26.05.2010 05:56:28 WIB
Oleh TAUFIK WIJAYA
Pekerja seni
ADA sesuatu yang menonjol selama 20 tahun terakhir ini. Saya selalu terburu-buru. Sebab dalam waktu 24 jam, saya harus mencari penghasilan, mengurus anak, bercinta, istirahat, belajar, hingga berinteraksi dengan teman, saudara, serta orangtua. Dan, terkadang saya harus menyelesaikan persoalan sebagai dampak berhubungan dengan banyak orang.
Dan, selama itu pula saya takut kehilangan apa pun. Semuanya harus saya pakai dan miliki. Mulai dari sabun cair, odol, sampoo, beras, cabai, rokok, ikan asin, kemeja, televisi, susu instan, pesawat terbang, mi instan, mesin cuci, taksi, sepatu, bus kota, handphone, kereta api atau tusuk gigi. Saya memburu semuanya itu. Dengan kecepatan yang maksimal dan ketepatan yang akurat, yang saya miliki.
Bila salah satu di antara benda-benda itu tidak ada atau hilang, maka saya akan panik. Ribut dengan istri. Istri ribut dengan saya. Keributan itu kemudian meluas hingga soal tanggungjawab seorang suami dan seorang istri, bahkan keributan lebih mendalam lagi yakni pembahasan soal latar belakang keluarga masing-masing.
Yang menyedihkan, benda yang jarang kami ganti hanyalah Alquran. Kitab suci agama Islam, yang saya beli sejak menikah sekian puluh tahun lalu. Saya pun tidak pernah merasa berdosa atau takut, bila tidak menyentuh Alquran.
Tak heran, saya lebih sering cemas tidak memiliki sebungkus rokok dibandingkan terancam ditinggalkan Tuhan. Saya hanya butuh Tuhan ketika saya kehilangan benda-benda itu. Saya menangis. Menangis. Tapi sesungguhnya saya menangis karena takut kehilangan benda-benda, bukan ditinggalkan Tuhan.
Saya seakan tidak dapat berhenti. Ibarat seekor tikus yang berlari pada roda putar mini. Saya kian terburu-buru. Acara televisi, kebijakan pemerintah, hingga informasi dari internet, melahirkan benda-benda baru yang harus dipenuhi. Jika benda-benda itu tidak dipenuhi maka ada semacam kegagalan sebagai seorang warga negara Indonesia, suami, bapak, dan lelaki.
Sungguh melelahkan. Berbagai penyakit begitu saja datang. Mulai dari masuk angin, keseleo, sakit lambung, sesak napas, hingga mata rabun.
Duduk Bersama Ikan-Ikan
Hari ini, saya ingin sekali duduk. Tidak berlari atau berjalan terburu-buru. Mengumpulkan keberanian buat membakar handphone, tidak menonton acara televisi dan mengikuti berita, serta melupakan kecemasan-kecemasan akan masa depan yang digambarkan para politisi, dukun, ulama, aktifis lingkungan hidup, hingga sales asuransi.
Di dalam duduk itu, saya ingin mengaku bahwa sikap terburu-buru bukanlah tradisi yang melahirkan dan membesarkan saya.
Tradisi yang melahirkan dan membesarkan saya adalah aura ikan-ikan yang melintas, hidup, serta berkembangbiak di sungai Musi. Ikan-ikan yang diciptakan Tuhan buat melayani manusia.
Ikan-ikan itu kemudian membuka mulutnya. Dia minta diberi makanan. Sungguh menyenangkan membagikan makanan yang diberikan Tuhan. Dia telah menyelamatkan saya dari keinginan untuk terus mengumpulkan, mengumpulkan, hingga lelah. Saya tidak mau terburu-buru meninggalkan dunia sebagai manusia yang dikalahkan benda-benda. Sebagai pemulung yang kaya dengan ilmu pengetahuan, tapi yang tidak pernah membaca.
