Rim! Kalau bukan sudah berteman lama, pastilah sudah kuusulkan untuk dipecat. Nga tu mau membuatku malu!”
“Sebaiknya masuk dulu, Yung. Biar Kuyung bisa lebih leluasa memarahiku!” kataku sambil membuka pintu.
Aku masuk, terus menuju kamarku. Aku pikir, sekaranglah saatnya untuk memperdengarkan rekaman pembicaraanku dengan Lukman Hakim beberapa waktu yang lalu. Kuambil kaset rekaman itu. Kumasukan tape. Kudengar beberapa saat untuk memastikan bahwa aku telah memasukkan kaset yang betul. Lalu, kubawa tape itu keluar kamar.
Kuyung Iful tampak sudah duduk di salah satu kursi di ruang tamu dengan gaya duduk seenaknya. Di negeri ini, di instansi mana pun, yang namanya atasan selalu memperlihatkan sikap arogan kepada anak buah untuk menunjukkan wibawanya.
“Mau minum apa, Yung? Kopi?” tanyaku masih mencoba berbasa-basi.
“Aku datang bukan buat ngopi. Aku sengaja datang ke tempat nga ini mau bertanya secara langsung pada nga. Kenapa nga tidak menulis berita kemarin itu? Apa nga memang benar belum sehat atau nga sengaja? Lalu, kenapa pula telpon dariku tidak nga angkat? Atau, nga memang sudah bosan bekerja sebagai wartawan?” jawabnya dengan rentetan pertanyaan.
“Yang mana dulu yang harus kujawab?”
“Terserah nga!”
Aku diam beberapa saat, mencari kata yang baik untuk memulai.
“Pertama-tama yang ingin kusampaikan pada Kuyung, bahwa secara jasmani aku sehat. Mungkin batinku yang agak sakit. Karena itu pula, aku tidak menulis berita itu, juga tidak mengangkat telpon Kuyung, dan tidak masuk kerja hari ini,” kataku.
“Berarti nga dengan sengaja menolak untuk menulis berita itu?”
“Ya.”
“Hebat! Sekarang nga sudah berani melawan, sudah punya kekuatan tampaknya.”
“Aku hanya berusaha jujur.”
“Oh, begitu? Hebat! Jadi, nga tidak mengindahkan perintahku karena batinmu sakit. Sakit oleh karena perintahku, begitu? Harusnya nga itu tahu diri, Rimba ! Siapa aku dan siapa nga!”
Dia mulai mengeluarkan taji tampaknya, bahwa dia sebagai redaktur dan aku harus selalu mematuhi perintahnya. Dia sudah terjangkit penyakit kaum feodal dan aku harus melawannya. Aku harus mematahkan tajinya yang rapuh itu.
“Yung, aku tidak akan pernah melupakan bahwa aku bisa menjadi wartawan karena Kuyung. Kuyung juga yang mengajariku bagaimana seharusnya menjadi wartawan itu. Tetapi, hal itu bukan berarti bahwa aku tidak boleh mempunyai sikap terhadap kecurangan yang terjadi di belakangku,” kataku mulai merintis arah pembicaraan.
“Siapa yang curang?”
“Yung, aku tahu semuanya.”
“Tahu apa?”
“Kuyung mengajariku untuk tidak menerima uang dari narasumber dengan dalih apa pun, tetapi diam-diam Kuyung menerima amplop dari Lukman Hakim.“
“Nga jangan kurang ajar! Aku menyuruhmu menulis tentang dia bukan karena dia telah memberiku uang atau apa. Dia memang pantas untuk ditulis!” suara Kuyung Iful mulai agak meninggi. Tersinggung dia tampaknya.
“Kalau memang tidak, besok aku akan melaporkan Lukman Hakim ke kepolisian dengan tuduhan mencemarkan nama baik wartawan. Buktinya ini,” kataku sambil meletakkan tape di atas meja dan menyetelnya.
Aku membesarkan volume rekaman itu. Terdengar suara Lukman Hakim tengah berdialog denganku.. Kuyung Iful tampak kaget mendengar apa yang diucapkan Lukman Hakim. Wajahnya tampak berubah, merah.
“Maksud nga apa?” ucap Kuyung Iful setelah mendengar semua rekaman pembicaraan itu. “Mau menyebarkan isi rekaman ini pada semua seorang agar semua orang tahu bahwa aku telah menerima uang dari Lukman Hakim?”
“Aku belum segila itu. Aku masih waras. Lagipula, aku masih ragu dengan kebenaran ucapan Lukman Hakim itu.”
“Lalu, nga mau apa?” uanyanya dengan nada menantang.
“Mau tahu jawaban Kuyung, terhadap ucapan Lukman Hakim. Karena, aku tidak yakin seorang yang kukenal idealis seperti Kuyung Iful mau melakukan hal itu. Sebagai orang yang selalu mengagumimu, aku tersinggung dengan ucapan Lukman Hakim itu. Aku ingin memberinya pelajaran.”
“Memberinya pelajaran?”
“Ya, biar dia menyadari bahwa uang bukanlah segala-galanya. Dan, tidak semua orang bisa dibeli dengan uang.”
Kuyung Iful tampak gelisah.
“Aku yakin dia berbohong. Dia hanya mencoba mempengaruhiku dengan cara menjelek-jelekkan seorang idealis yang masih mempercayai kebenaran nurani. Hal itu tidak boleh dibiarkan, Yung! Siapa pun dia!”
“Lukman Hakim benar,” kata Kuyung Iful setelah menimbang beberapa saat. Suaranya bergetar. Berat sekali dia mengatakannya.
“Kuyung pasti tengah bercanda.”
“Tidak, dia benar.”
Lurus kutatap wajah Kuyung Iful, yang tampak berubah pucat dan tak berdaya.
“Aku memang menerima uang darinya,” katanya tersedak.
“Karena itukah Kuyung memaksaku untuk menulis berita tentang penyuluhan narkoba itu? Bahkan, mengancam untuk memecatku?” tanyaku dingin.
“Rimba. Yang terima uang darinya bukan hanya aku, tapi juga…,” dia tersedak, membatalkan niatnya untuk membuka siapa-siapa saja yang diketahuinya telah menerima uang dari Lukman Hakim.
“Tapi juga siapa?” desakku.
Kuyung Iful menghela napas, mencoba mengatur emosinya.
“Tanpa nga sadari, nga juga menerimanya.”
“Aku? Dia bilang begitu kepada Kuyung?”
“Tidak Dia tidak bilang begitu. Dia justru segan kepada nga. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk memberi sekadar ucapan terima kasih kepada nga.”
“Ucapan terima kasih apa?”
Kuyung Iful menghela napas sarat, lalu berdiri. Mondar-mandir dengan gelisah beberapa saat. Kuperhatikan dia, kutunggu kata-katanya.
“Ada beberapa kali aku memberi nga bonus. Uang itu sebenarnya bukan dari perusahaan, melainkan dari Lukman Hakim. Termasuk, seluruh biaya perbaikan Vespa nga,” ucapnya beberapa saat kemudian. Nadanya terdengar agak berat.
Aku betul-betul terkejut mendengar ucapan Kuyung Iful itu. Ternyata, Lukman Hakim yang membayarnya.
“Gila! Kau sudah benar-benar gila, Yung!” ucapku setengah berteriak.
Dia diam.
“Kenapa hal itu Kuyung lakukan padaku? Kenapa?” tanyaku memprotesnya.
“Maafkan aku,” katanya dengan kepala tertunduk. “Aku melakukan hal itu dengan niat baik. Tapi aku yakin, kalau nga tahu, nga pasti akan menolaknya. Dan, penilaian nga padaku pasti akan berubah. Karena itulah, aku tidak mengatakan yang sebenarnya.”
“Gila!Gila!”
Aku berteriak. Melampiaskan kekecewaan dan kekesalanku pada apa yang telah dilakukan Kuyung Iful.
“Kau ternyata yang tidak waras!” kataku lagi. ”Kau merendahkan aku!”
Kuyung Iful tertunduk. Aku mencoba menguasai diri dari amarah yang berlebihan.
“Maafkan aku, Rimba. Maafkan aku!” ucapnya kemudian. “Aku tahu ini pukulan buat nga. Sebuah kenyataan yang mengecewakan. Tetapi, begitulah keadaan yang sebenarnya terjadi, bahwa orang idealis yang nga jadikan panutan itu, ternyata hanyalah kambing yang tak kuat menahan godaan.”
“Kenapa, Yung?”
“Karena ternyata, idealisme hanya cukup memberi kepuasan pada batinku, tapi tidak pada istri dan anak-anakku. Setiap hari aku pergi pagi dan pulang malam, setiap hari pula aku melihat orang-orang yang sangat kucintai, anak dan istriku, menggambar kekecewaan mereka padaku di dapur, di ruang tamu, di kamar, dan bahkan di dalam mimpi-mimpi mereka. Setiap hari pula, aku menghapus gambar-gambar itu dengan cara menggambar kembali gambar-gambar itu dengan idealismeku. Mereka bingung, karena gambar-gambarku abstrak dan tidak nyata, tidak bisa mereka mengerti.”
Dia berhenti beberapa saat, seperti tengah menahan emosi jiwanya. Kulihat ada air di sudut matanya. Air mata kepura-puraan yang tidak perlu untuk dikasihani.
“Aku sadar apa yang kulakukan itu salah, walau tidak sekali pun aku meminta. Dia memberiku sebagai ucapan terima kasih. Dan, bukan hanya aku yang mau menerimanya secara diam-diam. Hal itu memang menyakitkan, Rim. Karena ternyata, kita berada di lingkungan hipokrit!”
“Apakah hal itu menjadi alasan untuk ikut-ikutan menjadi hipokrit?”
“Aku ini manusia, suami, bapak dari anak-anakku yang selalu ingin membahagiakan mereka. Apakah pantas aku bahagia, kalau anak istriku tidak pernah bahagia dengan keadaan yang ada?”
“Apakah sekarang Kuyung bahagia?” tanyaku.
“Ketika harus mengkhianati hati nurani, batinku menangis. Tetapi, manakala anak dan istriku tersenyum ketika kuajak makan di restoran atau belanja di mal, duduk bersanding dengan teman-teman wartawan lain yang telah lebih dulu belanja dan makan di sana, aku merasa berharga sebagai orangtua karena dapat membuat mereka bahagia,” katanya. Nadanya masih tercekat.
“Walaupun uang yang diberikan kepada anak istri itu diperoleh dari hasil perbuatan tidak terpuji?”
“Nga belum pernah merasakan betapa pilunya hati mendengar keluhan anak dan istri. Nga belum pernah menangis diam-diam melihat anak nga menjahit sepatunya berulang-ulang, sementara temannya, anak temanku yang juga bekerja sebagai wartawan, setiap bulan ganti sepatu. Nga belum pernah melihat anak istri nga makan sambil meneteskan air mata, karena hampir setiap hari makan kangkung!”
Dia menangis tersedu-sedu. Tak mampu menahan gejolak di hatinya. Aku menangis diam-diam, karena mencatat kematian seorang lelaki idealis. Tetapi, aku mencoba memakluminya karena idealisme selalu menjadi dilema manakala kepentingan yang lebih realistis muncul ke permukaan.
Kuyung Iful mungkin bukan orang satu-satunya, yang dengan terpaksa menghapus pelan-pelan kata “idealisme” dari batinnya, karena desakan orang-orang yang dicintainya.
Ada banyak sekali contoh kasus yang tidak sempat diketahui oleh media atau masyarakat umum, yang tumbuh secara diam-diam di sekitar kita, yang tidak pernah kita pedulikan atau selalu dan selalu kita maklumi sebagai sebuah perbuatan manusiawi.
Aku mencoba menakar diriku sendiri diam-diam.


SEBUAH KENANGAN

HUBUNGI AKU SEKARANG, KALAU MEMANG INGIN BERCINTA DENGANKU. LESTARI.
Demikian bunyi sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku. Nomor pengirimnya tak kukenal. Tapi, karena ada nama di ujung pesan itu, pasti dia juga orang yang mengirimkan pesan itu.
Lestari? Ah! Wanita yang kucurigai sebagai Wulandari itu memberi isyarat kepadaku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Segera menghubunginya, lalu membuat janji untuk bertemu? Tidak! Aku berpikir dan menimbang-nimbang, apa yang harus kulakukan. Aku tidak boleh gegabah kalau tidak mau gagal.
Karena aku telah menyamar sebagai Herman, aku harus mempersiapkan diri untuk mengubah diriku sebagai Herman. Seorang pengusaha sukses. Dia sudah pasti akan menolak kalau kusebutkan siapa aku sebenarnya.
Lalu, aku memutuskan untuk melatih suaraku terlebih dahulu serta memikirkan kata-kata yang harus kuucapkan. Aku harus dapat meyakinkan dirinya lewat suaraku, bahwa aku seorang pengusaha. Setelah beberapa saat berlatih dan merasa yakin sudah siap, dengan agak gugup kuhubungi dia.
“Halo!”
Terdengar suara lembut setengah mendesah, tipikal suara wanita perayu.
“Halo, selamat malam!” balasku.
“Malam.”
“Saya Herman.”
“Oh, Pak Herman! Apa kabar?” desahnya manja.
“Baik.”
“Lagi sibuk?”
“Ya, begitulah.”
“Kapan punya waktu untukku?”
“Hm, bagusnya kapan?”
“Kok tanya ke aku?”
“Hm, bagaimana kalau lusa?”
“Lusa?”
“Ya, soalnya besok saya harus ke Bandung,” ucapku mulai berbohong.
“Bandung?”
“Ya, ada urusan sedikit di sana.”
“Yang sedikit itu memang yang perlu diurus,” katanya mulai menggoda.
“Mungkin karena yang sedikit itu pula, saya perlu kamu untuk menemani. Wij bilang, kamu pandai mengendurkan semua ketegangan.”
“Juga pandai menegangkan semua yang kendur hehehe,” ucapnya sambil tertawa genit.
“Waduh! Saya jadi tidak sabaran.”
“Masa?”
“Sungguh!”
Dia tertawa senang, merasa telah berhasil menggodaku.
“Besok ya saya hubungi lagi?” kataku, karena mulai merasa jengah dengan ucapan-ucapannya.
“Oke,” jawabnya.
Aku memutuskan hubungan. Lalu tercenung sendiri, apa sebenarnya yang sedang akan aku lakukan ini? Apa memang harus begini cara untuk menuntaskan rasa penasaran di hati? Bagaimana kalau ternyata dia bukan Wulandari? Alangkah besar biaya yang harus kukeluarkan untuk sebuah percintaan singkat begitu? Aku jadi bingung sendiri.
Ketukan di pintu yang agak kuat mengejutkanku dan membuyarkan pikiran-pikiran itu. Aku melangkah ke arah pintu dan membuka pintu. Abu Bakar berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.
“Assalamualaikum!” ucapnya memberi salam.
“Wa alaikum salam,” jawabku.
“Ente harus baca berita ini,” katanya sambil menunjukan sebuah berita yang dimuat di koran lokal itu kepadaku.
“Masuklah dulu,” kataku.
“Ente baca berita ini!” desaknya.
Aku mengambil koran itu dari tangannya dan duduk di sebuah kursi di ruang tamu rumah kontrakanku. Abu Bakar sendiri tampak mondar-mandir dengan gelisah. Kubiarkan saja. Aku membaca berita yang dimaksudkan Abu Bakar, berita tentang bantuan dari pemerintah pusat terhadap Kampung Kapitan sebesar dua miliar rupiah. Biaya itu akan digunakan untuk pembangunan taman dan ruang terbuka di halaman rumah Kapitan, pembuat jalan akses dari darat dan sungai, serta pembangunan dermaga labuh kapal.
Kampung Kapitan sendiri memiliki luas sekitar 20 hektare. Letaknya berbatas dengan Sungai Musi di utara dan Jl. K.H. Azhari di selatan. Bagian barat berbatasan dengan Sungai Kelenteng, yang kini sudah mati; sedangkan bagian timurnya, berbatasan dengan Sungai Kedemangan.
Menurut data yang kudapatkan dari temanku yang tahu banyak sejarah Palembang, Kampung Kapitan dulunya bernama Kampung Kedemangan, letaknya berada di tepi Sungai Kedemangan. Nama kampung Kapitan berasal nama Kapitan Coa Ham Hin.
Coa Ham Hin merupakan anak Mayor Coa Ci Kuan atau dikenal juga dengan sebutan Mayor Putih, karena memiliki rambut dan alis mata putih. Coa Ci Kuan diangkat dan diberi gelar Mayor oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pemimpin kaum pada tahun 1830. Rumah kediaman sekaligus kantor Kapitan inilah yang sekarang dinilai sebagai benda cagar budaya dan menjadi identitas kampong itu.
Pada tahun 1855, posisi Mayor Coa Ci Kuan digantikan oleh anaknya, Coa Ham Hin yang diberi gelar Kapitan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sebagai pemimpin kaum, Kapitan Coa Ham Hin menempati rumah yang sebelumnya diperuntukan untuk bapaknya, Coa Ci Kuan.
Rumah peninggalan Kapitan Coa Ham Hin itu sampai sekarang masih ada dan ditempati oleh keturunan kedua belasnya, Kohar. Orang-orang kemudian menyebutnya sebagai “rumah Kapitan”. Awalnya rumah itu berukuran 22 meter kali 25 meter, tapi kemudian ahli warisnya membuat bangunan tambahan di bagian belakang sehingga panjangnya menjadi 50 meter dan lebarnya menjadi 30 meter.
Menurut cerita, leluhur Coa Ci Kuan datang ke Palembang pada masa peralihan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, sekitar abad XVI-XVII. Kampung Kapitan menjadi semacam penanda terhadap keberadaan komunitas Tionghoa di Palembang.
“Apa beda kampung itu dengan kampung kami?” tanya Abu Bakar kemudian, setengah protes.
Aku bingung untuk menjawab pertanyaan Abu Bakar itu. Bentuk fisik bangunan di kedua kampung itu memang tidak begitu berbeda. Yang berbeda, barangkali hanyalah komunitas pendatang yang menghuni tempat itu. Kalau di Kampung Kapitan pada umumnya keturunan Tionghoa, maka di Kampung Al Munawar pada umumnya adalah orang-orang keturunan Arab.
“Bedanya, kampungmu tidak termasuk sebagai kawasan Cagar Budaya,” jawabku beberapa saat kemudian.
“Itu, itu yang ana maksudkan!”
“Ya, kalau memang kenyataannya begitu, mau diapakan?”
“Kenyataan yang aneh, dan sulit kami terima.”
“Kenapa?”
“Karena kampung kami itu seharusnya juga termasuk dalam situs arkeologi yang harus dilindungi, termasuk sebagai kawasan Cagar Budaya !” protesnya.
“Tapi, kenyataannya kan tidak?”
“Itulah yang ana minta untuk ente tulis besar-besar di koran ente. Bahwa, pemerintah sudah berlaku tidak adil!”
Aku diam.
“Sementara Kampung Kapitan mendapat bantuan dana, kampung kami yang memiliki keunikan yang sama dengan latar belakang sejarah yang juga sama, harus digusur?” ucapnya lagi.
“Hm, begini, pemerintah menetapkan sebuah tempat sebagai kawasan Cagar Budaya melalui Surat Keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Barangkali karena itu pula, pemerintah memberi bantuan dana pada Kampung Kapitan,” kataku mencoba memberinya penjelasan, yang aku sendiri tidak terlalu meyakininya.
“Pertimbangan pemerintah itu apa misalnya?”
“Waduh! Jangan tanya padaku. Aku ini wartawan, bukan orang yang membuat keputusan itu.”
Dia tak bersuara. Bergerak ke sana kemari di ruang tamu kontrakanku yang sempit. Gelisah. Kubiarkan saja.
“Besok seorang teman ana akan membongkar sendiri rumahnya,” ucapnya kemudian. “Dia marah!”
“Marah?”
“Ya, marah! Atau barangkali juga putus asa, karena merasa tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan rumah itu. Ini berbahaya! Karena, akan menyurutkan semangat kami untuk tetap bertahan! Melemahkan semangat perjuangan kami! Apalagi kalau perbuatannya itu diikuti oleh temannya yang lain. Habislah kami. Habislah semua kenangan di kampung itu,” katanya dengan nada emosional. ”Padahal, waktu nenek moyang kami membangun rumah-rumah itu, sepeser pun tidak minta bantuan kepada pemerintah!”
Aku mencoba memahami protesnya. Sebagai warga negara yang mulai memahami akan arti sebuah hak, maka siapa pun boleh melakukan perlawanan apabila haknya terganggu. Akan tetapi, dalam hubungannya dengan kebijakan pemerintah, yang umumnya berdasarkan kepentingan rakyat banyak, maka Undang-undang memberi kewenangan kepada pemerintah untuk membebaskan hak atas tanah dengan ganti rugi. Persoalan yang sering mencuat ke permukaan adalah uang ganti rugi yang ditawarkan pemerintah di bawah standar harga jual tanah pada umumnya.
“Besok ana minta dengan segala hormat agar ente datang ke kampung ana. Ente lihat sendiri bagaimana sedih dan kecewanya orang-orang di kampung ana. Ente tulis itu agar semua orang tahu, agar pemerintah daerah tergugah,” ucapnya.
Aku menimbang beberapa saat. Aku pikir mungkin menarik juga untuk ditulis beritanya.
“Tolonglah, Rim!” lanjutnya memohon.
“Baik, besok aku akan ke sana,” jawabku beberapa saat kemudian.
“Terima kasih. Tolong ente buat tulisan yang menimbulkan simpati masyarakat lain agar kami mendapat dukungan karena kami merasa telah dizalimi,”
Aku mengangguk
“Terima kasih. Ente memang sahabat ana,” ucapnya lagi sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
Kusambut uluran tangannya. Sebelum melangkah pergi, dia tak lupa menyampaikan salam.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam.”
Kupandangi langkah temanku itu.
Beberapa saat kemudian, aku menelpon Kuyung Iful, menyampaikan informasi itu kepadanya. Dan, dia setuju kalau aku meliput pembongkaran rumah itu, bahkan dia juga akan mengirim fotografer ke sana.
Keesokan harinya, aku tidak lagi datang ke kantor, tapi langsung menuju ke lokasi pembongkaran rumah itu. Karena, pagi-pagi sekali Abu Bakar sudah dua tiga kali menelponku untuk tidak lupa hadir di sana.
Ketika aku sampai di lokasi itu, kulihat tengah terjadi ribut-ribut. Beberapa saat kemudian, kulihat seseorang dikejar sekelompok orang kampung itu. Aku kaget, manakala mengetahui, bahwa yang tengah dikejar orang-orang itu adalah Doni. Ada apa dengan Doni? Tanpa berpikir panjang lagi, cepat kukejar Doni dan kulindungi dari amukan orang-orang yang marah.
“Hei, ada apa ini?” tanyaku.
“Kau siapa?” tanya seseorang di antara mereka dengan wajah garang.
“Aku wartawan Cahaya Lokal. Dia ini temanku.”
“Kami tidak butuh wartawan. Wartawan cuma membuat kacau saja! Sekarang, aku minta agar foto-foto yang diambil temanmu tadi dimusnahkan! Aku tidak mau foto pembongkaran rumah itu muncul di koran!”
“Begini, Pak. Kami datang ke sini bukan atas keinginan kami, melainkan karena diminta.”
“Tidak ada yang meminta wartawan datang ke sini!”
“Bapak kenal dengan Abu Bakar?”
“Ada apa dengan dia?”
“Dia yang memintaku untuk meliput acara ini.”
“Abu Bakar? Betul dia yang menyuruhmu ke sini?”
“Buat apa aku bohong?”
“Mana Abu Bakar? Panggil ke sini!” katanya memberi perintah pada seseorang dengan nada emosi. “Awas kalau kau bohong!”
Seorang tampak berlari dari kerumunan itu untuk mencari Abu Bakar. Sementara yang lainnya, masih tampak siap siaga
Aku menenangkan diriku dan juga Doni, sambil berdoa agar Abu Bakar segera muncul. Kalau tidak, aku takut mereka menganggapku bohong dan bukan tidak mungkin mereka akan memukuli kami. Sudah banyak kejadian wartawan menjadi korban pemukulan. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku kepada Doni.
“Tidak apa-apa,” jawabnya dengan wajah yang tampak masih cemas.
“Apa yang terjadi?” tanyaku lagi setengah berbisik.
‘Tadi terjadi keributan antara orang-orang kampung sini dengan seseorang yang mau membongkar rumahnya. Orang-orang melarangnya untuk membongkar rumahnya. Dia marah. Ngamuk! Bahkan sempat terjadi perkelahian. Aku mengambil foto itu. Mereka justru marah kepadaku,” papar Doni.
“Dapat fotonya?”
“Dapat.”
“Selamatkan.”
“Sudah.”
Lalu, tampak Abu Bakar, didampingi seseorang yang tadi mencarinya, melangkah dengan cepat ke arah kami. Aku merasa agak lega. Orang yang marah-marah kepadaku tadi cepat menyambutnya.
“Benar ente yang minta mereka untuk datang ke sini?” hardiknya.
“Sabar, Wan, sabar, istighfar, ”Abu Bakar tampak coba menenangkan lelaki itu.
“Ente jawab, benar atau tidak?”
“Benar.”
“Kurang ajar ente! Ini bukan urusan ente. Ente tidak punya hak memanggil wartawan ke sini tanpa persetujuan ana!”
“Sabar! Dengar dulu penjelasan ana….”
Abu Bakar tampak merangkul temannya yang tengah emosi itu, sambil menggandengnya menjauhi kerumunan. Entah apa yang dibicarakan keduanya. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menyuruh Doni pulang. Aku pikir, apa pun yang terjadi, Doni harus menjauh dulu dari tempat ini untuk menyelamatkan foto.
“Kau pulanglah,” bisikku kepada Doni.
Doni berbalik hendak melangkah pulang, tetapi beberapa orang cepat menghadangnya.
“Hei, mau ke mana?” tanya seseorang di antara mereka.
Doni menghentikan langkah, aku maju.
“Dia mau pulang karena dia masih banyak kerja lain. Kalau kalian mau memukulinya atau juga memukuliku, silakan! Kami tidak akan melawan! Yang akan melawan kalian nantinya, adalah seluruh wartawan! Mereka semua akan menulis tindakan kalian dan posisi kalian akan lebih tersudut,” gertakku, karena dalam situasi seperti ini, keberanian untuk gertak-menggertak sangatlah diperlukan.
“Kalian boleh pulang, tapi buang dulu foto pembongkaran itu tadi!” ucap seseorang di antara mereka.
“Sudah dari tadi foto itu dibuang. Kalau tidak percaya, lihatlah di kameranya. Perlihatkan, Don!” perintahku kepada Doni..
Doni memperlihatkan hasil foto yang ada pada kamera digitalnya kepada orang itu.
“Ana minta supaya klisenya dibuang!” hardik orang itu.
“Kamera ini tidak pakai film. Ini kamera digital, tidak ada klisenya,” Doni coba menjelaskan.
“Ente tidak usah membohongi ana!”
“Dia tidak bohong. Memang begitulah adanya kamera digital,” ucapku mencoba meyakinkan lelaki itu.
“Pasti saja ente bilang begitu karena dia teman ente!” kata lelaki itu lagi.
Aku dan Doni bingung.
Untung saja seorang temannya, yang tampaknya mengerti, maju mendekatinya, lalu berbisik. Lelaki itu seperti malu sendiri dengan ketidaktahuannya.
“Silakan pulang,” katanya kemudian.
Aku memberi kode kepada Doni untuk segera pergi dari tempat itu. Doni memahaminya dan langsung melangkah meninggalkan kerumunan orang yang menghadangnya.
Aku memandangi langkah Doni, sampai motornya lenyap dari pandanganku. Lalu, berbalik ke arah Abu Bakar yang tampak masih memberikan penjelasan kepada lelaki di depannya. Beberapa saat setelah itu, tampak dia melangkah mendekatiku.
“Aduh, ana minta maaf, minta maaf betul. Ini hanya kesalahpahaman. Mana teman ente tadi?” tanya Abu Bakar sambil mencari-cari Doni.
“Pulang.”
“Pulang?”
“Ya, aku suruh dia pulang. Aku takut orang-orang bertindak anarkis padanya.”
“Ana jadi tidak enak hati pada ente.”
“Sudahlah, dia tidak apa-apa. Hal begini sudah biasa buat kami,” kataku seakan memaklumi sikap emosional yang diperlihatkan warga di kampungnya. “Sekarang, aku boleh meliput tidak?”
“Boleh, boleh! Ana tanggung jawab!” ucap Abu Bakar mencoba meyakinkanku.
“Kalau begitu, pertemukan aku dengan orang yang bermaksud merubuhkan rumahnya.”
“Dia tidak jadi membongkar rumahnya,” kata Abu Bakar.
“Kenapa? Karena dilarang oleh penduduk yang lain?” tanyaku.
“Ya.”
“Tidak apa-apa. Aku ingin bertemu dengannya dan mewawancarainya.”
“Aduh, bagaimana, ya?”
“Kenapa?”
“Hm, ana kira sekarang bukan waktu yang tepat untuk mewawancarainya.”
“Kenapa?”
“Ente lihat sendiri. Orang-orang masih tampak emosional. Di samping itu, dia juga sedang diamankan untuk diberi pengertian.”
“Boleh aku ke sana?”
“Jangan!”
“Lalu, kira-kira siapa yang dapat kuwawancarai?
“Hm, ana kira jangan sekarang. Soalnya, semua orang lagi tidak ingin bicara kepada wartawan. Takut salah!”
“Termasuk kau?”
“Rimba, tolonglah untuk mengerti.”
“Lalu, aku harus menulis berita apa?” tanyaku kesal.
“Ente tulis saja kesedihan dan kekecewaan penduduk di sini,” kata Abu Bakar. ”Ente lihat wajah-wajah mereka itu!”
Aku memandang ke sekeliling. Baru kusadari kalau perhatian orang-orang di sana tertuju kepada kami. Ada yang memandang dari tangga, jendela, pintu, bawah rumah, atau sudut rumah. Di beberapa tempat, tampak pula spanduk yang berisikan tulisan penolakan terhadap rencana pembangunan Jembatan Musi III.
Kecemasan dan kegelisahan memang terlihat jelas di wajah mereka. Ada semacam kesedihan, bahwa tempat yang mereka diami sekarang semakin dekat dengan kenangan. Suasana ini tentu saja akan berbeda dengan penduduk Kampung Kapitan. Mereka sekarang tentu tengah belajar tersenyum atau merencanakan keuntungan yang akan didapat menyambut kehadiran wisatawan ke sana.
Tapi, apa yang mau kutulis kalau tidak ada narasumber yang dapat kuwawancarai? Aku perlu narasumber yang tepat untuk tulisanku. Bukan hanya mengungkapkan kekecewaan-kekecewaan kepada pemerintah daerah. Bersamaan dengan itu, tampak Doni muncul lagi. Ada apa dengan Doni? Dia melangkah mendekatiku.
“Ada apa?” tanyaku kepada Doni.
“Chip yang berisi foto itu tadi hilang,” bisik Doni.
“Hilang di mana?”
“Mungkin tercecer.”
Aku jadi lemas.
“Ada apa?” tanya Abu Bakar yang tampak curiga melihat kami saling berbisik.
“Hm, ada perintah mendadak dari kantor,” jawabku berbohong. ”Jadi, kami harus pergi dulu.”
“Bagaimana dengan berita kampung ana?”
“Ya, akan aku usahakan.”
“Tolonglah, Rim! Sebagai sahabat, ente harus tolong ana.”
“Ya!”
Aku melangkah pergi dari situ diiringi Doni.
“Ke mana?” tanya Doni.
“Rencana pembongkaran rumah itu batal. Jadi, buat apa lagi di sini,” jawabku.
Kami keluar dari tempat itu beriringan. Setelah itu, berpisah karena kami punya urusan masing-masing. Doni mencari momen lain untuk diabadikan oleh kameranya, sedangkan aku menuju sebuah hotel bintang lima, memesan sebuah kamar untuk pertemuan dengan Lestari besok malam.


JUS MELON

Terdengar suara ketukan dari pintu kamar hotel. Jantungku berdebar. Dia datang, batinku. Kudekati pintu, kuintip dari lubang kecil di pintu itu. Jantungku semakin berdebar-debar. Inikah Lestari, wanita panggilan yang punya tarif dua juta rupiah untuk sekali kencan? Kutenangkan diriku sejenak. Kupakai topeng yang memang sudah kupersiapkan, lalu kubuka pintu.
Dia agak kaget melihatku memakai topeng, tapi cuma sebentar. Setelah itu, senyum genitnya menebar.
“Pak Herman?” tanyanya meyakinkan.
“Ya, masuklah,” jawabku.
Dia melangkah masuk. Aroma minyak wangi dan caranya berdandan menebar gairah. Aku mengunci pintu kamar. Menekan segala rasa yang berkecamuk di dada, lalu melangkah mendekati dia, yang sudah mengambil tempat di sisi tempat tidur. Duduk dengan menyelempangkan kakinya, sehingga pahanya yang putih terlihat jelas di antara rok pendeknya.
Kupandangi dirinya dari atas sampai ke kaki. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan lekuk-lekuk tubuhnya. Dadaku bergetar, hatiku berkeyakinan bahwa wanita di hadapanku ini adalah Wulandari.
“Kenapa memperhatikanku seperti itu?” tanyanya. Ada nada risih.
Aku menenangkan diri. Apa pun yang terjadi, aku harus mampu memainkan perananku dengan baik malam ini.
“Kau cantik sekali!” pujiku, dengan maksud menghilangkan kecurigaannya.
“Terima kasih. Aku merasa tersanjung,” ucapnya.
“Minum apa?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.
“Apa saja,” jawabnya dengan melemparkan senyum nakal.
“Mau yang beralkohol atau….”
“Tidak, minuman ringan saja,” potongnya.
“Bir?”
“Cukup jus buah saja. Hm, kalau ada, aku minta jus melon.”
“Melon?”
“Ya, melon.”
“Kenapa melon?”
“Karena aku suka.”
“Yang lainnya?”
“Cukup itu saja.”
Aku menelpon restorasi. Memesan jus melon dan jus alpukat.
“Kenapa harus pakai topeng? Tidak ingin dikenali?” tanyanya sambil meletakkan tangannya di pahaku. Dia memulai memainkan peranannya, batinku.
“Tidak boleh?”
“Itu hak bapak. Tetapi, mungkin kalau tidak pakai topeng, akan lebih nyaman. Jangan takut, Pak. Rahasia terjamin.”
“Tampangku menakutkan,” jawabkuku mencoba memberi alasan.
“Menakutkan?”
Lalu dia tertawa renyah, seakan tahu kalau aku tengah membohonginya.
“Tidak percaya?”
“Bukan, bukan. Aku hanya merasa lucu saja. Hm, maaf, apa ini yang pertama?”
“Maksudmu?”
“Ya, pengalaman pertama mencoba bermain-main dengan perempuan selain istri,” katanya dengan suara manja, sembari menempelkan bibirnya di daun telingaku. Sementara tangannya, mulai menari-nari di beberapa bagian tubuhku.
“Kenapa beranggapan begitu?”
“Debaran jantung Bapak terasa lebih cepat.”
Aku sedih, muak, dan rasanya ingin berteriak keras melihat caranya merayuku. Entah sudah berapa lelaki dia perlakukan seperti ini? Aku tidak bisa membayangkan betapa rakusnya para lelaki itu menyantap tubuh wanita yang selalu kurindukan itu. Aku menekan segala rasa yang berkecamuk di dada. Karena itu pula, debaran jantung terasa lebih cepat dari biasanya.
Terdengar bel dari arah pintu kamar. Aku mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dari desah dan elusan tangan lentiknya, bangkit dan berjalan ke arah pintu. Beberapa saat kutenangkan hatiku, sebelum membuka pintu. Pelayan hotel membawakan jus melon dan jus alpukat. Aku mengambil dan membayarnya di dekat pintu, tak kubiarkan dia masuk. Lalu, kubawakan dua gelas jus itu. Kuserahkan jus melon kepadanya.
“Minum,” kataku.
Dia menghirupnya. Aku menghirup jus alpukatku.
“Asalnya dari daerah mana?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
“Apakah itu penting?” dia balik bertanya.
“Kalau keberatan, tidak apa-apa. Cuma ingin tahu.”
“Bandung,” jawabnya, setelah menimbang beberapa saat.
Aku tersenyum, karena tahu dia tengah berbohong. Memainkan peranan baru dalam sandiwara hidup yang dramatis.
“Masih singel atau…?”
“Singel.”
“Pernah bekeluarga?”
“Belum, kenapa? Mau mencarikan suami?”
“Hm, aku kira kalau mau, tentu bukan hal yang sulit. Tapi, mungkin kau punya alasan-alasan lain yang membuatmu tidak begitu memikirkannya?”
Dia menatapku agak dalam sebentar, untuk kemudian balik bertanya dengan nada menyelidik.
“Bapak wartawan?”
Aku agak terkejut juga dengan pertanyaannya itu, tetapi cepat kuatasi.
“Kenapa berpikiran begitu?”
“Wartawan kan biasanya banyak Tanya.”
“Sayangnya aku bukan wartawan. Jadi, tidak perlu khawatir.”
“Buat orang sepertiku, tidak ada bedanya apakah dia menteri, gubernur, pengusaha, atau wartawan. Karena, tujuannya sama. Dan, bapak tentunya membayarku bukan hanya untuk menemani bapak ngobrol kan?” ucapnya, seakan tidak mau aku bertanya lebih banyak tentang dirinya.
Mungkin pikirnya, semakin banyak aku bertanya, akan semakin banyak pula waktu terbuang untuk kebohongan-kebohongan yang dilontarkan dari bibirnya. Karena, semua lelaki yang membayarnya sama saja. Tidak ubahnya singa yang rakus, yang juga akan melahap tubuhnya.
“Aku tidak biasa terburu-buru. Aku butuh suasana,” kataku mencoba mencari alasan.
“Ah, Bapak seperti orang yang sedang jatuh cinta saja,”
“Mungkin karena kau memesan jus melon, bukan anggur atau bir, atau minuman lain yang lebih hangat.”
Dia menatapku, seakan menunggu kalimat berikutnya dari bibirku..
“Aku punya kenangan tersendiri dengan jus melon,” lanjutku perlahan.
“Oh, ya? Pasti kenangan indah.”
“Indah. Indah sekali. Tetapi sayang, berakhir dengan menyedihkan.”
“Boleh aku tahu?”
Ah, Wulandari. Ini cerita tentang kau dan aku, batinku.
“Ya. Dulu, aku punya kekasih yang sangat aku cintai. Dia pun mencintaiku. Setiap kali kami makan atau minum di restoran atau di mana saja, dia selalu memesan jus melon. Lucunya, di warung kaki lima pun, dia pesan jus melon padahal dia tahu di sana tidak ada jus melon,” kataku dengan tawa kecil.
Kulihat alisnya agak berkerut. Aku semakin bersemangat meneruskan cerita.
“Aku selalu mengenangnya karena sampai sekarang, ternyata aku belum bisa melupakan gadis itu. Aku pernah mencoba mencarinya, tetapi dia hilang di rimba Jakarta. Pernah sekali aku bertemu, tapi cuma sebentar. Cuma sekelebat bayangan. Dia datang saat teman baikku meninggal.”
Dia menatapku tajam.
“Aku menyesali pertemuan itu, karena aku tidak bisa merengkuhnya kembali,” lanjutku.
“Siapa kau?” tanyanya dengan mata lurus menatapku, kecurigaan mulai tampak di wajahnya. “Siapa kau?”
Aku diam.
“Buka topengmu!” katanya dengan suara agak tertahan.
Aku tetap tidak bereaksi.
“Buka topengmu!” suaranya kian meninggi.
Kubuka topengku perlahan-lahan. Dia tampak terkejut sekali, mulutnya ternganga. Lalu dengan cepat, berbalik melangkah ke arah pintu kamar, bermaksud hendak keluar dan pergi meninggalkanku. Kubiarkan saja karena pintu sudah kukunci. Terdengar dia memaksa hendak membuka pintu itu dengan kesal. Aku tetap diam di tempatku, menunggu reaksi berikutnya. Beberapa saat kemudian, kulihat dia kembali ke arahku dengan air mata berlinang.
“Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau lakukan ini, Rimba?” protesnya dengan amarah yang masih tertahan. “Kau membuatku semakin tidak berharga!”
Aku diam. Lurus memandangnya.
“Kau kejam! Iblis!” hardiknya sambil menamparku.
Aku kaget. Terasa perih di pipiku. Tetapi, aku tetap diam di tempatku. Dia menangis menderu-deru.
“Aku tidak mau bertemu denganmu karena aku tidak ingin kau tahu keadaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin kau kecewa. Aku tidak ingin tidak punya harga di matamu! Aku perempuan yang selalu disia-siakan lelaki, perempuan yang hidup dari deru napas laki-laki bejat,” katanya di sela isak tangisnya.
Aku tetap tak bersuara, yak tahu apa yang harus aku ucapkan. Dan, dia tiba-tiba menghentikan isak tangisnya. Memandang ke arahku dengan sorot tajam.
“Sekarang semuanya telah jelas. Kau telah tahu keadaanku yang sebenarnya. Lalu, mau apa kau? Mau menuliskan cerita ini besar-besar di koranmu, biar semua orang tahu? Ayo, jawab! Mau apa?”
Dia berteriak histeris. Cepat kupeluk dia.
“Aku benci kau! Aku benci,” katanya sambil meronta-ronta dalam pelukanku. Kupeluk terus dia, sampai dia lelah, tersedu-sedu menangis dalam pelukanku.
“Maafkan aku. Sedikit pun aku tak bermaksud untuk menyakitimu,” ucapku setengah berbisik. ”Aku lakukan semua ini justru karena aku masih mencintaimu.”
“Aku bukan Wulandarimu yang dulu lagi. Wulandarimu yang dulu sudah mati.”
Kupandangi wajahnya. Genangan air matanya menggambarkan kepadaku sebuah penderitaan yang dalam. Kucium matanya, hingga terasa asinnya air mata. Air mata yang dulu kuhapus lembut dengan tanganku, manakala kesuciannya dia serahkan kepadaku.
“Wulandariku tidak pernah mati, sebelum aku mati,” bisikku ke telinganya.
“Tidak...”
Kucium bibirnya dengan lembut, seperti dulu, ketika untuk pertama kali aku menyentuh bibirnya. Aku tidak ingin bibirnya itu menghujamiku dengan keluh kesahnya. Dia memasrahkannya. Memejamkan matanya dengan sangat perlahan. Kukecup asin air matanya. Kerinduan yang bertahun-tahun tertahan, kini tertumpah. Sehangat dan segairah dulu. Kami memacu kerinduan bagai dua kuda liar yang berlarian menaiki dan menuruni bukit. Sampai kami lelah.
“Aku tidak tahu, apakah aku bahagia malam ini, atau sebaliknya,” ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Kupandangi wajahnya yang cantik, dan tampak lebih cantik dengan rambut yang kusut masai. Keringat-keringat halus dari pori-pori dekat keningnya, membuatku ingin mengecupnya.
“Aku selalu merindukanmu,” kataku.
“Aku pun begitu,” kawabnya.
Lalu hening beberapa saat. Kami asyik dengan pikiran kami masing-masing, menerawang memandangi langit-langit kamar hotel. Tanganku memain-mainkan anak rambut di dekat telinganya. Membayangkan masa depan bersamanya, tanpa mengingat-ingat masa lalunya yang penuh noda. Karena aku pikir, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang tidak berdosa.
“Aku berharap, kita dapat memulai hidup baru. Melupakan kepahitan-kepahitan yang pernah ada. Menyongsong hari depan bersama-sama dengan mimpi-mimpi kita, yang dulu pernah kita ukir bersama. Aku ingin kau menjadi istriku, dan ibu dari anak-anakku. Kau mau kan?”
Dia tidak menjawab.
Kupandangi wajahnya yang bersandar di dadaku. Ternyata dia sudah pulas tertidur. Tenang sekali wajahnya, seakan memasrahkan hidupnya kepadaku. Aku berdoa dalam hati. Tuhan, mohon jangan pisahkan kami lagi. Aku mencintainya apa adanya. Kucium keningnya, untuk kemudian meletakkan kepalanya di bantal denga hati-hati.
Kami menghabiskan malam di hotel berbintang itu. Pagi-pagi setelah sarapan, kuantar dia pulang dengan Vespa-ku. Erat dia memeluk pinggangku, dengan wajah disandarkan di bahuku. Aku berharap apa yang dia lakukan merupakan ungkapan kerinduan, bukan sembunyi dari sengatan matahari.
Dia ternyata menyewa sebuah paviliun yang terletak di samping sebuah rumah cukup besar. Aku tidak tahu siapa penghuni rumah itu, karena ketika kami sampai, rumah itu tampak masih sepi. Aku memarkir Vespa-ku di depan pintu kamarnya, di antara taman-taman kecil yang menghiasi halaman paviliun itu. Lalu, aku masuk dan duduk di salah satu kursi yang terletak di ruang tamu. Baru saja hendak menyandarkan bahu di kursi, ponselku berdering. Kuangkat ponselku. Kuyung Iful, batinku.
“Ya, Yung,” kataku, seakan siap dengan segala perintah yang akan segera keluar dari mulut Kuyung Iful.
“Di mana nga?” tanyanya dengan nada yang tidak begitu sangar lagi. Dia sekarang sudah agak hati-hati berbicara denganku.
“Di jalan, sedang menuju kantor,” jawabku berbohong.
“Rim. Nga pergi ke Kampung Al Munawar sekarang. Coba nga buat tulisan tentang suasana di kampung itu. Nga hubungkan dengan keributan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.”
“Aku langsung ke lokasi saja, ya?”
“Sebaiknya begitu.”
“Oke.”
“Terima kasih,” lalu dia memutuskan hubungan.
Aku tersenyum, karena paling tidak dia sudah bisa berterima kasih sekarang. Ucapan yang sangat jarang keluar dari bibir sinisnya.
“Siapa yang nelpon? Kuyung Iful?” tebak Wulandari, yang muncul dari dalam kamarnya. Dia duduk di sampingku.
“Ya, dia memintaku untuk meliput.”
“Dia redakturmu sekarang?”
“Ya.”
“Jangan kasih tahu dia, kalau aku berada di sini.”
“Kenapa?”
“Jangan dulu, belum saatnya.”
“Baik. Hm, aku pergi dulu, ya? Nanti sore aku ke sini lagi,” kataku.
Dia mengangguk, seakan memahami bahwa tugas sedang menantiku sekarang.
Tapi waktu aku mau berdiri, dia menarik tanganku. Aku mengerti maksudnya. Kami pun berangkulan dan berciuman lagi. Aku tidak bisa menghentikannya, kami menyelesaikannya di kamar tidurnya. Tak ubahnya singa lapar yang mendapatkan rusa buruan, tak puas-puas aku menyantap rusa buruanku sampai energiku terkuras habis. Tanpa kusadari, aku tertidur dalam pelukan Wulandari.
“Tidak jadi meliput?” tanyanya ketika aku terjaga.
Dia duduk di depan meja hias, mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku.
“Hampir jam sebelas.”
Aku bangkit dan menyandarkan diri ke dinding. Menatapnya dengan takjub. Dalam pandanganku, ia tampak lebih cantik. Alangkah indahnya seandainya yang kulihat di depan mataku ini istriku.
“Kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Wulandari dari depan kaca. Dia merasa agak risih tampaknya.
“Aku ingin kita menikah.”
Dia tertawa hambar.
“Kenapa? Kau tidak percaya?” tanyaku agak penasaran.
“Percaya. Tapi sekarang, mandilah dulu, biar segar,” katanya sambil melemparkan handuk kepadaku. “Kau bilang tadi, diperintahkan Kuyung Iful untuk meliput.”
Aku turun dari tempat tidur. Menciumnya dengan mesra, sebelum melangkah ke kamar mandi. Dia menyiapkan mi dan kopi untuk sarapan. Sehabis mandi, aku berpakaian. Menyemprotkan parfumnya ke bajuku, mengambil block note yang terletak di dekat meja rias, dan memasukannya ke kantung. Entah kenapa block note itu berada di situ, barangkali tadi Wulandari iseng membacanya, ingin tahu apa saja yang ditulis wartawan di buku kecil itu.
Setelah itu, kami sarapan. Mi masakannya masih enak saja seperti dulu. Dia juga pandai sekali memasak pindang patin, masakan khas Palembang.
“Kau masih suka memasak ?”
“Ya.”
“Aku rindu pindang patin masakanmu.”
Dia tertawa.


ANGSA YANG MALANG

Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya. Tetapi sebagai wartawan, aku tahu kapan saat yang tepat untuk memanjakan diri. Kutinggalkan Wulandari menuju perkampungan yang menjadi sangat populer sejak adanya rencana pemerintah untuk membangun Jembatan Musi III di sana.
Aku menemui Abu Bakar. Aku berharap, kali ini Abu Bakar dapat mempertemukan aku dengan orang yang pernah mempunyai rencana untuk membongkar rumahnya beberapa hari yang lalu, dan juga pendapat beberapa orang yang melarangnya untuk membongkar rumahnya.
“Maafkan aku, Rim. Kami sepakat melarangnya untuk diwawancarai wartawan,” kata Abu Bakar.
“Kenapa?”
“Karena, berita itu akan merugikan kami.”
“Merugikan bagaimana?”
“Rim! Kami perlu semangat untuk berjuang! Perlu keberanian dan kekompakan. Tak boleh ada yang menyerah. Kalau satu orang saja kami biarkan menyerah, habislah kami! Tamatlah sudah riwayat kampung ini. Semuanya hanya akan menjadi kenangan, tergusur oleh proyek pembangunan sebuah jembatan,” katanya.
Aku diam, coba menyelami perasaan Abu Bakar
“Ana pikir, kalau hal itu benar-benar terjadi, bukan cuma kami yang bersedih oleh musibah ini. Juga nenek moyang kami yang berada di alam sana, yang telah bersusah payah membangunnya. Mereka pasti kecewa kepada kami, karena ternyata kami tak mampu menjaga warisannya.”
“Tapi kan, kalian bisa membangunnya kembali di tempat lain?”
“Ya, tapi kami tidak menginginkan hal itu.”
“Yang penting, kan kekhasan rumah ini tidak hilang.”
“Suasananya pasti akan berbeda. Nilai kenangannya tidak ada. Kami dilahirkan dan dibesarkan di sini, Rim.”
Kebisuan hinggap beberapa saat. Abu Bakar tampak terlibat dengan kekecewaannya.
“Sobat. Aku masih ingat, dulu kau sering menasihatiku untuk selalu tawakal terhadap semua cobaan, karena Tuhan itu tidak tidur,” ucapku mencoba mengingatkannya kembali kata-kata yang sering dia lontarkan kepadaku dulu.
Dia menatapku, menimbang ucapanku.
“Ente benar. Tuhan tidak pernah tidur! Ente benar, tapi menerima kenyataan pahit seperti ini sulit sekali. Kami merasa diperlakukan tidak adil!” ucapnya dengan terbata-bata.
“Sabar, kau harus sabar,” kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Dia menarik napas, mencoba menahan perasaannya.
Aku meminta beberapa data yang kuanggap penting kepada Abu Bakar. Aku kira, Abu Bakar cukup memadai untuk menjadi narasumberku. Aku mengambil block note dari saku celana. Aku pikir, aku harus mencatatnya biar tidak lupa. Tetapi begitu kubuka block note itu, aku jadi kaget. Karena ternyata, buku itu berisi catatan harian. Kulihat lagi. Ya, Tuhan! Aku salah ambil. Ini catatan harian Wulandari. Kubuka tasku. Buku catatanku ternyata ada di dalam tas. Kuambil buku catatanku, dan kusimpan buku catatan harian Wulandari.
Setelah kudapatkan semua data yang kuperlukan dari Abu Bakar, aku beranjak pergi dari tempat itu. Abu Bakar tak lupa berpesan, agar berita yang kutulis tidak merugikan kampungnya. Karena, dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan penduduk di kampungnya.
“Tolong, Rim, jangan buat kami tambah menderita,” katanya memohon.
Aku memahaminya dan berjanji untuk menulis sebaik mungkin.
Ketika meninggalkan kampung itu, aku bermaksud langsung kembali ke kantor untuk menulis beritanya. Rencanaku setelah selesai menulis berita, aku akan kembali lagi menemui Wulandari. Tetapi di tengah jalan, pikiranku berubah. Aku justru mengarahkan Vespa- ku ke jalan menuju pavilion, tempat Wulandari tinggal.
Ketika Vespa-ku hendak memasuki pintu pagar, sebuah mobil sedan berwarna merah meluncur keluar dari dalam pekarangan. Aku merasa pernah melihat BMW merah dengan gambar kelinci di sudut kanan kaca depan mobil itu di rumah Putri Dewi.
Aku mencoba melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. Tapi, tak terlihat, karena kaca pintu mobil itu hitam pekat, tak tembus pandang. Aku bertanya-tanya sendiri di dalam hati, Lukman Hakimkah yang berada di balik kaca gelap itu? Ada urusan apa dia di sini?
Tet! Mobil itu membunyikan klakson, meminta aku untuk memberinya jalan. Aku terpaksa mengalah. Apa pun alasannya, motor harus mengalah kepada mobil. Kecuali, aku sedang nekat ingin bunuh diri. Setelah mobil itu berlalu, baru aku masuk menuju ke arah pavilion. Pintunya tertutup rapat. Aku mengetuk sambil memanggil.
“Wulan!” panggilku beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.
Kumainkan handle pintu. Terkunci. Ke mana dia? Apa masih tertidur karena kelelahan? Aku mencoba mengetuk dan memanggil-manggil namanya dengan agak keras. Tak juga ada jawaban.
“Cari siapa?” tanya seorang wanita setengah baya, yang tanpa kuketahui sudah berdiri di belakangku. Kalau melihat penampilannya, pastilah dia pembantu di tempat itu.
“Eh, Wul… hm… Lestari ada?” tanyaku.
“Lestari?”
“Ya, Lestari.”
“Rasanya tidak ada yang bernama Lestari di sini,” kata wanita setengah baya itu.
“Maksudku, yang menempati paviliun ini.”
“Oh, yang dari Jakarta itu?”
“Ya, ya!”
“Barus saja dijemput pakai sedan merah.”
“Sedan merah?”
“Ya, yang barusan keluar tadi.”
Tubuhku terasa lemas, sendi-sendi tulangku rasanya mau lepas. Orang yang menjemputnya itu, pastilah hidung belang yang akan menyantap tubuh Wulandari dengan rakus. Aku muak membayangkan hal itu. Apalagi kalau benar dugaanku bahwa yang membawa mobil itu Lukman Hakim. Setan! Setan! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kecewa dan marah! Aku merasa ditipu dan dikhianati.
Harapanku sia-sia. Percuma bertahun-tahun aku merindukannya. Keinginan tulusku untuk membangun kembali puing-puing cinta ternyata diabaikannya. Dia tidak lagi mempercayai ucapanku. Jangan-jangan, dia sudah menganggapku seperti para lelaki lain yang bergantian menidurinya. Tidak ada lagi cinta di hatinya. Dia benar-benar tidak kukenal. Dia sudah berubah!
Aku menguatkan hatiku. Ini kenyataan yang harus kuterima.
Setelah menimbang beberapa saat, kuputuskan untuk kembali ke kantor. Karena bagaimanapun, aku harus menulis berita untuk besok. Ini harus kulakukan walau aku tidak yakin dapat menuliskannya dengan baik.
Sesampai di ruang redaksi, kulihat Tina tengah bersalam-salaman dengan beberapa wartawan dan redaktur yang berada di sana, termasuk Kuyung Iful. Aku tidak mengerti kenapa dia menyalami semua orang.
Aku tidak memedulikannya. Duduk di depan komputer untuk menenangkan diri, agar aku dapat berkonsentrasi menulis. Kubakar rokok dan kusandarkan diriku di kursi dengan sejumlah kegelisahan.
Tanpa kusadari, Tina sudah berdiri dekatku. Memperhatikanku.
“Ada apa?” tanyaku tak acuh.
“Aku mau pamit,”ucap Tina.
Kenapa pamit kepadaku? Minta antar pulang? Ah! Kenapa pula harus aku.
“Aku baru saja mengajukan pengunduran diriku,” katanya pelan.
Aku memandang wajah Tina dengan bingung. Ada apa pula dengan Tina?
“Aku memutuskan untuk berhenti bekerja, Rim.”
Aku kaget mendengarnya.
“Sekarang kau mau kan mengantarku pulang?” pintanya dengan nada tanya.
Aku memegang kepalaku, meremas-remas rambutku. Merasa akan kehilangan sahabat lagi.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nanti di rumah kujelaskan,” jawabnya.
Kutatap wajah Tina. Selintas, tertangkap kesedihannya di mataku. Beberapa orang temanku yang berada di ruangan itu diam-diam melirik ke arah kami.
Aku bangkit dari kursi untuk kemudian melangkah keluar ruangan tanpa kata-kata. Tina mengikutiku. Kebisuan di antara kami tetap terjaga selama perjalanan menuju rumahnya.
Sesampai di rumahnya, kami mengambil tempat di teras depan rumahnya yang penuh dengan aneka tanaman dan bunga. Sebagai seorang sarjana pertanian, tentu wajar rumahnya asri begitu.
Tina menyiapkan kopi sebentar, lalu duduk di dekatku. Kebisuan masih menyergapku.
“Maafkan aku,” katanya perlahan.
Aku diam saja.
“Kau marah?” tanyanya.
“Kenapa aku harus marah,” ucapku datar.
“Kenapa kau diam saja dari tadi?”
Aku menghela napas. Kau tidak tahu apa yang baru kualami, batinku.
“Aku harus ngomong apa? Semua orang punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri,” kataku beberapa saat kemudian.
Tina diam.
Aku membakar rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya ke udara.
“Aku merasa tidak cocok jadi wartawan,” ucap Tina kemudian.
“Tidak cocok?”
“Ya.”
Aku agak kurang bisa menerima alasannya itu, karena setahuku, dia begitu menikmati pekerjaannya. Belum pernah dia mengeluh. Paling-paling, dia kesal dengan sikap redaktur yang tidak memuat berita yang sudah setengah mati dicari dan ditulisnya, atau ada beberapa berita yang dipotong seenaknya, atau beberapa narasumber yang sulit untuk dihubungi.
“Memang tidak banyak orang yang beruntung bisa memperoleh pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dimiliki atau cita-citanya. Dan, aku ingin sekali menjadi salah satunya. Karena itu, aku bermaksud meneruskan kuliahku di bidang pertanian. Kuharap dengan begitu, aku bisa bekerja di bidang pertanian. Pers tampaknya bukan duniaku. Aku tidak bisa menikmati pekerjaan itu dengan baik, aku capek memaksakan diri. Karena itu, sebelum aku melangkah terlalu jauh, aku putuskan berhenti.”
Ada perasaan kecewa dalam diriku terhadap keputusan yang diambilnya. Karena sepengetahuanku, sebagai wartawan dia cukup berbakat, walaupun dia belum pernah mengenyam pendidikan di bidang jurnalistik. Berita-beritanya tajam. Tulisan-tulisannya pun dipuji banyak orang, termasuk teman-teman sesama wartawan dan para redaktur.
“Ada masalah di kantor?” tanyaku mencoba menyelidik.
“Tidak ada.”
“Betul tidak ada?"
“Betul, apa aku harus bersumpah untuk meyakinkanmu?”
“Apa melanjutkan kuliah harus berhenti bekerja?”
“Tidak, tapi rencananya aku mau meneruskan di Jakarta.”
“Kenapa harus Jakarta?”
“Ya, mencari pengalaman baru. Siapa tahu dapat jodoh di sana.”
Aku tersenyum sinis.
“Bukan karena Wijaya?” tanyaku setelah itu.
“Wijaya Kusuma? Kau pikir siapa dia itu? Kenapa juga aku harus berhenti bekerja karena dia?” jawabnya dengan nada agak meninggi. ”Aku bukan bodoh. Aku wanita dewasa, Rimba. Tahu mana yang baik dan yang buruk buatku. Lagipula, kenapa kau begitu bersemangat menjodohkan dia denganku?”
Aku diam.
“Berkali-kali sudah aku katakan padamu, bahwa dia bukan pria yang cocok buatku. Dan sampai detik ini, belum terpikirkan olehku untuk menerima kehadirannya. Jadi, tolong jangan lagi kau kait-kaitkan segala urusanku dengannya. Persoalan dia mencintaiku atau apa, itu urusannya!”
Kebisuan mampir beberapa saat di antara kami. Dia tampak mencoba mengatur emosinya. Menghela napas, lalu bicara lagi dengan agak perlahan.
“Kalaupun ada yang membuatku mengundur-undur keinginanku untuk berhenti, itu tidak lain karena kau.”
Aku terkejut, seperti tak percaya dengan ucapannya.
“Aku?” tanyaku.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Kau tidak tahu?”
Aku menggeleng.
“Betul kau tidak tahu?”
“Ya.”
“Kau egois,” desisnya.
Egois? Apa betul aku egois?
“Kau ternyata tidak beda dengan laki-laki lain. Egois! Cuma memikirkan dirimu sendiri!”
“Maksudmu?”
“Jangan berpura-pura bodoh, Rimba,” tudingnya dengan nada sinis. “Kecuali kau tengah belajar untuk menjadi hipokrit.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Kau memang tidak pernah mau mengerti,” potongnya dengan nada pahit.
Aku diam. Dia membuang mukanya dari tatapanku.
“Aku tahu kau lebih menganggapku sebagai saudara atau teman, tapi tahukah kau perasaanku sebenarnya? Tahukah kau impianku yang sesungguhnya?” katanya dengan suara bergetar.
Oh, Tuhan! Bibirku benar-benar keluh sekarang. Tidak tahu mau bicara apa. Aku tidak pernah menyangka perasaannya itu akan dia ungkapkan kepadaku. Aku diam, bingung, tidak tahu apa yang harus kuucapkan. Aku bukan tidak tahu atau tidak merasakan perhatiannya kepadaku, tapi aku tidak berani menerjemahkannya lain, kecuali perhatian dari seorang sahabat baik. Aku merasa terlalu naïf untuk mengartikan lebih perhatiannya kepadaku selama ini. Walau sebenarnya, sudah banyak yang mengatakan, bahwa Tina menyukaiku. Aku cuma lelaki sederhana yang bernasib baik dapat menjadi wartawan. Aku tidak punya ilmu yang berlebih, apa lagi kekayaan. Aku tidak punya apa pun yang dapat kubanggakan kepadanya.
“Aku lelah dipermainkan oleh perasaanku sendiri. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa ruang hatimu terlalu sempit untuk diriku,” ucapnya lagi dengan wajah tertunduk.
Kupandangi wajahnya. Wanita yang selama ini tampak selalu tegar itu, tampak tak mampu melepaskan diri dari belenggu air mata. Aku merasa bersalah.
“Maafkan aku kalau aku telah mengecewakanmu. Apa yang kau rasakan, juga kurasakan. Tapi, aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Aku takut keliru. Aku tidak mau mengecewakanmu, apalagi melukaimu,” kataku pelan.
“Kenapa?”
Aku mengumpulkan segenap keberanianku untuk mengatakan apa sebenarnya yang menimbulkan keragu-raguanku.
“Aku tidak yakin dapat membahagiakanmu karena aku melihat ada perbedaan yang sangat prinsip antara kau dan aku.”
“Apa itu?”
“Aku merasa terlalu naïf untuk wanita sepertimu.”
“Naif?”
“Ya.”
“Tak kusangka kau sekerdil itu!”
“Kerdil dan bodoh!” kataku. Terasa, lidahku pahit.
Kebisuan kembali menyergap kami.
“Kau masih mencintai Wulandari?” tanyanya kemudian.
Pertanyaan yang sederhana itu ternyata sekarang menyengatku. Bayangan wajah Wulandari yang menggeliat di antara ribuan deru napas laki-laki bermain-main di pelupuk mataku. Aku pejamkan mata agar bayangan itu hilang dari pandanganku. Tapi, kudengar tawa genit dan desah napasnya di telingaku. Aku tutup telingaku sampai aku tak mendengarnya lagi. Tapi, ribuan jarum dia tusukkan ke dada sampai ke jantungku. Dadaku sesak dan sakit. Sakit sekali. Dan, tanpa bisa kuhalangi, aku menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil kehilangan mainan.
Tina membiarkanku menangis sampai aku puas.
“Tolong! Jangan kau sebut lagi nama itu!” kataku dengan nada memohon, setelah mulai bisa menguasai diri.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau mendengar nama itu lagi!”
“Kenapa tiba-tiba kau ingin melupakannya?”
“Aku muak!”
“Muak?”
Tina tertawa sinis. Tawa yang menyakitkan.
“Setelah bertahun-tahun merindukannya?” lanjut Tina lagi.
Aku bangkit dari tempat duduk, menjauh beberapa langkah dari Tina. Mencoba menghindar dari tatapan mata dan ucapannya yang terasa menghujam.
“Kau benar, ternyata aku tak beda dengan tadut,” kataku lirih.
“Dia mengecewakanmu lagi?”
“Kebodohanku yang memicu kekecewaan itu.”
Tina bangkit dari kursi, mendekatiku.
“Aku malu kepadamu,” kataku
“Kenapa?”
“Aku tidak belajar melihat kenyataan.”
“Jangan hanyut pada perasaan. Laki-laki harus kuat dan tabah.”
Aku menjauhkan wajahku dari tatapannya.
“Aku ternyata tak ubahnya seekor angsa malang, yang hanya berenang-renang di sebuah kolam kecil bernama kenangan. Tak pernah bisa terbang karena sayap-sayapku patah oleh luka.Tidak tahu betapa birunya langit,” kataku perlahan.
Lalu berbalik menatap Tina.
“Aku ingin ke cakrawala, Tin. Aku ingin terbang menuju danau, sungai, atau bahkan lautan!”
“Mulailah belajar mengepakkan sayap-sayapmu yang indah itu,” ucap Tina.
Kami bertatapan beberapa saat, dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami berpelukan. Erat sekali.
“Aku telah menyia-nyiakan hidupku,” kataku
“Kau justru telah menemukan hidupmu,” jawab Tina.
“Aku akan kehilanganmu.”
“Aku juga.”
“Aku akan selalu merindukanmu.”
“Aku juga.”
Kebisuan hadir sesaat, karena kata-kata lagi tersekat.
“Tin,” kataku kemudian.
“Ya?”
“Kalau angsa itu sudah bisa terbang, dia akan menemuimu.”
“Apa dia tahu di mana aku berada?”
“Dia akan berteriak-teriak memanggil namamu dari cakrawala.”
Tina mempererat pelukannya.
Tanpa kami sadari, Wijaya Kusuma sudah berdiri di pekarangan rumah Tina. Memandang kami dengan wajah kecewa. Aku kaget setengah mati, tetapi tidak melepaskan Tina dari pelukanku.


SEBUAH CATATAN HARIAN

Wajah Wijaya Kusuma tampak merah padam. Kebencian dan kemarahan yang menyelimuti hatinya, tak lagi mampu dibendungnya.
“Setan! Kau bajingan, Rimba!” maki Wijaya Kusuma.
Lalu, dia mengeluarkan pistol. Aku dan Tina terkejut melihat dia mengarahkan pistolnya itu kepada kami.
“Wijaya, apa-apaan kau ini?” kata Tina.
“Kau pantas mati, Rimba!” ucapnya , sambil mengarahkan pistol kepadaku.
Tina dengan gagah berani maju ke depanku, melindungiku.
“Tembak aku!” kata Tina.
“Minggir Tina!” teriaknya.
Tina semakin nekat memasang dirinya sebagai perisai.
Aku merasa kejantananku digedor oleh keberanian Tina. Tanpa berkomentar, kutarik Tina ke samping, dan melangkah menghadapi Wijaya Kusuma yang mengacungkan pistol ke arahku. Tak ada gunanya memberi penjelasan kepadanya. Dia sedang dirasuki amarah. Apa pun alasanku, dia tentu tidak akan percaya. Jadi, sekarang tinggal masalah keberanian. Apa dia memang punya nyali untuk membunuhku, atau sekadar menggertakku?
“Kubunuh kau, Rimba! Kubunuh kau,” katanya.
Dor! Pistol di tangannya meletus. Peluru itu tidak mengenaiku. Entah karena dia gugup, atau memang dia belum pandai menggunakannya.
“Rimba!” Tina berteriak histeris.
Aku tidak memedulikannya, terus saja melangkah mendekati Wijaya Kusuma.
Dor! Dor! Dor!
Wijaya Kusuma menembakku membabi buta. Entah berapa kali dia menarik picu pistolnya. Aku merasa sebutir peluru menembus jantungku! Aku tersungkur bermandikan darah.
Tina berteriak-teriak histeris. Teriakan itu menyadarkanku dari sebuah mimpi buruk. Tubuhku basah oleh keringat. Napasku terengah-engah.
Aku tercenung beberapa saat di tempat tidur. Kejadian tadi sore tampaknya telah membuatku bermimpi. Entah apa makna mimpiku itu? Apa gejolak dari perasaan bersalah? Atau, ada sebuah ketakutan baru yang menyelinap ke dalam jiwaku?
Kupandangi kamarku yang berantakan. Di atas meja, tampak buku catatan harian Wulandari masih terbuka di antara beberapa buku kumpulan puisi Angin. Tampaknya aku telah tertidur, setelah lelah membaca puisi-puisi Angin dan buku catatan harian Wulandari.
Aku menghela napas. Sarat. Lalu, bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela kamar. Kubuka jendela itu lebar-lebar.
Kupandangi langit malam dari jendela rumah kontrakanku. Bulan bagai sabit, mencoba memotong gumpalan awan hitam di antara berjuta bintang. Rumah-rumah penduduk di tepian Sungai Musi yang terperangkap dalam gelap. Perahu nelayan dalam kerlap-kerlip lampu minyak. Ada juga beraneka cahaya sinar lampu dari kapal-kapal yang bersandar di kejauhan, memancar di air Sungai Musi.
Seekor burung malam melintas, entah dari mana dan hendak ke mana dia. Aku hanya berharap, suatu ketika aku juga bisa terbang melintasi langit Sungai Musi dan kenangan yang terapung-apung di permukaan airnya yang berwarna coklat.
Kubiarkan jendela kamarku terbuka lebar-lebar agar angin membuka lembar demi lembar buku catatan harian Wulandari dan beberapa buku Kumpulan Puisi Angin. Aku berharap, angin mengabarkan sekelumit cerita hidup seorang wanita yang pernah sangat kucintai, yang mencatatku dalam dukanya.
Begini dia menulis dalam buku catatan hariannya ;
Rimba. Lelaki pertama yang meniduriku.
Kekasih masa lalu, yang mengajarkanku bagaimana seharusnya bercinta. Lelaki yang membimbingku terbang ke angkasa dengan sayap-sayap mimpi. Bercengkerama di antara langit biru dan gumpalan awan putih. Mencoba menyentuh rembulan dan menjuluk bintang. Sayang, ketika sayap itu patah, dia tak merentangkan kedua tangannya untuk merengkuhku.
Dia justru terhuyung-huyung dalam gelap malam. Menangisi nasibnya yang tak mampu berdiri tegak menahan terpaan angin. Dia biarkan aku terjerembab sendirian di belantara hidup yang buas. Aku berteriak-teriak mencari tangan-tangan cinta yang bijaksana. Malaikat Kota Jakarta menyambutku. Nafsu dan keserakahan.
Sejarah bermula dari luka. Sandiwara hidup menawarkan sebuah peran baru. Bukan kisah cinta abad pertengahan yang mendayu-dayu dengan sekumpulan kata-kata manis. Melainkan, kisah cinta manusia modern yang menderu-deru oleh nafsu, yang penuh dengan kemunafikan. Kau tak lagi pemeran utamanya, Rimba. Angin bukan lagi sutradaranya.
Halaman selanjutnya.
Tangan nasib yang angkuh memperkenalkanku pada seorang lelaki setengah baya dengan bibir lebar dan perut buncit. Lebih mirip buaya daripada manusia. Seorang direktur di perusahaan tempatku bekerja. Pak Sam, begitu orang-orang memanggilnya. Dia pendiam dan tak banyak bicara. Tak memiliki kata-kata indah, apa lagi puisi. Tetapi, dia memiliki uang berlimpah.
Pak Sam lelaki kedua yang meniduriku.
Mulanya aku takut dan jijik pada senyum Pak Sam yang selalu dikembangkannya untukku. Terlebih lagi manakala dia dengan sewenang-wenang menyatakan cintanya kepadaku dan bermaksud untuk mempersuntingku. Tetapi, setelah dia berikan sebuah rumah dan mobil untukku, kupejamkan mataku dari pemandangan mengerikan itu. Kubiarkan dia dengan leluasa memiliku tubuhku. Uang ternyata lebih indah daripada sekadar cerita cinta.
Pak Sam memberiku peran baru dalam sebuah drama yang disutradainya. Sebuah drama yang diangkat dari cerita bertajuk “Istri Simpanan”. Aku Pemeran utamanya.
Ternyata, tidak gampang memainkan peranan sebagai istri simpanan. Setting tempatku bermain terlalu kecil. Di sudut sebuah panggung yang luas dengan tata lampu warna-warni. Jauh dari sorotan cahaya dan tepuk sorak para pentonton. Aku bosan dengan ruang tempatku bermain. Kesepian menyengatku untuk berimprovisasi. Aku merayap ke tengah panggung dengan tarian cinta. Menyambut setiap uluran bunga para pemuda. Selaku sutradara, Pak Sam meradang.
“Kau bermain diluar naskah!” hardik Pak Sam berang.
“Aku perlu improvisiasi.”
“Kau mengecewakan!”
Dia memecatku, tapi aku telah siap. Karena, diam-diam aku telah belajar untuk menjadi pemain sekaligus sutradara. Lalu kutulis serial cerita cinta yang penuh nafsu dan pengkhianatan. Kupentaskan di kamar-kamar hotel mewah.
Kucatat baik-baik nama setiap pemain yang mendampingiku. Menteri, anggota Dewan, politikus, gubernur, bupati, camat, pengusaha, pejabat, wartawan, dan entah apa lagi jabatannya. Satu-satunya yang belum masuk dalam daftar catatanku adalah penyair.
Aku memang tak berharap dapat bermain dengan penyair, apalagi menyutradarainya. Aku tidak butuh serangkaian kata-kata indah yang penuh dengan bunga-bunga mimpi, apalagi menjadi menjadi ilham dari serangkaian puisi yang diciptakan di antara desah napasku. Karena, aku tidak tengah memainkan peran dalam kisah-kisah drama romantis.
Selain itu, ada juga beberapa puisi yang ditulisnya. Ternyata, menjadi pelacur tidak menghanguskan kepedulian pada puisi. Hobi masa lalunya itu bagaikan memberinya ruang lebih besar untuk mengungkap seluruh perasaannya, terutama kekecewaanya pada cinta dan nasib.
Dulu, Angin sering memberikan pujian kepada puisi-puisi karya Wulandari. Bahkan menurut Angin, karya-karya lebih bagus daripada karya-karyaku.
“Kau punya bakat untuk menjadi penyair. Asah terus kemampuanmu. Suatu saat, kau akan menjadi seorang wanita penyair terkemuka dari Palembang,” ucap Angin. Biasanya, ucapannya itu bersamaan dengan gerak tanganya untuk merangkul atau sekadar mengelus-elus punggung Wulandari dengan lembut.
Angin memang selalu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk sekadar menyentuh Wulandari, terutama bila tengah mengarahkan Wulandari berakting dalam setiap drama yang disutradarainya.
Dari beberapa puisi yang tertulis di buku itu, ada satu puisi yang membuatku agak terperangah. Sebuah puisi berjudul Kepadamu. Judul dan isin puisi itu sama persis dengan puisi yang tersimpan dalam saku jaket Angin, pada saat dia ditemukan terapung-apung tak bernyawa di Sungai Musi.

Kepadamu
Bila satu episode telah lewat
Tak usah lagi kau lawat.
Dia akan tumbuh bagai bunga
Tanpa kau pinta
Dia akan mekar bagai mawar
Tanpa kau sadar
Hidup cuma menjalani takdir
Telah tertulis sejak kau lahir
Mengalir bagai air
Aku ingin abadi di Musi
menjadi bagian dari penyair nanti
Menjadi misteri
sampai kau mati

Puisi itu berada dalam genggamanku sekarang. Berulang-ulang telah kubaca. Gamang tanganku menggenggamnya, karena ribuan pertanyaan menghujam. Ada perasaan tidak percaya, bahwa sebenarnya puisi itu ciptaan Wulandari. Ada bayangan hitam pekat, mengingat bahwa puisi itu berada di dalam saku jaket Angin.
Kuarahkan perhatianku pada sudut gelap yang tak tersentuh cahaya, tempat yang sunyi, tempat Angin tenggelam dan meregang nyawa.
Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu muncul dari dasar Musi. Berenang perlahan-lahan ke arahku melewati arus yang deras. Semakin dekat, semakin jelas wajahnya. Angin! Benarkah Angin yang tengah berenang dengan napas terengah-engah itu?
Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, dia sudah berada di hadapanku. Tubuhnya basah kuyup.
“Angin?” tanyaku seperti tak mempercayai penglihatanku.
Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Sinis.
Aku merasa dia pasti kedinginan, melihat tubuhnya yang kurus itu dibalut oleh pakaian yang basah.
“Kau pasti kedinginan. Aku akan mengambilkanmu handuk,“ kataku sambil melangkah pergi dengan cepat untuk mengambil handuk. Tapi begitu aku kembali lagi, dia sudah tak berada di sana. Aku mencari-carinya.
“Hei, di mana kau, Angin?” tanyaku setengah berteriak.
“Untuk apa lagi kau mencariku,” terdengar suara Angin.
Aku mencari-cari asal suara itu, tak kudapatkan.
“Aku bawakan handuk, karena kau pasti kedinginan,” kataku kemudian.
Terdengar suara tawa sinisnya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Kau seperti anak-anak.”
“Kau kedinginan!”
“Kaulah sesungguhnya yang kedinginan,” terdengar lagi suaranya.
“Tapi, pakaianmu basah.”
“Ya, tapi hatiku tidak.”
“Kau akan sakit.”
“Kau yang akan sakit.”
“Biar aku menolongmu.”
“Tolonglah dirimu sendiri.”
“Aku ingin bertanya kepadamu tentang puisi ini!” kataku dengan nada putus asa dan kecewa. “Aku ingin kau menjawab dan mejelaskannya, kenapa puisi ini sampai berada di saku jaketmu?”
Tak ada jawaban, kecuali gemericik suara air Sungai Musi.
“Angin! Benarkah puisi ini puisi Wulandari?” tanyaku lagi.
Sepi.
“Angin! Jawab pertanyaanku! Benarkah puisi itu karya Wulandari?”
Aku berteriak meminta kepastian jawaban darinya.
Senyap.
Gelap mendekap.
Aku mencari-cari bayangannya. Tapi, yang kutemukan justru bayanganku sendiri.
Aku menutup kedua mataku dari bayangan hitam yang menyergap hati dan pikiranku. Mencoba menjauhkan lukaku dari hujaman onak dan duri. Sudah cukup lama aku terpenjara karenanya.
Kutinggalkan jendela kecil di rumahku itu, melangkah ke luar rumah, ke udara lebih bebas dan terbuka. Memandangi kehidupan yang sesungguhnya.
Kubiarkan buku itu terbuka, agar semua orang memahami betapa pahit cinta itu sebenarnya.



S e k i a n



Palembang, 27 September 2006

Catatan kata (Sekayu) dan ujaran:

Awu : yadak suek: tidak ada
Begawe : bekerja ; nak begawe dak : mau bekerja tidak
Benomor : main judi togel
Dem tu : sesudah itu, setelah itu
Dak suek : tidak ada
Die : dia
Galak : suka, mau
Gile : gila
Karene : karena
Kene : kena
Nga/ngakak : kau, engkau, anda
Pulek : pula
Pencarian : mata pencaharian, pekerjaan
Pik/kupik : kakak perempuan, sapaan terhadap perempuan Sikak : sini, ke sini, kemari
Yung/kuyung : kak, kakak, sapaan kepada lelaki
Kene : kena
Kunci, Shong Hi : jenis minuman keras produk lokal.
Tejual : terjual
Tempat gin buang anak : istilah untuk tempat yang jauh dan angker

Komentar

27.12.2009 22:29:14 WIB | adelelymn :

Buenos dias. http://lezopolos.br


22.11.2010 00:49:08 WIB | Gaumberma :

http://mordijiew.us