21.01.2012 02:38:57 WIB
pasar Pahing
(wedangan di pasar Plumbungan)
dingin membenam pagi
membasah jerami, kecipak sendal
menyisa buket genangan hujan
spanjang loslos kusam
derai cakap menghujam hangat
sejak puluhan tahun silam, saat cakruk
belum diganti loslos memanjang
saling sapa guyub, andom katresnan
bukan pula senyum dipaksa
siasat laba atau mencari muka
seperti di kota atau ujung benua sana
semata bersua nyangnyangan harga
di pasar ini sejak berpuluh tahun silam
tampak kusam sederhana
mengemas bakulan apa adanya
semua asli, bathi sithik yen ngijabahi
loslos wedangan, mengepulkan tawa
membenam pagi dengan cerita
berlintinglinting tembakau pun secangkir
teh panas legi kenthel, berjamjam
tanpa risau dikejar arloji
nan bergegas membingkas watak
mengejar omset berlipat, efisiensi
pun dalam berteman
pun loslos bakul janganan
ruparupa daging dan gorengan
barang pabrikan, derai cakap menghujam
spanjang pagi hingga siang menjelang
di pasar ini, asli. Sejak berpuluh tahun silam
saling sapa guyub andom katresnan
memecah dindingdinding relasi
bahwa hidup bukan sekedar jualbeli
Jakarta, 20 Januari 2012
Cah Ayu
(api itu masih ada)
nyiprat ke dasar hati
bayang itu. Menyesat
pipimu
menggenang pandang,
nglangut. Spanjang petang
idepmu
setetes embun
menciprat bayang
bibirmu
daunan basah.
membincang cumbu
di kemulku
lidahmu
membenam mulut
menggasak langitlangit
di rahangku
biar bayang itu terus menari
menggrayang angan. Menyesat
di kedalaman kalbu
Jakarta, 19 Januari 2012
Tri Sakti
(tafsir puisi seruan Bung kepada kami)
daulat kami,
tal boleh sesiapa
memijakmijakkan mau
bedil uang pun kembang setaman
tak menghentikan jalan kami
tuntaskan segala Visi
sejarah tubuh dan Anganangan
sory, mister. Kami tepis uluran tanganmu
setulus apapun niat baikmu, sebab
uluran tangan hanya membuat lumpuh kaki
lumpuh badan lumpuh jiwa dan lumpuh segenap nyali
biarkan tubuh kami
berdiri di atas kaki sendiri
bergerak, melatih otototot
menghempaskan peradaban
yang melucuti nyali tiga setengah abad
nenek moyang kami
biarkan angan kami
temukan gelombang
menjejak kembali jiwa
pun nyali nenek moyang kamii
sejak beratus abad silam
adab kami
telah melintasi jejak
ratusan generasi nenek moyang
(nenak moyang kami
bukan nenek moyangmu
yang kau-mesti-kan berkelahi satu sama lain
dalam membangun adabmu)
biarkan kami bergerak
dengan watak peradaban
saling memberi pun saling mengisi
bak kawanan lebah, menyatu
tuntaskan segala visi
sejarah tubuh dan Anganangan kami
Anyer, 15 Januari 2012
Vivere Pericoloso
(surat kepada Bung)
debu hitam peradaban
terus merancap, tumbuhkan gagap
saat nyali dan tekad menguap
dalam kecipak ucap bersayap
Bung, beri aku nyali dan tekad
menentang debu jaman, bersihkan diri
dari penistaan harkat
sejak adam atau apapun namanya
muncratkan testis
ke liang sempit. Vagina kehidupan
bukankah kita sama
punya ruh, jasad dan pikiran
punya kuasa, kehendak dan prakarsa
tapi kita tinggal punya ruh, jasad dan pikiran
tak lagi punya kuasa. Tak lagi punya kehendak
pun prakarsa. Hanya bergerak
dalam sistem laba dan dusta
pikiran selalu kalkulasi
bukan tekad hempaskan tanduk ke batu
hancurkan kebenaran lama
kebenaran para gembala
menertibkan ternak-ternaknya
Vivere pericosolo, ucapmu Bung
Suatu ketika bak kecubung
Bangkitkan kesadaran kita sebagai bangsa
Bukan sebagai ternak peradaban
namun, pikiran telah menjadi rantai
bagi segenap tekad dan nyali
Jakarta, 31 Desember 2011
