29.01.2012 03:14:41 WIB
Oleh Fabiola Ortiz
RIO DE JANEIRO, BRAZIL (IPS) – STASIUN radio komunitas di Brazil menemukan internet dan teknologi informasi yang lebih ramah bagi pengguna bisa membantu siaran mereka, yang fokus pada isu kewarganegaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia.
Radio-web komunitas membuat langkah besar di Brazil, sebuah negara Amerika Latin, di mana prosedur untuk mendapatkan izin pemerintah federal untuk menggunakan gelombang radio berbelit-belit dan birokratis, yang menghambat kemunculan lembaga penyiaran baru yang nonprofit.
Saat ini ada sekira 4.500 stasiun radio komunitas legal di Brazil, dan diperkirakan 10.000 lainnya beroperasi tanpa izin pemerintah.
Banyak lembaga penyiaran komunitas tanpa izin, yang pengajuan izin mereka ke Departemen Komunikasi masih menunggu persetujuan, terpaksa beroperasi di bawah tanah tanpa izin.
Proses perizinan cenderung berlarut-larut antara tiga hingga 10 tahun, bahkan ada yang tertunda hingga 17 tahun, ujar Centro de Imprensa, Assessoria e Rádio (CRIAR, Pusat Pers dan Radio), yang bertujuan mendemokratisasi komunikasi di Brazil dan mendukung gerakan-gerakan dan organisasi sosial dengan menyediakan pelatihan, saran, dan penelitian untuk produksi radio komunitas.
“Gerakan radio komunitas Brazil sangat kuat, dan kini telah berjalan selama 20 tahun. Ada kekurangan serius mengenai pengetahuan teknis dan pelatihan tentang bagaimana membicarakan isu-isu hak asasi manusia,” untuk João Paulo Malerba, koordinator eksekutif Brazil of World Association of Community Radio Broadcasters (AMARC), kepada IPS.
“Radio komunitas punya potensi besar untuk menyiarkan konten bertema sosial dan hak-hak asasi manusia, karena ia adalah media yang paling sederhana,” kata Malerba, yang juga seorang peneliti di Laboratorium untuk Studi Komunikasi Masyarakat di Universitas Federal Rio de Janeiro (LECC/UFRJ).
UU Jasa Penyiaran Komunitas tahun 1998 mengatur lembaga penyiaran radio komunitas dan televisi. Pada 1998, ada 2.000 radio komunitas di negeri berpenduduk hampir 200 juta jiwa ini.
Kini, 14 tahun kemudian, jumlah stasiun radio komunitas legal meningkat lebih dari dua kali lipat, jauh melebihi radio komersial yang berjumlah 2.600.
Namun, karena birokrasi yang dikenakan pejabat pemerintah, banyak radio komunitas mengambil risiko dengan melakukan siaran tanpa izin, hanya untuk berakhir dengan penutupan oleh polisi federal. Pada September dan Oktober 2011 saja, polisi menindak 160 lembaga penyiaran nonprofit.
Patronase politik bisa mempercepat proses perizinan. Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa proyek-proyek dengan yang punya koneksi bagus dengan “godfather politik” di Brazil empat kali lebih cepat mendapatkan izin dari Departemen Komunikasi, keluh Malerba.
“Kami sangat khawatir karena ia bisa menyebabkan kehilangan identitas, karena banyak lembaga penyiaran mengasosiasikan diri dengan politisi atau kelompok agama (untuk mendapatkan izin), sehingga pluralisme yang jadi esensi dari siaran radio komunitas menjadi hilang,” katanya.
Undang-undang mengatur lembaga penyiaran nonprofit punya radius jangkauan tak lebih dari satu kilometer dan kekuatan pemancarnya maksimal 25 watt. Malerba mengeluh bahwa jangkauan itu tak memadai karena siaran radio melayani masyarakat yang menyebar dalam areal yang radiusnya lebih dari satu kilometer.
Dia menyebut misalnya radio-radio yang didirikan di “favelas” (kota-kota kumuh) di Rio, yang membentang sejauh beberapa kilometer dan memiliki populasi rata-rata 100.000 jiwa. Dia juga menyebut wilayah Amazon, yang penduduknya tinggal menyebar dalam jumlah kecil-kecil di area yang luas.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, lembaga penyiaran komunitas di Brazil beralih ke internet, karena web memungkinkan mereka beroperasi dengan jangkauan dan kebebasan yang mereka inginkan.
“Siapapun bisa membuat radio-web. Tapi akses ke internet di masyarakat yang jadi sasaran siaran mereka masih sangat terbatas, terutama di daerah utara dan timur laut, di mana hanya sedikit orang menggunakan internet,” kata Malerba.
Radio-web kali pertama muncul di Brazil pada 2005, dan setahun kemudian sudah ada hampir 100 lembaga penyiaran komunitas menyiarkan program-program online mereka.
Malerba menekankan bahwa radio-web berbeda dari stasiun radio tradisional. Radio-web terhubung dengan dunia yang lebih luas, karena khalayak mereka –individu, masyarakat, dan gerakan sosial– tersebar di seluruh negeri, tidak terbatas pada tempat tertentu.
Saat ini belum ada daftar jumlah radio-web komunitas di Brazil, tapi diperkirakan ada ratusan.
Radio-web diharapkan bisa menyebar dan melipatgandakan kemajuan National Broadband Plan, yang bertujuan menyediakan layanan internet broadband murah untuk sekitar 40 juta rumah pada 2015, dan untuk lebih dari 90 kota di negara itu pada 2017.
Proyek rintisan Radiotube dimulai pada 2007 untuk menyatukan jaringan komunikator sosial dengan fokus pada kewarganegaraan dan hak asasi manusia, dari masyarakat di seluruh negeri. Proyek ini dikoordinasi oleh Andre Lobão, seorang ahli media digital.
“Radiotube adalah sebuah platform untuk mengakses beragam konten, dan ia merupakan proyek inovatif yang, dengan konsep kewarganegaraannya, bisa mengambil keuntungan dari kemunculan situs Web 2.0 untuk meningkatkan interaksi di antara jejaring sosial dan berbagi konten mereka,” katanya kepada IPS.
Platform itu menganut prinsip-prinsip Creative Commons (sebuah lembaga nonpemerintah yang mengembangkan lisensi atas “beberapa hak yang dikhususkan untuk pengguna atau pihak tertentu” yang bertujuan memaksimalkan kreativitas digital, berbagi, dan inovasi), dan demokratisasi informasi melalui berbagi, dan sirkulasi konten-konten resmi, dan program komputer.
Misalnya, sebuah radio komunitas di barat laut negara bagian Amazon bisa menggunakan internet untuk mengunduh sebuah program komputer yang diproduksi sebuah stasiun radio komunitas di negara bagian Sao Paulo di selatan, ujar Lobão.
“Radiotube memfasilitasi akses ke konten yang dihasilkan radio-web komunitas di seluruh negeri. Mereka bisa mendiversifikasi konten mereka, menghasilkan program yang memasukkan perspektif mereka, dan membuat konten dengan cara lebih partisipatif dan horisontal pada pijakan yang sama,” katanya.
Proyek Radiotube ini diprakarsai oleh CRIAR, yang berjejaring dengan 1.400 radio komunitas di negara ini, di mana sepertiganya sudah beroperasi di internet sebagai radio online.
Saat ini jaringan Raiotube terdiri atas 400 radio-web komunitas, sebagian besar berada di tenggara Brazil.
Di negara bagian Rio de Janeiro di tenggara, misalnya, sekitar 40 radio-web terhubung dengan Radiotube, dan 30 lainnnya di di bagian São Paulo.
Sementara di timur laut, platform itu terhubung dengan 12 radio-web komunitas di negara bagian Bahia dan Pará. Lebih jauh ke utara, hanya ada enam stasiun radio online yang berpartisipasi.
Lobão memperkirakan jumlah radio-web di utara negara ini akan bertambah sejalan dengan keterseduaan layanan broadband yang mencakup panjang dan lebar negara ini.
Ini akan membuka banyak peluang baru bagi stasiun-stasiun radio komunitas, yang terus berjuang untuk mendapat pengakuan dan tempat dalam penyiaran di Brazil.*
Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
