10.02.2012 21:36:37 WIB
Oleh Nurhadi Rangkuti*)
2. Situs-situs masa “proto-Sriwijaya”
Menurut data tertulis, sebelum muncul Sriwijaya sebagai kerajaan telah ada kerajaan-kerajaan di Sumatera. Berita China menyebutkan antara tahun-tahun 430-473 ada lima kerajaan yang mengirimkan 20 utusan persahabatan ke negeri China, antara lain perutusan dari Ho-lo-tan, P’o-huang, dan Kan-t’o-li. Setelah tahun 473 hanya Kan-t’o-li yang mengirimkan perutusan ke China dan diperkirakan kerajaan ini sebagai kerajaan Sriwijaya yang mula-mula atau “proto-Sriwijaya”.
Situs-situs yang diduga berasal dari masa “pra-Sriwijaya” atau disebut juga “proto-Sriwijaya” ditemukan relatif dekat dengan garis pantai sekarang. Situs-situs tersebut adalah Kawasan Situs Karangagung Tengah dan Kawasan Situs Air Sugihan di Sumatera Selatan.
Situs Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan) berasal dari sekitar abad IV Masehi (220-440 dan 320-560 Masehi) berdasarkan analisis radio karbon pada sampel tiang kayu rumah yang ditemukan dalam penggalian tahun 2000 oleh Balai Arkeologi Palembang. Selain sisa bangunan ditemukan pula kemudi perahu kuno dari kayu, tembikar, manik-manik batu dan kaca, anting, gelang kaca, batu asah, cincin dan anting emas serta liontin perunggu.
Kawasan situs terletak di antara Sungai Lalan dan Sungai Sembilang yang dihubungkan oleh sungai-sungai kecil. Persebaran situs Karangagung Tengah berpola linear mengikuti aliran sungai terutama situs-situs di Mulyaagung dan Karyamukti, sedangkan situs-situs lainnya berpola menyebar (Tri Marhaeni 2005). Sisa tiang-tiang kayu rumah di kawasan situs Karangagung Tengah ditemukan dalam keadaan insitu. Tiang-tiang utama dibuat dari batang pohon kayu keras dengan diameter antara 14- 35 cm. Bagian bawah tiang setelah dicabut dari tanah tampak dilancipkan dengan alat logam dan bekas pangkasan pada permukaan kayu setelah dilepaskan kulit kayunya. Kemungkinan tiang kayu berasal dari sejenis kayu besi, misalnya pohon ulin atau tembesu, jenis kayu kualitas baik yang banyak ditemukan di DAS Lalan. Selain batang pohon kayu keras, ditemukan pula tiang-tiang dari batang pohon nibung (oncosperma filamentosa) dengan ukuran garis tengah antara 8- 18 cm.
Kawasan Situs Air Sugihan terletak di wilayah Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Kawasan situs ini sebagian besar berupa daerah rawa gambut dengan ketinggian sekitar 2--3 meter d.p.l.
Temuan arkeologis yang ditemukan di Situs Air Sugihan berupa manik-ma¬nik kaca dan batu Carnelian, pecahan tembikar dan keramik, dan sejumlah perhiasan emas. Berdasarkan pertanggalan keramiknya. Situs Air Sugihan berasal dari sekitar abad ke-5--6 Masehi. Ke¬ramik yang ditemukan di daerah itu berasal dari China masa Dinasti Sui (abad V Masehi). Keramik-keramik Cina yang berasal dari abad XI Masehi banyak ditemukan dalam ekskavasi tahun 2007 oleh Puslitbang Arkeologi Nasional
Penggunaan kayu nibung (oncosperma filamentosa) untuk tiang-tiang bangunan kuno dijumpai pula di Situs Kertamukti1 Air Sugihan (Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan). Penggalian arkeologi di Kertamukti1 Air Sugihan pada tahun 2007 dilakukan pada lahan bekas sungai kecil dan rawa yang terletak di daerah permukiman transmigrasi. Dalam ekskavasi ditemukan sisa-sisa bangunan rumah panggung yang seluruh tiangnya dari kayu nibung. Selain itu ditemukan pula tali ijuk, pecahan-pecahan tembikar dan keramik China, manik-manik, sudip dari kayu dan fosil kayu.
*) Kepala Balai Arkeologi Palembang
