31.01.2012 12:58:40 WIB
sajak Syamsul Noor Al-Sajidi
selepas tengah malam menjelang pagi
cahaya berbinar di ubunubun jazirah Palestina
Salamun 'alaikum, Fatimah
"Di sini langka air," ucap Fatimah
kecantikan pagi merona di wajahmu
"Silakan ikhwan bertayamum," anjur Fatimah
keanggunanmu tetap meranum
walau dalam simbahan air mata
lantunan azan Subuh merdu memanggil
membumi di ulu hati Palestina
Darussalam bersujud simpuh
dalam tasbih tanpa henti
tapi perniagaan kaum kafir menikamkan pedang
lidah keluh mereka melafazdkan Yerusalem
lalu memagarinya dengan darah dan air mata
kemarau tak lagi menyisakan titik hujan
sejak itu embun seperti kehabisan daun
Fatimah dan rakaat pertama Subuh
kekhusyu'kan mendekap erat sekujur hati
tibatiba gemuruh pesawat terbang merobek angkasa
Fatimah dan rakaat kedua Subuh
kini engkau bersujud lama sekali
punggungmu berdarah, Fatimah
itu sujudmu kali terakhir, Fatimah
senyum nafs al-muthmainah merekah di bibirmu
mereka bilang engkau mati, Fatimah
Tidak, engkau tetap hidup sebagai syahidatullah
Palembang, Rabiul Awal 1433
