17.05.2010 10:32:49 WIB
Oleh B. TRISMAN
(Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan)
PEPATAH lama mengatakan bahwa lama berjalan itu banyak yang dilihat dan lama bergaul banyak pula yang dirasakan. Pepatah tersebut kalau dikaitkan dengan “pergayutan” saya dengan H. Johan Hanafiah, yang memang belum dapat digolongkan lama.
Dari sisi masa, interaksi saya dengan Pak Johan mungkin tidak selama teman-teman lain. Namun, banyak hal yang saya tangkap dari seorang Johan Hanafiah selama bergaul dan berdiskusi dengan beliau. Terakhir berkomunikasi dengan Pak Johan ketika beliau tengah dirawat di rumah sakit. Saya mengetahui Pak Johan sedang dirawat dari status beliau di jejaring facebook. Beliau menulis bahwa beliau sedang berada di ruang perawatan jantung salah satu rumah sakit di Palembang. Pada saat itu, saya juga sedang berada di sebuah rumah sakit karena penyakit yang sama dengan yang diderita Pak Johan. Namun, saya upayakan memberi komentar terhadap status beliau tanpa beliau harus tahu bahwa saya juga sedang dirawat.
Beberapa minggu berikutnya, saya menerima pesan dari Saudara Linny Oktovianny yang mengabarkan bahwa Pak Johan telah berpulang ke haribaan-Nya. Saat menerima pesan itu, saya juga sedang terbaring di rumah sakit. Saya tidak mampu memerintahkan jari saya untuk membalas pesan dari Linny tersebut karena berkecamuknya berbagai pikiran di kepala saya. Kenangan dengan Pak Johan satu persatu melintas di benak saya saat itu. Tokoh dan budayawan Sumatera Selatan yang selalu memberikan dorongan dan perhatian terhadap persoalan kebahasaan dan kesastraan tersebut lebih dulu dipanggil Yang Mahakuasa.
Dalam pemartabatan budaya Sumatera Selatan, sosok Johan Hanafiah merupakan salah seorang tokoh yang memberikan banyak kontribusi pemikiran. Banyak gagasan yang dilontarkan Pak Johan berkaitan dengan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Sumatera Selatan dalam kaitannya dengan geliat budaya Bumi Sriwijaya. Johan Hanafiah sangat mendambakan agar khazanah bahasa dan sastra Sumatera Selatan turut berperan dalam percaturan budaya di tanah air. Mudah-mudahan hasrat mulia Pak Johan tersebut menjadi catatan bagi pencinta budaya Sumatera Selatan umumnya, komunitas bahasa dan sastra khususnya.
Ada beberapa gagasan yang sekaligus juga keinginan dari seorang Johan Hanafiah terkait dengan pemeranan Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah penyumbang khazanah bahasa dan sastra di tanah Air. Suatu kali Pak Johan pernah berujar bahwa sisi budaya diharapkan semakin membuka mata orang luar daerah Sumatera Selatan tentang keramahan bumi Sriwijaya. Raihan keberhasilan dalam menata aspek fisik Sumatera Selatan akan semakin bermakna jika diiringi dengan geliat budaya masyarakatnya.
Pak Johan di mata saya merupakan sosok yang murah berbagi pemikiran dan pengalaman, terutama yang berkaitan dengan bidang yang menjadi perhatian beliau. Dengan tutur yang komunikatif, Pak Johan mengarahkan perhatian saya kepada masalah yang sebetulnya sudah menjadi pemikiran beliau. Cara beliau itulah yang semakin menjembatani pemahaman saya terhadap pemikiran-pemikiran yang dilontaerkan oleh seorang Johan Hanafiah.
Sisi Bahasa
Terdokumentasikan dan terpakainya kosa kata bahasa daerah di Sumatera Selatan untuk kepentingan yang lebih luas (nasional) merupakan salah satu hasrat yang selalu disebut-sebut oleh seorang Johan Hanafiah. Pak Johan sangat paham bahwa kata “pantau” dan kata “mantan” merupakan kosakata dalam khazanah bahasa daerah Sumatera Selatan yang telah menjadi milik bangsa Indonesia. Dalam kaitan dengan itu, Pak Johan merekomendasikan agar Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan melaksanakan kegiatan yang ada kaitannya dengan pengumpulan kosakata daerah tersebut, dalam upaya penyusunan kamus daerah maupun dalam upaya penasionalan kosakata daerah. Keinginan Pak Johan itu seperti gayung bersambut karena pada saat itu Pusat Bahasa sedang melaksanakan pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Usulan Sumatera Selatan agar beberapa kosa kata dari bahasa daerah yang ada di Sumatera Selatan dapat menjadi lema KBBI edisi terakhir diterima oleh Pusat Bahasa dan kini kosa kata itu telah turut memperkaya kamus besar itu.
Dalam kaitannya dengan pendokumentasian bahasa, Johan Hanafiah berpandangan bahwa semua kekayaan bahasa daerah Sumatera Selatan harus terhimpun dalam kamus. Tidak sekadar itu, Johan Hanafiah memberikan masukan kepada Balai Bahasa untuk melakukan kajian tentang sejarah kebahasaan Sumatera Selatan. Memamg, kajian itu—menurut Johan Hanafiah—memerlukan waktu yang panjang karena mau tidak mau akan bersinggungan dengan sejarah masa lalu bumi Sriwijaya. Persebaran bahasa-bahasa di Sumatera Selatab sangat berkait erat dengan masa lalu masyarakat Sumatera Selatan itu sendiri. Sisi-sisi ini pun seyogianya diungkapkan melalui kajian yang sistematis.
Selanjutnya, masuknya unsur kosakata daerah dalam beberapa karya-karya penulis Sumatera Selatan rupanya sangat menggembirakan Pak Johan. Beliau melihat kreativitas pengolahan kekayaan budaya daerah tersebut ke dalam karya sastra dianggap sebagai sebuah langkah strategis dalam mengabadikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Sumatera Selatan. Penggalaian dan pengembangan kreatif yang dilakukan oleh beberapa penulis Sumatera Selatan diharapkan Johan Hanafiah akan tetap bersinambung. Cara yang dilakukan oleh para penulis Sumatera Selatan itu dianggap sebagai sebuah langkah dalam menguniversalkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Sumatera Selatan. Kreativitas seperti itu harus tetap tertanam dalam karsa seni para pekerja seni Sumatera Selatan.
Sisi Sastra
Seperti ketika berbicara tentang bahasa, Johan Hanafiah memiliki “segudang” gagasan tentang pengembangan sastra Sumatera Selatan. Ketiga komponen sastra (penulis, karya, dan pembaca) memiliki peran masing-masing dalam kehidupan sastra suatu bangsa. Johan Hanfiah melihat bahwa ketiga unsur itu harus mendapat perhatian jika ingin sastra itu memiliki makna secara keseluruhan. Sisi penulis ternyata menjadi perhatian utama Johan Hanafiah. Johan Hanafiah berpandangan bahwa penulis Sumatera Selatan itu tidak akan pernah besar kalau tidak ada yang membesarkan. Sementara itu, wahana pembesarannya tersebut kadangkala memang harus diupayakan. Wahana itu tidak akan pernah muncul dengan sendirinya.
Dalam kaitan dengan itu, Johan Hanafiah melihat bahwa—dalam kehidupan global—jejaringlah yang paling dibutuhkan oleh penulis-penulis Sumatera Selatan. Dari sisi karya—Johan Hanafiah—melihat bahwa karya-karya penulis Sumatera Selatan sudah mencapai standard estetika tertentu. Munculnya karya-karya penulis Sumatera Selatan di media nasional dan internasional setidak-tidaknya merupakan salah satu sinyalemen ke arah itu. Namun, Johan Hanifiah menginginkan kondisi seperti itu lebih berkembang lagi. Untuk itu, Johan berharap agar jejaring itu ada yang merajutnya.
“Apa yang dapat kita lakukan di Sumatera Selatan?” Tanya Pak Johan suatu hari kepada saya. Pada saat itu, Dewan Kesenian Jakarta sedang merencanakan hajat besar dengan menghadirkan para penyair dunia di tanah air. Jika Sumatera Selatan dapat bekerja sama dengan DKJ dalam pelaksanaan hajat besar itu, minimal ada rekan-rekan penulis Sumatera Selatan dapat berpartisipasi dalam kegiatan itu. Artinya, keterlibatan Sumatera Selatan sebagai penyelenggarakan kegiatan itu turut menghadirkan wahana komunitas sastra Sumatera Selatan. Atas pendekatan teman-teman penulis Sumatera Selatan, kegiatan besar Dewan Kesenian Jakarta itu dapat dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumatera Selatan. Hasrat Johan Hanafiah untuk melihat penulis Sumatera Selatan tampil bersama-sama penulis dunia terwujud. Anwar Putra Bayu dan Taufik Wijaya memperoleh kesempatan berharga dalam momen yang sangat bermakna tersebut. Di samping itu, para penyair dunia yang hadir di Bumi Sriwijaya pun berkenalan dengan bidang seni lainya dari komunitas seni Sumatera Selatan.
Selanjutnya, Johan Hanafiah mendorong para penulis Sumatera Selatan untuk berpartisipasi dalam hajat besar lainnya dari Dewan Kesenian Jakarta yang bertajuk Festival Sastra Nusantara. Para penulis Sumatera Selatan—Anwar Putra Bayu, Taufik Wijaya, Nurhayat Arif Permana, Anto Narasoma, Febri Al-Lintani, dan Ichrtiar Hidayati —diberi kesempatan untuk mempublikasikan dan membacakan karya-karya mereka melalui kegiatan tersebut. Johan Hanafiah melihat bahwa kegiatan tersebut bisa menjalinkan komunikasi, baik fisik maupun kreatif, karya dan pengarang Sumatera Selatan dengan penulis di luar daerah Sumatera Selatan. Di samping itu, karya-karya pengarang Sumatera Selatan yang terhimpun dalam antologi tersebut diyakini akan menyebar ke kantong-kantong budaya di tanah air. Johan Hanafiah mengistilahkannya sebagai “hibah budaya”.
Hasrat agar karya pengarang Sumatera Selatan dapat “menjelajahi” Nusantara atau dunia selalu tertanam dalam batin, Pak Johan! Suatu kali, Pak Johan pernah berucap bahwa betapa bangganya jika karya-karya teman-teman dibicarakan di berbagai forum. Untuk sampai kearah sana, tentu intensitas penyebaran karya teman-teman dari Sumatera Selatan harus lebih dipertinggi. Dalam konteks seperti itu, seorang Johan Hanafiah berpikir untuk mendorong penerbitan karya-karya penulis Sumatera Selatan agar menyebar di masyarakat luas.
Johan Hanafiah juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap khazanah sastra lama, baik lisan maupun tulis. Beliau berpikir bahwa kekayaan Budaya Sumatera Selatan itu suatu saat akan sirna jika tidak ada upaya pendokumentasiannya. Sekali lagi mungkin sebuah kebetulan jika hasrat Pak Johan itu dilangsungkan oleh Yayasan Pernaskahan Nusantara dengan melakukan identifikasi dan pemotretan naskah-naskah Palembang. Informasi dan gambaran tentang naskah-naskah Palembang itu sekarang terhimpun dalam sebuah buku katalog naskah-naskah Palembang yang diterbitkan oleh Yannasa atas bantuan Ford Foundation.
Pada saat semua komponen bangsa digetarkan dengan pesoalan karya dan hak cipta, Pak Johan memberikan masukan agar ada yang memprakarsai pengumpulan kekayaan lisan Sumatera Selatan. Pak Johan berpandangan bahwa langkah itu harus segera dilakukan agar kekayaan budaya Sumatera Selatan itu tetap menjadi milik masyarakat Sumatera Selatan sepenuhnya. Banyak sekali tradisi lisan di Sumatera Selatan yang harus menjadi perhatian berbagai pihak. Johan Hanafiah mendorong komunitas dan pekerja seni Sumatera Selatan untuk menggali dan merevitalisasi seni tradisi tersebut.
***
Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kaya dengan aset budaya, termasuk di dalamnya sisi bahasa dan sastra. Johan Hanafiah melihat bahwa aset budaya itu antara lain dapat berfungsi sebagai jembatan pemahaman antarbangsa. Oleh karena itu, Johan Hanafiah mendambakan bahwa daerah Sumatera Selatan juga dilirik karena sisi budayanya itu.
Hasrat ke arah itu dimanifestasikan Johan Hanafiah dengan mendorong agar kekayaan budaya Sumatera Selatan dapat terdokumentasikan sehingga akan menjadi kekayaan daerah yang kemungkinan juga akan menjadi aset bangsa. Tidak mudah memang mewujudkan gagasan besar itu dalam rentang waktu yang relatif singkat. Namun, Johan Hanafiah berpendapat bahwa tujuan itu akan tercapai jika komunikasi antarpekerja budaya terlaksana secara berkelanjutan. Selanjutnya, ketersebaran karya-karya pekerja seni Sumatera Selatan juga dianggap sebagai sebuah jembatan pemahaman budaya yang pada akhirnya juga memperkokoh sendi berkesenian Sumatera Selatan.
Johan Hanafiah telah berupaya meneruskan “rajutan” jejaring budaya dengan mendorong kehadiran karya-karya serta keterlibatan penulis-penulis Sumatera Selatan dalam peristiwa-peristiwa budaya nasional dan internasional. Dalam konteks ini, Pak Johan berpandangan bahwa sesuatu itu tidak akan pernah besar jika tidak dibesarkan. Wadah inilah yang selalu menjadi pemikiran Johan Hanafiah terkait dengan sisi karya dan pengarang Sumatera Selatan secara keseluruhan.
Pak Johan telah terlebih dahulu dipanggil mengahadap Yang Kuasa. Hasrat dan gagasan beliau tentang upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Sumatera Selatan mudah-mudahan tetap tumbuh dan berkembang sepanjang zaman. Belum semua hasrat dan gagasan beliau dapat diwujudkan semasa hidup beliau. Mudah-mudahan hasrat dan gagasan beliau itu menjadi tugas kita bersama sehingga geliat budaya Sumatera Selatan dapat berfungsi sebagai jembatan pemahaman antarbangsa dan juga menganjungkan insan budaya Sumatera Selatan dalam konteks yang didambakan. Semoga hasrat dan gagaan Pak Johan itu menjadi catatan bagi kita bersama.
Palembang, Mei 2010
