18.11.2010 15:23:29 WIB
Udara pagi bulan November yang dingin nampaknya tidak mengurungkan niat masyarakat Indonesia di Maroko untuk turut serta merayakan Hari Raya Idul Adha yang diselenggarakan oleh KBRI Rabat pada 17 November 2010. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Indonesia di Rabat dan kota sekitarnya berkumpul untuk melaksanakan solat Idul Adha yang diadakan di Ruang Serba Guna KBRI, tahun ini yang bertindak sebagai khatib adalah Saudara Khoirurrijal, M.A. mahasiswa S3 Universitas Moulay Ismail yang juga seorang Dosen di STAIN Lampung.
Usai solat Ied, Dubes RI H. Tosari Widjaya dan Ibu berkesempatan menerima ucapan selamat hari raya Idul Adha dari masyarakat Indonesia yang hadir. Masyarakat Indonesia berjumlah sekitar 100 orang, membuat perayaan Idul Adha terasa hangat dan penuh kekeluargaan seperti di tanah air.
Acara ramah tamah dilanjutkan dengan jamuan makan, makanan yang disiapkan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan di serbu habis masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah mahasiswa. Menu lebaran kali ini adalah opor dan lontong sayur, sedangkan untuk desertnya dihidangkan kue bolu, pastel dan bakwan. Masakan ini cukup memuaskan dahaga masyarakat Indonesia yang rindu kampung halaman.
Rangkaian perayaan Idul Adha 1431 H yang diselenggarakan oleh KBRI Rabat ini sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya, dengan acara diskusi yang bertema Diskusi Refleksi Idul Adha: Menumbuhkembangkan Rasa Optimisme Akan Masa Depan Bangsa yang diinisiatifi oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Maroko. Diskusi yang berlangsung mesra dan hangat ini dimaksudkan untuk menghidupkan Hari Raya Idul Adha 1431 H dengan kegiatan yang Islami dan sekaligus berdampak positif selain sebagai media silaturahmi di antara mereka. Dubes RI menyatakan dalam pidatonya sebagai Keynote Speech, bahwa Idul Adha terjadi akibat dua hal yaitu ketaatan dan keihklasan. Ketika Ibrahim dan Ismail A.S taat dan ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah, ketaatan dan keikhlasannya ini berujung kepada keberhasilan dalam penyebaran agama Islam di seluruh dunia. Karena apabila dua kata ini direfleksikan dalam setiap segi kehidupan niscaya akan membawa keberhasilan dan keoptimisan. Begitupun yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana yang bertubi-tubi, yaitu menyikapinya dengan taat dan ikhlas.
Seperti pada tahun sebelumnya, KBRI menerima titipan domba kurban yang disembelih secara bergotong royong di halaman belakang gedung KBRI. Tahun ini KBRI memotong lima ekor domba, yang disumbangkan masing-masing oleh Dubes RI, Kepala Kanselarai, staf KBRI, masyarakat Indonesia dan Raja Maroko Mohammed VI yang setiap tahun selalu memberikan sumbangan satu ekor domba kepada institusi atau perwakilan asing dari negara Islam di Rabat. Usai pemotongan, hewan kurban tersebut sebagian dimasak tongseng dan sate untuk kemudian disantap bersama di KBRI dan sebagian lagi disumbangkan kepada WNI dan masyarakat lain di sekitar Rabat.
Foto: Rahmat Azhari
