09.01.2012 14:50:54 WIB
Oleh Franz Chávez *
SANTA ANA DEL YACUMA, BOLIVIA (IPS) – PARA peternak sapi perah skala kecil di Beni, daerah terpencil di timur laut Amazon di Bolivia, memiliki harapan baru untuk melindungi ternak mereka dari banjir tahunan yang ganas pada bulan Desember.
Jawabannya: bukit buatan lengkap dengan rumput dan gudang penyimpan makanan di mana ternak dapat menunggu banjir reda.
Dora Domínguez adalah ketua Asosiasi Produsen Susu Movima, sebuah kelompok terdiri atas 36 keluarga yang memiliki total 1.200 ekor ternak. Asosiasi ambil bagian dalam inisiatif Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB untuk membangun tempat penampungan ternak buatan yang baru di ketinggian yang sekaligus berfungsi sebagai areal pakan ternak tumbuh.
Proyek itu meliputi pembuatan bukit buatan hingga setinggi tiga meter di atas permukaan tanah di dataran luas Beni. Gundukan itu dibangun di bawah arahan kepala manajemen risiko di kantor FAO Bolivia, Óscar Mendoza.
Bukit-bukit menjadi pulau saat musim hujan datang pada bulan Desember dan air mulai menuruni dataran Amazon dengan sangat deras dari pegunungan Andes menuju arah barat.
Ternak, andalan ekonomi peternak sapik lokal yang miskin, kebanyakan dari mereka adalah Indian Movima, bisa bertahan hidup di pulau-pulau itu.
Peternak yang memiliki 2.000 ekor sapi atau lebih per keluarga mampu membawa ternak mereka ke daerah dataran tinggi. Tapi sampai sekarang, peternak kecil hidup di bawah kekuasaan banjir, yang dalam beberapa jam sungai meluap ke tepian dan mengubah daratan menjadi danau hingga sedalam satu meter.
Inisiatif FAO mencakup 65 persen peternak susu dan daging sapi di kotamadaya Santa Ana del Yacuma, sekitar 900 km sebelah timurlaut La Paz, yang memiliki antara satu hingga 500 ekor sapi serta menyumbang 22 persen ternak di daerah.
“Dulu orang hanya beradaptasi, berusaha dengan metode kemungkinan mereka sendiri,” kata Mendoza kepada IPS. “Itulah mengapa kami memutuskan untuk ambil tindakan yang menyesuaikan peralihan iklim guna mengurangi risiko terhadap produksi pertanian.”
Solusi ini datang hampir tiga dekade silam setelah banjir terbesar yang terus diingat Domínguez dan para peternak lokal lainnya.
Pada 1982, banjir menggenang hingga setinggi empat meter, dan alun-alun utama di jantung kota Santa Ana del Yacuma, ibukota dari kotapraja dan provinsi Yacuma di daerah Beni, tampak seperti bahtera Nuh yang dipadati penduduk, sapi, kambing, babi, dan unggas.
“Orang-orang datang dari peternakan dengan sampan pada malam hari, berteriak-teriak, sewaktu banjir mengejutkan mereka,” kenang Domínguez.
Dengan ingatan terukir di benaknya, Domínguez tak ragu bergabung dengan proyek FAO. Asosiasinya memberikan dukungan dan bahkan tenaga untuk memindahkan sejumlah ton tanah demi membikin pulau buatan –suatu model yang badan PBB ini ingin perluas ke seluruh wilayah.
“Saya memikul tanah di pundak saya,” kata perempuan yang menjadi ketua asosiasi ini. Dia duduk di atas bukit dan menatap rumput yang baru tumbuh, yang akan menjadi pakan ternak selagi banjir.
Peringatan dini
Langkah lain dalam adaptasi perubahan iklim adalah penerapan sistem peringatan dini dengan dukungan FAO, yang menopang layanan cuaca nasional dan menyediakan sinyal waspada radio bagi penduduk yang tinggal di dataran rendah di bagian timur negara ini.
Proyek ini meliputi pemasangan jaringan sensor di dekat sungai guna memantau tingkat air. Ketika peringatan dini menyala, unit-unit darurat kota dikerahkan untuk mengevakuasi penduduk dan hewan ternak.
Selain itu, strategi yang sedang diterapkan berupa penggabungan teknologi dan praktik terbaik untuk menghadapi perubahan iklim dan menyesuaikan produksi dengan banjir tahunan dan musim kemarau yang terjadi setelah musim hujan, ujar Mendoza.
Sebuah aliansi antara pemerintah kotapraja Santa Ana del Yacuma, peternak kecil, dan FAO membuatnya mungkin, kata Mayor Gustavo Antelo.
Untuk membangun bukit buatan, pemerintah kotapraja menyediakan lahan 2.000 meter persegi. FAO menyuplai tenaga teknis dan keuangan. Sementara mereka yang mendapatkan manfaat dari proyek ini memberikan waktu dan tenaga secara cuma-cuma untuk mengangkut tanah dan membangun gudang penyimpanan pakan serta fasilitas di mana dokter hewan dapat mengobati ternak mereka.
Harapan baru
Peternak sapi perah Hernán Suárez dan Rinelson Arambel berkata situasi putus asa yang terjadi pada 1980-an sudah menjadi masa lalu. “Sapi-sapi melenguh nyaring saat tenggelam. Kami meresa tak berdaya,” ujar Suárez.
“Semuanya akan berubah menjadi danau raksasa selama beberapa bulan, dan bantuan akan tiba, ke kota terdekat, di dalam pesawat Hercules. Kekurangan pangan akan menciptakan krisis di antara penduduk lokal dan beberapa peternak akan dibiarkan tanpa ternak apapun,” ujar Arambel.
Pada 1992 sebuah bendungan dibangun di sekitar kota guna mencegah banjir. Tapi ia tak menolong penduduk yang tinggal di daerah pertanian.
Mariano Chávez, anggota Asosiasi Movima, menggambarkan kecemasan dan ketakutan yang biasa dirasakan pada awal Desember saat musim hujan datang. Namun dia sekarang tenang saat memperhatikan José, anaknya yang 14 tahun, sangat antusias membantu menanam rumput di pulau buatan itu.
Suárez belajar teknik baru menanam rumput dan jerami, serta menyimpan pakan ternak. Kini dia memiliki kandang dan saluran untuk vaksinasi dan membiakkan ternaknya.
Kesulitan yang dihadapi penduduk di kotapraja Santa Ana del Yacuma muncul dari keterpencilan daerah itu dari seluruh negeri –bertahun-tahun tak ada jalan yang menghubungkan ibukota daerah Beni, Trinidad, 290 km jauhnya– dan secara geografis merupakan persilangan sungai Yacuma, Mamoré dan Rapulo, yang rentan banjir.
Santa Ana del Yacuma hanya dapat dijangkau dengan mobil pada musim kering. Selama puncak musim hujan, satu-satunya jalur dengan pesawat mungil, dan ongkos perjalanannya sekitar 75 dolar setiap orang. “Pilot mengambil keuntungan dari penduduk,” kata Suárez, mengeluh.
Saat siang hari, suhu meningkat sampai 36 derajat Celcius, nyamuk berkeliaran, dan awan gelap di cakrawala mengumumkan hujan.
Setiap anggota Asosiasi memproduksi 50-60 liter susu per hari. Harga per liter tak lebih dari setengah dolar di pasar kecil di kota itu. Pada saat darurat, produksi turun hingga 10 liter per hari, kata Domínguez, yang menjalankan peternakan keluarga.
Suárez berkata keluarganya mendapatkan sekitar 500 dolar per bulan dari penjualan susu –tak cukup untuk membiayai kebutuhan rumahtangga dan menutupi ongkos pakan dan pemeliharaan ternaknya.
Chávez berharap dapat meningkatkan sapi Nelore lokal –yang tahan panas dan sapi tahan serangga dengan ciri punuk bahu yang besar– melalui kawin silang dengan Holstein, guna meningkatkan produksi susu.
Dia berpikir program kredit, bukan sumbangan, akan menjadi ide bagus. “Sebaiknya tidak gratis; fasilitas yang memberikan kemudahan bagi penduduk untuk membayar, dengan produksi mereka, yang seharusnya ditawarkan,” katanya.
Harga seekor sapi perah antara 600 dan 800 dolar di bagian negara ini.*
*Artikel ini diterbitkan atas dukungan program FAO.
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Foto: http://www.traveljournals.net
