24.01.2010 23:37:30 WIB
Oleh ERWAN SURYANEGARA*)
“Sebuah kerja berlarut dan panjang yang begitu melelahkan tentu telah dilakukan Nurhayat Arief Permana dan kawan-kawan melalui Tavern Artwork” dalam menggagas, merencanakan, mengupayakan, melakoni, mengemas, kemudian menggelar sebuah pameran lukisan bersama (berlima) yang diberi title A Journey to Palembang. Perlu diapresiasi, suatu semangat dan kengototan dari seorang “Aliek” dan rekan-rekan Tavernnya berserta kelima pelukis Palembang, akhirnya dapat mewujudkan perhelatan pameran di The Djayakarta Daira Hotel Palembang, 23 – 29 Januari 2010.
Sejak 2006, seperti yang dikatakan Arif, ia menggagas untuk menyelenggarakan pameran ini. Arief dari waktu ke waktu terus bergumul dengan upaya guna mengkristalkan konsep-kosepnya. Melalui dukungan berbagai pihak terutama tim kerjanya di Tavern, mereka berhasil merealisasikan dan memamerkan 24 lukisan dari rencana 30 buah lukisan, karya lima pelukis Palembang, yakni: Mardiono, Fajar Agustono, Ramadhan Abdi, Heru Andriansyah, dan Abdul Azis, di lobby The Djayakarta Daira Hotel Palembang, yang langsung dibuka oleh H. Eddy Yusuf, SH., MH. pada Sabtu, 23 Januari 2010 pukul 19.30 WIB.
Konsep Pameran
Berdasarkan inti dari paparan Arief pada tulisan kuratorialnya, dapat disimak ada tiga sasaran tujuan yang ingin dicapai lewat pameran ini. Pertama, ingin mengekspresikan sejarah panjang di Sumatra Selatan yang gemilang. Kedua, ingin mengabadikan peristiwa sejarah di Palembang dengan media lukisan. Ketiga, ingin membangun pasar seni rupa di Palembang dan Sumatra Selatan khususnya, dengan sungguh-sungguh.
Keinginan besar untuk mengekspresikan sejarah panjang di Sumatra Selatan yang gemilang (sejak abad ke-7 hingga hari ini), tampaknya tak berhasil dijawab oleh kehadiran pilihan idiom atau bahasa visual dan teknis kekaryaan dari kedua puluh empat lukisan yang sedang dipamerkan.
Pencapaian keinginan mengabadikan peristiwa sejarah di Palembang dengan media lukisan, coba diterjemahkan oleh kelima pelukis dengan karya-karya lukisan yang bergaya realistik, namun terlihat minim motivasi dalam mengelaborasi hasil studi sejarah, sehingga diksi-diksi rupa yang divisualkan dan coba merepresentasikan peristiwa-peristiwa sejarah itu, dengan hasil berupa narasi teks rupa yang gagap atau terbata-bata.
Pada poin ketiga, ingin membangun pasar seni rupa di Palembang dan Sumatra Selatan khususnya, dengan sungguh-sungguh. Menggelitik dan memunculkan pertanyaan, apakah telah cukup dipahami apa itu satu dunia luas yang tak bertuan “seni rupa?” Yang seperti apa pula dunia seni lukis? Tikar purun, kerajinan perabotan lakeur, gerabah, rotan, tenun songket dan lainnya itu juga adalah karya rupa yang dibuat secara konsisten oleh para pengrajinnya di Sumsel dan telah memiliki pemasaran yang cukup setabil, walaupun masih memerlukan pembinaan, pengembangan, dan harus lebih ditingkatkan. Pertanyaan lebih lanjut, sejauh mana pula pemahaman akan filsafat seni dan konsep seni yang ada pada masyarakat kita? Jangan-jangan justru filsafat dan konsep seni Barat yang ingin dipaksaterapkan. Membicarakan kolektor, juga seperti apa makna kolektor yang dipahami? Kemudian, “…ada transaksi penting dengan harga jual yang pantas” itu apa maksudnya?
Teks Kekaryaan
Kedua puluh empat lukisan yang dipamerkan tampak visualnya sama-sama berkeinginan memilih jalur atau gaya realistik. Perlu diingat dalam pandangan realisme, alam dan dunia adalah standar kebenaran dan keindahan. Sehingga sebagai konsekuensi pilihan gaya realistik itu adalah realitas alam dan dunia yang ada.
Menyimak figur-figur orang dengan atribut-atributnya; objek batu, rumah, masjid, kapal, perahu, senjata, bendera, bola, dan sebagainya; di tepi sungai, di tengah sungai, di tepi pantai, di tengah laut, di dalam rumah di atas kapal, di depan benteng, di dalam istana, di atas bukit, di dalam taman, dan tempat-tempat lainnya; suasana perang, berkumpul, pulang dari masjid, penangkapan, menghadap raja, serta suasana lainnya, adalah subjek meter yang coba di visualkan oleh kelima pelukis melalui 24 karyanya.
Semua lukisan dikerjakan dengan menggunakan cat minyak di atas kanvas. Kembali ke teknik kekaryaan yang umumnya tampak ingin digarap secara realistik, terutama mengingat tematik yang disodorkan kurator memang cenderung memberi batasan ke aspek kesejarahan. Kelima pelukis ternyata masih sangat kedodoran terutama dalam hal kecermatan untuk mempresentasikan: kegemilangan, Sriwijaya yang Melayu dan Budha, suasana masa lalu dan kekinian, kesan lukisan tua, wajah orang Eropa, Asia (China), dan Melayu, taman Sri Ksetra, pemahat prasasti, Dapunta Hyang pendiri Sriwijaya, kewibawaan Raja Balaputra Dewa, dan sebagainya.
Sementara, bila menilik unsur-unsur internal yang ada pada masing-masing karya, secara umum kelima pelukis relatif bisa dikatakan sudah berupaya menyusun, mengorganisir, membangun konstruksi visual, mengolah elemen-elemen formal yang ada di masing-masing lukisan (titik, garis, shape, cahaya, dll), tetapi umumnya juga masih perlu dilihat dan dibicarakan secara detail karya per karyanya.
Namun, secara kasat mata terlihat bahwa hampir semua lukisan cenderung hanya bersifat historis-illustratif (bertutur atau bercerita teks sejarah dengan gambar), kecuali pada beberapa karya yang memang ada bermuatan gagasan murni dari dalam diri si kreatornya, yang tentu akan mendorong bacaan-bacaan imajinatif bagi para apresiannya.
Sangat disayangkan tematis kesejarahan yang diformat sebagai konsep kurator dalam penyelenggaraan pameran A Journey to Palembang, ternyata telah mampu memenjarakan selama empat tahun kemerdekaan ekspresi kreatif dari kelima pelukis sebagai pesertanya. Ada apa? Seharusnya, kelima pelukis bersama kuratornya selain dapat dan mampu mengakomodir jejak sejarah yang ada, mestinya sekaligus dapat pula melihat sejarah itu dari sudut pandang kreatif dan kritis yang mungkin paradok, seperti misalnya justru mempertanyakan teks sejarah yang ada itu, kenapa tidak?
Sehingga, para apresian penikmat seni lukis, pemerhati, dan pengamat seni di Palembang, tidak terlalu dikecewakan dengan suguhan visual yang cenderung kaku, datar, warna monoton, dan tidak ada yang mengejutkan guna dipakai sebagai bahan berimajinasi dan berfantasi bagi jembatan menuju hadir dan tumbuhnya pembelajaran serta kesadaran sejarah pun kultural.
*) Peneliti, pemerhati, pengamat,
dan pekerja kebudayaan di Sumatra Selatan.
