Budaya

Sungai Musi dalam Lagu yang Ironi

coba

12.02.2012 13:12:44 WIB

Oleh T.WIJAYA

Palembang di waktu malam
Di kala terang bulan
Bersinar di atas sungai musi
Beriring nyanyi sang dewi
Terbayang semua harapan
Dalam keindahan itu
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu Kesunyian hatiku

DI tahun 1970-an hingga 1980-an, lirik lagu “Mutiara Palembang” dapat dikatakan hampir dinyanyikan oleh setiap remaja dan anak-anak di Palembang. Bahkan lagu milik kelompok musik Golden Wing, juga dikenal di kalangan remaja di luar Palembang. Tak heran, mereka yang dilahirkan tahun 1950-an hingga awal 1970-an, memiliki kenangan tersendiri dengan lagu ini.

Pada lirik lagu “Mutiara Palembang”, tampaknya keindahan Sungai Musi menjadi inspirasi bagi grup yang digawangi Piter Kenn (gitar), Kun Lung alias Iksan (bass), Carel Simon (vocalis), Adhi Mantra (keyboard), serta Victor Eky (drums), saat meluncurkan album “Mutiara Palembang” tahun 1974.

Meskipun hanya menyebutkan satu kali “Sungai Musi”, tapi penggambaran suasananya, memberi kesan seperti bersenandung di atas Jembatan Ampera sambil memandang Sungai Musi yang memberikan “jarak” dalam imajinasi kenangan. Suasana jarak ini terlihat dari kata malam, terang bulan, keindahan itu, telah hilang, dulu, jauh dariku, sang dewi, dan melepas rindu.

Jauh sebelumnya, medio tahun 1960-an, yang mana pemerintahan Soekarno melarang beredarnya musik berirama rock n roll di kalangan anak muda Indonesia, sebuah lagu melo yang diciptakan dan dinyayikan Alfian berjudul “Sebiduk di Sungai Musi” hampir setiap saat dinyanyikan, atau didengarkan dari radio oleh para remaja di Palembang maupun di kota lain di Indonesia.

Pada lagu ini, meskipun temanya tentang cinta, tapi sangat terasa penggambaran suasana di Sungai Musi. Bahkan pada lagu ini kita serasa dekat dengan air Sungai Musi. Coba simak liriknya ini: Ombak pun datang perahuku pun oleng. Tersentuhlah ia olehku...

GOLDEN Wing bubar sehabis merilis album lagu melayu pada tahun 1975, salah satu lagu yang cukup terkenal yakni “Sembambangan”. Tak lama kemudian, seperti ditulis Musiardanis dalam artikel "Golden Wing, Band Palembang Tempo Doeloe" di blognya http://musiardanis.multiply.com, Carel Simon bersama istrinya Hera Sofyan serta S. Tarno mendirikan kelompok musik No Wing, yang mengkhususkan merekam lagu-lagu pop daerah di Sumatera Selatan. Musiardanis merupakan teman Karel Simon dan Piter Kenn. Mereka sempat bergabung dalam kelompok musik Pionir yang didirikan tahun 1968 atas dukungan Batalyon Zipur (Zeni Tempur) Palembang, yang membelikan peralatan musik.

Sejak Golden Wing bubar, dapat dikatakan nyaris tidak ada lagu yang meledak seperti “Sebiduk di Sungai Musi” dan “Mutiara Palembang”, meskipun jumlah kelompok musik atau penyanyi di Palembang sudah lebih banyak dari sebelumnya. Tampaknya mereka kalah bersaing dengan grup musik atau penyanyi di Jakarta, yang sangat ditunjang oleh peralatan dan studio musik yang jauh lebih maju.

Akhir 1990-an, Syahrul G. Bayumi, yang pernah berjaya dengan grup musik Arulan—yang sukses menyanyikan lagu-lagu daerah di Sumatera Selatan pada era 1960-an---mendirikan Studio Do To Do.

Keberadaan studio musik di luar TVRI dan RRI, itu meskipun belum melahirkan grup atau penyanyi yang mumpuni di masa itu, tapi telah merangsang para peminat musik buat mendirikan studio musik. Termasuk studio musik mini, yang pada saat bersamaan tumbuh bak jamur di Yogyakarta dan Bandung.

Baru tahun 2003, seorang penyanyi balada Filuz Mursalin bersama pekerja teater Conie Sema melahirkan lagu berirama funky dengan judul “Cup Mutung” tapi kemudian popular dengan judul “Yak Wak”. Hal yang baru lagu ini yakni menuliskan lirik dengan Bahasa Palembang yang digunakan sehari-hari. Isinya tentang sosok wong Palembang yang digambarkan secara satire.

Meskipun tidak menuliskan diksi Sungai Musi, tapi penggambaran kehidupan di sekitar Sungai Musi sangat kental terasa. Misalnya menyebutkan anak Sungai Musi, yakni Sungai Kedukan, serta nama kampung yang berada di tepian Sungai Musi, seperti Tanggabuntung, atau tentang bencana yang selalu ditakutkan warga yakni kebakaran yang membuat rumah mutung atau terbakar. Kata mutung umumnya diperuntukkan pada benda kayu yang terbakar. Dan seperti diketahui, rumah-rumah panggung yang berada di sepanjang Sungai Musi terbuat dari bahan kayu.

Simaklah sebagian liriknya:

Cup, cup mutung
Balek ke Tanggabuntung
Cup, cup mutung
Meleng keno pentung
Cup, cup mutung
Banyak rumah mutung
Cup, cup mutung
Aku minta tulung

Entah kenapa saat diluncurkan dalam irama remix—sebuah aliran musik yang melanda Palembang dalam 15 tahun terakhir—lagu "Cup Mutung" berubah judul menjadi “Yak Wa”.

Dapat dikatakan lagu “Cup Mutung” sangat popular di masyarakat Sumatera Selatan. Saat itu "Cup Mutung" seperti menjadi lagu “wajib” yang dinyanyikan para penghibur saat tampil di pelosok pedalaman Sumatera Selatan, misalnya di wilayah pesisir Tulung Selapan dan Air Sugihan. Hal yang sama juga terasa di kampung-kampung perkotaan di Palembang.

Setelah ledakan “Cup Mutung” sejumlah penyanyi balada lainnya di Palembang, seperti Cipto Sekojo, Iir Stoned, Kamsul A. Harla turut melahirkan sejumlah lagu dengan lirik Bahasa Palembang dalam beragam aliran musik.

Ledakan kembali dirasakan pada lagu “Ya Saman” karya Kamsul A. Harla yang diluncurkan tahun 2009. Bedanya dengan lagu “Cup Mutung”, lagu ini dapat menembus kalangan bawah dan atas. Mungkin, lantaran liriknya ditulis dengan Bahasa Palembang yang lebih halus dan tidak satire. Tak heran, pada saat pembukaan SEA Games XXVI yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, lagu ini dinyanyikan grup musik Armada.

Sekali lagi, lirik lagu “Ya Saman” dalam membangun penggambaran kisah cinta masih berhubungan dengan Sungai Musi. Bahkan terkesan mengambil semua simbol besar yang ada di Sungai Musi, baik dari masa lalu maupun kekinian, seperti Batangahari Sembilan, Pulau Kemaro, Sungsang, Pusri (PT Pupuk Sriwidjaja).

Simaklah liriknya:

jelik belumban perau di sungai musi
janganlah lupo beli telok abang
cantik rupo penyabar dan baik hati
adek manis berambut panjang di kuncit kepang
lika liku banyu batang ari sembilan mengalir bermuaro kei sungai musi jugo
elok lah bunga cindo menawan muat kakak siang tegenang malem tejago
pulao kemarao melah sungi musi ke sungsang
nak ke pusri laju tesasar ke kalidoni
badan saroh pkiran resah hati teguncang
ngarepke adek kalu bae galak jadi bini

“Ya Saman” sendiri merupakan ujaran wong Palembang buat menyatakan sesuatu yang luar biasa, seperti “O My God!” bagi orang Inggris atau Amerika Serikat. Ujaran ini sebenarnya berasal dari ujaran umat muslim di Palembang, sebagai pengaruh dari Tarekat Samaniyah. Tarekat ini dilahirkan Syaikh Muhammad Saman dari Madinah, Arab Saudi pada abad ke-17. Di Palembang tarekat ini dibawa dan diajarkan oleh Abdul Samad Al-Valimbani, yang sampai saat ini masih dilakukan sebagian umat muslim di Palembang.

Nah, diyakini bagi mereka yang menyebutkan nama “Saman” maka dia akan terbebas dari kesedihan, mendapatkan berkah, atau merasa tenang. Di Aceh, ajaran ini melahirkan tarian Seudati.

Mengutip artikel “Perkembangan Tasawwuf di Indonesia” yang ditulis Hammad (http://www.oocities.org/tau_jih/d-tasawuf.htm), tarekat yang ditulis Syaikh Siddiq al madani, murid Syaikh Muhammad Saman, dituliskan, “Barang siapa berziyarah ke makam Rosulullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia.”

Juga disebutkan, “Siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah kemakamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya.”

Ironi Sungai Musi
Meledaknya lagu “Cup Mutung” dan “Ya Saman” memang tak lepas dari perkembangan teknologi musik. Di Palembang, sama seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia, telah memiliki banyak studio musik. Dampaknya setiap orang dapat merekam di studio musik, sebab biaya sewa studio yang relatif terjangkau. Selain itu berkembangnya teknologi komputer dan alat komunikasi seperti handphone, memungkinkan penyebaran lagu atau musik di masyarakat tidak bergantung lagi dengan kaset, cd, vcd, atau siaran radio dan televisi.

Ironinya, dengan perkembangan teknologi musik dan komunikasi itu, pencipta dan penyanyi lagu “Cup Mutung” dan “Ya Saman” kondisinya sama memprihatinkan dengan kebanyakan masyarakat yang menetap di tepi Sungai Musi pada masa kekinian.

Bayangkan, saat seorang pebisnis musik di Palembang membuat album lagu Palembang yang mana salah satu lagu yang direkam “Cup Mutung”, Filuz hanya mendapatkan penghargaan berupa 20 keping CD album. “Saya diminta menjual sendiri, setelah laku dijual baru uangnya buat saya,” kata Filuz.

Pada rekaman kedua, yang dilakukan sebuah perusahaan radio, Filuz hanya mendapatkan bayaran sebesar Rp1,5 juta.

Sementara nasib Kamsul A. Harla, juga lebih miris lagi. Selama lagu itu dikenalkan di masyarakat, termasuk menyemarakkan SEA Games XXVI, dia baru mendapatkan penghargaan sebesar Rp4 juta. Dana ini diberikan oleh sebuah perusahaan perbankan di Palembang.

Jelas, pendapatan kedua penyanyi itu mungkin tidak seimbang dengan penghasilan para penjual cd dan vcd bajakan, termasuk pula dengan honor yang diterima para penyanyi OT (Organ Tunggal) yang setiap penampilannya “wajib” menyanyikan lagu “Cup Mutung” dan “Ya Saman”.

Menyimak empat contoh kesuksesan di atas, mereka yang telah mendapatkan “berkah” dari Sungai Musi, nasibnya seperti tergantung dari perkembangan sosial-ekonomi masyarakat di sekitar Sungai Musi.

Dulu, saat masyarakat di tepi Sungai Musi kondisi ekonominya relatif baik, Alfian dan personel Golden Wing juga merasakan hal yang sama. Kini, ketika kemiskinan terus tumbuh di tepi Sungai Musi, Filuz dan Kamsul merasakan hal yang sama pula.

Terlepas dari fakta itu, ke depan, Sungai Musi diharapkan tetaplah menjadi inspirasi bagi para seniman musik buat melahirkan karya-karyanya.

Setidaknya seperti yang diharapkan Black Brothers pada lagunya “Janji Sungai Musi”.

Di Sungai Musi, wajah angin yang terpendar lesuh dan dingin
Sedang matahari pun telah menjelang di ujung air sana
Di Sungai Musi, kutermangu dan terbius dalam keresahan
Sedang tangis dan lambaian tanganmu jauh dipelik kabut..
O, sayang, nanti aku di sana...[*]

Komentar


Berita Terkait