Budaya

Simbolisasi dan Mistifikasi

coba

13.01.2012 08:43:15 WIB

DUA ekor macan atau harimau, diukir dalam posisi bertunggangan; Lebih tepatnya bersetubuh. Kaki depan yang ditunggangi, mencengkeram kepala anak laki-laki. Di bagian bawah kedua hewan ini, terdapat dua telak kaki di kiri dan kanan.

Juru pelihara situs megalitik Batu Macan, Idrus (79), meyakini betul bahwa gambaran kedua kaki itu dimaknai tubuh perempuan. Idrus adalah warga Desa Pagaralam, Kecamatan Pagargunung (Lahat). Petugas yang ditunjuk Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumbagsel , bercerita tentang legenda kepada Tim Ekspedisi Megalitik Pasemah.

Situs ini salah satu lokasi yang dikunjungi ketika rombongan dipandu oleh Edwin Malian (32), koordinator jurupelihara BP3 Sumbagsel untuk wilayah Lahat. Sebelumnya tim mengunjungi Situs Geramat yang terletak di Kecamatan Mulak Ulu (Lahat). Situs batu macan menjadi istimewa, selain letaknya di pekarangan rumah warga cerita Idrus bagaikan membaca undang-undang larangan perzinahan.

"Arca ini sebagai tanda dan pagar bagi masyarakat untuk berperilaku,”kata Idrus. Situs diyakini oleh penduduk sebagai pagar bagi warga untuk membatasi tindakan. Kisah turun-temurun ini disampaikan, arca megalitik ini menggambarkan perempuan yang melahirkan seorang bayi dari hubungan yang tidak sah. Kemudian bayi dicengkeram harimau, begitu pula dengan si ibu.

Bila ada warga yang melanggar, menurut Idrus, kawasan itu akan mengalami suatu kejadian aneh. Media yang diberi makna religius seperti ini, juga terdapat di Situs Tanjungaro, Kecamatan Dempo Utara dan situs Pulaupanggung, digambarkan seekor ular melilit dua manusia, mulut menganga menelan satu diantaranya.

Warga Pagaralam, terutama yang bermukim di sekitar Tanjungaro, begitu menghormati Dusun Tanjung Aro sebagai tempat sakral.

Tidak ada cerita khusus tentang pesan yang digambar melalui relief ular tersebut. Jurupelihara Situs Pulaupanggung, Darlan (36) sekaligus pemilik kebun kopi lokasi batu megalit. Suatu ketika, puterinya berusia sembilan tahun bermimpi dan disuruh menggali tempat batu lumpang berukir manusia digigit ular itu.

Situs Pulaupanggung, selain ditemukan batu lesung berukir merupakan lokasi tebaran sejumlah batu lesung. Masing-masing batu lesung, konon sering digunakan didatangi ular untuk minum, memiliki ukiran yanng berbeda. Mulai dari kepala ular, kodok, gajah, bahkan berukir kepala manusia. Ukuran hampir sama. Bahkan di pemukiman warga, terdapat berbagai lumpang batu; Warga pun tak berani memindahkan atau menggeser letak lesung tersebut.

Tradisi membuat lumpang batu, nyaris tak dikenal di daerah ini. Jejak tradisi mengukir hanya ditemukan pada rumah baghi atau rumah bari, dan tradisi mengukir dan menghias rumah tak ditemukan lagi.

Situs manusia purba dan batu gajah di Blumai, Pagaralam Utara, menggambarkan kehidupan masyarakat Pasemah pada masanya. Letaknya di pinggiran Sungai Selangis. Jurupelihara situs Blumai, Lubis (32), awalnya Batu gajah atau lebih mirip seseorang menunggang kerbau, dengan tiga tameng melindungi penunggang dan kepala kerbau.

"Tidak ada cerita khusus tentang batu ini. saya menjadi juru pelihara mengantikan orangtua dan belum ada cerita asal usul batu ini," jelasnya. Kecuali tentang kepindahan batu megalit berbobot ratusan ton ini dari pinggir sungai dan dipindahkan ke tengah sawah warga.

Dari relief yang terukir, tergambar seperti manusia menunggang kerbau dan memegang tanduk yang besar. Memang ada kebiasaan sebagian kecil warga Pagaralam berburu kerbau liar. Untuk menangkap kerbau liar –lebih tepanya diliarkan—di kawasan Tebat Gunung Dempo Selatan masih kerbau pemikat. (Sriwijaya Post)

Komentar