Perahu

coba

18.02.2010 06:20:57 WIB

0 (intro)
Matahari di Teluk Lampung. Biasnya menancap garis kemarahan. Berabad-abad lalu gelembung udara dan percikan air berdinding kaca itu, merendam ribuan wajah dalam keasinan garam laut. Mereka mendiami rumah sepanjang parit industri. Mengaliri waktu; hingga kesibukan membaca komik sejarah -- bergambar jeruji kekerasan.
Musim panas melegamkan tubuh nelayan pesisir Lampung. Cahaya matahari meringkas pandangan ke laut. Ada perahu kecil terbalut pamplet Kompeni. Menjilati kaki-kaki kapal saudagar seberang. Mereka selalu terlihat lapar. Mulutnya lebar dikawal taring-taring tajam. Tabik, Radin Jambak! Ini sepatah prosa bersenjata. Bersangkur dan berbaris tegap ditopang ribuan pasang sepatu busuk. Kenangan mesra dari seberang. Bajak lautan, teriakan waktu: “kelamini kami lelaki perkasa, Ibu! “
Jutaan ton ikan masuk ke perut mereka. Sudah beribu meriam ditembakkan.
“Van der Plas..Van der Plas!”. Suara gerakan buruh dan kaum proletar dari perut Belanda itu, menyusup ke tubuh partai komunis kita — seperti juga tentara. Semua menjadi boneka sejati.
Teluk Lampung, hingga ke dasar lautnya, tidak pernah mencemaskan amarah masa lalu. Karena pukat harimau dan ledakan bom di laut selalu mengajarkan nelayan berhitung kekayaan bajak lautan. Seperti kita -- merampok pulau dan daratan. Menggenggam peta dan ratusan proposal agen-agen nekolim, neolib, di pesisir lautan. “Lihatlah, wahai punyimbang kebuwaian! Marga nelayan kecil itu ikut berebut memunguti bangkai ikan yang mengapung dihantam ledakan bom perahu besar itu!”
Manusia lautan adalah manusia yang malu mengungkap sejarah dirinya. Tidak ada tangisan ketika senjata dibarter isi perut marga pesisir. Kapal Kompeni menelan beribu perahu kecil sepanjang dermaga Telukbetung. Tidak ada pengadilan atau kompensasi pampasan perang. Armada militer Banten, Belanda, Inggris, dan sekutu lainnya, menjadi lukisan masa lalu bebercak kekalahan. Kekalahan kaum pesisir! Mereka yang berdiam tanpa perlawanan.
Angin dan udara Sai Bumi Ruwa Jurai tak segan lagi berkabar kebusukan limbah sejarah. Puluhan tahun orang-orang seberang membutatulikan mata dan telinganya. “Aku ingin kalian seratus abad lebih tua dari pertemuan waktu. Menjadi bodoh dan renta. Piil Pasenggiri! Jadilah kamu manusia agung dalam gemerlap cahaya petang, kemudian tidur panjang meninggalkan kekalahan demi kekalahan!”
Hai, kalian-kalian, Pepadun dan Saibatin! Tabik. Inilah rezim masa depan!
Mereka datang mengeruk kekayaan bumimu. “Sutan…Sutan! Saya Bukan Melayu! Saya Soeharto! Anak petani, bukan pelaut atau pekebun!” Mereka bertukar kebun kopi dan lada menjadi padi dan jagung. Jutaan kebun berubah hamparan sawah. Semua tempat disulap menjadi sentra padi. Rumah panggung, kampung lumbung. Air gunung turun mengaliri parit-parit irigasi hingga pelosok desa. Wilayah hak purba, tanah hak ulayat pun direbut orang-orang seberang.
Kekalahan yang sama. Tidak ada keributan atau poster kemarahan kepada Soeharto dan orang-orang seberang. Rapat perwatin di kampung-kampung berjalan lancar. Semua disepakati dengan senyuman. Karena transformasi manusia dan budaya ke pulau-pulaumu adalah argumentasi dekolonialisasi para pendatang atas pribumi secara bersahaja. Menjadi tesis purba; legenda rempa-rempa dan bajak lautan!
“Lampung: Sakai-Sambayan!”
Sebuah tata nilai leluhur berubah menjadi improvisasi instan penguasa yang menistakan kearifan budayamu. Mereka membalutnya dengan spanduk kemanusiaan, solidaritas, partisipasi, tolong menolong, serta keterbukaan tulus bagi pendatang.
Kini waktu, tak sanggup lagi bersiasat. Televisi dan koran menayangkan ratusan wajah cerdik pandai, kaum kritis, pembela rakyat, atau oposisi sejati. Mereka tidak lagi berpidato atau memimpin aksi. Mukanya pucat dan lusuh. Ia tertidur di meja pesakitan. Seperti kisah pendekar reformasi. Demokrasi atau apalah namanya, telah menjerat si anak “haram” Soeharto itu satu per satu ke kamar penjara.
Orang-orang transisi ternyata lebih lapar dan rakus!
Seorang ibu bernama Baya, dan jurnalis Hesti, sore itu, sibuk mengulangi notasi Gerwani, dari penjara Rajabasa. “Ima, nenekku pernah menyanyi lagu genjer-genjer yang dipropagandakan Orde Baru: ganyang jenderal-jenderal!” Lalu mereka ramai-ramai menciptakan prosa baru berisi caci-maki kepada Soeharto dan kroninya.
“Ganyang Orba! Ganyang Antek Soeharto!” 70 ribu LSM tumbuh menggurita! ujar Kantor Statistik. Mereka berbendera warna-warni. Ada yang lapar. Ada yang kekenyangan. Ada yang tersenyum. Ada yang marah-marah. Jam 10 pagi presiden baru Indonesia berpidato demokrasi dan berantas korupsi. Koran dan televisi tertawa-tawa.
Tetap saja. Ketakutan yang lama.
“Aku pribumi!”
Umar dan proletariat pesisir bersama perahu kecil, terus terombang-ambing di Teluk Lampung. Mereka terpanggang matahari. Mereka tidak merasa dikalahkan. Hahahaa…! seperti kaum pesisir lainnya; selalu merasa menang, meski tak pernah berperang dan menguasai wilayah perbatasan. “Ini perselingkuhan bangsawan Jawa-Sumatra!” Rakyat kecil, orang-orang pribumi menjadi minoritas yang tak ambil bagian. Mereka sudah jauh tersingkirkan.
Sejauh 30 Kilometer sepanjang garis pantai Teluk Lampung, wajah buruh nelayan kian buram. Jala ikan menjaring sampah plastik. Mereka terpaksa berperahu 10 Mil ke perairan Selat Sunda, perairan Krakatau, Pulau Sebesi, atau Pulau Legundi, untuk mendapatkan seember ikan.
Ikan-ikan pergi meninggalkan pesisir pantai. Aktivis lingkungan berteriak kadar Biochemical Oxygen Demand atau BOD Teluk Lampung, di atas 300 Miligram. 10 kali lipat melampaui batas maksimum 30 Miligram. Tetapi pencemaran limbah yang semakin kritis itu tak pernah merisaukan penguasa kota. Laut kotor. Terumbu karang hancur terkena bom ikan. Tahun 2006, udang windu pergi meninggalkan tambak petani. Tinggal kenangan.
Dari kejauhan Bukit Randu dan Bukit Camang, Lina, Along, dan Lastri, terus meneropong proposal kota air. Ada profesor, ada doktor di sana. Apa yang dikerjakan mereka di pesisir pantai? Mereka sibuk menyulap daun bakau menjadi lembaran dolar!
Sementara, beribu ton tanah bukit kota digerus untuk menguruk pesisir. Menimbun pantai. Perahu nelayan tak bisa lagi mendarat. Laut disulap jadi daratan. Menjadi kapling-kapling bersertifikat Badan Pertanahan Nasional!
“Pak Walikota! Jangan teriaki pantai dan bukit! Sudah ratusan juta, bahkan miliaran rupiah uang mereka ditebar ke kantong-kantong suksesi kota!”
“Ayolah kita berdeklamasi di lembah bukit Camang! Berpesta ineks! Triping di pinggir pantai atau di atas perahu!” Mari bersama-sama menjilati sahwat. Tekan lagi sebutir ekstasi! Telan dalam-dalam! Dan teruslah kepala digoyang sekencang-kencangnya! Puluhan karaoke dan diskotik, memecah ketegangan kita. Mengenali bau amis laut. Mengaliri tubuh penari nudist dalam siraman cahaya merah; kamar-kamar yang berkeringat.
Seperti gelora Lina dan Along. Baya dan majikan suaminya. Atau perselingkuhan Umar dengan isteri majikan. Bertamasyalah ke taman hiburan Swis, Hollywood, Golden Dragon, Santai, Meteor, Imperium, WK, Dwipa, dan panti-panti seks sepanjang pesisir Teluk Lampung. Atau berpesta ineks dan sabu ke penjara Rajabasa.
Lihatlah! dini hari lalu puluhan ribu orang dalam kepanikan. Mereka berlarian menyerbu Tanjungkarang, Sukadanaham, Kemiling, dan tempat tinggi untuk berlindung. Dari bibir Pulau Pasaran terdengar teriakan tak hentinya: “Air laut naik! tsunami!” Lalu Kemiling diguncang gempa. Sehari hampir 100 kali bergetar. Getar gempa swarm itu, sebulan lebih menteror warga.
Corong speaker masjid berteriak-teriak! Warga diperintah meninggalkan rumah. Bertenda di halaman rumah. Ribuan orang dalam kecemasan. “Hahaha...kecemasan takut mati!” Mereka menolak menjadi bangkai monyet yang mengapung di mangkok sop primata sebuah restoran Khuai Lok. Atau dihisap otaknya menjadi juice obat kuat. Lalu kotaku dililit angin puting beliung! Pohon roboh. Rumah-rumah roboh!
Di sisi lain, lelaki bernama Umar semakin jauh terlempar dari keriuhan dermaga. Seperti kitab obsolet. Tidak ada waktu yang gelisah, ketika lelaki Saibatin dan perahunya menghilang, bergumul ombak lautan.
Tidak ada legenda tentang patriot dan pujangga Kut Guan pada hari Pe Cun di Teluk Lampung, atau Hikayat Hang Jebat — ketika prosesi perahu berubah menjadi perhelatan politik daerah. Politisi, hakim, polisi, dan orang terpilih, tampak menari-nari bersama komisi pemilu. “Era baru. Persahabatan baru!”
“Hahahahaaa..!” Aku tertawa lagi. Kesaksian apa pula, ketika Lina dan Lastri bercinta satu ranjang. Seperti Along mendapatkan kehidupan seks yang lain bersama Ayung. Inikah bagian dari The Name of Identity? Kegilaan seks! Sadisme. Atau pembunuhan massal ribuan orang kontra Soeharto-Orba. Mungkin hanya gejala alamiah. Sebagai ikon semu menandai identitas. Lalu meninggalkan kampung dan sejarah dirinya. Meninggalkan tradisi. Adat delicten recht! “Aku mencari tanah airku. Aku berteriak mencari Radin Intan. Seperti Soeharto mencari Raja-raja Jawa.”
Dari pintu depan Tanah Melayu, matahari betul-betul merah.
Panasnya menampar orang-orang di atas perahu.
Sementara rambu-rambu kota selalu saja berzikir sepanjang hari. Iya..! berzikir setiap masa sepanjang hari.

1
Baya hanya merasakan sesuatu yang baru selama proses peradilannya.
Semua orang tiba-tiba bekerja untuk negara. Hingga pengacara pun terlihat lebih disibukkan mengurus jaksa dan hakim pengadilan negara.

Malam di penjara Rajabasa. Udara dan jeruji besi kedinginan. Dinginnya menusuk satu demi satu tubuh-tubuh yang berbingkai kekerasan. Trap papan seluas dua kali empat meter, menelungkup di lantai semen seluas 24 Meter persegi. Sedikit manusiawi untuk mengurangi kelembaban ruang-ruang sel perempuan blok D-3 penjara kelas satu tersebut.
Penjara adalah negara. Ia terlihat setiap hari melintasi kamar berjeruji besi, seperti sipir, jaksa, polisi, juga dokter dinas kesehatan. Mereka pegawai yang bekerja untuk negara.
Tidak ada ketakutan atau kesedihan di wajah Nurbaya sejak bermukim di sana. Begitu pun lima rekannya dalam kamar sel blok khusus wanita itu. Mereka menjalani waktu dalam peristiwa yang sama.
Baya panggilan akrab Nurbaya, hari itu, membahasakan dirinya sebagai belalang migran yang bermigrasi ke wilayah baru. Wilayah yang harus dijustifikasi beragam kekerasan. Keberingasan. Mabok bersama vigour, shonghie! Lalu membunuh, merampok, serta persoalan hukum dan kejahatan lainnya.
Nurbaya tidak punya kemampuan bertutur untuk menguraikan teks yang hidup dalam penjara. Begitu pun proses hukum ketika hakim memvonisnya menjadi narapidana penghuni Rajabasa. Baya hanya merasakan sesuatu yang baru selama proses peradilan. Semua orang tiba-tiba bekerja untuk negara. Hingga pengacara pun terlihat lebih disibukkan mengurus jaksa dan hakim pengadilan negara. Ia seakan bekerja untuk sang hakim negara.
Di hadapan peradilan negara itu, Baya seakan dipaksa mengusung sebatang bambu yang diikat bendera merah putih. Kemudian dengan muka ditutup topeng ia mengucapkan sumpah atas nama Tuhan, sambil menyanyikan kebohongan. Lalu majelis hakim Pengadilan Kota menyambutnya dengan senyuman -- sebagai persetujuan mendeklarasikan kejahatan.
Mereka berteriak: Atas nama Tuhan. Atas nama Hukum dan Keadilan!
Di blok D-3 penjara Rajabasa ada tiga kamar sel, dua di antaranya berukuran sedang dan satu berukuran besar. Sementara sel untuk pria berada di Blok B-C dan A, di sebelah kanan ke arah belakang areal penjara yang luas keseluruhan 4,8 Hektare. Tepat di depan blok wanita berdiri rumah ibadah musholla dan gereja yang bersebelahan aula, tempat biasanya para napi dan tahanan berkumpul jika ada kunjungan tamu. Juga ceramah agama, atau peringatan hari-hari besar.
Di depan sel penjara berdiri bangunan dua lantai tempat Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan staf administrasinya berkantor. Sedangkan di bagian bawah pintu masuk difungsikan untuk pintu keluar masuk penjara, ruang tamu, ruang periksa, serta tempat besuk napi dan tahanan.
Kendati ada empat titik pos pengamanan di empat sudut areal penjara, namun beberapa kali Rajabasa sempat dijebol penghuni sel. Para napi yang kabur banyak belum tertangkap. Bobolnya penjara bukan semata kelalaian petugas. Tetapi dari kondisi penjara yang melebihi daya tampung, ikut mempengaruhi kemampuan pengamanan mereka. Dari kapasitas tampung kamar sel Rajabasa, 825 orang, kenyataannya dipadati lebih 1000 orang. Mereka bercampur aduk. Mulai narapidana, tahanan titipan polisi dan jaksa, juga tahanan wanita dan anak-anak, ditampung di penjara itu.
Pihak kantor wilayah kehakiman, terpaksa menyiapkan dua bangunan tambahan di lokasi Way Hui, Sukarame. Diperuntukkan penjara khusus anak-anak, napi kasus narkotika dan obat-obatan, sekaligus rehabilitasi pecandu narkoba.
Sebelum di Jalan Pramuka, penjara ini dulunya di Lebak Budi, tidak jauh dari Pasar Bambu Kuning. Masih bertatus Rumah Tahanan atau Rutan Tanjungkarang. Rajabasa bukanlah penjara menakutkan seperti Gulag, yang diceritakan sebagai kamp pembantaian kaum desiden atau pembangkang komunis Rusia.
Penjara Rajabasa berada di belahan barat Tanjungkarang masih di dalam kota Bandar Lampung. Asal nama Rajabasa sendiri bisa jadi diambil dari nama raja dalam cerita rakyat Lampung. Menurut cerita rakyat di masyarakat pesisir Krui dan warga desa Lumbok di pinggir Danau Ranau, Rajabasa adalah seorang raja yang pernah berkuasa di wilayah pesisir Lampung Barat. Diceritakan, ketika berkuasa Rajabasa sempat hadir dalam konvensi menentukan batas wilayah antarkerajaan di Lumbok.
Dari literatur sejarah, pasca bangkrutnya VOC Tahun 1800, dan masuk era kolonial Belanda, pesisir Rajabasa dijadikan pangkalan pertemuan kerjasama dagang antara pelaut Lampung dengan pelaut Bugis, Palembang, dan Banten.
Ketika Radin Intan II dinobatkan sebagai Ratu Negara Ratu, tahun 1880, wilayah pemerintahan Negara Ratu dibagi empat bandar, satu di antaranya Bandar Rajabasa yang dikepalai seorang kepala bandar atau disebut pangeran. Radin Intan II membagi lagi setiap wilayah bandar menjadi empat paksi. Setiap paksi dikepalai seorang kria. Seterusnya paksi dibagi atas beberapa pekon. Pemimpin pekon disebut temenggung. Pada era otonomi pasca reformasi, pemimpin pekon disebut peratin.
Baya dan tahanan lainnya, termasuk petugas penjara, tidak begitu perduli asal-usul Rajabasa. Selain nama penjara, Rajabasa juga digunakan untuk nama terminal besar di Bandar Lampung yakni, Terminal Rajabasa. Nama gunung di Lampung Selatan, Gunung Rajabasa. Serta nama kampung Rajabasa di Sukadana, Lampung Timur.
Sejarah kadangkala cepat berubah mengimbangi kebutuhan hidup orang, beserta ruang dan waktunya. Di masa mendatang, penjara Rajabasa bisa saja berubah nama lain. Penguasa sangat berperan dalam merubah nama dan tempat tersebut.
Semasa rezim Soeharto, nama jalan, lorong, dan gang-gang di Bandar Lampung dan kota-kota lainnya, sebagian besar diambil dari nama tentara atau militer. Entah itu nama institusi atau golongan. Para ksatria dan orang yang dianggap pahlawan oleh rezim yang berkuasa pada masanya. Begitu juga nama pejabat atau petinggi militer dinobatkan menjadi pahlawan nasional, seperti jalan Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, Gatot Subroto, Suprapto, Suparman, MT. Haryono.
Ada juga gang atau lorong bernama Bintara, Tamtama, Perwira, Prajurit, dan lain-lainnya. Di perairan Bakauheni, ada pulau dinamai Pulau Prajurit. Jarang sekali nama orang-orang sipil dijadikan nama jalan, kendati veteran pejuang sekali pun.
Begitulah resikonya, negara baru melek sudah dipimpin militer. Bahasanya “tangkap!”, “culik!”, dan “habisi!”. Diksi militerisme tersebut dipelihara dan dikondisikan untuk meredam para pembangkang, kelompok desiden, atau intelektual yang berseberangan dengan penguasa.
Dalam kanca politik pun para elit negara dan jenderal militer diposisikan sebagai tokoh dominan di partai berkuasa seperti Golkar. Hingga era reformasi tradisi lama itu masih dipelihara. Misalnya untuk jabatan sekjen pusat, partai berlambang pohon berdaun lebat ini, lazimnya diduduki oleh purnawirawan TNI. Kendati dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar tidak ada ketentuan itu.

2
Mendengar akan diserang, seluruh jamaah bersiaga, dengan anak panah.
Begitu rombongan Kasdim datang, mereka langsung menyambutnya dengan anak panah.
Danramil Soetiman tewas.

Siapa memiliki keberanian berhitung serta mengukur waktu dari sel penjara yang lembab itu? Baya dan napi wanita lainnya, tidak pernah peduli perputaran masa yang membingkai persoalan mereka hari ini atau esok. Mereka bukan tahanan politik yang setiap hari bersolek dan merias dirinya menjadi pahlawan.
Baya tidak ubahnya kecoa busuk yang tidak memiliki harga untuk dijual ke masyarakat. Tidak ada telepon dan surat yang mendatanginya. Tidak ada kiriman apel dan jeruk segar. Tidak ada koran dan televisi. Tidak ada rokok dibagikan ke para sipir dan petugas jaga. Apa lagi menyogok kepala keamanan atau pemimpin penjara, agar bisa jalan-jalan keluar penjara dan tidur pulang ke rumah. Baya bukan tahanan berkelas, seperti koruptor atau politisi, yang setiap waktu bisa pulang meninggalkan kamar selnya.
Meski berijazah SMA dan lulus ke perguruan tinggi negeri, Ibu dua anak ini, hanyalah isteri buruh nelayan di Gudang Agen, Telukbetung. Baya bekerja serabutan. Kadangkala jual kain, jual tikar pandan, upahan cuci pakaian tetangga, dan membuat kue sekaligus menjualkannya keliling kampung. Sebelum menikah, Baya sempat bekerja di perusahaan distributor perabot rumah tangga. Ia juga pernah menjadi staf dokumentasi dan pustaka di sebuah lembaga non pemerintah yang mengelola dana luar negeri.
Baya tidak memahami sejarah hitam-putih sebuah penjara. Semula anggapannya, penjara adalah sesuatu yang menakutkan. Tetapi, sejak mendiami kamar sel penjara, ketakutan dan kecemasan itu berubah menjadi keberanian. Baya dipenjara 10 tahun karena membunuh. Perempuan itu menyatakan sikap di pengadilan, bahwa membunuh adalah sebuah kemenangan.
“...dan aku tegaskan kepada kalian! Apa yang aku lakukan adalah perlawananku melawan kekejaman kalian. Sekali pun harus membunuh untuk bertahan hidup!” demikian kutipan pernyataan Baya dalam pledoy yang dibacakan pengacaranya.
Baya begitu lega dengan kalimat demi kalimat dalam amar putusan Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang yang dibacakan pada sidang terakhirnya. Hal-hal yang memberatkan, ujar hakim, aksi membunuh tersebut dilakukannya dengan penuh kesadaran dan terencana lebih dahulu. Vonis berat sang hakim disambutnya dengan senyum. Ia rasakan suara palu pengadilan terdengar merdu di telinganya.
Baya membunuh dengan senyuman. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Perempuan itu begitu siapnya menghadapi hukuman. Sekali pun dieksekusi ke tiang gantungan atau lapangan tembak. Ia seperti baru saja menyelesaikan potongan akhir serenade klasik “Requim” dari partitur peradilan kita. Meletakkan sejarah dirinya di kamar sel yang dingin. Membisukan mimpi dan reguleritas hidup. Seperti riwayat kebisuan sang bapak, Haji Hazairin, yang hilang tak berjejak — setelah lebih dulu diculik dan dibuang ke kamp tahanan orang PKI di Pulau Kemaro, Sungai Musi, Palembang.
“Saya dalam kondisi sehat dan sadar ketika melakukan itu...” kata Baya kepada majelis hakim -- beberapa saat sebelum amar keputusan sidang dibacakan.
“Apakah Anda menyesal?”
“Kenapa Anda tanyakan itu?” balas Baya.
“Saudara terdakwa, saya ulangi. Apakah Anda menyesal melakukan perbuatan terkutuk itu?” ulang hakim.
“Tidak!”
“Kenapa?” tanya hakim geram.
“Apa yang saya lakukan adalah yang terbaik bagi saya, juga keluarga saya.”
Baya menolak banding. Ia menerima vonis 10 tahun penjara yang diputuskan majelis hakim.
Pengacara Baya, Alamsyah, hanya tertunduk mendengar keputusan itu. Padahal, menurut Alamsyah, apa yang dilakukan Baya adalah tindakan membela kehormatan dirinya dan keluarganya. Beberapa hari sebelum vonis dibacakan, Alamsyah sempat dihubungi salah seorang anggota majelis hakim. Tetapi Alamsyah tidak bisa berbuat banyak. Ia paham kondisi ekonomi kliennya. Meski pun sidang putusan itu sempat ditunda hakim sampai dua kali masa persidangan.
Baya sendiri sebetulnya adalah korban. Tetapi Alamsyah merasa lega, karena putusan hakim tersebut lebih ringan dari ancaman jaksa Ritonga yang menuntut hukuman penjara seumur hidup.
“Ayo Tidur!”
Teriakan sipir Muna yang melintasi lorong Blok D-3, memecahkan lamunan Baya. Para napi dan tahanan wanita di kamar sel bangkit, sembari merapikan pakaian mereka yang tersingkap.
Usia Baya belum terlalu tua. Ia lahir di Palembang, Tahun 1961. Meski sudah satu tahun menghuni kamar sel Rajabasa, tetapi Baya masih terlihat segar. Tubuhnya terbilang tinggi untuk ukuran perempuan kebanyakan, sekitar 1,67 Meter. Raut muka lonjong. Rambutnya berombak hitam. Tubuhnya terbalut kulit putih, masih terlihat kencang kendati sudah beranak dua. Wajar saja Baya mendapat perhatian agak lebih dari sipir dan petugas penjara ketimbang napi wanita lainnya.
Haji Hazairin, bapak Baya, berasal dari Pangkalan Balai, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Sementara ibunya dari Pagaralam, Lahat. Wajah Baya cenderung ke ibunya. Mirip wajah orang Tionghoa.
Sebelum diculik usai Gestapu 1965, Haji Hazairin memiliki kebun karet yang cukup luas. Di rumah, Hazairin bersama isterinya membuka toko klontong. Ia juga menampung hasil bumi petani, seperti padi, jagung, dan singkong.
Haji Hazairin diculik dan diisolasi ke Pulau Kemaro, karena dituduh terlibat kegiatan PKI, Partai Komunis Indonesia. Dua tahun di pengasingan Pulau Kemaro, Hazairin dikabarkan meninggal dunia.
Waktu itu Baya berusia empat tahun. Hingga sekarang ia tidak tahu keberadaan mayat bapaknya. Apakah dimakamkan, atau dibuang ke sungai. Karena di pulau yang dijadikan pembuangan orang yang dituduh aktivis PKI tersebut, tidak ditemukan kuburannya.
Haji Hazairin bukanlah ekstrimis atau kelompok kiri, seperti Amir Sjarifuddin, Tan Malaka, Musso, Aidit. Ia juga bukan kelompok Sjahrir dan Hatta dengan politik reaksionernya. Menurut cerita ibu Baya, Hazairin dikenal muslim yang taat dan berpengaruh di masyarakat. Ia biasa diminta bicara di hadapan orang banyak. Hazairin juga aktif dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia tidak pernah bicara politik atau gerakan, tetapi banyak bicara soal nasib manusia bernama buruh dan petani.
Hazairin sangat membenci penjajah. Ia mengutuk kaum imprealis atau neokolim, termasuk kelompok reaksioner Indonesia yang waktu itu, berkompromi dengan negara kolonial seperti Belanda dan Inggris.
“Ini salah satu dosa besar kita terhadap anak cucu kelak,.” ujar Hazairin kala itu.
Baya membandingkan penderitaannya di penjara. Belum seberapa dengan kesengsaraan bapaknya saat ditahan dan disiksa tentara masa itu. Menurut cerita, Haji Hazairin mengalami nasib seperti Amir Sjarifuddin tokoh PSI, dan kawan-kawan. Hazairin dan aktivis PKI lainnya diduga dibantai di tahanan Pulau Kemaro, lalu mayatnya ditenggelamkan ke Sungai Musi.
Cerita dari mulut ke mulut itu membuat miris keluarga Hazairin. Baya selalu menangis jika teringat cerita soal bapaknya. Ia mengutuk para pelaku politik masa itu, yang tidak bermoral dan beretika politik. Membunuh menjadi pilihan politik untuk terus berkuasa. Komunis adalah ideologi, bukan partai politik.
Tindakan balas dendam dan penumpasan PKI yang dilakukan militer dan kelompok anti-komunis waktu itu, menurut Baya, adalah tindakan yang tidak berprikemanusiaan. “PKI adalah partai politik, komunis adalah ideologi.” Kalimat yang sering diucapkan bapaknya itu, kembali diulang-ulang Baya. Hazairin mengaku bahwa ia pengagum Marhen dan Soekarno, tetapi bukan umat PNI atau PKI! Sampai kini Baya tidak tahu apa maksud kalimat yang disebutkan bapaknya itu.
“Kita punya kisah yang sama,” tanggap Hesti mendengar cerita Baya.
Hesti sudah tiga bulan menghuni sel Rajabasa. Ia dipenjara karena menulis artikel di korannya tentang jaringan penyelundup mobil-mobil mewah di pelabuhan peti kemas Panjang. Penyelundupan itu dilakukan secara sistematis oleh jaringan yang melibatkan pengusaha, oknum pejabat Bea Cukai, seorang pejabat daerah, serta beberapa oknum aparat kepolisian di pusat.
Dari hasil investigasinya itu, Hesti memaparkan secara rinci jaringan serta modus penyelundupan mobil mewah di pelabuhan bongkar muat itu. Modus penyelundupan antara lain mengubah keterangan dokumen barang dalam kontainer yang disegel label Bea Cukai, dengan menyebutkan kiriman jenis barang, general cargo. Pada daftar barang tidak menjelaskan secara detail atau spesifik. Dokumen perjalanannya diubah dari dokumen impor menjadi angkutan antarpulau atau inter-insuler.
Sedangkan keterangan daftar manives barang yang dikirim dari Singapura itu hanya tertulis onderdil otomotif. Praktek penyelundupan mobil yang merugikan negara miliaran rupiah, diduga hingga kini terus berlangsung.
Karena tidak dapat menunjukkan bukti akurat tentang mobil-mobil selundupan dari Singapura itu, serta sikapnya melindungi jatidiri narasumbernya, Hesti diseret ke Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Berkas perkara yang diajukan ke majelis hakim tidak menggunakan Undang-Undang Pers, tetapi KUHP. Jaksa mendakwanya, pasal pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong.
Hesti akhirnya divonis 14 bulan penjara. Ia juga dipecat oleh pemilik koran. Tetapi tidak lama Hesti dipenjara, koran harian itu tutup karena konflik antarpemilik saham. Beberapa waktu kemudian terbit lagi dengan manajemen baru. Namun sebagian besar sahamnya telah dibeli seorang pengusaha di Jakarta, konon dekat dengan lingkaran penguasa pusat.
“Nenekku juga pernah ditahan bertahun-tahun tanpa pengadilan. Ia anggota Gerwani. Ia baru dilepaskan setelah pamanku meminta bantuan seorang perwira tinggi saudara istrinya,” ungkap Hesti.
Baya terkesima mendengar pengakuan Hesti. Selama tinggal satu kamar sel gadis muda ini tidak banyak bicara. Jika Baya bercerita dengan kawan-kawan tahanan lain, Hesti hanya menjadi pendengar saja. Tanpa berkomentar atau ikut berpendapat. Baru sekarang Hesti membuka jati dirinya, wartawati sebuah harian.
Baya baru paham kenapa sejak Hesti masuk ke sel itu, sikap para sipir dan petugas agak berubah. Mereka terlihat hati-hati bicara dengan para penghuni kamar sel. Padahal selama ini, sangat terbuka dan ceplas-ceplos, bahkan sering bicara di luar konteks antara sipir dan tahanan.
“Kejadian mengerikan itu tidak hanya di Palembang atau Sumatera,” Hesti kembali bercerita. “Peristiwa pembunuhan massal aktivis PKI terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa dan Bali. Kesaksian mantan korban, tahun 1965-1966, di Wonosobo, Jawa Tengah, ditemukan kuburan berisi korban pembunuhan massal oleh kelompok anti-komunis,” jelas Hesti.
Setelah kuburan besar digali, papar Hesti, ditemukan bukti-bukti seperti cincin kawin, gigi palsu, dan barang-barang lain. Beberapa korban teridentifikasi secara forensik. Namun ironisnya, ketika kerangka korban hendak dipindahkan ke tanah kelahirannya di Temanggung, warga spontan menolak. Mereka membentang spanduk lebar-lebar: “Tidak ada tempat bagi PKI!”
Hesti begitu fasih bercerita menirukan narasumber dan referensi buku-buku bacaannya. Daya ingat anak muda ini cukup baik, pikir Baya. Di mata Baya, Hesti adalah anak yang cerdas.
“Kekerasan militer Soeharto, tidak juga ditujukan ke kelompok komunis yang dianggapnya atheis, tetapi juga kelompok Islam,” ujar Hesti.
Seperti peristiwa Tanjungpriok. Pembantaian jamaah Islam di Lampung, yang dimulai dari memprovokasi militer kepada santri sejumlah pondok pesantren di Lampung Tengah. Mereka dihasut untuk menyerbu pengajian imam Warsidi di Cihedeung, Dukuh Talangsari, Desa Rajabasa Lama, Way Jepara, Lampung Tengah, 7 Februari 1989.
Kasus pembantaian warga sipil atau disebut “Tragedi Talangsari” itu, bermula ketika Danramil 41121 Way Jepara, Kapten Soetiman menerima sepucuk surat dari Camat Zulkifli Maliki. Isinya; di Dusun Cihedeung ada yang melakukan kegiatan mencurigakan dengan kedok pengajian.
Laporan dari Kepala Dusun Cihideung, Sukidi, itu kemudian dijadikan oleh Soetiman untuk memanggil tokoh pengajian itu yang bernama Anwar. Soetiman meminta agar Anwar selambat-lambatnya 1 Februari 1989 menghadap. Tapi Anwar menolak. Ia justru malah meminta agar Danramil yang datang ke tempatnya.
Merasa ditolak, giliran Camat Zulkifli memanggil Anwar. Tapi juga tidak diindahkan. Anwar malah memanggil Muspika agar datang ke tempatnya. Kemudian pada 5 Februari 1989, sekitar enam pemuda desa Cihideung yang sedang ronda disergap oleh tentara. Saat itu pihak aparat berhasil menyita 61 pucuk anak panah dan ketapel kayu.
Sehari setelah itu, Kasdim 0411 Lampung Tengah, Mayor E.O Sinaga, mengajak Soetiman, Zulkifli dan Kakansospol Letkol Hariman S. dan beberapa staf CPM ke Cihideung untuk memenuhi undangan Anwar. Tetapi, sebelum kehadiran mereka, dihembuskan ke jamaah pengajian, bahwa mereka akan diserang.
Mendengar akan diserang, seluruh jamaah bersiaga, dengan anak panah. Begitu rombongan Kasdim datang, mereka langsung menyambutnya dengan anak panah. Danramil Soetiman tewas.
Situasi panas. Entah kelompok dari mana dikabarkan menyerang Pos Polisi yang menjaga hutan lindung di Gunung Balak. Dua polisi terluka. Kepala Desa Sidorejo, Lampung Timur, Santoso Arifin dibunuh.
Malam harinya sebuah mini bus angkutan desa di jalan Sri Bawono disergap gerombolan. Sopir angkutan desa itu dibunuh dan kernet dilukai. Pratu Budi Waluyo yang kebetulan berada di lokasi itu juga tewas.
Kasus berantai yang mungkin spontanitas atau sengaja dikondisikan kelompok tertentu itu, menjadi awal petaka besar.
Pada 7 Februari 1989, usai sholat subuh, tiba-tiba terdengan serentetan tembakan. Lalu api menjilat ke bangsal tempat jamaah Wardisi menginap. Suara tembakan itu disambut dengan takbir, ’’Allahu akbar....!’’, berbaur tangis dan jerit histeris.
Serangan fajar tersebut berasal dari empat peleton tentara dan 40 anggota Brimob dipimpin langsung Komandan Korem 043 Garuda Hitam, saat itu, Kolonel A.M. Hendropriyono.
Setelah usai suara tembakan, jumlah korban versi tentara menyebutkan hanya 27 orang. Data Komite Smalam, korban tewas mencapai 246 orang, belum termasuk yang hilang. Dari keseluruhan korban itu, 127 diantaranya anak-anak dan perempuan.
“Berapa pun yang tewas, bagi kami itu tetap tragedi kemanusiaan yang tidak bisa didiamkan,’’ tandas Fikri Yasin, Koordinator Komite Smalam, sebuah LSM yang gigih memperjuangkan nasib korban pembantaian itu.
“Saya masih ingat malam itu, saya dan ibu-ibu serta anak-anak berlindung dalam gubuk. Lalu gubuk itu dibakar! Saya berhasil kabur. Tetapi entahlah bagaimana nasib ibu-ibu dan anak-anak di gubuk itu,” papar seorang korban peristiwa ini dalam acara testimoni.
Kasus pembantaian oleh militer Soeharto itu, sempat menimbulkan kontroversi ketika sebagian korban menandatangani islah atau damai. Belakangan mereka mencabut kesepakatan islah. Namun belum ada keinginan pemerintah pasca Soeharto untuk mengusut peristiwa keji tersebut.
Versi lain mengatakan, peristiwa yang dinamai oleh TNI, “GPK” atau Gerakan Pengacau Keamanan itu, meletus setelah tentara merasa gerah dengan gerakan Warsidi di pesantrennya yang berkembang pesat dan hidup secara eksklusif. Merasa wilayahnya terganggu oleh kegiatan mereka, Danrem Hendro pun berulah dan membuat keributan yang berakhir dengan pembantaian jamaah yang sekedar bisa hidup lebih Islami itu.
“Begitu banyak kejahatan Soeharto dan kelompoknya yang tak terselesaikan secara hukum,” keluh Hesti.
Baya teringat masa lalu, bagaimana penderitaan ibu dan saudaranya. Meski pun bapaknya diculik dan meninggal tanpa kuburan, tetapi usai Gestapu, mereka tetap dihujat dan diasingkan.
Pihak keluarga bapak dan ibunya ikut dicap sebagai keluarga PKI. Provokasi militer Orde Baru dan Soeharto, berhasil membangun anggapan di masyarakat bahwa PKI adalah sesuatu yang menakutkan, sadistis, kafir, ateis, dan menjijikkan. Maka rakyat pun termakan propaganda Orde Baru itu. Mereka mulai antipati dan menjauhi keluarga PKI. Ruang sosialnya dipersempit. Kemana pergi diawasi. Mereka yang dicurigai langsung ditangkap, menjadi tahanan politik. Diseret ke Sel bawah tanah tanpa pengadilan.
Tidak kuat menghadapi caci-maki serta cemoohan sebagai anak PKI, Baya akhirnya dipindahkan ibunya ke Lampung. Ia tinggal bersama pamannya, Hasanudin, di Kampung Palembang, Telukbetung.
Kampung yang dihuni sebagian besar perantau dan pedagang dari Sumatera Selatan itu, dijuluki “Kampung Islam”. Karena di kampung itu berdiri masjid tua, Al Anwar, dibangun Tahun 1888. Sewaktu Baya tiba di Lampung, tahun 1962, masjid tua itu belum lama dipugar.
Lulus SMA, Baya ikut tes masuk perguruan tinggi. Ia diterima di Universitas Gajahmada, Yogyakarta. Ia memilih jurusan sosiologi. Sejak SMA Baya sudah tertarik dengan persoalan sosial. Barangkali ada titisan bapaknya. Atau karena banyak membaca buku-buku tentang sosial peninggalan Haji Hazairin. Namun kesempatan kuliah di universitas negeri itu terpaksa ia tinggalkan karena ibunya tidak mampu membiayai.
Baya sempat bekerja serabutan dan paruh waktu. Kemudian diterima kerja di bagian dokumentasi dan pustaka sebuah lembaga non pemerintah, yang mengelola dana luar negeri untuk program pemberdayaan perempuan. Dua tahun bekerja, yayasan itu bubar. Kemudian ia menikah dengan Umar, putra Lampung Pesisir, Saibatin, yang tinggal di Gedong Pakuwon. Baya mengenal lelaki itu karena sering diajak berkunjung oleh pamannya ke rumah Haji Husin.
Umar adalah anak bungsu Haji Husin, teman berdagang pamannya. Haji Husin dikenal pedagang berhasil di Gedong Pakuwon.
Sayang, selang enam bulan pernikahan mereka, Haji Husin meninggal dunia karena sakit. Empat tahun setelah itu, menyusul ibu Umar juga meninggal dunia.
Sepeninggal kedua mertua Baya, semua harta peninggalannya diperebutkan empat orang kakak-kakak suaminya. Umar dan seorang kakak perempuannya mengalah. Mereka hanya menerima sisa-sisa perebutan warisan dari kakaknya.
“Kenapa belum tidur?” tegur sipir Muna. Baya tidak menjawab. Baya hanya memandang sesaat wajah wanita yang bertubuh pendek dan berotot itu. Baya menuju bale papan untuk bergabung dengan lima temannya yang melanjutkan kembali tidurnya. Sementara Muna masih berdiri di depan kamar sel.
Sejak Baya ditahan hingga berstatus terpidana, Muna cukup perhatian. Sering memberi makanan atau buah-buahan ke kamar selnya. Baya dan kawan-kawan tidak mengerti apa maksud wanita bertubuh agak kekar yang sedikit lebih tua itu.
Beberapa kali obrolan, Muna mengaku asli dari Menggala, Tulang Bawang. Bapak dan ibunya lahir di sana. Ia sendiri sudah 14 tahun bekerja di Rajabasa. Sebelumnya, bertugas di Rutan Kalianda, Lampung Selatan, dan Rutan Kuta Agung, Tanggamus.
Selain Muna, ada beberapa orang sipir wanita yang menjaga blok wanita itu. Sedangkan petugas lelaki yang suka ngobrol dengan mereka antara lain Pak Rudi dan Pak Akuan yang memasuki persiapan pensiun. Juga Pak Indarwan, lelaki berkulit putih, kepala taguk, dan mata sipit asal dari Kisam, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Baya mengenal Indarwan, karena isterinya satu kelas saat di SMA. Ia juga teman sekampung ketika Baya masih di Kampung Palembang.
“Besok pagi kamu dan Hesti piket,” tegur Muna kepada Baya. “Jangan lupa membuang kaleng sampah ke belakang,” lanjutnya dengan mata keliaran. “Besok ada tamu meninjau kemari.” Baya hanya membalas dengan anggukan sambil menoleh ke arah Muna. Sipir itu berlalu dengan langkah kaki seperti pejabat daerah, menuju blok sel lain.
Malam itu, udara terasa cukup dingin masuk ke kamar sel. Hujan turun sejak sore. Baya belum bisa memejamkan mata. Setengah menggeletak tubuhnya disandarkan ke tembok kamar sel. Punggungnya disangga bantal dan selimut yang dilipat agar menambah ketebalan bantal tidurnya. Mata Baya menerawang ke langit kamar. Warnanya tidak lagi putih bersih. Di pojok-pojoknya ada sarang laba-laba menggantung mempertemukan sudut tembok kiri dan tembok kanan.
“Belum tidur?” tegur Hesti. “Besok ‘kan giliran kita piket. Jadi harus bangun lebih pagi, Mbak.” Hesti mengingatkan Baya sambil menelonjorkan badannya.
“Kamu duluan saja dik,” jawab Baya. “Saya masih mengenang cerita nenekmu tadi. Apakah beliau masih hidup?” tanya Baya memancing Hesti kembali bercerita.
“Ia meninggal dunia ketika aku masih di bangku SMP. Ia lebih dulu dari Kakek meninggalkan kami. Tetapi nenek sempat bercerita pengalamannya bergabung dengan para aktivis Gerwani. Ia juga bercerita penderitaannya ketika disekap dalam tanahan bawah tanah, disiksa, ditelanjangi, dan beberapa kali diperkosa. Cerita nenek, memberi banyak pelajaran dalam menghadapi kesulitan hidup, seperti aku alami sekarang ini.”
Saat bercerita sejarah dirinya, lanjut Hesti, sang nenek tidak pernah membayangkan, cucunya akan menjadi penghuni penjara. Tetapi kenyataan ini tidak lebih baik di luar sana. Sejak SMP sampai selesai kuliah dan bekerja, orang-orang masih suka melihat keluarga Hesti dengan latar belakang neneknya.
“Umpatan atau cacian mereka biasanya spontan muncul ketika saya melakukan kesalahan, atau perbuatan tidak mengenakkan mereka. Misalnya ada berita atau tulisanku di koran yang menyinggung mereka, maka mereka akan mencaci; dasar cucu Gerwani! Cucu PKI!”
Baya hanya terpaku. Ia berusaha mengerti cerita Hesti. Baru kali ini dalam hidupnya bertemu seseorang yang begitu peduli kisah-kisah masa lalu. Membahas dan mempersoalkannya kembali.
Baya sangat buta kisah pemberontakan PKI. Ketika bapaknya dijemput beberapa orang berseragam tentara di rumahnya. Ia tidak tahu kalau itu penculikan. Ya, ia tidak tahu apakah bapaknya terlibat PKI, yang kemudian menjadi partai terlarang masa pemerintahan Orde Baru. Semua kejadian hanya sepotong-sepotong didapat dari penjelasan ibunya.
Semasa di sekolah buku-buku sejarah tidak banyak mengupas lebih rinci pemicu munculnya gerakan PKI di Madiun 1948 atau penculikan “Dewan Jenderal” pada Gestapu 1965. Peristiwa yang harus dipertanggujawabkan aksi Orde Baru, Juga pembantaian sadis ratusan bahkan ribuan warga yang dicap PKI oleh kalangan muslim anti komunis. Sebagaimana terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lampung dan Sumsel, serta berbagai daerah lainnya. Kelompok Soeharto diduga berada di balik aksi pembantaian tersebut, dengan memprovokasi para kyai dan muslim anti PKI.
“Saya baru paham setelah bapak diculik. Kemudian banyak tetangga kami kabur karena takut mengalami nasib serupa bapak. Ditahan dan disiksa secara keji tanpa proses hukum.”
Seusianya, saat aksi penculikan itu, Baya belum begitu paham apa penyebabnya. Jika bertemu orang PKI, mereka langsung disiksa dan dijebloskan ke penjara militer,” tambah Baya.
“Siapa yang memerintahkan mereka jadi sekejam itu?”
“Entahlah.”
“Diduga Soeharto!”
“Juga pembantaian massal lainnya?”
“Soeharto waktu itu menjadi tokoh di belakang aksi-aksi militer. Ia adalah satu dari sekian banyak petinggi tentara dan sipil penguasa negara yang dijadikan boneka plastik alias kaki tangan Amerika dan sekutunya, untuk menghancurkan kekuatan komunis di Indonesia. Termasuk kelompok fundamentalis islam seperti peristiwa Tanjungpriok dan Talangsari. Amerika menurunkan intelejen CIA jauh sebelum pecah Gestapu,” papar Hesti.
“PKI juga sempat disusupi Belanda. Istilahnya ‘PKI Van der Plas’. Tetapi, sekali lagi,” ujar Hesti. “Aku takut bercerita lebih jauh karena banyaknya potongan sejarah yang disembunyikan. Sudah tak ada batasan antara pengkhianat dan pahlawan.”
“Sudahlah Dik! Itu politik. Kita ini orang terpidana,” ujar Baya sembari meletakkan kembali kepalanya di atas bantal.
“Betul. Malam makin larut.”
“Apa kau tidak takut sejarah?”
“Tidak,” jawab Hesti.
“Juga PKI?”
“Ya,” jawabnya.
Baya hanya membalas dengan senyuman. Hesti menyusul merebahkan tubuh di samping Baya. Keduanya tidur bersama empat napi perempuan lainnya di kamar sel itu. Keempat rekan mereka lebih dulu tidur usai sholat Isa.
Para narapidana dan tahanan di Rajabasa tidak pernah menggelisahkan matahari dan jarum waktu. Mereka tidak peduli siang dan malam terus bergulir. Lalu menjadi satu kesatuan peristiwa yang tidak diingat atau dirasakan.
Penjara telah menyekap keinginan-keinginan. Kerinduan pulang, bahkan hasrat seksual. Maka, seringkali malam menyeringai, ketika tubuh sesama jenis berpelukan membunuh kedinginan.
Kondisi manusiawi telah menyatukan mereka di dalam kamar sel yang lembab; “kami ingin bebas!” katanya.

3
Tidak jelas latar belakang Samsul Bone dan orang-orang Bugis lainnya
sampai di Lampung. Mungkin saja ada garis keturunan moyangnya yang lahir
dari situasi konflik antara Bugis dengan Makasar, ratusan tahun lampau. Konflik tersebut
terus berlangsung hingga abad ke-19. Akibatnya banyak orang Bugis
bermigrasi terutama ke daerah pesisir.

Matahari sore menampar puluhan bagan ikan di Teluk Lampung. Dari puncak Tarahan terlihat bias merah meringkas sinarnya. Membentuk garis-garis cahaya di permukaan air laut. Kendati matahari mulai menyempit disekap perbukitan Tarahan, namun para nelayan terutama nelayan jaring pukat darat atau payang masih berbaris menarik jaring ikan. Mereka sejak pagi tadi berada di sisa pantai yang belum teruruk.
Dari dermaga Ujungboom, Gudang Lelang, kapal-kapal penangkap ikan, berjajar bersandar sekitar dermaga tua itu.
Beberapa perahu penumpang masih hilir mudik membawa orang dari Ujungboom ke Pulau Pasaran. Sementara di TPI atau Tempat Pelelangan Ikan, Gudang Lelang, kegiatan lelang ikan baru saja selesai. Beberapa pedagang terlihat memasukkan ikan hasil lelang ke dalam kotak plastik, dan gentong plastik berisi es balok. Lalu mengangkutnya ke mobil.
Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan itu sebagian besar dikirim ke Jakarta, Palembang. Selebihnya ke bakul pedagang pasar induk di sejumlah kota di Lampung. Berbagai jenis ikan besar tangkapan nelayan, antara lain ikan tuna, ikan kembung, tongkol dan ikan selar. Juga ikan teri nasi dan udang laut, kepiting rajungan, dan lobster .
“Saya jamin bebas formalin!”
“Ya. Tapi harga sekarang jatuh, Pak Boni. Sejak ramainya pemberitaan penggunaan pengawet formalin oleh nelayan...”
“Ahk, sudah..sudah! Pak Tikno jangan terpancing! Itu berita masih simpang siur!”
“Bukan saya, Pak Boni. Tapi masyarakat. Mereka percaya.”
“Ya sudah. Sekarang bagaimana?”
“Mau saya..ya harga minggu kemarin!”
“Jangan begitulah. Bahan bakar ‘kan baru naik, Pak!”
“Saya paham. Tapi harga minggu kemarin juga sudah naik.”
“Tambahlah sedikit, Pak.”
“Berat, Pak Boni. Saya ragu apakah dalam satu minggu ini isu formalin itu bisa redah. Lebih parah lagi, temuan terbanyak justeru dilakukan nelayan.”
“Bapak salah! Yang dimaksud berita itu bukan ikan basah, Pak! Tapi ikan asin!”
“Sudahlah..Saya malas berdebat. Jadi bagaimana? Dikasih enggak?”
“Ya sudah. Mar! Ajak yang lain. Naikkan gentong ikan ke mobil Pak Tikno!”
Dengan sigap Umar bersama beberapa buruh nelayan yang bekerja dengan Boni menaikkan empat gentong plastik berisi ikan ke mobil pick up Pak Tikno.
Sebelum bekerja dengan Boni, Umar ikut Aziz pembuat perahu katiran atau perahu jala ikan. Kemudian pindah ke pembuat bagan apung atau bagan jerigen, dan bagan perahu. Akhirnya ia bertemu Boni, ditawari bekerja di bagan tancap milik pengusaha asal Bugis itu. Boni punya 12 unit bagan tancap, dan enam bagan perahu.
Sudah empat tahun Umar bekerja dengan Boni. Ia digaji bulanan tetap, dan mendapat bonus sistem persentasi hasil tangkapan ikan di bagan tancap milik majikannya. Selain usaha bagan ikan, Boni memiliki tambak udang windu di daerah Lempasing. Tapi karena kondisi air laut tercemar, dan tidak memungkinkan lagi udang windu hidup, Boni dan para petambak di sekitar Lempasing, beralih ke budidaya udang putih, meski harganya jauh di bawah udang windu. Untuk size bagus, 24-28 ekor per kilogram, harga udang windu berkisar 80.000 hingga 90.000 Rupiah per kilogram. Sedangkan udang putih hanya sekitar 35.000 Rupiah per kilogram.
“Penurunannya jauh banget, Bon.”
“Ya..sebetulnya, tak seberapa sih,” kata Boni kepada Tarwin.
Tarwin kawan lama Boni sewaktu sekolah di Jawa. Ia sengaja bertandang untuk melihat usaha tambak Boni.
“Udang putih unggul di jumlah produksinya, Win.”
“Maksudmu?”
“Kalau udang windu, per petak tambak seperempat hektare, produksinya kurang lebih satu ton. Sementara udang putih bisa mencapai 10 ton per petak. Tinggal ditambah sedikit kedalaman tambak dan pakannya.”
Sejak tahun 2002 tidak hanya Boni, hampir semua petambak rakyat, juga tambak-tambak perusahaan besar seperti Bratasena di Lampung Tengah, dan Dipasena di Tulang Bawang sudah menanam udang putih. Hingga kini permintaan pasar ekspor udang putih dari Indonesia cukup bagus. Antara lain pembeli dari Jepang dan Amerika. Udang Boni sendiri dibeli pengusaha dari Jawa Barat.
Boni juga memiliki usaha pengolahan ikan asin laut di Pulau Pasaran dan TPI Lempasing. Sekitar dermaga Ujungboom, Boni punya depot es batu dan depot solar untuk melayani kebutuhan kapal nelayan. Setiap sore, Boni biasa nongkrong di dermaga mengawasi anak buahnya memasok es dan solar ke kapal nelayan yang hendak melaut.
Dari sekitar 120 orang buruh harian dan karyawan tetap yang bekerja kepada Boni, Umar lebih dipercaya bahkan sudah dianggap keluarga. Setiap minggu Umar ditugasi mengawal Lastri, isteri majikannya itu menyetor atau mengambil uang dari mitra dagangnya melalui Bank Danamon Telukbetung.
Sebelum berusaha di Lampung, Boni memiliki usaha pembenuran udang milik orang tuanya di Anyer, Banten. Kemudian membuka tempat pembenuran udang di Canti, Lampung Selatan. Setelah menikahi Lastri, gadis asal Indramayu, ia hijrah ke Telukbetung. Samsul Bone, bapaknya Boni, dikenal sebagai juragan Bugis yang sukses di Cungkeng, Telukbetung. Ia memiliki puluhan unit kapal tangkap ikan, serta usaha perikanan laut.
Tidak jelas latar belakang Samsul Bone dan orang-orang Bugis lainnya sampai di Lampung. Mungkin saja ada garis keturunan moyangnya yang lahir dari situasi konflik antara Bugis dengan Makasar, ratusan tahun lampau. Konflik tersebut terus berlangsung sampai abad ke-19. Akibatnya banyak orang Bugis bermigrasi terutama ke daerah pesisir.
Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui di daerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunai, dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan kemerdekaan. Kebahagian dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.
Karena anak tunggal, Boni mewarisi semua usaha milik orang tuanya, Samsul Bone.
Boni bukanlah pengusaha yang ulet, seperti bapaknya. Ia tidak punya kemampuan mengelola usaha. Bahkan boros, suka judi, dan berfoya-foya.
Justeru Lastri yang pandai berbisnis. Sebelum dipercayakan kepada Lastri, sebagian usaha peninggalan orang tua Boni banyak bangkrut. Kapal penangkap ikan miliknya tinggal beberapa unit saja, karena dijual. Usaha Boni mulai bangkit sejak dikelola Lastri.
Tetapi di balik usaha yang sukses itu, hingga 13 tahun perkawinannya, Lastri dan Boni belum juga dikaruniai anak. Meski berbagai upaya baik secara medis maupun pengobatan alternatif, diikuti suami isteri ini, namun sang bayi belum juga datang.
Lastri saat dikawini Boni, baru berusia 16 tahun, 11 tahun lebih muda dari Boni. Walau masih di bawah umur, dan belum menyelesaikan sekolahnya, orang tua Lastri menerima lamaran keluarga Boni. Pertimbangannya karena kondisi ekonomi keluarga Boni yang terpandang. Lastri sempat satu tahun putus sekolah, kemudian meneruskan hingga lulus SMA.
Kendati belum dikaruniai anak, namun rumah tangga mereka masih tetap utuh. Kalau ada pertengkaran, Lastri lebih banyak mengalah dan menahan diri. Lastri cenderung tidak peduli apa yang dilakukan suaminya, seperti mengumpulkan kawan-kawannya di rumah, minum dan berjudi.
Lastri juga tidak terlalu pusing jika tetangga sering melaporkan perilaku suaminya yang sering merayu gadis bahkan isteri orang. Lastri tutup mata dan telinga, tak mau tahu. Ia takut jika ditanggapi akan memperburuk kondisi keluarganya.
Hanya Umar, lelaki yang sering menjadi sahabat Lastri bercurah hati. Biasanya Lastri menumpahkan kekesalannya ketika ditemani Umar mengambil uang ke bank di Tanjungkarang. Lastri tidak segan bercerita kepada Umar, karena sudah menganggap suami Baya itu keluarga sendiri. Selain itu, Umar cukup bersimpati mendengarkan keluhan Lastri.
Meski hanya mendengarkan saja, Umar sering kewalahan karena Lastri sering bercerita sambil menangis. Seperti hari itu, Lastri kembali bercurah hati. Sehabis dari bank, ia mengajak Umar makan ke Moroseneng. Lastri biasa makan di sana karena suka masakan ayam goreng kalasannya. Umar juga sering diajak Lastri karena tempatnya cukup memungkinkan bagi pengunjung restoran berlama-lama ngobrol, sembari menunggu makanan dipesan.
Rumah makan milik warga Tionghoa itu berbentuk pondok mirip gazebo yang sengaja terpisah satu sama lainnya, agar orang lebih lepas bicara hal-hal penting atau pribadi.
Lastri mengambil tempat paling pojok. Umar sedikit risih, karena Lastri memilih duduk bersebelahan di sampingnya. Mereka menghadap ke kolam kecil yang kering. Suasana rumah makan agak sepi. Hanya satu dua pondok berisi tamu. Mungkin karena lewat jam makan siang.
Usai makan, Lastri memesan juice melon, sementara Umar memesan kopi pahit. Hari itu Lastri tidak begitu banyak berkeluh kesah menumpahkan kekesalannya terhadap Boni. Ia hanya mengomeli suaminya karena sudah tiga malam selalu pulang pagi.
“Terserah! Aku tak peduli. Mau mabok. Judi. Main perempuan, masa bodoh! Aku capek, Mar!”
Umar tidak menanggapi Lastri. Ia menunggu kopi diantar pelayan. Umar tetap diam sembari mengepulkan asap rokok kreteknya ke udara. Wajahnya masih terlihat kikuk. Umar tahu diri kalau yang berbicara itu majikannya. Jadi tidak akan berkomentar sebelum diminta sang majikan.
“Aku bekerja habis-habisan mengurus usaha, ia enak-enaknya menghamburkan uang. Aku seperti sapi! Diperas tenaga diperas susunya!” keluh Lastri.
Umar berlaku sebagai pendengar. Matanya diarahkan ke kolam di depan pondok itu. Ia menekan puntung rokoknya ke asbak, lalu menghidupkan lagi rokok yang baru. Bersamaan itu, kopi yang sedari tadi ditunggunya, sudah tiba. Pelayan wanita itu mengantarnya bersama juice tomat, serta sepiring buah semangka dingin.
“Terima kasih, Mbak,” tegur Umar kepada pelayan. Umar langsung meraih cangkir kopi yang dipesan sambil meniup uap panasnya. Ia hirup sedikit kopi itu. Sementara Lastri melanjutkan umpatan kekesalannya.
“Perbuatan yang tidak bisa lagi aku maafkan, ia punya isteri simpanan. Mereka sudah satu tahun menikah diam-diam.”
Ucapan terakhir Lastri, membuat Umar kaget. Ia sangat paham perilaku Boni, suka menggoda gadis bahkan isteri orang. Ia juga tahu Boni senang melacur. Mabuk-mabukan. Berjudi sabung ayam. Tetapi baru kali ini Umar mendengar majikannya itu punya isteri muda.
Umar terpaksa memberanikan diri memotong perkataan Lastri.
“Dari mana kabar itu?”
“Dari temanku di Lebakbudi. Ia bertetangga dengan rumah dibeli Boni, untuk isteri mudanya itu. Dan, aku sudah cek langsung ke sana untuk membuktikan kebenarannya.”
“Perempuan itu tinggal sama siapa?”
“Adik perempuannya,” jawab Lastri.
Umar terlihat belum yakin. Tapi ia diam saja.
Lastri terdiam. Matanya memerah. Pelan-pelan air mata membasahi wajah putih pucat itu. Lastri mengambil tisu di meja. Ia berusaha menyeka air matanya. Lastri tidak mau menangis karena Boni.
Ia tidak ingin orang lain mengetahui penderitaannya. Lastri menahan tangis, seolah hendak mengatakan sudah terlalu lelah menangis dan terus menangis. Perempuan cantik dan ulet berusaha itu, ingin belajar tegar menghadapi masalahnya.
Umar tertunduk lesu. Ia bingung. Romantisme apa sedang berlangsung di hadapannya. Seorang perempuan cantik menangis. Wajahnya penuh goresan luka. Begitu memiriskan hati. Ada keinginan Umar melepaskan kepedihan itu, dengan kasih dan elusan lembut, sebagaimana roman-roman picisan.
Tetapi buruh tetaplah buruh. Umar tidak punya naluri romantisme orang-orang modern. Orang-orang perkotaan. Umar hidup di laut bukan dari keindahan seperti potongan puisi milik penyair atau persepsi kaum bangsawan. Tetapi dari keringat seorang buruh kasar yang selalu ditunggui isteri dan anaknya pulang. Mereka biasa ditempa alam sanggup berdamai dengan kelaparan dan kesulitan hidup.
Bagi buruh nelayan, laut bukanlah wisata atau petualangan estetik. Laut adalah keringat asin dan kerja keras di bawah sengatan matahari.
Umar diam menatap kolam di taman kecil itu. Kering tanpa air. Tanpa ikan. Lelaki itu belum terlatih menyikapi suasana dramatik seperti dalam roman-roman populer. Sebab perpisahan dan air mata perempuan, seringkali tak terduga datangnya. Umar sadar ia sedang berhadapan dengan majikan. Sejak Boni mempercayakan Lastri mengurus usahanya, gaji bulanan Umar didapat dari Lastri.
Kesadaran diri sebagai buruh menjadikan Umar dalam posisi selalu kalah. Terutama untuk hal-hal bersifat fisik dan materi. Ia patuh mengikuti kehendak majikannya karena kesadaran kelas sebagai buruh. Selebihnya, Umar hanya seorang pendengar yang dunguh, tak ubahnya seonggok kardus bisu tidak bernyawa. Sakit hati atau disakiti hati, bagi seorang buruh adalah wajar dan biasa saja. Kekerasan dan kenistaan sudah bagian irama hidupnya. Artinya, tetap saja tak sama dibanding kesadaran Lastri ketika menghadapi kekecewaan.
Umar memberanikan diri menatap wajah sang majikan yang merunduk ke meja makan. Wajah muram itu seakan mengajak Umar beranjak ke dunia yang jauh. Dunia tanpa kecemasan. Lastri berusaha dengan cara apa saja melupakan keletihan demi keletihan yang dialaminya.
Melihat wajah Lastri seperti melihat cermin menangkap ratusan wajah perempuan dalam kesunyian. Dan ketika tepi-tepi cermin meretak, ratusan wajah itu berubah menjadi pisau tajam siap melukai siapa pun yang menyentuhnya. Umar khawatir Lastri dan ratusan perempuan dalam cermin itu, sedang mengasah keberaniannya.
“Sabar, Mbak. Mudah-mudahan Pak Boni nanti sadar…” ucapan klise Umar persis seperti ungkapan Baya kepada Lastri saat berbincang di meja makan rumah Lastri, beberapa hari lalu.
Lastri mengangkat wajahnya. Ia tersenyum.
“Aku membatin, Mar,” katanya.
“Maksud, Mbak?”
“Apakah kondisi akan bertahan lama. Bagi aku, perceraian adalah yang terburuk sekaligus terbaik untuk mengakhiri kemelut ini,” tegas Lastri.
“Agama tidak menyetujui perceraian, Mbak.”
“Aku harus jujur dengan diri sendiri. Aku tidak mau jadi isteri yang menghiba dan tunduk di kaki suami!”
“Apa tidak ada cara lain, Mbak?”
“Sudah ku coba!”
“Rumah tangga Mbak Lastri dan Pak Boni sudah berjalan cukup lama. Sayang jika berakhir karena perempuan lain yang belum jelas juntrungannya itu.”
“Kamu bisa ngomong begitu, karena tidak merasakan sakit hati,” tegas Lastri menoleh ke Umar.
“Ya. Tapi saya yakin Pak Boni menikahi perempuan itu bukan atas dasar cinta?”
“Aku tidak mau berpikir ke sana. Mau cinta atau hanya senang-senang saja, masa bodoh!”
Umar tidak berani berdebat. Ia seperti dipaksa bersekutu dengan segala bentuk penderitaan perempuan. Ia dijinakkan oleh pikiran dan rasa ibanya sendiri. Umar merasa waktunya telah dikuasai dan dicurangi oleh suasana kesedihan yang dibangun Lastri. Seakan ia ikut diadili sebagai seorang suami. Sebuah toleransi yang kejam, pikirnya.
Umar adalah tipikal lelaki penyinta. Sejak kecil diajarkan ibunya untuk mengerti semua bentuk penderitaan. Ia sangat menghormati ibunya. Kadang ia berpikir apakah itu sentimen masa lalu. Sebagai bentuk kesadaran, ketika orientasi keturunan dihitung menurut garis sang bapak. Perlawanan terhadap budaya patri-lineal atau superioritas lelaki itu, diterapkannya dalam kehidupan keluarganya. Antara ia dengan Baya, Lina dan Gofur.
Umar mencoba menghindari bahasa-bahasa heroik yang mengagungkan sosok sang bapak. Ia ajarkan anak dan isterinya berdialog, berani menyampaikan argumentasi. Supaya mengerti kesetaraan. Mengerti keadilan. Menolak kekerasan dan hegemoni sang bapak dalam rumah tangga. Saling menghargai dan menghormati.
Umar menyadari sikap tersebut bertentangan dengan latar belakang budaya leluhurnya. Kehidupan warga Lampung Saibatin atau Peminggir sangat kuat dipengaruhi unsur-unsur Islam. Keberadaan anak laki-laki terutama anak tertua, memegang peranan penting. Jika sang bapak meninggal dunia, anak laki-laki tertua bertindak sebagai kepala keluarga atau disebut punyimbang. Ia berkewajiban mengurus adik-adik yang belum kawin. Ia juga mendapat kewenangan mengatur harta warisan orang tua.
Pola dialektika yang dikembangkan Umar di keluarganya sebetulnya sudah digunakan dalam tradisi warga Lampung, dengan apa yang disebut mewarih atau musyawarah. Mewarih dilakukan para tokoh adat apabila ada permasalahan yang harus diselesaikan.
Umar sangat memahami tata moral masyarakat Lampung dibangun dalam suatu sistem yang dikenal dengan piil pasenggiri, sebagai etos yang memberikan pedoman bagi prilaku dan bagi masyarakat untuk membangun karya-karyanya. Piil Pasenggiri pada hakikatnya merupakan nilai dasar yang intinya terletak pada keharusan untuk memiliki hati nurani yang positif, bermoral tinggi dan berjiwa besar, sehingga dapat hidup secara logis dan etis menurut pola prilaku yang diakui oleh masyarakat.
Kendati demikian, Umar menyadari pengertian piil pasenggiri tersebut terjadi banyak pembiasan dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini. Ada di antara saudaranya menapsirkan piil pasenggiri tersebut sebatas gengsi atau ego suku bahkan sampai kepada gejala superioritas pribadi atau kelompok. Hal tersebut kemungkinan karena terjadi pembiasan terhadap keutuhan dari unsur nilai dasar yang mencakup piil pasenggiri itu sendiri seperti, juluk adek atau gelar adat, nemui nyimah atau kerukunan dan silaturahmi, nengah nyapur atau suka bersahabat dan membaur, dan sakai-sambayan atau tolong menolong dan bergotong royong.
“Banyak nilai yang sudah bergeser,” ujar Karjo, teman kerja Umar di bagan.
“Betul, Jo. Sekarang ini soal piil pasenggiri saja jadi perdebatan. Ironisnya yang berdebat justeru tokoh-tokoh cendekia Lampung sendiri.”
“Mungkin akibat perkembangan jaman, Mar. Orang-orang merasa lebih pintar dari dirinya sendiri.”
“Semakin banyak orang cerdas berkumpul, harusnya semakin gampang menyelesaikan persoalan. Kondisi sama juga terjadi di beberapa daerah di pusat atau pun di daerah tak terselesaikan,”
“Bisa jadi, Mar. Tapi tata nilai atau adat istiadat leluhur dari suku mana pun sebetulnya tak kenal lekang oleh jaman. Karena ada nilai positif yang bisa jadi pedoman hidup kita bermasyarakat.”
“Sebetulnya setiap suku memiliki piil pasenggiri itu. Masyarakat Jawa pun punya tata nilai yang dijadikan penuntun hidup mereka sehari-hari.”
“Mungkin membias karena kita tidak mampu menyaring masuknya budaya dari barat sana, Jo.”
Karjo sebagai pendatang dari Wonosobo, Jawa Tengah itu, hanya tersenyum setuju dengan ucapan Umar. Namun yang disadarinya, di keluarganya sendiri meski pun isterinya berasal dari daerah yang sama, namun karakter khas Jawanya pun nyaris hilang karena sejak kecil sudah bergaul dengan orang dari berbagai suku di Lampung. Masa banding di Lampung semua suku di Indonesia.

4
Along sudah berkeluarga. Isteri dan putranya ada di Palembang.
Tinggal di perkampungan China-Palembang, kawasan Cindewelang. Along tidak mengerti
kehadiran Lina, gadis pesisir Gudanglelang itu, begitu cepat.
Along khawatir perselingkuhannya diketahui Mei Hwa isterinya.

Tidak ada kegelisahan atau penyesalan di raut muka Lina. Seharian ia benamkan dirinya dalam kamar kontrakan Along. Tubuh putih mulus itu tergeletak di ranjang tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya. Seharian mereka bercinta tanpa batas.
“Ini bukan kejahatan,” bisik Lina.
Lina tidak menginginkan orang lain mengetuk pintu kamar itu. Ia ingin menikmati ruang dan waktu bersama lelaki, 15 tahun lebih tua darinya. Ia menolak nafas lain bersetubuh dalam rongga-rongga mulutnya. Lina berkata; aku telah meletakkan mimpi-mimpi indah di kamar sempit yang beringas ini.
Along menatap kembali tubuh polos yang asyik memeluk mimpi itu. Wajahnya plong tanpa beban. Pelan-pelan geng-gaman tangannya dilepas. Along takut remaja lugu ini terbangun dari mimpi. Along meninggalkan ranjang. Mengambil sebatang rokok dari meja di samping ranjang. Ia nyalakan korek api. Asap rokok mengepul bundar. Membentuk lingkaran kenangan purba.
Waktu seakan bersekutu kepada mereka. Menjelang senja keduanya berpisah. Sekali lagi, Lina beranggapan; ini bukan kejahatan!
Gadis remaja kelas tiga SMA itu hampir setiap minggu atau libur sekolah mengunjungi kamar kontrakan Along di belakang kelenteng tua Thay Hin Bio, Telukbetung. Entah erotisme apa yang dibangun Lina dalam kamar sempit beraroma pohon gaharu itu, sehingga ia ketagihan terus kembali ke sana. Sebaliknya, Along setiap bertemu, hanya menghitung agresi verbal di antara selangkang kaki mungil yang mengacung angkuh ke langit kamarnya. Mereka berlari dalam lorong sempit. Menjadi buas. Liar. Tetapi tidak ada nafsu saling menaklukkan.
Bersetubuh tanpa bersiasat ternyata lebih menggairahkan. Seks, cinta, dan kesetiaan, terukur sebagai persahabatan. Saling membaca dan saling mengerti. Lina lupa usianya ketika mulai mengeja dan menghitung satu demi satu bagian tubuh lelaki.
Ia belajar menyusun kata-kata cabul, menyebut kelamin, telanjang di muka cermin, dan melakukan perbuatan yang selama ini dianggap tidak wajar. Gadis belia itu, mulai paham bermain cinta. Kadangkala berteriak, menggigit, memukul-mukul. Seakan sedang mengekspresikan semiotika kebebasan.
Kehidupan sebagai sesuatu yang utuh tidaklah begitu penting. Sebuah tatapan, gerakan atau senyuman, sanggup menguncangkan dunia yang dimpikan mereka. Along dan Lina tidak bisa mengatakan saling menyintai, tetapi tidak pula saling menguasai. Mereka tidak butuh lembaga perkawinan. Mereka hidup serumah karena butuh bercinta.
Along telah mengajarkan sebuah kebebasan bagi Lina. Lelaki yang sehari-hari bekerja membawa mobil kanvas berisi obat-obatan suplemen China itu, bertemu Lina setahun lalu. Waktu itu mobil yang dikendarai Along menyenggol gadis itu. Lina dirawat beberapa hari di rumah sakit Bumi Waras. Selama perawatan, setiap hari Along mengunjungi bahkan ikut menunggu Lina hingga larut malam.
Seperti sinetron televisi, saat itulah bunga-bunga cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Lina menganggap Along sebagai lelaki yang bertanggungjawab dan penuh perhatian. Sikap Along lebih didasari rasa kasihan. Terutama melihat kondisi ekonomi keluarga Lina. Pulang dari rumah sakit, Along tetap rajin mengunjungi Lina di Gudang Lelang.
Along sudah berkeluarga. Isteri dan putranya ada di Palembang. Tinggal di perkampungan China-Palembang, kawasan Cindewelang.
Along tidak mengerti kehadiran Lina begitu cepat. Ia pernah mencoba melupakan gadis kecil itu. Tetapi sulit sekali. Ketika lamunannya kembali kepada Mei Hwa dan anak mereka Erik, saat itu pula bayang Lina muncul. Along merasa berada di antara kecemasan dan kenikmatan. Ia takut hubungan dengan Lina diketahui Mei Hwa. Sementara ia tidak mau kehilangan Lina. Kedua perempuan itu memiliki kelebihan tersendiri bagi Along.
Minggu lalu, Mei menjenguk Along ke Bandar Lampung. Ia datang hanya untuk mengantarkan piama tidur pesanan Along di penjahit samping rumahnya. Tidak ada yang berubah sikap Mei kepada Along. Tiga bulan sebelumnya, mereka bertemu di Palembang. Selebihnya berhubungan melalui telepon.
Malam itu, Mei mengenakan gaun tidur berlukis mawar. Ia berdiri di paha ranjang, membelakangi jendela kamar. Mei menatap Along baru keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan piama tidur yang dibawakan Mei. Rambut gondrongnya masih basah.
Along sedikit kaget melihat kelakuan isterinya. Tubuh langsing yang terbilang tinggi untuk ukuran rata-rata perempuan Sumatera itu, terlihat menantang. Sorot mata yang sempit, terlihat tajam. Along berjalan memperpendek jarak mereka. Keduanya terpaku. Seperti sedang mengingat-ingat kembali kapan suasana itu pernah terjadi. “Matanya, masih terlalu kuat untuk dikalahkan,” bisik Along dalam hati.
Ia mengerti dalam situasi itu, Mei lebih agresif dan begitu berkuasa. Kadangkala Along tak habis pikir kenapa untuk hal-hal menyangkut perasaan, ia selalu menjadi kanak-kanak lugu. Padahal ratusan perempuan telah dijelajahinya.
“Aku melihat ada ibu, di matanya,” ungkap Along ke hati. Seperti Sophocles menyelesaikan karma melalui kisah persetubuhan Oedipus dengan Jocasta, yang tidak lain ibu kandungnya sendiri. “Karma adalah karma! Tetapi sudah tuntas semuanya!” ucap Oedipus sembari menusuk kedua matanya. Lelaki itu tentu sulit membaca makna karma drama klasik Yunani itu. Seperti kisah pertemuan Oedipus dan Jocasta yang tanpa didahului penjelasan sejarah diri mereka masing-masing. Sebagaimana ketika Along dengan begitu saja bertemu dan menyetubuhi Lina. Tanpa penjelasan lebih dulu sejarah masing-masing mereka.
Mei Hwa pelan-pelan melepaskan tali pengikat gaun tidur yang melingkar di pinggangnya. Along merapat tepat di hadapan Mei Hwa, seakan tak ingin berjarak. Tatapan Mei sangat menggoda.
Along sempat mencuri pandang ke cermin yang tergantung tepat di samping mereka berdiri. Cermin itu menjadi sebuah benda sentimental, seksi, dan penuh erotis. Cermin seluas tubuh itu adalah peninggalan kakek Along, yang masih terselamatkan saat terjadi kebakaran di kampungnya. Along dan Mei mengawali kencan erotisnya ketika malam pertama pernikahannya di cermin tersebut.
Entah kenapa, serentak mereka melihat dirinya ke cermin, lalu berbalik saling menatap. Ada kelucuan tertahan. Saat pertama kali bercinta, mereka saling mencuri pandang di cermin itu. Keduanya lalu berubah lincah dan berani. Mei menyadari keberanian perempuan terhadap lelaki diawali ketika membukakan gaunnya dan menghadapkan bra dengan belahan dada menyembul ke atas.
Mei dan Along tetap percaya, jika bercinta adalah pekerjaan estetik. Sangat pelan sekali Mei melepaskan satu-satu kancing piama suaminya. Ia ingin segera masuk ke lorong masa lalu. Menemui ribuan metafora yang tak sanggup dibahasakan dengan cinta. Bercak-bercak metafora itu kemudian berserakan kacau, carut-marut, brutal, membentuk potongan garis-garis ekspresif.
Mei menarik tubuh suaminya ke dinding tembok kamar, tepat di samping cermin. Setengah berdiri ia membungkuk membelakangi suaminya. Kedua tangannya diangkat ke atas menempel dinding tembok kamar. Sementara kepala dan badannya terus membungkuk mendongakkan pantatnya ke tubuh Along. Seolah ada upaya mengenali kembali artefak-artefak sejarah tubuh mereka secara ekstrim. Kemudian membiarkan tubuh telanjang itu melacak misterinya sendiri.
Mereka kembali bercinta dalam cermin. Along melihat cermin berubah benda sentimental tapi penuh erotik. Mereka mendaki menerobos atap langit. Sampai udara menghentak parunya. Mei berbisik puas. Ia remas telinga Along ke mulutnya; agar tidak menjadi metafor seks yang purba.
Hanya satu malam, Mei memiliki suaminya. Mereka menghabiskan waktu bercinta seharian. Sore hari, sebelum Along mengantar Mei Hwa pulang ke Palembang melalui Stasion Kereta Api Tanjungkarang, mereka mampir ke toko manisan yang tidak jauh dari Vihara Thay Hin Bio, Telukbetung. Di toko manisan Yen Yen, Mei membeli oleh-oleh makanan khas Lampung, antara lain keripik pisang dan keripik nangka kesukaan Erik.
Pukul 21, Kereta Api Limex Sriwijaya jurusan Tanjungkarang-Kertapati perlahan berangkat. Dari balik jendela Mei Hwa melambaikan tangan ke suaminya. Di benak perempuan itu masih menyimpan keinginan kembali ke Telukbetung dan bercinta seharian di kamar kontrakan suaminya.

5
Along sering diledeki anak pribumi dengan cercaan kasar; “..dasar Cino Botol!”, “Cino Kaleng!“,
“Cino Kebon!”, dan ucapan diskriminatif lainnya. Namun, karena sadar kondisi keluarganya yang memang miskin, Along hanya diam.

Mei Hwa tidak ikut Along pindah ke Lampung. Ia ditunjuk perusahaannya di Jakarta menjadi manajer pemasaran obat suplemen dari Tianjing, China, ke wilayah Sumatera Bagian Selatan. Kendali operasionalnya berada di Palembang. Alasan lain, anaknya Erik, memilih sekolah di Palembang.
Mei cukup menikmati pekerjaannya, karena ketika sekolah ia memang tertarik dengan dunia bioteknologi. Bagi Mei dunia bioteknologi memberi sumbangan besar bagi kesehatan manusia. Ia masih ingat “Prinsip Kesatuan” dalam teori Yin Yang. Semua sistem tubuh ter-integrasi dan tidak terpisahkan. Ketika satu bagian tubuh terdiagnosa penyakit, kita harus memperhatikan seluruh bagian tubuh agar tidak melukai tubuh yang lain.
Kepada konsumen, Mei selalu menyebarkan prinsip; lebih baik mencegah dari pada mengobati. Manusia butuh daya tahan, daya tawar, dan daya takluk, tehadap penyakit apa saja. Saat prospek penjelasan produk, kepada anggota jaringannya, Mei selalu bicara soal strategi pemasaran dengan ungkapan; “tubuh sehat, bisnis pun kuat!” Maka selain menjual Mei juga menyarankan anggotanya ikut mengonsumsi suplemen tradisional itu.
“Tubuh adalah nutrisi!” Demikian Mei mengawali pembicaraan ketika mengenalkan produk suplemen nutrisi. Ia mampu bercerita ilmiah layaknya seorang apoteker, untuk menjelaskan produk nutrisi seperti, bubuk instan Sumsum Komplek atau Ganggang Spiral.
“Manusia adalah makhluk berpikir!” Maka Mei menawarkan suplemen penguat otak. Ia cukup hapal dan terlatih bercerita legenda tentang pohon Ginkgobiloba, sebuah pohon yang berumur 2800 tahun dan sampai kini masih bertahan hidup di bumi China. Pohon yang memiliki daya tahan sangat kuat itu, sering disebut “fosil hidup”.
Pohon Ginkgo banyak dikaitkan dengan mitos keuletan kerja masyarakat China di masa lampau. Daun-daun Ginkgobiloba inilah yang kemudian dipercaya oleh leluhur China memiliki khasiat obat-obatan. Kemudian oleh industri China, daun-daun ginkgo itu dikembangkan. Diambil ekstraknya, lalu diolah menjadi obat suplemen otak yang namanya tetap diambil dari nama pohon Ginkgobiloba itu. Dari uji laboratorium peneliti di Perancis, Ginkgo dapat melindungi sel-sel otak, mempercepat sirkulasi darah, sehingga sel-sel otak dapat kecukupan oksigen dan glukosa.
Mei Hwa mulai memahami cerita leluhurnya bahwa semua obat punya sejarah. Ganoderma Lucidum misalnya, adalah sejenis obat kesehatan tradisional China yang sangat bermutu. Mei mengetahuinya dari kitab lama “Pen Zhao”, di dalam direktori obat China milik engkongnya. Salah satu isi kitab “Pen Zhao,” itu, menyebutkan bahwa lucidum sering dijuluki sebagai “obat dewa”.
Genoderma Lucidum dipercaya dapat membantu percepatan penyembuhan luka habis operasi, atau penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi. Sehingga pasca kemoterapi tidak terjadi gejala muntah, kerontokan rambut, sakit, kekurangan sel darah putih, atau timbulnya racun di dalam tubuh. Selain juga dapat mengobati lemah syaraf, infeksi paru-paru, asma, dan alergi.
Demikian siasat “iklan kecap” yang digunakan Mei Hwa untuk meruntuhkan hati calon konsumen agar membeli dagangannya.
Karena sukses membangun jaringan, Mei bersama dua kawannya, Fahmi dan Pipit, dipercaya perusahaannya, mendirikan stokis atau agen di wilayah Sumatera Selatan. Usaha distribusi suplemen ini, sudah berjalan selama tiga tahun. Dengan omset penjualan rata-rata per bulan mencapai ratusan juta rupiah. Mei beberapa kali diundang berjalan-jalan ke Beijing, mengunjungi perusahan obat suplemen itu di Tianjing. Mei melihatdan belajar bahwa di antara industri besar, nilai-nilai kearifan lokal masih dipertahankan.
Sukses Mei, tidak semujur suaminya, Along. Along tidak memiliki latar belakang pendidikan cukup untuk mengelola bisnis seperti dilakukan isterinya. Along akhirnya dimodali Mei membuka jaringan dan mengurus distribusi suplemen obat China itu dari stokis atau agen di Palembang ke cabangnya di Lampung dan Jambi. Semua fasilitas penginapan, mobil box, dan belanja kebutuhannya cabang disiapkan Mei Hwa.
Along anak nomor lima dari 13 bersaudara. Bapaknya berasal dari China Bangka. Tahun 1970 pindah ke daerah Suak, Musi Banyuasin – sekarang sudah masuk wilayah administrasi Kota Palembang. Dari uang menjual rumah dan warung di Bangka, orang tua Along membeli lahan sekitar satu hektare. Mereka berubah dari profesi berdagang dan pengrajin, menjadi petani sayur-sayuran. Mereka belajar bercococok tanam. Along sendiri lahir ketika bapaknya sudah pindah ke Lebung Siarang.
Waktu usia delapan tahun, Along diajari bekerja. Pulang dari sekolah ia membantu kakak tertuanya mencari dan menampung botol-botol bekas dari rumah ke rumah. Botol-botol bekas itu dibersihkannya lalu dijual ke pengumpul di Jalan Kamil, PAL-6, untuk selanjutnya dikirim ke pabrik kecap atau pabrik limun di Puncak Sekuning.
Tamat sekolah dasar, Along tidak melanjutkan ke SMP. Bapaknya hanya mampu menyekolahkan paling tinggi sekolah dasar. Cukup sampai paham baca tulis, dan berhitung saja. Mereka bisa sekolah lebih tinggi dengan biaya sendiri, seperti dilakukan Aseng, kakak Along yang nomor dua. Aseng bisa bersekolah sampai ke SMP dengan mengumpulkan uang hasilnya bekerja malam di pabrik tahu milik Peng Lam, tidak jauh dari rumahnya. Sedangkan Along memang tak berminat melanjutkan sekolah.
Along tipe pekerja keras. Ia lebih rajin dan pandai bergaul dibanding saudara-saudaranya yang cenderung tertutup dengan warga pribumi sekitar kampung mereka. Warga pribumi di daerah itu kebanyakan dari Musi Banyuasin yang sukunya berasal dari Sekayu. Bahasa sehari-hari di wilayah itu selain bahasa Palembang, juga bahasa Sekayu. Bedanya Sekayu pakai “E” dan Palembang pakai “O” mengganti huruf vokal. Seperti siape dan siapo, kemane dan kemano. Along sendiri menguasai kedua bahasa tersebut.
Karena luwes dan pandai bersosialisasi, Along disukai anak-anak pribumi seusianya. Ia sering diajak bermain sepak bola. Kadangkala ikut bertanding ke Batas Kota, PAL-5, sampai ke lapangan bola sekitar Benteng Jepang, Ario Kemuning.
Memang waktu itu pembauran antara etnis China dengan etnis pribumi lebih banyak dimulai dari anak-anak, terutama dari sekolah. Tetapi tak jarang juga Along mendapat perlakuan kasar temannya di sekolah. Ia pernah babak belur dikeroyok. Buku dan alat tulisnya diambil. Ia juga sering diledeki dengan cercaan kasar; “..dasar Cino Botol”, “Cino Kaleng“, “Cino Kebon”, dan ucapan diskriminatif lainnya. Namun, karena sadar kondisi keluarganya yang memang miskin, Along hanya diam. Tidak membalas. Entah karena takut. Atau karena lingkungan telah mengondisikannya sebagai warga kelas dua.
Ketika usianya 15 tahun, Along mencari kerja. Awalnya ia menjadi tukang sapu di toko beras milik teman bapaknya di Pasar PAL-5, Batas Kota. Tidak lama dari situ ia diajak bekerja di toko gerabatan, Ameng. Karena jujur dan rajin, Along disukai pedagang dan pegawai terminal di Batas Kota itu. Hingga ahirnya ia berkenalan dengan agen beras Feng Xuan dan bekerja di situ.
Along cukup lama ikut majikannya, sampai dipercaya mengurus salah satu usaha Feng, agen minuman limun Saparila. Ia tidak hanya pandai menjaga kepercayaan majikan, tetapi pandai memberikan ketergantungan kepada Feng Xuan. Tanpa Along, urusan tidak selesai. Akhirnya dianggap bagian dari keluarga majikannya. Kadangkala Along dipercaya mengurus hal-hal pribadi keluarga Feng. Berawal dari sana ia kenal dengan putri Feng, Mei Hwa yang sekarang adalah isterinya.
Mei Hwa sendiri sebelum dipersunting Along, memang sudah punya hati. Di mata Mei, selain memiliki tubuh yang kuat, Along adalah tipe pekerja keras. Terpenting lagi, Along sangat dekat dengan keluarganya — hal itu menjadi pertimbangan utama dalam adat mereka yang berasal dari Hokian. Maka ketika Ayahnya mengutarakan kehendaknya menikahkan ia dengan Along, Mei menyambutnya. Sementara Along, menerima keinginan tuan Feng Xuan, selain sudah banyak menerima kebaikan Feng sekeluarga, juga pertimbangan harta dan kekayaan yang dimiliki Feng.

6
Orang hidup dalam dua pilihan di antara seks yang terbangun
dari kekalahan dan kemenangan. Lastri tidak melihat dirinya seperti malaikat.
Meski ia memiliki kesadaran untuk menjadi dirinya sendiri.

Rumah panggung tua di ujung gang itu, cukup sibuk menjelang subuh. Baya dan Umar, biasanya melepaskan kantuk dan dingin laut di atas kursi kayu yang lebar, cukup untuk bersantai atau tidur. Mereka bergumul membuang kebosanan hidup di antara meja dan kursi kayu yang kaki-kakinya mulai lelah. Lalu mandi dan membersihkan diri di atas sajadah.
Suami isteri ini hanya bisa menumpahkan kebutuhan seks subuh itu, saat kedua anaknya masih tertidur pulas di kamar tidur. Kamar itu berhadapan dengan ruang tamu merangkap ruang makan. Kursi kayu yang setia berdiri menyangga keduanya bercinta.
Dari seonggok kursi tua itu pula Baya dan Umar membangun imajinasi seks yang lain. Mereka turun naik berjelajah sampai ke kaki-kaki kursi. Persis sebuah teater yang tengah berkelahi dengan ribuan teks. Meninggalkan biografi kesadaran lama, dan membangun imajinasi baru.
Orang miskin ternyata tak butuh waktu lama untuk mencapai orgasme. Hanya dalam hitungan menit, Baya dan Umar membahagiakan diri mereka. Dan ini cinta. Mereka tidak mau terjebak dalam reproduksi kenikmatan. Bisa saja karena Baya adalah putri seorang sosialis yang membenci pasar dan industri. Meski orangtuanya keluarga mampu, tetepai sejak kecil Baya diajarkan hidup sederhana. Menghargai orang-orang miskin. Kendati kemudian, setelah berkeluarga, kondisi ekonomi Baya dan suaminya menjadi bagian dari keluarga yang tidak mampu.
Sebagai perempuan yang lahir dalam budaya timur, Baya tak memiliki kemampuan mengeja diksi-diksi kebebasan kaum liberal tentang pilihan seks seperti warna gaun tidur, syal, bra dan celana dalam dan stoking hitam, parfum, serta juntaian asesoris perhiasan yang melilit tangan dan leher perempuan negeri sana.
Mungkin obsesi biologis isteri buruh nelayan ini pada suatu waktu akan lebih sederhana. Sehingga selembar kain sarung pun dapat membangun imaji apa saja di hadapan suaminya. Apa lagi Umar tidak banyak menuntut. Baya tak bisa membisikkan bunga, menyusun bahasa pujian, atau mengejakan sebuah kata indah, sebelum menuju perhelatan di atas kursi tua itu.
Usai melakukan ritual subuh, Umar beranjak pergi dengan perahu kecil ke bagan tancap tempatnya bekerja. Tidak lama lagi masuk bulan purnama. Ia yakin purnama kali ini hasil tangkapan ikan lebih banyak dari sebelumnya.
Baya membereskan rumah dan mencuci pakaian, kemudian memasak kue dan gorengan yang akan dijualnya berkeliling pagi itu. Kesibukan rumah petak kecil ini menjelang subuh, sudah rutin dan tertandai tetangga sekitar rumahnya.
Ketika matahari muncul dari belakang rumahnya, Baya sudah keluar berkeliling menjajakan gorengan kue dan penganan sarapan pagi. Suaranya cukup merdu dibawa udara pagi yang berhembus dari perairan Teluk Lampung. Postur tubuh wanita ini masih enak dipandang meski sudah dua kali melahirkan.
Di antara gang sempit, rumah yang terlihat kumuh dan tua, Baya bagai bidadari pagi yang muncul dari cahaya fajar. Ia menapaki jalan papan diapit kanan kiri rumah nelayan yang tak rapi dan bau amis ikan.
“Kue! Nasi uduk..pisang goreng!”
Suara teriakan Baya menyusuri rumah-rumah di perkampungan nelayan. Warga sekitar Gudang lelang hingga ke Gudang Agen sudah hafal dengan suara itu. Sebagian pembeli belanja karena memang merasakan enaknya kue dan sarapan pagi buatan Baya. Sebagian lagi belanja karena ingin menikmati sosok Baya dengan bau sabun yang khas di tubuhnya. Mereka belanja sekaligus sambil menggodanya. Terkadang ada yang nekat memegang lengan perempuan berkulit putih bersih itu. Baya tidak marah. Ia hanya tersenyum, sambil menegur sopan.
Salah satu pelanggan kue Baya adalah Boni dan Lastri. Baya biasanya menghampiri rumah majikan suaminya itu agak siang setelah keliling sejumlah gang di kawasan Gudang Lelang, Ujungboom, sampai ke Gudang Agen, Telukbetung Barat. Boni biasa bangun siang. Sedangkan Lastri, ketika Baya datang, kadang masih di rumah kadang sudah pergi kerja.
Di rumah majikannya, selain menyiapkan kue jualannya, Baya sekaligus membantu Lastri merapikan rumah. Mencuci pakaian, memasak, dan apa saja yang bisa ia dikerjakan.
Lastri tidak sempat mengurus rumah karena waktunya banyak tersita untuk mengurus usaha Boni. Sebelum suaminya bangun, Lastri sering sudah berangkat kerja. Ia sengaja tidak mempekerjakan pembantu, karena kehadiran Baya sudah cukup meringankan urusan rumahnya. Alasan lain, Lastri dan Boni tidak mudah percaya dengan orang lain.
Rumah Boni terbilang mewah ukuran warga sekitarnya. Berada di ujung gang Baruna menghadap ke laut. Rumahnya agak terpisah dari rumah warga sekitar.
Arsitektur rumah Boni berciri khas rumah panggung sentuhan modern itu, berdiri di atas lahan sekitar setengah hektare di pagar tembok keliling.
Semasa mendiang orangtuanya, bentuk khas rumah panggung Lampung Pesisir atau Saibatin masih dipertahankan. Bapak Boni membeli rumah warisan itu dari seorang tokoh adat di Pakuon Ratu, Telukbetung.
Menurut cerita, dulunya rumah itu milik salah seorang punyimbang adat di Gudang Agen. Masyarakat Lampung Saibatin menyebut rumah adalah lamban.
Rumah panggung terbagi dua yakni, rumah kepala adat atau punyimbang adat, dan rumah masyarakat biasa. Rumah panggung yang ditempati Boni dikenal warga rumah kepala adat, dulu disebut Lamban Balak atau rumah besar. Sedangkan rumah tempat pertemuan keluarga disebut Nuwo Balak, dan sesat berupa aula tempat masyarakat adat berkumpul atau beracara.
Rumah beserta ragam hiasannya, bagi masyarakat Lampung, selain berfungsi tempat berteduh dan menambah keindahan, juga mengandung filosofi, nilai-nilai kehidupan, adat kebiasaan, pandangan hidup, norma, tatanan nilai, sekaligus pesan moral bagi para penghuni serta para kerabatnya. Dengan pemahaman demikian, arsitektur tradisional Lampung banyak menggambarkan kebudayaan masyarakat Lampung.
Seperti umumnya bangunan di kawasan hutan tropis, rumah tradisional Lampung banyak memanfaatkan produk hutan berupa kayu sebagai bahan baku. Ragam hiasnya juga berupa flora, fauna, dan alam sekitarnya. Karena kondisi alam, bangunan tradisional masyarakat Lampung umumnya berupa panggung untuk menghindari hewan liar serta beratap miring agar air hujan cepat meluncur ke sekitar bangunan.
Melihat arsitekturnya, rumah Boni dibangun sekitar tahun 1930-an, sehingga bentuk sangat menyolok dari rumah Lampung periode tahun 1900-an, yakni berbentuk segi empat dan beratap ijuk, sedikit jendela, dan tidak memiliki beranda. Rumah periode 1900-an disebut kekopni lamban atau pemugungan. Rumah semacam ini terdapat di Kenali dan Liwa, Kabupaten Lampung Barat.
Periode tahun 1930-an, atap ijuk mulai diganti seng dan genting. Harga lada yang tinggi membuat masyarakat Lampung mampu membuat rumah lebih besar. Bahkan mendatangkan genting atau seng dari luar Lampung. Tenaga tukang didatangkan dari Meranjat, Sumatera Selatan. Plafon rumah banyak berubah menjadi limas atau pamugung sayung. Bumbungan rumah limas pengaruh dari rumah panggung di Meranjat, Sumatera Selatan. Rumah semacam ini tersebar hampir di seluruh Lampung.
Meski telah direnovasi bagian bawahnya atau bah lamban menjadi semen beton, namun tipologi rumah panggung Boni berbentuk segi empat panjang pesagi atau mahanyukan masih terlihat bentuk asli yang sengaja dipertahankan. Hanya di bagian samping kiri agak ke depan, dibuat tambahan atap bertingkat, dengan dinding papan dan jendela ukuran cukup luas. Tambahan semi bertingkat itu dimaksudkan agar memberi keleluasaan pandangan dari balkon ruang tengah rumahnya bisa melihat panorama laut lebih luas.
Rumah Boni disebut bangkok karena melebar menghadap jalan. Di halaman samping kanan rumahnya ada tempat lapangan penjemuran dan gudang. Sedangkan di sebelah kanan halaman rumah dibangun kamar tidur tamu yang bersebelahan garasi mobil. Di garasi besar itu ada tiga mobil, satu mobil sedan Lastri dan dua mobil jip milik Boni.
Rumah Boni tidak jauh dari lokasi pantai yang telah diuruk menjadi areal reklamasi PT. Bumisegar milik pengusaha dari Palembang, Cek Din. Sejak proyek pengurukan pantai itu bermasalah, dan Cek Din meninggal dunia, bangunan gudang untuk menyimpan barang dan parkir alat berat seperti eskavator, greeder, dan fibro, di areal itu, sempat terlantar. Kegiatan reklamasi pantai, dilanjutkan perusahaan lain, seijin pemda kota. Penimbunan pesisir laut itu hampir mengubur seluruh pantai di Telukbetung.
Baya biasanya pulang ke rumah menjelang beduk Dzuhur. Ia meninggalkan rumah majikannya itu, tidak lama setelah Boni bangun tidur. Layaknya seorang pembantu dengan majikan, Baya menyiapkan kopi dan kue pukis dan lapis ketan yang disukai Boni. Kadangkala Baya merasa risih dengan pelayanan yang diberikannya kepada Boni. Ia merasa tidak pantas ada berdua dalam rumah itu tanpa Lastri, isteri majikannya.
Sulit bagi Baya untuk tidak memilah-milah antara ketidakpantasan dengan kekeluargaan. Apalagi Baya cukup memahami tabiat Boni yang suka usil dengan perempuan terutama isteri orang. Tetapi keberadaan Baya dan suaminya yang bekerja dengan Boni, menepiskan ketidakpantasan itu. Baya mau tidak mau mengubah hal-hal yang kurang wajar menjadi wajar-wajar saja. Selagi masih dalam batasan moral dan agama.
Beberapa kali Boni mencoba merayu bahkan menyentuh tubuh Baya. Tetapi sejauh ini Baya masih bisa menjaga diri dan memberikan pengertian secara halus kepada majikan suaminya itu. Ia tetap berlaku sopan untuk menjaga agar Boni tidak tersinggung. Biasanya Boni dapat menerima dan sadar apa yang dilakukannya.
“Maaf.”
“Saya mengerti, Pak,” jawab Baya sembari menjauh dari Boni.
“Kamu paham apa yang menjadi kegelisahanku. Tetapi, ya..sudahlah!”
“Maafkan saya, Pak,” sahut Baya.
Setiap pamit pulang, Boni memberi uang. Tetapi Baya selalu mencari alasan untuk menolak.
“Jangan ditolak, uang ini untuk Lina dan Gofur,” desak Boni.
Di benak Baya uang pemberian Boni sangat membantu kebutuhan keluarganya. Namun Baya tidak mau merusak rumah tangga Boni dan Lastri. Baya sangat menaruh hormat kepada Lastri. Apalagi Lastri sangat baik memperlakukan suami dan keluarganya.
Jika waktu senggang Lastri sering berkunjung ke rumahnya. Selalu memberi sesuatu. Membelikan baju atau peralatan sekolah kedua anaknya.
Baya jadi tidak enak atas kebaikan Lastri. Ia tidak tahu apakah sikap Lastri itu lebih kepada kompensasi karena belum dikarunia anak.
Lastri memperlakukan Lina dan Gofur seperti anaknya sendiri. Bila hari minggu, Lina dan Gofur kerapkali diajak main ke rumah mereka.
Setahu Baya, baik Boni dan Lastri tidak ada masalah secara medis sehingga mereka belum mendapatkan keturunan. Keduanya terlihat sehat. Bahkan Lastri pernah bercerita bahwa ia sempat hamil, namun mengalami keguguran saat kandungannya berusia dua bulan.
Penuturan Lastri bisa saja benar, namun bisa juga untuk menghibur diri sendiri, sambil menutupi kekurangannya.
Boni pernah kawin dengan perempuan lain di kampungnya, namun gagal mempunyai anak, lalu bercerai tanpa sebab yang jelas.
“Keluargaku menyarankan kami berobat alternatif, tapi Boni selalu keberatan. Ia tidak percaya kepada hal-hal mistik dan tak masuk akal,” kata Lastri suatu hari.
“Maaf Mbak, ada keinginan untuk ngadopsi anak?” tanya Baya hati-hati.
“Sudah aku sampaikan. Tetapi Boni tidak setuju, mungkin ia takut dikatakan mandul,” jelas Lastri sangat lepas.
Baya tak berani menanggapi lebih jauh, ia takut salah ucap. Ia hanya diam, namun Lastri juga diam. Beberapa saat keduanya seperti terpaku.
Wajah Lastri terlihat gusar. Ia lambungkan matanya ke panggar, langit-langit atu plafon rumah yang menyerupai resi. Suasana ruang tengah tempat biasa ibu-ibu kumpul arisan atau lapang lom mendadak hening. Baya kikuk, ia buang pandangan ke samping kanan ruang lapang alom. Ada dua kamar tidur atau kebik yang menjadi bagian antara dari ruang lapang lom itu dengan lapang luar ke arah serambi atau beranda depan atau tepas rumah panggung itu.
“Lelaki egois!” sentak Lastri.
“Mereka menganggap dirinya makhluk paling agung di muka bumi. Aku tidak tahu apakah Tuhan juga berkelamin laki-laki ?” gugat Lastri.
Baya hanya mendengarkan caci maki Lastri, sembari membersihkan kaki meja. Entah, kesepakatan apa yang dibuat orang-orang dahulu, ketika perempuan dilamar dalam usia belum mencapai pubertas.
Lastri mempertanyakan kembali alasan mendasar pembatasan ras, adat, agama, dan kewarganegaraan, jika pada akhirnya menjadi pembenaran negara untuk mengesahkan manusia berkelamin laki-laki berkuasa.
Lastri tiba-tiba berubah seperti perisai perempuan. Baya berusaha mengartikan maksud pembicaraan Lastri. Kendati belum tahu kemana arahnya.
Lastri melihat kehamilan merupakan bagian pengakuan tanggungjawab bersama laki-laki dan perempuan.
“Sudah 13 tahun aku disia-siakan. Aku berpikir, apakah masih ada laki-laki dalam rumah ini. Bertahun-tahun aku sendirian mengurus rumah dan usaha suami. Aku dipaksa memikul beban ganda. Pikiranku terkuras untuk mempertahankan rumah tangga ini. Tetapi, apa yang ku dapat? ”
“Sabar, Mbak. Ini ujian.”
Hanya itu yang dapat diucapkan Baya. Di balik sikap lembut dan perhatian, ternyata Lastri memiliki pandangan dan kesadaran yang kuat tentang kesetaraan hak-hak perempuan dan laki-laki. Mungkin pengalaman, jam terbang, serta pergaulan bisnisnya membuat ia lebih kritis dan mapan bersikap.
Lastri menginterogasi dirinya sendiri atas sentimen kelamin antarmanusia. Ia berpikir mampu mengintegrasikan beragam perbedaan lelaki dengan perempuan, dalam satu kesepakatan.
Orang hidup dalam dua pilihan di antara seks yang terbangun dari kekalahan dan kemenangan. Lastri tidak melihat dirinya seperti malaikat. Meski Ia memiliki kesadaran untuk menjadi dirinya sendiri.
Begitu banyak perempuan terkalahkan oleh setetes sperma yang dikeluarkan oleh lelaki berjiwa kotor dan menjijikkan. Tetapi cinta dan sebongkah kesetiaan purba, mendorong para perempuan masuk ke ruang gelap. Agama menjadi liberal. Mereka merangkak dan berharap ada yang menuntunnya sampai bertemu cahaya pemandu keluar dari berbagai persoalan. Bagi perempuan liberal, kebebasan dan poligami tidak ada kaitan dengan etika dan aturan perkawinan yang dibuat negara. .
Sebagai muslim dan perempuan Timur, Lastri membaca kebebasan adalah bentuk perlawanan terhadap akidah dan norma agama. Sehingga ia selalu kalah. Selalu patuh perintah suaminya, termasuk bercinta. Ia tak pernah berani menolak permintaan seks suaminya. Atau melarang suaminya berbuat apa saja. Lastri membaca kebebasan adalah bentuk pemberontakan. Dan ia tersiksa. Sekarat dalam bingkai anatomi sejarah dan tradisi budaya leluhurnya. Ia taklukkan progresifitas dirinya dengan kesetiaan.
“Entahlah...Mengapa aku menyukai Boni dengan segala kesalahan yang diperbuatnya,” ucap Lastri sembari merapikan kain taplak meja batu, tempat ia dan Baya bicara berhadap-hadapan.
“Ada kesewenangan di rumah ini,” suara Lastri kembali meninggi.
“Saya tetap yakin, Boni sangat sayang kepada Mbak Lastri,” pancing Baya.
“Karena itu ia menyiksaku!”
“Maksudnya?”
“Cinta, kasih sayang, serta ungkapan lainnya, adalah siasat Boni untuk menguasai dan menindas aku!”
“Mbak pernah dipukul atau diperlakukan kasar?”
Lastri menggeleng. “Tetapi kamu harus paham, kekerasan yang aku ributkan sejak tadi bukan kekerasan fisik. Tapi tekanan batin yang keterlaluan.”
“Mungkin, Pak Boni mengganggap Mbak terlalu banyak menuntut.”
“Apa?” Lastri agak kaget mendengar ucapan Baya itu.
“E..e, maaf. Maksud saya, Mbak dan Pak Boni butuh suasana baru.”
“Aku tidak mengerti maksudmu?”
“E, maksud saya, mungkin perlu jalan-jalan, berwisata atau mencari hiburan. Jangan terlalu disibukkan oleh pekerjaan,” kata Baya meredakan emosi Lastri.
“Apa yang kamu bilang sudah aku sampaikan dari dulu. Ia selalu mengelak dengan alasan macam-macam.”
Lastri terdiam. Ia tak sanggup menahan air matanya. Raut muka perempuan itu seperti mengungkapkan kekecewaan mendalam. Lebih sekedar 13 tahun penantian. Orang sulit berhitung waktu, ketika harapan sudah terkandaskan. Hati perempuan memang tak sekeras laki-laki. Barangkali itulah hakikat penandaan identitasnya. Ada keterbatasan lahiriah.
Sembari mengusapkan sapu tangan ke wajahnya yang sembab, Lastri bergegas ke kamar tidur, lalu keluar membawa tas dan kunci mobil.
“Siang ini aku ada janji,” ujarnya sembari meninggalkan uang belanja di atas meja.
Baya masih tertegun menatap Lastri pergi melalui geragal atau jerambah yang berfungsi sebagai penghubung antara rumah dan dapur atau pawon. Bentuknya seperti lorong atau koridor yang atapnya hampir sejajar dengan ruang dapur. Pelan-pelan Lastri menghilang dari pandangan Baya.
Baya masih menatap ujung geragal, sebagai suami orang Lampung pesisir. Baya paham bahwa rumah yang memiliki geragal adalah rumah penyimbang adat atau warga masyarakat yang terpandang. Baya kemudian menuju ke bagian belakang rumah merapikan dapur.

7
“Artinya, kalau sekarang korupsi merajalela, tidak perlu gusar. Karena korupsi itu pun
sebetulnya bagian proses pertobatan dari nenek moyang kita si bajak laut itu.
Korupsi itu saya pikir perilaku rampok yang lebih sopan dan bersahaja..hahahaa...”

UMAR tertegun menatap sisa beberapa pohon mangrove, ketika pulang dari bagan ikan milik Boni, sore itu. Perlahan-lahan pohon-pohon bakau di pesisir pantai itu lenyap, berubah menjadi hutan atau urukan tanah untuk perluasan lahan baru milik pengusaha sekitar pantai.
Menurut cerita orangtua Umar, kawasan hutan mangrove tumbuh berjajar di pesisir Teluk Lampung mulai dari Bakauheni hingga Kuala Penet. Kemudian dari Panjang, Telukbetung memanjang sepadan pantai ke Padang Cermin, Punduh Pidada, hingga ke daerah Kedondong dan ke kawasan perairan Kuta Agung.
Ke arah pesisir timur, dari Teladas, Rawajitu, pohon mangrove ini, tumbuh hingga ke Sungai Sembilang, Air Sugihan, dan Sungsang yang berada di muara Sungai Musi, Sumatera Selatan.
“Riwayat bakau tinggal kenangan,” ujar bapak Umar waktu itu.
Wajar saja, pikir Umar, nyamuk malaria sekarang menyebar ke rumah-rumah penduduk, karena hutan mangrove tempat hidupnya telah musnah.
Hutan mangrove juga berfungsi sebagai sabuk pengaman dari abrasi, hantaman gelombang atau bahaya tsunami. Umar membayangkan jika seluruh hutan mangrove di pantai Aceh masih utuh dan terjaga, dampak gelombang pasang tsunami tidak separah saat itu, karena masih tertahan sabuk mangrove.
Kendati tetap menelan korban jiwa dan meluluhlantakkan rumah dan bangunan di Aceh, tetapi tidak setragis memandang hamparan ratusan ribu mayat manusia akibat gelombang besar itu. Karena tidak ada lagi sabuk penahan pantai, gelombang laut yang diperkirakan naik di atas 10 meter itu, begitu saja masuk menyapu bersih seluruh kampung dan isi kota.
Mengingat kembali bencana tsunami Aceh dan Nias, Sumatera Utara, Umar merinding sendiri membayangkan keluarganya yang sekarang ini berumah di pesisir Teluk Lampung.
Ia melihat seluruh pesisir pantai sekitar Telukbetung sampai ke Padang Cermin, telah gundul tanpa hutan mangrove. Jika tsunami datang, pikir Umar, ia dan penduduk sekitar pesisirlah yang lebih dulu tersapu gelombang.
Umar sempat menikmati sisa-sisa mangrove semasa kecil. Ia sering dudukdi akar-akar pohon yang merayap sampai ke daratan. Pulang sekolah, ia dan kawan-kawannya bermain sambil mencari anak kepiting. Suasana itu mulai hilang ketika masuknya kegiatan usaha industri di kawasan pesisir Teluk Lampung.
Para pelaku industri memanfaatkan pinggiran laut sebagai tempat usahanya. Perhitungan mereka posisi dekat laut sangat strategis dan menguntungkan terutama dari sisi bongkar muat barang dan transportasi perdagangan antar pulau melalui laut. Mereka menimbun pantai lalu membangun dermaga. Sebagian lagi memanfaatkan lokasi sekitar pantai untuk memudahkan membuang limbah industrinya ke laut.
Sebelumnya, perusakan mangrove ini dituduhkan kepada petambak tradisional saja. Mereka membuka tambak melampaui garis sepadan pantai penyangga pengikisan pantai atau sabuk hijau tempat hidup mangrove. Garis sepadan pantai yang ditetapkan pihak kehutanan sepanjang 500 meter dari pantai.
Umar sering melamun di atas bagan ikan tempatnya bekerja, ketika pandangannya tertuju ke Pulau Pasaran dan pulau-pulau kecil lainnya di perairan Teluk Lampung. Seperti Pulau Tangkil, Pulau Condong, Pulau Legundi, Way Lunik, atau Pulau Sebuku dan Sebesi di dekat perairan gunung anak Krakatau, dan pulau-pulau lainnya.
Pulau Pasaran sejak dahulu menjadi wilayah pemukiman nelayan yang kebanyakan mengelola ikan asin. Pulau ini kini nyaris menjadi daerah daratan, akibat kegiatan penimbunan pantai di wilayah Telukbetung Selatan. Penimbunan sejak tahun 1995 itu hampir menyambungkan pulau Pasaran ke daratan. Dulu warga pulau itu sempat mau digusur dan direlokasi ke daerah lain, sekitar perairan Lempasing.
Rencananya pulau sentra ikan asin itu, akan diubah menjadi areal wisata dengan bangunan hotel berbintang lima. Warga nelayan menolak pindah karena mata pencariannya sebagai nelayan ikan asin sudah turun temurun. Entah karena penolakan, atau karena batalnya calon investor, sehingga kini rencana pemda kota mengembangkan Pulau Pasaran itu tidak terealisasi. Yang ada hanya pengurukan yang sebentar lagi merubah status pulau itu menjadi kampung daratan.
Umar tidak membenci industri. Ia juga bukan seorang rasialis, jika berpikir tentang Jawa, China, Bugis, Banten, Padang, dan pendatang lainnya yang masuk ke kampungnya. Tetapi ia menyesali kegagalannya menjaga sejarah kampung dan peradaban leluhur. Telukbetung berubah kampung asing yang sulit untuk dikenali kembali.
Umar melihat kerabatnya kumpul di Sesat Agung, mereka berubah rupa. Seperti topeng cetak, wajahnya sama semua. Sulit dikenali. Ia tidak tahu apakah Melayu itu China atau Jawa, atau saudara kembarnya. Yang ia tahu Melayu atau China, keduanya muncul dari lautan. Menjadi penguasa samudera. Merambah ke wilayah daratan hingga ke pegunungan.
“Melayu ada di air, melayu ada di darat. China-Melayu atau Melayu-China, sama saja,” Umar berbisik dalam hati.
Leluhur mereka mengajarkan menangkap ikan dan berdagang. Mereka tidak mengerti bercocok tanam. Mereka berkebun karena menolak ditaklukkan. Mereka lari ke gunung karena sungkan berperang.
“Apakah moyangku China?”
Sejarah asimilasi dan kenangan masa lalu, tidak begitu lengkap tergambar dalam cerita bapak dan kakeknya. Umar tahu ada kekalahan di balik itu. Ada banyak kisah kekerasan disembunyikan. Penandaan itu terbaca sampai hari ini.
Semakin terbaca, ketika ia menatap Pulau Pasaran dan lingkungan sekitar pesisir Teluk Lampung yang porak poranda dijarah masa lalu dan hari ini.
Tidak Cuma laut. Sungai-sungai pun tak luput dari pencemaran limbah. Puluhan spesies ikan musnah akibat racun limbah pabrik. Seperti pabrik tapioka di Kekah, Terbanggi Besar. Sepanjang sungai Way Pengubuan, sebelumnya terdapat lebih 50 spesies ikan. Tetapi bila diteliti kemungkinan hanya tinggal 20 persen lagi yang tersisa akibat pencemaran limbah pabrik.
Pemerintah sendiri yang memiliki Badan Pengendali Dampak Lingkungan tidak mampu melakukan aksi kritis dalam memantau instalasi limbah pabrik. Pemeriksaan rutin outlet atau saluran pembuangan akhir limbah nyaris hanya pekerjaan rutin untuk mencairkan uang jalan dan mendapakan uang sangu dari pengusaha pabrik yang dikunjungi.
Kondisi tersebut terus berlangsung hingga sekarang. Di Terbanggi Besar pernah ditemukan warga dan LSM lingkungan, adanya pipa paralon siluman milik pabrik sumpit dan kertas budaya, membuang langsung limbahnya ke sungai. Tetapi tetap tidak ada tindakan tegas dari pemerintah.
“Entahlah, mengapa perilaku pemerintah seperti itu.” ungkap Umar dalam hati.
Dalam benak Umar, sering muncul pertanyaan, dari mana asal orang Indonesia itu?
Riwayat Indonesia sulit dibaca, apalagi dituliskan. Riwayat diceritakan kakek dan buyutnya, penuh dongeng kesaktian dan kejayaan yang bikin Umar terkagum-kagum.
Riwayat Majapahit hingga Sriwijaya, di buku sejarah sekolah, juga berisi cerita kedigjayaan. Sriwijaya yang disebutkan berpusat di Palembang itu, sebagai kerajaan yang dianggap telah memiliki tata pemerintahan, ilmu hukum, politik, dan kebudayaan, ternyata hanya menjadi riwayat raja-raja yang sukses menarik upeti dari hasil keringat petani dan rakyat jelatah. Atau penaklukkan untuk tujuan ekonomi. Mengeruk kekayaan kerajaan-kerajaan kecil. Budaya primordialisme dan budaya menjilat sudah tumbuh di masa itu.
“Daulat tuanku....!” demikian ceritanya. Dari pemerintahan Majapahit dan Sriwijaya, tidak ada kredo kerakyatan yang tercermin dari sistem pemerintahan yang bersifat “keraton sentris” itu.
“Orang Indonesia asli itu, adalah bajak laut!” ungkap Cakra.
Cakra adalah seorang seniman pelukis, kawan akrab Umar. Mereka tinggal berdekatan semasa masih tinggal di Gedong Pakuon, Telukbetung.
“Ah, itu julukan buatan Belanda. Apa dasarnya, Cak?” tanya Umar kepada seniman itu.
Cakra diam sesaat. Matanya ke langit. Mulutnya sedikit menganga, jari tangan mempermainkan rokok kretek. Ternyata ia sedang mengingat-ngingat cerita nenek moyangnya.
“Begini Mar! Menurut cerita, di jaman dahulu bangsa Indonesia asli didesak bangsa Tionghoa dan Hindu ke luar dari negeri asalnya yakni Hindia Belakang. Kemudian kabur ke Nusantara Indonesia. Karena terusir, orang Indonesia asli yang sebelumnya sudah punya budaya bertani atau bercocok tanam itu, menjelma menjadi bajak laut yang sangat buas!”
“Dari mana kau dapat cerita itu, Cak!” potong Umar. Ia keberatan nenek moyangnya dibilang bajak laut oleh si seniman kurus itu.
Cakra bangkit dari duduknya menuju lemari tuanya. “Dari ini,” kata Cakra menunjukkan buku lusuh yang ditariknya dari barisan buku di lemari kaca itu.
Cakra cukup bersemangat sembari membolak-balik halaman buku itu.
“Lalu si bajak laut, dengan vintas atau perahu kecilnya mengarungi kepulauan-kepulauan dan menaklukkan penghuninya. Penduduk India dan Oceania bertekuk lutut. Bahkan, Jengis Khan dan laskar perang Mongolia pun sanggup dipukul mundur, bajak laut yang terkenal waktu itu disebut Pakodato dari kerajaan Sungapura di Semenanjung Tanah Melayu,“ kata Cakra dengan Bangga.
Umar hanya tersenyum melihat kelakuan Cakra. Tapi, ia tetap serius menyimak kutipan cerita kawan akrabnya itu.
“Pada Tahun 500-an, Mar..” lanjut Cakra. “Pakodato mampu menggetarkan kerajaan Tiongkok dan Hindustan, dengan armada laut dan perlengkapan perangnya,” tukas Cakra.
“Menurut cerita selanjutnya, setelah di bawah pengaruh Hindu, nenek moyang kita itu naik kelas.” Cakra mengorek rokoknya kembali.
“Nah, kini terbayangkah di benakmu, Mar, bahwa para bajak laut itu adalah nenek moyang kita,” ujar si seniman sambil tertawa digumul asap rokoknya.
“Dari penampilan bentuk anatomi tubuh, kemudian raut muka, mata, hidung, rambut, warna kulit, nyaris tak ada bedanya dengan orang Tionghoa.”
“Artinya, Mar, kalau ada tindak tanduk kita meniru kelakuan perompak, termasuk koruptor yang berkembang biak sekarang ini, kau tidak perlu gusar! Karena korupsi itu pun sebetulnya bagian proses pertobatan dari warisan nenek moyang kita si bajak laut. Korupsi, saya pikir perilaku rampok yang lebih sopan dan bersahaja hahahaa..!”
Seniman itu tertawa terpingkal-pingkal seakan menertawakan dirinya dan nenek moyangnya.
“Neneknya bajak laut, cucunya bajak darat. Mantap ‘kan? hahahaha!” ujar Cakra sambil menekan perutnya menahan tawa.
Umar hanya tertawa kecil. Argumentasi Cakra ikut mengganggu pikirannya. Apakah mental menipu, merampas, dan mengambil hak orang lain itu, betul-betul perilaku budaya yang diwariskan nenek moyang.
“Persoalannya sederhana saja, Mar! Sampai kini belum ada seorang pun yang berani memproklamirkan nenek moyang orang Indonesia itu, perompak!” ujar Cakra. “Sehingga generasi sekarang harus merehabilitasinya dengan perbuatan antirampok, antimaling, antijudi, antikorupsi, antimaksiat, dan macam-macam ketidakpercayaan lainnya,” tambahnya.
Hanya Cakra, seorang seniman kerempeng yang hidup dari menjual lukisan, berani mengatakan nenek moyangnya seorang perompak, pikir Umar.
Terlepas benar atau salah, cerita Cakra, Umar merasakan benih-benih kejahatan itu ada dalam dirinya. Tetapi secara agama, ia paham bahwa perbuatan jahat itu dilarang.
Umar teringat buku milik Cakra, bercerita tentang Laksamana Cheng Ho. Utusan Kaisar Ming abad ke-15 itu menjelajah berbagai belahan dunia. Cheng Ho bersama ribuan tentaranya mendarat ke Indonesia dengan dua misi, perdamaian dan penaklukan.
Bisa saja, pikir Umar, Cheng Ho lebih dulu menaklukkan para perompak, kemudian mengenalkan agama kepada mereka. Sebagai pemeluk Islam, pikir Umar lagi, bisa pula ia dan nenek moyangnya keturunan perompak yang disadarkan Cheng Ho.
Umar jadi tak tahan, ikut tertawa-tawa bersama seniman kerempeng itu. Ia teringat masa lalu ketika mulai mengenalkan minuman beralkohol kepada Cakra.
“Begini saja, Cak. Biar tidak terlalu rumit kita berpikir. Mulai saat ini kita nyatakan diri kita sebagai cucu perompak! Alias cucu bajak laut! hahahaa….”
Keduanya berjabat tangan, bersepakat untuk identitas dan sejarah nenek moyang mereka.
Cakra menyilangkan telunjuknya di bibir, “Sstt..jangan lupa, Mar! Pake kata tobat di belakangnya!” kata Cakra. Keduanya kembali tertawa lepas.

8
Perempuan itu kembali dikalahkan. Baya tak sanggup melawan matahari yang memanggang tubuh suaminya. Matanya takut menatap bagan tancap itu dari jendela yang kian terbuka lebar. Seolah hendak membeberkan kekerasan demi kekerasan di hadapan mereka.

Seperti biasa, Lastri berangkat kerja ketika Boni masih pulas tertidur. Hari itu Lastri akan menyetor uang ke bank di Tanjungkarang. Boni menyuruh Lastri minta ditemani Umar.
“Saya pergi dulu. Ini uang belanja, sisanya ambil buat kamu!” kata Lastri kepada Baya yang sedang menyapu ruang di samping serambi sekolah..
“Terima kasih, Mbak!” jawab Baya sambil memberesi cangkir teh di meja majikannya itu.
Sekitar pukul 11 siang Boni baru keluar dari kamar tidur. Begitu Boni bangun Baya buru-buru menyiapkan kopi dan kue-kue jualannya. Lantas bersiap pamit.
“Sebentar,” tegur Boni baru kembali dari kamar mandi. “Saya mau ngomong.” katanya sembari masuk ke kamar berganti pakaian.
Baya menunggu di ruang tengah. Matanya menatap pigura foto Lastri dan Boni, terpasang agak miring di tembok sebelah kanan, tangga kecil menuju bale-bale kayu. Baya merapikan pigura itu. Lalu naik ke balkon atas melalui tangga kecil.
Beberapa tahun lalu Baya sering melihat Lastri dan Boni bercengkerama akrab di atas bale-bale balkon, sembari menatap kapal dan perahu nelayan di Teluk Lampung. Entah kenapa bale ukiran Jepara itu sudah jarang disentuh mereka.
Menatapi bale kayu, Baya teringat kursi panjang di rumahnya. Tidak diduga, di atas kursi kayu tua itu, Ia dan Umar menemukan kepuasan lain bercinta. Penuh gelora, meski harus turun naik mengikuti belokan kursi yang keras dan kaku.
Awalnya suami isteri itu melakukannya karena keterbatasan rumah mereka hanya memiliki dua kamar tidur. Satu kamar ditempati Lina, dan satu kamar lagi Ia tempati bertiga dengan Umar dan Gofur. Tidak memungkinkan mereka bercinta di dalam kamar tidur secara leluasa. Karena satu kamar ditiduri Lina sendiri, dan satu kamar lagi ditiduri suami isteri ini bersama putranya Gofur.
Baya tertegun sesaat. Lalu mendekati bale kayu yang dilapisi busa tipis itu. Ia berdiri di muka jendela. Dari ketinggian ruangan santai itu, matanya menatap jauh ke laut. Dari jendela cukup lebar itu, ia melihat hamparan bagan-bagan ikan yang terlihat selebar meja kerja terletak tepat di bibir jendela itu. Di bagan itulah suaminya bekerja sejak pagi hingga menjelang Magrib atau sebaliknya. Kadangkala tidak pulang sama sekali, karena langsung menggantikan temannya yang sakit atau berhalangan kerja.
Di mata Baya, Umar pekerja keras yang bertanggungjawab kepada pekerjaannya. Karena itu pula ia sangat dipercaya oleh Boni dan Lastri.
Dari jendela rumah Boni itu, Baya melihat cahaya matahari semakin tegak di atas laut. Menggaringkan ikan-ikan asin di atas panggar atau penjemuran bambu, di samping rumah majikannya. Baya membayangkan panasnya laut yang menguliti tubuh suaminya. Baya tidak tahu apa yang dilakukan suaminya di atas bagan ikan itu, saat matahari memanggang perairan Teluk Lampung. Bertahun-tahun Umar mengikhlaskan tubuhnya dibakar dan dibekukan asin laut, semata untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dan kedua anaknya. Kadang Baya tak tega melihat kelelahan suaminya. Tetapi, bagi mereka orang kecil, tidak ada pilihan lain kecuali bekerja keras untuk bertahan hidup.
Baya hanya bisa mengurangi beban suaminya dengan berjualan kue keliling. Dulunya, Baya sempat berdagang kain dan pakaian keliling dengan sistem kredit. Namun tidak lama. Usahanya kehabisan modal, karena banyak tunggakan kredit tak tertarik..
Baya kaget dari lamunannya, karena merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Ia menghindar dan berbalik. “Maaf Pak, seharusnya bapak tidak melakukan ini,” tolak Baya halus. Tetapi Boni tidak menggeser tubuhnya di hadapan Baya. Ia terus merapatkan tubuhnya. Sementara Baya sudah habis langkah untuk mundur menjauhi Boni. Tubuhnya terpepet ke tembok samping jendela. Hanya kedua tangannya yang masih bisa bertahan melindungi tubuhnya dari cengkeraman Boni.
Laut di luar terlihat semakin panas dipanggang matahari. Baya tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tak memiliki keberanian untuk melawan. Matanya sempat menatap keluar jendela . Ia seakan hendak berteriak atau meloncat dari jendela yang terbuka lebar itu. Kemudian pergi ke laut menemui suaminya yang berkeringat lelah. Memeluk dan menjilati keringat asin di tubuh suaminya, sebagai permohonan perlindungan. Dan berhitung antara keringat dan harga diri di atas bagan yang tak pernah lelah diterpa ombak.
Laut di luar terlihat semakin terbakar, ketika tubuh Baya ditarik ke bale kayu itu. Hampir tanpa teriakan, hanya dengus nafas ketakutan. Berkejar-kejaran dengan suara penuh birahi. Kemudian mengerang. Menerjang-nerjang pagar papan dari bale kayu itu. Hanya beberapa saat. Lalu diam. Terpaku kaku. Luruh. Air matanya menetes bersamaan keringat yang terus mengalir. Panasnya melebihi laut yang terpanggang siang itu.
Perempuan itu kembali dikalahkan. Baya tak sanggup melawan matahari yang memanggang tubuh suaminya. Matanya takut menatap hamparan bagan tancap itu dari jendela yang kian terbuka lebar. Seolah hendak membeberkan kekerasan demi kekerasan di hadapan mereka.

9
Dalam kondisi mabuk, Along melihat bumi berubah seekor lembuh. Berdaging gemuk dan segar. Malam itu, Along ingin menyantapnya dengan kerakusan. Sembari minum Shonghie, Vigour, atau Anggur Tuak. Along ingin pelesiran menemui amoy-amoy moyangnya.

Air toilet di WC kamar kontrakan Along, malam itu, berubah coklat. Tidak ada kemarahan berarti ketika puluhan batang gaharu yang dibakar mengepung lu-bang toiletnya. Along berdiri dan meng-enakan pakaian pengantin. Dalam 30 de-tik, bak mandinya membesar, bergerak memenuhi ruang WC-nya. Along terdesak ke ujung pintu. Kakinya menendang ke depan dan ke belakang, ke semua penjuru. “Aku mabok!” pekiknya. Sambil berdiri, ia berak ke semua pojok kamarnya.
Perenungan apa yang ada di diri Along, malam itu. Ia mabok. Ia kuasai Lina. Ia jelajahi imajinasi seks remaja lugu itu. Ia tipu Feng. Ia hamburkan uang isterinya. Ia khianati Mei. Ia telantarkan Erik. Dan waktu, betul-betul tak terduga. Along terlempar keluar WC kamarnya, menuju lorong-lorong masa lalu. Menjadi brutal. Kuku-kukunya berubah tajam. Mencakar dan menyengat seperti kalajengking. Semua orang tiba-tiba menjadi mangsa. Lalu Along berteriak memanggil nenek moyangnya yang berdiri angkuh di atas kapal kebesarannya.
Mereka barusan melakukan ritual laut, dengan kepala kerbau yang mengapung di atas air.
“Telah kami jinakkan samudera!” pekiknya sombong.
Ruwatan laut tersebut menjadi ritual daratan. Along merasakan ada bersama moyangnya. Mereka berpesta anggur dan perempuan di atas dermaga.
“Telah kami jinakkan daratan!” teriaknya. Maka beratus-ratus abad sejarah selalu bisu. Berjuta-juta karung lada, cengkih, dan kopi, diangkut. Berjuta-juta tangisan membanjiri kebun-kebun tak bertuan. Mengingkari kesepakatan musim.
“Siapa merampok kebunku?”
“Sejarah dan kebodohanmu!”
“Aku mabok! Leluhurku petani yang mabok!”
“Kamu memang harus mabok.”
“Untuk apa?”
“Berkuasa!”
“Dengan apa?”
“Anggur dan perempuan.”
“Ooohh…nikmatnya. Aku haus. Aku butuh anggur. Aku butuh bidadari. Meranum cinta, kawin di ranjangku…”
“Kamu punya cinta?”
“Ya! Mereka tidur di ranjangku. Mereka merasakan cinta. Mereka bahagia. Mereka menganggap dirinya satu-satunya kekasihku.”
“Hebat!”
“Dengan cinta, semua bisa aku kuasai!”
“Hahaha…! Tak gampang membangun kekuasaan dari cinta. Kekuasaan harus dibangun dari genangan darah dan jeritan orang-orang disiksa.”
“Haahaahaa..! Mengerikan! Tapi semua orang bisa membunuh dan menyiksa orang lain. Dan semua orang punya keberanian melakukannya.”
“Kami takar kemampuamu. Kau cukup sekutu penguasa saja; turut menguasai negara.”
“Sulit! Di sini sangat bebas.”
“Kamu punya anggur dan perempuan. Kau menjadi kebun anggur bagi mereka!”
“Tapi saya bukan WNI tulen!”
“WNI atau keturunan sama saja. Butuh anggur dan perempuan. Butuh uang. Butuh kekuasaan!”
“Sulit! menempa mental seperti itu.”
“Semua terjadi secara alami. Tidak ada yang memulai dan mengakhiri. Menjadi orang kuat itu harus memiliki kekuasaan! Bukan tubuh yang berdandan!”
“Apakah kalian punya negara?”
“Kami berkuasa di samudera.” Suara itu melengking tinggi. Along melihat matanya seperti mata elang. Mengepak-ngepakkan sayap. Kukunya mencakar dan mencabik-cabik bumi.
Dalam kondisi mabuk, Along melihat bumi berubah seekor lembuh. Berdaging gemuk dan segar. Malam itu, Along ingin menyantapnya dengan kerakusan. Sembari minum Shonghie, Vigour, atau Anggur Tuak. Along ingin pelesiran menemui amoy-amoy moyangnya.
Beberapa saat kemudian, Along meninggalkan tempat itu. Ia menuju dermaga Sukaraja. Ia merasa dikawal ratusan perempuan dan ribuan galon anggur. Sementara WC kamarnya terus berbuncak. Along merasa ada di awang-awang. Tubuhnya seperti hampa oksigen. Melayang. Matanya berubah dua mata jangkrik perkasa berwarna hitam mengkilap. Kemudian ia terhenyak ke masa lalu. Kerinduan kampung halaman. Ada dendam dan kehendak berkuasa terbersit di benaknya, seperti mimpi orang-orang yang pernah dikalahkan. Along ingin perkasa.
Ia teringat cerita bapaknya di masa kecil; “Adu jangkrik”. Sebuah permainan rakyat dari daratan China Selatan dan China Tengah. Jangkrik itu dipertarungkan. Diadu keperkasaannya pada gelanggang pesta perayaan Zhongqiu saat pertengahan musim gugur pada tanggal 15, bulan 8 kalender China. Sang pemenang atau sang juara, dipersembahkan kepada kaisar. Diangkat harkatnya menjadi prajurit istana.
Along menatap bulan penuh. Ada guratan merah wajah bapaknya. Ada senyuman biru ibunya. Ia teringat amanat sang ibu dalam mite si pemanah matahari berjudul; “Chang E Pergi ke Bulan”. Sebuah cerita rakyat tentang dua sisi moral dan perilaku isteri dan suami yang bertolak belakang.
Mite China Kuno masa pemerintahan Raja Yao itu, bermula saat kemarau panjang. Raja Yao memerintahkan si pemanah ulung Hou Yi memanah sembilan matahari dan menyisahkan satu saja. Hou Yi berhasil. Raja memberinya banyak hadiah dan menganugerahkan kedudukan yang tinggi sebuah wilayah kekuasaan. Namun Hou Yi yang dianggap pahlawan itu berubah menjadi sombong dan kejam. Dengan pil ajaib Dewi Wang Mu, ia merasa bisa melakukan apa saja yang dimauinya.
Masih terngiang pesan moral dalam mite itu, bahwa ambisi berlebihan pasti menimbulkan kekerasan dan kebengisan yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Sementara Chang E sebaliknya. Ia merasa iba atas nasib rakyat akibat perilaku suaminya.
Chang E akhirnya nekat menelan lebih dahulu pil ajaib itu. Tubuhnya melayang ke angkasa. Terbang menuju bulan. Setiba di bulan Chang E terbatuk. Pil ajaib terlempar dari mulutnya dan berubah menjadi seekor kelinci putih. Chang E lalu ditemani kelinci putih, menetap selamanya dalam Istana Dingin di bulan. Sang “dewi bulan” itu hidup bahagia, tanpa si pemanah matahari.
Cukup banyak pesan moral dalam cerita rakyat China. Tetapi Along tak mau menggubrisnya. Ia merasa terlalu capek hidup dalam kekalahan. Sejak kecil hingga memiliki isteri dan seorang anak, Along tidak pernah merasa menang. Sekarang ia dalam cengkeraman Mei Hwa isterinya. Ia bekerja dan menrima upah dari usaha isterinya.
Along tiba di dermaga. Di langit bulan bersinar penuh dan malam sangat terang. Ia menengadahkan kepala memandang bintik-bintik hitam di bulan purnama itu. Kelihatan samar di permukaannya. Along bermimpi menjadi kelinci putih dalam mite China Kuno itu. Tetapi ia merasa seakan ada ribuan jangkrik membungkus tubuhnya. Along tak berdaya. Tatapan jangkrik itu turun naik ke langit dan bumi. Ia menggerak-gerakkan sungutnya di hadapan cahaya lampu badai kapal-kapal ikan yang berjajar sepanjang dermaga.
Along mengutuk kekalahan waktu. Cahaya lampu merkuri membentuk garis lurus sepadan pantai Teluk Lampung. Bagi Along, ritual malam sejauh Panjang hingga Telukbetung adalah potret kemaksiatan. Judi mesin, cekikikan perempuan malam, serta hingar bingar musik diskotik dan karaoke. Industri hiburan instan ini, memang mendatangkan uang. Di sana orang bisa bertransaksi kenikmatan, saling melayani berbagai ideologi, bisnis, politik, dan saling bertukar-pinjam tubuh-tubuh budaya.
“Aku mabuk!” teriak Along sendirian.
Di bawah purnama malam itu, Along menjadi bajingan sejati. Ia berlompatan di atas lantai kayu dermaga Sukaraja. Sambil bernyanyi lagu-lagu perjuangan dengan irama sesukanya. Angin laut bertiup kencang. Rambut gondorongnya tertiup angin, menampar wajahnya. Ia kancingkan rapat-rapat jaket, sekedar mengurangi kedinginan tubuhnya. Along teringat Lina. Teringat Mei Hwa. Teringat ratusan kemaluan perempuan berserakan di kamarnya. Malam itu Along ingin mendapatkan kebebasan. Mabok dan berkencan dengan perempuan hiburan malam.
Dengan tubuh sempoyongan Along berjalan menuju salah satu karaoke yang biasa dikunjunginya. Ia tidak bernyanyi, karena suaranya sudah serak menyanyikan “Padamu Negeri” sambil menenggak vigour di dermaga Sukaraja.
Along ke karaoke itu cuma ingin bercinta dan berciuman dengan perempuan di dalam kamar yang telah disediakan oleh pengelolanya. Kamar-kamar yang diistilahkan mereka short times itu berada di bagian belakang gedung karaoke.
“Selamat malam, Ko Along,” sapa Ayin pengelola karaoke itu.
“Malam...”
“Buka kamar, Ko?” tanya Ayin ramah.
“Ya, tapi kamar bisa, paling ujung menghadap laut,” jawab Along sambil cengar-cengir kikuk.
“Enggak nyanyi nih?” singgung Ayin membalas cengiran Along, sembari menuju meja resepsionis. “Chek in!,” perintahnya kepada pegawainya. Lalu perempuan itu meraih gagang telpon memanggil petugas kamar belakang.
“Saya sudah capek menyanyi.”
“O..gitu. Nyanyi dimana, Ko?”
“Di dermaga sana, tuh,” jawab Along sekenanya sambil mengacungkan tangannya ke arah atas pelafon lobby karaoke. Ayin hanya tersenyum memperhatikan kelakuan tamunya itu. Raut muka Along terlihat aneh. Matanya tinggal segaris terbuka. Perempuan setengah baya itu paham kalau Along sedang dipengaruhi alkohol.
Tidak beberapa lama petugas kamar belakang datang menjemput. Pandangan Along agak terang. Ia mengikuti petugas itu penuh semangat. Melalui gang sempit dan cahaya remang, antara kamar-kamar karaoke yang hingar bingar memusikalisasi tubuh orang-orang dalam gerakan House Music, Along melangkah dan menatap lurus ke ujung gang. Ia tak sabar ingin secepatnya sampai ke sana.
Bermodalkan sisa tenaga dan dorongan birahi, lelaki bertubuh jangkung itu mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya. Sambil melangkah kedua tangannya direntang lebar menekan ke kanan kiri dinding kamar-kamar karaoke yang berjajar itu.
Dengan langkah sempoyongan dan kedua tangan seperti sayap burung, Along meninggalkan biografi kesadarannya. Ia mengkhayalkan dirinya laksana raja yang sebentar lagi dikerumuni puluhan selir-selir cantik. Ia tegapkan tubuh serta langkah kaki seperti seorang perwira tentara yang memimpin pasukan pergi berperang.
Sejak kecil Along sangat percaya kalau tentara itu simbol kegagahan dan keperkasaan. Ia sangat bangga jika punya kawan tentara. Seperti mendapatkan sesuatu bernilai pusaka. Along sering memamerkan perwira kenalannya kepada isteri dan keluarganya. Hingga menjadi mitos yang mencerminkan posisi sosialnya.
Tetapi langkah Along terlalu tegap. Hingga hanya beberapa kaki melangkah ia jatuh. Along berusaha mengangkat tubuhnya. Tangannya kembali berpegang ke kanan kiri dinding gang, tetapi tetap jatuh ke lantai. Ia menengok ujung gang yang semakin panjang dan jauh. Kakinya gemetar. Kepalanya terasa berputar. Ia bingung mau minta tolong tidak ada orang. Sementara petugas kamar sudah lebih dulu menghilang di ujung gang itu. Along ingin berteriak sekeras-keras, namun suaranya sudah serak akibat terlalu lama menyanyi “Padamu Negeri” sambil menenggak vigour buatan Lampung.

10
“Jangan khawatir, Pak Along. Sebentar lagi anak buahku akan menemui Rohan.
Kalau preman tengik itu macam-macam, kita tangkap! ” jawab si perwira polisi dari
Ujung telpon untuk meyakinkan Along.

“Minumlah air hangat ini,” ujar Ayung kepada lelaki yang masih tergeletak di ranjang kamar kontrakan itu. Ia lalu bangkit dan mengikuti saran Ayung. Sambil duduk pelan-pelan ia habiskan air hangat kuku dalam cangkir itu. Kondisinya terlihat mulai membaik. Matanya menengok ke kanan dan kiri kamar, tetapi masih sedikit kebingungan. Lelaki itu tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, sekujur tubuh terasa pegal dan sakit.
“Tadi malam Ko Along mabuk dan jatuh di karaoke,” kata Ayung. “Koko diantar Rohan dan Satpam karoke hingga sampai ke rumah. Mereka menemukan tempat ini setelah memeriksa KTP di dompet Ko Along,” jelasnya.
Begitu mendengar penjelasan Ayung, spontan sambil menahan nyeri di tangan dan kakinya, Along merogoh saku belakang celananya.
“Kemana dompet saya,” sentaknya menatap Ayung.
“Ada di Rohan. Tadi pagi ia menghubungi saya lewat telpon tetangga. Saya ke sini karena diberitahu Rohan.”
Along hanya terpaku diam. Ia tahu siapa Rohan. Uang kiriman Mei Hwa semuanya ada di dompet itu. Termasuk cek pembayaran obat suplemen yang akan dicairkannya dua hari lagi. Along lalu meraih telpon selularnya. Ia bergegas me-ngontak Saiful, pendekar silat dari perguruan Macan Loreng, yang selama ini diandalkannya setiap ada masalah.
“Pokoknya saya tahu semua uang dan cek giro dalam dompet itu aman!” tekan Along kepada Saiful. Along juga menelpon dua orang pejabat polisi dan tentara, kawan bisnis Mei Hwa di Lampung. Along meminta tolong mereka membantu menjinakkan Rohan, yang dikenal sebagai preman yang disegani di kawasan Sukaraja, Telukbetung Selatan.
“Jangan khawatir, Pak Along. Sebentar lagi anak buahku akan menemui Rohan. Kalau preman tengik itu macam-macam, kita tangkap! ” jawab si perwira polisi dari ujung telpon untuk meyakinkan Along.
“Sebaiknya, Ko Along istirahat dulu. Nanti sore saya temani mengurut ke engkong saya, salah seorang tabib di Gedong Air,” ujar Ayung.
“Masalah dompet biarlah Kang Saiful dan anak buahnya yang mengurus ke Rohan,” tambah Ayung sembari memberesi kamar Along yang berantakan.
“Yung, yang saya pikirkan bukan uang di dompet, tetapi cek yang bernilai puluhan juta hasil penjualan obat.”
“Soal lecet-lecet, terkilir, dan nyeri ini,” lanjut Along, “dapat disembuhkan dengan obat tradisional kita.”
Ayung tidak menanggapi ucapan Along. Ia tahu, nyeri yang dirasakan Along karena tangan kanan dan tulang betis kakinya terkilir. Engkongnya di Gedong Air memiliki keahlian menyembuhkan tulang yang terkilir atau patah.
Ayung baru tiga bulan bekerja dengan Along. Ia menjadi kernet sesekali merang-kap sopir mobil box Along. Setiap hari ia dan Along menyalurkan obat China ke pelosok kabupaten dan kota di Lampung. Bahkan sampai ke lintas tengah, Martapura yang berbatasan Way Kanan, Lampung. Sedangkan ke arah lintas barat mereka menditribusikan obat-obatannya dari Krui hingga daerah Kaur di perbatasan Bengkulu Selatan dengan Lampung Barat.
Mei Hwa juga sedang dipercaya untuk mengkondisikan berdirinya kantor cabang. Along sering diminta Mei Hwa mewakili bertemu dengan teman jaringan pemasarannya di Jambi. Juga kalau ada kegiatan prospek dengan para calon peserta bisnis sistim multi level marketing ini.
“Yung, cari tempat parkir yang nyaman. Kita istirahat dulu di pinggir sungai ini,” kata Along, usai memasok barang ke stokis di Jambi. Ayung sedikit meminggirkan laju mobilnya. Baru saja mereka melintasi rumah dinas Gubernur Jambi Abdul Sata, yang berada di muka seberang jalan sungai Batanghari.
“Nah di situ! Yang ado kedai-nyo!” tunjuk Diman kawan akrab Along di Jambi.
“Ado apo, Jo? Tumben, kepengen nyingok sungai?” tanya Diman kepada Along.
“Entahlah, aku spontan bae ingin melihat sungai Batanghari,” jawab Along sambil berjalan menuju salah satu bangku papan di salah satu warung minum.
“Teh botol dingin, Mbak!” sergahnya kepada pemilik warung.
“Apo yang biso kau ceritoke, Dim. Dari bantaran sungai yang sudah ditimbun beton ini?” tanya Along memancing percakapan Diman dengan sungai yang terlihat airnya keruh kecoklatan.
“Maksudmu?”
“Ya, kamu ‘kan wartawan. Pasti punyo cerito apo bae yang dilakukan pemda terhadap sungai yang kotor kecoklatan ini?”
Diman tidak manjawab. Ia hanya tersenyum-senyum. Ayung menghampiri mereka dan menyodorkan dua bungkus rokok untuk Along dan Diman.
“Sebetul-nyo ado yang menarik dan lucu, Long! Cubo kamu lihat ke ujung sano tuh!” kata Diman sambil tangannya menunjuk ke sebuah bangunan seperti pabrik yang berada di seberang sungai.
“Itu pabrik karet, Long. Ada puluhan pabrik karet di pesisir sungai Batanghari ini,” ujar Diman memulai cerita.
“Maksudmu limbah pabrik?” Along coba menebak.
“Soal limbah kagek dululah. Masalah yang lagi mencuat sekarang ini, puluhan pabrik karet yang menampung getah karet rakyat itu, akan digusur atas instruksi Gubernur Jambi, Abdul Sata.”
“Dua tahun lalu,” lanjut Diman, “Jambi memiliki program peremajaan karet bagi kebun karet yang getah-nyo tidak poduktif lagi. Peremajaan pohon karet ini disetujui masuk dana anggaran daerah atas kehendak Gubernur Abdul Sata.”
Suatu hari, lanjut Diman, Pak Abdul Sata berjalan-jalan ke Vietnam. Ia mampir di pesisir sungai Mekong. Sungai tersebut cukup bersih dan airnya jernih. Selain itu di sungai tersebut ditanam ribuan ikan patin jambal. Pak Gubernur terkagum-kagum. Ia berbisik dengan pejabat pemda lainnya yang ikut pelesiran itu.
“Di sungai kita sangat memungkinkan ditanam patin jambal, Pak,” ujar pejabat itu.
“Ya..betul. tapi ikan ini bisa hidup dan berkembang jika kondisi sungai bersih. Sebab patin jambal hidup di air jernih,” ujar Gubernur kepada yang lainnya. “Artinya kita harus dibersihkan dulu sungai kita! Baru kita tanam patin jambal,” ujar Abdul Sata bersemangat.
“Balek dari Vietnam, gubernur lalu melaporkan hasil kunjungannyo ke DPRD Jambi. Gagasan membuat program penanaman ikan “patin jambal” di Sungai Batanghari itu lalu disampekenyo ke wakil rakyat. Sebagian besak anggota dewan mendukung gagasan Pak Gubernur itu,” papar Diman.
Secara teknis, gubernur lalu menggulirkan program kali bersih atau disingkat Prokasi. Ketua Tim Prokasi ditunjuk seorang wartawan harian nasional Kampas yang bertugas di Jambi, Asrul Tohar. Asrul adalah salah satu wartawan di Jambi yang dekat dengan Gubernur Abdul Sata.
“Apo sudah jalan, Dim. Ngapo sungainya masih kotor?” tanya Along sembari menyedot teh botolnya.
“Itulah lucunya, Long! Pak Gubernur lupa, kalau ada program peremajaan karet. Sementara puluhan pabrik karet di pesisir sungai perintahnya harus di relokasi atau digusur! Karena berpotensi membuang limbah cairnya langsung ke sungai.”
Lalu ketua tim prokasi Asrul Tohar memanggil pemilik pabrik dan meminta stafnya agar menggusur pabrik yang tetap membandel. Seruan penggusuran pabrik karet itu disambut aksi unjuk rasa para buruh pabrik. Pak Gubernur Abdul Sata, yang kebetulan rumahnya di seberang jalan menghadap ke sungai Batanghari itu, mulai ragu. Obsesi penanaman patin jambal dan proyek Prokasi yang dananya dibiayai APBD itu, akhirnya mengambang.
Along tersenyum mendengar cerita Diman.
“Jadi gara-gara melihat sungai di Vietnam, Pak Gubernur kepengen nyontek, lalu lupa jika program patin jambal itu bertabrakan dengan program peremajaan karet, begitu kan?”
“Betul!”
“Jadi sekarang?”
“Mengambang alias dak jelas!” tegas Diman sambil tersenyum.
“Dari kondisi itu, cak mano sikap ketua tim Prokasi yang merangkap wartawan Kampas itu?”
“Ya..ikut tiarap. Tetapi tetap bae mengawal dari jauh!”
“Kok, istilahnya mengawal?”
“Maksudku, tetap bae dio ado di belakang Pak Gubernur!”
“O, cak itu! Program peremajaan karet dewek cak mano?” tanya Along.
“Idak jugo berhasil nian! Bahkan ado beberapo kabupaten gagal!” tegas Diman.
Along berpendapat, sebetulnya tidak ada masalah soal program Prokasi tersebut. Tetapi yang menjadi biang persoalan, Pak Gubernur tidak tahu kalau progarm tersebut berenturan dengan program karet.
“Dim, itu perkantoran siapo?” Along menoleh ke sebelah kanan dari warung.
“Yang mano? Yang dekat perahu motor lagi jalan itu?”
“Ya.”
“Bukan kantor. Itu pertokoan Ramayana.”
“Alangke jauh bangunan-nyo menjorok melewati bantaran sungai? Kau jingok garis lurus dari sini, Dim!”
“Nah! Long, kau jingok dewek gawean pemda di sini!” Diman kembali tersenyum.
“Ai..lah buto galo mato wong sini! Gawat nian!”
“Bukan buto, Long! Tapi icak-icak buto!” tegas Diman. “Padahal dak jauh dari situ, ado rumah dinas gubernur.”
Along spontan tertawa-tawa mendengar ucapan terakhir Diman. Begitu pun Ayung, yang sedari tadi hanya mendengar, tertawa terpingkal-pingkal mengimbangi majikan. Mata sipit keduanya terlihat semakin sempit.

11
Umar terhenyak melihat perubahan mendadak perilaku Lastri. Ia belum siap menyikapinya.
Umar berada di antara ketertindasan dan keinginan mereguk kenikmatan
dari situasi yang tengah berlangsung di hadapannya.

Lastri kembali terpaku di gazebo kecil Restoran Moroseneng. Kedua tangannya bertumpu di atas meja makan menopang dagu. Ekspresi wajah Lastri kosong. Umar tidak bereaksi. Ia sedang menimbang-nimbang kalimat apa yang akan terucap dari bibir perempuan itu. Kemudian jawaban apa yang akan disiapkannya.
Lastri lalu menoleh ke samping kiri menatap Umar. Matanya masih kosong. Raut wajahnya seakan memberitahukan sebuah penderitaan panjang. Kedua tangan itu masih menyangga dagunya. Ia tak bergeming sedikit pun menatap Umar. “Wajah itu tetap cantik meski dibingkai kesedihan,” bisik Umar ke batinnya. Ekspresi Lastri tetap saja kosong. Tanpa sepotong kata, atau sedikit perubahan suasana di wajahnya.
Umar kembali dijinakkan suasana. Ia mulai berani merapatkan tubuhnya ke samping Lastri. Bagai seorang bapak kepada anak, tangan kanan Umar mengelus lembut punggung Lastri. Tidak ada reaksi atau bahasa tubuh dari Lastri atas sentuhan lembut itu. Umar menjadi risih sendiri. Segera ia tarik tangannya dan menggeser tubuhnya yang telah merapat ke pinggang Lastri. Tetapi dengan sigapnya, tangan Lastri menahan tangan Umar. Ia menempelkan kembali tangan yang terlihat bergetar itu ke punggungnya, sembari merebahkan wajahnya ke dada Umar. Sudah hampir dua jam mereka di restoran itu.
“Sebentar lagi sore, kita harus pulang,” bisik Umar pelan ke telinga isteri Lastri. Lastri tidak menjawab. Ia begitu nyaman merebahkan wajahnya ke dada bidang buruh nelayan itu. Umar tak bisa apa-apa. Ia sengaja menempatkan dirinya sebagai buruh yang tentunya menurut apa perintah majikan. Hidungnya lalu ditempelkannya ke rambut Lastri. Diam-diam Umar mencuri kenikmatan lain dari aroma hairtonic di rambut majikannya.
Sementara Lastri kian menyurukkan mukanya ke dada Umar. Tangannya menggeletak di paha Umar yang tertutup pandang oleh meja makan restoran itu. Lastri seperti tak peduli kalau ada orang lain melihat mereka. Suasana itu seakan berkolerasi dengan posisi mereka yang terhalang tanaman pergola yang merayap dari bawah sampai ke atap gazebo. Mereka bisa lebih dulu melihat orang datang atau melintasi mereka.
“Mengapa kamu mengajak pulang?”
“Kita sudah terlalu lama di sini,” jawab Umar pendek saja.
“Memangnya kenapa? Kamu tidak betah berdua denganku?”
“Bukan begitu, Mbak. Lepas Magrib saya harus ke bagan. Sekarang ‘kan sedang purnama.”
“Aku yang mengatur kamu kerja, Mar!” tegas Lastri.
“Iiya..Mbak,” Umar sadar. Ia mencoba lepas dari dekapan Lastri. Tetapi sang majikan tetap menahannya.
“Kamu harus mengerti, siapa dirimu. Nasib keluargamu bukan di tangan Boni! tetapi ada di tanganku!” kata Lastri meninggi.
“Iya..Mbak.” Umar membiarkan dadanya menyangga wajah majikan.
“Artinya, kamu harus mendengarkan aku bukan Boni atau orang lain! Paham?”
“Pa..pa..paham, Mbak.”
“Bagus! Sekarang aku butuh kamu. Aku yang mengatur kapan kita harus pulang!”
“Ya, Mbak.”
Umar terhenyak melihat perubahan mendadak perilaku Lastri. Ia belum siap menyikapinya. Umar berada di antara ketertindasan dan keinginan mereguk kenikmatan dari situasi yang tengah berlangsung di hadapannya. Ia merasa kehilangan harga dirinya, tetapi ia mendapatkan kebanggaan lain di antara kebutuhan fisik dan psikis sang majikan.
Umar membiarkan dirinya seperti seekor keledai yang ditusuk hidungnya oleh sang majikan. Karena ia tak butuh lagi pertentangan kelas sebagai seorang buruh. Ia sakiti dirinya bahkan keluarganya, untuk mendapatkan kesejajaran kelas dengan sang penguasa dirinya, Lastri. “Tidak ada yang merugikan dan dirugikan,” bela Umar kepada dirinya. Maka ia biarkan tangan kecil halus itu berkeliaran di atas pahanya. Karena ia pun menikmatinya.
Beberapa saat setelah membayar ke kasir, Lastri menarik tangan Umar ke pinggangnya. Mereka meninggalkan restoran. Sore itu, kedua buruh dan majikan itu, seakan lupa arah jalan menuju pulang ke rumah.

12
Bagi Boni menyabung ayam adalah proses mendapatkan kebebasan dirinya. Karena itu Boni menumpahkan kehobiannya sedemikian rupa,sembari menegak puluhan botol minuman alkohol.

“Ayo! Ayo! Jago! Serang terus! Serang!” Hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di arena sabung ayam itu, sudah biasa terdengar setiap akhir pekan di sebuah pojok kawasan Kampung Palapa, Tanjungkarang Barat. Teriakan mereka kadangkala berkejar-kejaran dengan beduk Ashar musholla yang tak jauh dari tempat itu. Para petarung selain warga setempat, juga sengaja datang Panjang, Kedaton, Sukarame, Blora, Cimeng-Kodim, Plang Besi, Langkapura, dan Kaliawi. Petarung luar kota yang sengaja datang ke sana antara lain dari Tanjungan, Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, dan Natar.
Mereka bertarung adu jago, adu uang, dan adu kepuasan. Pesertanya berbagai kalangan dari masyarakat biasa, pegawai negeri sipil, perwira polisi, tentara, pengusaha, hingga politisi daerah. Selain di Palapa, arena sabung ayam ini juga pernah dibuka di kawasan Beringin Raya, Langkapura, tepatnya bersebelahan lahan Sirkuit Beringin Raya, yang dibangun Hutomo Mandala Putra, putra Presiden Soeharto. Di arena sabung ayam ini lebih ramai. Banyak berkumpul tokoh-tokoh atau orang-orang terkenal dari kalangan pemborong, tokoh olahraga, wartawan, aktivis LSM, mahasiswa, pengacara, tak ketinggalan polisi dan tentara berpakaian preman, walau cuma ikut menonton.
Jenis ayam yang mereka pertarukan, ayam Bangkok dan juga ayam impor seperti Ayam Vietnam. Ayam-ayam yang akan dipertarungkan dalam arena perjudian itu harus memenuhi kriteria juri pertandingan.
Meski tidak seluruh petarung, pulang dengan kemenangan, tetapi ada kenikmatan tersendiri didapat mereka, lebih sekedar menghambur-hamburkan uang di arena judi sabung ayam itu. Meski mereka sendiri sulit menjelaskan kenikmatan seperti apa. “Ya pokoknya asik!” komentar mereka. Tidak pernah tersirat di benak mereka perihal kekejaman, penyiksaan, dan tindakan sadisme lainnya di balik kesenangan dan uang.
Mereka berkumpul di lapangan layaknya kanak-kanak bermain bola atau petak umpet. Tertawa. Berteriak. Dan marah-marah. Barangkali dari situ, mereka mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan yang tidak mereka miliki di rumah atau tempat kerjanya.
Boni begitu semangat sore itu. Dua ayam sabungannya menang. Pikir Boni, ayam ternyata mampu mewujudkan harapan dan keinginannya. Ia pulang dengan membawa uang dan kemenangan. Minggu kemarin, di arena sabung ayam lainnya, kawasan Tarahan, Lampung Selatan, Boni kalah telak sampai 25 juta rupiah.
Bagi Boni menyabung ayam adalah proses mendapatkan kebebasan dirinya. Karena itu Boni menumpahkan kehobiannya sedemikian rupa, sembari menegak puluhan botol minuman alkohol. Dengan alkohol, Boni mendapatkan keberanian menspekulasikan harapan dengan menebar puluhan juta rupiah untuk seekor ayam.
Bagi Boni, ukuran kebahagiaan di arena sabung ayam itu, adalah pulang dengan kemenangan. Jika kalah, ia pun menganggapnya hiburan saja.
Budaya sabung ayam sebetulnya bukan budaya masyarakat pribumi asli Lampung. Sabung ayam ini permainan judi yang dibawa masuk oleh para pendatang ke Lampung. Dari lokasi perjudian sabung ayam sendiri, kebanyakan ada di kampung yang sebagian besar warganya dari suku pendatang.

13
Kini suasana sangat berbeda. Perahu kecilnya terpaksa ditambat di dermaga, karena tak ada lagi pantai di sekitar Ujungboom, tempat Umar biasa berlabuh. Umar harus bertahan di atas perahu kecil miliknya dari hantaman gelombang kapal-kapal besar yang melintas.

Hari itu, air laut berubah coklat penuh logam industri. Elang laut tak pernah lagi singgah di atas cangkang. Mengapa pelaku industri meracuni laut? Mengapa nelayan kecil meledakkan terumbuh karang. Bom ikan dari belerang. Air limbah mengalir. Laut dipaksa menghirup racun dari permukaan sampai ke dasarnya. Ikan-ikan tangkapan nelayan berangsur pergi mencari wilayah baru. Tongkol dan Selar berubah sisik menjadi perak logam. Persis deformasi ikan-ikan animasi di televisi.
Sementara tubuh puluhan bukit di daratan terus digerus sampai ke kaki-kakinya. Tanahnya dibawa ke laut menimbun pantai. Bukit Kunyit, Bukit Camang, tinggal meranggaskan sebuah kekalahan. Dan proses ini berjalan secara alami. Biasa saja. Tidak ada kegelisahan. Semua berlangsung legal. Pemda kota dan parlemen mendukung perusakan itu dengan ratusan lembar ijin penambangan dan pengurukan. Suara sejumlah aktivis lingkungan hanya sekejap terdengar, kemudian hilang dibawa angin laut.
“Mengapa semua orang suka merampok alam?” tanya Umar kepada dirinya. Pertanyaan itu tak pernah terjawab oleh Umar, si buruh nelayan itu. Kalangan akademisi di kota itu pun, tak pernah bersungguh-sungguh menjelaskan moralitas nenek moyang mereka. Mungkinkah ada identitas sejarah disembunyikan? Sehingga tidak pernah ada tesis atau jawaban bahwa tradisi merampok tersebut adalah warisan sejati nenek moyang.
“Akademisi sekelas profesor, doktor, siapa pun orangnya yang diletakkan di proyek Teluk Lampung, selalu saja menjadi perampok,” ucap seorang aktivis lingkungan. Anak muda itu baru saja membuka buku hasil pemetaan Proyek Pesisir Teluk Lampung.
“Berkacalah di air laut, begitu sulit membedakan wajah orang suci dengan wajah penjahat,” kata Pak Husein, seorang nelayan tua di Cungkeng. Mungkin ada kaitannya dengan sejarah Telukbetung. Dermaga ini menjadi tempat berlabuh para pedagang bersenjata. Mereka datang dari Banten, Tionghoa, Melayu, dan Belanda.
Walau pun sulit menghubungkan kerja merampok, menjarah, dan merusak, dengan sejarah masuknya Belanda dan Inggris di Telukbetung, tetapi ada beberapa penandaan dan simbol-simbol budaya terbacakan.
Banyak dosa dan kesalahan yang semestinya dipertanyakan kembali. Sejatinya pantai dan pohon mangrove sudah ada dari masa lalu sebelum masuknya para pendatang baik melalui program pemerintah yakni masyarakat Jawa, maupun kelompok petani nomaden yang kebanyakan berasal dari Sumatera Selatan. Keutuhan pantai dan mangrove juga sudah ada jauh sebelum masuknya pengusaha dengan investasi pertanian, perikanan, dan perdagangan.
Semisal penghijauan pantai di Teluk Lampung sekarang nyaris punah akibat penebangan liar pohon mangrove dan petambak tradisional. Ya, sebagian besar pelakunya rata-rata para pendatang. Penimbunan pantai juga oleh pelaku bisnis para pendatang untuk kegiatan industrinya.
Kekuasaan ekonomi di kawasan Telukbetung sekarang didominasi kaum pendatang terutama etnis Tionghoa. Sebagian lagi investor dari Malaysia dan Korea. Ini dapat terlihat bertenggernya raksasa perdagangan di sana seperti, Bumi Waras-Sinar Budi Group, serta sejumlah perusahaan besar lainnya. Sukses warga Tionghoa ini tentunya dimulai dari usaha kerja keras mereka.
Telukbetung sejak dulu sudah menjadi bandar perdagangan di Bandar Lampung, selain Tanjungkarang. Mulai dari kawasan Panjang hingga Telukbetung, semua bisnis jasa dari industri perdagangan, pariwisata, dan transportasi laut dan daratan, dikuasai Bumi Waras. Ratusan ruko, gudang, restoran, pabrik, dermaga, super market, hotel, dan tempat hiburan, di kawasan Telukbetung itu, sebagian besar milik pengusaha Tionghoa. Selebihnya milik pengusaha lokal serta investor asing seperti pengusaha Korea, Malaysia, dan pengusaha dari Jawa.
Areal tempat bisnis mereka ada di pinggir laut. Mereka terus meluaskan lahan tempat usahanya dengan menguruk pantai hingga beratus-ratus meter menjorok ke laut. Areal reklamasi tersebut seakan hendak melahap habis pesisir hingga ke tengah laut. Tidak ada lagi pantai untuk nelayan kecil menambat perahu. Pemda kota dan parlemen menganggap tidak begitu perlu memikirkan perusakan itu. Mereka hanya berpikir lima tahun saja, sesuai masa jabatannya. Mereka membiarkan kekayaan sejati milik leluhur untuk dijarah, direjam, dan dimusnahkan demi kebutuhan sesaat.
“Mengapa orang semakin hebat merusak alam?” Umar sering mengulang-ulang pertanyaan itu kepada Pak Lurah atau kerabat sekampung. Umar teringat petuah leluhur. Bapaknya pernah berpesan, “Jangan merusak alam, karena ia memberimu hidup.” Bapaknya juga berpesan, karena begitu banyak alam memberimu kehidupan, maka berilah apa yang bisa kau berikan untuk alam, walaupun hanya menancapkan sebatang pohon duku atau durian. “Kamu telah memberikan sesuatu yang tak ternilai bagi kehidupan anak cucumu,” pesan bapak itu masih diingat Umar.
Umar teringat bagaimana tradisi menghargai alam oleh tetuanya itu masih terlihat di kawasan hutan damar di Krui, Lampung Barat. Repong damar tersebut menjadi contoh dunia, bagaimana orang-orang dulu menanam damar, mengambil getahnya untuk kehidupan mereka, tetapi juga memberikan kehidupan bagi alam. Sementara pohonnya berfungsi penyangga air dan penahan longsor. Repong damar mata kucing tersebut merupakan maha karya leluhur yang memberikan sumber kehidupan bagi alam dan anak cucu sampai sekarang ini.
Kebijakan dan kearifan leluhur terhadap alam tinggal kenangan. Saat usia kanak-kanak Umar masih merasakan angin laut setiap hari menampar tubuhnya. Kakinya selalu berendam ke pasir pantai.
Kini suasana sangat berbeda. Perahu kecilnya terpaksa ditambat di dermaga, karena tak ada lagi pantai di sekitar Ujungboom, tempat Umar biasa berlabuh. Umar harus bertahan di atas perahu kecil miliknya dari hantaman gelombang kapal-kapal besar yang melintas, setiap akan menuju bagan ikan tempatnya bekerja. Umar harus sigap menjaga keseimbangan perahunya acap kali berlintasan kapal-kapal besar yang lalu lalang di perairan Teluk Lampung.
Hanya perahu kecil terbuat dari kayu mentru itulah, sisa-sisa kebanggaan dimiliki Umar atas riwayat nelayan masa lampau. Perahu tanpa motor itu dibuatnya sendiri ketika ia ikut kerja dengan Aziz, warga Ujungboom asal Kota Agung.
“Hai, Mar, kemana saja kau. Betah ikut juragan Boni?” sapa Aziz saat disinggahi Umar di tempatnya bekerja.
“Ya..betah Daeng.”
Umar biasa memanggil Aziz dengan ucapan Daeng mengikuti panggilan di keluarga Aziz yang berasal dari Bugis itu.
“Bagaimana usaha Daeng?”
“Sulit, Mar. Tahun kemarin hanya tiga kapal motor jaring bisa kita kerjakan, karena terbentur bahan baku,” kata Aziz sambil mengomandoi anak buahnya menyambung potongan papan di bagian kepala kapal motor pesanan yang tengah dikerjakan.
“Maksud Daeng, bahan baku kayu mentru.” Tanya Umar.
“Ya...kayu mentru, kayu langitan, juga sulit didapat. Kapal ini terpaksa saya buat dengan kayu jati. Tapi tak apalah, meski bobot beratnya bertambah, tetapi daya tahannya sekelas dengan mentru atau langitan,” kata Aziz menunjuk kapal yang dipesan Haji Rasyid, salah seorang pengusaha ikan di kampung itu.
“Tapi harganya apa tak lebih mahal?”
“Tentu saja. Habis bagaimana lagi. Pak Haji Rasyid sudah berupaya ikut mencarikan, tetapi tidak ketemu juga. Semua jalur dari mulai panglong, sawmil, sampai pengusaha pemilik HPH yang ditemuinya, tetap nihil.”
“Sudah coba kontak Pak Alim di Palembang?”
“Sudah, tahun kemarin masih ada kayu langitan sepanjang 10 meter dari Palembang. Tapi harganya justeru lebih mahal dari kayu jati,” jelas Daeng sembari mengepulkan rokok kreteknya.
Beberapa tahun lalu, ketika Umar masih ikut kerja dengan Aziz, bahan baku kayu Mentru dan Langitan untuk membuat kapal motor, masih bisa didapat dari pulau-pulau sekitar perairan Teluk Lampung. Namun sekarang sudah tidak ada lagi. Padahal hanya beberapa tahun saja.
Bahan baku kayu yang digunakan untuk ukuran kapal dengan panjang 12 meter, lebar 2,80 Meter, dan tinggi 1,8 Meter, sekitar dua kubik balok dan empat kubik papan.
Aziz menggeluti usaha membuat kapal motor jaring sejak 12 tahun lalu. Keteram-pilan membuat perahu ini didapat dari orangtuanya di Kota Agung yang juga pembuat perahu. Sejak memulai usahanya dari Kota Agung ke Telukboom, Umar sudah ikut Aziz. Ketika Umar pindah kerja menunggu bagan ikan Boni, usaha Aziz sempat berhenti. Kemudian bangkit lagi dan hingga sekarang mulai ada kemajuan. Saat ini ia dibantu tiga orang pekerja harian. Mereka dibayar setiap akhir pekan.
Dengan tenaga tiga pekerja itu, satu kapal jaring dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Biaya pembuatan satu kapal motor jaring 25 juta rupiah. Dijual ke pemesan 30 juta rupiah. Selain mengerjakan pesanan, kadangkala Aziz membuat lebih dulu kapal tangkap ikan dari modal orang lain dengan sistim bagi hasil.
Matahari mulai merayap sepenggala tingginya. Ketika Umar mau pamit pulang, isteri Aziz mencegatnya. Ia menyodorkan kopi dan gorengan. Umar terpaksa menunda pergi, karena tak enak sama isteri Aziz.

14
Di mata Lina, Boni berhasil memerankan dirinya seperti sang malaikat penolong. Lina sedikit mengejar ke luar rumah untuk melihat lelaki itu sekali lagi. Tapi Boni sudah menghilang di belokan ujung gang.

“Silakan diminum, Om,” sapa Lina.
“Terima kasih,” jawab Boni.
Sore itu, Boni singgah ke rumah Umar. Di rumah hanya ada Lina. Baya mengantar Gofur berobat ke dokter gigi. Sejak dua hari lalu gusi gigi Gofur bengkak, salah satu gerahamnya yang bagian bawah infeksi. Sementara Umar baru satu jam lalu berangkat ke bagan ikan. Setiap purnama ia bekerja lebih awal, karena penghasilan ikan lebih banyak dari hari biasa..
“Lina kelas berapa?” tanya Boni sambil menghidupkan rokoknya.
“Kelas tiga, Om. Dua bulan lagi ujian kelulusan SMA,” sahut Lina berdiri dari tempat duduknya mengambil asbak rokok di meja kecil dekat jendela. Mata Boni spontan menatap tajam lekuk tubuh Lina yang berdiri membelakanginya beberapa saat.
“Wah..kalau lulus nanti, mau kuliah di mana, Lin?” tanya Boni.
“Belum tahu. Tergantung Bapak dan Ibu. Kalau saya, maunya kerja dulu. Biaya kuliah ‘kan mahal,” ujar Lina kembali ke kursinya.
“Kau tidak usah kerja. Kuliah saja. Nanti saya bilang ke Bapak dan Ibu Lina. Saya akan bantu biayanya.”
“Serius, Om?” tanya Lina menatap Boni tak berkedip. Boni mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
“Terima kasih!” jawab Lina girang.
Meski belum punya pilihan jurusan, tetapi Lina sangat berminat kuliah. Ia beranggapan menjadi mahasiswa akan meningkatkan harkat keluarganya. Lina merasa beruntung dengan kehadiran Boni di rumahnya sore itu. Di mata Lina, majikan bapaknya itu, seperti sang malaikat penyelamat.
Boni sendiri paham kegembiraan gadis yang beranjak dewasa itu. Raut muka dan anatomi tubuh Lina mirip Baya. Meski tinggi badannya mengikuti Umar. Sambil menghirup kopi, Boni menatap dalam tubuh gadis cantik yang duduk di kursi kayu panjang itu. Ia teringat lekuk-lekuk tubuh Baya yang terbaring di bale kayu rumahnya. Tubuh gadis yang terbungkus T-Shirt putih ketat itu, membawa imaji Boni kepada teriakan Baya di bale-bale kayu rumahnya.
Lina yang sedari tadi dipandangi Boni, jadi kikuk. Sorot mata seperti itu mengingatkan ia saat pertama kali disentuh Along. Ia lupa kalau lelaki di hadapannya itu sudah seumur bapaknya. Lina membuang arah matanya dari tatapan Boni.
“Kopinya diminum, entar keburu dingin,” tegur Lina memecah kesenjangan.
“Gimana, pulang sekolah besok, Om jemput Lina. Om ingin beli baju buat kamu dan Gofur,” pancing Boni sambil menghirup kopi dan menghembuskan asap rokoknya. Lina tidak sempat berpikir panjang.
“Maksud Om, menjemput Lina di sekolah? Kemudian belanja baju?” tanya Lina untuk memperjelas omongan Boni.
“Ya!” tegas Boni mantap.
“Terserah Lina. Mau ditunggu di depan sekolah. Atau di seberang jalan, kan ada wartel. Lina bisa tunggu di sana,” jelas Boni memantapkan niatnya.
Lina mengerti wartel yang dimaksud Boni, ia biasa menelpon di sana jika minta dijemput Along.
“Wartel Sahabat?”
Boni mengangguk sambil tersenyum.
“Baik, Om. Lina pulang sekolah sekitar pukul satu siang,” jawab Lina memastikan. Kalimat itu persis seperti yang diucapkannya kepada Along.
Setelah menghabiskan kopi dan menyangoni beberapa lembar uang 50 ribu rupiah kepada Lina, Boni pamit pulang. Lina hanya terpaku menatap Boni penuh kekaguman. Apalagi uang yang diterimanya cukup besar dari yang biasa diberikan Boni. Tangan putri buruh nelayan ini gemetar. Lina tak pernah memegang uang sebanyak itu.
Di mata Lina, Boni berhasil memerankan dirinya seperti sang malaikat penolong. Lina sedikit mengejar ke luar rumah untuk melihat lelaki itu sekali lagi. Tapi Boni sudah menghilang di belokan ujung gang.

15
Tidak ada waktu bagi Baya bertahan terlalu lama dalam ketakutan. Ia tidak perlu lagi menengok ke laut dari celah jendela rumah itu. Ia menarik tubuh bajingan itu ke sofa di tengah-tengah beranda ruang keluarga. Menjauhi jendela yang menghadap ke bagan ikan.

Laut terlihat panas dipanggang matahari. Perempuan itu kembali mengintip laut dan Umar dari sela-sela gorden jendela rumah majikannya. Baya mengutuk laut bersama riwayat nenek moyangnya. Ia bingung mengapa tidak mampu berteriak atau meloncat dari jendela yang terbuka itu. Kemudian pergi ke laut menemui suaminya yang berpeluh matahari di atas bagan tancap itu.
Baya tidak tahu mengapa berulang-ulang selalu gagal mengasah keberanian. Bertarung menjinakkan teriakan dan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia seakan hendak mencatat peristiwa demi peristiwa di atas bale-bale jati itu. Lalu mengapresiasikannya kepada Umar, sebagai bentuk penyerahan diri dari pengkhianatannya.
Tetapi perempuan itu tetap saja menjadi lemah. Ketika menghitung kembali antara keringat dan harga dirinya. Antara suara teriakan yang dijinakkan dengan suara deburan ombak menghantam kaki-kaki bagan yang dijaga suaminya itu.
Laut di luar terlihat semakin terbakar. Baya tak sanggup menahan erangan kenikmatan ketika Boni kembali menidurinya di atas bale-bale itu. Laut dan bagan ikan di luar sana semakin kabur diombang-ambing ombak. Baya tidak tahu apakah suaminya masih ada di bagan itu, atau sudah terbang bersama buih kecil yang terbawa angin laut.
Baya sulit menyingkirkan birahinya ketika tubuh mulusnya terguncang-guncang digerakkan lelaki bajingan itu. Baya betul-betul terkuasai. Ia damaikan panasnya matahari dengan menanggalkan baju dan celana kulot yang dikenakannya.
Tidak ada waktu bagi Baya bertahan terlalu lama dalam ketakutan. Ia tidak perlu lagi menengok ke laut dari celah jendela rumah itu. Ia menarik tubuh bajingan itu ke sofa di tengah-tengah beranda ruang keluarga. Menjauhi jendela yang menghadap ke bagan ikan. Di atas sofa berlapis kulit berwarna merah tua, Baya kembali mengerang ketika bajingan itu menjelajahi seluruh permukaan tubuhnya.
Baya menikmati kekerasan demi kekerasan yang mendera tubuhnya. Karena hanya satu yang diinginkannya dari lelaki kekar yang membuatnya gila itu yakni, mencapai puncak kenikmatan. Dan bajingan itu mampu memenuhinya. Bahkan memberikan kenikmatan yang belum pernah didapat dari suaminya. Tanpa kendali kesadaran Baya berbalik menggerayangi tubuh lelaki yang dibencinya itu. Baya menggumuli tubuh lelaki telanjang di atas sofa besar itu. Dadanya mulai mengencang, turun naik mengikuti gerakan mereka. Kedua tangan Baya lalu menarik dan membenamkan kepala lelaki itu tepat di belahan dadanya.
Si bajingan terlihat seperti bayi kehausan. Sampai terdengar jeritan panjang dari mulut Baya, bersama tubuhnya yang berbuncak-buncak lalu mengeras kaku. Puncak kenikmatan isteri buruh nelayan ini cukup panjang. Hingga akhirnya roboh di atas tubuh majikan suaminya itu.
“Aku kembali dikalahkan,” bisik Baya dalam hatinya. Tetapi hari itu ia harus jujur kepada dirinya, bahwa ia mendapatkan kenikmatan lain dari keliaran seks yang ditawarkan Boni.
Sejak ada pekerjaan baru bersama majikannya itu, Baya pulang ke rumahnya lebih siang dari biasa.
“Bangun Pak!” bisik Baya ke telinga majikannya yang terkapar di atas sofa. Boni bangkit dan membersihkan tubuh ke kamar mandi. Baya membereskan bale-bale. Memungut pakaian Boni. Merapikan kembali kursi-kursi sofa yang berantakan. Baya sempat berpikir, ketika melihat sofa kulit yang ditaksir Baya harganya cukup mahal. Sambil mengelapkan kain lembab ke permukaan jok kulit berwarna merah tua itu, Baya merasakan ada kepuasan lain bermain seks di atas sofa. Kepuasan dan kenikmatan yang berbeda ketika ia bermain seks dengan suaminya di kursi kayu rumahnya. “Mungkin karena jok sofanya empuk,” pikir isteri nelayan ini.
Sementara Boni merasa bahagia. Ia seolah dibawa ke sebuah tempat. Menyelesaikan hal-hal yang mengekang kebebasan. Lelaki Bugis itu bahagia karena berhasil memerdekakan dirinya. Tetapi kemerdekaan Boni bukanlah kemerdekaan dalam filosofi masyarakat Bugis, dimana kebahagian hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.
Baya langsung pamit setelah Boni keluar dari kamar mandi. Boni sempat memberikan ciuman ke bibir Baya sebagai isyarat kepuasan. Kemudian meminta Baya menunggunya masuk ke kamar tidur. Lalu keluar dengan memberikan amplop berisi uang. Baya kaget karena tak biasanya Boni memberikan uang dalam amplop.
“Ambilah! Ini agak banyak. Kau bisa tabungkan untuk sekolah Lina dan Gofur. Saya dengar Lina sebentar lagi tamat SMA. Kalian pasti butuh uang banyak untuk meneruskan sekolahnya,” kata Boni.
Baya hanya dapat mengucapkan terima kasih. Ketika hendak pulang, di balik pintu beranda depan rumahnya, Boni kembali mencium Baya, seakan memberikan isyarat bertemu lagi besok. Baya menangkap isyarat itu dengan senyuman sembari membalas ciuman Boni. Ia seolah berharap, besok majikan suaminya itu kembali memperkosanya.

16
Patung perak itu masih terpaku menatap Lastri.
Di wajah angkuh perempuan itu seakan muncul bangunan pabrik
berisi ribuan buruh yang menjadi tawanan industri.

Umar menekan puntung rokok ke asbak porselin di atas nakas samping tempat tidur. Ia kembali menghabisi segelas bir. Ia mememorisasikan minuman beralkohol rendah itu ke masa remaja. Sekuntum mawar dan kapak kecil, samar tapi masih terlihat di lengan kiri dekat ketiaknya. Ia raba gumpalan daging bekas menutup tato itu. Ia teringat putrinya Lina yang melingkarkan tato mawar di lengan kiri. “Masa remaja memang penuh mimpi dan keliaran,” pikirnya sambil menghisap dalam-dalam rokok yang baru dinyalakan.
Setelah menenggak lagi bir, Umar lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Tidak lama ia muncul dengan tubuh basah tertutup handuk. Ia melihat perempuan itu masih terbaring di tempat tidur. Umar sudah berulang-ulang melihat lukisan di hadapannya. Hanya sebuah reproduksi dari peristiwa yang sama. Seperti ia melihat aktifitas kotanya hari itu. Sebetulnya ia menginginkan sesuatu yang baru dari sebelumnya.
Umar mondar-mandir di kamar lantai tiga hotel berbintang itu sambil berpikir apa yang akan dilakukan. Ia mengintip keluar melalui celah gorden jendela kamar tidur, matahari panas-panasnya memanggang kota. Dari atas ia melihat kendaraan dan pejalan kaki hilir mudik di bawah sengatan matahari. Di benak Umar, terlintas pertanyaan yang selalu tak bisa dijawab.
Buruh nelayan itu sulit menjelaskan kehidupan baru bersama Lastri. Tubuhnya berubah dari kedinginan angin laut di bagan ikan, menjadi kedinginan mekanik di kamar hotel. Dari kehangatan matahari di atas perahu, menjadi kehangatan birahi di atas tubuh sang majikan. Ia tak punya keberanian menyikapi hidupnya sendiri.
Umar membangunkan perempuan itu. Ia berdiri tepat di sisi tempat tidur. Tangannya menarik seprei putih yang dijadikan selimut menutupi tubuh Lastri. Umar tersenyum ketika tubuh telanjang itu terjaga dan menoleh kepadanya. Ia paham, sebelum terkulai di tempat tidur, tubuh mulus itu sudah menghabiskan dua gelas minuman ringan impor.
Umar melirik ke buah dada dan benjolan berwarna gelap di tengahnya. Umar sadar anatomi buah dada dan puting yang angkuh itu bukan lahir dari perut keraton atau kaum borjuis Jawa. Tetapi lahir dari persetubuhan kaum proletar Jawa atau rakyat jelata.
Semasa muda Umar banyak mengenali anatomi tubuh perempuan Jawa di sebuah lokalisasi prostitusi di kotanya. Pelukis Cakra, kawan akrabnya, banyak melukis tubuh telanjang perempuan Jawa. Dari cerita Cakra, Umar cukup paham latar sejarah tubuh majikannya itu. Pinggul, pantat, hingga ke bentuk kemaluan Lastri, menunjukkan bahwa perempuan tersebut lahir dari golongan masyarakat biasa, bahkan cenderung jelata.
Umar yang dulunya lahir dari keluarga bangsawan pesisir itu, jadi tersenyum jika melihat kelakuan Lastri melebihi perilaku kaum borjuis Jawa.
Lastri balik membalas senyum Umar. “Kau sudah lama bangun,” sapanya. Sekali lagi Umar membalas senyum. Umar menghendaki kali ini ia yang harus menguasai sang majikan. Lelaki itu sengaja membiarkan handuknya terlepas jatuh ke lantai.
Ia tetap berdiri di sisi tempat tidur menghadap ke perempuan itu. Tatapan Lastri seperti dipaku mati ke tubuh lelaki tanpa sehelai kain penutup yang berdiri angkuh di hadapannya.
Lastri memiringkan tubuhnya yang masih terbaring ke arah Umar. “Ayo!” perintah Lastri. “Ayo! Kemarilah!” tegas Lastri sambil membuka lipatan pahanya. Umar tidak bereaksi. Ia berdiri tegar. Ia bertekad kali ini hatinya tak akan goyah oleh permainan yang dikuasai majikannya. Umar bersepakat dengan pikirannya bahwa perempuan sombong itu harus bertekuk lutut. Tunduk di bawah kekuasaannya.
Mata Lastri memerah melihat lekukan otot tubuh lelaki yang berjarak setangan di hadapannya itu. Ia tahu bahwa tubuh kekar itu adalah tubuh seorang buruh kasar yang menggantungkan hidup anak dan isterinya dari upah yang diberinya.
Lastri tidak habis pikir jika tubuh yang telah berhasil dikuasainya, hari itu melakukan perlawanan. Membantah dan menolak perintah. Lastri beberapa saat terpaku. Imajinasinya berkeliaran. Benaknya berkata, ”permainan apa lagi ini. apakah lelaki goblok ini tidak membutuhkan saya lagi,” bisiknya dalam hati.
Sementara Umar, seperti seonggok patung seni rupa. Sisa butiran air yang masih lekat di tubuh telanjang itu seakan berganti tetesan cat perak yang mengkilapkan pandangan mata. Kucuran cat perak yang membungkus patung tembaga berurat-urat itu, mengubah status fungsional seluruh jasad yang ada di kamar hotel itu. Umar yakin pertarungan antara buruh dengan majikan, akan berakhir dengan kemenangan di pihak buruh.
Patung perak itu masih terpaku menatap Lastri. Di wajah angkuh perempuan itu seakan muncul bangunan pabrik berisi ribuan buruh yang menjadi tawanan industri. Umar membangun realismenya ke pasca kolonial untuk memperkuat pijakan sosialisme buruh ketika berhadapan tubuh mekanik pemilik modal, bertelanjang dan menawarkan kenikmatan di hadapannya.
Lastri tak hilang akal menghadapi lelaki gagah yang mendekonstruksi tubuhnya menjadi patung perak. Lastri paham jika patung kaku itu masih bernyawa. Memiliki nafsu dan kebutuhan seksual. Lastri mencoba mendamaikan kegusaran terhadap Umar.
“Aku tahu, kamu pasti punya masalah. Mungkin Baya butuh uang untuk membayar listrik atau uang sekolah kedua anak kalian,” pancing Lastri. “Atau mungkin, Aku, aku, terlalu kasar kepadamu,” pancingnya lagi.
Patung perak tetap berdiri angkuh tak bergeming. Umar yakin Lastri betul-betul takluk dengan kesombongan yang ditampilkannya. Ia ingin seisi kamar mendengar suara seorang perempuan sombong menghiba-hiba, mengharap belas kenikmatan dari seorang buruh kasar. Suara itu adalah suara Lastri, sang majikan.
“Maafkan aku, Mar.” Lastri mencoba memainkan kesedihannya sambil beringsut mendekati tubuh patung yang begitu membangkitkan birahinya. Lastri mencoba mengatur nafas untuk dua peran yang mulai dimainkannya. Ia merapatkan jarak ke tubuh Umar. Ia mencoba membangun imajinasi seks dengan suasana lain. Lastri mulai menangis.
“Maaf, Mar. Aku telah membebankan kesedihan. Aku tidak punya sahabat. Hanya kamu yang bisa mengerti dan mengobati luka ini,” ungkapnya sambil terisak-isak. Lastri mulai menyentuh patung perak itu. Tangannya menelusuri lekukan otot-otot tubuh patung yang gagah itu. Merayap melintasi jalan berkelok. Kadang menanjak. Kadang menurun. Wajah Lastri tepat berada di ujung persimpangan dua tonggak penyangga tubuh patung perak yang tetap membatu.
Umar menguatkan hatinya. Ia membuang tatapan ke langit-langit kamar hotel. Umar melihat ada gumpalan awan berjalan dan berputar-putar. Patung itu bergetar menahan keliaran Lastri di tubuhnya. Umar mengatur nafas. Gumpalan awan mulai menebal di kamar itu. Gerimis jatuh meneteskan cat berwarna perak mengkilap ke tubuh patung yang mulai bergetar.
Butiran keringat mengguyuri sekujur tubuh patung yang gemetar. Lastri semakin yakin dengan keliarannya. Sebentar lagi buruh nelayan itu kembali dalam kekuasaannya. Umar berusaha menggeser posisi tubuh dari sisi tempat tidur untuk menjauhi keliaran Lastri. Tetapi kedua tangan Lastri lebih sigap mencengkram. Menarik kembali kedua paha patung perak itu ke hadapannya. Umar tak mampu menjinakkan kelelakiannya yang timbul tenggelam dalam gumaman birahi sang majikan.
Beberapa saat setelah itu, patung perak itu mengejang seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Ribuan buruh kembali ditaklukkan. Patung perak lalu mencair menjadi air mata hujan menguyuri jutaan buruh-buruh lain di penjuru dunia.
Beberapa saat kamar hotel berbintang tiga itu sepi membatu. Seperti tak pernah ada keributan atau pergolakan kelas. Umar kembali dikuasai Lastri. Ia tak sanggup lagi membedakan kelas majikan dan buruh ketika segala kebutuhannya diborjuasi kenikmatan biologis dari sang majikan.
Umar malu kepada dirinya, hasrat dan nafsu seorang buruh ternyata lebih rakus dari sang majikan. Umar berulang-ulang melahap tubuh majikannya. Sementara Lastri, tersenyum penuh kemenangan. Di atas tubuh kekar buruh nelayan itu, Lastri mengerang, seakan berseru sinis; “mampuslah buruh-buruh sedunia!”

17
“Itu tidak benar! Kami tidak pernah membiarkan pegawai kami berbisnis narkoba di dalam penjara. Dan saat oknum pegawai kami, Manuntung, digeledah polisi, narkoba itu tidak ditemukan dalam kamar sel atau lingkungan kami.”
“Dor!”
Baya tersentak bangun dari seharian tidur. Warga Rajabasa heboh. Manuntung pegawai penjara itu roboh. Sebutir peluru bersarang di kaki kirinya. Beberapa saat setelah itu pistol polisi kembali menyalak. Tubuh Sapuar alias Woro, narapidana kasus narkoba yang menjalani hukuman lima tahun penjara itu, tersungkur ke tanah. Sebutir lagi peluru si “jago” tembak menembus kaki kanannya.
Manuntung sehari-hari pegawai bagian aministrasi penjara Rajabasa itu, ditangkap tim Satuan Narkoba Polda Lampung, siang itu. Kawan se kantornya, tidak menyangka pegawai yang murah senyum itu, terlibat jaringan peredaran pil Ekstasi, Sabu-Sabu, dan Putau. Menurut penyidik, barang haram itu diedarkan ke para tahanan di lingkungan Rajabasa. Sisanya dijual ke luar penjara, melalui dua orang, Jery, residivis kasus narkoba, dan kurirnya Bonga.
Jery dan Bonga, juga dibekuk dengan tembakan polisi ke kaki keduanya. Dari empat orang sindikat narkoba ini, polisi menyita 84 butir Ekstasi, 15 Gram bubuk Sabu-Sabu, dan enam paket Putau.
Manuntung mengaku kepada penyidik bahwa barang tersebut didapatnya dari Woro, narapidana yang masih menjalani masa hukuman di Rajabasa. Polisi lalu menjemput Woro dari kamar sel tahanan Rajabasa. Woro setengah sadar mengaku, setelah kakinya ditembus peluru.
“Kami berhasil mengungkap jaringan peredaran narkoba ini, setelah anggota kami melakukan penyamaran jadi pembeli. Dari oknum Lapas itu kami menyita 10 butir Ekstasi,” kata Aguspati, Kasat Narkoba berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi itu. Para wartawan bergerombol di depan keempat tersangka yang sedang diobati luka tembaknya oleh petugas medis UGD, Rumah Sakit Umum Abdul Muluk, Bandar Lampung.
“Mereka ditembak karena berusaha kabur, ketika dibawa ke Mapolda,” kilah perwira polisi itu.
“Apa masih ada oknum Lapas lainnya yang terlibat, Pak?” tanya wartawan.
“Kita tunggu saja hasil pengembangan penyidikan,” jawab sang perwira polisi itu sembari menuju ke mobilnya.
Mendengar kejadian itu, desas-desus adanya obat-obatan terlarang seperti ekstasi, putaw, dan shabu-shabu, beredar di kalangan tahanan Rajabasa mulai terjawab. Baya tidak tahu bagaimana caranya barang itu bisa masuk ke penjara yang dijaga ketat dengan prosedur berlapis-lapis. Artinya, tidak mungkin barang kiriman dari luar itu masuk kalau tidak ada kerjasama dengan oknum petugas Rajabasa. Dan polisi telah membuktikan hal itu.
Beberapa penghuni kamar sel, sebetulnya sudah tahu kalau narkoba beredar dan dikonsumsi sejumlah penghuni penjara Rajabasa. Baya kadangkala mendengar suara tahanan berteriak, menjerit-jerit di kamar sel Blok laki-laki. “Ada apa dengan napi itu?” tanya Baya ke petugas penjara. “Biasa. Sakau!,” jawabnya. Semula Baya tidak tahu apa itu sakau. Tetapi setelah dijelaskan oleh salah seorang kawan satu selnya, ia mengerti. Bahwa jeritan itu adalah jeritan orang-orang yang kecanduan narkotika atau psikotropika.
Dari peristiwa Manuntung, Baya menyimpulkan bahwa “sakau” adalah ketergantungan seseorang untuk terus-menerus mengonsumsi obat-obat terlarang. Kondisi itu dimanfaatkan oknum petugas penjara dan napi mengambil keuntungan berbisnis narkoba dalam lingkungan penjara.
“Bukan rahasia, jika ada narapidanai dari dalam sel mampu mengendalikan bisnis narkoba di luar penjara,” pancing seorang wartawan di kantor polisi.
“Kasus ini telah menjawabnya,” sahut perwira polisi senyum tipis.
“Ya! Tapi apa cuma Manuntung, Pak! Ia ‘kan pegawai administrasi yang tidak punya kontak langsung dengan napi,” tanya wartawan lainnya.
“Maksud Anda?”
“Saya curiga, ada orang penting di penjara itu membeking bisnis narkoba ini.”
“Pa..pa..paling tidak…ke..ke..kepala blok ta..tahu, Pak!” potong seorang wartawan lain bersemangat.
“Atau KPLP-nya, selaku orang kedua di bawah Kalapas,” ujar seorang wartawati dari televisi.
“Itu baru asumsi dan dugaan-dugaan. Petugas kami masih mengembangkan kasusnya?” jawab perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar itu.
“Untuk mengendalikan bisnis narkoba dari penjara, kuncinya adalah komunikasi. Artinya ada sarana komunikasi yang dapat diakses atau digunakan oleh narapidana itu. Setidaknya, melalui handphone di kamar tahanannya. Supaya setiap waktu ia bisa berkomunikasi dengan banyak orang, baik di dalam maupun di luar sel,” kata seorang wartawan berkaca mata tebal mencoba menggiring jawaban sang perwira polisi.
“Gila..! Hebat juga tuh analisa dia,” bisik seorang wartawati perempuan senyam senyum kepada rekannya yang lagi bengong duduk di sebelahnya.
“Nah itu! Semakin kuat dugaan ada orang penting di balik transaksi dan peredaran narkoba di sana,” kata wartawati berkaos oblong itu, bersemangat memotong kalimat si kacamata tebal.
Wartawan berkacamata tebal itu terganggu karena kalimatnya dipotong. Ia tidak meneruskan pertanyaannya.
“Hei..Ros! ja..ja...ngan dipotong dulu. Ia belum selesai bi..bi..bicara!”
“Maaf ya. Silahkan diteruskan!”
Lelaki berkacamata tebal hanya diam. Mukanya terlihat kesal. Ia sudah tak bernafsu meneruskan pertanyaannya.
“Akh, sudahlah! Jangan terlalu banyak analisa. Apa lagi berspekulasi menuduh tanpa bukti. Yang jelas petugas kami akan bekerja keras mengungkap kasus ini. Dari pemasok besarnya, sistim jaringan peredarannya, serta siapa-siapa yang terlibat. Jadi saya harap kawan-kawan wartawan bersabar,” jawab perwira polisi didampingi dua orang stafnya.
Kejadian di penjara Rajabasa, bisa saja terjadi di penjara-penjara lain. Karena berkaitan perilaku individual seseorang bukan kelembagaan. Pemberitaan media massa pun tergantung cara pandang wartawannya melihat fakta, dan menuliskannya. Seperti wartawan berkacamata tebal itu, ia melihat lebih dalam, bukan karena bekerja di media mingguan saja. Tetapi memang cara pandangnya sudah terbentuk. Sehingga ketika melihat suatu peristiwa, tidak hanya permukaannya saja. Tetapi lebih cenderung melihat sesuatu di balik peristiwa itu sendiri.
Sehari setelah penangkapan keempat sindikat narkoba itu, pihak Rajabasa, melalui media massa koran dan televisi, membantah tuduhan polisi tentang adanya peredaran Narkoba di lingkungan penjara Rajabasa.
Pelaksana Harian Kalapas Rajabasa, Syaiful Ikzal berkata, “Itu tidak benar! Kami tidak pernah membiarkan pegawai kami berbisnis narkoba di dalam penjara. Dan saat oknum pegawai kami, Manuntung, digeledah polisi, narkoba itu tidak ditemukan dalam kamar sel atau lingkungan kami.”
“Kami selalu rutin melakukan sweeping dari blok ke blok tahanan. Setiap kamar sel diperiksa. Apa yang kami lakukan itu, adalah komitmen kami terhadap pemberantasan Narkoba,” katanya sedikit emosional atas pemberitaan media massa hari itu. Ia justru mempertanyakan prosedur penangkapan yang dilakukan aparat Polda Lampung ke dalam lingkungan Rajabasa.
“Lantas, sanksi apa untuk Manuntung?” tanya wartawan.
“Dipecat! Jika terbukti salah!” tegas Syaiful berapi-api.
Banyak romantika terjadi di sejumlah penjara di Lampung. Kasus narkoba yang melibatkan pegawai penjara Rajabasa tidak berhenti di situ. Beberapa waktu kemudian, Supro, sipir penjara Rajabasa, ditembak Tim Narkoba Polda Lampung. Ia dibekuk di luar penjara, ketika mengedarkan Sabu-Sabu dan Ekstasi, bersama dua rekannya. Dari mereka polisi menyita 43 gram sabu-sabu dan 400 butir ekstasi.
Di penjara Krui, Lampung Barat misalnya, Sugeng, kepala penjara yang pernah bertugas di sana, dipenjara karena meminjamkan senjata api dan mobil dinas tahanan kepada narapidana untuk merampok sapi. Kasus ini terungkap ke media massa setelah perampok-perampok itu tertangkap polisi.
Masalah lain di rumah tahanan atau penjara di Lampung, adalah buruknya sarana kesehatan. Setiap tahun antara 20 hingga 25 orang napi atau tahanan meninggal dunia karena terserang berbagai penyakit. Tetapi tidak sempat tercium pers. Begitu pun kelayakan fasilitas lainnya seperti, kamar sel, daya tampung, gaji pegawai, dan lain-lainnya sangat pas-pasan.
“Adalah wajar bila masih terjadi upeti besuk, korupsi, atau hal buruk lainnya di penjara,” kata salah seorang staf penjara Rajabasa kepada wartawan.

18
Para pemilik udang di Labuhan Maringgai, Lampung Timur, biasanya tidak menerima pembayaran di tempat. Tetapi melalui bank. Kadang kala dalam bentuk cek atau bilyet giro. Pemilik tambak enggan menerima uang kontan karena takut rumahnya didatangi perampok.

Suasana kota cukup cerah. Umar menemani Lastri ke Tanjungkarang. Mereka mampir ke Bank Danamon Telukbetung. Karena urusannya tidak lama, Umar menunggu di dalam mobil majikannya yang diparkir di halaman bank.
Agenda Lastri hari itu antara lain, memesan kapur dan pakan udang dengan Pak Cengkang, kemudian memeriksa dua unit mesin diesel tambak udangnya di Lempasing, yang sedang diperbaiki di Toko Sentosa, Tanjungkarang. Agenda lainnya, mengurus pembayaran pembelian udang milik Ibu Tuti, petambak kaya Labuhan Maringgai. Para pemilik udang di Labuhan Maringgai, Lampung Timur, biasanya tidak menerima pembayaran di tempat. Tetapi melalui bank. Kadangkala dalam bentuk cek atau bilyet giro. Pemilik tambak enggan menerima uang kontan karena takut rumahnya didatangi rampok. Daerah Lampung Timur selain rawan pembegalan sepeda motor, juga perampokan.
Tidak begitu lama Umar menunggu, Lastri terlihat keluar dari bank menuju ke parkiran. Kemudian mobil sedan putih itu meluncur ke arah kota melalui Jalan Patimura. Sembari menyetir Lastri bersenandung kecil. Raut mukanya terlihat segar. Tangan kirinya memilih beberapa kaset di kotak dasboard mobil. Lalu memasukkan kasetnya ke head unit audio mobilnya. Pelan terdengar musik instrumen pop bersih dan jernih.
Sambil mengikuti lagu instrumen dari head unit itu, sesekali Lastri menoleh ke Umar. Ia tersenyum ceria. Umar menangkap ada kelegaan dan optimistis memancar dari wajah majikannya itu. Umar berpraduka, Lastri sudah sanggup menyelesaikan masalahnya dengan Boni. Paling tidak, ada jalan keluar dari persoalan pelik antara ia dengan suaminya.
Dari bundaran kota Tugu Gajah mobil mereka berbelok ke Jalan Ahmad Yani, lalu lurus ke jalur satu arah Jalan Kartini menuju Jaka Utama, Tanjungkarang Pusat.
“Selesai urusan nanti, kau tak keberatan menemaniku belanja ke Artomoro?” sapa Lastri. Umar mengangguk.
“Pulang belanja, kita makan siang di tempat biasa,” lanjut Lastri. Umar kembali mengangguk.
“Habis makan siang, kita kemana lagi, Mar?” pancing Lastri senyam-senyum.
“Terserah Mbak,” jawab Umar.
“Kok, terserah aku?” pancing Lastri lagi.
“Saya menurut saja. Yang penting Mbak bisa senang dan tidak bersedih lagi,” jawab Umar.
“Ah, yang benar,” goda Lastri sedikit genit.
“Ya. Mbak,” lirik Umar meyakinkan majikannya.
“Kau lihat tampangku. Apakah sedih? Apa enggak sebaliknya. Justeru kamu yang harus dihibur,” kata Lastri diikuti tangan kirinya mencolek hidung Umar.
“Kangen enggak sih?” goda Lastri lagi. Umar hanya tersenyum. Keduanya seperti remaja yang baru mendapat kebebasan. Mereka bernyanyi-nyanyi mengisi syair lagu dari instrumen musik yang terus mengalun. Mobil bercat putih itu lalu tenggelam dalam keramaian kota.

19
Pagar dari andang-andang sengaja dilobangi untuk keluar masuknya udara. Kendati hanya sepetak kecil, rumah Umar masih menyisakan karakter rumah tradisional Lampung.

Minggu pagi. Baya mengajak Lina dan Gofur berlanja ke Tanjungkarang. Baya ingin membelikan tas sekolah dan peralatan menggambar Gofur. Lina juga minta dibelikan sepatu. Kemarin sore Umar memberi uang lebih, di luar gaji mingguan kepada Baya.
“Uang bonus ikan, Bu,” jelas Umar.
“Gofur sudah merengek-rengek minta dibelikan tas baru. Tasnya sudah sobek.”
“Ya,” sahut Umar.
“Lina juga minta dibelikan sepatu. Ia tak punya sepatu untuk pergi-pergi ke acara temannya.”
Sepeninggal Baya dan kedua anaknya, Boni dan Lastri, datang ke rumah Umar. Lastri terlihat segar dan ceria. Begitu juga Boni. Umar sedikit kaget atas kedatangan kedua majikannya itu.
“Eh, Pak Boni. Bu Lastri,” sambut Umar sembari mempersilahkan masuk.
“Tak usah repot. Saya hanya mengantar Lastri. Ia mau mengajak anakmu belanja ke pasar,” jawab Boni masih berdiri di depan pintu rumah Umar.
“Oya. Baya ke mana, Mar?” tanya Lastri sedikit gugup menoleh ke Umar.
“Eh, maaf, Mbak. Barusan saja pergi dengan anak-anak. Katanya mau belanja ke Tanjungkarang,” jawab Umar yang berusaha menampakkan kewajaran di hadapan Boni.
“Ya, sudah. Kami terus saja, Mar,” potong Boni sembari mengajak Lastri pergi.
“Sampaikan salamku untuk Baya dan anak-anakmu,” serga Lastri sambil memberi beberapa lembar uang 50 ribu rupiah yang dilipat kecil ke tangan Umar.
“Untuk…anak-anakmu,” tambah Lastri sedikit terbatah.
“Terima kasih Mbak.”
Umar memandangi kedua majikan itu berjalan menyusuri jalan papan menuju mobilnya yang di parkir di ujung gang. Melihat kemesraan keduanya, Umar seperti tidak percaya jika mereka menyimpan masalah besar. Umar tidak berkedip memandang tubuh Lastri hingga hilang di ujung gang. Ia seakan menghapal kembali satu demi satu penadaan di balik tubuh yang dibalut ketat T-Shirt dan celana jeans itu.
Umar meneruskan menjemur jaring ikan dengan sebatang bambu di depan rumahnya. Beberapa perempuan tetangganya terlihat berkumpul sambil menganyam kembali tali-tali jaring ikan yang rusak. Sementara yang lain merendam ikan yang hendak diasini ke dalam drum pendek yang sudah dipotong. Para isteri buruh nelayan ini sudah empat hari ditinggal suaminya melaut.
“Ora ke bagan, Mar?” tegur Ngadi tetangga yang juga bekerja dengan Boni di kios es balok dermaga Ujungboom. Umar menoleh ke arah suara itu.
“Ah, kau Di. Saya kerja malam,” jawab Umar.
“Wislah, Aku ke kios dulu, Mar. Nuwun...” sapa Ngadi sambil mengalungkan handuk kecilnya ke leher.
Umar kenal Ngadi sebelum ikut kerja dengan Boni. Duda ini, dulunya kuli panggul ikan di Gudang Lelang. Ia cepat akrab dengan Ngadi karena anak Cirebon, Jawa Tengah itu, dikenal sangat disiplin dengan waktu kerja. Ngadi juga dikenal sosial dan suka membantu kawan sesama buruh. Ia kadangkala tidak sayang meminjamkan separuh upah hariannya kepada sesama buruh yang ditimpa musibah atau kesulitan uang.
Orang-orang di Gudang Lelang yang tahu kisah keluarga Ngadi banyak bersimpati dengan duda ini. Ngadi ditinggal mendiang isterinya, Darsih, yang tewas membakar dirinya bersama kedua anak mereka yang sedang sakit. Darsih mengakhiri hidup bersama kedua anak yang dicintainya. Ia tidak sanggup melihat penderitaan anak sulungnya terserang tumor ganas di bagian kepala. Ia juga tidak sanggup melihat Ngadi, kuli angkut pelabuhan itu, kehabisan akal membiayai berobat anaknya.
Dari beranda depan, Umar masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi dengan membawa cangkir kopi dan rokok. Ia letakkan cangkir kopi di atas bangku kayu, beranda depan yang dipagar andang-andang setinggi pinggang.
Pagar teras atau tepas kayu yang ditata pola gambar organik yang diulang-ulang ini, menunjukkan ornamen khas Lampung. Ada bermotif binatang, tumbuhan, orang, bahkan ada yang tidak punya makna hanya sekedar ornamen saja. Pagar dari andang-andang ini sengaja dilobangi untuk keluar masuknya udara. Kendati hanya sepetak kecil, rumah Umar masih menyisakan karakter rumah tradisional Lampung.
Sambil menghidupkan rokok, Umar membereskan kaleng benang layang-layang Gofur yang terlihat berantakan di lantai papan beranda rumahnya. Ia gantungkan dua buah layang-layang ke paku yang menancap di tiang kayu penyangga teras seng rumahnya. Begitu juga bekas kaleng susu yang digunakan Gofur untuk menggulung benang layangannya.
Di pojok beranda terlihat beberapa lembar kertas gambar milik Gofur berserakan di lantai. Umar memunguti satu-satu kertas bergambar perahu itu. Ada perahu besar ada perahu kecil. Umar memandangi salah satu perahu yang mirip dengan perahu miliknya. Di sebelah kiri perahu ada orang sedang berdiri. Umar tersenyum melihat gambar lucu itu. Ia tidak menyangka jika Gofur diam-diam memperhatikan apa yang dikerjakannya sehari-hari. Tetapi di balik senyumannya, kening Umar sempat mengerenyut. Entah apa yang melintas di benaknya. Ia tatap seksama gambar perahu berwarna-warni itu. Asap rokoknya mengepul ke udara.


20
Dari pengeras suara terdengar teriakan parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Mereka menembak Rizal! Jangan mundur! Lawan! Maju… maju!” Mahasiswa kembali keluar dari kampus UBL. Mereka tumpah ruah ke jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.

“Hidup rakyat…!”
“Tolak RUU Hankam Negara! Tolak Militerisme!”
Ratusan mahasiswa bermuka marah itu, menyerbu Markas Koramil Kedaton, berjarak sekitar 100 meter, berseberangan Jalan raya di depan Universitas Bandar Lampung.
Bendera merah putih yang sejak pagi berkibar di halaman Koramil, diturunkan paksa oleh mahasiswa.
Anak-anak muda pemberani itu merangsek masuk ke dalam kantor Koramil. Mereka dorong-dorongan dengan beberapa anggota tentara. Terdengar kaca jendela runtuh. Salah seorang di antara pengunjuk rasa naik dan berdiri di atas satu pilar pagar tembok Koramil. Dengan corong pengeras suara, lelaki ceking itu mengomandoi rekan-rekannya untuk terus masuk dan menduduki kantor yang dijaga beberapa personel bersenjata.
Melihat aksi mahasiswa yang mulai kalap, para anggota koramil mundur ke belakang kantornya. Tidak beberapa lama setelah itu, dari belakang kantor itu terdengar rentetan tembakan berkali-kali ke arah kerumunan mahasiswa.
Barisan aksi mahasiswa panik. Mereka perlahan mundur dari Koramil. Suara tembakan terus menyalak. Ratusan mahasiswa kocar-kacir ke seberang jalan. Sebagian besar lari masuk ke kampus UBL, Universitas Bandar Lampung.
“Hentikan tembakan! Stop! Jangan menembak! Jangan menembak!” pekikan itu muncul dari pengeras suara lelaki ceking yang masih berdiri di atas pagar tembok Koramil. Ia masih bertahan di atas pagar, di antara desingan peluru. Mahasiswa pemberani itu bernama Chairul. Ia terus berteriak-teriak meminta sejumlah personel TNI bersenjata di belakang kantor Koramil menghentikan tembakan.
Namun teriakan “Chai” panggilan akrab Chairul itu, justeru semakin mengobarkan kemarahan personel TNI. Mereka terus menembak. Semakin kalap dan membabibuta. Seorang mahasiswa bernama Rizal yang menghindar ke seberang jalan, tiba-tiba jatuh tersungkur di trotoar jalan. Dari dadanya terlihat darah membasahi kemeja putihnya. Sementara suara letusan senjata masih terdengar.
Begitu mengetahui ada seorang mahasiswa tertembak. Para demonstran mulai terbakar kemarahannya. Mereka kembali maju. Melemparkan batu-batu ke arah kantor Koramil dan kerumunan polisi. Markas Koramil rusak parah. Pagar depan roboh, kaca-kaca jendela pecah.
Di tengah kegaduhan terus memuncak, sebagian mahasiswa langsung membawa Rizal ke Rumah Sakit Umum Abdul Muluk. Namun ketika tiba di ruang Unit Gawat Darurat rumah sakit pemerintah itu, Rizal sudah tidak bernafas lagi. Hasil visum, korban tewas setelah peluru menembus dada kanannya. Mahasiswa semester tiga ini menghembuskan nafas terakhir di atas mobil yang membawanya ke rumah sakit.
Reaksi kematian Rizal, mengundang solidaritas mahasiswa lain dari berbagai kampus PTS dan PTN di Bandar Lampung. Termasuk aktivis LSM yang sebelumnya setengah hati mendukung aksi mahasiswa ini. Lalu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu, beramai-ramai maju kembali untuk menguasai kantor Koramil. Salah seorang mahasiswa bernama Muzam dan beberapa kawan-kawannya terus mengobarkan semangat mahasiswa.
Dari pengeras suara terdengar teriakannya yang mulai parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Satu rekan kita mati…! Satu rekan kita telah meninggalkan kita! Mereka menembaknya! Mereka menembak Rizal! Kita jangan mundur! Lawan! Maju…terus maju!” Mahasiswa kembali keluar dari halaman kampus UBL. Mereka tumpah ruah memadati jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.
Ratusan aparat kepolisian dan tentara melakukan blokade memotong jalan besar itu. Mereka dihujani lemparan batu dan bom Molotov oleh mahasiswa. Tetapi karena posisi aparat agak berjarak dengan kerumunan mahasiswa, lemparan batu dan botol botol hanya sampai beberapa meter di muka petugas keamanan.
Jalan raya lokasi aksi itu sudah diblokir. Hanya terlihat mahasiswa, aparat keamanan, wartawan, dan beberapa orang warga masyarakat yang menonton. Badan dan bahu jalan hingga trotoar, diseraki batu-batu dan kayu yang dijadikan senjata mahasiswa melempari pasukan polisi dan tentara.
Beberapa saat setelah aksi lempar itu, unit pengendalian massa atau Dalmas dari gabungan Poltabes dan Polda Lampung, bergerak mundur beberapa langkah untuk memancing maju kerumunan mahasiswa itu. Sementara lapisan kedua di belakang, terlihat pasukan TNI bersiaga dengan senjata api laras panjang, tameng dan pemukul dari rotan. Pasukan Dalmas lalu bergerak maju bersama sejumlah personel intel dan reserse baik dari tentara maupun polisi. Lalu terdengar beberapa kali suara tembakan.
Konsentrasi mahasiswa pecah. Ada yang bertahan ada yang berlari ke dalam kampus UBL. Aparat keamanan terus maju. Beberapa orang polisi dan tentara berpakaian preman menyebar mengepung kampus, sambil mengacungkan pistolnya. Sebagian lagi masuk mengejar mahasiswa sampai ke dalam kampus. Lalu diikuti puluhan Dalmas lainnya.
Seperti dikomandoi, dengan penuh emosi, personel keamanan dan beberapa anggota intel dan reserse beraksi brutal di dalam kampus itu. Mereka mengobrak-abrik apa yang terlihat mereka, merusak mobil dan motor dosen dan karyawan UBL di halaman parkir. Menghancurkan kaca-kaca jendela serta sarana fisik lainnya milik kampus swasta itu.
Setiap menemukan mahasiswa mereka keroyok dan digebuki beramai-ramai. Suara kesakitan dan teriakan panik terdengar di sana sini. Darah muncrat dari kepala beberapa orang mahasiswa. Mereka diseret masuk ke dalam sebuah mobil yang sepertinya sudah disiapkan lebih dulu. Tidak ada yang tahu mau dibawa ke mana mahasiswa yang dimasukkan ke mobil itu
Sebuah keputusan represif. Ketika ketegangan tidak mampu lagi diselesaikan lewat akal sehat, etika, dan kebersahajaan. Semua perangkat komunikasi seketika mati. Yang muncul suara keberingasan. Merobek bahasa santun sehari-hari mereka.
Pasukan polisi kian terseret emosinya. Menjadi gelap mata, liar dan brutal. Siapa pun mahasiswa yang mereka temukan di kampus itu, entah ikut aksi atau tidak, langsung digebuki. Suara histeris dan teriakan minta tolong bersahutan bersama suara hantaman benda keras. Sesekali dibarengi suara tembakan.
Dengan ekspresi penuh kebencian, para personel keamanan terus menjelajahi kampus sampai ke ruang rektor dan dosen. Mereka tak lagi menggubris otoritas kampus. Mengamuk dan merusak berbagai sarana yang ada. Para dosen dan rektor hanya terpaku penuh ketakutan. Mereka tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kebrutalan aparat keamanan itu.
Sementara di seberang jalan, terlihat beberapa orang pejabat kepolisian antara lain Kapoltabes Bandar Lampung, juga beberapa pejabat dari Korem dan Polda. Mereka mengawasi dari jauh perilaku anggotanya. Mereka seakan tidak tahu apa yang terjadi di dalam kampus itu.
Beberapa kali terdengar dialog melalui telpon genggam antara Rektor UBL dengan Kapoltabes berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi itu. “Ingat, Pak! Kami masuk ke kampus Anda bukan mencari mahasiswa Anda! tetapi mencari provokator aksi unjuk rasa ini! anak-anak PRD! Mereka berlindung di kampus Anda!” tegas Kapoltabes berkulit agak hitam itu.
“Ampun..ampun Pak! Jangan pukul kami! Jangan tembak kami!” teriak mahasiswa yang jatuh didorong petugas berbaju preman ke dalam parit besar di depan kampus.
“Iya..Pak! kami tidak ikut aksi, Pak!” jawab beberapa mahasiswa yang lebih dulu berlindung di dalam parit itu. Meski tidak digebuki, tapi tak urung tendangan kaki petugas yang dikenal anggota intel itu, menghantam kepala mahasiswa.
Seorang mahasiswi fotografer majalah kampus, Fitri, mengalami kritis di Rumah Sakit Advent, Kedaton. Bagian belakang kepalanya pecah dihantam popor senjata. Padahal sebelumnya, Fitri sempat berteriak: saya pers pak! sembari menunjukkan identitasnya. Namun orang-orang itu sudah gelap mata. Mahasiswi malang ini akhirnya meninggal dunia.
Siang itu, 28 September 1999, pemandangan di kampus UBL betul-betul menakutkan. Lingkungan pendidikan itu berubah menjadi lapangan pembantaian.
Peristiwa kekerasan bersenjata oleh polisi dan tentara itu, terjadi masa Presiden Abdurrahman Wahid, hanya berselang satu tahun sejak tumbangnya rezim militer Soeharto oleh gerakan reformasi mahasiswa Indonesia.
Lina hanya menonton saja repertoar tragedi itu, melalui “peformance art” yang digelar ratusan mahasiswa untuk memperingati “Peristiwa UBL Berdarah”, di depan Markas Korem 043 Garuda Hitam dan Poltabes Bandar Lampung. Lina merasakan ada yang lain bergolak dalam tubuhnya. Dengan jaket almamater yang baru didapat dari kampus, Lina mencoba mengekspresikan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa. Sepotong poster yang digenggam erat kedua tangannya, terasa menambah bobot tubuhnya. Lina merasa mengusung batu besar, butuh energi besar untuk menghimpun tenaga dan keberanian.
Sambil berteriak dan menyanyi Lina bersama ratusan mahasiswa menyusuri jalan menuju bundaran Tugu Gajah atau Tugu Adipura. Sesekali ia menutupkan telapak tangan kirinya untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari siang itu.
Sebelum meninggalkan Korem, Lina sempat melihat orang-orang berpakaian loreng dengan senjata laras panjang di tangan. Mereka berdiri tegap di pintu masuk markas tentara yang telah dihadang portal plang besi dan pagar kawat. Di depannya pengunjuk rasa terus mendesak masuk ke halaman militer itu.
Lina berdiri di barisan depan. Ia sempat membuang muka ketika salah seorang berkumis lebat dalam barisan blokade berseragam loreng itu, menatap tajam ke arahnya. Untuk membunuh takutnya, cepat-cepat ia dongakkan wajah ke awan. Namun gumpalan awan terlihat lebih menakutkan. Warnanya bergradasi kekerasan. Lina menunduk mengalihkan tatapan ke perutnya yang tipis. Namun ujung-ujung kumis lebat itu terasa menempel dan menusuk-nusuk.
Lina sulit menjelaskan apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan. Sama ketika Leman, senior kampusnya, mengapresiasikan kaum fundamentalis beralih kepada komunis. Lina melihat fenomena kumis lebat yang menempel ke perutnya itu, adalah fenomena natural para pemuda atau mahasiswa sebuah negara untuk menjadi komunis, ketika beratus tahun hidup di bawah aturan imperialisme barat.
Senior yang juga asisten dosen kampus Lina itu, menjelaskan pula kegelisahan kaum kapitalis terhadap demokrasi yang dilahirkannya sendiri. Lebih buruk lagi ketika demokrasi itu sudah tidak lagi populer pada abad-abad berikutnya. “Isu globalisme, futurologi “Pasar Kesembilannya” Attali, pelan-pelan akan mempereteli ideologi politik dan ekonomi abad sebelumnya. Menjadi abad tertinggal,” tegas Leman bersemangat.
Lina tak sanggup mencerna maksudnya Leman bahwa demokrasi yang memang lahir dari perut kaum kapitalis, atau pun komunis dari kekuasaan totaliter, hanya menyisakan remah-remah ideologi purba. Ia seperti kereta trans nasional yang terseok-seok membawa manusia penuh kebanggaan atas perjuangan dan kebesaran masa lalu, katanya.
“Sangat menakutkan,” tukas Leman.
Ketika Agama menghendaki kekuasaan sejati berdasarkan simbol-simbol Tuhan, lanjut Leman. “Marx dan Lenin menawarkan apa yang tidak ditawarkan ideologi lainnya yakni, kehendak untuk berkuasa. Lebih buruk lagi seperti gerakan Apartheid di Afrika Selatan, di mana Kristen dan ajaran Kristus, menjadi alat pembenaran untuk kehendak berkuasa!” jelas Leman.
Cukup berat bagi Lina untuk memahami setiap kalimat dari para seniornya. Namun, ia berusaha keras menemukan satu garis linear dari gerakan progresif kawan-kawan mahasiswa. Seperti seorang nasionalis. Ia membaca kembali Indonesia dan sejarahnya. Membaca kembali asal-usul kebangsaan. Membaca kembali kitab leluhur. Ia merasakan dirinya menjadi manusia yang berlebihan.
Seperti aktivis lainnya, Lina selalu menemui kesulitan berbicara ke lorong masa lalu. Kadangkala kampus berubah menjadi wilayah kesepian dan keterasingan. Ia seperti kanak-kanak yang selalu menolehkan mukanya ke luar jendela, saat guru memberikan pelajaran di kelas. Ada keasikan lain dalam alam fantasi Lina ketika melihat keluasan pemandangan di luar kelas. Keasikan yang jauh lebih luas ketika memandang sepetak papan tulis di muka kelas.
Lina selalu dan akan selalu menatap keluar sana, sampai pengajaran guru selesai. Dan ia merasakan ada kebebasan di luar sana.

21
...ranjang bisa saja menjadi sebuah negara, atau sebuah media kerumuman publik. Ranjang juga bisa menjadi sebuah ideologi terbuka.

Kampus Sekolah Tinggi Radin Intan berada di kawasan Gedong Meneng, tak jauh dari terminal Rajabasa. Setiap hari Lina menumpang Bis Kota jurusan Telukbetung-Rajabasa menuju kampus. Jika kuliah sore, dan kebetulan sedang jalan-jalan dengan Along atau Boni, sesekali Lina diantar ke kampusnya.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa dirasakan Lina ketika menjadi seorang mahasiswa. Ia lebih banyak bergaul dengan sesama aktivis di kampus lain. Beberapa kawan-kawan yang cepat menjadi akrab dengannya antara lain, Jawad, Ribut, Dedi, Ningrum, Maya, dan Guntur.
Mereka sama seperti Lina kurang suka berlama-lama di kampus. Lina dan kawan-kawannya banyak menghabiskan waktu di perkumpulan heroik, atau komunitas LSM atau lembaga swadaya masyarakat. Di LSM, Lina banyak menempa keberanian, kritis, dan keberpihakan kepada rakyat kecil atau orang tertindas.
Karena wajahnya cantik dan tubuhnya menarik, Lina cepat dikenal orang-orang kalangan LSM. Apalagi setiap aksi ke jalan ia ikut serta.
Pelan-pelan Lina pun mulai fasih menggunakan ucapan-ucapan heroiknya LSM seperti, “penindas rakyat!”, “penguasa otoriter!”, “penghisap petani!”, “perampok rakyat!”, “gantung koruptor!”, “lawan!“, “tolak!”, “adili!”, “hidup rakyat!”, “hidup petani!”, “hidup buruh!”, “hidup kaum miskin kota!” “hidup pelacur!”. Serta diksi-diksi perlawanan lainnya.
Lina kembali menjadi “manusia yang berlebihan”. Di matanya, semua orang seperti tidak ada yang benar. Entah itu polisi, politisi, tentara, jaksa, hakim, legislator, walikota, bupati, gubernur, pengusaha, dan perangkat publik lainnya, seperti koran dan televisi, semuanya tidak ada yang benar. “Mereka tidak berpihak kepada rakyat kecil!” kata Lina mantap.
LSM telah membentuk perilaku baru bagi Lina. Perilaku itu sering terbawa sampai ke rumah. Di hadapan bapak dan ibunya, Lina tampil sebagai seorang yang paham banyak hal. Umar dan Baya, merasa bangga atas kemajuan anaknya. Keletihan mereka membiayai kuliah Lina, berubah menjadi kebanggaan. Mereka berharap Lina akan menjadi sarjana yang pintar sehingga si mana pun bisa diterima kerja.
Heroisme aktivis LSM itu, juga terbawa ketika Lina masuk ke wilayah intimnya bersama Along atau Boni. Lina mampu menghias dirinya dengan bahasa-bahasa ilmiah saat bertelanjang di hadapan Along, Minggu siang itu.
Tidak sekedar pembebasan fisik di balik obsesi seksualitas. Tetapi ada bahasa-bahasa ketertindasan yang diwacanakan kembali dalam permainan cintanya bersama Along.
Lina menginginkan ia dan sahabatnya di atas ranjang itu, membangun dunia fantasi yang liar tetapi mampu dikendalikan secara alamiah. Proses pencarian itu pun berjalan secara manusiawi dan demokratis. Lina lalu membahasakan seks sebagai peristiwa penting yang dapat dijadikan inspirasi gerakan pembebasan terhadap idiom-idiom kekuasaan represif.
“Aku tidak tahu, apakah kamu merasakan hal sama, ketika puncak kenikmatan itu terselesaikan secara sempurna?” tanya Lina.
“Apa maksudnya?” Along balik bertanya.
“Aku merasa kita terlalu lama dijerat berbagai aturan soal kenikmatan itu.”
“Maksudmu?”
“Saatnya melawan! Saatnya mencari yang baru! Bukan menaklukkan. Tetapi paling tidak…cinta, kesetiaan, dan rasa saling ketergantungan tersebut, dijelaskan kembali secara terbuka.”
“Maksudmu?”
“Kita terlalu lama mengulangi hal yang sama. Padahal kita butuh gagasan baru, yang menghendaki jawaban baru pula.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Membunuh imajinasi masa lalu.”
Along hanya terpaku. Matanya menerawang ke langit kamar tidur di rumah yang baru dibelikan isterinya, Mei Hwa. Rumah Tipe 70 di Perumahan Kota Karang itu, mulai ditempati Along bulan lalu. Mei dan Erik, baru minggu kemarin menginap di rumah itu.
Along bingung menafsirkan arah pembicaraan Lina. Along merasakan ada perubahan pola pikir cukup drastis dari teman kumpul kebonya itu, meski baru beberapa bulan memasuki lingkungan kampus.
“Kalimat dan kata-katamu agak berat kumengerti, Lin.”
Lina hanya tersenyum. Ia paham keterbatasan kekasihnya itu. Lina kembali menarik tubuh Along. Ia menenggelamkan lelaki itu ke dalam lubang yang teramat dalam, yang mereka sendiri belum begitu mengenalinya.
Lina dan Along tak pernah tahu apakah keduanya bersama sebatas kebutuhan fisik atau memang ada cinta dan perasaan saling membutuhkan. Mereka tidak berusaha membangun kesepakatan atau komitmen tentang hubungan seksnya. Tetapi keduanya hanya menerima secara jujur bahwa sampai hari itu, mereka masih bersama. Saling membutuhkan.
Lina paham, keintiman seks antara ia dan Along nyaris tak banyak perbedaan dibandingkan ia dengan Boni. Bersetubuh bagi Lina adalah kebebasan perilaku antara lelaki dan perempuan tanpa harus ada ikatan, atau perjanjian-perjanjian. Artinya bermain seks antara ia dengan Along atau Boni, atau dengan siapa pun yang disukainya, bukanlah janji persetubuhan yang memiliki jaminan untuk menikah atau membangun lembaga keluarga.
Maka Lina pun berusaha mencari teman kencan sebanyak mungkin di kampusnya. Ia ingin semua lelaki menjadi teman diskusi satu ranjang. Ia bercinta dengan siapa saja, dari teman sesama mahasiswa, juga beberapa orang dosen dan kawan di LSM.
Seperti dialami Maya, salah seorang teman Lina, dengan lelaki teman tidurnya. Maya yang sehari-hari kawan diskusi Lina itu, beranggapan pergaulan seksnya dengan Jawad, tidak sekedar cengkrama fisik sesama aktivis. Tetapi lebih kepada membangun suatu kebersamaan mimpi dan keinginan, serta obsesi yang ideal dalam sudut pandang dan pola pikir keduanya.
Maya sering mengistilahkan Jawad sebagai “sahabat berpikir” satu ranjang. Karena di atas ranjang, Jawad bisa diajak diskusi lebih intim. Kemudian tidur dan bermimpi apa saja tentang dunia. Dari persoalan pendidikan di kampus sampai ketimpangan di negerinya. Mereka kadangkala menemukan bentuk-bentuk perlawanan dari eksplorasi di atas ranjang. Bahkan mereka mendesain berbagai aksi menentang kebijakan pemerintah dari atas ranjang.
Dalam konsep pemikiran Maya dan Jawad, ranjang tidak lagi mengambil posisi fungsional sebagai kebutuhan tempat tidur, peristirahatan, atau bermain cinta, tetapi menjadi lebih filosofis dan dekonstruktif. Artinya, ranjang bisa saja menjadi sebuah negara, atau sebuah media kerumuman publik. Ranjang juga bisa menjadi sebuah ideologi terbuka. Siapa pun bisa mendapatkannya melalui proses demokrasi; berunding, memilih, dan bersepakat untuk menggaulinya.
Seperti Lina, Maya pun menginginkan berkencan dengan lelaki sebanyak-banyaknya. Ia bebaskan antara kepuasan seks dan eksistensi lelaki berksplorasi ke dalam ruang intimnya.
Maya beralasan bertelanjang di hadapan Jawad atau teman tidurnya yang lain, tidak ubahnya ketika ia bertelanjang di atas toilet WC rumahnya atau WC hotel. Membuang limbah tubuh. Mengalirkannya melalui saluran pipa di bawah tanah. Instalasi tinja itu disembunyikan dengan hati-hati dan rapi. Maya yakin tinja dari tubuhnya akan meluncur ke bawah tanah, dan tidak akan pernah muncul ke permukaan, apalagi sampai terlihat orang lain dari berbagai sudut kota.
Maya menganggap kotoran yang disembunyikan melalui pipa-pipa penyaluran itu, mencerminkan karakter ia dan kotanya. Dari atas toilet kamar hotel, Maya melihat tugu Adipura sukses menyembunyikan limbah kotoran di bawah kamar mandi, kamar tidur, ruang kerja walikota, bupati, dan gubernur.
Semua kotoran telah tersembunyi rapi di bawah ruang kerja jaksa, hakim, redaksi koran, televisi, dan radio. Tidak ada satu pun terlihat mata. Tinja juga tersembunyi di bawah kantor tentara, parlemen, kantor pos, bank swasta dan negera, diskotik, mall, rumah bordil, bahkan rumah-rumah ibadah.
“Mengapa semua orang menyembunyikan tinjanya di bawah tanah,” tanya Maya.
Jawad tidak menjawab. Ia sendiri bingung apakah dirinya bagian orang-orang yang menyembunyikan tinja itu. Semua yang busuk memang harus dikubur. Sebagai aktivis yang selalu berteriak moral dan kebenaran, Jawad sangat menyadari bahwa yang dimaksud Maya adalah konsistensi dan komitmen pribadi antara ucapan dengan perbuatan. Berat memang.
Kadang Jawad berenung sendiri apakah yang dikerjakannya selama ini ada manfaat untuk orang banyak, atau sebaliknya. Termasuk kehidupan seks bebasnya dengan Maya.
Kata kunci orang-orang munafik adalah moral. Hubungan seks di luar nikah antara ia dan Maya memang dilakukan atas dasar suka sama suka. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada pemaksaan atau bentuk-bentuk kekerasan lain yang terjadi antara mereka. Ya, suka sama suka. Demikian pembenaran sementara yang menjadi argumentasi keduanya. Kalau cocok, bisa saja nantinya mereka menjadi suami isteri.

22
JAWAD tidak pernah berkhayal menjadi seorang aktivis LSM. Tamat kuliah di jurusan ekonomi, Jawad sempat menggangur dua tahun. Selama kuliah ia lebih tertarik ke dunia kesenian dan sastra. Pasca jatuhnya kekuasaan Soeharto, sarjana ekonomi yang banyak paham filsafat ini masih kebingunan mencari kerja. Suatu hari ia diajak kawannya, Koko, bekerja di sebuah tabloid yang berkantor di Jalan Yos Sudarso. Koko menerbitkan tabloid itu bersama beberapa orang jurnalis di Lampung.
Tetapi hanya 12 kali terbit, mingguan itu bubar. Alasan pemodalnya, ia dan keluarganya selalu diteror akibat pemberitaan tabloid itu. Yang lebih logis, ia mengaku tidak punya lagi duit membiayai ongkos cetak.
Jawad kembali mengganggur.
Masa Pemilu 1999, Jawad bersama rekan-rekannya yang sebagian besar jurnalis antara lain, otong, imel, bubud, membuat lembaga pemantau pemilu. Setelah kasak kusuk ke sana kemari mencari dana akhirnya, jaringan jurnalis pemantau pemilu itu mendapat bantuan dana dari donatur luar negeri.
Jawad kembali kerja. Ia menjabat sebagai bendahara yang mengendalikan dana program pemantauan pemilu tersebut. Tetapi setelah program berjalan dua bulan, Jawad ribut dengan rekan-rekannya. Ia dilaporkan tiga rekannya, Bubud, Imel, dan Otong, dengan tuduhan menyimpangkan dana program. Akhirnya melalui bantuan kawannya Koko, masalah dengan donatur asing tersebut dapat diselesaikan.
“Bagaimana mereka tahu ada penyimpangan dana, laporan pertanggungjawaban keuangan saja belum aku buat!” tegas Jawad kepada Koko.
Usai program pemilu, jaringan pemantau yang didirikan Jawad dan kawan-kawanya itu tidak lagi menerima bantuan donatur lembaga dari negeri “Paman Sam” itu. Jawad kembali menganggur. Beberapa program yang ditawarkannya ke lembaga donor ditolak.
Karena merasa prihatin Koko, yang juga lebih dulu memiliki jaringan kerjasama dengan donatur luar negeri, menarik Jawad bergabung, dan mempercayainya menjadi ketua sebuah lembaga pemantau korupsi.
“Sudahlah, Wad, kau urus dulu lembaga ini. Kau jadi ketuanya!” bujuk Koko. “Aku sendiri belum siap memimpin lembaga seperti ini. Maklum, aku masih gampang tergoda duit,” ujar Koko sembari mengetik jadwal kegiatan lembaga tersebut.
Awalnya, Jawad menolak, karena ia masih menunggu jawaban proposal yang diajukannya sendiri ke donatur luar negeri itu. Setelah mendapat balasan proposalnya ditolak, Jawad buru-buru mendatangi Koko. Ia menyatakan kesediaannya menjadi ketua lembaga pemantau korupsi yang dibuat Koko itu.
Entah karena alasan apa, ketika dana program hendak dicairkan, Jawad meninggalkan Koko. Ia menggarap sendiri program tersebut, dan merekrut orang-orang baru yang sebagian mahasiswa dari kampusnya. Koko beberapa kali mendatangi Jawad mengingatkan sikapnya itu, tidak baik untuk persahabatan.
Namun Jawad tak peduli. Ia bahkan meniupkan isu macam-macam ke kalangan aktivis lainnya soal Koko. Karena tak mau pusing, Koko merelakan lembaga yang dibentuknya, serta desain program yang digarapnya sendiri itu, diambil Jawad.
Sejak dikecewakan Jawad, Koko memilih mundur dari kegiatan LSM. Ia lebih menekuni profesinya sebagai jurnalis. Sesekali berkesenian atau menulis sastra. Sementara Jawad terus menjadi aktivis LSM. Ia dikenal banyak orang, karena sikap kritisnya menyoroti berbagai praktek-praktek korupsi di daerah.
“Biografi Jawad sudah selesai dalam pandangan intelektual saya,” ungkap Koko kepada teman akrabnya Towok aktivis prodem dari Palembang.
Jawad bertubuh rendah, kulit putih, dan mata sempit itu, memutuskan jadi aktivis LSM sejati. Seluruh pikiran dan nafasnya seakan didedikasikan untuk rakyat melalui lembaga donor luar negeri. Jawad tak mau memusingkan apakah ia bekerja untuk rakyat negerinya, atau untuk donatur asing yang mendanainya.
Jawad menyadari, banyak tantangan dihadapi LSM dalam era transisi menuju demokrasi di negerinya. Sebagaimana terjadi dalam kasus Brasil dan Uruguay. Di negara-negara tersebut, masyarakat menoleh kepada partai-partai politik yang lebih dapat memberikan simbol-simbol dan identitas ideologi yang lebih kuat.
Hal seperti itu juga terjadi di Indonesia. LSM merasa perlu terlibat dalam konteks politik lebih besar. Menghadapi transisi demokrasi yang belum tampak ujungnya ini, ditambah lagi kesulitan ekonomi berkepanjangan, pertanyaan di diri Jawad, bagaimana peran dan posisi LSM?
Setelah “Reposisi Ornop” tahun 1999, LSM belum juga mengadakan evaluasi dan reposisi dari dalam. LSM mulai menjalankan spesialisasi bidang semakin beragam dan dengan keahlian atau kompetensi yang cukup memadai.
Keberadaan LSM dikui baik pemerintah maupun badan asing. Tetapi LSM bukanlah wadah profesi dan bukan juga wadah politik. LSM adalah gerakan sosial.
Karena itu sangatlah wajar, sekarang ini banyak sekali lahir LSM “gadungan” dan LSM “buatan” dari pihak-pihak tertentu yang oportunistik. Mereka melakukan gerakan menyerupai LSM. Masuk ke berbagai lapisan masyarakat, sampai ke sumbu kekuasaan.
Sebetulnya Jawad cukup paham, jika sebagian rekan mereka ada yang menyimpang dan masuk ke arus gerakan LSM “plat merah” atau LSM yang menjadi penjilat pemerintah atau lembaga dan kelompok tertentu. Mereka sering menjadi alat atau corong kepentingan politik dan bisnis kelompok tertentu, dengan mendapatkan imbalan uang atau investasi politik.
Sebagian ada yang sengaja menawarkan jasa dalam bentuk program atau pemikiran. Misalnya menjadi konsultan parlemen, tim ahli gubernur, bupati, dan walikota. atau konsultan perusahaan negara dan swasta. Tentu saja jasa yang dijual tersebut hitungannya insentif atau imbalan uang. Selain juga bagian dari misi kerakyatannya. LSM “bermuka dua” ini biasanya banyak diminati kalangan akademisi.
Begitulah. Makin lama jumlah LSM makin menggurita. Badan Pusat Statistik atau BPS menyebutkan hingga tahun 1996 ada sekitar 1000 LSM di Indonesia. Tetapi empat tahun kemudian, tahun 2000, BPS mencatat jumlah LSM naik 70 x lipat menjadi 70.000. Sepertinya kurun waktu tersebut hingga sekarang ini, merupakan masa bulan madu, masa-masa subur untuk melahirkan bayi-bayi LSM sebanyak mungkin.
Tetapi seberapa pun banyaknya varian LSM tersebut, bagi Jawad, yang paling penting sejauh mana mereka sanggup memposisikan dirinya menjadi sumber inspirasi gerakan sosial, diantara posisi negara atau pemerintah, dan posisi pasar atau kaum pemilik modal.
LSM adalah bagian dari gerakan sosial yang bekerja dan berpihak kepada rakyat kecil. Dengan komitmen itulah mampu menyatukan misi perjuangan aktivis LSM Indonesia dan aktivis negara lain di seluruh dunia.
Tentara, polisi, PNS, atau orang kebanyakan, sering bertanya kepada Jawad dan rekannya, apa itu LSM? Jawad sulit menjawab. Karena pertanyaan sinisme dan provokatif itu, seakan menjebak dirinya. Apa lagi masih terbersit ada pertanyaan besar, sejauh mana komitmen LSM yang dipimpinnya mencerminkan ciri-ciri lembaga pergerakan sosial yang independen.
Jawad hanya bisa meminjam definisi-definisi LSM, versi Salamon dan Anheir, atau versi lain yang pernah dibacanya. Pertama, LSM adalah organisasi permanen, punya kantor, punya aturan. Kedua, menjalankan organisasi sendiri dan berada di luar kontrol pemerintah atau lembaga lain. Ketiga, tidak mencari keuntungan, dan memberi keuntungan kepada direktur atau pengelolanya. Keempat, sukarela atau voluntary. Kelima, tidak berpolitik,dan mengusung misi agama atau kepercayaan tertentu.
Jadi singkatnya, ujar Jawad, kepada polisi atau politisi yang menanyainya, LSM itu serba “non”, yakni nonpemerintah, nonpolitik, nonpartisan, nonprofit, nonpajak, dan non-non lainnya.
Jawad sempat mengenang masa lalu. Semasa rezim Soeharto, marah-marah kepada penguasa resikonya dicari-cari intel atau Laksusda. Tetapi era jatuhnya Soeharto, marah-marah adalah bagian program didanai lembaga donor asing. Maksudnya, tak ada salahnya capek marah-marah tetapi ada honornya.
Siang itu, Jawad, Maya, Lina, dan ratusan aktivis mahasiswa dan LSM berunjuk rasa ke kantor DPRD Lampung. Mereka memprotes penggelembungan dana rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah atau RAPBD, yang berindikasi korupsi dan bagi-bagi duit. Semua item dalam anggaran itu dinilai Jawad dan kawan-kawannya mengada-ada. Menyimpang dari ketentuan undang-undang dan peraturan pemerintah.
“Penyusunan anggaran lebih mementingkan kebutuhan pribadi sekelompok orang di legislatif dan eksekutif, ketimbang kepentingan pembangunan dan kesejahteraan rakyat,” tegas Jawad.
“Seharusnya asas proporsional, kewajaran, kepatutan, dan rasionalitas menjadi acuan utama. Mulai dari pengajuan anggaran, pembahasan, sampai penetapan!”
“Sesuai prinsip-prinsip peraturan pemerintah yang ada. Bukan justeru ajang tawar menawar legislatif dan eksekutif!” sambung Burniat Gani dari LSM Anggaran, kepada para wartawan yang meliput aksi mereka.
Demo anti korupsi itu, dilanjutkan dengan pertemuan antara wakil pengunjuk rasa dan sejumlah perwakilan komisi dan Panitia Anggaran, serta salah seorang unsur pimpinan dewan. Seperti biasanya, setelah itu kerumunan massa bubar. Sebagian kembali ke markas merekadan kembali berdiskusi. Sebagian langsung pulang, dan ada yang punya acara sendiri, ke mall atau pacaran.
Begitulah sehari-hari mereka. Hampir tidak ada sesuatu luar biasa ketika lepas dari komunitasnya. Bahasa negara, bahasa keluarga, dan ruang privasi yang tertutup sekali pun, menjadi umum dan biasa saja.

23
Melihat altar depan Vihara Thay Hin Bio ini, Along teringat masa kecil di Klenteng Lebong Siarang, di kampungnya Musi Banyuasian. Tradisi peringatan Hari Raya Imlek atau Yinli Xinnian, di kampung dulu cukup meriah.

VIHARA Thay Hin Bio hari itu, cukup semarak di antara ratusan batang lilin merah tertata rapi. Cahaya lampion terbungkus kertas merah, semakin memancarkan energi lain ke sudut-sudut kelenteng tua itu. Dua kepala Barongsai tergeletak di atas meja besar tepat di trap tengah vihara.
Seorang lelaki tua mengitari bagian dalam vihara. Pelan-pelan ia menyalahkan satu demi satu ratusan lilin yang sudah disusun sejak sore kemarin. Lelaki tua itu bukanlah bikhu Vihara Thay Hin Bio. Karena sejak wafatnya Bikhu Sek Wang Beng, tahun 1985 lalu, hingga sekarang vihara ini sudah tidak lagi dipimpin seorang bikhu.
Selama tinggal di kawasan vihara Jalan Ikan Kakap, Telukbetung, baru hari itu Along masuk ke tempat peribadatan umat Budha dan Khong Hu Cu itu. Padahal berada tepat di mulut gang paviliun kontrakan yang baru sebulan ditinggalkan Along ke rumah barunya di Kota Karang. Meskipun setiap hari Along melintasi kelenteng itu, namun belum sempat mampir sembahyang atau dharma bersama umat Khong Hu Cu atau Budha di vihara itu.
Melihat altar depan Vihara Thay Hin Bio ini, Along teringat masa kecil di Klenteng Lebong Siarang, di kampungnya Musi Banyuasian. Tradisi peringatan Hari Raya Imlek atau Yinli Xinnian, di kampung dulu cukup meriah.
Ia dan saudaranya berpakaian baru dan rapi, memberikan hormat dengan cara Tionghoa, bai atau pei kepada kedua orang tuanya. Kemudian didoakan dan mendapat nasehat agar rajin belajar, pandai, dan murah rejeki. Setelah itu Along dan sau-daranya diberi angpau atau hong bau. Tetapi prosesi ibadah Khong Hu Cu itu hanya dilakukan secara internal, mengingat rezim Orde Baru saat itu tidak mengakui keberadaan Khong Hu Cu sebagai agama. Peminggiran umat Khong Hu Cu ini, dipersulit juga dengan pengurusan administrasi seperti KTP, akta nikah, dan lain-lain.
“Vihara ini terlihat sudah ratusan tahun umurnya,” tanya Along kepada Ayung.
“Menurut cerita engkong saya, vihara ini sudah ada sejak jaman Belanda dulu.”
“Bangunan klenteng ini pasti sudah dipugar.”
“Dulu namanya Vihara Kuan Im Thing.”
Vihara Thay Hin Bio adalah nama baru Vihara Kuan Im Thing yang dibangun Tahun 1927 lampau. Menurut cerita, kehidupan umat beragama di Lampung saat itu sudah berjalan normal, dimana penduduk kawasan pecinaan telah merasakan manfaat kasih Budha.
Mereka menyebutnya Cen Fa Ming Julai yang dikenal Kuan Im Pho Sat atau sebutan lain Dewi Avalokestesvara. Masyarakat Budha saat itu menyakini Kuan Im Pho Sat maha pengasih dan penyayang yang akan menolong semua makhluk hidup. Maka Kuan Im Pho Sat menduduki bagian Bodhisatva. Di mana-mana ia mencari suara orang yang menderita, dan menolongnya. “Kuan Im” diartikan, ia menjawab jerit tangis dunia.
Sebagian masyarakat Tionghoa yang sudah lama bermukim di Lampung, merasakan perlindungan dan berkah dari Kuan Im Pho Sat. Tidak mengherankan jika pada masa itu, mereka membuat altar di rumah masing-masing, mengadakan persembahan pada Kuan Im Pho Sat.
Pada tahun 1850, ada seorang sau-dagar rempah-rempah yang bernama Po Heng berasal dari Tiongkok. Tepatnya dari Hokkian Haiting membawa patung Rupang Kuan Pho Sat. Masyarakt gempar dan banyak yang merasa simpatik Mereka berbondong-bondong datang untuk melihat. Atas kesepakatan warga diusulkan supaya didirikan Cetya Avalokestesvara atau Kuan Im Tong—tempat ibadah untuk pemeluk Budha—di Gudang Agen.
Sejak itu, kehidupan beragama masyarakat Tionghoa terasa lebih khusuk dan bergairah. Tetapi kembali terhapus ketika datangnya musibah meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Banjir besar akibat letusan Krakatau ini menenggelamkan sebagian kawasan Telukbetung selama kurang lebih tiga hari tiga malam. Keluarga Po Heng yang menempati rumah tinggal di Cetya mengungsi ke tempat lebih tinggi, dan sempat menyelamatkan patung Kuan Im Pho Sat.
Pada tahun 1896 atas usulan masyarakat di kampung China atau pecinan, didirikanlah Vihara Kuan Im Thing. Tahun 1927, pada masa Bikhu Sek Te Thi dari Shaolin Kong Hwa, Tiongkok, vihara ini direnovasi, diperluas sekaligus diganti namanya menjadi Vihara Thay Hin Bio artinya Mohopati.
Pada masa Bikhu Sek Guan Lin vihara ini kembali direnovasi dan selesai pada tahun1967. Setelah Bikhu Sek Guan Lin wafat, vihara Thay Hin Bio tidak memiliki lagi Biksu. Lalu dikirimlah Bikhu dari Bandung, Sek Tek Yong. Masa Bikhu Sek Tek Yong inilah didirikan krematorium atau tempat pembakaran mayat di Lempasing. Tahun 1979 Biksu Sek Tek Yong wafat. Kemudian atas permintaan Yayasan Thay Hin Bio. Setahun berikutnya Sangha Agung Indonesia mengutus Bikhu Sek Wan Beng atau nama lain Jina Surya, ke vihara ini.
Lima tahun setelah itu, Bikhu Sek Wan Beng wafat karena sakit dan usia lanjut. Tidak ada lagi bikhu yang memimpin Vihara Thay Hin Bio. Kemudian Yayasan Vihara Thay Hin Bio menunjuk Romo Pandita Adi Surya nama aslinya Coa Kee Soen untuk mengurus dan menjalankan keagamaan sampai sekarang ini.
Along kambali mengitari bagian depan vihara. Ia seperti mendapatkan kesegaran baru. Emosi dirinya mulai stabil, sejak beberapa hari ini, ia banyak menghadapi masalah dari bisnisnya. Ia teringat pesta kembang api dan atraksi Barongsai pada perayaan tahun baru Imlek yang pertama secara nasional 12 Februari 2002, atau bertepatan Imlek ke 2553 di kotanya, Palembang.
Along duduk di altar samping vihara, sembari menghidupkan rokoknya. Ayung mendekat duduk di sebelahnya. Sementara di pintu depan vihara terlihat beberapa orang mendatangi vihara. Di pojok sebelah utara, terlihat dua orang wartawan dan fotografer tengah mewawancarai Romo Pandita Adi Surya, berkenaan hari raya Imlek.
“Mengapa kita begitu antusias merayakan Imlek?” tanya Along.
“Entahlah. Barangkali ini bagian dari proklamasi berakhirnya penindasan Orde Baru. Akhir penindasan kebebasan masyarakat Tionghoa berekspresi!” kata Ayung.
“Sebelum tahun 1965, Imlek serta ucapan selamat hari raya Imlek; Gong xi fa cai, berlangsung lancar-lancar saja. Tetapi sejak Soeharto dan Orde Barunya berkuasa Tahun 1966, Imlek dilarang dirayakan.”
“Sebetulnya, imlek itu milik siapa?” tanya Along.
“Ya, dari pandangan umum, Imlek itu milik orang-orang China.”
“Kalau yang dimaksud China itu negara atau bangsa RRC, jelas Imlek itu tak perlu dirayakan bangsa lain. Tetapi jika “China” yang dimaksud adalah kelompok etnis termasuk yang sudah menjadi bangsa Indonesia, mengapa tidak ada hari raya nasional untuk orang India atau Arab, atau 300-an etnis lainnya di negeri ini?”
“Sebetulnya, Imlek bagian dari tradisi atau kepercayaan pemeluk Budha. Penetapan sebagai hari raya nasional, itu keputusan politik negara.”
“Betul. Tetapi bukankah di kalangan etnis Tionghoa, tidak semuanya Budha, lagi pula banyak pemeluk Budha non Tionghoa ikut merayakannya.”
“Jika dilihat dari situ memang ada kebingungan. Tetapi paling tidak dari situ, ada keterbukaan bahwa Imlek itu bisa dirayakan siapa saja. Mirip seperti “Valentine Day”, siapa saja bisa mengirimkan ucapan, “selamat Valentine” atau “selamat Imlek” kepada siapa saja.”
Along serius mendengarkan penjelasan Ayung, sembari menghembuskan asap rokoknya ke arah wajah Ayung. Ayung sempat mengibaskan telapak tangannya menepis asap rokok kretek itu.
Sepertinya banyak pertanyaan di benaknya soal tata kehidupan beragama etnis Tionghoa di Indonesia. Along tidak begitu paham jika etnisitas itu bukanlah kebangsaan. Tetapi keputusan politik penguasa negara.
Sebetulnya di kalangan warga negara yang digolongkan “etnis China”, persentase yang tidak merayakan Imlek cukup besar. Dan mereka yang merayakan Imlek juga ikut merayakan Natal atau Idul Fitri, atau Velentine. Selama belum jelas benar Imlek itu milik siapa, keputusan negara untuk merayakan Imlek sebagai hari besar nasional bukanlah suatu hal yang luar biasa, sebagai “pembebasan” warga Tionghoa dari penindasan rezim Orde Baru.
“Saya pikir, libur Imlek itu bukanlah keputusan luar biasa,” tanggap Along.
Ayung hanya menatap ke arah wajah Along. Ia tidak tahu mengapa Along berargumentasi seperti itu. Ayung pun tak punya pemikiran lain untuk mempersoalkan pandangan Along yang belum dapat diterimanya itu.
Sepengetahuanya, hari raya Imlek dirayakan oleh masyarakat Tionghoa tanpa membedakan agama dan kepercayaan, karena mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan pada tahun yang lalu. Sekaligus permohonan berkat dan pertolongan Tuhan pada tahun yang akan datang. Maka Imlek disebut sebagai “Hari Pengucapan Syukur” atau “Thanksgiving Day”.
Along dan Ayung kemudian meninggalkan Vihara Thay Hin Bio. Sementara orang-orang semakin ramai mengunjungi kelenteng itu. Mereka datang dari berbagai tempat. Along sore nanti ada janji bertemu Lina. Ia menyuruh Ayung sendirian mengantarkan pesanan obat ke stokis atau agen di Kota Metro.

24
“Gila! Kamu sanggup berhutang untuk membiayai suamimu kawin lagi dengan perempuan lain? Astaga! Kiamat!”

Tubuh Mei Hwa tergetar memandang bias purnama di atas ibu kota Sai Bumi Ruwa Jurai. Atap rumah dan gedung-gedung tua terlihat membingkai Teluk Lampung. Dari ketinggian kamar hotel, Mei melihat lampu kapal dan lampu gedung tempat hiburan malam, hanya berupa titik-titik kecil. Cahaya purnama dibiarkan menerobos masuk melalui jendela kamar yang tersingkap lebar. Dalam kamar yang dibiarkan redup itu, bias purnama terlihat jelas menyenter kedua tubuh berpeluk mesra di atas kursi menghadap jendela. keduanya menikmati suasana lenskap kota malam hari dari ketinggian hotel tersebut.
Sudah dua malam Mei Hwa menginap di Hotel Indrapuri bersama Beni. Mei sengaja ke Bandar Lampung tidak langsung menemui suaminya.
“Berapa suamimu perlu uang?”
“150 juta rupiah.”
“Untuk Apa?”
“Tambahan beli rumah,” jawab Mei.
“Tambahan? Sebesar itu? memang ia beli rumah tipe berapa?”
“Tipe 70,”
“Nah, lantas?”
“Ia juga perlu uang untuk biaya bersalin seorang gadis yang dihamilinya.”
“Ia menghamili gadis?”
“Ya. Gadis itu teman kumpul kebo suamiku.”
“Gila! Kamu sanggup berhutang untuk membiayai suamimu kawin lagi dengan perempuan lain? Astaga! Kiamat!”
“Sudahlah, Mas Ben, aku mohon bantuan Mas Ben. Along mendesak supaya dikirim secepatnya.”
“Gila..!”
“Jaminannya sertifikat tanah dan rumah di Palembang.”
“Dasar Setan! Along itu.”
“Sudahlah..Mas Ben, yang penting ia tidak mempersoalkan hubungan kita. Aku tidak begitu memusingkannya. Dan kita setiap saat bisa selalu berhubungan bebas tanpa gangguan siapa-siapa.”
Mei Hwa mendekap tubuh Beni di atas kursi jok hotel itu. Beni tidak sempat berpikir lagi soal kelakuan Along. Karena dekapan Mei ke tubuhnya semakin cepat mengalihkan konsentrasi lelaki yang masih lajang itu. Kepada Beni, Mei secara tegas mengaku hubungannya dengan Along tinggal hubungan formal suami-isteri saja. Mei mengaku lebih mendapatkan kepuasan bermain seks dengan Beni.
Meski usianya baru menginjak 28 tahun, Beni sudah terbilang sukses menekuni usahanya di bidang sales marketing berbagai produk termasuk obat suplemen China. Ia memiliki beberapa perusahaan distributor besar di Jambi, Palembang, Jakarta, dan Bandung. Beni keturunan Medan-Sunda. Ibunya dari Sunda dan bapaknya Medan. Ia belajar bisnis dari pamannya di Jakarta.
Beni mengenal Mei Hwa, ketika menghadiri undangan presentasi produk di Jakarta. Hubungan mereka sudah berjalan satu tahun ini. Beni sering ke Palembang mengawasi distribusi alat-alat kesehatan miliknya.
Along pernah mendapatkan Mei Hwa sedang berjalan berdua dengan Beni. Tetapi Mei bisa meyakinkan Along bahwa Beni adalah teman kerjanya. Setelah kejadian itu Along sering mendapat laporan kawannya di Palembang, beberapa kali melihat Mei dan Beni menginap di Hotel Sanjaya. Tetapi Along tidak mempersoalkannya. Ia yakin Mei tidak akan berani melakukan itu. “Silahkan ia berselingkuh, asal jangan di depan mata saya,” jawabnya enteng sambil tersenyum.

25
Di bibir dermaga Umar melihat Boni bersama pejabat kota berbincang dengan nelayan dan tokoh adat setempat. Umar menoleh Gofur yang asyik melihat semarak kapal berhias kertas warna-warni. Umar menangkap ada kekaguman yang berlebihan dari Gofur terhadap laut dan kapal nelayan.

Umar sibuk membantu isterinya menyiapkan kue-kue pesanan panitia ruwatan laut. Baya mendapat order seribu kotak makanan ringan dari Lastri untuk kudapan para undangan dan pejabat kota. Kue-kue yang dibuat Baya antara lain segubal, lapis legit, lapis ketan, dan bebe-rapa kue khas Lampung lainnya.
Hari itu ribuan nelayan dari berbagai tempat berkumpul di dermaga TPI Lempasing. Sementara sekitar 100 kapal motor dan perahu nelayan yang dihiasi berbagai bendera warna warni sejak sore kemarin telah bersandar di dermaga.
Acara ini dibuka tari persembahan. Tiga orang gadis muncul mengenakan pakaian putih dan kain bersulam tapis khas Lampung. Siger berwarna emas berdiri anggun di atas kepala mereka. Ketiganya menari diiringi musik gamelan. Salah seorang penari membuka kotak kecil berisi sirih, dan mempersembahkan ke beberapa tamu penting.
Usai acara seremonial itu, kapal-kapal nelayan mulai bergerak dari dermaga menuju ke tengah laut. Kapal motor dan perahu yang biasa digunakan nelayan melaut terlihat padat oleh peserta ruwatan. Mereka mengawal beberapa perahu kecil yang berisi berbagai jenis sesajen serta tumbal kepala kerbau.
Kepala kerbau itu kemudian dibuang ke laut, sebagai persembahan para nelayan kepada penguasa laut yang telah memberikan rezeki tangkapan ikan, selama setahun terakhir ini.
Setelah kepala kerbau dan sesajen lainnya ikut dilempar ke laut, kapal dan perahu nelayan yang mengiringi perahu sesajen, beramai-ramai mengambil air laut yang telah ditebari sesajen, kemudian menyiramkan ke kapal masing-masing.
Masyarakat nelayan pesisir Lampung meyakini air sesajen yang disiramkan ke kapal motor dan perahu mereka akan membawa berkah keselamatan, penolak bala berbagai musibah, seperti ancaman gelombang dan badai, yang sering mereka alami saat berlayar mencari ikan. Air sesajen dari prosesi ruwat laut juga diyaki-ni bisa melimpahkan hasil tangkapan ikan.
Di beberapa daerah pesisir lainnya, seperti di Krui, Lampung Barat, ruwatan untuk penguasa laut ini sengaja dihilangkan. Para tokoh muslim menilai tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu beberapa tahun kemudian, prosesi budaya potong kerbau tidak lagi ditujukan untuk persembahan penguasa laut, tetapi lebih ditujukan sebagai rasa syukur atas rejeki yang mereka dapatkan dari Yang Maha Kuasa. Mereka membagi-bagikan daging kerbau yang dipotong kepada masyarakat.
Umar bersama Gofur ikut salah satu kapal menyaksikan prosesi laut itu. Lina tidak mau ikut karena gampang mabuk laut. Ia sibuk membantu Baya dan Lastri menyiapkan makanan dan minuman para undangan.
“Apa yang dilakukan orang-orang itu, Pak?” tanya Gofur.
“Mereka ruwatan, Fur.”
“Ruwatan? Apa itu, Pak? Kok kapal mereka penuh bendera?”
“Ruwatan itu adalah salah satu upacara warga nelayan, sebagai tanda terima kasih mereka kepada laut yang memberikan sumber penghidupan mereka,” jelas Umar.
“O, gitu. Memang laut suka dengan kepala kerbau, Pak?” kejar Gofur.
“Ya. Katanya begitu.”
“Kalau begitu, laut kayak kita juga, dong, Pak!”
“Betul. Makanya laut harus dijaga dan disayangi.”
“O, gitu.”
“Ya, Gitu!” mencoba membatasi omongan Gofur.
“Kalau kapal yang berbendera itu, Pak?”
“Kapal-kapal itu mengikuti lomba perahu hias,” tegas Umar kepada anaknya itu.
Gofur tidak lagi bertanya. Ia asik melihat kapal-kapal lalu lalang melintasi mereka. Dulu, sesekali Gofur bertepuk tangan.
Di bibir dermaga Umar melihat Boni bersama pejabat kota berbincang dengan nelayan dan tokoh adat setempat. Umar menoleh Gofur yang asyik melihat semarak kapal berhias kertas warna-warni. Umar menangkap ada kekaguman yang berlebihan dari Gofur terhadap laut dan kapal nelayan.
Seperti masa kanak-kanaknya dulu. Tetapi di tengah semaraknya prosesi budaya pesisir hari itu, Umar merasakan banyak hal yang hilang. Seperti nilai-nilai kearifan lokal adat dan tradisi leluhur.
Dalam keadatan masyarakat Lampung dibagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama, masyarakat yang menganut adat Pepadun, yang terdiri dari Abung Siwo Migo, Pubian Telu Suku, Rarem Migo Pak, Buai Lima, dan Sungkai. Mereka pada umumnya bermukim di daerah Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan bagian tengah.
Sementara kelompok kedua, masyarakat yang menganut adat Saibatin, yang bermukim di sepanjang pantai selatan sampai pantai barat yakni, dari Kalianda, Penengahan, Sidomulyo, Kedondong, Kuta Agung, Cukuh Balak, Padang Cermin, Pesisir Selatan, Pesisir Utara, Pesisir Tengah, Balik Bukit, dan Belalau.

26
Gelombang pengungsi malam itu, terus membesar hingga puluhan ribu orang. Mereka bergerak dari berbagai arah menuju kota yang posisinya lebih tinggi. Suasana kawasan Telukbetung-Panjang, sekitar pukul satu dini hari, berubah seperti pasar malam.

“Air laut naik! Air laut naik!”
“Tsunami! Tsunami!”
“Lari! Lari…!”
“Hei! Ada apa teriak-teriak?”
“Air laut naik!”
“Apa? Air laut naik?”
“Ya! Cepat!”
“Selamatkan keluargamu!”
“Ba..baik!”
“Air laut naik! air laut naik!”
“Air laut naik?”
“Tinggalkan rumah kalian!”
“Ayo! Ayo! Semua ke arah dermaga!
“Lari ke dermaga!”
“Perhatian…perhatian! Bapak-bapak..ibu-ibu! semua warga Pulau Pasaran, kami mendapat kabar air laut naik! Untuk itu semua warga, sekarang ini juga, segera meninggalkan Pulau Pasaran!”
Peringatan dari pengeras suara musholla semakin membuat kepanikan warga Pulau Pasaran. Mereka berhamburan keluar rumah. Sebagian besar tidak sempat lagi mengamankan harta dan barang-barang berharga miliknya.
Pengeras suara musholla kembali berteriak. “Kepada seluruh warga. Kami ingatkan supaya mengamankan barang-barang yang berharga saja di rumah Anda. Seperti ijazah, surat tanah, emas serta uang! Segeralah menyelamatkan diri ke bukit-bukit atau tempat tinggi lainnya.”
“Ayo! Cepat!” sentak awak perahu kepada warga yang berebutan naik ke perahu di dermaga kecil Pulau Pasaran itu. Dalam waktu singkat ribuan orang memenuhi bantaran dermaga. Mereka menunggu diseberangkan ke Ujungboom.
Arus pengungsi besar-besaran dari Pulau Pasaran ke Telukbetung itu, spontan membuat heboh warga di sana. Mereka tanpa berpikir panjang turut berkemas meninggalkan rumah. Musholla dan masjid, serta ketua-ketua RT dan RW meneruskan berita air laut naik itu ke warganya. Informasi terus menyebar sampai ke wilayah pesisir Teluk Lampung. Dari Kecamatan Panjang hingga Kecamatan Padang Cermin, Lampung Selatan.
Gelombang pengungsi malam itu, terus membesar hingga puluhan ribu orang. Mereka bergerak dari berbagai arah menuju kota yang posisinya lebih tinggi. Suasana kawasan Telukbetung-Panjang, sekitar pukul satu dini hari, berubah seperti pasar malam. Puluhan ribu pejalan kaki berjejal melintasi Pasar Kangkung. Mereka mengapit buntalan kain. Wajahnya terlihat panik. Mereka berlarian menuju Tanjungkarang. Ibu-ibu dan anak-anak menyusuri trotoar tanpa alas kaki. Ada yang tak sempat mengganti daster tidur. Terlihat ada bayi di gendongannya.
Sebagian warga yang memiliki kendaraan mengungsi sampai daerah perbukitan seperti, Bakung, Sukadanaham, sampai ke Plang Besi, Kemiling. Bahkan mengungsi ke luar kota, Pringsewu dan Kota Metro. Mereka menggunakan mobil, sepeda motor, angkot, dan truk.
Di pusat kota, arus pengungsi memadati Mapolda, Kantor Gubernur dan DPRD Lampung. Pemandangan serupa terlihat di bundaran Lungsir Kantor Walikota dan Masjid Al-Furqon. Warga di kawasan Panjang sebagian mengungsi ke daerah Geruntang dan Pidada. Bahkan ada yang naik ke bukit sampai ke Kecamatan Merbau Mataram.
Tempat hiburan kawasan Jalan Yos Sudarso, setelah mendapat informasi air laut naik spontan ditutup. Tamu, karyawan, maupun pengelolanya, bergegas menyelamatkan diri.
“Ayo! Bubar..bubar! ada tsunami!” teriak pelayan sebuah karaoke kepada tamu yang lagi kencang-kencangnya “nge-on” ekstasi.
“Apo polisi? Oi...! kawan-kawan bubar...bubar! ado razia polisi!” teriaknya.
“Bukan polisi, mang, tsunami!” ujar pelayan ke telinga lelaki itu.
“Air laut naik!” tambah pelayan lainnya yang sudah mengenakan jaket dan helm motor bersiap kabur.
“Tsunami?” tamu kamar itu masih bengong.
“Tsunamiiiiiiiiii...!” teriak pelayan mengerdap-ngerdipkan mata sambil kedua tangannya menggapai ke atas, seperti sedang timbul tenggelam di air.
“Ya...Tsunami! kayak di Aceh sono tuh!” tegas pelayan lain setengah berlari meninggalkan kamar karaoke. Para tamu kontan panik. Dengan sisa tenaga yang masih ada mereka kabur menuju kendaraan masing-masing yang terparkir di halaman samping gedung karaoke.
Sampai pukul tiga dini hari, gelombang pengungsi terus mengalir ke kota. Tamu-tamu hotel, seperti Hotel Sahid yang berjarak sekitar 100 meter dari pantai, sebagian besar keluar hotel, terutama tamu-tamu yang menginap dari Lampung.
Kepanikan puluhan ribu warga lima kecamatan di pesisir Teluk Lampung, betul-betul mengubah wajah Kota Bandar Lampung dini hari itu.
Kepanikan warga akibat kabar naiknya air laut dan gelombang tsunami ini meredah setelah petugas polisi berkeliling dengan pengeras suara di mobilnya menginformasikan kepada para pengungsi bahwa berita air laut naik dan tsunami itu adalah bohong. Polisi meminta masyarakat agar kembali pulang ke rumah masing-masing.
“Kepada seluruh masyarakat, kami umumkan. Tidak ada tsunami! tidak ada air laut naik! itu berita bohong!” teriak petugas polisi melalui pengeras suara yang dipasang di mobil Kijang pick up itu.
“Sekali lagi kami himbau, segera kembali ke rumah masing-masing! Tidak ada tsunami! Kami tegaskan, tidak ada tsunami!”
Namun himbauan petugas. Tidak ditanggapi pengungsi. Mereka tetap saja bertahan. Bahkan ada yang menanggapi sinis.
“Akh! Polisi, sok tahu aja!”
“Iya! Ini soal alam, bukan kriminal!” sahut pengungsi lainnya.
“Awasi saja rumah warga supaya tidak dijarah maling!”
“Cocok!” tanggap warga lainnya sambil tertawa.
“Keluarga mereka malah lebih dulu mengungsi.”
“Di kampungku bukan cuma keluarga polisi. Pos polisinya juga udah ditinggal kabur! Hahaha..!”
Umar yang sejak sore ada di bagan, begitu mendengar adanya gelombang pengungsi dari Pulau Pasaran di dermaga Ujungboom, bergegas pulang dengan perahu kecilnya. Tetapi setiba di Ujungboom, tidak terlihat lagi ada orang di sana. Suasana sudah lengang. Ia berlarian menuju ke rumahnya. Namun keadaannya sama. Umar hanya mendapatkan rumahnya yang kosong dan tak sempat terkunci. Ia menduga isteri dan kedua anaknya sudah pergi meninggalkan rumah.
Setelah mengunci rumah. Umar berjalan ke arah gudang garam. Di sana ia baru bertemu beberapa orang sedang berjaga. Ia menanyakan keberadaan warga mengungsi. Setelah mendapat penjelasan. Umar bergegas menuju Mapolda lewat Jalan Ikan Tenggiri. Umar yakin isteri dan kedua anaknya mengungsi tidak jauh dari markas polisi itu.
Sekitar pukul lima subuh, Umar mendapatkan Baya, Lina, dan Gofur, bersama majikannya Boni dan Lastri nongkrong di depan Kantor DPRD Lampung. Dengan kendaraan majikannya, mereka kembali ke Gudang Agen.
Pagi harinya, Badan Meteorologi dan Geofisika atau BMG Branti, menjelaskan melalui berita televisi membenarkan gelombang air laut di perairan Teluk Lampung dan Selat Sunda memang mengalami kenaikan. Hal itu akibat peralihan musim, dari angin Barat ke angin Timur. Kejadian itu, menurut BMG, sudah biasa setiap masuk Maret-April setiap tahun. Kenaikan itu pun masih di bawah satu meter katanya.
Selain pesisir Teluk Lampung, warga di kawasan Pulau Sebesi, Canti, Kalianda, Lampung Selatan, malam itu juga mengungsi ke ibukota kabupaten. Warga khawatir karena diisukan Gunung Anak Krakatau kembali menyemburkan larva pijarnya. Warga dikabari akan datang gempa vulkanik yang akan diikuti naiknya air laut atau tsunami.
Heboh tsunami itu ternyata belum berakhir selama satu minggu. Sebagian warga Pulau Pasaran hanya siang hari berada di sana karena bekerja. Malam harinya mereka mengungsi ke daerah Bakung, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Pulau Pasaran.

27
Gempa disertai terjangan gelombang pasang itu hanya sesaat, tetapi telah meluluhlantakkan semua yang ada di Aceh. Ratusan ribu mayat anak-anak dan orang dewasa berserakan di setiap penjuru daratan “Tanah Rencong” itu.

Hembusan angin Timur, terasa kian keras menampar tubuh Umar. Suasana itu mengingatkan kembali cerita kakeknya tentang peristiwa alam, seperti gempa dan gelombang pasang. Naiknya air laut hingga puluhan meter, menyapu kapal-kapal ikan, bagan, serta rumah nelayan sepan-jang pantai.
Kemarahan alam, kemarahan laut, kadangkala tidak pernah dapat diduga manusia. Sekali pun pakar seismograf. Seperti peristiwa meletusnya Gunung Krakatau Tahun 1883 lampau. Menenggelamkan ratusan pulau, menelan nyawa 36 ribu orang di belantara dunia. Kisah Krakatau tidak lenyap. Ia meninggalkan Anak Gunung Krakatau kini masih aktif.
Melihat kepanikan warga akan gelombang tsunami tadi subuh, Umar teringat tayangan televisi gempa Maumere dan gempa Liwa yang menelan ratusan jiwa, anak-anak dan orang tua.
Pada 26 Desember 2004 lalu, televisi kembali menayangkan bencana yang terbesar dalam dua abad ini, yakni gempa dan gelombang Tsunami di Aceh serta Kepulauan Nias, Sumatera Utara.
Gempa disertai terjangan gelombang pasang itu hanya sesaat, tetapi telah meluluhlantakkan semua yang ada di Aceh. Ratusan ribu mayat anak-anak dan orang dewasa berserakan di setiap penjuru daratan “Tanah Rencong” itu.
Alam menggelar ratusan kilometer kain kafan di bumi “Serambi Mekah”. Puluhan eskavator menggali lubang dan menanam massal mayat mereka. Tangisan tsunami juga terjadi di sejumlah tempat di Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga Afrika.
Kejadian itu meninggalkan ketakutan warga Telukbetung terutama yang berada di pesisir pantai. Mereka trauma peristiwa Aceh, apalagi ditayangkan berulang-ulang di televisi. Seakan mengajak warga terus mengingat dan menghapal gambar demi gambar dramatik tersebut.
Umar teringat Cakra. Ia khawatir tangisan rakyat Aceh menjadi industri airmata.
“Orang Aceh sampai mati pun masih dieksploitasi,” ujar Cakra.
“Lihatlah, puluhan trilyun bantuan akan mengalir untuk merehabilitasi Aceh. Orang-orang sekejap saja lupa airmata Aceh. Mereka kembali saling mencakar untuk menangguk keuntungan dari ribuan proyek yang dihamburkan ke seluruh wilayah Aceh,” kata Cakra.
Umar mengangguk-angguk. Ia membayangkan dampak psikis dan kehidupan sosial budaya rakyat Aceh pasca tsunami. Soal penyembuhan trauma korban anak-anak, serta adopsi mereka yang diatur pemerintah. Seakan ada ketakutan negara, generasi terputus ini menjadi “orang liar” yang sulit diidentifikasi di kemudian hari.
Umar menggambarkan 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Bayi-bayi Aceh akan bertanya siapa ibunya, dan di mana rumahnya. Karena tidak semua orang mampu menuturkan peristiwa memilukan itu berulang-ulang secara cerdas. Apakah orangtua mereka mati karena konflik TNI-GAM, atau karena bencana tsunami.
“Anak-anak itu terus menyimpan luka dari masa ke masa,” ucap Cakra.
Umar sudah tidak lagi tertarik gambar kesedihan Aceh yang ditayangkan berulang-ulang di televisi. Ia teringat cerita Cakra. Seniman kerempeng itu ternyata memiliki banyak catatan masa lalu.
“Alam suka murka dalam angka 26,” ungkap Cakra.
Menurut Cakra, tanggal 26 adalah “tarikh maut” yang terkait dengan bencana alam.
“Mungkin ini serba kebetulan, tapi tak ada salahnya buat kita semua untuk selalu waspada. Toh, di luar tanggal itu, beragam bencana juga menimpa umat manusia di berbagai belahan bumi,” paparnya.
Cakra menjelaskan sambil membuka buku catatannya. Ia lalu mulai memba-cakannya. “Kau dengar ini, Mar!” ujarnya sembari matanya tertuju ke buku yang kulitnya terlihat lusuh.
“Di buku ini diceritakan, Krakatau meletus dan meluluhlantakkan pesisir selatan Pulau Jawa dan sebagian pantai di Pulau Sumatera, terjadi 26 Agustus 1883. Gelombang Tsunami menerjang pula kawasan Serang, Anyer, dan Batavia, kini bernama Jakarta. Korban tewas tercatat 36 ribu orang. Gelombang tsunami yang timbul dari letusan Krakatau memuntahkan pula bebatuan dari dasar laut menuju daratan. Ribuan kali lebih besar dari bom sekutu di Hirosima-Nagasaki!”
“Seandainya kemarahan Krakatau masa sekarang, hitungan korban bukan puluhan ribu, Mar, tapi jutaan orang ,” jelas Cakra.
Cakra membalik halaman bukunya, “Pada 26 Desember 1932, gempa bumi melanda Cina Daratan, membunuh 70 ribu nyawa! Lalu 26 Desember 1939, gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter mengguncang wilayah Erzincan, Turki, menewaskan 41 ribu orang. Kemudian 26 Desember 2003, gempa bumi 6,5 Skala Richter menerjang wilayah Bam, Iran, membunuh 45 ribu jiwa.”
“Terakhir, 26 Desember 2004, gempa dan tsunami menerjang Aceh dan Nias, serta beberapa negara lain di Asia. Sedikitnya lebih 150 ribu orang meninggal dunia!”
Cakra berhenti membaca. “Nah, terbukti kan? Ilmu manusia enggak ada apa-apanya diadu sama ilmu Tuhan,” pesan seniman itu sembari meletakkan buku ke meja.
“Nah, yang kita rasakan sendiri di kota kita, sejak 20 Mei 2006, gempa tektonik terjadi di wilayah Kemiling!”
Gempa di wilayah Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung itu, terjadi puluhan kali setiap hari dengan kekuatan berkisar 3-4 Skala Richter. Gempa yang terjadi siang dan malam hari itu, membuat panik warga, sebagian besar warga tidur di tenda-tenda darurat yang mereka dirikan di halaman depan rumahnya.
Gempa yang disebut oleh Badan Metreologi dan Geofisika jenis gempa “Swarm” ini berlangsung selama dua bulan lebih. Gempa “Swarm” menurut pihak Mitigasi Bencana Geologi, Vulkanologi, dan Tsunami BMG Pusat, gempa yang frekuensi terjadinya relatif lebih sering, tetapi kekuatan gempa kecil di bawah 5 Skala Richter.
Gempa jenis Swarm biasanya terjadi di daerah tinggi seperti pegunungan atau perbukitan di Lampung. Gempa ini terjadi akibat ada pegeseran garis sesar pada perut bumi. Getaran gempa akan terus berlangsung dan berhenti sampai adanya kestabilan lapisan tanah di perut bumi.
Dari alat pantau digital portabel yang dipasang di sebuah gedung sekolah dasar di sekitar terminal Kemiling, terekam setiap hari rata-rata di atas 50 kali terjadi gempa. Ada yang kekuatan kecil yang tidak dirasakan warga.
Menurut alat pantau tersebut, pusat gempa berada di sekitar Gunung Betung dengan kedalaman di bawah 15 Kilometer. Jika kekuatan gempa cukup tinggi, getarannya dirasakan warga hingga ke Panjang dan Telukbetung.
“Ya, baru kali inilah, Cak, saya merasakan gempa yang berulang setiap hari,” tanggap Umar.
“Dan perlu kau ingat pula, Mar. Meski gempa di kita tidak menelan korban, tetapi 27 Mei-nya gempa menguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dilaporkan ribuan orang meninggal dunia dan luka-luka, ribuan bangunan roboh dan rusak! Alam kembali marah!”
Umar sejenak tertegun. Ada kagum. Ada ketakutan. Ia membayangkan apa yang diceritakan Cakra. Setelah laut marah, tidak lama lagi langit dan lapisan ozon akan begitu pula. Karena bolong akibat rumah kaca dan racun pestisida. Umar merasa penting merenungkan ucapan Cakra, kemarahan alam tersebut dapat kita bendung dengan menumbuhkan kembali sikap leluhur yang sangat menghargai alam bersama kearifan lokalnya.

28
Fajar baru saja meratakan biasnya di Ujungboom. Usai sholat subuh, Baya sengaja meluangkan waktu menunggu sunrise di Teluk Lampung. Ia menoleh ke kapal ikan dan perahu nelayan yang terbingkai kabut tipis. Mereka mulai bergerak menyambut pagi. Dari jalan kecil Baya menuju ujung dermaga.
Sambil duduk di bangku warung nasi pojok dermaga, Baya melepaskan pandangan ke pulau-pulau sekitar Teluk Lampung. Ia sepertinya hendak bernostalgia masa remajanya, berperahu, berjalan setiap libur minggu. Dulu, Ia sering diajak Umar berperahu ke Pulau Condong.
Isteri nelayan itu seperti kembali belajar mengenali laut dan karma. Baya tidak pernah lupa bau asin laut. Bau khas genangan air di bawah rumah-rumah kumuh nelayan kawasan Ujungboom dan Gudang Lelang itu.
Setiap pagi nelayan dan kapal-kapal ikan disibukan oleh kegiatan sandar dan bongkar muat di dermaga itu. Setelah diturunkan dari kapal, ikan-ikan segar diangkut ke tempat pelelangan ikan di dermaga Ujungboom. Dulunya pelelangan ini berada di pasar Gudang Lelang, hanya berarak 100 meter dari dermaga.
Waktu telah mengubah kesadaran nelayan di sana, ketika beberapa tahun lalu pemerintah kota memindahkan, sekaligus memusatkan pelelangan ikan ke TPI Lempasing. Para nelayan sempat aksi unjuk rasa. Bahkan beberapa kali terlibat bentrok, saling lempar bom ikan, antara nelayan Ujungboom dengan sekelompok preman yang dipakai dinas perikanan kota bersama para bos dan juragan ikan. Sampai akhirnya TPI Gudang Lelang di Ujungboom dan Gudang Agen, kembali aktif. Kapal-kapal nelayan dibebaskan memilih, bongkar di Ujungboom, Gudang Agen atau di Lempasing.
Perebutan wilayah lelang itu sangat wajar, mengingat dalam satu pekan tran-saksi jual beli ikan ini mencapai satu miliar rupiah lebih. Pemda kota punya kepen-tingan terutama dari retribusi dan pungutan wajib lainnya.
Baya kembali tertegun ketika mengenang peristiwa demi peristiwa di Ujungboom. Ia menyadari tak mungkin menghentikan perjalanan waktu dari masa lalu. Ia menarik nafas dalam menatap laut. Seperti hendak menceritakan kembali riwayat hidup ia dan suaminya, serta milik mereka yang berharga, Lina dan Gofur.
Baya baru sadar kalau bayi perempuannya itu kini telah dewasa. Lina berkembang menjadi gadis cantik dan cerdas. Baya melahirkan putri sulungnya itu melalui operasi besar, setelah bidan di kampungnya tak sanggup mengeluarkan bayi itu secara normal. Banyak suka duka perjuangan Baya dan suaminya, masa itu. Umar terpaksa menjual semua tabungan emas mereka. Mereka juga masih harus berhutang untuk mencukupi biaya operasi. Wajah Baya terlihat sedih. Ia teringat pengorbanan suaminya yang begitu besar untuk keluarganya. Baya merasa berdosa.
Matahari mulai menyembul kuning. Baya berkemas menata pagi. Pulang dari dermaga, ia langsung membersihkan tubuhnya berulang-ulang. Sementara Gofur baru selesai sarapan pagi dan bersiap pergi ke sekolah. Siswa kelas tiga SD Negeri itu, sudah tidak lagi diantar jemput sekolah.
Lina sibuk menimba air sumur yang sedikit asam karena terintrusi air laut. Sudah tiga hari ia tidak mencuci pakaian. Baskom plastiknya penuh berisi pakaian kotor.
Baya menatap dalam-dalam tubuh anak perempuannya itu. Ada kesedihan dipendam. Sebuah penyesalan dan kekecewaan yang mendalam. Sulit untuk dilukiskan apa yang bergejolak dalam dada wanita itu. Baya tak tahan terlalu lama memandangi tubuh Lina yang terduduk mencuci pakaian kotor di dalam baskom air itu.
Beberapa saat setelah Gofur pamit pergi sekolah, Baya bersiap berangkat ke rumah Boni. Hari itu ia sengaja tidak berjualan kue. Ia melenggang tanpa membawa dagangan kue menyusuri gang sempit menuju ke rumah Boni. Tidak seperti biasa, ia jauh lebih pagi tiba di rumah majikannya.
Lastri sudah dua hari tidak di rumah. Ia pergi bersama Umar ke Lembang, Jawa Barat. Katanya mengikuti kursus soal budidaya ikan kerapu selama lima hari. Kursus tersebut diselenggarakan HKTI yaitu organisasi kerukunan petani dan nelayan, berkerjasama Departemen Pertanian.
Boni masi tidur ketika Baya tiba di rumahnya. Sambil memasak nasi dan menyapu, Baya mengetuk pintu kamar Boni. Ia sengaja mengetuknya agar majikan suaminya itu bangun lebih pagi. Begitu tahu Baya sudah datang, dengan bersemangat Boni keluar dari kamar tidur. Ia langsung buru-buru mandi.
Baya sempat membolak-balik album keluarga Boni di bufet ruang, sambil me-rapikan susunan album-album yang berantakan dan diselimuti debu. Ia melihat foto-foto Lastri dan Boni ketika masih muda. Foto kanak-kanak Boni diapit bapak dan ibunya. Dari foto keluarga Boni itu tergambar bahwa orang tua Boni memang berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
Baya cepat merapikan kembali album ketika mendengar siulan Boni dari kamar mandi. Boni menuju kamar tidur. Baya lalu ke dapur mematikan kompor memasak air. Ia membuat kopi untuk Boni. Ketika menuangkan air hangat ke gelas, wajah putrinya, Lina, sempat membersit di pikiran Baya.
Sambil mengaduk kopi, ia menghelah nafas panjang. baya merasa seperti seekor sapi dunguh yang tidak dapat berbuat apa-apa. Wajah suaminya, Umar, juga muncul dalam pikirannya. Baya tidak tahu apa yang dilakukan suaminya dengan Lastri selama lima hari di Lembang. Ia hanya bisa memarahi dirinya sendiri yang tidak berdaya.
Baya tersentak dari lamunannya, ketika Boni mendekapnya dari belakang. Bau parfum yang dikenakan lelaki ini menusuk hidungnya. Baya tidak sempat berbuat apa-apa ketika lelaki ini langsung memeluk dan menciumi sekujur lehernya.
“Sebentar Pak, sabar. Saya letakkan kopinya dulu ke meja,” sela Baya.
Tetapi Boni tidak memberikan kesempatan sedetik pun. Ia begitu bernafsu menciumi dan meremas buah dada Baya dari belakang. Baya tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi serangan majikannya. Ia membiarkan saja Boni menggerayangi tubuhnya. Dapur menghembuskan aroma purba. Baya lalu membalikkan badan menghadap Boni. Ia mengangkat tubuh duduk ke meja dapur sembari membiarkan Boni melucuti celananya.
Keduanya seperti bersepakat bercinta seharian. Seakan melakukan hendak be-pergian jauh dengan mengumpulkan leda-kan nafsu, kebengisan, serta orgasme yang lama sekali. Keduanya menyisir pojok demi pojok ruang dalam rumah panggung itu dari dapur, ruang makan, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi, sampai ke ruang depan. Mereka bercinta berpindah-pindah sembari menciptakan fantasi-fantasi lain.
Tubuh Boni banjir keringat. Seumur-umur ia belum mengalami petualangan seks seperti itu. Boni berulang-ulang melepaskan spermanya. Hingga akhirnya roboh di bale-bale kayu berukiran Jepara itu. Lelaki ini tergolek lemas. Tenaganya habis terkuras. Napasnya terdengar mendengus cepat.
Seperti dirinya, Baya membiarkan majikan suaminya itu tergolek di bale-bale masih dalam keadaan telanjang. Ia lalu pergi ke dapur. Tidak beberapa lama, Baya kembali ke beranda tengah. Tangannya menggenggam pisau dapur. Ia lalu menghampiri Boni masih tergolek di atas bale-bale. Ia sempat menoleh keluar rumah panggung itu melalui jendela di sebelah bale-bale. Baya menatap ke laut dan bagan ikan yang masih tetap setia di tempatnya. Baya merasakan tamparan angin laut ke tubuhnya yang masih telanjang.
Wajah Baya terlihat pucat. Pelan-pelan ia dudukkan tubuhnya di atas pinggang lelaki yang berbaring tertelungkup itu. Dengan tubuh yang masih lemas, Boni sempat beberapa detik tersenyum ke arah Baya sembari menahan sesak nafasnya tertindih tubuh Baya.
Senyum khas Boni sangat dihapal Baya, setiap usai mereka melepaskan birahi seksnya. Baya lalu memijat-mijat punggung Boni.
Baya terus memijat, sampai Boni tertidur. Hanya hitungan detik. Tiba-tiba tangan kiri perempuan itu mencengkram rambut Boni dan menariknya ke belakang. Boni tersentak. Secepat kilat, pisau dapur itu menyambar leher Boni dan berulang-ulang menyayatnya. Boni tak sempat lagi bereaksi ketika darah muncrat dari lehernya yang tertarik kencang ke belakang.
Lelaki itu hanya beberapa kali sempat menggerakkan tangannya yang tak bertenaga. Tetapi tidak berarti apa-apa, karena kedua tangannya terjepit kaki Baya yang duduk di atas punggungnya.
Isteri buruh nelayan itu terus menekankan pisaunya ke leher yang mulai menganga itu, sambil menggerakkan ke kanan dan ke kiri. Berulang-ulang seakan hendak melepaskan kepala lelaki itu dari lehernya.
Baya tak sempat menatap mata Boni yang terbuka lebar. Mata itu seperti mata seorang anak kecil saat ditidurkan ibunya. Tidak ada kesakitan. Ekspresi wajah lelaki itu seperti sedang menuntaskan kenikmatan birahinya. Darah dan keringat bercampur jadi satu lelehan yang sulit diejakan bahasa tubuh yang masih telanjang itu. Kepedihan atau kenikmatan menjadi satu kegiatan tubuh Baya dan Boni hari itu.
Kedua tubuh telanjang itu mulai bergelut dalam kubangan darah yang menebar amis kemana-mana. Tubuh mereka basah dibalut lelehan darah. Baya mengangkat kedua tangannya yang menggengam kuat pisau itu ke atas. Kemudian dengan tenaga penuh menancapkan pisau itu berulang-ulang ke punggung Boni. Semakin deras darah tumpah dari punggung lelaki yang sekarat itu, semakin kencang pula pisau itu menghujam ke punggung itu.
Baya sangat menikmati gerakan itu. Seperti mencari sudut-sudut kenikmatan saat bercinta dengan Boni. Rambut Baya yang hitam berubah kemerahan bermandikan darah. Keringat berwarna merah dari wajahnya jatuh ke dada lelaki itu.
Tubuh sang majikan itu, lalu menegang keras, semakin keras. Kemudian kaku. Seperti baru saja melepaskan spermanya yang terakhir.
Dalam keadaan tak bernyawa Baya membalik tubuh Boni. Lalu kembali menghujamkan pisau itu berulang-ulang ke perut, dada, dan bagian tubuh yang terlentang itu. Sekujur tubuh mulus perempuan itu basah berlumuran darah.
Tindakan sadistis Baya belum berakhir. Ia lalu menarik kemaluan Boni yang tergeletak lemas. Kemudian menyembelih pangkalnya hingga terpotong dari tubuh.
Tidak ada suara atau teriakan kesakitan. Hanya deru nafas Baya yang terduduk bersandar di samping bale-bale. Sementara darah mulai pelan-pelan jatuh ke lantai. Sebagian lagi merayap turun melalui kaki bale-bale kayu itu. Dinding papan di sekitar bale-bale kayu rumah panggung itu dipenuhi bercak darah.
Baya menyapukan tangan kirinya ke wajah, mengusap lelehan darah di wajahnya. Ia bersihkan darah yang mulai terlihat mengental di kedua puting payudaranya. Ia seakan terbiasa mencium bau anyir darah. Tangan kanannya masih menggenggam pisau dapur. Sementara tangan kirinya masih menggenggam erat batang kemaluan Boni yang terpotong.
Entahlah, kenapa sesadis dan sekotor itu penggambaran sosok Baya membalas sakit hatinya kepada lelaki Bugis itu.
Baya bukanlah seorang Gerwani, kendati bapaknya dituduh aktivis PKI. Penggambaran sadisme Baya, persis propaganda jenderal-jenderal Orde Baru terhadap PKI. Propaganda sadisme Orba tersebut banyak diobrolkan orang mengadopsi penceritaan sastrawan Perancis Emile Zola dalam karyanya Germinal Tahun 1884 lampau.
Salah satu potongan sejarah karangan Orde Baru yang menggambarkan sadistis aktivis Gerwani tersebut dengan kalimat seperti ini;
“....Tanggal 30 September 1965 malam itu, para perempuan menari-nari tanpa busana sembari bernyanyi lagu “genjer-genjer” di daerah Lubang Buaya. Kemudian menyiksa para jenderal, menyayat kemaluan para perwira itu, dan memasukkan ke dalam mulut mereka.”
Propaganda militer Orba berhasil membuat rakyat merinding ketakutan ketika bertemu mantan aktivis PKI. Meskipun hasil bocoran dokter yang melakukan visum et repertum terhadap jenazah para jenderal itu, tidak menemukan adanya luka sayatan di kemaluan perwira tu.
Lagi pula dari mana aktivis Gerwani memiliki ide untuk menyayat kemaluan jenderal? Apakah mungkin diilhami dari cerita “Germinal” karya Zola itu? Apakah tindakan Baya memotong kemaluan Boni juga terilhami cerita propaganda Orde Baru tentang tindakan sadistis perempuan Gerwani itu? Adakah di balik itu, terjadi perlawanan kelas antara isteri buruh nelayan dengan majikan?
Diksi seks, kekerasan, dan kemarahan seorang Baya, seperti kisah sepotong rotinya Zola yang masuk ke dalam mulut kemaluan buruh wanita ketika dicumbui majikan. Baya sudah tak dapat menghitung berapa ratus kali sang majikan menjilati roti itu dalam kemaluannya. Baya tak pernah menolak atau tertekan. Baya menikmati roti sang majikan itu. “Hanya untuk sepotong roti, biarlah lelaki itu memuaskan birahinya di atas tubuhku.”
Demikian pemikiran Baya saat itu. Ia menimbang dua hal, menyelamatkan pekerjaan suaminya, dan mengamankan ekonomi keluarga. Meski ia ikut menikmati kekerasan yang diberikan Boni.

29
Baya masih tertegun bersandar di bale-bale yang menjadi saksi sejarah perselingkuhannya dengan lelaki Bugis itu. Seperti pertunjukan teater, Baya juga menyelesaikan prosesinya di atas bale-bale itu. Bau tubuh lelaki bertubuh gembur itu sempat dinikmatinya sesaat. Mungkin tetap tersimpan dalam kamar birahinya. Sebagaimana ketika pertama kali ia mengenali tubuh suaminya.
Pandangan Baya menerawang. Ia tidak mengerti peristiwa yang berlangsung sangat cepat itu. Ia tidak menyangka mampu melakukan prosesi itu begitu tenang dan wajar. Baya hanya merasakan apa yang dikerjakannya merupakan bagian dari pekerjaan rutin sehari-hari, seperti memasak dan mencuci. Baya membunuh dalam kesadaran nyata bukan fiksi atau mimpi. Baya pun melakukannya dengan senyuman.
Baya membunuh begitu sempurna. Sesempurna ketika Boni menggauli dirinya dan Lina. Baya tidak tahu apakah ia membunuh dalam kesadaran harga diri, atau karena begitu banyak yang ia korbankan untuk memuaskan nafsu bejat sang majikan.
Sejak pergi menuju rumah Boni, Baya sudah bertekad menebus pengorbanannya dengan membunuh lelaki itu. Kesempatan pun muncul, ketika Lastri dan Umar berangkat ke Lembang, dua hari lalu.
Kepedihan Baya mencapai puncak. Lina hamil akibat perbuatan Boni. Lina mengaku diperkosa Boni saat bermain ke rumahnya. Lina bercerita rinci, awal ia dirayu dijanjikan akan dikuliahkan, kemudian diberi uang banyak, sampai akhirnya dipaksa melayani Boni.
Lina tak kuasa menolak ketika harus membuka bajunya dan melayani Boni di atas bale-bale kayu beranda tengah, tempat dimana Baya pertama kali menyerahkan tubuhnya kepada Boni..
Dengan gamblang Lina bercerita kejadian itu dilakukan berulang-ulang. Tidak hanya di rumah Boni, tetapi juga di dalam mobil, di hotel, di pinggir pantai daerah Lempasing, serta sejumlah tempat penginapan di Bandar Lampung. Lina melakukan itu setiap Boni menjemputnya pulang dari sekolah.
Lina mengaku tak mampu menolak, karena segan dan takut dengan ancaman Boni. “Ia mengancam memecat Bapak, Bu!” ungkap Lina sambil menahan isak tangisnya. Lina mengaku, diberi uang setiap habis melayaninya.
Hati Baya semakin teriris. Karena apa yang dilakukan Boni kepada Lina, sama yang dialaminya. Butiran air mata menetes dari wajah Baya. Ia menangis bukan karena sedih. Tetapi karena menahan gumpalan demi gumpalan kemarahan yang tak tertahankan.
“Hubungan kami berlanjut sampai Lina kuliah, Bu,” lanjut Lina. “Sesuai janjinya, ia membantu biaya masuk kuliah. Tetapi, Ibu tidak tahu, kalau imbalannya aku harus selalu bersedia melayaninya.”
“Meski hamil, aku menolak dikawini lelaki itu, Bu,” ujar Lina. “Biarlah bayi ini aku pelihara sendiri,” tegasnya dengan menampakkan wajah sedih.
Baya tersenyum mengenang pengakuan putrinya. Ia merasa telah melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Baya puas membantai Boni. Memotong lehernya. Menyembelih kemaluannya. Dan merasakan bau amis darahnya. Baya menoleh ke tubuh Boni yang sudah mengeras berlumur darah. Ia tertawa-tawa sendiri.
Baya bangkit dari lantai papan rumah panggung itu. Ia tak mampu menghentikan tertawa. Seperti sebuah kemenangan. Baya lalu membenamkan potongan kemaluan Boni ke mulut lelaki yang masih menganga itu. Lagi-lagi Baya tertawa terpingkal-pingkal sendiri. Tubuh lelaki di atas bale-bale itu terlihat tumbuh menjadi metafora dari kehidupan dan kematian sejarah dirinya sendiri.
Dengan tubuh telanjang, Baya terus memuaskan tertawa sembari memungut pakaian di lantai. Pergi menemui sejarah pada ruang yang lain.
“Hei! Perempuan tak tahu adat! Hentikan tawamu!” bentak Denok, rekan sesama penghuni kamar sel itu. “Dasar perempuan binal! gila!” teriak yang lainnya.
“Mbak! teman-teman kita terganggu,” ujar Hesti sembari memegang pundak Baya. Baya berhenti tertawa. Kedua tangannya memegang tiang jeruji terali. Matanya menatap kosong ke lorong blok penjara Rajabasa itu. Hesti lalu menepuk halus pundak Baya. Ia mengerti tekanan batin yang dialami perempuan itu.
“Kita lupakan masa lalu,” bisik Hesti ke telinga Baya memberi semangat.
Baya tertegun di sela-sela terali besi kaku dan dingin itu. Tatapannya kosong. Wajahnya terbingkai rambut yang semakin panjang.
“Biarkan saya sendiri,” pinta Baya.
“Istirahatlah,” jawab Hesti.
“Kenapa mereka tak pernah lagi kemari. Oh, Gofur anakku. Lina, putriku yang malang. Dan cucuku, cucuku, kau pasti sudah pandai tertawa. Berdiri, berlari. Ah, kau pasti lucu. Lihatlah aku.. perempuan tua yang kotor dan sia-sia..” ucap Baya tanpa ekspresi.
“Seminggu ini mereka pasti datang.”
“Saya rindu sekali.”
“Mereka juga pasti rindu,” sahut Hesti menjinakkan kerinduan Baya.
“Tidak! Mereka tidak akan kemari lagi! Mereka malu punya Ibu dan Nenek seorang pembunuh! Mereka malu..! Mereka malu..! Ibunya biadab! Ibunya biadab!” Baya menguncang-guncangkan tubuhnya ke jeruji besi penjara.
“Hei! Perempuan sialan! Berhentilah berteriak-teriak!” bentak Denok lagi.
“Brisik, tahu!” sambung penghuni sel lainnya.
Baya mendadak berhenti berteriak. Ia berbalik menatap ke Denok dan tahanan lainnya. Raut mukanya terlihat memendam kemarahan. Denok dan tiga rekannya membuang muka acuh tak acuh.
“Maafkan. Saya mengganggu ketenangan kalian,” ujar Baya.
Ia lalu mendekati Denok dan tahanan lain.
“Seharusnya kalian tinggalkan aku sendiri di kamar sel ini,” ujar Baya sembari berjalan ke WC meninggalkan Hesti, Denok dan ketiga kawannya yang menunggu-nunggu kalau ada ucapan lain terlempar dari mulut Baya.

30
Kamar sel Baya malam itu seakan dipenuhi ribuan kucing-kucing berkuku tajam, kotor, menjijikkan. Baya, Hesti, seluruh penghuni kamar penjara Blok D hari itu seakan kawin dan bersetubuh. Lalu bunting dan terus menerus melahirkan kucing-kucing yang menjijikkan. Satu per satu hewan ini mengacung-acungkan tangan kirinya ke atas. Sementara tangan kanannya mengenggam tikus-tikus penuh darah — yang barusan dirobek dengan cakarnya. Mereka meraung. Suaranya koor rapi seperti tentara menyanyikan lagu kebangsaan.
Kemudian kembali mencakar-cakar tembok penjara. Melubangi lantai semen. Mencakar-cakar panggung atau bale papan, mengoyak bantal. Mengoyak selimut dan barang-barang perempuan di kamar sel itu. Kucing-kucing itu mengamuki seisi kamar sel. Mereka kembali mengeong dengan suara koor yang menakutkan. Firasat apa? Jutaan kucing berkuku seperti tentara dengan sangkurnya yang runcing.
Peristiwa kucing-kucing itu, bukanlah sebuah mimpi yang memamerkan luka atau penderitaan. Karena mimpi seekor kucing bukanlah mimpi seorang tentara yang pernah mengirimkan senjata dan menembakkannya berkali-kali ke tubuh seorang mahasiswa bernama Rizal.
Anak muda itu bukan Che Guevara, si pemberani dari Selat Karibia – seperti wajah lelaki baret hitam di sablonan baju kaosnya. Atau sebuah kesedihan puitik dalam puisi yang tersimpan dalam buku harian demonstran. Atau tangisan pembantaian “Orang-orang Barunta” seperti dalam pentas Teater Potlot hari itu. Kucing-kucing di kamar sel meraung bengis. Menyusun bahasa; Memangsa atau dimangsa!
Kucing kotor itu bukanlah tahanan politik. Mereka terpidana karena kejahatan. Mereka meraung-raung bukan menahan pedih akibat kuku runcing yang saling mencakar. Seperti raungan batin Baya, yang menggerakkan dirinya membunuh Hesti, kemarin siang.
Baya mencekik leher Hesti dengan kain, saat sang jurnalis itu tidur. Prosesi itu berjalan begitu cepat. Seperti tidak ada sesuatu luar biasa. Semua menjadi wajar dan biasa saja. Tidak ada teriakan kesakitan atau bentuk perlawanan lainnya. Baya telah menyelesaikan proses penaklukannya hari itu. Sebentar lagi ia akan membunuh satu persatu kawan sekamar selnya.
Penjara dan kekerasan menjadi kekuatan menolak ditaklukkan. Baya harus berani membunuh dan terus membunuh untuk mempertahankan dirinya dari ancaman di sekelilingnya. Setiap orang adalah musuh. Dan kuku runcing seekor kucing menjadi siluet kekerasan, di balik gradasi kecemasannya.
Baya dan Umar adalah kucing yang mencakar kemana saja. Mereka adalah orang-orang pesisir yang dilahirkan karena proses kekuasaan dan penaklukan. Keduanya terkotakkan menjadi sebuah negara, ketimbang persamaan ras sebagai sebuah identitas. Along dan Lina, atau Mei Hwa, Boni dan Lastri, atau Neneknya Hesti, aktivis Gerwani itu, adalah orang-orang yang juga lahir dari proses kekuasaan dan penaklukan.
Baya dan Umar adalah prosa yang bermukim dalam kawasan tanpa sejarah dan identitas. Keduanya terseret spiritualitas semu dari kisah perjuangan nenek moyang. Mereka mengaku berjuang, tetapi orang lain menjadi pahlawan.
Syair kedigjayaan Lampung ternyata muncul dari daratan seberang. Seorang lelaki berkulit hitam, berkebat kepala, berdiri tegap di bundaran pintu masuk kota. Ia bertolak pinggang. Wajahnya mendongak ke langit. Menantang matahari. Seakan hendak menjelaskan sebuah kota yang dibangun dari kekerasan bajak laut.
Samar-samar Umar melihat Radin Intan mondar-mandir sibuk menjaga ribuan simbol yang harus diamankan dari buku sejarah hari ini. Umar ingin menangisi kota yang sudah tak bertuan. Hanya patung lelaki berkulit hitam dan berbulu tebal berdiri kaku di pintu kota. Tanpa aura. Tanpa denyut sejarah. Ia laksana monumen kaum pendatang dari seberang, yang begitu lancang menyimpulkan kisah perjuangan leluhurnya.
Baya dan Umar bukanlah prosa menarik untuk dikisahkan kembali hari ini. Karena tidak pernah ada penyesalan terucap dari mulut mereka. “Aku telah mengkhianti isteriku.” Atau pengakuan Baya, “Aku mengkhianati cinta suami dan anak-anakku.” Atau, “Maafkan aku, Bapak. Maafkan aku, Ibu. Aku telah mengkhianati kepercayaan dan harapan kalian.” Kalimat itu tidak akan pernah terucapkan oleh Lina, yang sekarang memomong bayi hasil nafsu bejatnya bersama Along – bukan dari Boni yang gagal memberi anak kepada isterinya, Lastri.
Bapak, Ibu, dan Anak itu, telah mengkhianati kesepakatan dalam keluarga mereka sendiri. Semuanya begitu cerdas memainkan peran masing-masing. Lina berhasil memanfaatkan situasi saat itu. Ia merasa jadi pemenang ketika sang Ibu harus menebus aib keluarga ke penjara. Sementara Lina tak pernah merasa malu melahirkan bayi tanpa suami.
Kehidupan di kamar sel Rajabasa, romantisme di pesisir Teluk Lampung, dan kelicikan industri di sepanjang Panjang-Telukbetung, seperti satu kesatuan dari potongan peristiwa kekerasan dan pengkhianatan masa lampau. Mereka menjadi kesatuan dari proses kekuasaan dan penaklukan dari pada kesamaan sejarah sebagai sebuah identitas.
Lantas, apakah mereka ikut ke dalam proses itu sendiri, seperti kehidupan di Telukbetung, serta proses kekalahan orang-orang pesisir oleh sebuah sistem penaklukkan yang telah berlangsung beratus tahun lampau.
Baya dan suaminya Umar, adalah pertemuan dua orang dari daratan yang berbeda. Sebagaimana proses penaklukkan ketika masuknya Belanda, Inggeris, Banten, Melayu, China, dan Jawa ke wilayah itu. Mereka berasimilasi, kawin dan melahirkan anak sebanyak-banyaknya. Anak itu adalah Umar dan Baya. Atau Along, Lina dan Mei Hwa, Hazairin yang dituduh aktivis PKI dan nenek Hesti anggota Gerwani, Jawad sang aktivis LSM, atau semua orang yang ada di pesisir Teluk Lampung.
Telukbetung menjadi pertemuan sebuah proses kekuasaan dan penaklukan. Umar, putra pesisir Lampung yang menolak ditaklukkan. Tetapi ia tidak berperang atau melakukan perlawanan. Ia dendam. Tetapi tidak mampu membunuh atau menuntut Boni yang memperkosa isteri dan anak gadisnya.
Maka, dalam mimpi Umar, tidak ada kesaksian kucing meraung dan mencakar-cakar tembok penjara. Tidak ada perlawanan terhadap keadaan yang menindasnya. Tidak ada perjuangan ideologi atau harga diri sebagai seorang lelaki, buruh nelayan.
Umar menyerahkan jiwa raga, harga diri ia dan keluarganya kepada Lastri, sang majikan itu. Bahkan spermanya dipaksa memberikan anak kepada Lastri.
Tidak ada kesaksian peristiwa dua keluarga di pesisir itu. Umar tetap saja menjadi buruh. Ia menerima upah dari jerih payah melayani Lastri, sampai memberikan seorang bayi ke rahim majikannya itu. Ya, buruh tetaplah buruh. Umar selalu saja memposisikan dirinya sebagai buruh sekali pun di atas ranjang tidur sang majikan.

31
Lebih dari penandaan genetik ketika seorang lahir dari pembuahan sperma bapak. Ia membawa satu peradaban baru. Kelahiran dari jutaan perut ibu, tetapi hanya satu peradaban. Seperti jutaan spermatozoa mengejar sel telur, hanya satu yang menembus membran. Hanya satu bapak yang melahirkan ribuan bahkan jutaan anak serupa. Begitulah dialektika keahiran sang anak.
Lina melahirkan anak perempuan tanpa operasi. Proses persalinan dibantu bidan di kampungnya.
Lina merasa plong. Ia baru melewati hari-hari penuh kecemasan. Setelah sembilan bulan lebih melakukan petualangan yang sulit. Tidak terbayangkan jika diselesaikannya dengan baik. Lina tidak tahu siapa menang dan siapa dikalahkan. Baginya, itu tidak begitu penting. Karena bayi perempuan di momongannya sebentar lagi akan besar, dewasa, bertualang dan bercinta.
Lina menghendaki lahir ratusan bahkan ribuan bayi dari perutnya. Ia ingin mereka bertualang seperti dalam sejarah. Mengarungi lautan, menaklukkan setiap dermaga. Bayi-bayi itu akan menguasai samudera. Seperti laksamana, berdiri tegar di atas haluan kapal sembari menatap langit, dan berteriak lantang ke angkasa.
Seperti cerita-cerita buku sejarah yang pernah dibacanya: “Kamilah perompak ulung! penakluk Mongolia!”. Dan bayi-bayi itu lalu melahirkan peradaban baru. Peradaban yang kebingunan. Hanya menjanjikan remah-remah ideologi yang berceceran. Lina terdiam. Ia sulit membuka mulutnya -- ketika di hadapannya melintas kereta api trans nasional mengangkut ratusan pasang sepatu jenderal. Sepatu-sepatu tua itu bertengger angkuh di kursi kebangsaan. Nasionalisme semu, pikirnya.
Bangsa yang dijaga senjata.
“Peradaban semakin tua...” bisik hati nuraninya.
Lina tak akan meramal dan membayangkan kelak bayinya akan menjadi apa. Apakah menjadi rakyat atau menjadi negara. Semua butuh kekuasaan.
Waktu kadangkala membatasi keinginan manusia. Lina mulai kesulitan mengenali bapak dan ibunya. Hanya Gofur penandaan sejarah yang masih terbaca Lina.
Perempuan itu seolah melukiskan dirinya sebagai Kafka yang menulis surat kepada sang bapak, minta disemati sebuah negara tanpa sejarah. Negara di mana ia punya keluasan menentukan hidup sendiri.

32
Along dan Ayung terlihat berdiri sombong menyaksikan puluhan bahkan ratusan perahu kecil dan besar berhias bendera. Mereka melaju berlintasan di perairan Teluk Lampung. Lomba perahu seakan hendak memomentumkan kembali teks sejarah sebuah negara.
Peringatan Hari Pe Cun atau hari peringatan cinta tanah air itu, menyemangati Along dan Ayung untuk menghidupkan kembali mitos-mitos perlawanan Kut Guan atau Qu Yuan, terhadap penindasan bangsa China.
Duka mendalam dirasakan Kut Guan menyaksikan negaranya dihancurleburkan musuh. Kut Guan bunuh diri menyeburkan diri ke dalam sungai. Mayatnya hanyut terbawa arus air. Seluruh rakyat beramai-ramai berperahu ke sungai untuk menemukan jasadnya supaya dapat dikramasi.
Selama pencarian itu masyarakat membuang aneka makanan terbungkus daun pisang ke air. Supaya ikan-ikan tidak memakan jasad atau tubuh Kut Guan sebelum ditemukan.
Along dan Ayung membuang kue bacang dan kwecang, yaitu nasi atau ketan yang dibungkus daun bambu, ke perairan Teluk Lampung. Along tahu bahwa sejak Hari Pe Cun, pada bulan lima tanggal lima Imlek itu, ia tidak akan bertemu lagi dengan Mei Hwa. Ia telah menikah dengan teman selingkuhnya, Beni.
Meski tidak bercerai, Along menolak diduakan isterinya. Ia memilih hidup bersama Ayung, lelaki yang sangat setia menemaninya, mulai urusan kerja hingga teman bertukar pikiran. Ayung pun merasa terlindungi selama bersama bosnya itu.
Along harus jujur dengan dirinya. Ia membutuhkan Ayung. Terutama sejak dikhianati Mei Hwa dan ditinggalkan Lina. Along merasakan ada kenikmatan lain ketika bersama Ayung. Lebih dari kenikmatan yang direguknya bersama Lina dan perempuan-perempuan lain.
Along tidak lagi membutuhkan kenikmatan seks Mei Hwa, Lina dan lainnya. Ia mendapatkan kepuasan yang baru dari tubuh laki-laki yang polos dan jujur itu. Di matanya, Ayung bukanlah sejarah Adam yang membutuhkan perempuan Hawa. Dalam tubuh Ayung tidak didapatinya kegelisahan seorang Lina dan perempuan lain.
Apa dirasakan Along juga dirasakan Lina. Kedua tubuh berlawanan jenis itu tidak memiliki kesepakatan sejarah. Anatomi tubuh menjadi liberal. Tidak ada batasan genetik siapa melahirkan siapa. Hanya reproduksi. Lina hanya membutuhkan anak dari sperma seorang laki-laki. Along hanya sebuah kebetulan. Sebagaimana Boni atau laki-laki lain yang pernah bersetubuh dengannya.
“Kalau soal kepuasan, bukan cuma dari laki-laki,” kata Lina kepada Lastri.
“Betul! Kita hanya butuh anak dari mereka,” tanggap Lastri.
“Mereka egois!”
“Kasar!”
“Licik!”
“Rakus!”
“Jorok!”
“Penindas!”
“Rakus!”
“Pengkhianat!”
“Dungu!”
“Bodoh!”
“Menjijikkan!”
“Haaahaaahaaa....!”
Lina dan Lastri tertawa puas sambil menimang bayi mereka. Keduanya sepakat hidup bersama. Lina tidak perlu pusing mencari pekerjaan, karena Lastri menguasai semua harta mendiang suaminya, Boni. Kekayaan itu tidak akan pupus, karena Lastri lebih mengerti menjalankan usaha. Lina tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah Gofur. Ia bisa sekolah setinggi mungkin. Lina tersenyum, karena ia pun turut menguasai harta Boni.
Lastri dan Lina baru mengerti jika di dunia banyak sekali pilihan kepuasan. Keduanya menemukan titik temu. Bercinta pun tidak berbatas jenis kelamin. Lina dan Lastri merasakan hal yang sama. Bahwa kepuasan bercinta akan hilang, ketika masing-masing pasangan berebut saling menaklukkan.
Lina dan Lastri membangun wilayah imajinasi seks yang lain. Hanya mereka berdua merasakan nikmatnya. Keduanya melepaskan birahi seks tanpa perlu mempersoalkan kelas antara buruh dengan majikan.
Sepertinya begitu humanis. Lina dan Lastri membuka kehidupan baru yang lebih liberal. Lebih demokratis. Mereka sepertinya lebih mampu mendamaikan benturan-benturan ideologi kebebasan masing-masing.
Lina dan Lastri bercinta seharian tanpa persoalan kelamin, ras, agama, dan orientasi seks. Mereka merasa bahagia hidup satu rumah dikaruniai dua anak, lelaki dan perempuan.
Bagi Lina tidak begitu penting mempersoalkan siapa lelaki, siapa perempuan antara ia dengan Lastri. Keduanya bisa saja tiba-tiba menjadi sosok lelaki dan sebaliknya, menjadi perempuan sesungguhnya. Kelamin tidak lagi menjadi piranti dominan dalam struktur domestik keluarga itu. Mereka bebas-bebas saja menentukan pilihan etika dan moral dalam kesehariannya. Nyaris tidak ada benturan ideologi dari keduanya. Orientasi hidup seakan dibiarkan mengalir dengan sendirinya bersama waktu. Meski begitu, keduanya sepakat memiliki tuhan dan menolak ateis.

33
Penjara Rajabasa malam itu kembali heboh. Belum reda dari peristiwa kematian Hesti, tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari kamar sel blok D-3. Empat narapidana perempuan di sel itu ditemukan sekarat berlumuran darah.
Tangan Baya bergerak cepat menghujamkan sikat gigi ke tubuh keempat perempuan itu saat mereka tertidur pulas. Mereka tidak sempat melawan atau menyelamatkan diri. Sikat gigi runcing itu, berkali-kali menikam bagian perut, leher, dan dada mereka.
Petugas penjara berlarian menuju blok D-3. Mereka mengamankan Baya yang semakin kalap. Keempat napi langsung dilarikan ke rumah sakit. Denok salah satu korban paling kritis, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Setelah kejadian menimpa Hesti, petugas penjara belum terpikir mengisolasi Baya ke kamar sel lain. Mereka sibuk mengurus dan mengantarkan jenazah Hesti kepada keluarganya.
Saat diperiksa petugas, Baya mengaku membunuh karena merasa terancam oleh orang-orang sekitarnya, termasuk para napi penghuni sel itu. “Untuk bertahan hidup aku harus membunuh atau dibunuh!” tegasnya setengah berbisik.
Petugas mengganggap Baya melakukan pekerjaan orang gila. Baya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Kurungan Nyawa. Apabila tidak terbukti mengalami gangguan jiwa, ia akan diancam eksekusi mati.
Seusai pemeriksaan, Baya tertawa-tawa. Ia berteriak kemenangan. Baya berputar-putar mengelilingi kamar penjara sambil bernyanyi lagu yang hanya ia sendiri bisa memahaminya. Lagu itu bukan lagu genjer-genjernya Gerwani. Suaranya tidak sedang merekayasa keperihan jenderal-jenderal dalam peristiwa Gestapu.
Putri Haji Hazairin ini sekan merekonstruksi peristiwa-peristiwa mengerikan era penumpasan gerakan PKI. “Aku bukan komunis! Bapakku bukan PKI!” teriaknya berulang-ulang.
“Hei! Kalian-kalian silakan tembak saya!..hahaha..”
Baya berteriak-teriak semakin keras sambil tertawa-tawa histeris. Matanya nanar menatap ke luar sel penjara.
“Saya muslim. Saya milik Tuhan....Ia mencintai saya!”
“Ayo...tembak saya! Hahaha...!”
Baya kembali meneruskan bernyanyi sambil membenturkan kepala ke jeruji besi penjara. Darah mengucur dari kepala. Memerahkan rambutnya yang tergerai kusut. Nyanyian itu perlahan berhenti.
Tubuh Baya ambruk ke lantai. Tidak lama terdengar pintu kamar sel dibuka. Samar terlihat kaki-kaki berdiri tepat di depan wajah yang tersungkur di lantai semen itu. Baya tak bisa mengenali kaki-kaki yang berbungkus sepatu hitam, ketika tubuhnya diseret ke luar penjara. Lalu semuanya begitu gelap.

34
“Dasar perempuan binal! Lonte! Mampus saja kamu!” umpat Lastri di depan Umar.
“Hei! Ingat ya! Aku tidak mau kamu menjenguk perempuan gila itu! Biarkan saja! Biarkan ia sekarat sampai mati! Dasar perempuan tak tahu diuntung!”
“Ia butuh bantuan. Saya masih suaminya, Mbak.”
“Terserah! Kalau kau tidak mau mendengar perintahku, silahkan pergi! Dan ingat, kamu jangan menginjak rumah ini! Saya tidak butuh kamu lagi!”
Umar hanya diam. Wajahnya terlihat tegang. Ia balikkan pandangannya ke luar rumah. Ia takut memandang wajah majikannya itu.
“Hei! Lelaki bodoh! Kamu dengar enggak omonganku?”
Umar tidak menjawab. Ia berjalan mendekati jendela. Pandangannya kosong ke arah laut. Dengan luapan marah Lastri mendekati Umar. Lalu dengan kasar tangannya mencolek telinga buruh nelayan itu.
“Kamu tuli, ya?”
“De..de..dengar. Mbak. Tapi tolong, tolonglah, Mbak.”
“Apa? Tolong? Hahahaaa...! Umar...Umar, aku sudah banyak menolong keluargamu. Setiap kalian kesusahan selalu larinya ke rumah ini. Sementara apa yang sudah kalian berikan? Tidak ada! Nol..! Hanya menyusahkan!”
Lastri diam sesaat. Ia menatap dari belakang tubuh kekar di jendela itu. Kemudian menyalip ke depan jendela dan berbalik menghadap Umar. Matanya menatap dalam ke wajah Umar. Kedua tangannya lalu merangkul pundak Umar. Buruh nelayan ini tidak bergeming. Ia melihat tatapan mata majikannya yang berubah asing. Perempuan itu lalu merapatkan tubuhnya ke Umar.
“Saya lupa, Mar. Ada, ada yang kau berikan kepadaku,” ucap Lastri pelanber lagak mesra. Umar Tak tahan menatap lama-lama mata Lastri. Ia mencoba menghindar dengan membuang tatapannya ke luar jendela. Tetapi Lastri lebih sigat. Kedua tangannya membalikkan kembali wajah Umar ke hadapannya.
“Ya...ini, benda ini, yang kamu berikan kepadaku, Mar. Cuma benda ini, Mar,” bisik Lastri pelan ke telinga Umar, sembari tangan kirinya menyentuh selangkangan celana panjang Umar, menggenggam kemaluan lelaki ini. Umar tetap diam.
“Dan Aku....tidak lagi membutuhkannya!” bisik Lastri sambil tersenyum lepas.
Umar tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia menatap laut. Melihat bagan dan perahu nelayan, juga kapal motor angkutan air yang menyeberangkan penumpang dari Pulau Pasaran menuju dermaga Ujungboom.
Lastri kembali berbisik. “Kau dengar lelaki bodoh...Aku tidak butuh lagi benda ini.” Lastri belum melepaskan dekapannya ke tubuh Umar. Tangannya masih menggenggam kemaluan Umar.
“Sekarang singkirkan benda ini dari rumah ini. Artinya, kamu harus pergi, alias kembali ke gubukmu. Menjadi buruh kasar yang menjijikkan. Ayo, lelaki bodoh! Sekarang juga kemasi barang-barangmu..” bisik Lastri pelan tanpa beban.
“Dan ingat, jangan bawa anakmu. Begitu pula Lina dan Gofur. Mereka sudah milikku. Aku yang membiayai hidupnya.”
Umar tidak bereaksi apa-apa ketika Lastri pergi menistakan seperti sampah. Ia berdiri tegap kaku, bagai patung semen yang tidak memiliki jiwa dan amarah. Umar tetap menatap laut. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Ia bahkan tidak ingat apa yang baru saja diucapkan Lastri kepadanya.
Sejak kematian Boni, Umar bersama Lina dan anak bungsunya Gofur tinggal satu rumah dengan Lastri. Ditambah bayi Lina dan bayi Lastri. Meski tidak menikah, namun Umar dan Lastri hidup layaknya suami isteri.
Keduanya tidur satu kamar. Namun ketika bayi hasil hubungan Umar dan Lastri usia 10 bulan, ada perubahan di diri Lastri. Ia mengusir Umar dari kamarnya. Ia sendiri tidur satu kamar dengan Lina. Sejak itu Lastri acuh tak acuh terhadap Umar. Ia memperlakukan Umar tidak sekedar buruh nelayan, tetapi persis seperti jongos.
Meski ada pembantu, Umar sering diperintah Lastri membersihkan rumah, mencuci piring, bahkan membuatkan minuman untuk tamu Lastri. Lina tahu kelakuan Lastri terhadap bapaknya. Tetapi ia terkesan tak peduli. Bahkan Lina pun sering meminta bapaknya belanja sayur.
Sejak pisah kamar, hanya beberapa kali dalam satu bulan Lastri mengajak Umar tidur. Umar merasakan hubungan seksnya dengan majikannya ini berubah aneh. Kadangkala ia harus menanggung perih tubuhnya akibat luka memar dari kelakuan kasar Lastri kepadanya. Tetapi Umar tidak menolak atau melawan. Ia ikuti saja apa keinginan Lastri. Bahkan yang tidak bisa diterimanya, ketika suatu malam Lastri mengajak Umar masuk ke kamar ia dan Lina.
Di kamar itu, Umar dipaksa menyaksikan Lastri dan Lina berhubungan seks. Bahkan Lastri memaksanya ikut bermain seks bersama Lina. Umar merasa harga dirinya betul-betul diinjak-injak Lastri. Tetapi anehnya ia tidak punya keberanian menolak apa lagi melawan kehendak sang majikan. Perilaku aneh itu beberapa kali berulang.
Umar beranjak dari jendela dan menarik kursi, lalu duduk menghadap kembali ke laut. Suara beduk Dzuhur menyadarkan ia dari lamunannya. Umar teringat Baya. Kemarin, ia mendapat kabar dari petugas Lapas Rajabasa, Baya mengamuk di penjara.
Petugas Rajabasa mengabarkan pula, Baya dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Umum Abdul Muluk. Kondisinya cukup kritis. Umar sangat terpukul. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menyesal. Sudah tak terhitung kesalahan dan dosa yang diperbuatnya terhadap isterinya.
Umar tak sanggup bertemu Baya. Ia tidak mau menambah beban penderitaannya. Sejak isterinya dipenjara, Umar hanya satu kali menjenguk, ketika mengantarnya dari sidang terakhir di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Setelah itu ia tak pernah lagi datang, karena selalu dihalangi Lastri. Sementara Lina dan Gofur pernah beberapa kali menjenguk, tetapi tidak bisa bertemu karena Baya menolak ditemui kedua anaknya, dengan alasan tak tega dan takut membuat kesedihan yang lebih dalam lagi terhadap kedua anaknya.
Umar masuk ke kamarnya mengemasi pakaian dan barang pribadinya. Sebelum pergi ia mampir ke kamar Gofur. Ia melihat wajah Gofur di pigura yang tercantel di sebelah tempat tidurnya. Sementara di atas nakas di samping tempat tidurnya, ada gambar perahu dibingkai kaca dipajang di sana. Umar menoleh kembali ke foto Gofur. “Wajah itu begitu polos,” ujar pelan. Beberapa saat Umar tertegun menatap foto itu. Tiba-tiba mata lelaki itu berair.
“Nak, Bapak pamit. Teruslah menggambar, Nak. Kemarin, Bapak lihat gambar perahumu. Bagus sekali! Kamu pintar...” ucap Umar kepada foto itu.
“Bapak pamit...Nanti kita bertemu lagi, berkumpul bersama Ibu. Kita bisa berperahu lagi. Menjelajah laut dan pulau-pulau. Itu pasti. Bapak janji...” bisik Umar pelan sembari menyeka air matanya.
Sebentar lagi Gofur pulang sekolah. Umar buru-buru meninggalkan kamar bersama wajah polos yang terbingkai pigura itu. Ia tak mau sampai ketemu Gofur. Sementara dari kamar belakang terdengar tangisan dua orang Bayi bersahut-sahutan. Umar sempat menoleh ke arah suara itu. Ia sempat tersenyum kecil, lalu pergi.

35
Angin Timur bertiup kencang melemparkan ombak laut, menghantam hingga ke paha bagan dan kapal ikan. Tidak ada nelayan melaut hari itu. Sejak pekan lalu, badai di Teluk Lampung cukup kencang terutama pada malam hari.
Seorang lelaki tertegun di bibir jembatan menuju dermaga Ujungboom. Rumah-rumah kumuh nelayan di sekitar dermaga terlihat samar tertutup kabut. Jalanan menuju Gudang Lelang tampak lengang.
Di perempatan gang, sepetak rumah panggung kecil nampak semakin reyot dan tua. Lelaki itu tersenyum kecil. Ia teringat bapak dan ibunya. Rumah yang ia tempati bersama isteri dan kedua anaknya itu, adalah sisa warisan kedua orang tuanya.
Lelaki itu lalu berjalan menyisiri jembatan. Tidak ada orang hilir mudik mengangkut ikan dan kebutuhan nelayan. Kondisi alam menghentikan aktivitas mereka.
Dari ujung dermaga lelaki itu memandang hamparan lahan reklamasi yang dibiarkan kosong dan terlantar. Hanya ada satu bangunan gardu pos yang dipasang portal besi tempat petugas keamanan proyek berjaga.
Kemudian pandangan lelaki itu kembali ke sekitar dermaga. Ia menoleh ke arah perahu kecil yang tertambat di pinggir dermaga. Perahu itu bertahun-tahun menjadi sahabat setianya di laut. Sembari melangkah ke arah perahu, ia sempat berpikir. Teringat anak lelakinya yang sering menggambar perahu itu.
Angin kencang di pinggir dermaga Ujungboom terus menampar kampung pesisir. Langit mendung. Lelaki itu terus menatap ke sekeliling dermaga. Rambutnya yang mulai beruban berantakan diterpa angin.
Suasana di pesisir Teluk Lampung, sore itu, terasa sangat asing. Perahu katiran dan kapal penangkap ikan yang bersandar di dermaga saling berbenturan diterjang ombak. Di media massa, Badan Meteorologi dan Geofisika memprediksi tinggi gelombang di perairan Teluk Lampung masih normal, karena di bawah satu meter. Meski pun menurut nelayan ketinggian gelombang sudah mencapai 1,5 Meter.
Kilat bersambut petir menyalak. Hujan perlahan turun. Lelaki itu tidak berusaha berlindung. Ia biarkan tubuhnya diguyur hujan. Wajahnya mulai terlihat pucat dan kedinginan. Giginya menggeretak. Hujan semakin deras. Seakan tidak memberi kesempatan lelaki itu mengenali kembali indentitas kampungnya.
Hanya sepintas wajah orang-orang tercinta terlihat di antara garis hujan. Mereka pergi semakin jauh. Wajah lelaki tersebut semakin tua dan pucat. Ia berusaha menemukan wajah terkasih di antara jeruji hujan yang kian lebat. Tetapi hanya kedinginan yang mulai membekukan tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari mulut lelaki.
“Baya..! Akulah pendosa! Lelaki sial yang bodoh!”
Entah apa maksud teriakan Umar warga pesisir itu. Terlihat tangannya merogoh saku celananya. Ada seutas potongan kain sabuk kecil dikebatkannya ke kepalanya. Kemudian seperti aktor tengah bermain drama, lelaki itu bertolak pinggang wajahnya menghadap ke laut.
“Baya...! bertahanlah, Bu! Kita lawan mereka! Kita lawan mereka!” pekiknya.
Tubuh lelaki itu terlihat mengeras geram. Seakan hendak memecahkan kedinginan. Ia menatap laut dengan sorot mata penuh kemarahan. Sementara gerimis semakin tajam menusuk wajahnya.
Sembari menahan gigil, lelaki itu menuju perahu. Melepaskan tali tambang. Lalu mendayung penuh dendam. Melawan hantaman ombak dan badai.
Ia terus mendayung. Meninggalkan dermaga. Meninggalkan kampung. Melintasi pulau, kapal-kapal, bagan-bagan ikan, serta kecerian sore di pesisir Teluk Lampung.
Langit kelam! Kedinginan yang membungkus tubuhnya seakan hendak membekukan kemarahannya. Umar terus melawan dingin yang terasa menusuk tulang sumsum. Ia terus mendayung penuh dendam. Terus mendayung melawan ombak.
Sementara di atas kepalanya, camar laut berteriak-teriak menakikkan kemarahan kepada ombak yang sombong. Lenggak-lenggok badai yang selalu bersiasat.
“Hai! Kalian warga pesisir Teluk!” teriak Umar memecah kesunyian sore itu.
“Akulah, raja lautan!”
“Aku menjemput dewa-dewi muncul dari pertapaannya! Aku mau kawin!” Umar mengoceh sendiri. Ia merasa tinggal sendiri. Baya dipenjara. Harta berharga miliknya, Lina dan Gofur, dirampas Lastri.
Ia tak tahu kemana harus meminta keadilan.
Lelaki pesisir, buruh nelayan.
Umar tumpahkan kemarahannya ke laut. Dendam dan kekalahan bergumul di antara keringat dingin yang mulai membilas kelembaban hujan di tubuhnya.
Buruh nelayan itu terus mendayung dengan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya. Meninggalkan segala penandaan di Teluk Lampung. Beberapa saat setelah itu petir kembali menyalak. Seperti hendak menebas kepalanya. Umar terus mempercepat mendayung perahunya yang turun naik dimainkan ombak.
Ia terus melaju berkejar-kejaran dengan kilatan petir yang membentuk garis lurus di permukaan laut. Lelaki pesisir itu semakin terlihat kecil. Sementara petir semakin dekat menjilati air laut. Badai terus membesar. Seakan hendak menyapuh bersih kapal, bagan, dan pulau-pulau di Teluk Lampung.
Sore itu, petir dan badai menjadi monster yang siap memangsa dan melumat Teluk Lampung. Kilatannya menyenter wajah lelaki pesisir itu.
Tetapi, Umar dan perahunya semakin jauh menuju ke laut lepas.

36
Jendela rumah terbuka. Seorang perempuan tua menguak lebar gordennya. Ia rapikan buku dan kertas gambar yang berserakan di meja tepi jendela. Juga peralatan sekolah di atas bale-bale rumah panggung itu.
Gofur masih tertidur. Kepalanya rebah berbantal tangan di atas meja. Angin dan cahaya matahari pagi menerobos masuk di antara jeruji kayu jendela.
Sambil bersenandung pelan perempuan tua terus memberesi bale-bale. Sebuah meja kecil yang tersandar di dinding, diletakkan kembali ke tempatnya semula. Ia rapikan taplak mejanya. Meletakkan vas bunga yang tergeletak di lantai ke atas meja kecil itu. Perempuan tua terus bebersihan. Menyapu dan mengepel lantai rumah.
Gofur terbangun. Suara tangis bayi terdengar nyaring. Perempuan tua menunda pekerjaannya. Ia bergegas turun menuju kamar bayi.
Di kamar lain, Lastri dan Lina masih tertidur lelap.
Kemul tebal tidak lagi membungkus tubuh mereka. Keduanya masih berdekapan telanjang. Pakaian tidur berserakan di lantai. Hujan lebat dan udara dingin tadi malam melelahkan petualangan mereka.
Suasana pagi tampak sepi.
Matahari belum terbuka lebar menyiramkan cahayanya ke pemukiman kumuh nelayan di kawasan Teluk Lampung.
Setengah malas, Gofur bangkit dari kursi. Berjalan mendekati jendela. Ia memandang laut dari jendela yang ikut membangunkan tidurnya. Di atas meja beberapa kertas bergambar perahu, belum selesai diwarnai.
Gofur mengosok kedua matanya yang masih belekan. Matanya terbelalak menatap bagan-bagan tancap yang roboh. Perahu-perahu katiran tertelungkup mengapung. Ia mengeluarkan setengah kepalanya ke luar jendela, sambil menoleh ke arah barat. Kapal-kapal ikan yang bersandar di dermaga Ujungboom, banyak yang karam. Sekitar 50 meter sebelum dermaga Ujungboom, terlihat sebuah perahu kecil terdampar di bibir timbunan pantai.
Gofur tertegun.
“Semalam ada badai,” ujar perempuan tua pelan, yang kembali menghampiri meja tulis, menyusun kertas-kertas gambar serta buku pelajaran Gofur yang berantakan.
“Ya, Mbok. Badai besar.”
Gofur kembali menoleh perahu kecil yang terdampar. Ia menghampiri meja. Menarik kertas gambar. Lalu kembali ke jendela. Pandangannya bolak balik antara perahu kecil yang terdampar kepada perahu dalam kertas gambarnya. Gofur tersenyum kecil. Ia merasa sebelumnya pernah menggambar perahu itu bersama bapaknya. Gofur sekilas merasakan wajah lelaki itu muncul di sela-sela kertas gambar itu. “Bapak pamit. Teruslah menggambar, Nak. Kemarin, Bapak lihat gambar perahumu. Bagus sekali! Kamu pintar...”, ucapan itu seakan muncul dari mulut lelaki di kertas gambar itu. “Bapak pamit...Nanti kita bertemu lagi, berkumpul bersama Ibu. Kita bisa berperahu lagi. Menjelajah laut dan pulau-pulau. Itu pasti. Bapak janji...” bisik lelaki itu seperti ditujukan kepada Gofur.
Tanpa berpikir apa-apa, Gofur kembali ke meja. Menggoreskan krayon ke kertas gambar. Ia selesaikan mewarnai perahu. Tangis dua bayi di kamar rumah panggung itu, semakin nyaring bersahut-sahutan.

Selesai

Komentar

05.12.2010 11:42:00 WIB | rock insurance services :

Marquita FTW :) Fondest Regards, Joanne


09.12.2010 22:53:54 WIB | dan enger insurance :

Possibly the BEST blog that I have read in my life!!!


26.06.2011 21:42:12 WIB | KendraSmiles :

Germany has a wealth culinary existence to the greatest of a issue of impaired to no person in consonance and choice foods. While German restaurants can be persistent to crumble at hand means of in the United States, most Americans be struck beside tried German http://wasistausfluss.wordpress.com/ <a href=http://wasistausfluss.wordpress.com/>was ist ausfluss</a> <a href=http://wasistausfluss.wordpress.com/>Was ist Ausfluss</a> <a href=http://wasistausfluss.wordpress.com/>Ausfluss</a>