Djohan Hanafiah

Jejak Kecil Abdul Rozak, Sang Pahlawan

coba

08.10.2011 21:37:36 WIB

Oleh DJOHAN HANAFIAH*

SAAT gencatan senjata atau sehari setelah “Perang Lima Hari Lima Malam’, tepatnya 6 Januari 1947, dengan menggunakan sebuah perahu, Abdul Rozak beserta keluarga menyusuri sungai Jeruju, dari rumah Demang Zainuddin Juragan, di kawasan Kenten, Palembang.

Di masa kekinian, lokasi rumah tersebut di dekat lapangan golf Kenten.

Saat menyeberangi sungai Musi, menuju kawasan 10 Ulu, banyak tentara Belanda yang berpatroli di sungai Musi menggunakan perahu. Laju puluhan perahu tentara Belanda itu, membuat perahu yang ditumpangi Abdul Rozak terombang-ambing oleh ombak seirama detak jantung para penumpangnya.

Sesampainya di 10 Ulu mereka dibawa sejumlah pejuang kemerdekaan menggunakan mini bus menuju sebuah rumah warga. Besok siangnya, Abdul Rozak dan keluarganya dibawa ke pelabuhan Boom Marie—kini lokasinya di bawah jembatan Ampera di Palembang Ilir dan Palembang Ulu.

Saat mau naik kapal Marie bersama mobil sedan BG 424, tiba-tiba polisi meliter Belanda (MP) memeriksa mereka. Untungnya, para polisi meliter itu samar-samar mengenali Abdul Rozak yang saat itu menjabat Residen Palembang. Yang diperiksa hanya Trajumas, anak Abdul Rozak. Saat diperiksa polisi meliter Belanda itu, Trajumas menjelaskan dirinya mengantar mobil bersama pemiliknya. Untungnya lagi, para polisi meliter itu percaya dan mereka tidak memeriksa dokumen Trajumas dan orangtuanya.

Dua hari kemudian, menggunakan mobil sedan itu mereka tiba di Tanjung Sejaro. Kini Tanjung Sejaro berada di kabupaten Ogan Ilir. Abdul Rozak menginap semalam di rumah besannya yakni Pangeran Muhammad Noeh, mantan Pasirah Tanjung Sejaro.

Besoknya, Residen Palembang ini berangkat ke Lahat. Tapi sebelum berangkat dia sempat menghadiri pemakaman tentara pelajar Rustam Effendi, putra Nazaruddin, Pasirah Tanjung Sejaro. Rustam Effendi tewas saat “Perang Lima Hari Lima Malam”. Dia tewas tertembak tentara Belanda di dekat Hotel Musi, tak jauh dari Benteng Kuto Besak, Palembang.

Lantaran dalam pelarian, keluarga Abdul Rozak yang ditinggalkannya di Tanjung Sejaro tidak memiliki pakaian sebagai ganti. Selama berhari-hari mereka mengenakan pakaian yang dikenakan sejak pergi dari Palembang. Melihat kondisi tersebut, keluarga Bajumi Wahab, seorang pemuka masyarakat di Tanjung Sejaro, memberi bantuan dua blok kain berupa blacu dan poplin untuk dibuat menjadi pakaian.

Baru tiga pekan kemudian Abdul Rozak membawa keluarganya ke Lahat. Dari pedalaman inilah Abdul Rozak mengendalikan pemerintahan Palembang dibawa pemerintahan Republik Indonesia.

Meliter Belanda yang berada di Palembang mengira Keresidenan Palembang sudah lemah, dan mereka tidak mencium sama sekali langkah taktis yang dilakukan Residen Abdul Rozak yang memindahkan Keresidenan Palembang ke daerah pedalaman. Meliter Belanda hanya terfokus pada Gubernur Muda Sumatra Selatan Dr. Muhammad Isa yang posisinya terus dalam pengawasan, yang sebelumnya memang menjabat sebagai Residen Palembang, tapi sejak 1 Januari 1947 jabatannya diserahkan ke Abdul Rozak.

Dari daerah pedalaman ini, Abdul Rozak yang berkoordinasi dengan Panglima Divisi II Garuda Letkol Bambang Utoyo dan pemerintahan Sumatra Selatan di bawah kepemimpinan Dr. Muhammad Isa, menyusun kekuatan guna melawan meliter Belanda di daerah pedalaman. Selain mendapat dukungan berupa bergabungnya para pemuda untuk berjuang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, mereka juga dapat menguasai arus bahan pangan seperti beras dan sayur-sayuran.

Taktik yang digunakan Abdul Rozak ini menyebabkan Belanda sulit mendapatkan bahan makanan bagi tentaranya, termasuk pula posisi Keresidenan Palembang di Lahat menyebabkan terputusnya atau terganggunya hubungan meliter Belanda yang berada di kota Palembang dengan Lubuklinggau dan Pagaralam. Sebab Lahat berada di tengah ketiga kota tersebut.

Belanda kemudian melakukan serangan meliter atau biasa disebut sebagai Agresi Meliter I dan II (1947-1949). Di bawah kepemimpinan Abdul Rozak Keresidenan Palembang terus dipertahankan, meskipun Gubernur Muda Sumatra Selatan Dr. Muhammad Isa ditangkap Belanda. Keresidenan Palembang di bawah kepemimpinan Abdul Rozak mengalami beberapa kali perpindahan pemerintahannya selama di pedalaman.

Ketika Lahat dapat dikuasai Belanda pada 23 Juli 1947. Abdul Rozak tidak menyerah. Dia memindahkan Keresidenan Palembang ke Lubuklinggau. Saat pemerintahan Sumatra Selatan dipindahkan ke Curup, Keresidenan Palembang pindah ke Tanjungsakti.

Di Tanjungsakti ini Keresidenan Palembang mendapatkan kekuatan ekonominya. Mereka selain mencetak uang, juga dapat mengendalikan beras, yang selama ini banyak dikirim ke Pagaralam dan sekitarnya yang telah dikuasai Belanda.

Meliter Belanda benar-benar dibuat lelah oleh perlawanan Abdul Rozak di daerah pedalaman Sumatra Selatan. Selain menghadapi perlawanan di medan perang yang tidak sepenuhnya dikuasai mereka, meliter Belanda juga dihadapkan dengan keterbatasan pasokan pangan dan sandang, serta lemahnya dukungan mantan para pejabat daerah yang sebelumnya bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda. Para pejabat ini telah dirangkul Abdul Rozak, meskipun ada sebagian yang tidak mau mendukung keberadaan Republik Indonesia.

Keputusan Abdul Rozak memindahkan Keresidenan Palembang ke daerah pedalaman ini, lantaran dia selama puluhan tahun menjadi pejabat birokrat di daerah pedalaman.

Selain mengenal medan, Abdul Rozak juga dapat merangkul tokoh-tokoh maupun pejabat pemerintah di masa kolonial Belanda dan Jepang di daerah pedalaman, yang jelas memiliki pengaruh besar pada masyarakat serta menguasai kekuatan ekonomi dari hasil pertanian.

Abdul Rozak merupakan sosok penting penggalang kekuatan di pedalaman Sumatra Selatan terhadap kemerdekaan Indonesia. Banyak demang, pasirah, kerio, dirangkulnya untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Kekuatan ini pula yang menghambat dukungan meluas terhadap pemerintahan “Negara Sumatra Selatan” yang dibentuk Belanda.

Jadi, dapat dikatakan keberadaan Keresidenan Palembang di daerah pedalaman ini merupakan bagian dari perlawanan pemerintahan sipil Indonesia, terhadap gerak dan langkah pemerintahan sipil bentukan Belanda yang disebut RECOMBA (Regeerings Commisaris voor Bestuurs Aangelegenheden).

Pada Juli 1947, Belanda membentuk sejumlah pemerintahan sipil RECOMBA. Yakni tiga di Jawa yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dan di Sumatra yakni Sumatra Timur dan Sumatra Selatan.

Karakter kepemimpinan Abdul Rozak selama menjadi Residen Palembang ini disebut H.J. Wijnmaalen dalam laporannya ke Let. GG van Ned. Indie sebagai felle republikein atau seorang republikein yang keras atau tegas.

Siapa Abdul Rozak? Abdul Rozak dilahirkan di dusun Rasuan Marga Madang Suku I, Ogan Komering Ulur, Sumatra Selatan, pada 5 September 1891. Dia anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Pangeran Muhammad Ali Djayadiningrat dan Sarimah.

Kariernya lebih banyak di dunia birokrasi. Di masa kolonial Belanda, Abdul Rozak memulai karier sebagai tenaga magang di kantor Cotroleur di Bandingagung saat berusia 25 tahun. Lalu bertugas di sejumlah tempat di Muaradua, Tebingtinggi, Surulangun Lawas, Bayunglincr, Palembang, Tebingtinggi, Pagaralam, Tanjungraja, Talangpangeran, hingga menjadi demang di Tanjungraja, Pagaralam, Lahat, dan Muaraenim.

Selama menjadi pejabat birokrasi itu, benih-benih nasionalisme telah tumbuh pada sosok Abdul Rozak. Ketika Jepang dapat menyingkirkan Belanda di Nusantara, dia melihatnya sebagai peluang guna mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Abdul Rozak yakin Jepang tidak akan mampu melawan Sekutu, yang dijadikan Belanda sebagai pelindungnya.

Maka, ketika proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikemundangkan pada 17 Agustus 1945—meskipun informasi kemerdekaan itu baru diterima di Palembang beberapa hari kemudian---Abdul Rozak langsung bergabung dengan para tokoh kemerdekaan Indonesia di Palembang, yang sebelumnya telah dikenalnya selama pemerintahan Belanda maupun pendudukan Jepang, seperti Dr. A.K. Gani, Dr. Muhammad Isa, R.M. Mursodo, Nungcik AR, R.Z. Fanani, Bay Salim, dan lainnya.

*) Penulis budayawan dan sejarawan Palembang

Komentar

23.03.2012 18:58:22 WIB | Eman Rais :

Pahlawan pejuang kemerdekaan kita, bukan cuma kharismatik tapi mampu menggalang persatuan kesatuan elemen bangsa dimanapun berada. Saya pribadi tidak mengenal tokoh sejarah sekualitas pak Abdul Rozak ini, namun sumangad kebangsaannya akan menjadi mercusuar bagi anak bangsa di segala zaman. Semoga Allah Ta'ala mengganjar jasa dan pengabdiannya di JannahNYA. Aamiin.