19.02.2012 00:35:42 WIB
Oleh Putra Kurusetra
SETELAH melakukan ekspedisi Sungai Musi, Sriwijaya, dan Pasemah, Sutrisman Dinah dan timnya kini melakukan ekpedisi gua purba di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Mereka ini melacak titik awal peradaban di Sumatera Selatan.
“Pada hari ini kami menjelajahi Gua Harimau. Kami menyaksikan kuburan kerangka manusia yang berusia ribuan tahun,” kata Sutrisman Dinah, seorang jurnalis dan pekerja budaya ini, Sabtu (18/02/2012).
Kerangka manusia purba itu telah diteliti oleh para arkeologi beberapa waktu lalu. Agar tidak diganggu oleh manusia yang iseng, kerangka manusia purba itu dikuburkan di lokasi tempat penemuannya.
Gua Harimau ini terletak di Kecamatan Semidangaji, yang di sekitarnya terdapat puluhan hektare kebun duku, kopi, dan karet.
Sebelumnya, Sutrisman bersama timnya melakukan penjelajahan ke Gua Putri dan Gua Silabe yang juga masih terdapat di Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji. Mereka pun bermalam di Gua Putri, Jumat (17/02/2012).
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten OKU Aufa S Sarkomi, ada puluhan gua di kabupaten tersebut, tapi gua besar antara lain Gua Putri, Gua Silabe, Gua Harimau, Gua Karang Pelaluan, Gua Akar.
Beberapa waktu lalu, Tim Peneliti dari Puslitbang Arkenas yang dipimpin Prof Dr Truman Simanjuntak, melakukan melakukan penelitian di sejumlah gua di OKU. Di Gua Harimau, selain menemukan kerangka manusia purba, mereka juga menemukan lukisan dinding berupa figura dan non
figuratif, sehingga mengubah paradigma arkelogi, yang mana selama ini mereka menyakini Indonesia Bagian Barat tidak tersentuh oleh tradisi lukisan gua.
Selanjutnya Gua Harimau dijadikan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI sebagai proyek penelitian berjangka panjang.
Menurut Sutrisman kepada detik.com, penjelajahan mereka ke sejumlah gua yang diperkirakan merupakan bagian kehidupan manusia purba, guna membaca titik awal sejarah peradaban di Sumatera Selatan.
“Penemuan-penemuan di gua ini cukup penting, sebab dapat menjelaskan keberadaan peradaban Pasemah di Bukitbarisan yang hadir sekitar 2.000 Tahun Sebelum Masehi, sehingga menjadi logis pula lahirnya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan, bukan buah dari kekuatan luar seperti
yang diyakini para sejarawan selama ini,” kata Sutrisman.
“Memang ekspedisi yang kami lakukan berjalan mundur. Dimulai dari Sungai Musi, Sriwjaya, Pasemah, dan baru di sini. Kami membaca mundur,” jelasnya.
Ekspedisi yang dilakukan Sutrisman Dinah sejak lima tahun terakhir, memang terbilang unik. Sutrisman yang berprofesi sebagai seorang jurnalis, dan menyelesaikan pascasarjana ilmu komunikasi di Universitas Indonesia lima tahun lalu, dapat dibilang bersifat individual. Tim yang dibawanya selalu berubah. Mulai dari sesama jurnalis, aktifis lingkungan, hingga para pekerja seni. Bahkan, pada awalnya dia banyak menggunakan dana pribadi, dan baru terakhir ini dia mendapatkan suntikan dana dari lembaga pers tempatnya bekerja. “Selama ini saya didukung oleh teman-teman yang sebelumnya aktif di organisasi pecinta alam Wiqwam (Universitas Sriwijaya),” ujarnya.
