03.09.2009 18:33:49 WIB
Oleh IMRON SUPRIYADI
Jurnalis dan pekerja seni
TIDAK seperti sebelumnya, memasuki 10 hari pertama Bulan Suci Ramadhan 1430 hijriyah ini, sebagian jamaah di masjid kami memilih tema pembicaraan tentang Malaysia. Sebagian lagi tetap melakukan tadarus bersama. Tetapi di pojok lain, saya dan sebagian jamaah tengah asyik membahas Malaysia. Perbincangan ini terkait dengan dua pekan terakhir tentang ulah Malaysia, yang sempat membuat gerah iklim sebagian seniman, budayawan dan masyarakat Indonesia. Promosi pariwisata Malaysia yang mengusung Tari Pendet asal Bali dalam situsnya, menarik jamaah di masjid kami untuk ikut membicarakannya.
“Hei, ini masjid bukan forum seminar. Kalau mau bicara tentang politik diluar sana, jangan di dalam masjid. Masjid itu tempat beribadah, bukan untuk ngobrol soal Malaysia!” ujar Karim, sesepuh masjid tidak setuju dengan tema pembicaraan kami malam itu.
“Wak Haji, ente ini aneh. Kita ini sedang hubbul wathon minal iman. Membela negara ini bagian dari iman. Kita di sini sedang bicara tentang kecintaan kita terhadap bangsa sendiri, kok malah kamu larang, gimana? Nabi saja pernah rapat di dalam masjid?!” ujar Dar, sesepuh lain yang seumur dengan Karim.
“Masalah Malaysia itu tidak selesai oleh cas-cus kalian di masjid ini. Sudah ada aparat yang bertugas menjaga kedaulatan bangsa ini, jadi kita tidak usah ikut-ikutan,” Karim tak mau kalah. Karim kemudian berlalu dari hadapan kami. Suara tadarus sejumlah jamaah masjid masih meningkahi obrolan kami malam itu.
“Malaysia itu telah melakukan pencurian hak cipta negeri ini. Jadi wajar kalau kita marah. Kita perlu segera melakukan gerakan untuk mengatasi persoalan ini,” ujar Enthong, tukang ojek yang sempat mampir sebentar menjadi aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat.
“Memang kamu tahu, apa yang yang dicuri Malaysia?” Gian setengah menyepelekan Enthong. Gian hanya kenal dengan Enthong sebagai tukang ojek, lain tidak.
“Lho, banyaklah. Dari Sipadan dan Ligitan, sudah milik Malaysia. Kemudian perbatasan Pulau Ambalat juga masih ribut. Rendang Padang, Tempe, Reog Ponorogo, terakhir Tari Pendet. E, satu lagi sekarang sedang ribut soal Pulau Jemur yang ditawarkan Malaysia sebagai obyek wisata mereka,” tukas Enthong seperti pengamat politik luar negeri.
“Ada lagi, Thong, kamu lupa,” kata saya menimpali.
Enthong terlihat mengingat-ingat. Ia merasa tidak ada yang terlewatkan oleh ingatannya. Tetapi Enthong tak juga menemukannya.
“Lagu kebangsaan Malaysia,” saya mengingatkan Enthong.
“Nah, bener itu. Aku lupa. Lagu kebangsaan Malaysia itu juga lagu yang dicuri dari Indonesia. Liriknya saja yang dirubah. Kalau not, ritme dan hamonisasinya, sama persis. Ini juga kejahatan Malaysia,” Enthong makin bersemangat.
“Hebat juga kamu, Tong,” tukas Gian, PNS di sebelah rumah kami. “Aku malah nggak sempat ikuti infomasi itu,” katanya lugu.
“Mas, profesi boleh tukang ojek, tapi infomasi tidak boleh putus,” Enthong setengah mengritik Gian yang memilih duduk di belakang meja main game di kantor, dari pada membaca koran untuk mengikuti infomasi. Apalagi menonton siaan berita, Gian tidak tertarik.
“Kalau Malaysia terus-terusan seperti itu, berarti bangsa ini sudah diinjak-injak,” Sugik, aktifis Rohis ingin tahu lebih jauh.
“Benar, Men. Bukan hanya diinjak-injak, tapi juga dicabik-cabik. Harga diri bangsa ini sudah dipermalukan di mata internasional, Bung!” Enthong menimpali lagi.
“Lalu, kamu menyalahkan siapa?” tanya saya memancing.
“Ya, jelas! Malaysia sebagai pencuri hak-hak kedaulatan bangsa ini, ya Malaysia yang salah. Saya tidak mungkin menyalahkan bangsa sendiri!” Enthong bersemangat seperti pasukan pembela negara yang militan.
“Kamu tidak bijak, Tong, kalau hanya menyalahkan satu pihak,” kata saya.
“Jadi, kamu membela Malaysia?! Dimana nasionalismemu?!” protesnya.
“Bukan membela Malaysia, tetapi untuk melihat masalah ini kita harus menggunakan teori berpikir memutar. Kita tidak bisa hanya menuduh Malaysia melakukan pencurian hak cipta bangsa ini, tetapi kita harus membaca diri kita, sudah sebatas mana bangsa ini peduli dengan kekayaan kebudayaan yang kita miliki,” kalimat saya meluruskan cara pandang Enthing. Jamaah yang lain kian serius malam itu. Tetapi sebagian malas-malasan.
“Tetapi kalau kekayaan bangsa kita dicuri orang, kenapa kita kemudian menyalahkan diri sendiri?” Gian bertanya lagi.
“Oke, sekarang saya tanya. Apa kita harus menyalahkan TKI, Seniman Reog dan Tari Pendet, kalau ternyata di Malaysia kreasi mereka lebih dimanusiakan, dihargai ketimbang di dalam bangsa sendiri yang disia-siakan? Maksud saya, karya seni, keterampilan dan kepintaran orang Indonesia di Malaysia lebih dihargai mahal, sementara di Indonesia tidak dipedulikan, lantas kita menyalahkan Malaysia yang ingin menghargai karya mereka?” saya memancing pandangan dari jamaah lain.
“Kamu ini orang Indonesia atau Malaysia? Kok malah menyalahkan bangsa sendiri? mestinya kamu membela, bukan malah memojokkan,” Mang Kemal, ketua RT kami tidak setuju dengan ucapan saya.
“Mang, saya ini sedang mengajak berpikir, agar kedepan kita tidak lagi kecurian. Anggaplah sekarang Malaysia itu musuh kita. Tetapi yang mesti kita pikirkan itu bukan melarang musuh menyerang kita, tetapi kita yang harus bersiap diri dengan kekuatan pasukan dan paralatan perang, supaya disaat perang, kita sudah siap dan memenangi perang itu,” kata saya.
“Maksudmu itu apa? Ngomong kok ndak ada ujung pangkalnya,” Mang Kemal tidak paham dengan analogi saya.
“Begini, Mang. Dalam kasus pencurian oleh Malaysia ini, kita mesti evaluasi, untuk kemudian berpikir bagaimana pemerintah kita juga meningkatkan kepeduliannya terhadap kekayaan budaya yang kita miliki. Kita ini kaya, saya akui. Tetapi saking kaya-nya, kita tidak tahu bagaimana merawat kekayaan sendiri, sampai-sampai kita baru sadar kalau salah satu kekayaan kita dicuri orang. Ibaratnya, kalau kita takut rumah kita dimasuki pencuri, ya sudah pasti kita harus menguci pintu, jendela dan memasang terali, supaya pencuri sulit memasuki rumah kita,” kata saya menjelaskan.
“Tapi bangsa kita ini terlalu menjadi bangsa pemaaf, ya?!” tukas yang lain.
“Nah, itu juga satu lagi. Malaysia berlaku seperti itu karena bangsa ini terlalu kaya dengan kata maaf. Mudah legowo. Jadi kita di dunia internasional dikenal dengan bangsa yang arif dan bijak, tetapi justeru itu yang menggambarkan bangsa ini tidak punya sikap tegas terhadap intrik politik bangsa lain. Makanya kita mudah dijajah ideologinya,” kata saya lagi.
“Tetapi semua ini kan ada hikmahnya,” kata Gian lagi.
“Betul, Pak. Itu yang saya katakan tadi. Jangan dulu menyalahkan pencuri, tetapi kita harus mengkaji kenapa pencuri itu bisa mengambil harta kita. Minimal, dengan kasus ini, ada kesadaran dan kebangkitan nasionalisme. Nilai-nilai kebangsaan kita muncul, kemudian kita tersadar dari tidur panjang, yang terlelap oleh budaya impor yang cenderung menyesatkan. Selain itu, kita ya perlu ucapkan terima kasih dengan Malaysia, karena kekayaan kita sudah dipromosikan dengan gratis melalui website pariwisatanya,” kata saya berseloroh.
“Lalu, apa yang harus dilakukan oleh bangsa ini, agar tidak kecurian lagi?” Sugik menyela pembicaraan. Jemaah lain sudah pulang. Sebagian sudah mulai mengantuk.
“Kalau pakai istilah orang pandai, bangsa ini harus melakukan multitrack diplomasi. Diplomasi secara total, yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, sehingga tanggungjawab menjaga nasionalisme bukan diletakkan pada aparat, tetapi seluruh bangsa ini punya kewajiban yang sama untuk menjaga kedaulatan bangsa sendiri,” kata saya mengutip beberapa pakar politik di beberapa televisi. (*)
Jalan Swadaya-Palembang, 2 Setember 2009, Email : imronsumsel@gmail.com
