19.03.2011 09:07:18 WIB
Oleh Taufik Wijaya
Jurnalis dan pekerja seni
ANAK bungsu saya yang berusia sembilan tahun terdiam melihat berita gempa bumi disertai tsunami yang melanda Jepang dari sebuah stasion televisi. ”Jepang dapat hancur juga, ya, Pak,” katanya.
Sejak kecil anak saya memang terkagum dengan Jepang. Buku komik, film kartun, games, serta makanan asal negara Samurai itu sudah banyak dikonsumsinya. Buat anak seusianya, dia lumayan menguasai tentang tradisi, makanan, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan yang ada di Jepang. Tak heran, saat ditanya negara mana yang akan dikunjungi bila ada kesempatan ke luar negeri, dia pun menjawab dengan tegas dan cepat; Jepang!
Namun bencana gempa bumi yang disertai tsunami membuat anak saya seakan tidak percaya jika Jepang dapat ”hancur”.
Pernah suatu kali dia memberikan komentar kalau timnas sepakbola Indonesia harus belajar dengan Jepang, setelah Indonesia kalah dari Malaysia dalam Final Piala AFF 2010. Menurut dia para pemain sepakbola Jepang itu kemampuannya hebat, penuh semangat, dan pantang menyerah. Dia pun terkagum dengan ilmu pengetahuan yang dikuasai anak-anak di Jepang. ”Banyak nian budak (anak-anak, red) Jepang yang pintar buat robot,” ujarnya.
SATU pernyataan yang membuat saya tersentak ketika dia protes terhadap Tuhan. Tepatnya anak saya itu bingung kenapa Tuhan mau menghancurkan negara yang hebat itu. Mungkin dia ingin mengatakan seharusnya Tuhan menjaga negara yang hebat, bukan menghancurkannya dengan bencana alam tersebut.
Dan, saya percaya keheranan anak saya itu juga terjadi terhadap diri kita yang selalu mengandalkan Jepang. Misalnya kita yang selalu ”tunduk” terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan bangsa Jepang. Termasuk pula ketergantungan kita akan investasi dari para pengusaha Jepang. Sikap ketergantungan lantaran kekaguman tersebut, secara diam-diam membangun kesadaran kita bahwa Jepang sebuah negara yang akan selamat dari berbagai becana alam, sebab akan dijaga oleh ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Keyakinan itu akhirnya terkubur setelah faktanya Jepang tidak mampu melawan bencana alam. Jepang masih seperti di masa lalu ketika mereka harus dikalahkan berbagai bencana alam. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan Jepang akhirnya ibarat”mitos” bagi negara-negara yang terhisap oleh pabrik mobilnya, pabrik komputernya, pabrik sepeda motornya, atau pabrik games anak-anak.
Lebih jauhnya, tokoh-tokoh satria yang direproduksi Jepang benar-benar hanya dongeng. Mereka tidak mampu mencegah ganasnya air laut menghancurkan Jepang. Tegasnya, jika sudah berhadapan dengan bencana alam Jepang tidak beda dengan Aceh yang dihabisi tsunami.
HANCURNYA Jepang oleh gempa bumi dan tsunami merupakan bukti Tuhan sebagai penguasa alam memang lebih hebat. Tak ada yang mampu mengalahkan Tuhan, termasuk pula oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bencana alam yang dialami Jepang itu seakan Tuhan ingin mengatakan tidak satu pun manusia boleh ”menggantungkan” dirinya terhadap sebuah kekuatan selain dirinya. Atau sebaliknya tidak satu pun manusia atau bangsa yang memandang dirinya sebagai bangsa yang hebat. Jika itu terjadi, maka tak ada cara lain Tuhan membuktikannya dengan bencana alam.
Puluhan triliun rupiah kerugian yang dialami Jepang dalam sekejap itu, mungkin merupakan pendapatan Jepang dari negara-negara yang mana ratusan juta rakyatnya menderita sebagai akibat kebijakan bisnis dan industrinya. Jika itu benar, maka bencana alam ini sudah sepantasnya menjadi ”cermin” moral bangsa Jepang ke depan.
APA kesalahan Jepang? Secara hukum atau konstitusi tidak ada kesalahan Jepang. Bahkan Jepang dinilai sebagai bangsa dan negara yang telah mendorong kemajuan ilmu dan teknologi dunia. Produksi mobil dan motor Jepang telah mendorong modernisasi banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.
Namun, lantaran produksi mobil dan motor itu, terjadi eksploitasi sedemikian besar terhadap minyak bumi dan gas di muka Bumi ini. Eksploitasi migas ini tentu saja mendatangkan banyak persoalan. Mulai dari kasus lahan yang merugikan ratusan juta petani juga persoalan lingkungan hidup. Selain berdampak kemiskinan juga kerusakan lingkungan hidup.
Jadi, ada kemungkinan kesalahan besar Jepang sehingga dia diberi hukuman oleh Tuhan lantaran kebijakan industri otomotifnya yang hampir satu abad ini.
Logikanya, jika tidak terjadi produksi mobil dan motor besar-besaran dari Jepang, mungkin saya bukan salah satu dari masyarakat Palembang yang mengeluarkan biaya yang cukup besar buat transportasi dibandingkan membeli pangan bagi keluarga saya setiap bulan. Bahkan secara sepihak kebutuhan pokok keluarga saya akan ditentukan oleh kenaikan harga migas, yang ditentukan oleh manusia yang sama sekali tidak saya ketahui atau kenal.
Esai sederhana ini bukan saya bersyukur atas bencana yang dialami bangsa dan negara Jepang. Biar bagaimana pun bencana alam merupakan bencana kemanusiaan yang membuat kita berduka. Apalagi saya percaya tidak semua bangsa Jepang senang dan bangga atas perkembangan industri otomotif di negaranya.
Hanya, ada baiknya bencana alam ini merupakan moment bagi bangsa dan negara Jepang buat merenungkan diri bahwa setiap tindakan yang berujung kerusakan lingkungan hidup dan membuat manusia menderita, Tuhan tidak akan diam. Tuhan akan memberikan tajinya, yang tidak akan terhalang oleh kehebatan ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia. [*]
