Makna Sepakbola dan Perubahan Sosial

coba

18.02.2010 06:11:38 WIB

Oleh TAUFIK WIJAYA

SEPAKBOLA bukan sekedar permainan sederhana. Sepakbola adalah senjata revolusi.

Seorang revolusioner seperti Che Guevara tentunya tidak sembarangan memberikan pernyataan di atas. Dia pasti memiliki alasan historisnya.

Mungkin salah satu alasan yang membuat kita merasakan sampai perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yakni keterlibatan masyarakat dunia. Masyarakat dunia ini dengan atas nama “sepakbola” melakukan apa saja. Mulai dari nasionalisme, bisnis gede, bisnis kacangan, berjudi atau politik. Ini artinya, Che menilai sepakbola dapat digunakan sebagai alat revolusi. Dan, memang terbukti hampir setiap kali perhelatan piala dunia selalu terjadi “revolusi” pada masyarakat di negara penyelenggaranya.

Misalnya, mental masyarakat Jerman Barat yang hancur akibat Perang Dunia II, akhirnya menemukan kembali bentuknya setelah negara tersebut meraih juara dunia seusai mengalahkan Hongaria 3-2 di Swiss, 1954.

Piala Dunia 1966 di Inggris, melahirkan “revolusi” masyarakat modern, yang melakukan pemberontakan terhadap nilai-nilai feodalistik yang berkembang di negara tersebut. Kemenangan Inggris atas Jerman Barat 3-2 dalam final tersebut, telah mendorong kaum mudanya untuk menemukan identitas baru. Bukankah pasca Inggris juara itu, revolusi musik pop dan rock melanda Inggris, yang dimulai dari The Beatles, Rolling Stones, Queen, hingga The Police atau Duran-Duran. Lalu, ribuan anak muda memilih profesi pemain sepakbola sebagai pilihan utama.

Piala Dunia 1978 di Argentina juga melahirkan hal yang sama. Masyarakat miskin yang berada di negara tersebut, memilih sepakbola sebagai “peluang” bebas dari kemiskinan, selain olahraga tinju atau balap mobil. Boca Junior, merupakan bukti sebuah klub milik masyarakat miskin yang puncaknya melahirkan legendaris Maradona.

Ketika krisis politik berkembang di Spanyol, 1982, sepakbola menjadi pendorong pemerintahnya untuk lebih terbuka dan demokratis. Melalui Piala Dunia yang menempatkan Italia sebagai juara, masyarakat Spanyol mempunyai “darah” untuk mendorong pemerintahannya untuk lebih demokratis.

Selanjutnya, Amerika Serikat yang mendapat kecaman International sebagai akibat perang Teluk, menemukan kembali kepercayaan International setelah menggelar Piala Dunia 1994.

Lalu, masyarakat Korea Selatan yang baru bebas dari krisis ekonomi dan politik, seperti Indonesia, seakan mengalami “kelahiran kembali” setelah menggelar Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Seluruh masyarakat; muda hingga tua menikmati setiap kemenangan negara mereka atas negara lain. Ini pula yang akhirnya membangun sentimen bangsa-bangsa lain di Asia. Ada kelahiran baru rasa kepercayaan diri bangsa-bangsa di Asia.

Namun, penilaian Che itu agak terbelokan oleh pemikiran Antonio Gramsci. Menurutnya, sepakbola sebuah model masyarakat individualistik. Ia menuntut inisiatif, kompetisi, dan konflik. Tapi ia diatur oleh aturan tak tertulis bernama fair play.

Artinya, Gramsci menilai sepakbola tak lebih dari persaingan individu untuk menemukan identitasnya dalam permainan sepakbola. Bisa benar. Bisa juga salah, seperti yang diungkapkan Bill Shankly, mantan manager klub Liverpool. Katanya, “Aku percaya dalam sosialisme setiap orang saling bekerja untuk orang lain, setiap orang berbagi hasilnya. Begitulah caraku melihat sepakbola, caraku melihat kehidupan.”

Sayangnya, sepakbola tidak selalu melahirkan sesuatu yang baik. Honduras dan El-Salvador terlibat perang setelah kedua negara itu melakukan pertandingan sepakbola dalam babak penyisihan pra Piala Dunia 1970 yang digelar di Mexico.

Dan, merupakan fakta, hampir setiap kali digelar Piala Dunia selalu melahirkan kerusuhan massa. Dan tidak sedikit yang nyawanya melayang. Setiap digelar Piala Dunia selalu menyulut kemarahan masyarakat dari negara yang sudah tersingkir. Sebut saja Rusia, Argentina, Jepang, dan lebih gila lagi Italia.

Kebencian masyarakat Italia terhadap wasit Moreno asal Ekuador yang dituduh penyebab tersingkirnya Italia dari Koera Selatan pada Piala Dunia 2002 lalu, sangat luar biasa. Hampir semua media massa di Italia menyalahkan Moreno.

Tidak disitu saja, nasionalisme yang berlebihan itu telah menghancurkan nilai-nilai persaudaraan dan profesionalisme. Pemain Korea Selatan, Ahn Jung-hwan, pencetak gol kemenangan Korea Selatan, akhirnya dipecat dari Perugia, salah satu klub liga Seri A Italia saat itu. Ahn dituduh sebagai “pengkhianat” bangsa Italia. Ini persis dialami Maradona saat membela Napoli, seusai Argentina memenangkan Piala Dunia 1986 dan menyingkirkan Italia sebelum melumat Jerman Barat di final.

Lucunya, kebencian juga melibatkan bangsa lain. Mantan pemain sepakbola Indonesia, Anjas Asmara, misalnya, mengumpat wasit Moreno. “Wasit dari mana itu, sebaiknya suruh saja dia pimpin adu jangkrik…” kata Anjas Asmara di Forum Anda, Kompas, 20 Juni 2002.

Mungkin kekhawatiran seperti inilah yang membuat Raja Edward II dari Inggris terganggu. Pada 1314, ia pun mengeluarkan aturan, “Karena begitu gaduhnya kota ini disebabkan semangat meluap-luap dalam bermain bola, yang akan membangunkan banyak setan, yang itu dilarang oleh Tuhan, kami—atas nama Raja—memerintahkan dan melarang, dengan hukuman penjara, permainan semacam itu di kota ini.” Larangan ini diteruskan Raja Henry IV dan Henry VIII.

SEPAKBOLA memang membuat banyak orang gila. Lucunya, sampai saat ini tidak diketahui dari mana asalnya permainan ini. Inggris yang mengaku sebagai “bundanya sepakbola” tidak memiliki banyak bukti bahwa permainan itu berasal dari mereka. Apalagi ditemukan sejumlah bukti bahwa permainan ini juga ada di berbagai suku bangsa lainnya pada ratusan tahun lalu.

Pada zaman Mesir purba, permainan menendang bola sudah ditemukan. Begitupun peradaban Yunani kuno sudah mengenalnya. Dan menyebutnya episcuro. Dan permainan ini konon dibawa ke Romawi dan disebut harpastum. Julius Caesar kabarnya suka sekali dengan permainan ini.

Beberapa bukti lain juga menunjukan bahwa permainan ini berkembang di Cina kuno atau pada masyarakat Aztec di Amerika Latin pada masa Sebelum Masehi. Masyarakat Cina menyebut permainan ini tsu chu, dan dikenal 1004 Sebelum Masehi!

Jadi, seperti diungkapkan pemikir Ovidius, permainan ini sebetulnya permainan primitif. Maksdunya mungkin hanya bermodalkan kaki, kepala, dan sebuah bola, seseorang sudah dapat menjadi pemain sepakbola.

“Kapan, ya? Indonesia ikut piala dunia…” kata Dik Doang dalam sebuah iklan di televisi. Pernyatan itu membuat kita tersenyum. Tersenyum pahit dan getir tentunya. Seorang teman pernah mengatakan, sepakbola Indonesia akan maju apabila persoalan politik dan ekonomi di negara ini tuntas.

Tapi, kok saya berpikir bagaimana sepakbola dapat digunakan sebagai alat perubahan itu. Maksudnya, mana tahu setelah Indonesia juara dunia atau ikut Piala Dunia, kondisi ekonomi dan politik yang buruk ini dapat berubah.

Para koruptor ramai-ramai mengaku bersalah. Para pelanggar HAM mau menyerahkan diri. Semua itu karena Indonesia juara dunia! Seperti ungkapan penyanyi legendaris Bob Marley ini, “Sepakbola adalah bagian dari diriku ketika aku membangunkan dunia di sekelilingku.”

Namun, “jalan pintas” yang ditawarkan PSSI buat mengusulkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia akhirnya kandas, setelah pemerintah Indonesia tidak memberikan dukungan. Sepakbola Indonesia harus berprestasi di dunia melalui pembinaan terhadap sekian ratus juta rakyat Indonesia. Ya, mari bangun sepakbola Indonesia berbarengan dengan memberantas sikap feodalistik dan para bandit. (dari berbagai sumber)

*) Penulis jurnalis dan pekerja seni (wijayataufik@gmail.com)

Komentar