21.11.2009 02:14:43 WIB
Oleh HALIM HD
Suara lirih dengan repetisi yang terasa konstan kian meninggi terdengar dari gesekan tangan perempuan setengah baya yang dengan konsentrasi tinggi memutar tanah liat bahan gerabah diantara suara daun yang terpijak dan dari jauh derum kendaraan bermotor meraung. Suasana yang diciptakan oleh proses pembuatan gerabah itu menyatu ke dalam babak pembukaan “Perempuan Gerabah” (PG) yang diusung oleh Teater Studio Indonesia (TSI), disutradai Nandang Aradea (NA) di lapangan parkir Taman Budaya Surakarta (TBS) pada rangkaian acara Mimbar Teater Indonesia (MTI) pada 25-30 Oktober 2009.
RUANG
Pertunjukan PG memilih ruang terbuka dengan membentuk open space theatre melalui disain bambu yang nampak artsitik dan sekaligus akrab. Pemilihan ruang terbuka menjadi komitmen bagi TSI yang bermarkas di Serang, Banten, sebagaimana dinyatakan oleh NA, bahwa TSI selalu memilih ruang terbuka untuk pentas teater. Pilihan itu menyatakan bahwa teater mestilah membangun ruang. Pilihan ini bukan sekedar pilihan artistik belaka, tapi juga kritik terhadap pola-pola pembangunan gedung dan cara berpikir kalangan seniman dan pekerja teater yang sudah terperangkap ke dalam pola-pola pementasan di dalam gedung. Prinsip NA dan TSI nampaknya sejalan seperti yang juga dinyatakan oleh Kiyoyazu “Genksan” Yamamoto, salah satu pendiri The Black Tent Theatre, Tokyo, yang dalam suatu obrolan pada tahun 1996 menyatakan, bahwa gedung membawa beban sejarah dan teater mestilah menciptakan ruang lain bagi jalan sejarahnya sendiri.
TSI dalam garapan PG nampak berusaha untuk melibatkan penonton melalui disain panggung bambu, yang memang rasanya membuat penonton repot bukan karena berjejal dalam suatu ruangan di mana penonton menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Belasan atau puluhan penonton nampak kalang kabut ketika pecahan gerabah serta percikan lumpur ke mana-mana, yang nampak hal itu menjadi disain pertunjukan: bahwa peristiwa teater yang mengangkat masalah lingkungannya memiliki konsekuensi moral terhadap pembangunan yang tak pernah secara benar diterapkan, dan akan senantiasa membawa konsekuensi logis kepada manusia di lingkungannya. Manusia menjadi korban dari proses politik pembangunan yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai lingkungan dan kapasitas kemanusiaan dalam konteks pelibatan kebutuhannya.
TANAH
Jika kita menyaksikan PG dengan telisik yang lebih jauh dan dalam, terasa metafora yang disampaikan oleh TSI yang tanpa teks literer dan seluruh peristiwa dalam panggung menjadi teks itu sendiri, maka metafora nampak kian menghunjam ke dalam arus bawah pemikiran kita. Kita diingatkan kepada batas-batas tentang kerapuhan manusia, lingkungan dan juga takdir: yang berasal dari tanah akan kembali kepada tanah, sebagaimana keyakinan yang melandasi hidup manusia. Pada bentangan peristiwa yang menampilkan perempuan sebagai sosok yang mencipta dan mengelola lingkungan yang melawan kerakusan dan keserampangan suatu sistem yang arogan dan ambisius. Di sini terasa kita menyaksikan suatu lintasan sejarah kebudayaan nusantara dalam pandangan ibu pertiwi, dan kaum perempuan pada posisi pemelihara dan pencipta. Dalam konteks pemikiran Jawa, Ibu Bumi Bapak Langit, terasa sekali adanya suatu kontradiksi atau tepatnya pertentangan yang terjadi di dalam sistem kehidupan dan pembangunan kita. Dan teater sebagai media bagi kita menjadi sarana untuk menyatakan bukan hanya opini tapi juga isyarat dan tanda-tanda jaman agar manusia dan kaum elite senantiasa eling lan waspada.
Dalam konteks itulah rasanya TSI lumayan mampu menyampaikannya tanpa teks literer yang bersifat linear yang terkadang atau bahkan biasanya memperangkap penyajian teater ke dalam berbagai pernyataan sloganistik. Dan pada penyajian PG produksi TSI yang dimainkan oleh Taufik Pamungkas, Farid Ibnu Wahid, Suryadi Sally Al-Faqir, Arip Fr, Desi Indriyani dan Mak Maryamah – dan mereka pula yang menggarap disain teater bamboo – ini menyajikan seluruh peristiwa masuk ke dalam suatu rentangan chaos, kekacauan yang terbentuk dari rasa amarah dan kekerasan yang dinyatakan dalam bentuk putaran berbagai problematika yang menciptakan konflik, dan berakhir kembali kepada cosmos, keseimbangan yang diciptakan oleh kaum perempuan dalam proses penciptaan dunianya melalui metafora pembuatan gerabah; penciptaan kehidupan dan pemeliharaannya.
Dan gerabah yang nampak artistik dan kuat dalam suatu jalinan peristiwa yang bukan hanya secara visual bisa kita saksikan, tapi juga menciptakan bebunyian yang demikian lirih, seperti menyapa kita dan memasuki relung-relung paling dalam dari diri kita. Melalui persepsi visual dan suara lirih itulah TSI ingin mengajak kita semua memasuki proses transformasi manusia kea rah kehidupan yang beradab. (*)
*) Halim HD. – Networker Kebudayaan.
Foto: Boy T Harjanto
*) Dikutip dari Rumah Dunia, dan diizinkan penulisnya Halim HD.
