26.11.2009 06:07:52 WIB
Oleh ANTHONY FENTON
HALIFAX (IPS) – KETIKA para elit militer dunia berkumpul di sebuah hotel yang dijaga ketat untuk membahas masa depan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), para demonstran mempertanyakan legitimasi organisasi ini, sifat kerahasiaan, dan kurangnya debat demokratis tentang kebijakan perang di Afghanistan yang kian tak populer.
Sebuah pesawat berhiaskan “Amerika Serikat” yang mengesankan menyambut para tamu di landasan bandar udara Internasional Halifax Jumat lalu, ketika lebih dari 250 pemimpin tinggi militer dunia Barat dan peserta diskusi panel turun di kota untuk inaugurasi Forum Keamanan Internasional Halifax.
Forum ini dibiayai oleh pemerintah Kanada dan lembaga pemikiran German Marshall Fund yang berkanor di AS. Lebih dari 60 persen peserta datang dari negara-negara penyelenggara untuk apa yang dijuluki konferensi ala Forum Ekonomi Dunia untuk militer.
Dalam pengumuman mengenai Forum itu Juli lalu, Presiden German Marshall Fund Craig Kennedy menyebutnya ”sebuah langkah dalam proses perubahan percakapan” mengenai peran Kanada dalam ‘komunitas trans-Atlantik’ ke arah pengakuan sebagai kekuatan papan atas yang layak duduk satu meja dengan negara-negara kuat di dunia.
Transformasi Kanada menjadi kekuatan yang punya kemampuan kontrapemberontakan dan kontribusinya dalam perang di Afghanistan selatan mendapat respek dari negara kunci NATO, Amerika Serikat, yang pada gilirannya meningkatkan profil globalnya di antara sekutu NATO lainnya.
Dalam sesi pembukaan, yang menampilkan Menteri Pertahanan Kanada Peter MacKay dan Menteri Pertahanan AS Robert Gates, MacKay berkata, ”Kami bangga mengetahui bahwa kontribusi Kanada untuk kerja sama trans-Atlantik dianggap sebagai teman dan sekutu yang dapat dipercaya.”
Gates memuji Kanada sebagai ”kontributor utama” dalam perang Afghanistan dan membantu “menjaga garis Selatan sebelum bantuan militer AS tiba,” yang dimulai dari gelombang kecil pada hari-hari terakhir pemerintahan Bush, lalu didukung Presiden Barack Obama dengan penambahan sekitar 20.000 pasukan ke wilayah konflik sejak Maret silam.
Saat ini, pemerintahan Obama menimbang perlu-tidaknya melakukan “pengerahan” seperti di Iraq dengan penambahan puluhan ribu pasukan di Afghanistan. Mantan Kepala Staf Pertahanan Kanada Rick Hillier, yang berbicara di sebuah panel tentang perang dengan Senator Republik John McCain, pada Sabtu lalu, berkata ”Gerakan itu… fundamental di sini, sangat penting.”
Senator McCain bersikeras bahwa pengerahan seperti di Irak bisa saja diterapkan di Afghanistan dan itu tahun depan hingga 18 bulan, ”Kita bisa mengubah situasi tersebut.”
Sama dengan pertemuan tingkat tinggi di antara elit global lainnya, sebagian besar agenda Forum itu off-the-record dan tertutup untuk media. Ada lebih dari 25 wartawan yang “menempel” selama Forum itu, dengan ulasan mereka hanya dapat dilaporkan berdasarkan prinsip ‘Chatham House Rules” – artinya, bukan berasal dari individu-individu tertentu. Tapi sebagian besar wartawan diberi akses terbatas terhadap para panelis dan peserta, serta diasingkan dalam ruang pers yang dikontrol ketat.
Dalam sambutan yang sudah dipersiapkannya, Peter MacKay menunjuk format ini sebagai ”suatu kesempatan di mana orang bisa bicara secara terbuka dan jujur di antara teman”, sekalipun sebagian besar di luar soal kebijakan publik. Berlawanan dengan suara-suara tentang ketidakdemokratisan forum ini, MacKay berkata kepada IPS bahwa dia merasa konferensi ini adalah ”sebuah contoh promosi demokrasi, memiliki forum internasional seperti ini… berbicara tentang isu-isu yang berhubungan dengan demokrasi di dunia.”
MacKay juga berbicara dengan bangga kepada IPS bagaimana”Amerika Serikat dan Kanada bekerja sama di masa lalu dalam mempromosikan demokrasi, dan Afghanistan adalah sebuah contoh yang baik.”
Forum Halifax dilaksanakan menjelang pelantikan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, yang memenangi pemilihan yang disponsori NATO Agustus lalu, yang dinilai penuh kecurangan.
Sebagai konferensi terbesar yang pernah digelar di Kanada, Halifax dipandang sebagai tempat ideal karena letak geografis yang strategis, dan posisinya sebagai tempat peluncuran pasukan militer Kanada. Meski Halifax dikenal sebagai komunitas pro-militer, tapi pada Jumat lalu sekelompok kecil demonstran mengecam forum itu. Mereka menyebut forum itu sebagai “konferensi perang” yang diadakan untuk “mencari pembenaran atas ekspansi global NATO dan demi memperluas pendudukan ilegal yang sedang berlangsung di Afghanistan.”
Keesokan harinya, para demonstran dalam jumlah lebih besar menghadirkan mantan anggota parlemen Afghanistan Malalai Joya, yang sedang berkeliling Amerika Utara untuk mempromosikan buku terbarunya, A Woman Among Warlords.
Sebagai pengkritik yang blak-blakan terhadap pendudukan di negerinya, Joya menyerukan agar NATO menarik pasukannya. Tak ada warga Afghanitan ikut dalam Forum itu, dan Joya terpaksa menyampaikan pidato singkat yang dipisahkan dari lokasi Forum oleh pagar polisi.
Joya mengatakan kepada lusinan demonstran yang riuh itu bahwa invasi ke negaranya mendorong penduduk Afghanistan “dari wajan penggorengan ke api karena mereka berada di dalam kekuasaan fotokopi Taliban,” ujarnya merujuk pemerintahan Karzai yang korup, yang terdiri atas panglima-panglima perang terkemuka dan tersangka penjahat perang.
Joya menambahkan, gelombang pasukan AS ke Afghanistan ”akan membuat lebih banyak warga sipil terbunuh” dan ”berbagai kebijakan pemerintahan Obama terhadap Afghanistan tak berbeda dengan Bush.”
Dalam konferensi pers pada Jumat itu, Senator McCain berujar kepada IPS bahwa dia akan “senang bertemu” dengan Joya, dan mengatakan “Joya memiliki semangat yang sama di sini di Kanada dan Amerika Serikat, yang membagi pandangannya dengan tepat.”
Sebuah jajak pendapat CBS awal pekan lalu menunjukkan 69 persen warga AS menganggap perang Afghanistan berada di jalur yang salah, sebuah level penolakan tertinggi yang belum pernah terjadi selama delapan tahun pendudukan. Selan itu, McCain menambahkan bahwa, ”mayoritas penduduk Afghanistan tidak membagikan keadaan itu.”
Rupanya, tak memahami posisi Joya terhadap perang, McCain berkata, ”dalam serangkaian percakapan kami, saya juga akan mencoba untuk mendapatkan darinya bagaimana dia memandang situasi itu di Afghanistan setelah seluruh pasukan ditarik.”
Awal pekan ini, Joya berkata kepada koresponden IPS, Chris Arsenault, dalam sebuah wawancara, bahwa, ”perang di Afghanistan telah mendorong terorisme, sekalipun tujuan (perang itu) memeranginya. Warisan atas konflik itu membuat kelompok-kelompok ekstrimis mengambil keuntungan atas keluhan-keluhan terhadap NATO.”
”Mereka [pasukan pendudukan] mengatakan jika pasukan pergi, Taliban akan memakan kami. Tapi mereka mendukung Taliban saat ini, mendukung para panglima perang. Keduanya memakan kami. Melawan satu musuh lebih mudah ketimbang dua musuh. Kami betada di antara dua musuh [para penjajah dan kaum ekstrimis],” ujar Joya, yang mendesak penarikan pasukan dengan segera.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
