Taufik Wijaya

Saya Belajar dengan Mi Instan

coba

13.12.2010 02:09:10 WIB

Oleh Taufik Wijaya

SEKITAR 20 tahun saya mengonsumsi mi instan. Mulai dari mi rebus dengan satu rasa hingga mi goreng dan mi rebus dengan berbagai rasa. Selama itu minimal 2.884 bungkus mi yang telah saya konsumsi. Sekitar 17,280 kilometer mi yang telah masuk ke lambung saya.

Saya senang dan bahagia mengonsumsi mi instan. Sebab makanan ini memiliki karakter praktis alias tidak ruwet cara memasaknya dan cepat dihidangkan. Harganya pun sangat terjangkau.

Yang lebih penting, saya begitu percaya dengan apa yang dijelaskan perusahaan pemilik mi instan tersebut yang ditulis di bungkusnya. Misalnya soal bahan baku pembuatan mi instan. Saya tidak pernah melakukan verifikasi atau pembuktian soal kebenaran bahan tersebut. Pokoknya percaya dan langsung mengonsumsinya.

Dengan banyaknya mi instan yang telah saya konsumsi itu, bukan hal yang aneh jika karakter praktis atau serba instan membangun karakter saya dalam membutuhkan sesuatu. Misalnya kebutuhan akan identitas diri, ilmu pengetahuan, dan mungkin kebutuhan rohani saya.

Sejalan dengan karakter itu, saya juga disodorkan dengan berbagai fasilitas atau ruang buat mencapai atau mendapatkan sesuatu secara praktis mengenai informasi bersama data dan faktanya. Misalnya melalui internet, koran, televisi, dan radio.

Dengan informasi yang cepat, singkat, dan padat, itu saya pun merasa mengetahui banyak hal di dunia ini. Sebuah informasi baru yang saya dapatkan terkadang hanya berusia sekian menit dari informasi sebelumnya. Bahkan melalui jejaringan sosial di internet, seperti facebook, saya dapat mendiskusikan informasi tersebut.

Selanjutnya dengan informasi-informasi itu saya merasa sudah mengetahui banyak hal, dan lebih jauhnya seperti memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Respon saya pun cepat terhadap informasi-informasi tersebut. Respon ini baik berupa pendapat, dukungan, maupun dalam bentuk aksi.

Singkatnya, mulai dari informasi mengenai gaya hidup, ilmu pengetahuan umum, kuliner, hingga persoalan agama, saya cukup menonton televisi, membaca koran, mendengar radio, atau mengakses internet. Saya tidak perlu membaca buku, bertanya dan diskusi berjam-jam dengan seorang guru, atau tidak perlu lagi memverfikasi informasi yang disodoran tersebut.

Jika saya membaca berita, menonton berita, dan mendengar berita, bahwa Michel Jakson ternyata belum meninggal dunia, saya pun langsung mempercayainya. Lalu saya sampaikan informasi tersebut ke mana-mana, dan selanjutnya saya menyodorkan opini atau pendapat mengenai Michel Jakson yang masih hidup tersebut. Saya tidak perlu lagi melakukan verifikasi soal kebenaran informasi tersebut.

Besoknya, jika saya mendapatkan informasi baru bahwa berita Michel Jakson belum meninggal dunia itu bohong, saya pun akan mempercayainya. Hal yang sama saya lakukan, saya sebarkan informasi tersebut ke mana-mana, yang disertai opini atau pendapat mengenai informasi tersebut. Sekali lagi, saya tidak melakukan verifikasi soal kebenaran informasi tersebut.

Mengapa saya tidak melakukan verifikasi atau pembuktian? Sebab saya tidak memiliki waktu buat melakukannya, lantaran saya harus mengonsumsi informasi lainnya, seperti ilmu pengetahuan atau tentang ajaran agama. Dan, sekali lagi, informasi yang terkait dengan kebutuhan itu juga tidak saya lakukan verifikasi.

Perilaku ini sama seperti saya mengonsumsi mi instan. Percaya dan langsung mengonsumsinya.

Keluarga Mi Instan
SAYA tidak sendirian makan mi instan selama 20 tahun terakhir ini. Saya percaya sudah puluhan hingga seratusan juta masyarakat Indonesia mengonsumsi mi instan. Di rumah, istri dan anak-anak saya juga mengonsumsi mi instan. Puluhan bungkus kami habiskan setiap bulan.

Jika sampah konsumsi menjadi alat ukur sebuah identitas keluarga, mungkin kami dapat disebut sebagai keluarga mi instan. Dua kebutuhan lainnya yang dominan dalam keluarga kami, seperti beras dan air mineral, sampahnya lebih sedikit.

Sampah mi instan ini mengalahkan sampah yang terkait dengan kamar mandi, seperti sabun mandi, odol, sabun rambut, sabun pembersih wajah, sikat gigi, serta sampah lainnya seperti sampah sabun cuci, sampah minyak goreng, serta sampah susu instan, gula pasir, kopi, dan teh.

Meskipun identitas kami sudah menjadi keluarga mi instan, kami sama sekali tidak mendapatkan penghargaan dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi mi instan tersebut. Bahkan saya mendapatkan iklan yang mengajak saya buat memaknai hidup ini dengan mi instan. Di saat musim hujan, di saat musim panas, di saat pagi, di saat malam, ingat dan makanlah mi instan. Iklan ini, terus-terang, jauh lebih menusuk hati dibandingkan iklan kemanusiaan mengenai bencana alam di sejumlah daerah di Indonesia. Buktinya sejak peristiwa bencana alam Merapi dan Mentawai, tidak sampai seratus Rp100 miliar dana dari rakyat Indonesia yang terkumpul buat membantu para korban bencana tersebut. Dan, saya percaya pada waktu yang sama ratusan miliar rupiah dana yang kita keluarkan buat mengonsumsi mi instan. Logikanya, mungkin sekitar sepuluh juta orang—dari dua ratusan juta penduduk Indonesia—membeli mi instan dengan harga rata-rata Rp1.000 per bungkus, maka dana yang terkumpul sepuluh miliar per hari. Jadi selama tiga pekan ini, sudah Rp140 miliar dana kita buat mengonsumsi mi instan.

Salahkah ini? Tentu saja tidak. Mi instan selain membuat orang terpenuhi kebutuhan makannya, juga dana yang beredar itu buat menghidupi jutaan buruh, ribuan pedagang, serta menjadi sumber pemasukan pajak bagi negara Indonesia, meskipun pada akhirnya ada sejumlah pemasukan pajak itu—bukan dari perusahaan mi instan—sebagian dinikmati para mafia pajak, seperti Gayus.

Bangsa Mi Instan
BERANJAK pengalaman saya, keluarga saya, serta ratusan ribu keluarga Indonesia lainnya, dapat dikatakan negara Indonesia mengurusi sebagian rakyat dari bangsa ini dengan identitas mi instan, sebagai identitas kekinian dan mungkin ke depan.

Jadi, tidaklah heran, dalam banyak hal kita ingin meraih sesuatu atau mendapatkan sesuatu seperti membeli dan mengonsumsi mi instan. Para mahasiswa ingin cepat menjadi sarjana dengan berbagai cara mendapatkan nilai yang baik, tanpa harus berputar-putar dengan berbagai buku. Para politisi ingin berkuasa dengan cara cepat, tanpa harus melalui kerja-kerja politik dan belajar ketat dalam membangun karakter kepemimpinan. Para pelaku ekonomi ingin cepat kaya, sehingga melakukan berbagai cara, tanpa harus memikirkan dampak negatifnya bagi negara dan rakyat. Para seniman ingin cepat terkenal, tanpa harus bersusah-susah dalam menciptakan sebuah karya yang terbaik. Bahkan kita yang miskin harta atau identitas pun ingin cepat kaya dengan berbagai cara. Mulai dari melakukan tindak kriminal, termasuk menggunakan hal-hal yang tidak rasional seperti minta bantuan dukun.

Secara umum, bangsa ini pun menginginkan sesuatu dengan cepat. Bila ada kecelakaan kereta api, mereka ingin secepatnya rel dan kereta api segera diganti dengan yang baru. Bila ada kecelakaan pesawat terbang, mereka ingin semua pesawat diganti dengan yang baru. Bila ada bencana alam, mereka ingin secepatnya dibentuk tim penanggulangan yang hebat termasuk teknologinya yang canggih. Bila ada kebijakan yang lamban atau gagal, mereka ingin secepatnya adanya pergantian pemimpin atau pemerintahan. Bahkan meskipun sudah puluhan kali menang dan memberikan sejumlah piala, jika Sriwijaya FC kalah dalam pertandingan terakhir, mereka ingin sejumlah pemain atau pelatihnya segera diganti.

Bagaimana dengan negara? Ada sejumlah kebijakan juga terkesan tanpa melalui proses yang bertahap, misalnya soal reformasi politik. Dari karakter feodal dan fasis, ingin segera atau secepatnya diubah menjadi demokratis, tanpa melakukan proses perbaikan pada elemen-elemen yang telah mengakar pada karakter feodal dan fasinya Akibatnya pemimpin dan wakil rakyat, yang terpilih tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Eh, rakyat pun ingin cepat mereka diganti. Mereka marah. Protes. Mengamuk. Termasuk pula membakar gambar pemimpin yang mereka pilih, dan menginjak bendera merah-putih.

Jadi, bangsa berkarakter mi instan ini yakni sebuah bangsa yang mengembangkan dirinya dengan tidak menginginkan adanya sebuah proses. Semuanya ingin cepat layaknya mengonsumsi mi instan.

Kini, tergantung kita mau tidak mengakui bahwa sebuah keinginan, perubahan atau cita-cita itu melalui sebuah proses. Namun terkadang seseorang yang menghargai sebuah proses dinilai sebagai sosok yang bodoh dan lamban. Seperti halnya ibu saya yang masih mengolah dan memasak sendiri mi goreng yang akan dihidangkan buat cucu-cucunya. Waktu yang dilakukannya sekitar tiga jam, sementara memasak mi instan tak lebih dari 15 menit. [*]

Foto: hantu230.blogspot.com

Komentar