Meraih Kejayaan Pesisir Timur Sumatera Selatan

coba

13.02.2012 02:30:34 WIB

Oleh T. Wijaya
Pekerja seni dan jurnalis

JAUH sebelum Kerajaan Sriwijaya berjaya, kawasan lahan basah di timur Sumatera Selatan diyakini sebagai lokasi kerajaan awal atau cikal dari Sriwijaya. Tak heran di masa lalu, wilayah ini padat dengan berbagai aktifitas ekonomi.

Berdasarkan Berita Cina, antara tahun 430-473 ada lima kerajaan, di antaranya Ho-lo-tan, P’o-huang dan Kan-t’o-li, mengirimkan 20 utusan persahabatan ke negeri Cina. Namun setelah tahun 473 hanya Kan-t’o-li yang kembali mengirimkan perutusan ke Cina. “Diperkirakan kerajaan ini sebagai kerajaan Sriwijaya yang mula-mula atau proto-Sriwijaya,” tulis Nurhadi Rangkuti, dalam artikelnya “Arkeologi Lahan Basah di Sumatera Bagian Selatan” (2009).

Situs-situs yang membuktikan keberadaan kerajaan Kan-t’o-li, relatif dekat dengan garis pantai saat ini, yakni di kawasan Karangagung Tengah dan Air Sugihan. Dituliskan Rangkuti, pada situs Karangagung Tengah ditemukan manik-manik batu dan kaca, kemudi kayu perahu kuno, anting, tembikar, gelang kaca, batu asah, cincin, anting emas serta liontin perunggu. Berdasarkan analisis karbon pada sampel tiang kayu rumah oleh Balai Arkeologi Palembang tahun 2000, diperkirakan sekitar abad ke-IV Masehi (220-440 dan 320-560 Masehi).

Sementara situs Air Sugihan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin, terletak di daerah rawa gambut. Pada situs ini ditemukan manik-manik kaca dan batu camelian, pecahan tembikar dan keramik, serta sejumlah perhiasan emas. Keramik yang ditemukan berasal dari Cina, tepatnya di masa Dinasti Sui (abad V Masehi). Ini terlihat dari pertanggalan keramiknya. Selain itu, ditemukan pula keramik-keramik Cina dari abad ke XI.

Selanjutnya ditemukan pula kayu nibung untuk tiang-tiang bangunan kuno di Situs Kertamukti. Pada situs ini ditemukan pula tali ijuk, pecahan tembikar dan keramik Cina, manik-manik, serta sudip dari kayu.

Perahu Kajang
Sebagai wilayah lahan basah, perahu merupakan sarana transportasi yang penting di masa lalu. Semua aktifitas, termasuk perdagangan, diyakini menggunakan perahu. Menurut Rangkuti, berbagai penemuan perahu di wilayah basah timur Sumatera Selatan, seperti penemuan kemudian perahu di Karangagung Tengah, yang dibuat dengan teknik tradisi Asia Tenggara, membuktikan ada hubungan antara dunia luar dengan wilayah tersebut.

Sementara perahu niaga yang dapat memasuki anak-anak sungai di daerah rawa diperkirakan jenis perahu kajang. Perahu ini menggunakan atap dari daun-daunan kering misalnya daun nipah, menggunakan satu kemudi perahu yang berada di buritan dan dua dayung dari kayu di bagian haluan. Jenis perahu kajang yang memiliki ciri khas atap dari daun nipah terdapat pula di daerah lain yang disebut perahu kabang. Perahu ini menggunakan layar dari bahan daun-daun nipah. Perahu kajang dapat memuat barang-barang komoditi yang ditempatkan di bagian depan perahu. Pada bagian tengah adalah ruang keluarga dan di bagian buritan untuk dapur serta kamar mandi.

Jenis perahu ini masih tersisa di daerah Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Perahu kajang Kayuagung memuat satu keluarga untuk membawa barang-barang komoditi tembikar yang dijual ke daerah lain melalui sungai. Mereka meninggalkan tempat tinggalnya sampai berbulan-bulan bahkan tahun dan ketika pulang muatan perahu penuh dengan bahan-bahan makanan misalnya beras dan keperluan rumah tangga lainnya.

Maka, tidak tertutup kemungkinan jenis perahu yang digunakan komuniti pra-Sriwijaya yang hidup di daerah rawa sungai merupakan jenis perahu kajang, jenis perahu yang dapat memasuki daerah hulu sungai dan juga dapat berlayar di lautan. Dengan menggunakan jenis perahu tersebut, mereka dapat membawa komoditi hasil hutan seperti kayu-kayu kualitas tinggi, rotan, kemenyan, gading gajah, kulit harimau untuk ditukarkan dengan barang-barang impor.

Mengembalikan Kejayaan Lahan Basah
Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Ishak Mekki beberapa waktu lalu berbincang dengan penulis. Dia menguraikan programnya yang terkait dengan wilayah lahan basah tersebut. Menurut dia, selama ini wilayah tersebut tertinggal dari wilayah darat atau kering. Ini dikarenakan kurangnya sarana transportasi, seperti jalan dan jembatan.

Oleh karena itu, Ishak menjalankan sejumlah agenda seperti membuat sejumlah jembatan yang melintasi sungai besar, serta membuat jalan yang menghubungkan sejumlah dusun. Setelah itu, akan dibangun sebuah dermaga di Tulungselapan. Dermaga ini akan menjadi sarana perdagangan wilayah tersebut dengan dunia luar.

Masih seperti di masa lalu, hasil bumi tetap menjadi andalan perdagangan di wilayah lahan basah. “Bedanya, ke depan sawit yang dikirim sudah dalam bentuk CPO, kayu sengon dalam bentuk pulpa, sehingga akan berdiri sejumlah pabrik. Dengan begitu pendapatan rakyat meningkat, pemasukan negara pun membesar,” kata Ishak.

Sementara agar masyarakat tidak termarginalkan dari konsep pembangunan tersebut, pendidikan akan menjadi hal yang prioritas. Selain membangun dan memperbaiki infrastruktur pendidikan, juga program sekolah gratis di pendidikan dasar hingga menengah, serta pemberian beasiswa terhadap siswa yang berprestasi ke jenjang perguruan tinggi.

“Saya ingin mengembalikan kejayaan daerah ini seperti di masa lalu,” ujarnya.

Pertahankan Budaya Pesisir
Terhadap keinginan Ishak Mekki tersebut, Nurhadi Rangkuti menilainya sebagai suatu strategi pembangunan yang cerdas. Tetapi, ada hal yang harus diperhatikan. Yakni tetap mempertahankan budaya pesisir.

Sebab kejayaan di masa lalu, seperti diuraikan di atas, semua aktifitas perdagangan menggunakan perahu. Itu artinya, keberadaan sungai dan rawa-rawa merupakan hal utama atau yang terpenting.

Mempertahankan wilayah rawa-rawa dan sungai ini, dengan tidak melakukan penimbunan, selain memberi peran yang lebih terhadap masyarakat yang secara turun-menurun telah beraktifitas menggunakan perahu atau kapal, juga menjaga lingkungan agar tidak tidak tenggelam karena banjir. Seperti halnya Jakarta, yang dulunya merupakan wilayah lahan basah, karena pembangunan melakukan berbagai penimbunan, menyebabkan saat ini Jakarta terus “disiksa” banjir.

Bahkan, perlu dilakukan revitalisasi sejumlah sungai. Artinya sejumlah sungai yang dulu menghubungkan sejumlah wilayah, kini menyempit atau hilang akibat tertimbun, yang kini harus dikembalikan.

Jika lingkungan terjaga, tradisi dan seni yang berkembang di wilayah lahan basah itu akan tetap bertahan, meskipun wilayah ini menjadi lebih terbuka dan sibuk dengan aktifitas ekonominya.

Program Gubernur
Satu hal yang sedikit menganggu dari konsep Ishak Mekki ini yakni dirinya memimpin Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tinggal dua tahun lagi. Lantaran ini merupakan periode kedua, Ishak tidak mungkin lagi mencalonkan diri. Artinya apa yang dijalankan Ishak Mekki selama dua tahun ke depan, mungkin belum utuh atau optimal. Maka dibutuhkan waktu yang baru buat menjalankannya.

Maka, sangatlah wajar jika ada yang menilai konsep pembangunan di wilayah lahan basah tersebut terkait dengan pencalonan Ishak Mekki sebagai Gubernur Sumatera Selatan 2013-2018. Artinya semacam “pemikat” bagi para pemilih di wilayah lahan basah.

Namun, terlepas soal itu, konsep tersebut memang menarik buat didiskusikan sehingga saat dijalankan sesuai dengan kepentingan masyarakat dan pemerintah, seperti yang termanfaatkan secara optimal oleh Kerajaan Sriwijaya.

Artinya, seandainya Ishak Mekki belum saatnya memimpin Sumatera Selatan, pembangunan di wilayah lahan basah tersebut memang harus dijalankan. Apalagi ke depan Pelabuhan Tanjung Api-Api mulai hidup dengan berbagai aktifitasnya, sehingga membutuhkan wilayah penunjang yang berada di sekitarnya, yakni wilayah lahan basah yang menjadi fokus pembangunan Ishak Mekki.

Maka, pada saatnya, berjaya kembali Sriwijaya! [*]

Komentar