28.09.2009 12:53:41 WIB
Oleh ARPAN RACHMAN
ORANG kota punya tradisi mudik Lebaran. Mereka terlihat setidaknya sejak tiga dekade terakhir hingga ke penghujung dasawarsa pertama abad 21 ini. Memadati stasiun kereta api, pul bus, loket jalan tol, pelabuhan, dan bandar udara dalam kerumunan besar manusia.
Seperti gejala sakit-rindu-rumah (homesick) massal membuahi kebiasaan Indonesia. Tiap buah kebiasaan tentu ada pohonnya. Coba memetik buah di atas pohon itu langsung dari kebun dalam kamus. Berikut, hasilnya.
Bukalah halaman ke-657....
Mudik: kembali (menuju) ke udik atau pulang kampung. Secara derivatif, berarti (berlayar, pergi) ke udik (ke hulu sungai), misalnya “dari Palembang mudik sampai ke Sekayu”. Khasanah idiom dalam bahasa Jawa memaknainya sebagai “pulang ke desa (ke dusun).
Pencarian kausa “udik” sebagai locus (keterangan tempat), ternyata lebih mengutamakan makna “sungai yang sebelah atas; (daerah) di hulu sungai”, ketimbang diartikan sebagai “desa atau dusun”. Ditemukan bahwa mudik merupakan lawankata “milir” yang artinya “(datang) ke
hilir” dan hilir terindikasi sebagai “kota” – tempat berdagang (jual-beli) atau kalangan (pasar).
Prakiraan dini, buah mudik di atas pohon kebiasaan orang kota Indonesia, berakar dari khasanah budaya Melayu. Setelah kegiatan pasar di kota tutup, para pembeli dan pedagang ringkas berlalu ke asalnya. Lantaran kafilah berperahu sampan (abaikan gambaran tentang rombongan berkereta pedati diikuti kacung pemanggul buntalan seperti adegan
film-film koboi) seringkali ramai mendayung beriringan dalam konvoi, fenomena itupun menyandang sebutan.
“Mudik,” kata seseorang, entah siapa, mungkin satu di antara yang ikut atau ketinggalan, di ujung mata angin.
Mencermati alun sungai, maka orang-orang dari hulu dengan tradisi mudiknya, tak pelak lagi, menjadi orang yang senang melawan arus. Sedang orang hilir, yang segan mengukur mereka, pasti memerinci sebuah perhitungan.
Ranah keras adat Melayu pasaran mengatakan, “Jangan ukur baju di badan, tak elok mengukur orang huluan.” Sentimen kebiasaan ukur-mengukur diri itu rupanya dimafhumi sejak dulu. Orang hulu sungai terkesan disegani bagai pendatang (tapi sekaligus) penguasa dalam
hukum-tak-tertulis oleh komunitas yang menghuni kawasan hilir, pesisir, dan muara.
Sungai atau perairan galibnya urat nadi kehidupan bagi orang Melayu. Dalam rumpun tuanya di Pagaralam, terkenal lahir para pemimpin dan penguasa-datangan seperti Sjailendra membangun candi Borobudur dan Pamesjwara yang berkoloni cikal-bakal di Singapura.
Sebelum ahli teknik Belanda menimbun banyak mata air sejak awal abad 20 kemudian membentangkan jalan darat, perusahaan Amerika memasok mobil terutama jenis Jeep Willys, orang Jepang mengucurkan dana pampasan perang untuk sebuah jembatan. Tanah kelahiran orang Melayu di selatan tersebutlah Negeri Sembilan Batanghari (batanghari=sungai).
Sungai Musi, Enim, Lematang, Ogan, Komering, Burnei, Batanghari Leko, Kelingi Rawas Dalam, dan Keramasan kesembilan-sembilannya dibahasakan Elizabeth Fuller Collins, “...mengalir pelan dan anggun”. Mengalir dari kaki Gunung Dempo dan pegunungan Bukit Barisan menuju hutan bakau sepanjang pantai timur.
Mengikuti aliran sungai-sungai itu, penduduk menemukan wilayah hunian, lalu mengembangkan budayanya. Indonesia menerima “hilir-mudik” sebagai katakerja yang jadi pertanda kemajemukan adalah kebiasaan.
Etimologikanya berasal dari “milir-mudik”, kataulang berlawanan arti. Tapi fakta yang terlihat: Pangkal-konsonannya diruntuhkan sebuah proses fraktur-fonologis menahun. Sementara itu, kausa “milir” sendiri secara otonom, masih tercantum jelas pada notasi ketiga di halaman
ke-650 kamusnya.
Sebuah peta-menuju kampung-tiba di rumah: Itulah kafilah mudik yang lazim berupa orang-orang kota. Seperti terkena candu atau cinta, mereka merasa harus pulang, kembali ke asalnya, setahun sekali. Kerumunan besar, yang bagai buah-buahan tergantung di pohon kebiasaan....
