JUARO

coba

24.05.2011 02:28:51 WIB

JUARO
Oleh T. Wijaya

Juaro 1
PERAHU tongkang melintas. Ombaknya menghantam dinding rumah rakit kami, mungkin untuk kesejuta kalinya. Sudah 15 menit aku memandang cahaya dari lampu laser yang ditembakkan dari atas Kantor Walikota Palembang. Cukup menarik. Satu jam listrik padam di dalam ratusan rumah di tepian Sungai Musi. Dada telanjangku mencari angin.
Sejak tahun 2003, penampilan Palembang mengalami perubahan. Dari kota yang sebelumnya dikenal gelap—bila dibandingkan dengan kota besar lainnya di Indonesia—Palembang berubah menjadi kota warna-warni pada malam hari. Ibarat di dalam sebuah ruangan diskotek.
Selain dipenuhi lampu taman dan lampu jalan yang kembali dinyalakan, Palembang juga dihiasi lampu laser seperti di atas kantor walikota itu dan lampu penjor yang digantung di pepohonan tepi jalan, ibarat barisan pohon Natal. Seperti kota besar lainnya, pohon-pohon lampu—seperti pohon pinang dan kelapa—juga menghiasi Palembang. Semuanya menjadi indah.
Tetapi, keindahan Kota Palembang pada malam hari tak sepenuhnya dinikmati warganya. Lampu-lampu itu justru dipersalahkan sebagai penyebab sering padamnya listrik di rumah warga. Logika warga, padamnya listrik sebagai akibat daya dan arus listrik mereka—yang sebagian besar membayar dengan harga tetap setiap bulan meskipun telah berusaha menghemat— tersedot lampu-lampu tersebut.
Soal lampu-lampu hias itu, mungkin sebagian warga Palembang masih ada yang membela Walikota. Tetapi jika sudah bicara air bersih, tampaknya kota yang dibelah Sungai Musi dan pernah memiliki ratusan anak sungai itu, harus tertunduk malu dengan kota-kota besar lainnya.
Bila dibandingkan dengan kota-kota yang tidak sebesar Palembang, misalnya Bandar Lampung dan Jambi, pelayanan Pemerintah untuk menyediakan air bersih buat masyarakat sangatlah buruk.
Masyarakat yang tinggal di dataran tinggi di Bandar Lampung dapat menikmati air bersih melalui pipa-pipa yang menanjak. Pemukiman-pemukiman penduduk baru di Jambi, tak perlu menunggu dua kali pergantian walikota untuk dapat menikmati air bersih. Sementara di Palembang, seperti pemukiman di Plaju—daerah rawa-rawa yang cuma beberapa ratus meter dari Sungai Musi—warganya harus membeli air bersih setiap hari.
Kota Palembang terbagi dua bagian, yakni Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Bila menyusuri Sungai Musi dari perkampungan Kertapati yang berada di Ulu hingga perkampungan Sungaibatang di Ilir, jaraknya sekitar 6 kilometer, akan terlihat perbedaan mencolok di dua wilayah itu.
Rumah-rumah penduduk di tepian Sungai Musi bagian Ulu, beranda rumah panggungnya menghadap sungai. Sementara di Ilir, yang menghadap ke sungai adalah belakang rumah panggungnya.
Jadi, sehari-hari, masyarakat di Ulu aktivitasnya di Sungai Musi lebih dinamis dibandingkan masyarakat di Ilir.
Selama bertahun-tahun, mereka yang berasal dari pedalaman atau udik di Sumatra Selatan, ketika pindah ke Palembang umumnya menetap di Seberang Ulu.
Masyarakat yang hidup di Ulu, umumnya bekerja sebagai buruh, pengrajin, atau nelayan. Sementara di Ilir, sebagian besar adalah pedagang dan pegawai pemerintah. Bilapun di bagian Ulu ada yang menjadi pedagang, rata-rata dari etnis Cina atau Arab.
Di dalam perkembangan kota, Seberang Ulu jauh tertinggal dari Seberang Ilir. Misalnya soal penyediaan fasilitas umum, seperti pembangunan jalan, penyediaan air bersih, atau rumah sakit.
Mungkin sadar adanya perbedaan perkembangan kota itu, pemerintah kemudian menjalankan proyek reklamasi Jakabaring. Sebuah proyek penyulapan kawasan rawa-rawa dan hutan semak di daerah Jakabaring, Seberang Ulu menjadi kawasan perumahan, perkantoran, pasar, taman, dan sarana olahraga.

Juaro 2
“MIMU setengah mateng. Kompor kita mati. Minyak tanahnya habis,” kata Halimah, istriku. Menurut orang, tubuh Halimah kurus, wajahnya lonjong, hidungnya mancung, berambut panjang sampai ke bahu, berwarna kecoklatan. Sementara aku, saat ini tidak pernah lagi memperhatikan hal itu. Yang kutahu, setiap hari dia membersihkan kutu rambutnya serta sangat menyukai sinetron dan acara pencarian hantu di televisi.
“Mana bawang putihnya?”
“Ado sebiji, cari bae di kuahnya,” jawab Halimah yang kunikahi 7 tahun lalu dengan membawa dua anak. Aku selalu gagal membuahi rahimnya meskipun berbagai obat-obatan dan jamu telah kutelan.
Jika biaya yang kukeluarkan untuk membeli obat-obatan dan jamu itu ditabung, mungkin aku sudah mampu membeli satu sepeda motor buatan Cina. Dan, seumur hidupku, aku tidak pernah memiliki sepeda motor meskipun pernah kudengar Indonesia merupakan pasar terbesar penjualan sepeda motor, baik buatan Cina maupun Jepang.
Sebenarnya anak Halimah bukan dua, melainkan tiga orang. Ketiganya laki-laki. Menurut pengakuan Halimah, satu anak diambil saudaranya di Jakarta, sejak anak itu berusia 1,5 tahun. Sampai saat ini, putra keduanya itu belum pernah bertemu dengan kami. Dan, Halimah pun tidak mau membicarakan lagi tentang anaknya itu denganku. Aku juga tidak mengharapkan itu. Bukan tidak mungkin, jika Halimah kangen, dia mengambil kembali anaknya. Keinginan itu adalah neraka buatku. Mengurus dua anaknya saja, aku tidak mampu lagi memperhatikan tubuh Halimah yang dikatakan orang kurus. Cuma, aku tahu di mana letak kemaluan Halimah meskipun di dalam gelap.
Dor! Dor! Dor! Dor! Anak sulung istriku, Sulaiman namanya, terkapar di depan pintu. Rumah rakit kami bergoyang. Mi yang baru kuhirup kuahnya dua sendok sebagian tumpah.
“Aduh! Ampun, Pak! Ampun! Bukan aku… bukan aku, Pak. Ibo! Tolong aku!” teriak Sulaiman.
Tiga polisi berpakaian preman menyeret tubuhnya seperti menyeret sekarung beras. Istriku berlari keluar, berteriak agar anaknya jangan ditangkap. Sementara perasaanku, entah kenapa, sebagian besar merasa senang Sulaiman ditangkap.
Aku melanjutkan makan mi yang masih tersisa. Ya, Sulaiman memang tidak perlu lagi diurus sebagai anak. Berulang dia menyusahkan kami. Beberapa kali dia ditangkap karena kasus penjambretan dan penodongan. Istilahnya, Sulaiman itu bandit “lipas tanah”. Ibarat lipas yang menjijikan semua orang.
Bayangkan, beberapa hari setelah pernikahanku dengan ibunya, saat dia masih anak-anak, dia mencuri mainan milik anak tetangga kami. Saat menginjak remaja dia harus dipenjara lantaran mencuri burung beo milik seorang polisi, yang rumahnya persis di depan Lorong Aman—lorong menuju rumah rakit kami.
“Sudah aku bilang supaya cepat pergi dari Pelembang. Jadilah bandit besak. Pergi ke Malaysia, rampok wong kayo. Bukan jadi bandit yang mendep di rumah. Ya, itu duit tidak banyak tapi tetap ditembak. Untung tidak mati. Buat apa nak diurus lagi dio tu. Pusing...,” kataku, sambil membetulkan gulungan sarung yang kukenakan.
Istriku menangis. Mulutnya menggerutu. Listrik menyala. Ombak terus menghantam dinding rumah kami. Saat berbaring, air Sungai Musi beberapa centimeter dari mulutku.
Aku terjaga, beberapa tetangga datang ke rumah kami. Seperti tidak tahu siapa Sulaiman, mereka menampilkan wajah sedih, dan bertanya apa yang telah terjadi. Setelah dijelaskan, mereka berebutan mengaku bukan orang yang memberi informasi keberadaan Sulaiman kepada polisi.
“Ya, tidak apa-apa. Dio memang bandit.”
Mendengar perkataanku itu, Halimah menangis lagi.
“Dio bukan bandit tapi teman-temannya yang jahat, mengajaknya merampok.”
Aku tertawa mendengar pembelaan Halimah itu. Ibarat menyaksikan Doyok—seorang pelawak—mengaku pernah ditawari sebuah perusahaan film untuk main sebagai Superman.
“Dio jadi seperti itu karena awak jahat dengan dio. Cubo awak sayang dengan dio, perhatian, pasti dio tidak seperti sekarang ini,” kata Halimah.
Mendengar tuduhan itu, aku lemparkan piring plastik yang baru kupakai untuk makan mi ke Sungai Musi. Tetanggaku buru-buru pulang. Halimah terdiam. Dia berbaring, tak lama kemudian tidur.
Kami tidak bersetubuh.
Melakukan hubungan badan pada malam hari di rumah rakitku harganya mahal lantaran kami berempat tidurnya bercampur. Rumah rakitku hanya memiliki satu ruangan; tempat tidur merangkap ruang tamu dan ruang makan. Jadi, hanya pada Sabtu malam kami dapat melakukan hubungan suami-istri, saat kedua anak Halimah tidak berada di rumah—meskipun sebenarnya hanya Taufik yang selalu berada di rumah kecuali Sabtu malam.
Aku tidak dapat tidur. Nafsuku yang tertahan membuat kedua mataku tidak dapat dipejamkan. Semalaman kudengar riak ombak, suara perahu ketek, serta tawa beberapa orang yang bermain gaple di perahu jukung, yang ditambat tak jauh dari rumah rakitku.

Juaro 3
SAAT pagi kami sudah lupa dengan penangkapan Sulaiman. Piring plastik yang kubuang semalam ditemukan Taufik, di bawah kakus rumah Jon Syamsuddin.
Jon penarik perahu ketek seperti aku. Keluarganya juga hidup susah seperti kami. Tetapi, gayanya seperti orang kaya. Kalau merokok dia hanya mau merek Dji Sam Soe—satu bungkus rokok ini cukup membeli dua kilogram beras—dan kalau makan lauknya harus daging ayam.
Jadi, maaf nian, utang si Jon itu ibarat penyakit panu menyelimuti tubuhnya. Kerjanya, ya, setiap bulan minta jatah kepada adik-adiknya. Kebetulan bae, adik-adiknya bekerja enak dengan penghasilan yang besar; sebagai pegawai kantor gubernur, pegawai bank, dan rentenir.
“Bu, bu, bu…,” panggil Budi di depan pintu terus menadahkan tangan kanannya.
Halimah melambaikan tangan memberi isyarat tak ada. “Besok bae!” teriaknya.
“Uh, besok lagi,” keluh Budi.
Tubuh Budi bergoyang lantaran ombak besar menghantam dinding rumah kami. Budi bekerja di Koperasi Kasih Bangsa, yang kerjanya meminjamkan uang dengan bunga 20 persen. Halimah meminjam uang sebesar Rp 100 ribu untuk “bayaran” sekolah Taufik. Tetapi, dia hanya menerima Rp 80 ribu, sebab Rp 20 ribu untuk biaya administrasi. Setiap hari, istriku wajib menyetor Rp 5 ribu selama 24 hari.
“Aku nak besuk Man,” kata istriku. Dia membawa satu rantang plastik berisi nasi putih, sambal terasi dan beberapa potong ikan sepat siam goreng.
“Ni, aku titip rokok buat dio,” kataku, terus melempar selembar uang lima ribu rupiah.
Setelah Halimah pergi, aku nongkrong di kakus yang penampungan kotorannya adalah Sungai Musi. Kunikmati sebatang rokok. Udara cerah, mudah-mudahan hari ini aku mendapat banyak uang, pikirku. Sementara puluhan ikan juaro melahap habis setiap tai yang kubuang. Tidak peduli apakah taiku keras atau lembek. Mereka melahapnya sampai habis. Lantaran libidoku tidak tersalurkan semalam, aku pun beronani.
Sebenarnya, bukan hanya ikan juaro yang suka makan taiku. Ikan seluang termasuk yang menyukai taiku. Pun ikan lainnya yang berada di Sungai Musi, seperti patin, betino, gabus, atau udang.
Entah kenapa, hampir semua ikan yang suka makan tai atau buntang—baik binatang maupun manusia—rasa dagingnya gurih dan manis.
Dan, yang kuketahui, yang paling bernafsu memburu taiku hanya ikan juaro. Ikan-ikan lainnya sepertinya membiarkan sikap juaro ini. Tidak kumengerti, apakah ini karena mereka takut dengan juaro atau ikan-ikan lainnya pemilih. Artinya, tidak semua taiku meereka makan. Mereka hanya makan bagian tertentu dari taiku.
Sementara yang juga sangat tidak kumengerti, mengapa ikan pemakan tai ini disebut juaro, bukan disebut “ikan tai”. Nama itu terlalu gagah. Menariknya, bentuk kepala ikan ini hampir menyerupai wajahku yang lonjong dan monyong.
Ikan juaro adalah ikan yang hidup di permukaan, bentuknya seperti patin. Sebagian besar tubuhnya berwarna putih dan sebagian punggungnya hitam. Bagian kepalanya yang pipih itu dihias kumis di ujung mulutnya. Ada juga ikan yang agak sedikit mirip, yaitu baung. Selain bentuk fisiknya tak mirip-mirip betul sebab ikan ini lebih gemukan, si baung juga tidak senang makan taiku. Juaro paling senang hidup di tepian sungai, terutama di dekat pemukiman penduduk, tentu saja karena adanya tai manusia itu.

Juaro 4
DULU, 25 tahun lalu, aku bukan penarik perahu ketek dan tidak pernah terpikir masa tuaku seperti sekarang ini.
Aku anak kelima dari tujuh bersaudara, yang satu-satunya bersekolah sampai SMA (Sekolah Menengah Atas). Aku pernah menjadi pegawai di Kantor Walikota Palembang; mengisi jatah mamangku yang pensiun.
“Hasan, ngapo awak belum jugo kawin. Banyak betino cindo kalu awak galak,” kata abahku.
“Aku dak galak wong kito. Banyak rasannyo.”
“Bukan soal rasannyo. Awak tu nak kawin dak? Kalu galak, Abah dan Ibo awak kagek carike.”
Abahku mengurut telapak kaki kanannya. Kutatap wajahnya yang penuh kerutan, hitam dan kedua pipinya kempot. Hampir semua rambutnya memutih. Sebagian bola matanya yang besar terdapat bercak-bercak putih. Sementara mulutnya tak pernah berhenti merokok. Rokok merek Jambu Bol yang aromanya menyengat cukup sudah membuat tubuhnya tetap kurus.
Untuk mengisi masa tuanya, abahku banyak menghabiskan waktunya di warung kopi milik Mamat, di seberang jalan dari rumah kami.
Di warung itu, abahku dengan orang-orang seusianya bekelakar. Dengan modal lima ratus rupiah, untuk membeli secangkir kopi dan beberapa iris pisang goreng atau pempek, mereka berkelakar 3-4 jam setiap hari. Semua yang digesahka, pasti berkaitan dengan kejayaan atau kekayaan yang pernah dimiliki mereka sendiri atau keluarga mereka di masa lalu.
Tema lainnya, yakni semua keburukan atau kejelekan orang. Memang, di akhir kelakar mengenai keburukan atau kejelekan orang lain, pada kasus tertentu mereka mengutip ajaran agama dan memvonis keburukan atau kejelekan itu sebuah dosa, yang tidak perlu ditiru.
Jika membicarakan seks, tidak satu pun dari mereka mengaku sudah tidak mampu atau menurun “kekuatannya” dalam melakukan hubungan seks. Mereka tetap ingin dikatakan orang muda jika dikaitkan soal itu. Abahku yang paling bersemangat membicarakan hal itu.
Aku masuk ke kamarku, berkaca. Beberapa uban sudah tumbuh di rambutku.
“Apa salahnya jika aku kawin.”
Kupikir wajahku tidak terlalu jelek. Bentuk wajahku lonjong, hidungku mancung, rambutku keriting, alis mataku tebal dan hitam. Hanya tiga gigi depan atasku sedikit keluar. Ya, tidak terlalu monyong. Tubuhku juga tinggi, berkulit putih kekuningan seperti ibuku.
“Ya, aku memang harus kawin.”
Dua bulan kemudian aku dikawinkan dengan Nyimas Siti Aisyah. Anak seorang pedagang kasur di Pasar 16 Ilir. Pesta perkawinan kami meriah, dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Hiburannya adalah pertunjukan Doel Moeloek dan orkes dangdut.
Terus terang derajat keluarga kami lebih rendah daripada keluarga istriku. Keluarga kami adalah wong Palembang tidak bergelar dan juga tidak mampu. Sementara istriku dari keluarga yang bergelar, yakni Kemas. Mereka juga adalah keluarga yang tidak miskin, turun-temurun sebagai keluarga pedagang.
Sementara aku, satu-satunya orang di keluargaku yang punya penghasilan tetap. Aku pun menjadi tulang punggung ekonomi keluargaku. Saudara-saudaraku sebagian menganggur dan sebagian kerja serampangan, apa saja kerjanya. Padahal, mereka semua sudah berkeluarga. Mereka tinggal di kolong rumah orangtuaku. Kolong rumah orangtuaku setinggi satu setengah meter itu dibangun enam kamar. Di setiap kamar, berkumpul satu keluarga.
Lantaran aku yang dianggap paling “mampu”, diberi jatah sebuah kamar di bagian atas rumah. Tetapi, kami tidak punya kamar mandi, kami hanya punya sebuah kakus. Kami semua mandi di tangga rumah yang menghadap ke Sungai Musi.
Mengapa kami disebut wong Palembang tidak bergelar? Nenek dari abahku sebenarnya wong Palembang yang bergelar Masayu. Tetapi, dia menikah dengan kakekku yang keturunan wong India. Jadi abahku tak punya gelar. Sementara ibuku bergelar Nyimas. Namun, gelarnya tidak dapat diturunkan lantaran menikah dengan abahku. Gelar bagi wong Palembang hanya dapat diturunkan melalui garis bapak.
Ada beberapa gelar buat wong lanang Palembang, yang diciptakan sejak Kesultanan Palembang Darussalam, seperti Raden, Kemas, Masagus, dan Kiagus. Aku tidak tahu mengapa begitu banyak gelar. Ada yang mengatakan, gelar itu diberikan sesuai tingkatan atau status sosialnya. Misalnya laki-laki atau lanang turunan kerabat dekat Sultan diberi gelar Raden, sedangkan turunan pedagang diberi gelar Kemas, turunan ulama diberi gelar Kiagus. Sementara gelar untuk kaum perempuannya, diberikan berdasarkan garis bapak, seperti Nyimas, Masayu, atau Nyayu.
Ah, persetan dengan gelar-gelar itu, pikirku. Aku tidak bangga sebagai wong Palembang, bergelar atau tidak. Saat ini, gelar-gelar itu tidak membuat seseorang menjadi kaya. Gelar-gelar itu justru membuat kehidupan si pemegangnya menjadi tidak bebas. Mereka merasa malu jika bekerja kasar, seperti menjadi penarik perahu ketek atau kuli bangunan. Mereka lebih baik menjual harta warisan keluarga seperti barang-barang antik atau rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dibandingkan menjadi sopir truk. Jika harta warisan habis, mereka pun menyingkir ke tepian Kota Palembang, misalnya ke daerah Sako, Kalidoni, Jakabaring atau ke Talangbetutu. Mereka menanggalkan gelarnya lalu bekerja apa saja.
Buat sebagian orang—meskipun tidak punya gelar—menjadi wong Palembang itu harus dibanggakan. Sebagai suku berdarah biru, peradabannya dinilai lebih tinggi dibandingkan orang-orang dari dusun, misalnya. Tetapi, aku tidak bangga akan hal itu. Sebab setelah kutelusuri, ternyata buyut ibuku adalah seorang perompak asal Tionghoa, yang ditangkap seorang pangeran dari Kesultanan Palembang Darussalam. Lantaran takut dihukum mati, dia bersedia menjadi hambah pangeran itu. Dia memeluk agama Islam. Setelah menikah dengan salah seorang kerabat Sultan, dia mendapat gelar kebangsawanan.
Mengapa Siti mau dikawinkan dengan aku? Jawabannya sederhana. Dia gadis tua sehingga harus cepat menikah. Saat menikah, umurku 36 tahun sedangkan dia lebih tua tiga tahun dariku.
Setengah tahun perkawinan kami, semuanya berjalan lancar. Bahagia. Tetapi, memasuki satu tahun usia perkawinan, rumah tangga kami mulai guncang. Salah satu penyebabnya kami belum punya anak. Istriku dua kali mengalami keguguran. Kata dokter dan kata dukun, rahim istriku yang bermasalah alias lemah.
Perhiasan yang dibawa istriku saat menikah, pemberian orangtuanya, satu per satu berkurang, dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar kami. Sebab, gajiku kian hari kian tidak mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kami. Apalagi, saudara-saudaraku terus meminta bantuan kepada kami. Dari biaya untuk makan sampai biaya kelahiran anak mereka.
Mengatasi kebutuhan keluargaku itu, istriku terpaksa menjual perhiasannya sebab dia tidak mau disebut sebagai mantu atau ipar yang pelit.

Juaro 5
“KAWIN dengan kau ni dak katik lemaknyo. Kau ini hanya modal titit bae,” kata istriku.
Mendengar ucapan istriku itu, aku bagai dituduh mencuri dan ditampar seorang polisi. Sungguh, aku benar-benar terkejut karena sebelumnya istriku tampak sabar dan pendiam. Namun, aku tidak dapat membantah ucapannya itu. Hari itu aku tidak masuk kerja dan seharian merenungkan perkataannya.
Kesimpulanku, bukan hanya keinginan memiliki anak yang menyebabkan istriku berkata seperti itu. Persoalan keluargaku yang hidup miskin dan secara ekonomi sangat bergantung kepada kami, mungkin yang menyebabkan dirinya tertekan. Aku yakin, tidak satu pun anak dari keluarga kaya dapat bertahan lama jika menikah denganku. Apalagi, perkawinan itu bukan didasarkan oleh rasa cinta.
Malamnya. “Kalau awak memang idak tahan lagi dengan aku, aku anterke ke rumah abahmu,” kataku.
“Ya, aku memang idak tahan lagi. Aku benci dengan awak. Aku benci dengan keluarga ini,” katanya. “Bila kupertahankan keluarga kito dan hidup seperti ini, kito takkan berubah. Kito akan terus seperti ini, menjadi sapi perahan mereka. Jadi sudah saro kito nak bertahan.”
Orangtuaku terbangun. Pintu kamar mereka dibuka.
“Payola, aku antar malem ini.”
Bergegaslah istriku mengemasi barangnya sambil menggerutu.
Aku keluar kamar. Kulihat abah dan ibu duduk di kursi rotan bersama beberapa saudaraku. Wajah abah dan ibuku pucat, dan mereka tampak susah menarik nafas.
“Mungkin memang kami dak cocok. Aku rela bila dio nak minta cerai,” kataku. Mereka diam dan mematung seperti barisan tentara yang mau difoto.
Istriku bergegas pergi dengan hentakan kedua kakinya ke lantai. Nyelonong, tanpa memberi salam kepada orangtua dan saudaraku.
“Oi, sopan sedikitlah!” teriak Susi, istri kakakku, kemudian mengejarnya. Tampaknya istri kakakku itu ingin sekali menarik rambutnya dan mencakar wajahnya.
“Aku idak galak lagi tinggal di sini! Nyusake aku galo,” kata istriku terus berlari ke jalan; seperti mengambil jarak dari kejaran Susi.
“Sudahlah, jangan dikejar. Ini urusan keluargaku,” kataku.
Meskipun tidak melihatnya, aku merasa beberapa tetangga kami terbangun dan mengintip dari jendela rumah mereka.
Dan, sebagian besar membenarkan diri bahwa perkawinan kami tidak akan bertahan lama.

Juaro 6
SETELAH menjelaskan semua persoalan, kedua orangtua istriku menarik napas hampir bersamaan. Mata mereka menatap tajam kepadaku. Abahnya berdiri.
“Aku setuju kalian bercerai. Aku memang tidak suka dengan kau. Terus terang saat mau mengawinkan Siti dengan kau, aku ragu. Gaji awak kecik. Pasti nyusake bae. Ya, sudah. Banyak lanang yang galak dengan Siti meskipun jando!”
Aku sama sekali tidak menyangka ucapan itu keluar dari mulut abah istriku. Emosiku memuncak. Meja yang berada di depanku secepatnya kuangkat, kupukulkan ke kepala abah istriku itu; berulang kali. Gelap.
Istriku dan ibunya menangis dan berteriak minta tolong. Aku terdiam. Sekujur tubuhku seperti disiram air es.
Puluhan orang menatapku saat aku menuruni tangga rumah mertuaku. Sebagian dari mereka, kulihat ada yang membawa senjata tajam. Istriku dan ibunya menangis dan memakiku, “Iblis!”, “Anjing!”.
“Tolong anterke aku ke kantor polisi,” kataku kepada puluhan orang itu. Entah kenapa, mungkin lantaran permintaanku itu beberapa orang yang membawa senjata tajam tidak menyerangku padahal tidak sedikit di antara mereka kerabat istriku.
Kini, aku tahu kenapa mereka tidak menyerangku saat itu. Ternyata keluarga Siti sangat tidak disukai tetangga maupun kerabatnya. Abahnya dikenal angkuh, ibunya suka mengejek serta merendahkan orang lain, dan Siti sendiri suka menyombongkan kekayaan orangtuanya.
Dapat diduga, aku diberhentikan sebagai pegawai negeri. Sementara pengadilan memvonisku tujuh tahun penjara. Dari rumah tahanan di Jalan Merdeka hingga ke lembaga permasyarakatan di Pakjo.
Beberapa orang yang kukenal tidak menyangka hukumanku seberat itu. Menurut mereka, dengan sikapku yang segera menyerahkan diri kepada polisi setelah peristiwa itu, serta perbuatanku bukan pembunuhan berencana, hukuman yang kuterima seharusnya lebih ringan.
Memang, selama proses penyidangan aku tidak pernah menyogok siapa pun. Baik kepada jaksa maupun hakim. Jika pun mau, aku dan keluargaku sama sekali tidak mempunyai uang. Yang kudengar, justru Siti yang menyogok—tidak tahu untuk siapa—meminta agar aku dihukum seberat-beratnya.
Selama di penjara aku disegani tahanan lain. Mereka segan sebab aku dipenjara karena membunuh orang. Jika memerkosa mungkin aku menjadi bulan-bulanan tahanan lain. Meskipun demikian selama dipenjara aku berperilaku baik. Aku tidak pernah membuat onar. Makanya aku yang seharusnya ditahan selama tujuh tahun, dibebaskan setelah enam tahun dipenjara.

Juaro7
SUDAH dua cangkir anggur cap Kuntji kuteguk. Kantongku belum pula berisi uang. Kepalaku mulai berat. Kedua pipiku rasanya menebal. Wajah Somad yang menjual anggur itu tampak berbayang, bergoyang seirama lagu dangdut remix Cup Mutung milik penyanyi Palembang, Filus, yang mengalun dari radio miliknya.
…cup, cup mutung
balik keTanggbuntung
cup, cup mutung
meleng keno pentung
cup, cup mutung
banyak rumah mutung
cup, cup mutung
aku minta tulung…
(Minta waktu, pulang ke Tanggabuntung. Minta waktu, tidak hati-hati kena pukul. Minta waktu, banyak rumah terbakar. Minta waktu, aku minta tolong)
Setiap mendengar lagu dangdut—aliran musik yang berkembang di Indonesia yang didominasi pukulan gendang—aku selalu teringat dengan Pomo, teman satu sel saat aku dipenjara. Pomo adalah seorang penyanyi dangdut.
Saat bernyanyi di dalam sel, dia memberikan kesejukan kepada para tahanan yang jelas sangat kesepian.
Untuk menjadi seorang penyanyi, sejak kecil Pomo belajar bergitar dan main gendang. Pomo pun banyak menghafal lagu-lagu dangdut dan melayu.
Menurut Pomo seorang penyanyi yang baik harus memiliki banyak pilihan lagu saat bernyanyi. Penyanyi harus dapat melayani setiap lagu yang diminta penonton atau penggemarnya.
Banyak perempuan yang menyenangi Pomo dan berharap menjadi kekasihnya. Daya tarik Pomo memang bukan hanya dia seorang penyanyi. Tubuhnya yang atletis—untuk ukuran orang Indonesia—dan wajahnya yang tampan membuat banyak perempuan tergila-gila. Tetapi, tidak seorang pun dari mereka—termasuk para perempuan di bumi ini—yang disukai Pomo.
Tubuh yang atletis, wajah tampan, dan menjadi penyanyi terkenal di Palembang, tidak membuat Pomo bahagia. Cintanya dikhianati kekasihnya, seorang pengusaha pakaian dan barang antik, yakni Burman. Dia pun harus mendekam beberapa tahun di penjara.
“Cemburuku besar nian. Saat aku melihat Burman bercumbu dengan Dudung di salon Meri, aku jadi panik. Pandanganku gelap. Aku mengamuk dan membacok mereka berdua sampai mati. Memang sebelumnya aku hanya mendengar isu bae. Jadi, saat melihat mereka berdua bercumbu, aku ibarat ditindih sebuah mobil,” katanya suatu kali, “sebenarnya sampai saat ini aku masih mencintai Burman.”
Setelah menceritakan itu Pomo diam. Kedua matanya memerah dan perlahan mengeluarkan air mata. Aku tak kuasa melihat kesedihannya itu. Tubuhnya kupeluk erat.
Pelukan itu sama seperti pelukan terakhir kami sebelum aku meninggalkan penjara; menghirup udara kebebasan, dan meninggalkan dirinya yang masih menjalani hukuman. Setahun setelah aku bebas, aku baca dari sebuah koran, Pomo bunuh diri dengan menggantung diri di dalam sel.
Kuteguk secangkir lagi anggur Kuntji. Kini, mereka yang berada di dalam rumah panggung, yang rata-rata tampak mau roboh, kubayangkan kian menjadi miskin, sehingga tidak satu pun pohon mau tumbuh di Lorong Aman ini. Yang ada hanya puluhan tikus, lipas, kucing, nyamuk, serta tumpukan sampah, menghiasi Lorong Aman. Sedangkan paritnya dialiri air hitam, kental, beraroma pesing, apek dan amis. Hanya siaran televisi yang menghibur warga lorong Aman; acara yang menampilkan dunia hantu atau dunia gaib adalah pilihan utama.
“Bisa idak aku ni menjadi wong kayo? Kalu biso, kau kagek kujadike sopir pribadiku,” kataku. Somad tersenyum.
“Semuanyo biso. Tuhan itu adil, Cek.”
Biarpun berjualan minuman keras, Somad ini mempunyai kesadaran yang kuat soal kebesaran Tuhan. Dia pun tidak pernah minum anggur atau bir. Pernah kutanyakan, mengapa dia berjualan minuman keras padahal dia tahu minuman keras itu haram. Somad mengaku itu demi kebutuhan hidupnya. Kalau hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan rokok dan permen, menurutnya, tidaklah mungkin. Keuntungannya tidak cukup buat makan sehari, katanya.
Sepintas lalu Somad mirip pelawak Ateng yang terkenal itu. Cebol. Bedanya kaki kanan Somad cacat. Ketika kanak-kanak, kaki kanannya itu patah tiga karena ditabrak Jeep Willis saat mengejar layangan putus.
Aku tertawa. Tetapi, kantongku belum juga berisi uang. Kepalaku kian terasa berat, apalagi Taufik sudah beberapa kali minta uang untuk bayar iuran dan uang ujian sekolahnya. Aku teguk anggur secangkir lagi.
“Somad! Kira-kira bisa idak aku menjadi wong kayo?”
Somad mendekatiku.
“Sudah jam satu, balikla. Bini kau kagek ribut.”
Aku kembali bertanya kepada Somad, “Bisa idak aku menjadi wong kayo?”
Ini kali Somad diam. Aku terus bertanya. Kantongku belum juga berisi uang. Tuhan yang dikatakan Somad itu entah di mana. Sampai pagi aku terus bertanya. Sendirian mengiringi Somad yang tertidur dan menyambut sebagian warga lorong Aman pergi ke Pasar 16 Ilir. Menjadi kuli, menjadi penjual sayur, dan menjadi pencopet.

Juaro 8
TAUFIK duduk di bangku warung Bicek Ida. Matanya penuh harap menatapku.
“Besok bae. Abah dak dapet duit,” kataku.
Seekor kucing kurapan berwarna hitam menabrakku. Kutendang tapi tidak kena.
“Na kan, abah tu kalau untuk minum, ado. Tapi, kalu untuk biaya sekolah anaknya, dak katik tula,” kata Taufik.
“Pilat ini, sudah dikatoke katik masih bantahan. Kito ni wong saro, bukan wong kayo. Sekolah pulo mahal nian. Gigolo galo guru sekarang ini. Tau kau gigolo? Gilo galo tau. Dikit-dikit nak duit. Tiap bulan ganti buku. Wajar, uji wong tu, guru kencing berdiri murid ngencingi guru. Bukan ilmu yang diturunke. Samo bae guru dengan linda. Tau dak linda? Lintah darat.“
Taufik tertunduk diam. Kedua telapak tangannya saling meremas. Lalu, dia pergi dengan kepala tetap tertunduk.
Aku masuk ke rumah, membusungkan dada. Aku seperti baru saja memenangkan sebuah pertarungan. Aku menabrak bantal dan kasur, berlari memasuki lorong tidur. Istriku yang tadinya sibuk mencuci mencoba mencegahku tidur dengan berteriak-teriak. Tetapi, dia gagal mencegahku, termasuk suara perahu ketek dan kapal cepat yang melintas.
Selama tidur puluhan bidadari memeluk dan menciumku. Tubuh mereka terasa sejuk dan wangi. Dalam tidurku tak ada air Sungai Musi yang memuakkan itu, tak ada sinar matahari yang dapat membuatku menjadi ikan asin, tak ada ikan juaro yang membuatku kehilangan berton-ton tai.
Lima jam kemudian, aku ditarik dari lorong tidur. Orang-orang berdatangan ke rumah kami. Istriku menangis meraung-raung. Beberapa kali istriku pingsan. Taufik bunuh diri dengan cara terjun ke Sungai Musi. Dia terjun ke Sungai Musi bersama sekantong batu koral yang diikatkan ke tubuhnya.
Rumah rakit kami bagai disapu ombak laut. Terhempas dan pecah. Dia menulis surat buatku yang dimasukan ke dalam tas sekolahnya: “…Abah, aku memang bukan anak kandungmu. Daripado aku nyusake, lebih baek aku mati bae. Itung-itung ngurangi kesulitan keluarga kito….”
Tetangga kami, Dollah, secara tidak sengaja mendapatkan jasad Taufik yang tersangkut di jala ikannya.
Berhari-hari istriku tidak lepas dari tangisan. Aku berutang banyak minuman anggur dengan Somad. Dan, setiap malam aku mengutuk presiden, menteri pendidikan dan para guru. Selama dua bulan, lebih aku tak mampu meraba dan melihat kemaluan istriku.

Juaro 9
HUJAN yang turun sejak pukul tiga sore, sehabis magrib mulai berhenti. Bulan belum menampakan diri. Sebagian Kota Palembang belum menyalakan lampu. Sementara rombongan Bung Amat bergegas pulang dengan naik becak.
Bung Amat adalah penjual “obat kuat” yang mangkal di Taman Nusa Indah. Dalam berjualan Bung Amat selalu mengumbar cerita seks sehingga ramai orang mengelilinginya. Maka, tak heran Bung Amat sama populernya dengan petinju Muhammad Ali, saat itu.
Bau amis, apek keluar dari parit dan tumpukan meja penjual sayur di bawah pohon akasia. Perempuan itu tertidur di atas beberapa lembar kertas kardus. Dia mengenakan kaos berwarna merah dan celana dasar warna coklat. Sebagian kaus yang dipakainya basah karena tersiram air hujan. Mulutnya menganga. Puluhan lalat mengelilingi wajahnya. Rambutnya yang panjang, berwarna kecoklatan tampak kusut karena debu dan sinar matahari. Suara kendaraan yang lalu lalang di Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) tidak membuatnya terusik.
Aku terus menatapnya di bawah sinar lampu Taman Nusa Indah yang kekuningan.
Bulan mulai menampakkan dirinya. Aku memperhatikan buah dadanya yang cukup besar. Birahiku naik. Ingin rasanya kuremas dan kucium buah dadanya itu.
Pada masanya, Taman Nusa Indah merupakan satu-satunya taman yang dapat dikunjungi masyarakat Palembang untuk mencari ketenangan atau hiburan pada siang hari. Bagi mereka yang berasal dari luar kota, Taman Nusa Indah adalah tempat yang ideal untuk berfoto. Jadi tak heran, di taman itu dipenuhi para fotografer amatir.
Gaya berfotonya pun hampir seragam. Bagi perempuan yang ingin berfoto, disarankan si fotografer amatir untuk memegang daun atau bunga di taman, meniru gaya para artis film India di majalah Detektif & Romantika. Sementara buat laki-laki, dilarang keras untuk menatap kamera secara langsung; disarankan menatap ke samping seakan tidak tahu kalau tengah difoto.
Dan, pada malam hari taman ini menjadi surga para lonte dan waria.
“Hei! Kalu nak make dio, ngomong dulu dengan aku. Bukan asal comot,” kata seorang lelaki di belakangku, yang membuat tanganku berhenti sekitar tiga centimeter dari buah dada si perempuan itu.
“Maaf, Pak. Maaf,” kataku terus menjauhi perempuan dan lelaki bertubuh kurus, berkumis tebal, yang mengenakan jaket kulit ketat warna hitam itu.
Aku duduk di bawah sebuah pohon sekitar 20 meter dari mereka. Di dekatku, seorang waria tengah bercumbu dengan seorang lelaki.
Kulihat perempuan itu dibangunkan oleh lelaki yang tadi menegurku. Mereka berbicara dan si lelaki menunjuk ke arahku. Perempuan itu berusaha menatapku sambil mengusap kedua matanya. Dia tertawa kemudian menaikan kedua tangannya seperti menarik napas. Buah dadanya tampak menonjol. Birahiku kembali terusik. “Sialan!”
Sementara di balik rimbunan kembang, si banci kaleng tampak sibuk memuaskan lelaki yang merayunya tadi. Birahiku naik. Aku meludah ke telapak tanganku, lalu…kupejamkan mata.
“Oi, Kak, buat apo begawe dewek. Dak lemak,” kata perempuan yang buah dadanya hampir kuremas saat dia tertidur tadi. Aku kaget. Aku berdiri dan pergi menjauhinya.
“Ngapo pergi! Dak galak dengan aku,” katanya sambil memegang tangan kananku. Aku diam dan membiarkan tangannya menggerayangiku.
“Lemak kan,” katanya.
Mataku terpejam.
Selanjutnya aku menjadi anak kucing yang baru lahir. Aku bahkan tidak peduli mulutku mencium kurap yang berada di ketiaknya. Bagai roket aku terbang cepat, meledak kuat ketika menyentuh langit.

Juaro 10
“LEMAK bae! Ngomong kalu katik duit. Pokoknya bayar. Tenga duo. Apo nak kuaduke samo Jaki. Habis kau dibunuhnya,” kata si perempuan.
“Aku nih baru keluar dari penjaro. Aku dak katek duit. Kagek besok aku bayar. Aku balek dulu. Pecayola,” kataku.
“Idak pacak, bayar sekarang. Sepertinya kau ni minta kuaduke ke Jaki. Biar tau rasonyo. Jaki! Jaki!”
Ternyata Jaki adalah lelaki kurus yang berkumis tebal itu. Dia adalah bandit di Taman Nusa Indah yang juga germo si perempuan. Jaki cukup ditakuti di taman itu sebab dia sering menusuk orang, dan tidak sedikit yang mati.
“Kalu kau dak katik duit, buka baju dan celanamu. Kalu dak galak kito begoco bae sampai mati. Cak mano?” kata Jaki.
“Tolonglah, Pak. Aku kagek bayar, aku balik dulu bae. Pecayola aku kagek ke sini nganterke duitnyo.”
“Oi, jadi kau nantang aku, yo?” kata Jaki lalu menerjang perutku. Sakit. Dia kemudian memukul wajahku. Sakit. Aku terhuyung. Dia kembali menerjangku tetapi meleset.
Dia mengeluarkan badik dari pinggangnya. Aku tersentak. Nyawaku terancam. Dan, seperti ada energi luar biasa aku mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangan. Kukejar Jaki yang siap menikam dengan badiknya. Breet! Tos! Tanganku terluka, kepala Jaki pecah. Jaki roboh. Dia mengeram kesakitan.
Puluhan banci, lonte dan pengunjung taman itu menatapku. Perempuan itu menghilang entah ke mana. Beberapa orang menyuruhku cepat pergi. Sebab, jika teman-teman Jaki dating, aku akan habis dijahar mereka; tidak ada yang dapat menyelematkan nyawanya.
Aku pun berlari, melompati pagar taman itu. Berlari sekencangnya di atas Jembatan Ampera. Darah berceceran dari tanganku. Aku hampir pingsan saat sampai di rumah orangtuaku. Gelap.
Ternyata lonte itu bersama dua anaknya mengontrak sebuah kamar di kolong rumah orangtuaku. Kami berbaikan. Kami pacaran. Lalu, beberapa bulan kemudian aku menikah dengan lonte itu. Namanya Halimah. Kedua orangtuaku tidak tahu Halimah adalah lonte. Dia piker, Halimah berjualan sayuran di Pasar 16 Ilir, seperti pengakuannya saat pertama dia mengontrak.
Lantaran aku masih menganggur, Halimah tetap melonte. Baru setelah aku menjadi penarik perahu ketek, setahun kemudian, Halimah berhenti menjadi lonte.

Juaro 11
JALAN Jenderal Sudirman Palembang. Awal Mei 1998. Harga kebutuhan pokok terus menanjak, pengangguran bertaburan ibarat buah mangga yang jatuh dari pohon, dan kekerasan di dalam rumah tangga merupakan cerita biasa sehari-hari, yang menjadi jualan utama media massa.
Suhu sekitar 36 derajat celcius menyelimuti kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Swarna Bhumi. Kantor lembaga swadaya masyarakat (LSM) itu terletak pada sebuah rumah toko berlantai tiga. Dedaunan pohon akasia di depan kantor itu bagai lukisan, tidak bergoyang. Puluhan anak sekolah antre membeli es parut dan sebagian makan pempek di warung di bawah pohon itu.
Asap rokok dari berbagai merek keluar dari mulut dan hidung peserta rapat. Seorang mahasiswa, Sofyan namanya, berdiri. Kepada peserta rapat dia berkata menjamin mahasiswa Universitas Balaputra Dewa akan turun ke jalan, mengawali gelombang aksi di Palembang menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden Indonesia. Sofyan adalah ketua senat salah satu fakultas di perguruan tinggi itu.
“Aku jamin 500 mahasiswa akan turun,” kata Sofyan mencoba menyakinkan peserta rapat.
Sofyan gampang dikenali lantaran rambutnya keras, berdiri, dan jarang. Suaranya pun lantang meskipun dia sulit mengucap “r”.
Tandu, yang sejak awal rapat menginginkan adanya dukungan dari mahasiswa di Palembang dalam gerakan menumbangkan Soeharto, tersenyum puas.
“Pecak itu. Itu baru namanya mahasiswa. Awak senang sekali,” kata Tandu.
Tandu adalah seorang dosen Universitas Idayu Palembang. Rambutnya nyaris habis, tinggal beberapa helai di batok belakang kepalanya. Lantaran bentuk wajahnya yang persegi, hidungnya yang rendah dan lebar, serta sorot matanya yang tajam dan selalu menyebut kata “awak” untuk menunjukkan dirinya, dia sering dikira wong Tapanuli setiap berkenalan dengan seseorang. Padahal kedua orangtuanya kelahiran Muaraenim, daerah kelahiran Taufiq Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri, putri sulung presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Tandu termasuk dosen yang paling sering mangkal di LBH Swarna Bhumi. Hampir setiap hari dia terlibat diskusi, entah dengan mahasiswa, dosen, pengacara, pekerja seni, petani, aktivis LSM atau buruh.
Sofyan tersenyum puas, lalu, meminta sebatang rokok dari Tandu.
“Sofyan kau jamin nian massa besok tu?”
“Kujamin! Jangan khawatir, Kak Tandu.”
Hari itu ada tujuh orang yang ikut rapat, yakni dua pengurus LBH Swarna Bhumi, seorang dosen, seorang seniman, seorang wartawan, serta dua mahasiswa Universitas Balaputra Dewa. Mereka menyusun agenda aksi menuntut Soeharto turun. Diputuskan dalam rapat itu, aksi dimulai dari kawan-kawan mahasiswa kemudian elemen masyarakat lainnya, seperti buruh, kaum tani, seniman dan kalangan pengacara.
“Aku tidak yakin Sofyan mampu menurunkan massa sebanyak itu. Dio tu besak kelakar bae,” kata Cucok kepada Beben.
“Yo, la. Kagek aku minta Putra mempersiapkan aksi di Sirahpulau Padang. Mungkin dio lebih mampu. Dio tu pintar nian ngumpuli wong,”
Cucok dan Beben adalah pengurus LBH Swarna Bhumi. Sementara Putra, adalah mahasiswa Universitas Balaputra Dewa yang dikenal Beben lantaran sering mengundangnya berdikusi.
Besok paginya, sekitar pukul 09.00, Sofyan cuma berkelakar sebab tidak ada aksi ratusan mahasiswa Universitas Balaputra Dewa di kampus Pakjo, seperti yang dijanjikannya.
“Kawan-kawan banyak ke kampus Sirahpulau Padang. Mungkin kagek siang banyak ngumpul dan kami langsung turun lagi ke jalan. Jangan langsung nuduh aku dak benar,” bela Sofyan.
Sementara di kampus Universitas Balaputra Dewa di Sirahpulau Padang, Ogan Komering Ilir, atau sekitar 50 kilometer dari Palembang, seribuan mahasiswa berunjukrasa.
Aksi dimulai dari Putra yang berdiri di atas kap sebuah mobil Toyota, mengelilingi kampus, memegang sebuah megaphone lalu mengajak mahasiswa berunjukrasa sambil meneriakkan “reformasi” dan “gantung Soeharto”.
Tidak sampai setengah jam, Putra yang berpostur kecil, mampu mengajak sekitar dua ribuan mahasiswa berunjukrasa dengan mengelilingi kampus mereka, yang luasnya sekitar tiga hektare. Besoknya, semua harian lokal di Palembang memberitakan aksi mahasiswa tersebut.
Keberhasilan Putra mengerahkan ribuan mahasiswa membuat dirinya dikenal mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Palembang. Penggemar Pink Ployd itu menjadi inspirator aksi para mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Palembang.
Sejumlah dosen dan petinggi di Universitas Balaputra Dewa membenci Putra. Tetapi, sikap para dosen itu wajar. Sebab, biar bagaimanapun, sebagian besar universitas negeri di Indonesia saat itu, harus tunduk pada “Cendana” atau si penguasa tunggal Soeharto.
Mungkin karena Soeharto akhirnya tumbang, Putra pun dapat menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2002.
Selama proses gelombang aksi menuntut Soeharto turun, para intelijen, baik intelijen polisi maupun tentara, terus memantau gerak-gerik Putra dan kawan-kawannya. Bahkan, beberapa mahasiswa dari setiap perguruan tinggi di Palembang dikabarkan dirangkul intelijen menjadi informan.
Tujuan para intelijen itu jelas, yakni untuk mengetahui informasi gerakan mahasiswa di Palembang.
“Aku dengar mereka dikumpulkan di Hotel Bintang Biru. Mereka dikasih handphone, voucher, dan diberi uang saku, jugo dijanjike nak dikasih duit bulanan,” kata Melati seperti berbisik kepada Putra.
Putra menarik napas dalam-dalam. Dia berdiri, melihat keluar dari jendela kamar kosnya.
“Malam ini kito rapat di sini. Undang semua kawan,” kata Putra.
Melati mengangguk, lalu, bergegas pergi.
Malam itu, Putra dan kawan-kawannya membagi tugas menempel setiap mahasiswa yang diduga menjadi informan intelijen polisi dan tentara. Setiap penempel, menyesatkan semua informasi mengenai gerakan mahasiswa di Palembang, misalnya soal jadwal aksi, tempat rapat, dan isi tuntutan.
Cara menempel itu cukup berhasil. Sampai Soeharto jatuh, para mahasiswa di Palembang tidak ada yang ditangkap atau menjadi korban kekerasan aparat keamanan.

Juaro 12
API kian membesar. Satu per satu los dan toko di Pasar 16 Ilir Palembang terbakar. Jai, seorang preman, buru-buru ke lokasi kebakaran. Bukan mau menolong petugas pemadam kebakaran. Dia menemui temannya, Mat Pilis, yang terduduk di bawah tangga belakang pasar.
Di bawah kegelapan malam dan kilatan lidah api, kedua mata Mat Pilis terus mengeluarkan air. Jari-jari kedua tangan dan kakinya yang membusuk terus mengeluarkan nanah. Amis. Kedua kakinya lumpuh. Dia tak mampu meninggalkan pasar yang sebentar lagi menjadi arang itu.
“Pilis, kau nak kupindahkan. Sebentar lagi api ke sini,” kata Jai sambil menyodok tubuh Mat Pilis dengan sebuah balok kayu.
“Oi, kau Jai. Biarlah aku mati bae. Sanak katik, dulur dak katik. Katik guno aku idup. Kalu kau nak nulung aku, untalke aku ke dalam api itu.”
Jai tersentak. Tapi dia kemudian berpikir sebaliknya.
“Kau ikhlas apo? Aku dak galak nanggung dusonya.”
“Aku ikhlas. Daripado aku idup menderita, lebi baek aku mati. Aku terimo. Katik lagi nak nulung aku. Kau tula.”
“Aku nak cari wong dulu.”
Tak lama kemudian Jai datang bersama seorang petugas pemadam kebakaran.
“Ngapo, Pak?”
“Wong ini minta diuntalke ke api.”
“Ngapo nak cak itu. Gilo apo. Manusia apo bukan…”
“Manusio nian. Belorila kalu dak pecayo.”
Petugas itu menyenter wajah, tangan, dan kaki Mat Pilis. “Masya Allah… payolah.”
Jai dan petugas itu mendobrak pintu besi sebuah toko yang terbakar di seberang tempat Mat Pilis terduduk.
“Mat, ikuti aku. Bismillah, Allah Akbar, Allah Akbar…,” kata Jai hendak mengangkat tubuh Mat Pilis yang terasa ringan itu.
Tapi, bluk. Api dengan cepat melalap tubuh Mat Pilis. Petugas pergi. Jai hanya bisa menyaksikan tubuh temannya terlalap api. Tos! Terdengar suara dari arah kepala Mat Pilis yang pecah akibat terbakar. Api berwarna hijau kemerahan menjunjung sekian detik.
Jai meninggalkan temannya yang menjadi abu, juga Pasar 16 Ilir.
Pada awal tahun 1990-an, di atas lahan terbakar itu, dibangun kembali Pasar 16 Ilir. Kemudian sebagian besar losnya kosong, dan hanya beberapa los yang diisi pedagang pakaian bekas dari luar negeri. Kemudian sebagian pindah lantaran sepi pembeli.
Dimulai awal 1990-an, pertokoan dan ruko di Palembang tumbuh ibarat jamur. Namun, tidak jelas dari mana uang para pengusaha yang membangun pertokoan dan ruko itu. Mereka ibarat makhluk asing dari luar angkasa.
Jelasnya, mereka yang sebelumnya tidak dikenal di kalangan pengembang bangunan, tiba-tiba muncul dengan modal yang cukup besar.
Saat membangun pertokoan atau ruko,si pengembang sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Banyak sekali tanah rawa-rawa—yang selama ini menjadi daerah resapan air—ditimbun, dibangun, tanpa membuat saluran pembuangan air.

Juaro 13
SIAPA Mat Pilis? Sejak anak-anak,Mat Pilis sudah hidup di Pasar 16 Ilir. Dia minggat ke Palembang lantaran kedua orangtuanya mati dibantai perampok di dusunnya di Tanjungraja, Ogan Ilir. Sekitar 60 kilometer dari Palembang.
Saat kali pertama di Pasar 16 Ilir, dia bekerja membantu para pedagang ikan. Dia pun tidur di pasar itu.
Ketika remaja, Mat Pilis yang senang berkelahi, akhirnya menjadi pemalak para petani dan nelayan dari pedalaman yang menjual dagangannya dengan menggunakan perhu di Pasar 16 Ilir.
Keenakan menjadi pemalak, Mat Pilis yang kemudian memunyai anak buah, berbuat semaunya di Pasar 16 Ilir, termasuk memerkosa istri nelayan atau petani.
Lalu, entah bagaimana ceritanya, Mat Pilis terserang penyakit kelamin. Orang-orang di pasar itu menyebutnya penyakit “Raja Singa”. Dan, meskipun sudah dibawa ke mantri atau dokter, penyakit tersebut tidak sembuh-sembuh. Bahkan, penyakit itu bukan hanya menyerang kelamin Mat Pilis, melainkan juga ke seluruh tubuhnya.

Juaro 14
JAI buru-buru naik pohon manggis. Dia nongkrong di dahan pohon manggis yang paling tinggi. Bret! Par! Bret! Par! Bret! Bret! Tai Jai berserakan di gundukan serbuk gergajian kayu. Tainya seakan menantang pemilik depot kayu, Ali Akbar, yang sering memarahi anak-anak karena bermain sepakbola di depotnya. Untungnya, sore itu, Ali Akbar bersama keluarganya pergi ke luar kota, sementara seorang pegawainya yang disuruh menjaga depot tertidur di bangku.
Tetangga Ali Akbar sering melihat aksi mising anak-anak di kampung itu. Mereka tidak peduli dengan perilaku anak-anak itu. Cuek. Mereka justru merasa senang sebab suara mesin gergaji kayu milik Ali Akbar membuat mereka terganggu. Bising. Berulang mereka protes kepada Kepala Kampung agar depot itu dipindahkan. Tetapi, protes warga kampung itu tidak digubris Ali Akbar. Konon dia melawan karena bisnisnya itu didekeng sejumlah aparat keamanan.
“Oi gilo! Kalu nak mising, turun, Kagek kau dikapak wong, ado penjagonyo,” teriak Jamil, kawan Jai, di seberang Sungai Sekanak, salah satu anak Sungai Musi.
“Jai! Kita maen bola bae. Turunlah cepet,” kata Jamil.
“Pe!” sahut Jai bergegas turun dari pohon manggis.
Kedua anak itu kemudian mengajak Iman dan Sarif bermain sepakbola dengan anak-anak Bukitkecil. Mereka berempat bertetangga, dan dikenal sebagai anak paling nakal di kampung itu; Cempaka Dalam. Tidak ada anak di Cempaka Dalam yang berani berkelahi dengan mereka.
“Pukul bae rainyo! Biar dio tau raso,” kata Jai, memprovokasi Iman yang marah kepada seorang anak dari Bukitkecil yang menjadi lawan mereka dalam bermain sepakbola.
Gara-garanya ketika Iman sudah sedikit lagi menggiring bola ke dalam gawang, untuk menciptakan gol, anak itu menarik kaos Iman sehingga terjatuh.
Iman yang berambut keriting itu pun menghajar muka dan perut lawannya. Sekian detik kemudian si anak itu menangis dan lari pulang ke rumah. Tak lama kemudian bapak si anak datang sambil membawa sebilah parang.
Melihat ancaman itu keempat sekawan itu lari terbirit-birit. Tetapi, bola milik Sarif tertinggal.
“Oi, berenti. Bolaku ketinggalan,” kata Sarif.
Keempat sekawan itu menyaksikan bola Sarif dicincang dengan parang oleh bapak si anak yang dihajar Iman. Melihat itu, Sarif seperti ingin menangis.
“Kagek malam kito gaweke, kau tenang bae, dak usa nangis,” kata Jai menghibur Sarif.
Malamnya mereka melakukan aksi balas dendam. Aksi balas dendam mereka membuat warga kampung Bukitkecil menjadi panik; mereka membakar rumah orangtua anak yang dihajar Iman. Untungnya hanya dapur rumahnya yang terbakar, lantaran apinya keburu dipadamkan warga kampung.
Malam itu hingga paginya, Jai, Sarif, Iman, dan Jamil, bersembunyi di kandang kambing, yang terletak di kolong rumah panggung orangtua Jai. Mereka senang tetapi juga ketakutan.
Beberapa tahun kemudian, saat remaja, keempat sekawan itu menjadi bandit. Mereka selain menguasai Cempaka Dalam, juga merajai Pasar 16 Ilir.

Juaro 15
SEJAK kecil Jai memang telah diajarkan kekerasan oleh bapaknya.
“Kalu kau berkelahi jangan ngadu ke bapak. Kalu kau ngadu, kau yang bapak pukul,” kata bapak Jai setiap kali memberikan nasihat.
Jai pun sejak anak-anak dibiarkan bapak yang berasal dari Pegagan, sebuah daerah di Ogan Komering Ilir, itu membawa senjata tajam.
“Jadi lanang tu jangan galak diinjak orang. Harus melawan. Lebih baek membunuh wong daripado dibunuh,” kata bapaknya.
Jadi, tak heran, bila Jai tidak pernah menyesali semua kejahatan yang pernah dilakukannya.

Juaro 16
AWAL Desember 1984. Sarif ditemukan keluarganya di dalam sebuah karung goni, di bawah pohon akasia, di Kilometer 15, Jalan Raya Palembang-Inderalaya. Tiga jam sebelumnya polisi memberitahu keluarganya.
Saat mayatnya dikeluarkan, kedua tangan dan kakinya diikat seperti posisi bayi di dalam kandungan ibunya. Sebuah lubang peluru menganga di pelipis kirinya. Di saku kemejanya ditemukan selembar kertas dan uang Rp 25 ribu. Tulisan di kertas itu “Berdoalah kepada ibu dan bapakmu” serta “Biaya penguburan” dan “Penembak Misterius”
“Dia didor petrus,” kata Iman kepada Jai. ”Aku jadi bingsal, Man.”
Malam itu, Jai menemui Iman yang tengah mengunjungi orangtuanya di Puncaksekuning, Palembang. Sejak 1981, seusai kebakaran yang menghanguskan ribuan rumah di 22 Ilir, 23 Ilir, 24 Ilir, 26 Ilir, 27 Ilir, kedua orangtua Iman pindah dari Cempaka Dalam.
“Saranku, kau pergilah, jauh-jauh dari Pelembang. Kalu sudah aman, baru awak balik ke Pelembang,” kata Iman.
“Ya, ya, tapi sekarang aku nak beli kartu porno dulu,” kata Jai terus menyodorkan selembar uang seribu rupiah.
“Tumben kau nak beli, biasonya jugo minta. Embekla duitmu, kagek aku kasih kartunyo.”
“Idak lemak, aku nak beli. Aku banyak duit.”
“Ya, aku pecayo. Tapi, ya, sudah.”
Setelah menerima kartu porno itu, Jai pergi mengendarai sepeda. Dia pulang ke arah rumah istri keduanya yang masih di Puncaksekuning tapi lebih masuk ke dalam, di daerah persawahan.
Beberapa meter meninggalkan rumah orangtuanya, sebuah mobil Toyota berwarna merah berhenti di samping Iman. ”Selamat malam, Pak.”
Iman menoleh ke arah kaca samping mobil itu. Seorang lelaki berambut pendek, berkumis tebal, tersenyum. Di sampingnya, yang membawa mobil, lelaki berambut panjang. Samar-samar Iman melihat dua lelaki duduk di bangku belakang mobil.
“Malam, Pak.”
Lelaki yang menyapa Iman turun dari mobil. Dia mengenakan rompi warna hitam. Iman melihat di pinggangnya terselip sebuah senjata api. “Kalau mau keluar, lewat mana, Pak?”
“Kalau ke depan jalan ini, belok kanan, ke Jalan Kapten Achmad Rivai. Bapak mau ke mana?”
“Kami mau keluar. Kalau terus ke dalam.”
“Ini jalan buntu. Ujungnya persawahan.”
“Maaf, Pak. Bapak pulang ke mana? Bapak kerja di mana? Bawa KTP (Kartu Tanda Penduduk).”
Iman tersentak. Tetapi, dia tetap mengeluarkan kartu tanda penduduknya.
“Aku, aku pulang ke lorong Kulit. Aku dari rumah orangtua di sini. Kerjaku di toko sepatu di Pasar 16 Ilir,” kata Iman seperti terburu-buru.
Seorang lelaki yang duduk di belakang mobil ikut turun. Matanya menatap tajam. Jantung Iman berdetak cepat. Pikirannya mengatakan mereka itu adalah petrus. Jika dirinya diculik, Iman berharap masih punya kesempatan menemui istri dan kedua anaknya.
“Kalau mau diantar, kami antar,” kata lelaki berompi itu sambil mengembalikan kartu tanda penduduk milik Iman.
“Biarlah, aku jalan saja.”
“Nggak apa-apa. Jangan takut. Kami antar, kok,” kata lelaki yang turun belakangan dari mobil.
“Aku biasa jalan. Terimakasih.”
“Begini, Pak…,”
“Bapak anggota (polisi), kan?” Iman tidak mampu menahan kecurigaannya.
Lelaki berompi itu mengangguk, lalu menyodorkan sebuah foto.
“Kami mau tanya. Bapak kenal orang ini?”
Saat melihat foto itu Iman bagai disambar petir. Dia berusaha menutupi keterkejutannya.
“Tidak kenal, Pak,” jawab Iman.
“Masak tidak kenal, namanya Jai.”
“Aku tidak kenal nian, Pak.”
Sejenak lelaki itu menatap wajah dan kedua mata Iman. Iman berusaha keras tidak mengedipkan mata. Dia berharap kebohongannya tidak diketahui.
“Ya, sudah. Kalau mau diantar, ikut kami.”
“Terimakasih, Pak. Biarlah saya jalan. Saya biasa jalan,” kata Iman.
Iman bergegas pergi. Tetapi, mobil itu mengikutinya. Baru di Jalan Kapten Achmad Rivai mobil itu berhenti menguntit. Iman yakin, dirinya tidak dicurigai sebagai bandit lantaran di tubuhnya tidak ada tato. Kalau ada, mungkin dia juga menjadi sasaran petrus.
Besoknya Iman meminta anak buahnya mencari Jai. Menyampaikan kabar agar Jai segera pergi dari Palembang. Petrus mencarinya. Jai memang dikenal sebagai perampok yang suka membunuh dan memerkosa. Puluhan orang telah dibunuhnya.
Wilayah operasi kejahatan Jai adalah dusun-dusun di Musi Banyuasin. Jaraknya dari Palembang sekitar 100 kilometer.
Malamnya saat Jai ingin bertemu dengan Iman di Pasar 16 Ilir, pasar itu terbakar. Hangus. Rata dengan tanah.
Dan, setelah membantu Mat Pilis menghabisi dirinya dengan membakar diri, Jai menghilang. Istri keduanya, yakni Halimah ditinggalkan bersama ketiga anaknya.
Soal banditnya, Palembang tersohor ke penjuru Indonesia, termasuk di Malaysia dan Singapura. Jai dan Mat Pilis adalah sebagian kecil bandit di Palembang. Hampir pada setiap perkampungan padat dan kumuh, akan dilahirkan seorang bandit.
Karier bandit di Palembang itu berjenjang. Awalnya adalah bandit kampung alias “lipas tanah”, kemudian naik menjadi “tikus angin” yang memperlebar wilayah curian; tidak hanya di kampung sendiri. Namun, sasarannya sama yakni sandal kulit, sepatu, pakaian di jemuran, sepeda, dan paling tinggi mereka membongkar warung atau rumah; mencuri barang elektronik seperti televisi, atau pula menodong pendatang di kampung mereka.
Dari “tikus angin” beranjak menjadi bandit sebenarnya. Mereka pun mulai melakukan kejahatan berupa perampokan.
Ada kejahatan yang paling dibanggakan para bandit Palembang, yakni mampu merampok nasabah bank atau toko emas, menjadi perompak di Sungai Musi atau di laut, serta memiliki daerah kekuasaan untuk dipunguti biaya parkir kendaraan atau biaya keamanannya. Alasannya, merampok nasabah bank, merampok toko emas, merompak kapal barang, atau menjaga keamanan di suatu tempat—seperti pasar, pelabuhan atau pertokoan—mendatangkan penghasilan yang besar.
Lalu, tidak sedikit para bandit di Palembang kemudian menggunakan hasil kejahatannya untuk membuka sebuah usaha ekonomi, serta untuk membangun rumah buat orangtuanya. Dari usahanya itu, kemudian mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji—mayoritas masyarakat di Palembang beragama Islam. Mereka pun masuk ke dalam pepatah yang sering terdengar di masyarakat, “Lebih baik dari bandit menjadi ulama, daripada dulunya ulama berubah menjadi bandit.”
Takutkah mereka dengan dosa seperti yang diajarkan semua agama? Para bandit itu mengaku kejahatan yang mereka lakukan adalah sebuah dosa. Tetapi, kata mereka, apakah tidak lebih berdosa bila membiarkan keluarga mereka kelaparan, bodoh lantaran tidak dapat sekolah dan membeli buku, serta berpenyakitan karena kemiskinan.
“Kami tidak mau sudah berdosa di akhirat, miskin pula di dunia,” kata mereka.

Juaro 17
MENGHADAPI Pemilihan Umum 1999, Putra dan beberapa kawannya mendirikan sebuah organisasi pemantau HAM (hak asasi manusia). Alasan pendirian organisasi itu karena persoalan utama di Indonesia untuk 10 tahun ke depan masih berkisar pelanggaran HAM.
Kepopuleran dirinya selama menjadi aktivis mahasiswa membuat sejumlah lembaga donor dari Amerika Serikat dan Eropa mau membantu semua aktivitasnya, terutama berkaitan dengan pendidikan politik serta penguatan organisasi masyarakat sipil, seperti kaum buruh dan tani.
Hampir setiap hari Putra tampil di media massa, baik lokal maupun nasional. Bila ada aksi yang dilakukan petani atau buruh, Putra selalu berada di depan. Dia berteriak agenda reformasi, berteriak soal hak-hak masyarakat sipil, berteriak soal hak-hak rakyat yang telah dirampas perusahaan atau Pemerintah.
Setelah mendapatkan sejumlah dana, organisasi Putra tidak lagi menumpang di kantor LBH Swarna Bhumi. Organisasi itu menyewa sebuah rumah di kawasan Bukitbesar, sebuah rumah dengan lima kamar.
Siapa Putra? Setelah menamatkan sekolah menengah atas di Jakarta, Putra menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Balaputra Dewa. Nama lengkapnya Putra Sriwijaya.
Bapaknya bekerja pada sebuah perusahaan perkebunan. Ibunya tidak bekerja. Keluarganya tinggal di daerah Cempaka Putih, Jakarta. Putra anak tertua dari tiga bersaudara. Sejak duduk kelas satu sekolah menengah pertama, Putra ingin sekali bersekolah ke Palembang.
“Entahlah, Pa, aku pingin benar kuliah ke Palembang.”
“Ya, wajar saja. Kamu kan lahir di sana,” kata bapaknya.
“Tapi, menurut Mama, sebaiknya kamu kuliah di Jakarta. Biar tidak jauh dari kami,” timpal ibunya.
“Ma, kuliah di Palembang itu keinginanku sejak lama. Aku kan dapat pulang setiap ada kesempatan atau Mama yang mengunjungiku ke Palembang. Di sana kan ada saudara Papa.”
“Sudah tidak ada lagi. Semuanya meninggal dunia.”
“Aku ingin sekali kuliah di Palembang, Ma.”
Keinginan Putra kuliah di Palembang tidak dapat dicegah kedua orangtuanya. Dia lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Dia diterima di Fakultas Hukum Universitas Balaputra Dewa.

Juaro 18
SEMESTER pertama kuliah, Putra banyak menghabiskan waktu dengan menelusuri Kota Palembang, terutama perkampungan di tepian Sungai Musi. Setiap kali melihat Sungai Musi dia merasakan getaran yang luar biasa. Berulangkali dia mandi di air sungai yang pernah memiliki 316 anak sungai itu. Puluhan foto perempuan yang mencuci, anak-anak yang mandi, bermain perahu atau sepakbola di pinggiran Sungai Musi menjadi koleksinya. Pempek, godo-godo, lempok atau laksan menjadi makanan pilihannya setiap pagi.
“Aku harus menjadi wong Palembang.”
Tetapi, kebahagian Putra sering pupus ketika dia menyadari kehidupan masyarakat di tepian Sungai Musi itu memprihatinkan; kumuh dan miskin, bagai ratusan ikan di Sungai Musi yang mati perlahan karena limbah amoniak.
Perkampungan yang dinilai Putra kumuh itu adalah hampir semua perkampungan di sepanjang Sungai Musi bagian Ulu, kecuali perkampungan etnis Arab. Lainnya dari Kertapati, 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14 Ulu, dan Hoktong merupakan kawasan kumuh.
Sementara perkampungan kumuh di bagian Ilir, antara lain Tanggabuntung, 35, 34,30, 29, 28, 1 Ilir, dan Kuto Batu.
Akibat kemiskinan, rumah-rumah panggung milik warga tak terawat; tiang-tiang rumah yang dulunya dari kayu Tembesu, diganti dengan kayu Gelam.
Lorong-lorong di perkampungan itu sempit dan dipenuhi sampah. Di kolong-kolong rumah panggungnya, ratusan ribu manusia hidup di dalam kelembaban.
Rumah-rumah rakit pun kian berkurang jumlahnya. Pemiliknya sebagian besar pindah atau menetap di darat. Mereka tidak kerasan lagi di rumah rakit.
Alasan mereka, arus lalu lintas di sepanjang Sungai Musi tidak tenang lagi. Berbagai kapal tongkang yang membawa batu bara, semen atau pasir yang melintasi Sungai Musi, setiap hari, meninggalkan ribuan gelombang yang menghempas rumah panggung mereka.
Selain itu, limbah amoniak dari pabrik PT Pupuk Sriwijaya, limbah “tai” minyak Pertamina, atau limbah dari pabrik karet dan penggergajian kayu di tepian Sungai Musi, juga menyebabkan mereka terancam berbagai penyakit.

Juaro 19
KETIKA pulang ke Jakarta, dia banyak mengeluhkan persoalan itu ke orangtuanya, terutama kondisi kampung kakeknya, 5 Ulu.
“Mama, Walikota Palembang itu gila benar. Masak di kampung kakek sulit sekali mendapatkan air bersih, padahal kan di tepi Sungai Musi. Pipanya ada tapi airnya tidak pernah keluar. Jadi, wong sana setiap hari membeli air untuk minum.”
“Ya, memang seperti itulah Kota Palembang. Makanya Mama tidak mau kau kuliah di Palembang. Di sana juga banyak banditnya, mereka suka membunuh.”
“Bukan itu masalahnya, Ma. Aku senang kuliah di Palembang. Tapi kota sebesar dan setua itu kok sulit sekali mendapatkan air bersih. Padahal kan katanya Sungai Musi itu nyaris tak pernah kering meskipun musim kemarau. Pasti karena pejabatnya korup. Apalagi banyak sekali pengangguran di Palembang.”
“Us! Jangan ngomong sembarangan, nanti kau ditangkap seperti teman Mama di Semarang dulu, yang sembarangan ngomong soal Pemerintah. Protes itu.”
“Ah, susah ngomong dengan Mama ni.”
Ketertarikan Putra terhadap kehidupan di tepian Sungai Musi, membuatnya peduli terhadap persoalan masyarakat pesisir sungai. Selain bertukar informasi dengan masyarakat di tepian Sungai Musi, dia juga berdikusi dengan teman sekampus dan membaca buku soal lingkungan hidup. Dia pun menulis beberapa artikel mengenai kehidupan di tepian Sungai Musi di koran lokal Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspres.
Kebiasaan berdikusi itu akhirnya melahirkan sebuah kelompok diskusi. Tema diskusi kelompok Putra bukan hanya persoalan lingkungan hidup, juga merambah ke tema politik, hukum atau ekonomi.
Kelompok diskusi itu sering menghadirkan sejumlah dosen yang dinilai kritis dan kawan-kawan aktivis prodemokrasi di luar kampus. Kemudian mereka membangun komunikasi dengan para aktifis kampus dari berbagai perguruan tinggi di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Putra membaca semua buku yang mengupas pemikiran Karl Marx yang banyak mengkritik kapitalisme. Buku-buku itu dikirim kawan-kawannya dari SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) di Yogyakarta atau aktivis Pijar (Pusat Informasi Jaringan Reformasi) di Jakarta.

Juaro 20
MALAM di kamar kos Putra di kawasan Bukitbesar, digelar sebuah diskusi mengenai kepemimpinan Soeharto.
“Negara ini dikendalikan kapitalisme global. Soeharto adalah anteknya. Ini terbukti karena sejak awal kepemimpinanya dia sudah berutang dengan negara asing, dan memberikan peluang kepada negara asing menanamkan modalnya ke negara ini. Makanya negara ini hancur karena terjual ke negara-negara asing yang rakus itu,” kata Putra.
Pernyataan Putra itu menarik perhatian seorang peserta diskusi yakni Beben dari LBH Swarna Bhumi. Di dalam penilaian alumnus Fakultas Pertanian Universitas Balaputra Dewa itu jarang sekali ada seorang mahasiswa yang kritis dan berani di Palembang, seperti Putra, apalagi mahasiswa Universitas Balaputra Dewa, yang konon pernah dikirimi pakaian dalam perempuan oleh mahasiswa Universitas Indonesia lantaran dinilai penakut.
“Kau mau dak jadi voulenter di LBH. Kalau mau, kagek aku usulke ke Kak Din, direktur kami,” kata Beben.
Tanpa berpikir dua kali Putra menyetujui tawaran itu. Sudah lama dia ingin sekali mempunyai aktivitas di luar kampus. Dia pun menjadi voulenter di lembaga bantuan hukum yang awal keberadaannya di Palembang banyak membantu kasus-kasus penggusuran lahan yang merugikan masyarakat.
Tetapi, perjuangan lembaga bantuan hukum non profit itu selalu kandas di pengadilan. Penggusuran sulit sekali dilawan lantaran rezim Soeharto bagai gurita lapar yang sulit sekali ditaklukkan meskipun dengan mengucapkan nama Tuhan berjuta kali kepada para pendukungnya.
Kasus pertama yang diikuti Putra yakni membantu advokasi kasus penggusuran lahan di kawasan Jakabaring, Seberang Ulu Palembang. Kawasan itu akan direklamasi Pemerintah Daerah Sumatra Selatan.
Dari kasus itu pula Putra tahu pemerintah Sumatra Selatan akan merelokasi pemukiman penduduk di tepi Sungai Musi. Kabarnya, setelah reklamasi Jakabaring—selanjutnya akan dibangun sarana olahraga, perumahan penduduk, dan perkantoran pemerintah—di sepanjang tepian Sungai Musi yang membelah Kota Palembang, akan dibangun perhotelan, taman, dan sarana hiburan lainnya.
“Soeharto harus dilawan. Dia harus dijatuhkan agar rakyat Indonesia merdeka dan meraih keadilan sejati,” kata Putra berulangkali kepada beberapa temannya di kampus.

Juaro 21
DULU, sekitar tahun 1950-an, tidak banyak orang yang berani masuk ke kawasan Jakabaring, yang terletak di daerah Seberang Ulu Palembang. Sebagai daerah rawa-rawa dan hutan semak, Jakabaring terkenal sebagai kawasan bercokolnya binatang buas seperti ular, buaya, atau harimau. Istilah wong Palembang “tempat jin buang anak”. Tetapi, yang terpenting, Jakabaring adalah daerah resapan air.
Namun, ada segelintir orang yang nekat masuk ke daerah itu. Salah satunya Hasyim, warga 8 Ulu Palembang. Bermodalkan parang, cangkul, serta selembar surat pancung alas atau surat izin membuka lahan dari Pemerintah Palembang saat itu, selama sepuluh tahun, Hasyim menggarap kawasan itu menjadi kebun jeruk, kelapa, dan persawahan padi. Selanjutnya berbondong-bondong orang membuka kebun dan sawah di Jakabaring.
Awal petaka. Pada awal tahun 1990-an, Gubernur Sumatra Selatan saat itu bersama Siti Hardijanti alias Mbak Tutut, putri sulung Soeharto, berencana mereklamasi kawasan Jakabaring tersebut. Proyek itu didukung para pengusaha, termasuk pengusaha dari Palembang.
Tujuan dari reklamasi itu memperluas Kota Palembang. Di atas lahan reklamasi itu, akan dibangun perumahan, pasar, sarana olahraga, pertokoan dan perkantoran. Keluarlah surat sakti sang gubernur untuk mereklamasi lahan seluas 500 hektare di Jakabaring.
Dalam proses awal reklamasi, warga di Jakabaring dipaksa menyerahkan lahannya. Tak kecuali pemaksaan itu melalui teror oleh pegawai kelurahan, pegawai kecamatan dan bandit terhadap warga. Teror itu misalnya dengan cara mengancam akan membakar pondok warga atau dituduh sebagai pengikut komunis; ideologi yang dilarang dalam pemerintahan Soeharto. Biaya ganti rugi lahan yang diterima warga rata-rata Rp 700 per meter persegi.
Warga pun melawan tetapi selalu kandas. Tiga warga yang memimpin aksi perlawanan yakni Muhammad Rasyid, Ali Hasan, dan Rias, ditangkap tentara. Di markas tentara yang menangkap, ketiga warga yang ditangkap itu dikurung selama dua hari. Mereka mengaku disiksa. Muhammad Rasyid kehilangan tiga gigi depannya karena benturan kursi yang dilemparkan seorang tentara.
Tahun 1991, semua lahan warga di Jakabaring telah diambil Pemerintah. Perlawanan terakhir warga yakni menuntut tambahan biaya ganti rugi lahan. Tuntutan itu pun tidak berhasil.
Seusai Soeharto jatuh, pengujung tahun 1998, warga yang digusur kembali ke Jakabaring. Sekitar 43 hektare tanah dijadikan warga kebun dan sawah.

Juaro 22
PAGI, 12 Juni 2001, Putra bersama beberapa aktivis LSM dan mahasiswa mengadakan per-temuan dengan warga di sebuah langgar. Hari itu Pemerintah Palembang akan melakukan penggusuran di Jakabaring. Warga yang mem-bangun pondok, membuka kebun dan sawah di Jakabaring dicap sebagai pencuri.
“Kito harus berjuang mati-matian. Ini hak kito. Kito harus mempertahankan hak kito yang telah dirampas rezim Soeharto,” kata Putra.
Sekitar pukul sembilan pagi, lebih kurang 350 orang dari aparat pamong praja, polisi, tentara dan bandit, berkumpul di jalan tak jauh dari lokasi pemukiman warga.
Seorang pemimpin penggusuran yakni Ahmad Temboki membacakan surat keputusan Walikota Palembang yang meminta warga segera me-ninggalkan pondok dan lahan mereka dalam waktu dua jam. Bila menolak akan dilakukan penggusuran paksa.
Sampai batas waktu yang ditetapkan itu warga tetap bertahan di lokasi yang akan digusur. Berbagai doa dibacakan warga agar penggusuran itu batal dilakukan. Tetapi, Tuhan punya keinginan yang lain, maka sebuah ekskavator yang diiringi ratusan petugas, bandit yang membawa pen-tungan, godam, menuju ke pemukiman warga.
Pukul 10.00, tiga pondok milik warga dirobohkan ekskavator.
Putra menyuruh para ibu dan anak-anak membentuk pagar manusia dengan cara berpegangan tangan, sebagai lapisan pertama. Sedangkan lapisan kedua, Putra bersama bapak-bapak, pemuda, serta aktifis mahasiswa dan LSM.
Saat berhadapan dengan ekskavator, para ibu dan anak-anak bertangisan. Mereka berteriak-teriak agar penggusuran dihentikan. Bahkan, seorang ibu, namanya Komariah, berteriak dan menangis sambil bergulingan di tanah. Seorang ibu lainnya menari-nari di depan ekskavator.
Kedua ibu itu diseret oleh beberapa polisi pamong praja. Ekskavator pun bergerak. Dua lapis pagar manusia itu mundur sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Puluhan bandit tak jauh dari mereka mengacungkan senjata tajam.
Melihat warga mundur, ratusan polisi pamong praja dan bandit menyerbu. Mereka menarik dan memukuli warga.
Putra pun terkena pukulan di kepalanya. Komariah dihempaskan tubuhnya ke tanah oleh seorang polisi pamong praja karena melawan.
Ekskavator terus bergerak, merubuhkan puluhan pondok. Isak tangis dan teriakan kemarahan warga bergema.
Melalui siaran berita live dari beberapa radio, seluruh warga Palembang mendengar jeritan batin mereka.
Seorang ibu nekat maju ke depan pondoknya yang akan dihancurkan ekskavator. Dia membawa sebuah drigen berisi minyak tanah. Dia mau membakar dirinya. Namun, puluhan polisi pamong praja dengan sigap memukul dan menyeretnya.
Ekskavator dengan garangnya meratakan pondok, termasuk beberapa langgar. Sementara pondok yang sulit dijangkau ekskavator, dibakar. Kebun dan sawah milik warga juga dibakar.
Ratusan orang kehilangan tempat tinggal. Mereka termangu, menangis, marah, benci, cemas, takut, seperti ratusan binatang yang berlari menyelamatkan diri karena hutan dibakar para perambah.
Putra bersama beberapa aktivis LSM kemudian mengirim surat protes ke Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) dan Presiden. Hasil dari surat protes itu nol besar alias tak ada kelanjutannya.
Lalu, sebagian warga ikut transmigrasi, sisanya mencari kontrakan rumah di Palembang, dan bekerja apa saja, yang jelas tidak lagi bertani.
Hanya Komariah yang bertahan di Jakabaring, selanjutnya dia membangun sebuah pondok di balik dinding pagar kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatra Selatan.

Juaro 23
SEUSAI menulis laporan seminar mengenai HAM, Putra dan Melki merasa sangat lelah. Mereka terbaring di kasur, di sebuah kamar di Hotel Bidadari, Jalan Tasik, Palembang.
“Melki, kagek malam kito ke kafe itu, kito cari budak semalem itu. Badannya bagus. Manis pulo. Aku sir nian. Dio itu pecak Madonna,” kata Putra.
Putra menyukai perempuan bertubuh gempal, tinggi, serta berbuah dada besarmeskipun tinggi tubuh Putra hanya 145 centimeter. “Memperbaiki keturunan,” kelakarnya. Tetapi, Putra sendiri sudah jatuh cinta dengan Yulia, teman satu kampus. Tubuhnya kerempeng, tingginya sama dengan Putra dan mengenakan jilbab. Tidak mau Putra menyalurkan nafsu purba kepada Yulia. Takut berdosa. Namun, dia tidak begitu yakin mampu menahan nafsu purba dengan Yulia.
“Dio itu bukan untuk nafsu-nafsuan. Dio calon bini aku.”
Melki dan Putra menghabiskan beberapa loki vodka dan beberapa botol bir, sambil menikmati musik blues yang didendangkan “negro melayu” di sebuah café tak jauh dari hotel itu.
Pulangnya Putra mengandeng seorang perempuan muda, sementara Melki melunasi utang tidurnya.
Di kamar hotel, Putra menjadi penyair yang patah hati. Chairil Anwar dan W.S. Rendra bergantian masuk ke mulutnya. Satu rasa sejuta kata. Mengumbar bunga, madu dan mendatangkan musim salju yang berabad-abad telah hilang di kamar. Perempuan itu kedinginan. Dia menggigil. Dia memeluk pergunungan Himalaya.
Sejenak kemudian Putra menjadi Spiderman. Dia meloncat, menempel di dinding, bergantung di langit-langit kamar hotel. Jaring laba-laba menyesaki mereka. Perempuan itu sulit bernafas. Dadanya sesak. Naga purba merayapi tubuhnya. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya. Keduanya kemudian menghancurkan televisi, menghentikan siaran berita tentang pengukuhan George W. Bush menjadi Presiden Amerika Serikat. Mereka meraih dan mengelus bintang sampai subuh.
“Semoga kito ketemu lagi. Awak hebat nian,” kata Putra.
Perempuan itu dimasukkan Putra ke dalam kantong kresek. Dijinjing pelayan hotel. Di pinggir jalan perempuan itu menunggu anjing mencium bau tulangnya, lalu, berharap menyeret dirinya.

Juaro 24
ORANG-ORANG berteriak ketakutan. Dinginnya udara pada subuh itu berubah ibarat uapan air mendidih. Tangisan dan kebingungan membuat orang tidak mampu menyelamatkan semua harta bendanya. Kampung 7 Ulu terbakar. Dalam waktu tak sampai setengah jam, separo rumah, yang sebagian besar rumah panggung terbuat dari kayu, di kampung itu hangus terbakar. Agustus 1995.
Baru setelah api mengamuk hampir satu jam, lima kendaraan pemadam kebakaran datang. Mobil dan petugasnya tidak mampu masuk ke da-lam perkampungan, hingga ke tepian Sungai Musi. Selain lorongnya sempit juga selang pe-nyemprotan terlalu pendek. Mereka pun hanya menyemprot rumah-rumah di kampung sebelah yang belum terbakar. Pencegahan, kata petugas pemadam kebakaran.
Sementara amukan api di kampung 7 Ulu hanya dilawan dengan siraman air dari warga yang menggunakan ember dan panci.
Bles. Hanya sekitar 1,5 jam, ratusan rumah di kampung itu tinggal bara dan debu. Ratusan perempuan dan anak-anak menangis meraung-raung. Sementara para lelakinya sibuk menyelamatkan harta benda, yang dapat dihindarkan dari amukan api.
“Kampang! Kampang kamu tu! Rumahku habis. Oi, rumah kami habis. Pergi sano! Kampang!”
Maki seorang ibu setengah baya kepada beberapa petugas kebakaran yang pergi bersama mobilnya. Sejenak kemudian ibu itu menangis, lalu, pingsan. Di dalam pingsannya ibu itu terus memaki.
“Maling! Maling!” teriak seseorang kepada seorang lelaki muda yang memanggul sebuah televisi.
Lelaki muda itu berlari di antara kerumunan orang yang sibuk menyelamatkan keluarga dan harta bendanya.
Bagai disambar petir puluhan orang yang panik dan bingung menyerbu lelaki muda itu. Mereka memukulinya dengan berbagai benda keras dan tajam. Bahkan, beberapa orang membacoknya dengan parang seperti mencincang ikan.
Lelaki muda itu pun mati. Mukanya hancur, kepalanya remuk, serta tubuhnya penuh dengan bacokan parang. Warga belum puas, lelaki muda itu dilemparkan ke dalam bara api yang masih menyala. Sedangkan televisi yang dicuri hancur terinjak-injak warga yang marah kepada lelaki muda itu.
Aku duduk di hadapan rumah kami yang habis terbakar. Aku tidak dapat menangis, tidak dapat marah, tidak dapat meneriakkan Tuhan sudah tidak adil.
“Sebagai manusia besok masih banyak yang harus kukorbankan. Termasuk melepaskan nyawaku atau menyaksikan keluargaku mati.”
Selama dua pekan kami tinggal di gedung sebuah sekolah dasar tak jauh dari lokasi kebakaran. Kami makan dan minum dari pemberian pemerintah dan mereka yang simpatis. Kami makan apa yang diberi, seperti nasi bungkus atau mie instant.
Memasuki pekan kedua setelah kebakaran itu kami tinggal di barak yang dibangun Pemerintah di daerah Sekojo, sekitar 20 kilometer dari kampung 7 Ulu.
Orangtuaku, keluarga saudaraku, dan keluargaku tinggal di barak itu. Hampir selama setengah tahun kami makan satu kali dalam sehari. Kami sekeluarga besar nyaris tidak mencari nafkah. Kami stres. Makanan kami pun masih dari bantuan pemerintah dan mereka yang simpatis.
Memasuki bulan kedelapan di barak itu kedua orangtua kami meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, selama dua hari keduanya tidak mau makan dan minum. Yang pertama meninggal, ibuku, sekitar pukul enam pagi. Saat kami memandikan jasad ibuku, abahku menyusul. Dia melepas nyawanya.
Beberapa tetangga kami yang mempunyai uang kembali membangun rumah di lokasi kebakaran. Tetapi, tidak bagi kami. Meskipun saudaraku banyak, kami tidak memiliki simpanan uang untuk membangun sebuah rumah.
Dengan rasa berat, tanah tempat rumah kami yang terbakar dijual seharga Rp 25 juta. Harga itu cukup murah. Yang membuat tanah itu murah karena surat tanahnya terbakar.
Aku mendapat bagian Rp 2 juta. Uang itu kemudian aku belikan sebuah rumah rakit dan satu televisi hitam-putih 14 inci.
Melalui televisi itu aku melihat hampir setiap hari ada kebakaran di muka bumi ini.
Tidak terpikir olehku sebelumnya untuk tinggal di rumah rakit. Buat wong Palembang, rumah rakit adalah simbol “orang asing”. Dulu, katanya, pendatang dari Tionghoa dan pedagang Belanda, saat masuk ke Palembang, oleh Kesultanan Palembang Darussalam tidak boleh langsung menetap di darat. Mereka hanya diperbolehkan menetap di rumah rakit di Sungai Musi.
Mereka baru boleh menetap di darat apabila menikah dengan kerabat Kesultanan Palembang Darussalam.

Juaro 25
“KALIAN itu ditertibkan bukan untuk dibunuh. Kalian ditertibkan agar kalian beradab, dan agar kota ini menjadi tertib, tidak sumpek dan kacau-balau,” kata Jai sambil menunjuk muka Solikin, seorang penarik becak.
“Awak yang kacau-balau. Awak yang tidak tahu diri. Sudah dipilih tapi lupa dengan kami. Bekacolah, Lur.” Solikin balas menuding.
Jai tersinggung.
“Tai! Kau nih.”
Jai mendekati Solikin, tetapi, langkahnya dicegat beberapa temannya.
“Sudahlah, tidak enak. Dio kan cuma penarik becak.”
Perundingan antara penarik becak, yang diwakili Solikin, dengan para anggota Dewan Palembang siang itu gagal. Kegagalan itu lantaran ketegangan antara Jai dengan Solikin.
Mendengar kabar perundingan itu gagal, seribuan penarik becak yang melakukan aksi di halaman gedung Dewan itu marah. Aksi damai menuntut agar aparat polisi pamong praja tidak bertindak kasar terhadap penarik becak saat di jalan, berakhir brutal.
Para abang becak mengamuk. Mereka merusak apa saja. Mereka mencabuti tiang lampu taman, memecah kaca gedung Dewan, menghancurkan pot kembang. Bahkan, sebuah mobil sedan menjadi sasaran amukan mereka. Mereka memecahkan kacanya, lalu, melompat-lompat di atasnya. Mobil itu milik Jai.
Aparat polisi tidak mampu meredam amukan para penarik becak itu. Bahkan, terjadi bentrokan antara penarik becak dan aparat polisi. Beberapa polisi kepalanya terluka akibat lemparan batu dan puluhan penarik becak tertembak peluru karet.
Jai begitu marah saat melihat mobilnya dihancurkan para penarik becak. Dia kemudian menelepon beberapa kawannya.
“Aku minta harus ada yang basa. Terutama Solikin itu.”
Saat puluhan bus kota yang membawa ratusan bandit datang, bentrokan itu sudah berakhir. Para penarik becak yang tertembak dibawa ke rumah sakit sementara puluhan lainnya ditahan polisi, termasuk pimpinan aksi yakni Solikin.

Juaro 26
SELAMA seminggu Solikin sembunyi di rumah orangtuanya di Pulaurimau, Banyuasin, sekitar 98 kilometer dari Palembang. Solikin diburu preman yang mengancam akan membunuhnya. Para preman itu disuruh Jai yang sakit hati mobilnya dirusak oleh penarik becak saat unjukrasa ke Gedung Dewan itu.
“Kalau idak mati setidaknya kalian kasih dua lubang di pantatnya. Biar dio dak pacak mecak lagi,” pinta Jai kepada bandit-bandit suruhannya itu.
Sebenarnya Jai dan Solilkin berteman. Saat kampanye Pemilu 1999, Solikin banyak membantu Jai dengan cara menyosialisasikan partainya kepada para penarik becak di Palembang. Solikin pun mengajari Jai apa yang harus dikatakan kepada penarik becak: “Bilang bae kalau kagek terpilih sebagai anggota Dewan akan menurunkan harga beras, memberantas korupsi, dan membuka lapangan pekerjaan.”
Namun, setelah terpilih menjadi anggota Dewan, Jai tidak mau lagi berhubungan dengan Solikin. Beberapa kali Jai menghindar setiap mau ditemui Solikin. Baginya, Solikin itu tidak pantas berteman dengannya.
Sementara Solikin yang kepalanya plontos itu didesak teman-temannya agar menuntut Jai, yang belum menepati janjinya. Solikin yang membiayai kuliahnya dari menarik becak, juga menjadi sasaran kekesalan para penarik becak. Beberapa kali dia akan dikeroyok para penarik becak, berkaitan dengan janji Jai itu tentunya.
“Dio itu bukan temanku. Dio itu tukang becak yang kubayar saat kampanye dulu. Jadi dak katik hubungan apo-apo dengan aku. Paling-paling dio cari aku tu minta duit,” kata Jai kepada teman satu fraksinya, yang memberi tahu Solikin mencarinya.
“Aku bukan mau minta duit dengannya!” kata Solikin.
Ya, sebagai ketua organisasi penarik becak di Palembang, dia ingin menemui Jai, sebagai teman dan angggota Dewan, untuk minta tolong agar Jai memberi teguran kepada polisi pamong praja, yang sering bertindak kasar terhadap para penarik becak di jalan.
“Mereka memang sekendaknya kalu di jalan. Biang macet jalan. Mobil aku bae lecet gara-gara ditabrak becak. Kurang ajar pulo si penarik becaknya, setelah nabrak minta duit buat berobat. Lemak bae. Kutampar dio. Jadi sebaiknya memang becak di Palembang ini harus dimusnahkan. Cubo jingok Singapor itu, tertib, katik becak. Lemak nian jingoknyo,” seloroh Jai kepada Tarto, sesama anggota Dewan, saat pulang dari berkaraoke dengan seorang pengusaha real estate dari Jakarta di Heppi Karaoke.
Heppi Karaoke terletak di kawasan pertokoan Ilir Barat Permai, Palembang. Pada 26 Juli 2002 tempat hiburan itu terbakar. Puluhan orang mati terpanggang di dalam gedung tempat hiburan itu, termasuk Yanti, seorang lonte simpanan Jai yang tinggal di Rumah Susun Blok 46.
Beberapa bulan kemudian Solikin masuk ke rumah sakit. Pantat, tangan kanan dan perutnya ditusuk orang saat dia menarik becak di Pasar Cinde. Dia selamat. Namun, untuk dua bulan Solikin menahan sakit saat mising.

Juaro 27
SEKITAR awal tahun 1990, Jai yang berlari ke Pekanbaru karena diburu Petrus kembali ke Palembang. Perutnya mulai buncit meskipun matanya tetap liar. Dia meninggalkan seorang istri dan dua anak di kota itu. Istrinya bekerja di sebuah diskotek di kota itu.
Di Palembang, dia mencari makan di Pasar 16 Ilir. Siang hari dia menjadi penjaga parkir dan malamnya membantu temannya, Seha, menagih uang kebersihan dari para penjual sayur.
Lantaran pandai bergaul, Jai disenangi para bandit di pasar itu. Lalu, Pemilu 1997, dia diajak Seha menjadi tim sukses sebuah partai politik. Tugas mereka mengerahkan massa dan men-cabuti atau merusak atribut partai politik lainnya.
Ketika kerusuhan Mei 1998, Jai turut menikmati penjarahan toko-toko. Dia me-nampungi semua barang yang dijarah. Selain itu dia pun mendapatkan banyak uang dari pengusaha yang minta toko dan kantornya diamankan dari jarahan massa.
Menjelang Pemilu 1999, dia bergabung dengan sebuah partai politik. Saat pencalonan anggota legilslatif, dia menjadi calon dengan nomor urut 5. Guna memenuhi persyaratan, dia membeli ijazah SMP palsu seharga satu juta rupiah. Jai terpilih menjadi anggota Dewan.
“Orang seperti Jai yang menjadi anggota Dewan banyak. Bahkan di antaranya, bekas germo atau penjual nomor buntut,” kata Putra.
“Tapi bukan latar belakang sosial mereka yang kita persoalkan. Setiap orang berhak menjadi anggota Dewan. Tetapi, sebaiknya mereka mengubah perilaku buruknya setelah menjadi anggota Dewan, dan mereka sebenarnya dapat mem-perjuangkan nasib wong kecik. Mereka juga du-lunya seperti itu kan.”
Putra menarik napas.
Lanjutnya, “Jadi peristiwa kekerasan yang menimpa Solikin jelas suatu tindakan pelanggaran HAM. Biar bagaimanapun, kita harus membuktikan bahwa penusukan terhadap Solikin berkaitan dengan aksi kawan-kawan penarik becak setahun lalu.”
Pernyataan Putra itu mendapat aplaus dari beberapa perwakilan LSM yang melakukan pertemuan, sehari setelah Solikin ditusuk orang yang tak dikenal, yang diduga bandit suruhan Jai.
“Sekarang langkah apa yang harus kita ambil?”
“Kita akan melakukan siaran pers, melapor ke polisi, dan membentuk tim investigasi. Jangan takut diancam para bandit itu. Mereka takut juga dengan kita.”
Hingga Solikin memutuskan menjadi calon anggota legislatif dalam Pemilu 2004, kasus penusukan terhadap dirinya itu tidak terungkap.
Polisi dan tim investigasi yang dibentuk sama sekali tidak menemukan siapa pelaku penusukan terhadap Solikin, apalagi membuktikan keterkaitan penusukan terhadap dirinya dengan aksi penarik becak di gedung Dewan.
Dalam Pemilu 2004, Solikin gagal menjadi anggota Dewan sementara Jai kembali terpilih.

Juaro 28
MALAM itu seusai tahlilan seribu hari kematian Muhammad Taufik, tetanggaku Dollah mengajak bicara empat mata.
“Ado kabar buruk buat kito.”
Dollah menarik tanganku.
“Kito ngomong di belakang bae,” lanjutnya.
Rumah rakit kami bergoyang karena hantaman ombak dari kapal tongkang yang lewat.
“Ado Apo?”
“Rumah kito nak digusur!”
“Akh, yang bener bae. Oleh siapo? Rumah rakit aku ini? Apo gilo, masak banyu juga nak dikuasai. Ini bukan tanah.”
“Nah, kau nih. Aku dikasih tau Memet. Dio kabarnya tau dari wong kecamatan. Katonya jugo beberapa hari lalu beberapa pejabat turun liat kampung kito. Pemerintah nak gusur kampung kito. Bukan hanya rumah rakit awak yang nak di-gusur, termasuk rumah-rumah di laut.. Rumah aku. Rencananya di kampung kito ini akan di-bangun hotel untuk menarik turis.”
“Ado apo kamu nih ngobrol pecak serius nian?” tanya Halimah yang mau ke kakus.
“Rumah kito nak digusur pemerintah! Di kampung kito ini nak dibangun hotel.”
“Akh, digusur aponyo? Rumah ini bae sewaktu-waktu bisa hanyut. Aponyo yang nak digusur itu? Gilo nian wong pejabat sekarang! Cubo rumah mereka digusur, galak dak?” kata Halimah dari dalam kakus.
Malam itu semua tetanggaku yang ikut tahlilan tidak langsung pulang. Mereka membahas isu rencana penggusuran yang akan dilakukan pemerintah itu. Puluhan iris pempek habis dilahap dan beberapa ceret kopi habis diminum. Aku berutang dengan Budi Rp 200 ribu untuk membiayai tahlilan itu.
Tetapi, besoknya utang itu sudah dapat kubayar. Aku menang judi nomor togel alias toto gelap; nomor yang kupasang adalah umur Taufik, yakni 15.
“Kito tanyoke ke Pak Camat langsung. Kalu kabar itu bener, kito harus melawan. Minimal kito punyo caro untuk nolak digusur,” kata Sapto, suami Bicek Ida, sehari-harinya bekerja di salah satu toko di International Plasa.
“Cak mano kalu kita mengadu ke LSM. Anak buahku ado yang kawannyo di LSM,” sambung Sapto.
“Kagek mereka minta duit. Kito kan saro galo,” kata Dollah.
“Aku dengar mereka LSM itu cuma memanfaatkan wong kecik bae. Mereka hanya cari duit dengan cara menjual persoalan kito,” timpal Jon.
“Aku raso kita dak katik pilihan lain. Saran Mas Sapto itu aku terimo. Tapi kito cek dulu ke Pak Camat, apo benar. Kagek aku bae ke kantor camat. Kalu budak LSM itu nak nipu kito, aku maju duluan. Kutujah dio,” kataku menutup pembicaraan malam itu.

29
RAUT muka Pak Camat memerah, saat kutanyakan kebenaran isu akan adanya penggusuran kampung kami.
“Bukan penggusuran, Cek. Tapi relokasi. Kagek kito pindah ke daerah lain dengan rumah dan lingkungan yang lebih baek. Tapi Cek, ini masih rencana jangka panjang. Bukan sekarang,” kata Pak Camat itu.
“Tapi, intinyo kan kami pindah. Kami keberatan. Kagek nasib kami pecak transmigrasi itu.”
“Oi, itu lain.”
“Aponyo yang laen, kami ni pasti dikasih rumah yang seragam. Terus memulai cara baru mencari makan. Sudahlah, kami dak setuju.”
“Ini program pemerintah, kito dak dapat melawan.”
“Kalau kami nolak kagek, kami dicap PKI. Kuno, Cek. Sudahlah, kasih tau samo atasanmu warga 7 Ulu menolak digusur.”
Aku pun bergegas pergi. Kutemui Sapto di tokonya. Seusai makan siang, kami ditemani anak buahnya mendatangi kantor LSM yang katanya dapat membantu kami.
“Kalu cak itu ceritonyo, bapak-bapak atau warga kampung 7 Ulu berhak menolak. Itu hak bapak-bapak. Pemerintah tidak boleh semaunya menggusur. Apo lagi kepentingannya dak jelas bagi wong banyak. Soal rencana penggusuran ini, aku sudah tau lamo, Pak,” kata pimpinan LSM itu, Putra.
“Jadi kami ini cak mano? Apo kami diam bae.”
“Idak pecak itu. Bapak-bapak terus berkoordinasi. Maksudnya ketemu terus. Ngobrol. Dan kami, aku akan ke sano. Besok sore aku ke sana. Kalau biso, ketemu dengan semua warga, Pak.”
“Insyaallah,” jawab Sapto dengan sorot mata berbinar.
Selama hampir enam bulan kami selalu melakukan rapat, berdiskusi, rapat, berdiskusi. Kami pun yang sebelumnya tidak mengerti kata reformasi, konsolidasi, progresif, revolusi, kapitalisme global, fasis, atau HAM, akhirnya menjadi mengerti setelah dijelaskan Putra dan kawan-kawannya.
Salah seorang kawan Putra yang sering berdikusi dengan kami adalah Tandu. Tandu mampu ngomong selama satu jam tanpa henti, kecuali saat menghirup kopi dan menghisap rokok. Dia banyak ngomong soal hak-hak asasi manusia, soal tanggungjawab negara terhadap rakyatnya.
Sementara kawan Putra satunya lagi yakni Beben banyak memberikan masukan agar kami berani melawan kezaliman. Kekuatan apa pun akan kalah jika rakyat bersatu, begitu katanya.
Namaku juga beberapa kali masuk koran. Itu lantaran aku sering diwawancarai Abdurachman, seorang wartawan muda yang kalau ngomong sering gagap.
Dia wartawan dan juga aktivis LSM. Dia bekerja untuk beberapa media massa.
Maka seperti matahari pagi kami siap menghadapi relokasi atau penggusuran itu.
“Hanya satu kata, Lawan!” begitu Putra sering berucap, yang katanya diambil dari puisi milik penyair Wiji Thukul.
Aku tak mengenal jauh sosok penyair itu. Sejak kecil aku tidak menyukai penyair. Kata orangtuaku penyair itu dibenci Tuhan sebab banyak bohongnya. Sedangkan kebohongan itu dekat dengan setan. Tetapi, ini kali aku suka puisi Wiji Thukul itu, meskipun Tuhanku dengan Tuhan pemerintah itu sama, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Sejak saat itu aku memburu ikan juaro yang telah menghabiskan berton-ton taiku dengan cara memancing atau menjaring. Setiap subuh, ikan juaro yang kutangkap kujual ke Pasar Induk Jakabaring. Dapat kupastikan ikan juaro itu diburu orang sebab dagingnya gemuk dan manis. Lalu, dari jauh, diam-diam para pembelinya kutembak dengan jariku.
“Mati kalian!”

30
RAUT muka Walikota Palembang yang bernama Albert Membara tampak kesal. Dia berulang kali mengetuk pena ke mejanya. Albert menarik napas atau memberi senyum sinis bila Jai menginfomasikan apa yang dilakukan Putra dan kawan-kawannya di kampung 7 Ulu.
“Bagaimana Sofyan, apo awak sudah ngumpulke para pengacara?”
“Beres, Pak.”
“Nah, kau tinggal bertemu Mat Nyawo. Minta anak buahnya meneror warga.”
“Oke, Pak. Tapi aku kehabisan…,”
Albert Membara mengangkat tangannya, jari tangannya mengawi-awi. Jai dan Sofyan mendekat. Albert membuka kopor yang ada di atas mejanya.
“Nih, buat awak.”
“Kurang, Pak.”
“Itung dulu baru ngomong. Cukup itu.”
Handphone Albert Membara bergetar. “Sebentar…”
“Beres, Bos. I minta sebulan lagi. Sebentar lagi selesai. Rencana kita itu kujamin berjalan lancar. Tenang. OK, beres… thanks.”
Albert menaris napas.
“Bos masih di Taiwan. Dia minta rencana kita jangan ditunda. Nih, kutambah.”
Albert melempar segepok lagi uang sepuluh ribuan rupiah ke Jai. Jai tersenyum senang.
“Awak jugo cukup kan segini?” kata Albert kepada Sofyan.
“Cukup, Pak.” Sofyan buru-buru memasukkan dua gepok uang ke dalam tasnya.
“Pergilah kalian.”
Jai dan Sofyan bergegas pergi. Tetapi, saat mereka di pintu….
“Bagaimana dengan para wartawan itu?”
“Beres, Pak. Aku sudah nemui pimpinannya. Budak-budak wartawan itu sudah kuajak makan kemarin,” kata Sofyan.
Albert Membara sebelum menjadi Walikota Palembang adalah seorang pengusaha ruko, perumahan dan perjudian gelap. Dia pun menjadi pimpinan beberapa organisasi kepemudaan.
Saat mencalonkan diri sebagai Walikota Palembang, Jai dan Sofyan menjadi tim suksesnya. Sementara modalnya untuk berkampanye dan menyogok para anggota Dewan, partai politik, penyelenggara pemilihan, LSM, organisasi massa, pers, dan para pemilih di Palembang, selain uang dari sakunya juga pasokan dari Indra Wijaya, seorang pengusaha perhotelan dan bos perjudian gelap yang dijalankan Albert di Palembang.
Melalui pemilihan langsung, Albert mengalahkan sejumlah calon kuat. Baik dari kalangan akademis, birokrat, maupun aktivis prodemokrasi. Uang telah menaikan citra dan karakter Albert. Albert pelaksana “tidak ada makan siang yang gratis” yang cerdas. Seperti wong Amrik, Albert membayar semuanya alias tidak gratis.
Yang menelepon Albert itu adalah Indra Wijaya. Indra punya rencana akan membangun hotel di atas lahan kampung 7 Ulu. Di hotel bertaraf internasional itu, akan disediakan tempat perjudian. Indra yakin para penjudi dari Singapura, Malaysia, Taiwan, Jepang, India, atau dari Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya, akan menghamburkan uangnya di hotel itu.
“Kas kantormu juga akan penuh. Rakyatmu juga mendapatkan lapangan pekerjaan,” kata Indra kepada Albert.

31
MENGGUNAKAN sebuah perahu, dini hari, tiga anak buah Mat Nyawo mendatangi kampung 7 Ulu. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, bak ninja. Mereka membawa sekaleng cat dan beberapa kuas.
Beberapa pintu rumah warga mereka beri tanda silang. Pada pagar seng rumah Haji Kasim, mereka menulis, “Menolak Relokasi Regonyo Nyawo.”
Aksi ketiga anak buah Mat Nyawo itu tidak diketahui warga. Tidak ada satu pun warga kampung 7 Ulu yang terjaga. Bahkan, anak buah Mat Nyawo itu mendapati Somad tengah tertidur di dalam warung rokoknya di muka lorong Aman.
Jika Sulaiman, anak Halimah, dipenjara, kampung 7 Ulu itu aman. Karena aman warga kampung itu pun merasa tidak perlu lagi melakukan ronda malam.
Tetapi, bila Sulaiman tidak dipenjara, hampir setiap malam di kampung itu akan terjadi keributan atau ada rumah warga yang kemalingan. Maka, warga terpaksa melakukan ronda secara bergiliran.
Sulaiman memang sering mengajak teman-temannya mabuk minuman keras atau obat koplo di kampung itu. Bila mereka tidak ada uang dan mempunyai kesempatan, mereka pun maling rumah warga.
Sesaat setelah perahu yang dinaiki anak buah Mat Nyawo melaju, Somad terbangun. Dia terbangun karena terkena percikan api yang telah membakar warungnya.
“Tolong! Tolong! Warungku terbakar! Tolong!” teriak Somad yang lari terpincang-pincang.
Hampir semua warga di kampung itu terbangun. Mereka keluar rumah.
“Tolong, Pak Haji. Warungku terbakar,” kata Somad kepada Haji Kasim yang berdiri di teras rumahnya.
Haji Kasim dan warga lainnya buru-buru membawa ember dan panci yang berisi air. Apa lacur, saat mereka mau memadam api yang membakar warung Somad, warung itu tinggal puing-puing yang membara. Bahkan, warga lari ketakutan ketika botol-botol anggur yang dijual Somad meledak karena terbakar.
“Siapo wong gilo ini, oi. Kejam nian. Apo salah aku ni,” kata Somad.
Somad duduk di tanah. Kepalanya tertunduk. Tidak ada warga yang berani mendekatinya. Mereka hanya menatap Somad dengan rasa iba. Satu per satu warga kembali ke rumahnya.
“Mad, kau galak tinggal tempat aku dulu,” kataku.
“Lemak mati bae aku nih. Kejam nian wong bakar warung aku ni,” kata Somad sambil memukul kepalanya dengan kedua telapak tangannya.
Azan subuh berkumandang. Somad kugandeng menuju rumah rakitku. Lelaki sebatang kara itu pun menangis dalam pelukanku.
Saat matahari muncul, warga kampung 7 Ulu ribut dan marah setelah melihat tanda silang berwarna merah di muka pintu rumah beberapa warga, serta membaca ancaman yang ditulis di pagar seng rumah Haji Kasim.
“Aku tahu yang memberi tanda silang di pintu rumah kito dan menulis ancaman di pagerku ini pelakunya sama dengan yang membakar warung Somad. Mereka pasti disuruh walikota. Mereka mengancam kito. Aku dak takut. Kito jingok malem ini. Kalau mereka datang lagi, kito kapak bae. Bunuh,” kata Haji Kasim
Sikap warga lain pun sama seperti Haji Kasim. Teror yang dilakukan anak buah Mat Nyawo tidak membuat warga di kampung 7 Ulu takut atau menyetujui relokasi itu.
Bahkan, sejak peristiwa itu, setiap malam warga bergiliran ronda. Saat ronda, mereka melengkapi dirinya dengan berbagai senjata tajam, seperti pedang, tombak atau parang.
Setiap orang yang datang ke kampung itu, pada malam hari, akan mendapat pemeriksaan cukup ketat, termasuk barang yang dipakai dan dibawa; apalagi terdengar isu kampung itu akan dibakar sehingga pemeriksaan seperti mau masuk kediaman Presiden.
Mungkin mendengar warga di kampung 7 Ulu melakukan penjagaan ketat, Mat Nyawo tidak pernah mengirim anak buahnya lagi ke kampung itu untuk meneror warga.

Juaro 32
SOAK Bato, Bukitkecil, Palembang. Pukul dua dini hari. Setelah kedua kakinya ditembak dan kedua tangannya diikat, Abdullah Karim diseret bagai anjing oleh seorang pemuda. Diseret menuju ke Jeep Willis yang diparkir di muka sebuah gang, beberapa meter dari rumah Abdullah Karim. Sementara Maimunah, istri Abdullah Karim, diseret sambil diterjang dan diludahi.
Abdullah Karim mengeram kesakitan sedangkan Maimunah diam bae sambil matanya terus menatap pemuda yang meludahi dan menerjangnya.
“Rasoke sakitnyo! Dasar PKI!”
Nawawi memeluk kedua adiknya yang ketakutan, persis di depan pintu kamarnya. Mulutnya terkatup. Dia melihat dua pemuda mengunjali piringan hitam, radio, patung serta beberapa lukisan yang dipajang di dinding rumah. Sedangkan seorang lainnya mengobrak-abrik kamar orangtuanya. Saat keluar dari kamar orangtuanya pemuda itu tampak buru-buru mengantongi perhiasan dan uang.
“Lemak dak punya wong tuo PKI? Na, ingeti jangan pecak mereka.”
Seorang bapak yang berumur 50-an, berkopiah hitam, menunjuk wajah Nawawi. Lalu, bapak itu mengajak ketiga pemuda menghancurkan semua barang di ruang tamu dengan menggunakan kapak.
Kedua adik Nawawi tersengut-sengut. Wajah mereka berkeringat. Mereka terkencing di celana. Saat itu umur Nawawi 10 tahun, adiknya Halimah 8 tahun dan Maulina 7 tahun.
“Cepat siram! Oi, di sana. Cepat! Cepat!” teriak bapak yang menunjuk Nawawi tadi.
Beer! Sekian detik kemudian, api membakar dinding depan rumah orangtua Nawawi, rumah semi permanen yang dicat putih. Tak lama kemudian Jeep Willis itu pergi.
Nawawi ketakutan. Dia menarik kedua adiknya ke dapur. Kedua adiknya menangis. Dengan menaiki kursi Nawawi membuka gerendel atas pintu dapur. Api terus melahap rumahnya.
Saat api melahap ruang tamu, Nawawi dan kedua adiknya sudah berada di halaman belakang rumah.
“Bicik Atun! Tolong! Bicik! Bicik Atun! Bicik! Tolong! Tolong..” teriak Nawawi dari balik pagar bambu.
Bicik Atun yang dimintai tolong hanya mengitip dari balik kisi-kisi jendela. Bicik Atun dilarang suaminya keluar rumah.
“Ngopo nak keluar? Jangan tolong mereka. Apo kau nak mati jugo. Sudah, biarkan bae mereka.”
Ketiga anak itu menangis. Tidak satu pun orang di kampung itu yang berani keluar rumah. Dengan mata berkaca-kaca Nawawi dan kedua adiknya hanya dapat menyaksikan api melahap habis rumah mereka. Panasnya api mengeringkan air mata mereka.
“Bapak dan ibu dibawa mereka ke mana?” tanya Halimah.
Nawawi memeluk kedua adiknya. Mereka kembali menangis. Cahaya api menerangi ketiga anak itu.
Baru dua jam kemudian, dengan mengendarai sepeda, Mustarech, sahabat Abdullah Karim, menjemput ketiga anak itu. Di antara azan subuh dan rinai, mereka menuju rumah Mustarech di Kalidoni.
Kalidoni terletak di sebelah timur Palembang. Sebagian warganya adalah mantan pekerja perkebunan milik Belanda di New Kalidonia, sebuah pulau di Samudera Pasifik yang dijajah Belanda. Para pekerja itu kembali setelah Indonesia merdeka.
Saat dikirim ke Palembang, mereka ditempatkan di suatu daerah pinggiran kota, yang sebagian besar lahannya adalah rawa-rawa. Daerah itu kemudian disebut “Kalidoni”. Tidak jauh dari daerah itu adalah Sekojo. Pusat pelatihan dan perumahan tentara. Waktu Jepang menduduki Indonesia, konon Sekojo adalah basis militer penjajah itu.
Dalam perkembangannya Kalidoni menjadi salah satu basis aktivis PKI di Palembang. Tak heran, bila 20 tahun kemudian, saat Soeharto berkuasa, listrik baru masuk ke daerah tersebut. Baru dua tahun kemudian jalannya diaspal.
Nasib keluarga kader PKI di Kalidoni sangat memprihatinkan. Boleh dibilang tak ada yang dapat bekerja sebagai pegawai negeri, polisi atau tentara. Mereka umumnya menjadi buruh bangunan atau buruh pelabuhan. Ada beberapa orang yang lolos masuk ke perusahaan milik pemerintah. Tragisnya mereka dipecat saat diketahui keluarganya terlibat dalam partai politik itu. Tidak peduli apakah yang terlibat itu mertua atau pamannya.

33
HARI itu adalah hari terakhir Nawawi, Halimah, dan Maulina bertemu dengan kedua orangtuanya. September 1966.
Sekitar lima kilometer dari Jembatan Ampera yang baru selesai dibangun, tepatnya di tengah Sungai Musi, di seberang pabrik PT Pupuk Sriwijaya, terdapat delta yang disebut Pulau Kemaro.
Di ujung barat pulau itu, pada pertengahan Agustus 1966, didirikan sebuah kamp tahanan politik yang luasnya sekitar 5.000 meter persegi. Kamp berbentuk “L” ini dikelilingi pagar beton yang di atasnya diberi kawat berduri yang dialiri arus listrik. Di setiap sudut kamp didirikan rumah penjaga.
Kamp ini terdiri empat blok. Blok A untuk tahanan politik yang membantu petugas; mereka diperbolehkan mencari makanan seperti tumbuhan. Blok B untuk mereka yang di-pekerjakan. Blok D untuk tahanan perempuan, se-mentara Blok C merupakan kamar maut. Di Blok C ini, para tahanan tidak diberi air ataupun makanan.
Di Blok C itu, Abdullah Karim ditahan.
Blok C itu berukuran 6 kali 12 meter, diisi 500 tahanan. Setiap malam, dari tahun 1966 hingga 1969, sedikitnya 25 tahanan yang meninggal dunia. Hampir setiap hari puluhan tahanan politik dimasukan ke blok C itu.
Mereka yang mati dibuang di Sungsang atau di sekitar Pulau Salah Nama, yang letaknya masih di perairan Sungai Musi.
Saat bertemu dengan Halimah, akhir 1977, setelah dibebaskan dari kamp Pulau Kemaro, seorang sahabat Abdullah Karim, Muhammad Zaki menceritakan bagaimana kematian bapak Halimah itu. Abdullah Karim mati dalam peristiwa “Oktober Pembalasan”; istilah para tahanan politik itu terhadap pembantaian yang dilakukan kelompok antikomunis.
Selama tiga hari, 29 September hingga 1 Oktober 1966, ratusan tahanan politik disiksa hingga mati atau dibunuh dengan keji. Saat itu ada sekitar 300 tahanan yang meninggal dunia. Mereka yang mati bukan hanya anggota PKI, sejumlah aktifis organisasi yang diduga berjaringan dengan PKI, seperti Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), atau Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), turut dibunuh. Abdullah Karim adalah salah seorang pengurus Pemuda Rakyat. Sedangkan Maimunah aktivis BTI.
Tengah malam, 30 September 1966, Abdullah Karim yang tengah tidur dibangunkan seorang penjaga kamp. Bersama beberapa tahanan lainnya Abdullah Karim diajak ke sebuah tanah lapang di tengah kamp. Oleh penjaga mereka disuruh berjongkok, satu per satu diperintahkan mengenakan rantai besi di kedua kaki. Setelah selesai mereka diminta berdoa sambil memejamkan mata. Saat berdoa sebuah besi atau balok kayu dipukulkan ke bagian belakang kepala mereka. Buk! Mati. Tanpa teriakan.
Mayat Abdullah Karim tidak dikubur tapi kemungkinan dibuang ke Sungsang. Jauh dari kampung kelahirannya, 5 Ulu.
Sementara Maimunah, ibunda Halimah, meninggal dunia tahun 1970, saat kondisi kamp mulai membaik; setiap hari satu tahanan menerima 21 butir jagung dan sekaleng—ukuran cangkir—air.
Maimunah meninggal dunia lantaran penyakit syphilis kronis menyerangnya. Bukan hanya kemaluannya, penyakit itu juga menyerang rahim dan wajahnya. Penyakit itu didapatnya lantaran sekian tahun melayani nafsu para penjaga kamp. Jasadnya pun dibuang ke Sungai Musi.
Melayani penjaga kamp adalah satu-satunya cara para perempuan tahanan politik untuk bertahan hidup. Muhammad Zaki pun mengaku bertahan hidup karena sering diberi makanan oleh Maimunah. Maimunah mendapatkan semangkuk bubur jagung setelah melayani penjaga kamp.
Kini, kamp itu lenyap seperti ditelan Bumi. Yang tersisa, potongan beton turap yang terendam air Sungai Musi.

34
MUSTARECH sadar keluarganya tidak mampu mengurusi semua anak Abdullah Karim. Apalagi dirinya sewaktu-waktu dapat ditangkap dan dijebloskan ke kamp di Pulau Kemaro atau Pulau Buru.
Sehari setelah peristiwa penangkapan Abdullah Karim dan Maimunah, Mustarech berunding dengan beberapa aktivis BTI dan Pemuda Rakyat yang belum tertangkap. Dari perundingan tersebut diputuskan agar ketiga anak itu dipisah. Selain mengurangi beban yang mengurusnya, juga menghindari kecurigaan orang yang tidak senang dengan PKI atau mereka yang dituduh ikut barisan PKI.
Mustarech tidak memiliki anak perempuan, maka, dia memilih Maulina sebagai anak angkatnya. Sedangkan Ali Akbar, yang tinggal di Cempaka Dalam, memilih Halimah. Nawawi diajak Muhamamd Soleh ke Metro, Lampung.
Meskipun sampai ajalnya Mustarech tidak pernah tertangkap, tetapi dia mengalami gangguan jiwa untuk beberapa tahun. Mustarech stres setelah Maulina meninggal dunia, saat gadis itu berusia 13 tahun. Maulina terserang demam berdarah yang tak terobati.
Sementara Nawawi sesampainya di Metro dibuatkan akta kelahiran oleh istri Muhammad Soleh, seorang perawat. Di dalam akta kelahiran itu nama Nawawi berubah menjadi Bambang.
Untuk beberapa tahun, setiap tidur Bambang alias Nawawi selalu diganggu mimpi peristiwa penangkapan kedua orangtuanya. Terkadang dia bermimpi dirinya dan kedua adiknya juga ditangkap, dibakar hidup-hidup, dengan kening ditulis “PKI”.
Setelah menamatkan SMA, Bambang merantau ke Jakarta. Lantaran mampu berbahasa Inggris, Bambang diterima bekerja pada sebuah perusahaan perkebunan. Karena kerjanya bagus, Bambang dikuliahkan di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Di kampus itu, Bambang bertemu dengan Murni, yang kemudian menjadi istrinya.

35
“INI untuk awak. Buka dan pakela untuk besok.”
Halimah menerima sebuah bungkusan dari Jai.
“Ado apo besok?”
“Buyan. Besok kan kawan awak Siti di Plaju nak kawin.”
“Oi, yo.”
Halimah berlari kecil ke kamarnya. Jai ditinggalkan di ruang tamu. Jai menghisap rokok kretek Djarum dalam-dalam, dihembuskan panjang. Jai tersenyum. Kedua tangannya dibentangkan di sandaran kursi. Angin berhembus. Matanya terpejam.
“Dari mano kau dapetke duit untuk beli hadiah itu?”
Jai terkejut.
“Oh, Abah. Sudah nak ke langgar? Itu, itu dari gajiku.”
Jai berdiri sambil menundukkan kepala.
“Sudah begawe awak? Begawe apo? Begawe majaki Cino di pasar itu.”
“Aku tu jago malem di pasar. Jadi itu memang gajiku.”
“Sudahlah. Kau kan sudah punya bini. Buat apo deketi Halimah.”
“Abah, biniku itu sudah tak akur lagi dengan aku.”
“Siapo yang tahan dengan awak ni. Sudah, kito barengan turun. Ayo!”
Halimah berdiri di depan pintu kamarnya saat Jai diajak turun Ali Akbar, bapak angkatnya. Dia mengenakan pakaian yang baru dibelikan Jai, baju kurung dengan motif bola-bola berwarna merah. Jai menoleh ke arah Halimah, terus memberi salam dua jari di bibir.
Jai tidak disenangi Ali Akbar. Alasannya selain bandit, Jai sudah beristri, meskipun dia sudah jarang berkumpul dengan istrinya. Sementara, menurut Halimah, Jai adalah lelaki yang berani dan jujur.

36
“ABAH, aku nak dilamar Kak Jai.”
Darah Ali Akbar yang bertubuh tambun itu naik mendadak. Dia bangkit dari kursi goyang yang terbuat dari rotan. Seperti Soekarno berpidato tangannya diangkat.
“Apo? Kau nak dilamarnyo. Kau galak jugo? Kubunuh kalian!” kata Ali Akbar terus mendorong kursi goyangnya.
Halimah bergegas masuk ke kamarnya. Kursi itu belum berhenti bergoyang.
“Ado apo, Abah. Mau Maghrib marah-marah.”
“Jai bandit itu nak ngelamar Halimah. Gilo dio. Kasih tau anak kau tu, jangan lagi ketemu dengan bandit itu. Aku nak ke langgar dulu.”
“Yo, aku jugo dak setuju dengan Jai tapi jangan kau marahi cak itu anak kau.”
Sekitar dua bulan Jai dan Halimah tidak bertemu. Ali Akbar dan istrinya merasa senang. Tetapi, mereka tidak tahu jika Jai dan Halimah terus melakukan komunikasi melalui surat. Kurirnya adalah Syukur. Anak kandung Ali Akbar. Syukur senang menjadi kurir lantaran setiap pengiriman surat dia diberi uang.

37
SUBUH itu ketika Ali Akbar dan istrinya pergi ke langgar, Halimah minggat. Dia dijemput Jai di depan gedung PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) di Cempaka Luar. Mereka kemudian ke rumah seorang ketip di daerah Kertapati. Mereka pun menikah.
“Keluar! Keluar! Kau bukan anak kami. Dasar anak kampang ini. Cepat keluar! Apo nak kukapak?”
Ali Akbar bertolak pinggang di muka pintu rumah. Langkah Halimah dan Jai terhenti di tangga rumah.
“Dasar anak tak tau diri. Dibesakke malah maluke aku. Aku dak galak lagi jingok rai kau nih. Sana pergi. Hiduplah dengan bandit ini.”
Halimah menangis. Jai hanya menunduk, berusaha tenang. Jai mencoba memperbaiki kopiah yang dikenakannya. Istri Ali Akbar diam, dia tidak berusaha mencegah kemarahan suaminya. Dia juga tidak menyukai Jai.
Halimah dan Jai kemudian pergi. Hampir semua orang kampung Cempaka Dalam mengecam Halimah, anak angkat pemilik depot kayu yang menjadi pengurus langgar setelah rezim Soekarno tumbang.
“Dibesakke malah kawin dengan bandit. Dasar idak tau diri nian,” kata seorang warga.
Jai tidak membawa Halimah ke rumah orangtuanya yang masih di kampung itu. Dia sudah lama diusir orangtuanya lantaran tidak mengurusi istri pertamanya, Salmah. Salmah adalah anak dari keponakan ibunya yang kemudian dikawinkan dengan Jai.
Jai dan Halimah akhirnya menyewa sebuah rumah panggung di Puncaksekuning.

38
JAI menampar wajah Halimah sekerasnya. Halimah yang tengah mengandung anak lima bulan itu terjatuh. Tubuhnya nyaris menimpa anak keduanya, bayi sembilan bulan. Bayi itu menangis. Halimah tidak melawan atau menangis. Dia diam, menahan sakit di perutnya.
Jai marah karena Halimah minta Iman menasihati dirinya untuk berhenti merampok.
“Sudah aku bilang. Mulut awak tu jago. Jangan ngomong sebasingan bae. Aku jadi bandit untuk kau tula, untuk dua anak kito dan sikok di perut kau tu. Mungkin gara-gara kau ni lah aku sial kemaren.”
Halimah menggendong anaknya. Diam.
“Ngapo kau diem? Melawan? Kubunuh kagek.”
“Idak, Kak. Aku nak nidukke anak kau.”
Jai mengambil sebotol anggur cap Songhie yang disimpan di bawah dipan. Diteguk langsung dari mulut botolnya. Glek, glek, glek. Anak tertua mereka, Sulaiman, yang berumur dua tahun, jongkok di balik pintu. Menatap bapaknya yang tengah menikmati minuman anggur itu. Matanya berbinar-binar.
“Nih, duit kau! Aku nak keluar.”
Beberapa lembar uang seribuan rupiah berserakan di kasur.
Menggunakan sepeda Jai pergi ke Pasar 16 Ilir. Dia nongkrong di warung kopi milik Ujang. Memesan beberapa botol anggur cap Songhie.
Beberapa hari sebelumnya, Jai bersama lima temannya merampok rumah seorang toke karet di Sekayu. Namun, perampokan itu terbilang gagal. Sebab toke itu hanya menyimpan sedikit uang dan perhiasan di rumahnya.
“Aku kesel nian. Merampok katik hasil. Tapi, aku puas dikit. Kubunuh galo-galo. Sekeluarga. Anak gadisnyo sebelum kubunuh, kutindi dulu..”
Jai tertawa. Dadanya terasa membesar setelah melihat senyuman orang di sekitarnya.
“Ati-ati kalu ngomong, Kak. Kagek denger wong, bahayo!” kata Ujang.
Jai merasakan dadanya mengecil. Darahnya mengalir kencang ke kepala.
“Aponyo yang ditakuti. Wong se-Pelembang nih tau kalu aku ni perampok yang suka membunuh dan nganciti perawan. Kalu aku takut ditangkap atau dibunuh kerno perbuatanku itu, ya, memaluke bae. Siapo pulo yang berani nak bunuh aku atau nangkep aku? Jadi tenang bae Jang, yo.”
Jai kembali tertawa. Semua turut tertawa, juga Ujang.




39
PUTRA berdiri, menatap tajam ke arah Jai.
“Anda ini bukan wakil rakyat. Anda tahu itu apa itu wakil rakyat? Itu artinya Anda adalah pesuruh rakyat. Pelayan rakyat. Tapi pandangan Anda tadi menunjukkan Anda seolah-olah sebagai raja. Anda yang ingin dilayani oleh rakyat. Jadi, bila penggusuran itu menurut Anda sangat menguntungkan rakyat dan pemerintah, sebaiknya Anda mundur. Mundur! Anda tidak tahu apa yang diinginkan dan diderita rakyat. Anda tidak berhak menjadi wakil rakyat. Anda harus turun. Anda itu jongos kapitalis.”
Tepuk tangan warga dan sebagian anggota Dewan yang setuju dengan pernyataan Putra bergema di ruang rapat Dewan Palembang, pagi itu. Wajah Jai memerah, matanya penuh kebencian menatap Putra.
“Turun! Turun! Pecat! Pecat!” teriak puluhan warga yang ikut pertemuan itu.
“Tenang. Tenang! Saudara-saudara. Tenang. Apa pertemuan ini mau dihentikan? Ayo, tenanglah. Tenang!” kata Ketua Dewan Palembang, Ahmad Liam, yang memimpin pertemuan itu. Dia berulangkali mengetuk palunya.
“Lanjutkan Putra,” katanya setelah suasana kembali tenang.
“Jadi, sekali lagi…,”
Jai mengangkat tangannya. Berdiri. “Interupsi!”
“Ya, silahkan,” kata Ahmad Liam.
“Pernyataan Putra itu merupakan tuduhan yang tidak beralasan. Apa yang saya sampaikan tadi, benar-benar untuk kepentingan rakyat. Kepentingan wong kecik di kampung 7 Ulu. Saya kasihan melihat nasib mereka yang miskin. Nasib kalian. Jadi kalau mereka dipindahkan di tempat baru yang lebih layak, semuanya akan selesai…”
“Uhhhhh…,” teriak warga.
Jai duduk dengan senyuman sinis.
“Saya lanjutkan ketua?”
Ahmad Liam mengangguk.
“Sekali lagi kami minta penggusuran kampung 7 Ulu dibatalkan. Tidak ada untungnya kami dipindahkan. Justru kami akan mendapatkan persoalan baru. Misalnya lapangan pekerjaan. Warga di 7 Ulu itu, biar bapak-bapak ketahui, banyak mencari makan di Pasar 16 Ilir dan Pasar Induk Jakabaring, atau menjadi nelayan dan penarik ketek di Sungai Musi. Di pasar, mereka ada yang berdagang, menjadi tukang keruntung, atau kuli angkut. Kalau digusur, mereka mau kerja di mana. Apalagi kami melihat lokasi yang akan diperuntukkan bagi warga, jauh dari Kota Palembang. Ini tidak adil.”
Tepuk tangan kembali bergema. Pret! Pret! Para wartawan memotret Putra.
“Kemiskinan yang dialami warga 7 Ulu bukan kemiskinan yang alami. Warga kampung 7 Ulu dimiskinkan oleh para pemilik modal. Oleh pemerintah yang dikendalikan para pemodal yang rakus.”
Ahmad Liam mengetuk palunya. “Maaf, waktu Anda sudah habis. Kini giliran wakil dari Walikota.”

40
HALIMAH berusaha menembus kerumunan massa yang berada di depan pintu gedung Dewan Palembang. Dia mendorong barisan massa yang tak henti meneriakan yel-yel “Turunkan antek pemodal. Dewan bukan tempat bandit-bandit cari makan.”
“Permisi, numpang lewat.”
Halimah dengan sekuat tenaga menyelinap.
“Ibu mau ke mana? Jangan masuk. Ini pertemuan terbatas.”
Seorang petugas keamanan mencegat Halimah di depan pintu Gedung Dewan itu.
“Aku nak ke pucuk. Aku nak nyusul,” jawab Halimah.
“Dak bisa, Bu. Kan sudah ado wakilnya.”
“Aku ni jugo warga Kampung 7 Ulu. Aku jugo wakil warga. Aku nak ke pucuk nian. Tolong, Pak. Tolonglah.”
“Idak bisa nian, Bu. Sudah penuh.”
Halimah kebingungan.
“Cubo jingok daftar wakil warga. Mungkin namoku ado di sano. Aku nih datang terlambat. Masak dulu, aku nih.”
Akhirnya petugas itu memanggil seorang kawannya. Dia minta daftar perwakilan warga.
“Nama ibu siapa?”
“Halimah.”
“Na, tanda tangan dulu di sini,” kata petugas itu terus menyodorkan pena dan buku tamu.
Halimah berlari saat menaiki tangga dua lantai itu. Napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian dia masuk ke ruang pertemuan Dewan.
“Ngapo kau lamo nian,” tanya Bicek Ida kepada Halimah.
“Aku ni nyuci dulu. Masak dulu. Awak lemak ado pembantu.”
Tiba-tiba Halimah merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dadanya. Matanya tertuju kepada seorang lelaki yang duduk di barisan depan yang menghadap ke arahnya.
“Siapo lanang itu?” tanya Halimah dengan mulut bergetar.
“Yang mano? Banyak lanang di sini,” jawab Bicek Ida.
“Yang duduk di depan, yang rambutnyo putih itu.”
“Aku dak tau. Setauku dio kalu dak salah anggota Dewan jugo.”
Keringat dingin keluar dari tubuh Halimah.


41
PERTEMUAN itu sampai pada pandangan atau pendapat terakhir dari setiap perwakilan. Berbeda dari sebelumnya, giliran pertama yang memberikan pandangan adalah perwakilan warga, yakni Putra.
“Aku tidak akan banyak ngomong. Kami hanya minta satu. Apapun pandangan kalian, apapun pilihan kalian, pilihan kami hanya satu. Kami menolak digusur. Jika kami digusur kami akan melawan. Seperti kata penyair Wiji Thukul itu. Hanya satu kata, lawan!”
Tepuk tangan kembali bergema.
“Hidup rakyat! Hidup rakyat!” teriak warga.
Ahmad Liam kemudian mempersilahkan Jai yang mewakili anggota Dewan yang setuju dengan penggusuran Kampung 7 Ulu, untuk memberikan pendapatnya.
“Kalian warga Kampung 7 Ulu, aku kira dapat memilih yang terbaik. Rencana pemidahan kalian itu merupakan niat baik pemerintah terhadap kalian yang hidup miskin. Bukan apa-apa. Tidak ada niatan lain dari itu. Saya sebagai anggota Dewan setuju dengan pemindahan warga Kampung 7 Ulu. Sebab menurut saya, pembangunan harus dilakukan meskipun sejuta penghalangnya.”
Tiba-tiba Halimah berdiri. Telunjuk tangan kanannya menunjuk Jai.
“Oi! Kampang! Bandit! Denger! Omongan kau tu dak dapat dipecayo! Omongan bandit. Jadi jangan pecayo dengan dio tu.”
Semua mata tertuju kepada Halimah. Ahmad Liam mengetuk palunya. Beberapa petugas keamanan berlarian mendekati Halimah.
“Kau masih ingat dengan aku? Aku Halimah. Dasar kampang! Aku ni bini kau, yang kau tinggalke karena kau penakut. Takut ditembak Petrus!”
Jai merasa kepalanya tertimpa batu yang sangat besar. Darahnya naik. Mulutnya terkatup. Wajahnya pucat dan dingin. Jai berdiri kaku.
Ahmad Liam dan beberapa anggota Dewan lainnya juga terkejut. Mereka berbisik dan saling menatap. Sementara Halimah seperti orang kesurupan; menangis dan terus memaki Jai. Dia digotong keluar oleh beberapa petugas keamanan. Ruangan pertemuan itu menjadi gaduh.
“Saudara-saudara dengarkan! Dio tu wong gilo. Mano mungkin betino pecak itu bini aku. Aku jugo bingung ngapo wong gilo masuk pertemuan ini. Tapi, ya, sudahlah. Terimakasih.”
Jai duduk. Tersenyum. Dia berbicara dengan Ahmad Liam yang berada di sampingnya.
Tok. Tok. Tok. Ahmad Liam kembali mengetuk palunya.
“Kita lanjutkan. Kini giliran pihak perwakilan anggota Dewan yang tidak setuju.”

42
SELAMA peristiwa itu berlangsung aku bengong. Aku baru tersadar ketika Ahmad Liam mengetok palunya karena ruang pertemuan gaduh.
“Mana Halimah tadi?” tanyaku.
“Dibawa keluar. Urus bini awak tu, Pak,” jawab Solikin yang duduk di sebelahku.
Aku bergegas keluar dari ruang pertemuan. Kutemui Halimah yang duduk di dekat salah satu tiang teras Gedung Dewan itu. Dia dikelilingi sejumlah warga dan beberapa wartawan.
“Nian, Pak. Dio itu Jai, bapaknya Sulaiman, bapaknya Taufik.”
“Sudahlah. Mungkin muka dan namanya samo. Sudahlah. Idak mungkin kalu benar dio lupa dengan awak.”
“Aku nih dak mungkin salah. Dio kan bekas laki aku.”

43
SOFYAN turun dari mobil Panther-nya yang diparkir tidak jauh dari kantor Walikota Palembang. Dia menelepon Jai.
“Sekarang, ya, Pak Jai. Oke, sekarang.”
Tak lama kemudian puluhan mahasiswa turun dari sebuah bus yang diparkir tak jauh dari Gedung Dewan Palembang. Mereka membentuk barisan dan membentangkan sebuah spanduk. Spanduk itu berisi tulisan, “Kami Mahasiswa Palembang Mendukung Penuh Kebijakan Pemerintah.”
Mereka bergerak menuju halaman Gedung Dewan. Puluhan polisi berbaris di muka gerbang, menghadang jangan sampai mahasiswa itu berhadapan langsung dengan kami.
“Oi, ado aksi menentang kito. Kito lawan, yok!” teriak seorang warga.
Para mahasiswa itu tidak meneriakkan yel-yel. Diam. Sebagian malah cengar-cengir.
“Kalian ini gilo! Masak mau dibayar untuk aksi ini. Mestinya kamu-kamu ini bela kami. Wong kecik. Wong tuo kamu.”
Para mahasiswa itu tidak bereaksi dengan teriakanku itu. Mereka diam. Aku dan beberapa warga melempari mereka dengan bungkus rokok dan bekas bungkus nasi. Mereka tetap diam. Polisi merapatkan barisan.
“Pasti kalian dibayar!” kataku.
“Kalu dijingok dari rainyo memang mereka ini pendemo bayaran,” kataku lagi.
Lantaran para mahasiswa itu tidak bereaksi, aku kembali mendekati pintu masuk gedung Dewan.
Tiba-tiba, sekelompok orang yang tak jauh dari barisan mahasiswa, melempar batu ke arah kami. Kami terkejut dan panik. Kami pun membalas lemparan batu itu. Terjadilah perang batu.
Para mahasiswa yang berunjukrasa mendukung kebijakan Pemerintah bubar. Mereka berusaha menyelamatkan diri. Polisi kebingungan, mereka pun berusaha menyelamatkan diri dari lemparan batu. Orang-orang di dalam gedung Dewan keluar, mencoba menghentikan perang batu itu. Sia-sia…
Bentrokan tak terelakan. Kami keluar dari halaman gedung Dewan. Menyerbu sekelompok orang yang menyerang kami itu. Kami memukul mereka dengan tangan kosong atau benda yang ditemukan, seperti kayu dan batu.
Ternyata kami dijebak. Dari arah yang lain datang sekelompok pemuda yang membawa senjata tajam. Pisau dan golok mereka acungkan kepada kami.
Kami berlari masuk ke halaman gedung Dewan. Para pemuda itu mengejar kami. Beberapa polisi mencegah mereka dengan cara menembak ke atas. Kami semampunya melawan mereka. Perempuan dan anak-anak yang ikut berunjukrasa menjerit ketakutan.
Serangan mereka hanya sekitar lima menit. Mereka lari dan menghilang setelah terdengar sirene mobil polisi.
Meskipun tidak ada yang mati, puluhan orang mengalami luka-luka, termasuk aku yang terkena sabetan pedang di tangan kiri.

44
SULAIMAN tiduran di dalam perahu. Dibiarkannya perahu itu terombang-ambing oleh arus Sungai Musi. Terik matahari sore seolah tak dirasakannya. Beberapa penarik perahu ketek tampak kesal lantaran perahu yang dinaiki Sulaiman menghadang jalannya. Sulaiman baru beberapa jam keluar dari penjara.
Sulaiman berdiri. Dia kemudian berteriak.
“Bapak gilo! Bapak gilo! Kubunuh kau!”
Beberapa orang tengah mandi terkejut mendengar teriakan Sulaiman itu, begitupun mereka yang tengah naik perahu ketek. Namun, sebagian kemudian tertawa.
“Ado apo, Mang? Dio marah dengan Mamang?” tanya Husin, anak Dollah, yang baru naik ke darat sehabis mandi.
“Idak. Bukan marah dengan Mamang,” jawabku.
Halimah duduk di kursi, menatap Sungai Musi melalui jendela.
“Kau pulo. Budak baru keluar, kau ceritoke soal Jai. Mano nak stres dio,” kataku.
Halimah menarik napas.
“Biar cepat tau kian bagus. Bapaknyo memang gilo. Gilo! Bagusnya dio cepat mati bae dulu. Ditembak petrus.”
“Ya, sudah, aku nak cari duit dulu.”
Aku membawa perahu ketekku ke Dermaga Benteng Kuto Besak. Kubiarkan Sulaiman terombang-ambing bersama perahunya. Sulaiman mati pun aku tidak peduli, pikirku. Dia bukan anakku dan selalu menyusahkan kami.
Dermaga Benteng Kuto Besak dipenuhi orang-orang yang baru pulang dari kerja, baik yang bekerja di Seberang Ilir maupun yang baru pulang dari pabrik-pabrik di Iliran.
Beberapa petani dengan perahunya beranjak pulang ke dusunnya di Uluan, setelah seharian menjual sayuran dan buahan di sekitar dermaga itu.
“Mang Hasan! Mang Hasan!” panggil Putra.
“O, awak Putra. Awak nak ke mano?”
“Aku memang nak cari Mang Hasan. Ado kabar baik. Jai dipecat oleh parpolnya sebagai anggota Dewan. Kabarnya dio sekarang berangkat ke luar negeri. Mungkin malu.”
Bagai minum air susu hangat aku mendengar berita itu. Aku tertawa. Selanjutnya kami tertawa sekeras-kerasnya, tidak peduli orang-orang di sekitar kami keheranan. Tiang jembatan Ampera kulihat seperti batangan emas.
“Ayo, ke rumah. Kito minum kopi. Kito kasih tau wong kampung,” ajakku.

45
SEBUAH gelas dilempar Albert Membara ke cermin di ruang kerjanya. Tar! Pecahan kaca berserakan di lantai.
“Biarkan! Tidak usah dibersihkan,” kata Albert kepada Sofyan yang mau membersihkan pecahan kaca itu.
Albert Membara kesal karena Jai dipecat sebagai anggota Dewan.
Jai dipecat oleh partai politiknya lantaran media massa terus memberitakan latar belakang orang kepercayaan Albert Membara itu.
Pemberitaan dimulai dari pengakuan Halimah, mengenai latar belakang Jai, mantan suaminya. Kemudian pemberitaan mengenai pengakuan dan kesaksian orang-orang yang pernah mengenal Jai, termasuk Iman yang kini menjadi seorang ulama.
Sekitar 15 menit, Albert Membara dan Sofyan diam. Kedua mata Albert Membara ngabang. Sesekali terdengar gemeretak giginya. Tangannya berulang dipukulkan ke atas meja. Sofyan menundukan kepala, kedua tangannya mengusap dengkul kakinya.
“Aku minta besok pagi pengaduan ke pengadilan itu sudah masuk. Jadi kau suruh budak-budak pengacara itu cepat selesaikan. Kalu idak, mereka kutembak. Tau!”
“Ya, Pak,” jawab Sofyan.
“Na, jugo siapkan langkah keduo itu.”
“Beres, Pak.”
“Jangan beres-beres. Kalu kito gagal, kau dulu kutembak. Ngerti! Sano pergi.”
Albert mengambil beberapa butir obat penenang dari laci mejanya. Glek. Kemudian dia menghidupkan radio tapenya. Tak lama kemudian Albert tertidur.

46
WARGA Kampung 7 Ulu panik setelah membaca berita di koran tentang gugatan Haji Bakrie kepada mereka ke pengadilan. Warga kampung itu dituduh Haji Bakrie telah menyerobot lahan miliknya. Lahan itu adalah tanah yang ditempati warga yakni kampung 7 Ulu.
Warga kemudian membahas soal gugatan Haji Bakrie itu dengan Putra dan beberapa kawannya.
“…menurut ketua tim kuasa hukum Haji Bakrie, Sofyan, SH, kepada pers, seusai mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Palembang, Senin kemarin, tanah yang digunakan warga kampung 7 Ulu untuk tempat tinggal selama bertahun-tahun adalah tanah milik keluarga Haji Bakrie. Tanah seluas 1 hektare itu dibeli kakek Haji Bakrie, yakni Raden Haji Muhammad Abdullah Tholib dari Pemerintah Belanda seharga 3.000 golden pada tahun 1920. Kemudian di atas lahan itu oleh Raden Haji Muhammad Abdullah Tholib didirikan sejumlah rumah bagi buruh perusahaan kapalnya. Namun saat Indonesia merdeka, Raden Haji Muhammad Abdullah Tholib ikut istrinya, Yohana, pulang ke Belanda. Ahli warisnya, dalam hal ini Haji Bakrie, mempunyai bukti-bukti suratnya, kata Sofyan kepada wartawan….”
“Itu bohong! Bapak kami memang bekerja dengan Pak Haji Tholib. Tapi bukan dio punya tanah dan bukan dio membangun rumah kami. Itu bohong besar,” kata Dollah kemudian melemparkan koran yang menulis berita tersebut.
“Seingatku, kata abahku, tanah dan rumah di sini memang hasil pembelian warga dewek. Masing-masing. Ini kampung sudah ada sejak zaman kesultanan. Dari mano dio dapat beli tanah ini,” timpalku.
“Jadi, kito harus lawan mereka,” kata Dollah.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu, jika pengadilan memproses gugatan mereka, kemungkinan kita akan kalah sebab hampir semua dari kita kan tidak mempunyai bukti kepemilikan tanah,” kata Putra.
Perkataan Putra itu membuat kami terkejut. Kami marah dan kesal. Tetapi, memang itu kenyataannya. Akibat kebakaran yang pernah menghanguskan kampung kami, pada Agustus 1995, hampir semua surat kepemilikan tanah kami habis terbakar.
Setelah kebakaran itu tidak ada warga yang membuat surat tanah yang baru. Selain soal biaya yang tinggi, warga pun berpikir tidak perlu memiliki surat tanah sebab tidak mungkin warga di Kampung 7 Ulu akan saling mencuri tanah.
“Mungkin salah satu cara untuk melawan kito harus bersatu untuk tetap bertahan di kampung ini, dan kito terus mencari bukti dan membangun opini bahwa tanah ini memang milik kito,” kata Putra.
Meskipun Putra memberi semangat seperti itu, kami tetap sedih, marah dan kesal.
Saat pulang ke rumah masing-masing, malam itu tidak seorang pun warga Kampung 7 Ulu yang dapat tidur dengan nyenyak.

47
SUDAH dua mangkok pindang patin dihabiskan Ahmad Liam. Beberapa tetes kuahnya tumpah di jas hitam yang dipakainya.
Dia ambil dua batang tusuk gigi. Dicukilnya cela beberapa gigi bawahnya yang coklat kehitaman, yang mungkin akibat candu rokok dan kopi.
“Kalau kau menghubungi dari dulu, mungkin urusannya tidak serepot ini. Jadi apa maunya Pak Walikota?” tanya Ahmad Liam, kemudian menyandarkan tubuhnya yang gemuk ke kursi.
Belum keluar jawaban Sofyan, ketua Dewan itu meminta pelayan rumah makan Kembang Manis, tempat mereka makan, menyalakan AC (Air Conditioner).
“Sudah dihidupkan, Pak,” kata pelayan itu.
“Kok masih panas. Coba turunkan lagi suhunya,” kata Ahmad Liam.
“Pak Liam, Pak Wali minta agar Dewan tidak mengeluarkan rekomendasi sampai pengadilan memutuskan gugatan Haji Bakrie kepada warga,” kata Sofyan.
Ahmad Liam manggut-manggut, sekian detik dia menatap Sofyan.
“Jadi, itu saja?”
Sofyan mengangguk.
“Lalu, buat aku dan buat kawan-kawan Dewan lainnya, apa? Kasus ini cukup berat, sebab opininya tidak baik buat kami jika kami mengambil keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat,” kata Ahmad Liam.
“Soal itu, tenang saja, Pak. Kami akan beri uang lelah. Untuk Bapak satu batang dan kawan-kawan dewan lainnya setengah batang,” kata Sofyan.
“Maksudmu untuk aku hanya satu miliar?”
Sofyan kembali mengangguk. Ahmad Liam tertawa.
“Uang sebesar itu tidak ada artinya dengan risiko yang kami ambil,” kata Ahmad Liam.
Sofyan termangu.
“Pantasnya berapa?” tanya Sofyan.
“Aku lima batang dan kawan-kawanku mungkin cukup tiga batang,” jawab Ahmad Liam.
Sofyan menarik napas.
“Apa itu tidak terlalu tinggi. Dari mana uang sebanyak itu dimiliki Pak Wali,” kata Sofyan.
Ahmad Liam kembali tertawa.
“Oi, aku ni bukan minta dengan Pak Walikotamu itu. Aku minta dengan bosnya. Oke, aku mau pulang dulu. Kau kan yang bayar makan siang ini,” kata Ahmad Liam.
“Ya, Pak. Sebentar, Pak. Aku telepon dulu beliau,” kata Sofyan.
Sofyan kemudian menghubungi Albert Membara. Dia menjauhi Ahmad Liam sekitar 15 meter.
Dari jauh, Sofyan tampak berulang mengangkat tangan kirinya saat menelepon. Lalu, sekian detik kemudian, dia tersenyum. Buru-buru dia menemui Ahmad Liam.
“Beliau tawar empat batang buat Bapak, dan dua batang buat kawan-kawan Bapak. Cukup kan, Pak. Beliau bilang minta tolong nian, Pak,” kata Sofyan.
Ahmad Liam merangkul Sofyan.
“Oke, aku setuju. Tapi semua uangnya harus diserahkan dulu dengan aku. Jangan kau yang membagikan uangnya ke kawan-kawanku.”
Sofyan mengangguk.

48
UDARA panas. Musim kemarau telah mencuri dua bulan milik musim hujan. Ketika mau naik jembatan penyeberangan di depan International Plasa, seorang lelaki bertubuh tegap, berambut panjang, mengenakan jaket kulit warna hitam, menabrak tubuh Putra. Putra terkejut dan menoleh ke arah lelaki yang mengenakan kaca mata hitam itu. Lelaki itu tersenyum.
Lelaki itu mengikuti Putra. Saat berada di atas jembatan, lelaki itu kembali menabrak tubuh Putra. Ketika Putra menoleh….
“Ikut aku. Jangan banyak ngomong. Diam,” kata lelaki itu kemudian tersenyum. Pinggang Putra terasa dingin oleh senjata api yang ditodongkan lelaki itu.
“Sebentar, Pak. Aku mau temui kawan dulu,” kata Putra.
“Tidak bisa. Ikut aku. Ini penting,” katanya. Dia menarik tangan Putra.
Putra dinaikkan ke sebuah mobil sedan warna hitam, yang diparkir tak jauh dari jembatan penyeberangan itu. Di dalam mobil itu, telah menunggu dua lelaki. Mereka duduk di depan.
“Kita mau ke mana, Pak?” tanya Putra yang wajahnya memucat.
“Jalan-jalan. Ada orang yang mau ketemu kamu. Tenang bae,” kata lelaki yang duduk di depan, di samping sopir.
Lelaki itu berkacamata minus, mengenakan kemeja putih, tubuhnya kurus dan bau ketiaknya cukup menyengat. Sedangkan yang menyopir, tubuhnya tegap seperti lelaki yang menodongkan pistol kepada Putra. Dia pun mengenakan jaket kulit warna hitam. Bedanya rambut lelaki yang menyopir ini dicukur pendek, nyaris botak.
Putra diajak keluar kota, mengarah ke Inderalaya. Sepanjang perjalanan mereka tak bicara. Meskipun AC mobil itu menyala, wajah dan tubuh Putra berkeringat.
“Ni minum. Haus kan?” tanya lelaki yang berkemeja putih.
Putra mengangguk, lalu meneguk air mineral yang disodorkan. Tak lama kemudian Putra merasakan kepalanya begitu berat, pandangannya berbayang. Sekian detik kemudian dia pun tertidur.
Saat terbangun Putra sudah berada di sebuah ruangan tertutup. Dindingnya plesteran semen yang tak dicat, disinari lampu 15 watt, tak ada tempat tidur, tak ada jendela. Suara dari siaran radio terdengar cukup keras.
Putra ketakutan. Dia berulang berteriak dan menggedor pintu ruangan itu dari dalam. Tidak ada yang dapat mendengarnya. Setelah beberapa jam berteriak dan menggedor pintu, Putra kelelahan. Dia pun menangis.
Sepanjang malam, di dalam ruangan itu, Putra menahan rasa lapar, haus dan dingin.
Sementara suara dari siaran radio terus menyesaki telinga Putra. Kemudian secara perlahan suara itu menggempur isi kepala Putra. Dan, pada akhirnya setiap kata dari radio itu bagai ledakan bom yang menghantam kepalanya.

49
ORANGTUA Putra terkejut dan ketakutan ketika mendengar kabar anaknya diculik orang yang tak dikenal. Mereka diberi tahu setelah lima hari Putra tidak diketahui keberadaannya.
“Kalau dulu dia dengar nasihat aku, tidak usah kuliah di Palembang, mungkin tidak seperti ini kejadiannya. Papa kan yang memberi dukungan kepadanya,” kata ibu Putra, sesaat pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.
“Ya, sudah, Ma. Ini tak ada kaitannya dengan tempat dia kuliah. Ini kehendak Tuhan dan akibat para pejabat yang jahat dan korup. Palembang ini tempat kelahirannya, jadi jika dulu kucegah, percuma. Aku tahu wataknya yang keras,” kata bapak Putra.
Di bandara itu, kedua orangtua Putra dijemput Beben dan Tandu. Keduanya kemudian dibawa ke kantor LBH Swarna Bhumi.
“Menurut kami kemungkinan besar Putra diculik berkaitan dengan kerjanya membela warga Kampung 7 Ulu yang akan digusur. Dan, kami sudah melaporkan kasus ini ke polisi, dan polisi terus melakukan penyelidikan,” kata Beben.
“Apa kemungkinan dia selamat?” tanya bapak Putra.
Beben menatap Tandu serta beberapa aktivis LBH Swarna Bhumi lainnya.
“Pak Bambang, mudah-mudahan dia masih selamat. Kita berusaha dan berdoa,” kata Beben, terus menundukkan kepala dan menarik napas.
Ibu Putra tak mampu menahan tangisnya. Dia pun menangis sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya. Suaminya berusaha menenangkan dengan cara memeluk pundaknya. Melihat adegan itu mata Beben dan Tandu pun berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, di halaman Kantor LBH Swarna Bhumi itu, seratusan mahasiswa berunjukrasa. Unjukrasa memberi dukungan moral kepada kedua orangtua Putra.
“Putra Akan Selamat dan Penculiknya Akan Tertangkap” tulis para pengunjukrasa di sebuah spanduk warna putih.
Sebelumnya, seratusan mahasiswa tersebut berunjukrasa di Kantor Walikota Palembang dan Kantor Polisi Kota Besar Palembang. Dalam tuntutannya, mereka minta agar Putra dibebaskan dan penculiknya dihukum.
Di Kampung 7 Ulu, kedukaan juga dirasakan warganya. Setiap malam, setelah mengetahui Putra diculik, warga di kampung itu melakukan doa bersama.
Sedangkan media massa, hampir setiap hari memberitakan perkembangan penculikan terhadap Putra. Bahkan, kedua orangtua Putra beberapa kali diberitakan secara eksklusif oleh media massa cetak dan elektronik.
Puluhan pemberitaan media massa ataupun aksi para mahasiswa dan aktivis LSM mengenai penculikan Putra, tidak mampu membuat penculiknya membebaskan Putra. Termasuk aksi mogok makan yang dilakukan Yulia, pacar Putra.

50
DI teras sebuah rumah limas, di pinggiran Kota Palembang, Albert Membara tertawa sekeras-kerasnya. Tubuhnya terguncang. Sofyan, yang duduk di sampingnya, turut tertawa. Mereka menikmati buah duku.
“Baru tahu raso dio. Pikirnyo biso ngalake kito,” kata Albert Membara, kemudian tertawa lagi. Beberapa kunyahan buah duku melompat dari mulutnya.
“Kini pekerjaan kito jadi gampang. Hebat kito. Bila proyek itu sukses, itu artinya sudah ada jaminan buat aku menjadi Walikota periode ke depan kan. O, ya, Sofyan, kapan pengadilan melakukan penyidangan gugatan si Bakrie itu.”
“Kabarnya lusa. Tapi, buat apo dipikirke. Kito pasti menang. Bukti-bukti yang kito sodorkan membuat pengadilan percayo Bakrie yang punya tanah itu. Jadi, tenang bae, apalagi kiriman bapak sudah kukasih ke mereka,” kata Sofyan.
Tak lama kemudian, mereka pergi dari rumah kediaman pribadi Albert Membara itu. Mereka menuju ke sebuah rumah di kawasan Talangsemut. Dari luar, rumah itu seperti kediaman pribadi tetapi saat dimasuki, puluhan perempuan cantik dengan pakaian seronok menyambut mereka.
Rumah itu ternyata tempat pelacuran. Namun, tidak semua orang dapat masuk ke sana. Tempat itu hanya dapat dikunjungi para pelanggan tetapnya, yakni para pejabat dan pengusaha.
Seperti biasanya, Albert Membara dan Sofyan bergumul dengan beberapa perempuan. Mereka menegak minuman keras, menghisap ganja dan putau, lalu, diakhiri dengan berhubungan seks.

51
BAPAK Putra berdiri kaku di depan pintu rumah rakitku. Mata Halimah tak bekedip. Dia terpaku seperti melihat hantu, matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian keduanya berpelukan. Mereka menangis. Tubuh mereka bergetar. Sinar matahari pagi pun tak mampu menghangatkan tubuh mereka yang menggigil.
Beben yang mengantar kedua orangtua Putra ke rumah kami, tampak kebingungan. Lalu…
“Jadi, Putra itu anakku,” kata Halimah.
Pagi itu, di rumah rakitku, kami sekeluarga menangis. Dalam tangisan, kami tidak merasakan hantaman ombak yang mengguncang rumah rakitku. Pun kami tidak merasakan angin pagi yang berembus kencang.
Bambang mengambil Putra dan dibawa ke Jakarta, saat berusia 1,5 tahun. Putra diambil selain karena saat itu Bambang belum memiliki anak, dia pun ingin membantu beban adiknya Halimah yang baru saja ditinggalkan suaminya, Jai, yang minggat karena diburu petrus.
Sebenarnya, Bambang ingin membawa Halimah dan ketiga anaknya ke Jakarta tetapi dia takut identitas keluarganya diketahui orang lain. Lebih buruknya hal itu diketahui pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, maka dapat dipastikan dia akan dipecat oleh perusahaan itu.
Bahkan, setelah mengambil Putra, Bambang meminta Halimah jangan sekali-kali menghubunginya.
“Biar bagaimanapun, pada anak ini mengalir darahku. Berarti anakku juga. Jadi, biarlah dia besar bersama kami,” kata Bambang saat itu.
Sebelum kembali ke Jakarta, Bambang memberi uang kepada Halimah untuk menyewa rumah dan modal berjualan sayuran di Pasar 16 Ilir.

52
PERTAHANAN yang dilakukan warga Kampung 7 Ulu, berupa ban mobil yang dibakar, pagar kawat berduri, serta papan yang dipasang paku, tak mampu menghadang laju ekskavator. Bahkan beberapa warga yang melawan, tubuhnya babak belur dipukuli bandit.
Hanya berkisar 10 jam, semua rumah di Kampung 7 Ulu serata tanah. Dirubuhkan dan dilindas tiga ekskavator.
Rencana warga yang ingin membakar ekskavator juga gagal, sebab bensin dan minyak tanah yang disiapkan warga keburu ditemukan beberapa polisi dan polisi pamong praja.
Warga Kampung 7 Ulu hanya dapat memaki dan menangis. Mungkin, hanya aku yang tidak memaki dan menangis. Aku dan beberapa warga mencoba mengamankan beberapa barang yang dapat diselamatkan. Sementara, rumah rakitku sebelum penggusuran telah kupindahkan ke tepian Kampung 14 Ulu.
Setelah penggusuran itu, warga kemudian ditawari Walikota Palembang, Albert Membara, untuk ikut transmigrasi atau mengkredit rumah tipe 36 di daerah Siapi-api. Lalu, mereka diberi pesangon uang sebesar Rp 500 ribu per keluarga.
Tak ada pilihan buat warga. Mereka harus memilih di antara kedua pilihan yang bukan pilihan itu.
Jelasnya, mereka harus meninggalkan Sungai Musi yang telah menghidupi tiga generasi keluarga mereka.
Di tempat tinggal yang baru, mereka tak akan lagi merasakan sentuhan air Sungai Musi, mendengar deburan ombaknya, atau menikmati embusan angin di tengah teriknya matahari yang menyinari Sungai Musi. Mereka pun dipastikan tidak dapat melihat Jembatan Ampera setiap saat.

53
PINTU ruangan itu terbuka, dua lelaki membawa satu balok es yang ukurannya setinggi tubuh Putra.
“Putra, saatnya kau tidur,” kata salah seorang dari dua lelaki itu.
Putra yang tubuhnya bagai karung basah, tak mampu melawan saat tubuhnya diseret ke atas balok es itu. Dia pun ditidurkan.
Selanjutnya kebekuan merayapi tubuh Putra. Tulang dan jantungnya seperti ikan di dalam kulkas. Melalui sorot matanya, Putra berusaha membunuh kami. Tetapi, dia tidak mampu. Hanya, di dalam mimpinya Palembang terbakar. Asapnya terbang dan bergabung dengan awan; mengelilingi bumi, mencari abad-abad kemenangan.
Jauh dari ruangan itu, kami pun tidak mampu membunuh Putra. Halimah dan Sulaiman hanya mampu memilih ikut Bambang ke Jakarta. Aku bersama Somad tetap bertahan di rumah rakitku.
Setiap malam kami menyanyikan lagu Cup Mutung milik Filus:
…cup, cup mutung
balik keTanggabuntung
cup, cup mutung
meleng keno pentung
cup, cup mutung
banyak rumah mutung
cup, cup mutung
aku minta tulung….
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar Sulaiman tewas ditembak polisi lantaran ingin merampok seorang nasabah bank di Bandung.

54
SETIAP kali berkenalan dengan seseorang, Yunen selalu merasa tersiksa jika orang itu menanyakan sukunya, apalagi menanyakan pekerjaan orangtuanya atau saudara-saudaranya.
Meskipun demikian, Yunen akan menyebutkan sukunya walaupun dia harus memalingkan muka atau menundukkan kepala. Bila seseorang menebak sukunya, Yunen pun akan cepat mengangguk. Suku apa saja. Tetapi, mungkin lantaran warna kulitnya yang kekuningan, tidak seorang pun pernah menebak Yunen berasal dari satu suku di Papua atau Maluku.
Hanya, dia tidak akan menceritakan sedikit pun tentang orangtua ataupun keluarganya. Sikap tertutup Yunen itu sangat tidak disukai wong di Palembang. Tak heran bila Yunen memiliki sedikit teman dekat; salah satu persyaratan untuk menjadi seorang sahabat, seseorang harus memberitahu identitas orangtua dan keluarganya. Tetapi, ketika seseorang menjadikannya sebagai sesuatu yang privasi dengan alasan tertentu, dia dianggap orang asing.
“Buat apo nak diceritoke. Apo yang harus dibanggakan dan dibutuhke buat kito yang hidup hari ini,” katanya.
Yunen adalah seorang pegawai pemerintah sebagai juru penerangan. Setiap pekan dia tampil di televisi lokal. Dia memainkan drama penyuluhan. Temanya berbagai persoalan di masyarakat yang menjadi perhatian pemerintah, seperti masalah kebersihan di kampung, keluarga berencana (KB)—yakni program pemerintah Indonesia yang mengondisikan sebuah keluarga untuk hanya memiliki dua anak—hingga permasalahan pertanian dan pemilihan umum yang selalu memenangkan Golkar (Golongan Karya); partai politik yang dikendalikan penuh oleh Soeharto.
Yunen merasa muak dengan profesinya itu. Namun, kebutuhan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup membuatnya terus bertahan. Muak atau tidak muak setiap pekan dia harus memainkan drama-drama penyuluhan. Setelah empat pekan, dia antre menerima gaji dari negara.
“Aku nih anak langit. Penyair. Aku hidup untuk membuktikan bahwa awal selalu berulang dan akhir tak pernah selesai,” katanya.
Sebagai penyair—meskipun tidak semua penyair seperti ini dan pengakuan tersebut lahir dari mulutnya—Yunen sangat menjunjung cinta. Cinta yang menggelora dan penuh nafsu, membuatnya tanpa lelah menulis puisi; menembus malam dan melupakan apakah lambungnya sudah menggiling makanan atau belum.
Di kantor tempatnya bekerja—di mata Yunen adalah sekumpulan orang yang rajin pada awal bulan dan menjadi kerbau lapar pada akhir bulan—Yunen leluasa menulis puisi. Bila perlu, secara tiba-tiba dia membacakan puisinya dari meja ke meja di kantornya.
Tidak ada yang mampu mencegahnya membaca puisi, seperti Yunen yang tak mampu mencegah rekan-rekan kerjanya setiap hari bermain judi gaple di belakang kantor, atau meluruskan program-program fiktif dan penuh mark up yang disusun pimpinannya.
Satu-satunya kejahatan yang dilakukan Yunen di kantornya, yakni menjual kertas fotokopi setiap akhir bulan. Pencurian tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan makan dan rokoknya. Gaji yang diterima Yunen selalu berumur 23 hari. Kejahatan itu sangat disadari Yunen, dia pun siap dihukum. Tetapi, di mata pimpinan dan rekan kerjanya, kejahatan yang harus dipertanggungjawabkan Yunen yakni kebiasaannya menulis puisi dan membacakannya di dalam kantor.
Bila ada yang tertarik dengan puisinya, Yunen akan menceritakan bagaimana kuatnya sebuah cinta sehingga seseorang menjadi bergairah lalu menepiskan segala apa diributkan orang setiap hari; uang, mobil, makan, atau barang-barang elektronik yang harganya mahal.
Sejujurnya, dalam satu tahun, mungkin hanya satu kali teman sekantor Yunen memuji sebuah puisi miliknya. Buat Yunen itu sudah cukup. Mengampanyekan keindahan dan kasih sayang merupakan ibadah. Selalu dan selalu Yunen mengatakan Tuhan merekomendasikan manusia untuk selalu memelihara keindahan dan kasih sayang, agar kelak—setelah meninggal dunia—mendapatkan jaminan masuk surga. Soal pandangan ini, tidak jelas Yunen mengutipnya dari mana. Kemungkinan besar dia menyimpulkannya setelah dia mengkaji Alquran—dia mengaku beragama Islam—dan menikmati syair-syair Khalil Gibran—salah satu penyair yang dikaguminya. Penyair lain yang karyanya disenangi Yunen adalah Chairil Anwar dan W.S. Rendra.
Pintu masuk ke wilayah cinta buat Yunen adalah seorang gadis. Nunung, namanya. Tiap lekuk tubuh dan tatapan Nunung menjadi objek pembicaraan Yunen, hampir setiap hari. Dan, bila matanya mulai berkaca-kaca, dia pun bernyanyi, “Bidadari bangkit birahinya, mengajak kawin benahi kusutku. Oh, aku mabok.”
Sayangnya, sama seperti saat ditanya sukunya, Yunen tersiksa bila dipertemukan atau berhadapan dengan Nunung. Entahlah. Dia hanya mampu menikmati Nunung dari jauh. Terutama saat gadis itu tengah latihan drama atau mendeklamasikan puisi di Taman Budaya Sriwijaya—sebuah gedung kesenian di Palembang yang kemudian dikomersialkan seorang pejabat pemerintah; disewakan buat mereka yang ingin merayakan pernikahan, selanjutnya gedung itu dibongkar dan menjadi sebuah pusat perbelanjaan.
Cara Yunen menikmati Nunung melalui matanya seperti seekor kucing yang mengincar ikan di akuarium; ingin menangkapnya tetapi bukan untuk dimakan.
Melalui Nunung, Yunen melahirkan drama kata-kata. Penuh kejutan pada lingkungannya. Semua keindahan, kebeningan raga dari sikap yang tegas terkandang manja dari Nunung merupakan konstruksi bidadari buat Yunen. Bidadari yang selalu mendampinginya pada siang hari, seperti bayangan tubuhnya. Bila malam hari, Yunen pun merindukan bidadari itu dan berharap bertemu dalam tidurnya.
Sampai akhirnya terdengar kabar, seperti kisah telenovela, Yunen menikah dengan seorang gadis pilihan keluarganya. Pilihan orang-orang yang selalu dirahasiakannya. Dia dan istrinya menetap di sebuah dusun di pinggiran Muaraenim. Dusun itu adalah dusun kelahiran orangtuanya.
“Tak ada yang mau lagi mendengarkan puisiku. Aku harus menikah. Akhir tak pernah selesai,” katanya.
Tampaknya Yunen berusaha menjauh dari catatannya di Palembang, ibarat dirinya mempunyai akhir. Mungkin bukan itu maksudnya. Mungkin itu sebuah awal yang berulang, menapaki sejarah orang-orang yang dirahasiakannya dari sebuah rumah panggung di dusun sepi dan merenungi orang-orang yang keheranan melihatnya membaca puisi di kebun kopi.
Lalu, ketika jutaan orang Indonesia punya keinginan kuat agar Soeharto jatuh, Yunen dipasung istri dan keluarganya di kolong rumah panggung miliknya. Yunen divonis gila. Pemasungan itu dilakukan setelah Yunen mengamuk di dalam rumah. Menggunakan sebuah parang dia merusak seluruh barang, lalu mengejar istrinya yang tengah hamil delapan bulan; Yunen mau membacoknya.
Kemarahan Yunen dipicu lantaran istrinya keberatan bila dia selalu membaca puisi di kebun kopi dan menggendong tubuh istrinya dari Sungai Lematang menuju rumah, setiap kali pulang dari mandi di sungai itu; adegan tersebut menjadi tontonan dan pembicaraan orang-orang di dusun mereka. Sejak saat itu, Yunen tak pernah lagi membersihkan sepasang gigi palsunya.

55
YULIA menangis ketika kali pertama melihat bayi laki-laki yang baru dilahirkannya. Bayi itu lebih dahulu menangis.
Yunen hanya diam saat menggendong si bayi; dia menikmati tangisan ibu dan anak. Jantungnya berdetak cepat.
Setelah dilahirkan, kedua telinga bayi itu diazankan Yunen. Soal ini, Yunen dipaksa Bi Kom, dukun beranak yang membantu persalinan Yulia. Terus terang, hanya Yunen yang tahu apakah dia mengazankan atau tidak. Yang tampak, sekitar 5 menit wajah Yunen menempel di pipi bayi; tak ada suara.
“Yunen bawa budaknyo kesini. Nak kumandikan dulu,” kata Bi Kom.
Tiga jam sebelumnya, Yulia masih berada di dalam sebuah bus jurusan Palembang-Lahat. Lantaran perutnya sakit, dia minta diberhentikan di sebuah dusun yang dilalui bus tersebut. Si sopir bus sempat ragu-ragu saat mau menghentikan kendaraannya, apalagi melihat Yulia yang tengah hamil tampak kesakitan. Sopir bus yang memiliki tiga anak itu yakin Yulia akan melahirkan. Tetapi, Yulia sempat berteriak bahwa di dusun tempat mereka berhenti ada kerabatnya.
Sebenarnya, Yulia berbohong. Dia hanya takut melahirkan di rumah sakit di Kota Lahat. Dia takut bila melahirkan di rumah sakit—mungkin lantaran ditolong si sopir—orangtua dan keluarganya akan tahu keberadaannya. Sebenarnya dia ke Lahat mau mencari seorang temannya. Harapannya, di rumah temannya itu dia dapat melahirkan, cukup ditolong seorang dukun atau bidan, tidak perlu dengan seorang dokter di rumah sakit.
Yulia ragu keinginannya tercapai sebab di sepanjang perjalanan Yulia merasakan perutnya melilit. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya. Apalagi cairan putih dan kental sedikit demi sedikit merembes dari kemaluannya. Entah apa yang mendorongnya, Yulia memutuskan untuk berhenti di sebuah dusun yang sepi. Dusun Yunen. Dia berhenti di perkarangan rumah penyair yang baru dua bulan bebas dari pemasungan.
Pemasungan terhadap Yunen dihentikan setelah istri Yunen—perempuan bertubuh gemuk yang mengajar di sekolah dasar—menemukan calon suami yang baru. Saat dilepaskan pasungnya Yunen hanya dibekali sebuah panci dan tikar serta beberapa kilogram beras. Hampir semua perabot rumah diboyong istri dan keluarganya. Mereka pindah ke dusun sebelah.
Istri dan keluarganya berharap Yunen pergi dari rumah. Selanjutnya, rumah itu akan dijual, uangnya buat membiayai makan dan sekolah anak mereka; gadis kecil yang tidak pernah diizinkan ibunya bila ingin ikut lomba baca puisi di sekolah. Uang pensiun Yunen menjadi jatah kakak perempuannya yang janda meskipun saat pengambilan uang dilakukan istri Yunen.
Yunen tidak pergi. Dia bertahan di rumah itu. Dia terus membaca puisi. Tidak peduli malam ataupun siang.
Dia menulis beberapa kata di tanah atau di dinding rumah panggung itu dengan arang: “Awal selalu berulang dan akhir tak pernah selesai.”
Soal kalimat yang disukai Yunen itu, tidak jelas milik siapa, tetapi tampaknya merupakan penggalan dari puisi miliknya. Entahlah.
Yulia terjatuh ketika menginjak tangga rumah panggung Yunen. Yunen yang tengah melamun di muka jendela samping rumahnya mendengar teriakan Yulia yang kesakitan. Dia melihat Yulia terkapar. Sejenak Yunen ketakutan, dia masuk ke dalam rumah. Yulia memanggilnya dan minta tolong.
Meskipun ragu-ragu, Yunen keluar dari rumahnya. Beberapa saat dia memperhatikan Yulia. Yulia terus merintih minta tolong, lalu perlahan menjadi teriakan. Lantaran siang hari, teriakan Yulia tak ada yang mendengar kecuali Yunen. Pada siang hari, hampir semua warga di dusun itu berada di kebun.
Yunen kemudian berlari dan berteriak “Tolong! Tolong!” menirukan teriakan Yulia. Sekitar satu jam Yulia menahan rasa sakitnya. Kemaluannya dipenuhi cairan dan darah. Wajah Putra, sang kekasih yang memberi benih di rahimnya, berputar-putar dalam kabut pandangannya.

56
KETIKA Putra diculik dan tidak diketahui kabar selanjutnya; entah mati atau hidup, Yulia tengah hamil tiga bulan. Yulia dan Putra belum menikah, tetapi dinginnya malam pergunungan di Pagaralam saat mereka melakukan pendakian Gunung Dempo, Yulia merasakan kenikmatan luar biasa saat bersetubuh. Sayangnya, kecerobohan Putra yang membiarkan sperma menghantam sel telur Yulia, membuat perempuan muda itu berharap kuat Putra segera menikahinya.
Putra siap menjadi suami tetapi dia tak ingin punya anak. Alasannya dia masih ingin mengejar karier. Bila sudah punya anak, Putra takut kariernya terhambat. Yulia tidak membantahnya tetapi dia tidak melakukan aborsi.
Lalu, sebelum persoalan itu diselesaikan mereka, Putra meninggalkan kedukaan dan cemoohan. Yulia bagaikan hidup di dalam gerbong kereta api tanpa pintu. Memang, pada saat Yulia hamil, dia tidak sendirian. Puluhan perempuan di Palembang hamil meskipun belum menikah.
Hanya, jilbab yang dikenakan Yulia menjadi oven yang panasnya mencapai 80 derajat celcius setiap kali bertemu dengan teman-temannya, keluarganya atau para tetangganya di Plaju; kediaman orangtuanya. Oven itu membakar kepalanya.
Meskipun mencintainya, Yulia sangat membenci Putra. “Bapakmu orang yang paling ceroboh,” kata Yulia, saat menyusui bayinya.

57
ORANG-ORANG di dusun Yunen menerima kehadiran Yulia. Mereka pun mengizinkan Yulia menumpang sementara di rumah Yunen. Syaratnya, Bi Kom, si dukun beranak itu juga tinggal di rumah Yunen. Alasan warga, bila tidak ditemani seseorang, Yunen ditakutkan akan menyakiti Yulia dan anaknya. Setelah dipasung lima tahun, warga tidak yakin Yunen sudah sembuh dari penyakit gilanya—yang diyakini warga—sebab orang-orang gila sebelumnya di dusun itu, setelah dipasung justru bertambah gila.
Jika pemasungan tidak akan menyembuhkan orang gila, mengapa itu harus dilakukan? Jawabannya sederhana; agar si orang gila tidak mengganggu orang lain yang dianggap masih normal. Mau sembuh atau kian menjadi gila, warga di dusun itu tidak peduli.
Yunen divonis gila bukan lantaran dia mengamuk di rumah dan ingin membunuh istrinya melainkan kesukaannya membaca puisi di kebun kopi dan kesenangannya menggendong istrinya setelah mereka mandi di Sungai Lematang.
Soal tawaran menetap di rumah Yunen, Bi Kom merasa sangat beruntung. Sebagai dukun beranak yang tidak lagi mempunyai anak—tiga anak laki-lakinya meninggal dunia—Bi Kom seperti menemukan kembali sebuah keluarga.
Ketiga anak Bi Kom itu mati ditembak polisi. Mereka ditembak saat diburu di dalam hutan lantaran merampok sebuah bus yang lewat di dusun tersebut. Menurut polisi, mereka tidak akan ditembak bila tidak melakukan perlawanan dengan kecepek.
Kematian ketiga anaknya itu tidak disesali Bi Kom. Buat Bi Kom, apa yang dilakukan mereka adalah ibadah. Mereka merampok bus itu karena dusun mereka mengalami paceklik; sawah dan kebun kopi mereka gagal panen.
Apalagi, akibat paceklik itu beberapa balita mati karena kelaparan.
Musim paceklik itu merupakan bencana kali pertama yang dialami Bi Kom selama hidupnya di dusun tersebut. Sawah dan kebun kopi mereka gagal dipanen akibat tanah longsor dan amukan gajah. Beberapa warga menuduh penyebab bencana itu lantaran pembangunan pabrik bubur kertas milik perusahaan multinasional dan perkebunan sengon—bahan baku bubur kertas—tak jauh dari dusun mereka.
Yunen sendiri hanya cengar-cengir dan beberapa kali berkata “ya” saat Yulia bermohon menumpang sementara di rumah penyair itu.
Sikap baik dari orang yang divonis gila itu, membuat Yulia mendapatkan gairah hidup kembali. Dia pun secara diam-diam berkeinginan membesarkan anaknya. Padahal, saat di dalam bus, sebelum “kebetulan” di dusun Yunen, Yulia berniat memberikan anaknya kepada orang lain.


58
YUNEN membenci politik. Baginya politik itu hanya melahirkan peperangan, kelaparan dan penindasan terhadap perempuan dan anak-anak.
Menurut kisah didengar Yunen saat masih kanak-kanak, dari mulut bapaknya, dusun mereka merupakan pelarian anak buah Cheng Lien—seorang pemimpin perompak—yang disegani di Asia Tenggara pada abad ke-15.
Mereka lari ke pedalaman—dengan menyusuri Sungai Musi dan masuk ke Sungai Lematang dan membuat perkampungan di tepi sungai itu—karena tidak mau tunduk kepada para ksatria dari Jawa, yang kemudian membangun Kesultanan Palembang Darussalam.
Selama dalam perlarian, mereka terus-menerus melakukan peperangan. Baik perang menghadapi para prajurit dari Kesultanan Palembang Darussalam maupun dari kelompok pelarian lain yang juga membuat perkampungan.
Perang itu, dikisahkan, banyak merenggut nyawa. Bahkan, peperangan itu melahirkan penculikan terhadap perempuan. Mereka diperkosa atau dijadikan gundik oleh mereka yang meraih kemenangan.
Pada akhirnya, jumlah laki-laki menjadi lebih sedikit daripada perempuan. Kondisi tersebut akhirnya memungkinkan lelaki memiliki istri lebih dari satu, meskipun tidak memenangi sebuah peperangan.
Sekian tahun kemudian:
“Aku sangat membenci laki-laki yang beristri lebih dari satu. Itu pasti melahirkan ketidakadilan. Bukan hanya dirasakan para istrinya. Yang paling menderita, adalah anak-anak mereka. Perempuan dan anak-anak adalah sumber keindahan dan kasih sayang. Aku yakin betul peperangan dan kekuasaan yang menciptakan penderitaan terhadap perempuan dan anak-anak. Politik adalah biangnya.”
Sebetulnya, pemikiran Yunen tersebut tidaklah luar biasa. Sudah banyak orang yang berpikir seperti itu. Mungkin, cara penghayatannya yang membuat Yunen menjadi lain bila dibandingkan dengan teman-temannya atau keluarganya.
Setelah mengisahkan itu, biasanya bapak Yunen mendongengkan kota adalah tempat yang harus ditaklukkan.
“Kalau awak nak jadi wong, jadilah pegawai negeri, polisi atau tentara. Sekolah yang benar. Kalau harus nyogok, idak apo-apo, jual kebun kopi kito itu,” kata bapak Yunen.
Wajah Yunen memerah. Dia menatap ketiga temannya, yang sama-sama minum kopi di sebuah warung makan, di dekat Taman Budaya Sriwijaya.
“Aku tidak peduli Soeharto itu mau jatuh atau tidak. Yang penting itu, kito ini harus membangun nilai-nilai, terutama rasa melindungi sesama dan pujian terhadap semua keindahan. Kito ini rusak oleh politik. Politik telah membuat keindahan menjadi sampah,” kata Yunen.
Yunen kemudian melihat wajah ketiga temannya. Mereka menatap sinis.
“Aku memang benci politik. Menurutku dari pada ikut rapat di LBH Swarna Bhumi, lebih baek kito membicarakan puisi terbaruku,” kata Yunen.
“Kalau Presiden Soeharto jatuh dan kehidupan kesenian berubah menjadi baek, kau jangan mengaku-aku turut berjuang,” kata Sulaiman, perupa yang selalu bercita-cita ingin melakukan pameran tunggal lukisannya; selalu gagal lantaran tak ada sponsor.
Rapat di LBH Swarna Bhumi itu membahas rencana aksi berkaitan dengan konflik lahan antara petani dengan PT Musi Hutan Dunia.
“Setuju! Aku berkesenian karena Tuhan. Tuhan yang menentukan apakah aku dapat menulis puisi lagi atau tidak. Bukan kalian. Makanlah raso berjuang kalian,” kata Yunen.
Seperti biasanya, jika ada benih ketegangan dengan Yunen, teman-temannya memilih pergi. Begitu pun dengan ketiga teman Yunen tersebut. Dan, sejak saat itu—Polong, Angine dan Bobon—tidak pernah lagi bertemu dengan Yunen sebab sebulan kemudian Yunen menikah dan menetap di dusunnya. Pimpinan Yunen di kantornya begitu senang ketika penyair itu minta dipindahkan ke Muaraenim.
“Ini gara-gara Putra, si mahasiswa itu! Dia benar-benar merusak kesucian batin kesenian,” kata Yunen, entah untuk siapa. Dia memesan kembali secangkir kopi. Si pemilik warung makan itu hanya tersenyum melihat Yunen marah-marah. Begitulah Yunen.

59
SEBENARNYA, tuduhan Yunen terhadap Putra itu tidak sepenuhnya benar. Gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto di Palembang pada mulanya, awal tahun 1990-an, dapat dikatakan dipelopori oleh para pekerja seni, yang kemudian disambung gerakan perlawanan para aktivis LBH Swarna Bhumi, LSM dan mahasiswa.
Memang, sebelumnya, pada tahun 1980-an, sejumlah mahasiswa di Palembang melakukan perlawanan dengan pemerintahan Soeharto yang menyebabkan beberapa mahasiswa dipenjara.
Jadi, kehadiran Putra di tengah kawan-kawan pekerja seni itu merupakan konsolidasi soal gerakan perlawanan; bukan mengubah paradigma berkesenian para pekerja seni.
Di tengah lemahnya gerakan mahasiswa, para pekerja seni melakukan aksi protes ketika sebuah pameran lukisan di Taman Budaya Sriwijaya dihentikan seorang pejabat Pemerintah; dengan alasan ruang pameran tersebut digunakan untuk kegiatan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Sejak peristiwa itu, 1989, melalui karya-karya seni, seperti teater dan sastra, para pekerja seni di Palembang mengkritik pemerintahan Soeharto.
Jadi, tak heran, selanjutnya banyak pekerja seni di Palembang menjadi aktiVis LSM, dosen, atau bekerja di media massa; profesi yang memberi banyak ruang untuk meneriakKan perjuangan mereka atau membangun kesadaran kritis terhadap rezim Soeharto.
“Yunen itu sendiri sebenarnya berpolitik saat menghadapi birokrasi di kantornya, yang dikatakannya tidak berhati nurani,” kata Tandu, yang sebelum menjadi dosen turut mewarnai berkesenian di Palembang.
Tetapi, sikap Yunen yang meninggalkan Palembang untuk menyepi ke dusun, merupakan sikap politik yang harus dihormati, kata Tandu.
Sikap ini jauh lebih baik daripada para pekerja seni yang selama Soeharto berkuasa selalu mencari aman tetapi setelah Soeharto jatuh berebut “kue kekuasaan” bersama orang-orang yang turut menikmati kekuasan Soeharto.
“Mereka tai kucing sejarah!” kata Tandu.
Tuduhan Tandu itu tidak berlebihan. Memang, mereka yang dulunya alergi berkesenian untuk mengkritisi pemerintahan Soeharto, saat ini justru menikmati kekuasaan; ada yang menjadi anggota Dewan, menjadi pejabat pemerintah, atau menjadi pemborong pesta kesenian yang diselenggarakan pemerintah.
Masalahnya, kata Tandu, apa yang mereka perbuat sama sekali tidak mengakar kepada persoalan yang dulunya diperjuangkan para pekerja seni, yakni bagaimana kesenian menjadi alat reformasi kebudayaan yang jelas-jelas telah dicabik-cabik fasisme Soeharto.
“Aku tidak mempersoalkan posisi yang telah mereka raih,” ujar Tandu.

60
YULIA menceritakan siapa dirinya kepada Bi Kom dan Yunen. Pada bagian kisah mengenai Putra, Bi Kom menangis. Sejenak kemudian, dia pun menceritakan kisah dirinya, termasuk kematian ketiga anaknya.
Saat Yulia bercerita, Yunen sesekali tersenyum dan berkomentar, “Itulah hidup. Tak ada akhir yang selesai.”
Yunen sebenarnya ingat dengan Putra. Ketika Yulia menyebut nama dan menceritakan siapa Putra, Yunen teringat dengan sosok mahasiswa yang pernah dibencinya itu. Namun buat Yunen, kehadiran Yulia—yang tak lain kekasih Putra dan bapak bayi yang berada di rumahnya—merupakan drama yang dilahirkan Tuhan.
Dalam pikiran Yunen, pertemuan dirinya dengan Yulia, merupakan kesombongan Tuhan; ingin menunjukkan tidak ada manusia yang mampu berlari dari keinginan-Nya.
Itulah alasan kenapa Yunen sesekali tersenyum saat Yulia bercerita. Yunen memutuskan untuk tidak memberikan reaksi yang berlebihan; terkejut, marah, sedih atau bahagia. Cukup tersenyum. To, Tuhan tidak pernah terkejut dengan apa yang dialami seorang manusia.
Tiga bulan kemudian, Yulia berencana pulang ke Palembang. Meskipun dia yakin kedua orangtuanya sangat ingin bertemu dengan dirinya dan cucunya, Yulia tidak punya keinginan pulang ke rumah orangtuanya.
Yulia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Bapaknya seorang tentara berpangkat kapten. Sebagai anak prajurit, Yulia termasuk yang beruntung. Dia tidak pernah hidup di asrama tentara. Istilahnya tidak pernah menjadi “anak kolong”—istilah ini muncul untuk mengatakan anak-anak tentara yang terpaksa tidur di kolong atau di bawah genting asrama meliter, lantaran asrama yang mereka tempati sempit atau kecil—dan bila bapaknya bertugas ke suatu daerah, Yulia dititipkan kepada neneknya—pensiunan pegawai perusahaan minyak Pertamina, di Plaju.
Kedua orangtua Yulia dikenal warga di kampungnya taat beragama. Yulia dididik dengan disiplin untuk tidak mengatakan secara militer, baik soal agama maupun ilmu pengetahuan versi lembaga pendidikan. Dia dilarang membantah ataupun mengusulkan sesuatu bila tidak diminta. Sementara neneknya yang bangga dengan pendidikan “Barat”—yang didapatkannya selama penjajahan Belanda, negara yang konon dulunya merupakan daerah nelayan dan perompak—mengajarkan soal selera dan etika seorang berpendidikan.
Pada awalnya Yulia sangat angkuh dan pemilih dalam pergaulan di kampusnya, Universitas Balaputra Dewa. Tetapi, rasa ingin tahu atau rasa petualangannya yang sejak kecil diredam orangtuanya, membuat Yulia akhirnya luluh, saat Putra mendekatinya. Yulia tertarik dan menyukai Putra karena pemuda itu memberikan petualangan-petualangan berpikir dan rasa.
Seperti banyak diduga, perkawanan atau istilahnya hubungan asmara Yulia dengan Putra tidak disetujui orangtua Yulia. Layaknya sebuah cerita telenovela, kian dilarang benih cinta pasangan itu justru kian tumbuh.
Apa yang terjadi saat orangtuanya tahu Yulia hamil di luar nikah? Orangtua dan neneknya mengusir Yulia seperti anjing. Yulia diseret dan dimaki-maki—mungkin sesuatu yang selama ini diredam dari kesadaran purba mereka—di sepanjang jalan di muka rumah orangtuanya itu. Bila Putra masih hidup, mungkin peluru dari senjata api milik bapak Yulia akan bersarang di kepalanya.
“Jangan sebut namaku kalu dio dak mati.”
Yulia lari ke Metro. Dia menumpang hidup dengan Yudhi, seorang mahasiswa yang sudah berkeluarga. Sebelum akhirnya Yulia memutuskan mau melahirkan di Lahat, dengan alasan anak itu akan diberikan kepada temannya di sana.
Metro adalah sebuah kota di Lampung, yang dibangun para transmigran dari Jawa. Bila kita memasuki kota yang hidupnya tergantung dari pertanian itu, kita seperti memasuki sebuah kota di Jawa. Dari bentuk bangunan hingga jajanan,, semuanya beraroma Jawa.
Tanpa sepengetahuan Yulia, orangtua dan neneknya pindah ke Talangbetutu. Sejak saat itu, neneknya keluar masuk rumah sakit untuk mengobati berbagai penyakit yang menggerogoti dirinya.
Dan, pada saat Yulia melahirkan, bapaknya gugur dalam peperangan di Aceh melawan tentara GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Pulang ke Palembang buat Yulia adalah suatu permulaan dari kehidupan yang baru. Seperti semangat dari puisi-puisi yang ditulis Yunen di dinding rumah dan setiap hari dibacakannya. Dia ingin seperti orang asing yang memutuskan membangun kehidupan baru di Palembang. Dia pun tak ingin menemui teman-temannya.
“Aku ikut,” kata Yunen.
Tetapi, saat mau berangkat ke Palembang, Yulia bingung dengan Yunen yang masih tiduran di kasurnya.
“Aku ikut,” kata Yunen.
“Ya, beringkesla. Nanti kesiangan, kagek bus dak katik lagi,” kata Yulia.
“Aku yang ini yang berangkat itu. Tolong kembalikan ke Palembang, lemparkan bae ke Sungai Musi,” kata Yunen sembari memberikan sepasang gigi palsunya yang dibungkus daun pisang.

61
TIBA di Palembang, anak Yulia tak mampu berbuat apa-apa ketika ibunya diperkosa dua lelaki—sesama penumpang bus—di semak-semak di belakang Terminal Karyajaya, kecuali menangis.
Sambil menggendong anak dan menyeret tasnya, Yulia berusaha meninggalkan semak-semak itu.
Dia menumpang bus kota dan turun di pangkal Jembatan Ampera. Dengan sisa tenaganya dia berjalan menuju Sungai Musi. Dilemparkannya sepasang gigi palsu Yunen bersama daun pisangnya ke Sungai Musi.
Sungguh sulit dipercaya—Yulia pun tidak tahu—ketika sepasang gigi palsu itu tenggelam ke dasar Sungai Musi, jantung Yunen berdetak cepat, cepat, dan cepat. Anak Yulia menangis.

62
HOTEL milik Indra Wijaya selesai dibangun di Kampung 7 Ulu. Pada saat bersamaan Jai kembali ke Palembang. Tubuhnya kian bertambah tambun.
Atas rekomendasi Albert Membara, Jai bergabung dengan sebuah partai politik yang baru berdiri tetapi telah mempunyai wakilnya di Dewan. Kemudian, Jai terpilih sebagai ketuanya. Dan, melalui partai politik itu Albert Membara mencalonkan diri kembali sebagai Walikota Palembang.
Di hotel berlantai 30 milik Indra Wijaya, setiap malam, aku memijit atau mengurut mereka yang keletihan setelah bermain judi atau jalan-jalan mengelilingi kota Palembang. Kepada mereka, aku bercerita soal ikan-ikan juaro yang hidup di Sungai Musi. Menceritakan ikan juaro itu, aku seperti bercerita tentang keluargaku.
Setiap orang yang kali pertama mendengar ceritaku, pasti akan meneteskan air liurnya ke bantal dan kasur; mereka merasa lapar dan haus setelah mendengar ceritaku itu.
Lalu, sebagian dari mereka yang kuurut akan bercerita soal ikan yang pernah hidup di tanah kelahirannya. Namun, ikan yang diceritakan mereka tidak serakus ikan juaro. Maka tak heran bila rasa daging ikannya tidak segurih ikan juaro.
Saat ini aku mengerti betapa tidak berartinya sebuah cita-cita dan penolakan. Cita-cita dan penolakan adalah penerimaan total. Seperti yang kini dirasakan oleh mereka yang bercita-cita menjadi tukang pijit di hotel milik Indra Wijaya seperti aku.

63
KETEGANGAN menyelimuti Kampung 11 Ulu. Sudah dua malam, warga kampung tersebut berperang dengan warga kampung Kuto Batu. Malam itu, peperangan dilanjutkan. Bila sebelumnya peperangan hanya saling lempar tombak dalam jarak tertentu—membuat beberapa orang terluka tetapi tidak memakan korban jiwa—maka dalam perang malam ketiga tersebut, mereka sepakat untuk bentrok dalam jarak dekat.
Di tengah arus Sungai Musi, warga kedua kampung dengan menggunakan perahu serta dipersenjatai parang, tombak, dan kecepek, saling membunuh; menembak, membacok, atau menombak. Sekian detik setelah perahu mereka bertabrakan, mulai terdengar orang yang mengeram kesakitan, terjatuh ke sungai, kemudian melepaskan nyawanya setelah tombak atau peluru paku menancap ke dada atau ke leher.
Dari balik lubang dinding rumah rakitku, aku menyaksikan peperangan tersebut. Tubuhku gemetar, apalagi kulihat, di bawah cahaya bulan, gelombang Sungai Musi membawa darah ke dinding rumah rakitku.
Perang antarkampung itu ibarat lukisan rahasia di balik foto Kota Palembang yang mulai ditumbuhi bangunan bertingkat, hotel-hotel, dan lampu-lampu berwarna-warni.
Paginya, kulihat puluhan jasad mengapung di Sungai Musi. Sewaktu aku mising, sesosok jasad yang kuperkirakan berusia belasan tahun tersangkut di tiang kakusku. Tak ada ikan juaro yang mendekati jasad itu dan taiku. Mulut jasad itu terbuka dengan mata melotot, perutnya robek seperti terkena sabetan golok.
Tidak lama kemudian, datang puluhan polisi menggunakan perahu cepat dan perahu ketek. Mereka mengangkut satu per satu jasad itu ke perahu dan membawanya ke rumah sakit.
Banyak warga di tepi Sungai Musi menyaksikannya tetapi tidak kudengar salah satu dari mereka menangis atau berteriak marah.
Mulai pagi itu, selama sepekan, puluhan polisi berjaga-jaga di Kampung 11 Ulu dan Kuto Batu.
Peperangan warga 11 Ulu dengan Kuto Batu, bukan disebabkan adanya pelecehan terhadap perempuan dari salah satu kampung; biasanya menjadi pemicu konflik antarkampung di tepian Sungai Musi. Pemicu peperangan itu karena kedua kampung membela jagonya dalam pemilihan Walikota Palembang yang digelar secara langsung. Dua calon yang dijagokan mereka adalah Albert Membara—masih menjabat Walikota Palembang—dan Guntur Kebal.
Pemilihan itu sendiri sudah digelar dan pemenangnya Albert Membara. Tetapi, para pendukung Guntur Kebal yakni warga Kuto Batu tidak terima dengan kekalahan itu. Mereka menuduh Albert Membara dan pendukungnya melakukan kecurangan.
Awal ketegangan dimulai dari aksi unjuk rasa kedua pendukung—tentunya dengan tuntutan yang berbeda—ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palembang. Para pendukung Guntur Kebal menuntut KPU melakukan pemilihan ulang, sementara pendukung Albert Membara meminta KPU tetap dengan keputusannya, yakni menetapkan Albert Membara sebagai pemenang pemilihan.
Ketika berunjukrasa, aparat polisi gagal mencegah kedua massa pendukung itu berhadapan. Akibatnya, mereka berkelahi. Perkelahian itu dimulai dari aksi saling mengejek. Lantaran tidak puas dengan perkelahian tersebut—dilerai polisi—kedua massa pendukung yang kebetulan terkoNsentrasi dalam dua kampung, sepakat melanjutkannya dengan berperang atau berkelahi sampai mati di Sungai Musi.
Meskipun banyak warga 11 Ulu menjadi korban dalam peperangan itu, Albert Membara tetap menggusur warga di kampung itu dan kemudian di atas lahannya didirikan taman dan tempat bermain anak-anak.

64
SEPULANG menjadi pembicara mengenai perkembangan politik kontemporer Palembang, di kampus Universitas Kundang di Padang, Tandu dijemput Beben di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Mereka kemudian makan duren di Pasar Kuto.
“Kau ceritakan soal perilaku politik Albert Membara?”
“Jelas bae. Ini kan persoalan nasional. Para peserta ingin tahu bagaimana seorang bandit mampu menjalankan kekuasaan. Bagaimana seorang bandit bisa didukung masyarakatnya.”
“Lalu, kesimpulan kau soal Albert Membara?”
“Ya, seperti buyan bae, kau ni. Jelas aku bilang fenomena Albert itu sangat berbahaya buat masa depan demokrasi di Palembang dan di Indonesia. Harus dilawan! Jika tidak dilawan, hancurlah nilai-nilai moralitas demokrasi,” kata Tandu, yang telah menghabiskan tiga buah duren.
“Berani nian kau nih,” kata Beben.
Tandu hanya tersenyum. Beben menatap sahabatnya itu dengan dua hal yang kontradiktif; kekaguman dan kedengkian.
Dia kagum dengan Tandu yang terus bertahan dengan sikap kritisnya, sementara kedengkiannya yakni mengapa orang-orang hanya melihat Tandu sebagai simbol perlawanan di Palembang; bukan dirinya. To, mereka sama-sama berjuang; melakukan hal yang sama, merasakan penderitaan yang sama, dan mengorbankan banyak hal.
“Aku memang tidak punya nasib sebagai tokoh perlawanan,” kata Beben kepada dirinya.
Beben kemudian mengantar Tandu pulang ke rumahnya di Rambutan Dalam.
“Cek, semoga kita ketemu lagi,” kata Beben, dari dalam mobil Honda Civic-nya sebelum pergi. Tandu diam saja, dia tidak mengartikan kalimat yang diucapkan Beben. Dia hanya melambaikan tangan kepada satu-satunya kawan di Palembang yang dinilainya masih memperjuangkan demokrasi.
Baru di dalam rumah, Tandu merasakan kegaNjilan dari kalimat Beben itu. Pikirnya, mungkinkah Beben memberi tanda perpisahan. Apakah Beben mau bunuh diri? Tidak mungkin, bantah Tandu. Sebab, tidak ada alasan yang tepat buat Beben untuk melakukan itu. Perceraian Beben dengan istrinya bukan persoalan yang dapat menghancurkan mental sahabatnya itu. Mungkin Beben mau berangkat ke luar negeri? Tandu sedikit menerima dugaannya itu. Dia pun tenang. Tertidur. Memeluk istri dan anak tunggalnya yang berumur lima tahun.
Tandu bermimpi, bersama istri dan anaknya melakukan perjalanan ke Bali. Berlibur. Mimpi yang indah. Mimpi yang tak mungkin mau dihentikan oleh siapa pun. Termasuk oleh api yang membakar habis rumahnya, tubuhnya, istri, dan anaknya. Api yang disulut sekelompok bandit ketika ratusan masjid di Palembang mengumandangkan azan Subuh.

65
MALAM pada hari ulang tahun Kota Palembang, tahun 2012, sebuah televisi berukuran 20 meter kali 15 meter di pajang di muka Benteng Kuto Besak. Melalui televisi itu seribuan orang yang berkumpul di pelataran Benteng Kuto Besak menyaksikan pesta rakyat di setiap sudut Kota Palembang. Pesta mengenang kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam, yang didongengkan terbangun dari puing-puing kehancuran para perompak dari Tiongkok, yang terdesak ke pedalaman Sungai Musi.
Benteng Kuto Besak adalah sebuah benteng yang didirikan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng yang diperkirakan para sejarawan sebagai benteng paling modern di Indonesia pada masanya. Tetapi, armada Belanda tetap mampu menaklukkan benteng itu. Benteng itu pun menjadi simbol militerisme Belanda di Palembang. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, benteng itu kemudian menjadi perkantoran, rumah sakit, dan perumahan milik tentara.
Puluhan perahu hias dan kapal pesiar mini, yang dipenuhi orang-orang berpesta, hilir mudik di Sungai Musi. Kembang api berlintasan di atas Sungai Musi. Lampu laser yang ditembakkan dari semua gedung bertingkat, bersilangan, bagai jaring laba-laba.
Sementara di atas Jembatan Ampera, digelar pesta musik, dari musik dangdut hingga blues. Ratusan orang terkapar karena mabuk atau kelelahan. Beberapa orang yang patah hati dari atas jembatan itu terjun ke Sungai Musi. Semuanya mati.
Lalu, subuhnya, di dalam ratusan kamar hotel, di sepanjang tepian Sungai Musi, puluhan ribu orang menangisi masa lalu dan berdoa agar tahun depan rezeki mereka bertambah sehingga pesta terus digelar.
Sampai pagi, Albert Membara, Sofyan, dan Jai, mengelilingi Kota Palembang menggunakan sebuah helikopter. Mereka mencatat lahan tidur dan pemukiman penduduk yang tidak efektif atau perkampungan kumuh. Mereka sangat tahu, jika dilihat dari atas, Sungai Musi bagai ular Sawo yang lapar, yang diam-diam keluar dari pedalaman.
Dari jendela sebuah pondok di daerah rawa-rawa di belakang Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Yunen—anak Yulia—melambaikan tangannya ke arah helikopter yang ditumpangi penguasa Palembang itu.
“Awas, tangan jangan keluar. Mereka biso melihat kito. Rumah kito kagek digusur.”
Meskipun tangan Yunen tidak jadi keluar jendela, pondok Yulia itu tetap digusur. Sebuah pemberitaan di koran memberitahu keberadaan pondok Yulia; pemberitaan mengenai kawasan kumuh.
Saat pondoknya digusur, Yulia melakukan perlawanan. Di hadapan polisi pamong praja yang sudah dilengkapi senjata api dan granat, Yulia protes dengan cara menggorok leher Yunen. Setelah dia memastikan anaknya itu mati, baru giliran dia mengapak tangan kirinya nyaris putus dan dengan senyum kemenangan membiarkan darah mengalir; menarik segala penderitaan.

66
23 hari setelah perayaan ulang tahun Kota Palembang itu, hujan deras turun selama dua hari. Palembang banjir. Air Sungai Musi meluap, merubuhkan rumah atau menghanyutkan harta benda warga Palembang. Listrik padam.
Angin puting beliung merobohkan ratusan pohon, gedung-gedung, papan reklame, pohon lampu hias, serta instalasi listrik dan telepon.
Berbagai cara orang untuk menyelamatkan keluarga dan dirinya. Namun, sedikit sekali yang mampu menyelamatkan diri. Ratusan ribu mayat mengapung dibawa banjir.
Mayat-mayat itu tidak membawa gelar dan pujian. Mereka hanya buntang yang busuk. Mereka dilahap ikan-ikan juaro yang ingin hidup seribu tahun lagi, seperti cita-cita penyair Chairil Anwar.
Aku, Halimah, Taufik, Yulia, Sulaiman, bertemu di sekitar Pelabuhan Boom Baru. Yulia memeluk erat Yunen, anaknya. Mata kami saling memandang, tidak berkedip Tidak ada yang perlu kami keluhkan lagi. Tidak ada yang harus kami rindukan lagi.
Kami meluncur deras. Ibarat kapal cepat, kami mencari nenek moyang di semua benua.
Tidak lama kemudian, di langit, Jai dan Putra berkelahi. Berbagai jurus bela diri mereka tunjukkan. Langit pun bergucang. Ribuan planet bergetar dan banyak yang meledak lantaran bertabrakan.
Saat Tuhan menemui mereka, mereka terus saja berkelahi. Sekujur tubuh mereka dipenuhi luka dan keringat. Miliaran manusia yang melayang-layang menyaksikan perkelahian mereka yang dijaga penyair Yunen.
“Tuhan, izinkan kami terus berkelahi. Kami harus menentukan sejarah Palembang,” kata Putra.
Di Bumi, aku dan Halimah menemukan nenek moyang kami, yang telaten melayani pembeli di warung kopinya. Hanya nenek moyang kami yang masih mempertahankan warung kopi; mengenang masa lalu dan mengeluhkan hari ini.
Di dalam secangkir kopi yang kupesan, seekor juaro, yang tubuhnya berwarna hitam dan berlendir, menggeliat. Dia menatapku dengan bola matanya yang putih. Secara perlahan, air kopi itu menjadi merah.

***



Indeks

B
Banyuasin
Bukitkecil

C
Cempaka Dalam
Cempaka Luar

H
Heppi Karaoke
Hoktong

I
Ilir Barat Permai
Inderalaya
International Plasa
Ilir, 1
Ilir, 22
Ilir, 23
Ilir, 24
Ilir, 26
Ilir, 27
Ilir, 28
Ilir, 29
Ilir, 30
Ilir, 34
Ilir, 35


J
Jakabaring
Jalan Jenderal Sudirman
Jalan Kapten Achmad Rivai
Jalan Tasik
Jembatan Ampera

K
Kalidoni
Kertapati
Kuto Batu

L
Lahat

M
Metro
Muaraenim
Musi Banyuasin

O
Ogan Ilir
Ogan Komering Ilir

P
Pakjo
Pasar Cinde
Pasar Kuto
Pasar 16 Ilir
Pegagan
Plaju
Pulau Kemaro
Pulaurimau
Pulau Salah Nama
Puncaksekuning
PT Musi Hutan Persada
PT Pupuk Sriwijaya

R
Rambutan Dalam
Rumah Susun Blok 46

S
Sako
Sei Batang
Sirahpulau Padang
Sungsang


T
Talangbetutu
Talangsemut
Taman Nusa Indah
Taman Budaya Sriwijaya
Tanggabuntung
Tanjungraja
Terminal Karyajaya


U
Ulu, 1
Ulu, 2
Ulu, 3
Ulu, 4
Ulu, 5
Ulu, 7
Ulu, 8
Ulu, 10
Ulu, 11
Ulu, 12
Ulu, 13
Ulu, 14







KAMUS KATA PALEMBANG

A
abang: merah; ngabang: memerah, (berubah) menjadi merah
abis: habis
ado: ada
anter: antar, kirim; anterke: antarkan, mengantarkan, kirimkan, mengirimkan
amrik: Amerika Serikat
antu: hantu; antu banyu: hantu air yang dipercaya berada di Sungai Musi
awak: kamu, anda, kau
awi: gerakan melambai, mengajak untuk mendekat; ngawi-awi: ajakan berulang

B
bae: saja
balik: pulang, kembali; balikla: pulanglah
banci: laki-laki yang menyerupai dan beertingkah laku layaknya perempuan atau sebaliknya, wanita pria (waria); banci kaleng: banci yang jelek karena rupa laki-lakinya masih sangat tampak. Sementara di kalangan waria, sebutan inii dipakai untuk menamai kaum gay, yang menurut pandangan mereka sebagai “perempuan” berpakaian laki-laki atau tidak menerima kenyataan bahwa kaum gay itu juga waria
bantahan: sering membantah, selalu tidak menerima, tidak mau dinasihati
banyu: air; antu banyu: lihat antu
basa: basah, berair; di kalangan tertentu, kini menjadi istilah umum di Palembang dan sekitarnya, basa dapat berarti luka akibat ditusuk, dibacok, atau dikapak; basai: lukai, melukai, dilukai
basing: sembarangan, terserah; basing bae: sembarangan saja; basingla: terserahlah; sebasingan: tidak pandang-pandang lagi
baung: (Latin: Macrones micracanthus Bleeker) ikan air tawar yang tubuhnya agak pipih memanjang tapi membulat di setelah bagian perut hingga ekor dengan sirip-sirip keras dan runcing kecuali sirip punggung dekat ekor. Tidak bersisik, kepalanya cekung dan berkerut, serta mempunyai kumis yang kasar
belor: senter; belorila: arahkanlah cahaya senter ke…
begawe: lihat gawe
begoco: lihat goco
bekacola: lihat kaco
belagak: cakap, tampan, ganteng, gagah
bener: benar
berenti: berhenti
beringkes: berkemas; beringkesla: berkemaslah
besak: besar; dibesakke: dibesarkan; mbesakke: membesarkan; kebesakan: sombong, merasa hebat, terlalu bergengsi, memandang kecil orang lain. Contoh: Jangan cak kebesakan mak itu (Jangan seperti hebat begitu)
betino: perempuan, betina; ikan betino: sebutan untuk ikan dari keluarga Cyprinidae, sejenis tawes (Latin: Puntius javanicus) yang hidup di Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Ikan ini bersisik, berwarna putih keprakan. Sebagian memiliki warna merah, biru, atau kuning di siripnya. Meski namanya betino, tetap saja berkelamin jantan dan betina
bicek: bibi
bicik: bibi kecil
bingsal: cemas, gelisah
bini: isteri
biso: bisa, mampu, dapat, racun ular. Sebetulnya, kata ini merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang di-Palembangkan. Lihat pacak
budak: sebutan untuk anak-anak
buntang: bangkai
butu: butuh, peerlu; dibutuke: dibutuhkan
buyan: tolol, bodoh

C
cak: seperti; cak mano: bagaimana
carike: carikan, usahakan
cek: saudara, kakak, bung. Sapaan ini semula dipakai untuk sebutan kakak perempuan atau sapaan penghormatan bagi kaum bangsawan Palembang
cepet: cepat
cubo: coba
cindo: bagus, indah, cantik

D
dak: tidak
dapet: dapat
dewek: sendiri; dewekan: sendirian; kedewekaan: ditinggal (bekerja) sendirian, laying-layang putus tanpa diadu; begawe dewek: bekerja sendir, dapat pula diartikan onani
dibesake: lihat besak
diking: dukung, lindungi; didiking: didukung, dilindungi; Kata ini sering bermakna negatif. Contoh: Pelaku perjudian yang kini marak kembali, diduga didiking aparat tertentu.
digesahke: lihat gesah
dikatoke: lihat kato
dikapak: dipotong, dibelah, dibacok; Makna kata ini tidak lagi beraarti memotong atau membelah dengan menggunakan alat kapak tetapi juga dapat menggunakan benda tajam lain seperti parang, pedang, atau golok
dikit: sedikit; dikit-dikit: sedikit-sedikit, setiap saat
dibutuke: lihat butu
doel moeloek: seni pertunjukan di Palembang
dulur: saudara kandung, sahabat dekat
duren: durian, salah satu buah yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan (Latin: Duriu zibethimus) dari keluarga Malvaceae
duo: dua; tenga duo: lihat tenga
duso: dosa; beduso: berdosa; dusonyo: dosanya

E
enget: ingat
embek: ambil; embekla: ambillah

F

G
gabus: serupa kayu ringan yang diambil dari akar pohon pule; ikan gabus: ikan buas yang masuk dalam keluarga Labyrinthici. Tubuh ikan air tawar yang bernama Latin Ophicephalus striatus ini dapat mencapai panjang 90 cm. Termasuk kanibal sehingga menjadi alas an bagi sulitnya pembudidayaan. Ikan bermoncong besar dan runcing, sirip punggung dan dubur yang panjang disertai ekor leebar dan tumpul ini terkenal kelezatannya untuk dipindang. Selain itu, kini menjadi alternative utama bahan baku pembuat pempek setelah belida (Notoptherus chitala) makin langka
galak: mau, ingin; galak nanggung: mau bertanggungjawab
galo: semua; galo-galo: semuanya
gawe: kerja; begawe: bekerja; gawean: pekerjaan; gaweke: kerjakan. Di kalangan tertentu, kini sudah pula menjadi istilah umum, gaweke dapat bermakna negatif, yaitu mengerjai aataau menjahili seseorang atau sekelompok orang
gesah: mengobrol, berbincang-bincang; gesahan: bahan pembicaraan; digesahke: dibicarakan, dijadikan bahan pembicaraan
goco: tinju, pukul; begoco/begocoan: berkelahi; digoco: ditinju, dipukul; nggoco: memukul, meninju
godo-godo: makanan dari gandum (terigu) dicampur telur lalu digoreng serupa bakwan, yang dimakan dengan cuka (Palembang) sebagai ganti pempek; Biasanya, di dalam adonan yang digoreng itu, dimasukkan udang; Karena populernya godo-godo ini, pepatah “Ada udang di balik batu” sering diplesetkan menjadi “Ado udang di balik gendum (gandum)”

H

I
ibo: ibu, mama
idak: lihat dak
idup: hidup; ngidupi: menghidupi, maksudnya memberi nafkah, merawat, dan menyejahterakan
itung: hitung; itung-itung: timbang (manfaatnya)
IP: International Plasa, pusat perbelanjaan di Jalan Jenderal Sudirman Palembang


J
jero: dalam
jingok: lihat
jongos: pembantu, pesuruh
juaro: juara; ikan juaro: serupa jambal (Latin: Pengasius) yang masuk dalam ordo Osthariophysi. Ikan yang menyerupai patin ini hidup beergerombol dan beergerak saat arus deras (ketika pasang naik atau pasang surut). Sangat menyukai kotoran manusia sehingga untuk menyiangi (meembersihkan)-nya pun perlu teknik khusus. Yaitu, membuang semacam urat yang meemanjang di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Karenanya, pemotongan bagian ekornya dilakukan setelah bagian lain bersih. Sesungguhnya, ikan ini sangat lezat serupa dengan patin. Karenaa sifatnya yang begitu cepat dan gesit menyambar makanan, juaro juga dipakai untuk menjuluki orang-orang dari dunia kriminal.
jugo: juga

K
kaco: kaca, cermin; bekaco: becermin; bekacola: bercerminlah, nilailah diri sendiri
kagek: nanti
kalu: kalau, jika, apabila
kampang: ungkapan kemarahan, haram; anak kampang: anak haram, anak yang lahir di luar nikah
kancit: bersetubuh
katik: tidak ada; Terjadi kerancuan dalam ppemakaian bahasa seperti yang terjadi pada kata acuh --berarti peduli—yang diartikan tidak peduli. Sehingga, orang menyebutkan acuh untuk menyatakan ketidakpeduian. Akan halnya dengan kata katik, sering disebutkan dak katik atau idak katik untuk menyatakan tidak ada.
kato: kata; katokela: katakaanlah; ngatoi: mengejek; ngatoke: mengatakan; dikatoke: dikatakan, diberitahu
kawin: kawin, menikah, berkeluarga
kayo: kaya, berharta; sering pula disebut gerot
kecepek: senjata api rakitan
kecik: kecil
kelakar: pembicaraan atau obrolan tanpa arah dan topik yang jelas; bekelakar: berbicara atau mengobrol tanpa arah; besak kelakar: membual, pembual; kelakar juaro: pembicaraan yang tak perlu dipercaya karena isinya semata-mata bualan atau tipuan
ketinggalan: tertinggal, tidak dibawa
kito: kita
kuaduke: kuadukan, kulaporkan
kujadike: kujadikan
kutindi: lihat tindi
kutujah: lihat tujah

L
laksan: salah satu makanan turunan pempek, yaitu pempek lenjer yang diiris, lalu dimasak lagi dengan kuah santan serupa kuah ketupat tetapi warna kuahnya merah dan berasa pedas
lanang: laki-laki; dapat pula disampaikan untuk menyatakan kejantanan
laut: sebutan orang Palembang, terutama yang berdiam di Seberang Ulu, bagi kawasan yang berada di tepian Sungai Musi
lemak: enak, lezat; lemaknyo: enak (rasa)-nya; nak lemak dewek: mau menang sendiri; mati kelemakan: lupa dengan situasi, lupa kepada orang lain
liat: melihat; lihat jingok
lipas: kecoa, coro (Latin: Blattaria), termasuk suku serangga beersayap lurus (Orthoptera); Pemakan semua, tinggal di tempat kotor dalam rumah (sekitar jamban atau bagian bawah kamaar mandi), di luar rumah terutama di tumpukan sampah dan kayu busuk. Lipas yang habitatnya di lapisan sampah atau tumpukan kayu busuk ini, sering disebut lipas tanah; karena sifat hidupnya, lipas tanah dijadikan simbol untuk penamaan bandit berkaliber pencuri kecil-kecilan
limas: rumah tradisional Palembang
lur: sapaan yang setara dengan saudara, bung, dapat juga menunjukkan kedekatan aatau keakraban

M
maen: main, bermain
make: lihat pake
malem: malam; semalem: semalam
maluke: memalukan
masak: tidak mungkin, mengungkapkan keheranan; sebetulnya, kata ini diambil dari bahasa Betawi akibat pergaulan atau proses interaksi, baik lewat manusia maupun alat teknologi komunikasi; Cukup banyak kata dalam bahasa Palembang pergaulan yang diadopsi dari bahasa Betawi ataau Jakarta
mateng: masak, matang
mecak: mengeemudikan becak, membawa becak
mendep: berdiam
menempel: mendampingi
mengawi-awi: lihat awi
missing: buang air besar, berak

N
na: nah, partikel yang biasa digunakan untuk menguatkan pendapat; na kan: betul kan (?)
nafsu-nafsuan: pelampiasan nafsu, berhubungan seks
nak: akan
nantang: melawan, tidak takut
nangkep: menangkap, menahan, memenjarakan
ngala: mengalah; ngalake: mengalahkan; dikalake: dikalahkan
nganciti: lihat kancit
ngapo: mengapa, kenapa
ngumpul: berkumpul; ngumpulke: mengumpulkan, berunding, bertemu
ni: ini, kata penegas
nidukke: lihat tiduk
nipu: menipu
nulung: lihat tulung
nyawo: nyawa
nyusake: menyusahkan, menyulitkan

O

P
pacak: dapat, mampu, boleh; pacakla: dapatlah
pake: pakai; make: memakai, menggunakan; pakela: pakailah
paling-paling: mungkin, ungkapan meremehkan situasi atau seseorang
patin: ikan air tawar (semula) khas Sumatra Selatan yang beerbentuk panjan, pipih, dan ramping; bagan atas tubuhnya kehitaman, sirip punggung kemerahan, dan sirip dada kehitaman; ikan bernama Latin
Pengasius nasutus Bleeker ini sangat mirip dengaan juaro; namun, setelah dibudidayakan, terutama perubahan pola pemijahan, bentuk fisiknya sedikit berubah sehingga perbedaannya dengan juaro sangat tampak; terkenal di wilayah Sumatra Selatan sebagai bahan baku pindang atau pepes yang utama
payo: ayo, mari; payola: marilah, ayolah, setuju
pelembang: Palembang
pempek: makanan khas Palembang terbuat dari kanji dan daging ikan
penempel: orang yang mendekati seseorang (lain)
penjago: penjaga
pilat: kotoran di alat kelamin pria, umpatan kemarahan
pingin: ingin
pucuk: atas; di Palembang, ini juga digunakan untuk menamai tempat pelacuran

Q

R
rai: wajah; rainyo: wajahnya; rai gedek: muka tembok, tak punya malu
rasan: permintaan, rundingan; berasan: minta bantuan; banyak rasan: banyak mau, banyak kehendak, banyak tingkah; rasannyo: syaratnya, permintaannya; ngerasani: meembicarakan orang (lain), membujuk-bujuk orang lain agar mengabulkan permintaannya
raso: rasa; rasoke: rasakan
rego: harga
rumah rakit: rumah terapung di atas air, terbuat dari kayu dengan alat pengapung terbuat dari susunan bambu betung

S
samo: sama
sanak: keluarga jauh, sering juga disebut beroyot
saro: susah, sulit
sebasingan: lihat basing
semalem: lihat malem
sepat: ikan rawa dari famili Anaabantidae, berbadan pipih, memanjang, menipis dengan ukuran sekitar 5-7 cm (ikan dewasa); di Palembang, ikan ini biasa disebut sebagai sepat mata merah karena matanya yang berwarna merah; ikan bernama Latin Trichogaster trichopterus varietas sumatrana ini banyak ditemui di kawasan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan; sepat siam: (Latin: Trichogaster pectoralis Regan) ini masuk ke Indonesia lewat Malaysia pada tahun 1934; resminya, ditebar di Danau Tmpe pada tahun 1937 tetapi dapat ditemukan hamper di seluruh wilayah Indonesia
sir: naksir, ingin, senang
singapor: Singapura
Sripo: Sriwijaya Post, harian terbit di Palembang termasuk Kelompok Kompas Gramedia.
Sumeks: Sumatera Ekspres, harian terbit di Palembang termasuk kelompok Koran Jawa Pos


T
tanyo: tanya; tanyoke: tanyakan
tau: tahu, mengerti
tenga: tengah, bagian di antara pangkal dan ujung; sering diartikan sebagai setengah; tenga duo: nilai satu setengah, dapat berarti satu setengah, seratus lima puluh (rupiah), seribu lima ratus (rupiah), satu juta setengah (rupiah), dan seterusnya; kata tenga duo ini berlaku khusus, misalnya, tidak dapat dipakai untuk “kata” tenga tigo, tenga empat, dan seterusnya
tiduk: tidur
tindi: timpa, dapat beerarti setubuh; kutindi: kusetubuhi
titit: alat kelamin laki-laki
toke: bos, pemilik, juragan, majikan, pengusaha
tu: itu; seperti hanya ni, partikel ini sering dipakai sebagai kata penegas
tujah: tusuk (dengan pisau); kutujah: kutusuk; ditujah: ditusuk; betujahan: saling tusuk (dengan pisau), duel
tula: partikel ini digunakan untuk penegas atau penguat perkataan; dapat pula diartikan apaa kataku
tulung: tolong; nulung: menolong
tempat jin buang anak: tempat yang jarang atau tidak pernah disentuh manusia karena jauhnya

U
uji: kata (-nya), kata ini dipakai untuk lebih mempertegas, nilai rasanya lebih keras daripada kato; ujiku: katoku; uji kabar: menurut kabar
ulo: ular; ulo sawo: ular tidak berbisa, ukurannya dapat mencapai sebesar pohon kelapa, hidup di tepi sungai, persawahan, dan rawa-rawa
untal: lempar; untalke: lemparkan; diuntalke: dilemparkan

V

W
wong: orang; wong kito: orang kita, sesuku, sekampung, seetnis, seideologi; wong kayo: orang kaya

Komentar

13.12.2010 07:17:26 WIB | Keepletum :

buaib <a href= http://www.bloodandthunder.com.au/ >buy viagra australia no prescription</a> ask <a href= http://www.web2design.com.au/ >buy viagra online</a> ijf <a href= http://www.agir-galiza.org/ >generic cialis</a> sjk <a href= http://bogotasur.uniminuto.edu/ >cheap viagra</a> ywc <a href= http://soacha.uniminuto.edu/ >order viagra</a> tui <a href= http://www.craneweb.com/ >viagra</a> ysj jchyboczbq


26.09.2011 16:03:27 WIB | biorovink :

Who believes this? http://www.google.com/search?q=2012