Budaya

Arkeologi Lahan Basah di Sumbagsel: Masa Sriwijaya

coba

11.02.2012 00:51:53 WIB

Oleh Nurhadi Rangkuti*)

4. Situs-situs masa Sriwijaya

Penelitian arkeologis yang intensif di Palembang sejak tahun 1970an sampai 1990an oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) dan Balai Arkeologi Palembang, telah memperkuat bukti bahwa Palembang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Lokasi-lokasi penemuan prasasti masa Sriwijaya abad VII Masehi meliputi Situs Talang Tuo, Telaga Batu, Kedukan Bukit, Kambang Unglen, Boom Baru, dan Bukit Siguntang. Situs-situs arkeologi yang pernah disurvei dan digali oleh para arkeolog terdiri dari Bukit Siguntang, Kambang Unglen, Karanganyar, Lorong Jambu, Tanjungrawa, Talang Kikim, Padang Kapas, Lebakkranji, Ladangsirap, Candi Angsoka, Sarangwati, Gedingsuro, Sungai Buah dan Samirejo. Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan terdiri dari arca, sisa-sisa bangunan batu dan bata, kanal-kanal, kolam-kolam, sisa-sisa perahu kayu, sisa-sisa industri manik-manik, stupika tanahliat dan cetakan stupika, tembikar dan keramik. Secara keseluruhan tinggalan arkeologis tersebut berasal dari abad VII – XIII Masehi.

Di wilayah Jambi situs-situs masa Sriwijaya dari abad IX – XIII Masehi ditemukan di kawasan Delta Berbak, Muara Jambi, dan kawasan sepanjang Sungai Batanghari. Delta Batanghari atau disebut juga Delta Berbak (Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi) dialiri oleh sungai-sungai kecil, antara lain Sungai Pemusiran, Sungai Simbur Naik, Sungai Siau dan Lambur. Beberapa bagian tubuh sungai kini tinggal alur, demikian penduduk menyebut aliran sungai yang telah mati. Justru pada alur-alur itu para arkeolog banyak menemukan situs arkeologi.

Penemuan artefak-artefak macam keramik asing, kaca kuno dan tembikar dalam jumlah besar pada situs-situs arkeologi menggambarkan padatnya penduduk yang tinggal di daerah lahan basah itu pada abad X-XIII Masehi. Sisa-sisa permukiman kuno yang padat mengelompok di kawasan Lambur (Lambur Luar dan Lambur Dalam) dan Pemusiran Dalam (Sitihawa). Selain situs-situs permukiman di kawasan Delta Berbak juga ditemukan sisa-sisa perahu kuno dari kayu.

5. Bentang Budaya Masa Lalu
Kawasan situs arkeologi yang menggambarkan bentang budaya masa lalu (archaeological landscape) di daerah lahan basah terdapat di kawasan situs Muaro Jambi dan kawasan situs Karanganyar, Palembang. Kedua kawasan itu menunjukkan adanya upaya manusia masa lalu mengubah sebagian bentang alam dalam menata permukimannya.

Kawasan Situs Muaro Jambi terletak di Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi. Serangkaian penelitian di Situs Muaro Jambi, mulai dari dari F.M. Schnitger (1935-1936), Soekmono (1954), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1979, 1981-1988), Bakosurtanal (1985), Tim Koordinasi Penelitian Sejarah Malayu Kuno (1994), Balai Arkeologi Palembang (2005-2006), sedikit demi sedikit menyingkap rahasia situs Muaro Jambi. Persebaran bangunan-bangunan bata di Muaro Jambi memanjang sepanjang kurang lebih tujuh kilometer mengikuti aliran Sungai Batanghari. Muaro Jambi terletak pada tanggul alam (natural levee) dan rawa belakang (back swamp) di sepanjang tepi Sungai Batanghari. Tanggul alam sungai dimanfaatkan untuk membangun candi-candi dan tempat tinggal para pengelola candi. Pada daerah rawa dijumpai kanal-kanal dan sungai kecil yang berhubungan dengan lokasi percandian dan Sungai Batanghari. Aliran pada sungai dan kanal saling berhubungan dan merupakan pintu masuk dari Sungai Batanghari menuju rawa belakang di utara situs. Diduga kanal-kanal adalah hasil buatan manusia.

Kawasan Situs Karanganyar di Palembang terletak pada meander Sungai Musi. Kawasan tersebut dikelilingi oleh kanal-kanal atau parit buatan dan di dalamnya terdapat kolam-kolam buatan. Sebuah kanal sepanjang 3,3 kilometer, yaitu kanal Suak Bujang, memotong meander Sungai Musi. Kanal-kanal lainnya saling berhubungan. Survei dan penggalian arkeologis di Kawasan Situs Karanganyar menemukan pecahan-pecahan keramik China dari masa Dinasti Tang (VIII – X Masehi), tembikar manik-manik, dan struktur bata kuno di Pulau Cempaka.

Kawasan situs Karanganyar memiliki konteks dengan Situs Bukit Siguntang yang terletak di bagian utara. Pada masa Sriwijaya, Bukit Siguntang merupakan bukit sakral sebagai tempat upacara keagamaan. Arca Buddha dari batu granit berukuran tinggi 277 cm. lebar bahu 100 cm, dan tebal 48 cm berasal dari bukit ini. Selain itu dijumpai pula sisa-sisa bangunan stupa dan fragmen prasasti batu dari abad VII Masehi.

6. Pola Hidup Masyarakat di Lahan Basah
Bukti-bukti arkeologis yang diperoleh melalui serangkaian penelitian menggambarkan pola hidup komuniti masa lalu yang bermukim di daerah pantai timur Sumatera. Diakui data arkeologi mempunyai keterbatasan dalam jumlah, kualitas dan relasinya sehingga diperlukan analogi etnografis pada komuniti tradisional suatu sukubangsa yang memiliki kemiripan lingkungan. Studi etnoarkeologi dilakukan dengan memperhatikan adanya perubahan-perubahan kebudayaan karena rentang waktu yang panjang, perubahan lingkungan dan perubahan dalam masyarakat itu sendiri. Walaupun demikian, masih dapat ditelusuri benang merah antara budaya masa lalu dan budaya sekarang yang memiliki kemiripan lingkungan alam, yaitu mitologi, pandangan hidup dan keyakinan (belief) sebagai nilai-nilai budaya yang merupakan inti dari suatu kebudayaan (Bambang Rudito 2006).

Bahan, alat dan teknologi pembuatan bangunan rumah tradisional masa sekarang, misalnya, sedikitnya akan mengalami perubahan karena perkembangan zaman, inovasi dari dalam dan adanya hubungan dengan luar. Oleh karena itu sulit diharapkan adanya persamaan yang mutlak dengan bahan, alat dan teknologi pembuatan rumah yang digunakan pada masa Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi). Namun mitologi, pandangan hidup dan keyakinan (belief) tentang cara bermukim dan penguasaan sumberdaya yang ada di daerah pesisir, merupakan inti kebudayaan yang masih dapat ditelusuri jauh ke belakang.

Studi analogi etnografi pada hakekatnya ingin memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pola hidup komuniti di daerah pantai timur, yang berkaitan dengan bentuk permukiman, cara bermukim dan kegiatan mata pencaharian terkait dengan sumberdaya yang ada di lingkungannya.

Pada tahun 2007 dan 2008 tim Balai Arkeologi Palembang melakukan studi analogi etnografi di bagian hulu Sungai Lalan di wilayah Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Untuk melengkapi data dilakukan pengamatan di daerah lahan basah lainnya, yaitu di Banyuasin dan Kayu Agung.

Daerah lahan basah yang terdapat di bagian hulu Sungai Lalan sebagian besar adalah rawa lebak (backswamp) yang terjadi akibat limpasan banjir sungai. Semakin ke hilir mendekat pantai, dijumpai rawa pasang surut, lahan gambut dan hutan bakau. Pola kehidupan komuniti-komuniti di bagian hulu Sungai Lalan dalam beradaptasi dengan lingkungannya dapat memberikan petunjuk mengenai pola hidup komuniti kuno di Situs Karangagung Tengah dan di situs-situs lainnya di daerah rawa. Walaupun terdapat artefak-artefak dari luar yang menunjukkan adanya indikasi perdagangan dengan luar, namun berdasarkan pola kehidupan yang berhubungan dengan kebutuhan akan makanan diperkirakan komuniti kuno di Situs Karangagung Tengah adalah komuniti berladang dan nelayan yang tinggal menetap. Selain itu mereka juga mengumpulkan hasil hutan, misalnya kayu, rotan, kemenyan dan tumbuh-tumbuhan lain. Sebagaimana diketahui DAS Lalan kaya dengan berbagai jenis kayu dan memiliki kualitas tinggi, misalnya ulin, tembesu, petaling, merawan, medang, dan meranti. Tiang-tiang kayu rumah panggung yang dimiliki komuniti kuno tersebut merupakan contoh pemanfaatan hasil hutan berupa kayu kualitas baik yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Sumber ekonomi lainnya dari hutan adalah daun nipah atau sejenis pandan. Daun ini digunakan untuk atap rumah dan perahu yang menggunakan atap daun –daunan. Jenis tanaman ini biasanya digunakan pula untuk membuat keranjang dan perlengkapan hidup lainnya.

Hal yang jarang terdapat di situs-situs permukiman lainnya adalah ditemukannnya tempurung kelapa dalam jumlah yang relatif besar dalam penggalian arkeologis di kawasan situs Karangagung Tengah. Tempurung kelapa ditemukan dalam bentuk potongan-potongan dan ada pula yang berupa batok kelapa yang dipotong menjadi dua dengan menggunakan benda tajam dari logam (Tri Marhaeni 2005). Tinggalan arkeologis tersebut memberikan indikasi adanya jenis tanaman hasil ladang dan peralatan benda tajam yang digunakan.

Selain tempurung kelapa, tinggalan ekofak di Situs Mulyagung1 berupa tulang dan gigi hewan, cangkang molusca dapat menjadi indikasi tentang pola hidup mereka mengenai kebutuhan makanan yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Tulang-tulang yang ditemukan terdiri dari tiga kelas, yaitu mamalia (binatang menyusui), aves (burung dan unggas) dan pisces (ikan). Gigi yang ditemukan berasal dari gigi dari famili suidae (babi). Berbagai jenis ekofak tersebut berasal dari hewan dan tumbuhan yang hidup di DAS Lalan.

Ditemukannya sisa-sisa tulang ikan (pisces) di dalam sisa hunian komuniti pra Sriwijaya di Karangagung Tengah lebih memperjelas adanya aktivitas menangkap ikan. Sejumlah artefak yang diduga berfungsi sebagai bandul jaring (net sinker) ditemukan dalam ekskavasi di Mulyagung1 dan Mulyaagung 4. Artefak dibuat dari sebatang kawat yang dibengkokkan sehingga membentuk lingkaran. Benda ini berdiameter lubang antara 1,7 cm – 3,4 cm dengan berat sekitar 14 gram (Tri Marhaeni 2005). Bandul jaring merupakan pemberat jaring yang dipasang di bagian bawah jaring.

Ribuan pecahan tembikar kuna ditemukan dalam ekskavasi dan survei. Bentuk-bentuk yang telah diidentifikasi berupa wadah seperti guci, tempayan, jambangan, buyung, mangkuk, cawan, kendi dan buli-buli. Berdasarkan adonan bahan tembikar, ada dua tipe tembikar, yaitu tembikar kasar dan tembikar halus. Sebagian jenis tembikar halus diperkirakan berasal dari luar yaitu Arikamedu, India (Tri Marhaeni 2005). Tembikar kasar yang diamati bahannya ada yang mengandung pirit (piryte) pada campuran pasirnya ada pula yang tidak. Selain wadah, ditemukan pula tembikar yang bentuknya mirip pelandas (anvil) yaitu peralatan membuat wadah tembikar dibuat dari tanahliat adonan kasar. Bila dikaitkan dengan artefak tersebut dapat disimpulkan wadah tembikar kasar dibuat sendiri oleh komuniti pra Sriwijaya di kawasan situs Karangagung Tengah. Sampai saat ini masih timbul keragu-raguan mengenai fungsi benda tembikar itu sebagai pelandas, mungkin pula berfungsi sebagai alat giling (Tri Marhaeni 2007), yaitu semacam gandik pada pipisan untuk melumat tumbuh-tumbuhan. Kehadiran artefak tersebut juga menimbulkan spekulasi sebagai alat pemberat untuk timbangan.

Apabila memang benar tradisi pembuatan tembikar telah dikenal oleh komuniti di DAS Lalan sejak awal tarikh Masehi, rupa-rupanya tradisi itu tidak berlanjut, hilang dan kemungkinan berkembang di daerah lain di Sumatera Selatan . Berdasarkan data etnografi komuniti-komuniti di DAS Lalan tidak membuat tembikar. Kerajinan tembikar baru dimulai pada tahun 1990-an di Karangagung oleh sekelompok transmigran asal Pulau Jawa. Mereka hanya membuat anglo. Secara tradisional kebutuhan akan barang-barang tembikar diperoleh dari Kayuagung terutama tungku (keran), guci dan tempayan. Menurut keterangan penduduk kualitas bahan tembikar Kayuagung lebih baik daripada tembikar buatan transmigran di Karangagung. Ciri khas bahan tembikar Kayuagung adalah adanya pirit pada campuran pasir. Tembikar kasar yang ditemukan pada situs-situs masa Sriwijaya di Palembang umumnya memiliki pirit pada bahannya (Rangkuti dan Fadhlan 1993).

Barang-barang impor seperti tembikar Arikamedu, manik-manik, kaca dan timah yang banyak ditemukan di Karangagung Tengah merupakan data arkeologi yang ditafsirkan adanya kontak dagang dengan luar. Kesimpulan tersebut telah dikemukakan para peneliti antara lain Trimarhaeni (2005), PY Manguin, Soeroso, Murriel Charas (2006) bahwa komuniti kuno di Karangagung Tengah pra-Sriwijaya telah terlibat dalam perdagangan internasional dan inter insuler, serta kemungkinan adanya pelabuhan di sekitar kawasan Karangagung Tengah untuk memasarkan komoditi mereka.

Perahu merupakan sarana yang penting untuk transportasi dan perdagangan. Sebuah kemudi perahu dari kayu keras dan berat ditemukan di Karangagung Tengah. Kemudi ini panjangnya 287 cm dan ditemukan tidak bersama dengan sisa-sisa perahu sehingga tidak diketahui bentuk dan ukuran perahu. Berdasarkan lokasi penemuan kemudi perahu tersebut diperkirakan bentuk dan ukuran perahu dapat memasuki anak-anak sungai di daerah rawa. Di bagian hulu Sungai Lalan, penduduk memberi informasi adanya temuan-temuan perahu kuno (pinis) di Sentang dan rawa-rawa di sepanjang aliran Sungai Merang. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada komunikasi antara komuniti-komuniti di hulu dan hilir Sungai Lalan.

Perahu yang digunakan oleh komuniti Karangagung Tengah dibuat dengan teknik tradisi Asia Tenggara (Manguin dkk 2006). Jenis dan ukuran perahu niaga yang dapat memasuki anak-anak sungai di daerah rawa diperkirakan jenis perahu kajang. Perahu ini menggunakan atap dari daun-daunan kering misalnya daun nipah (kajang), menggunakan satu kemudi perahu yang berada di buritan dan dua dayung dari kayu di bagian haluan. Jenis perahu kajang yang memiliki ciri khas atap dari daun nipah terdapat pula di daerah lain yang disebut perahu kabang (Sopher 1977). Perahu ini menggunakan layar dari bahan daun-daun nipah.

Jenis perahu ini masih tersisa di daerah Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Jenis kayu yang digunakan untuk kemudi perahu adalah jenis kayu yang berat sehingga dapat tenggelam dalam air, sedangkan jenis kayu untuk dayung adalah kayu yang ringan. Untuk ukuran perahu kajang yang panjangnya antara 6 – 8 meter digunakan kemudi perahu yang berukuran panjang sekitar 250 cm dan dayung memiliki ukuran yang lebih panjang yaitu sekitar 3 meter.

Perahu kajang dapat memuat barang-barang komoditi yang ditempatkan di bagian depan perahu. Pada bagian tengah adalah ruang keluarga dan di bagian buritan untuk dapur serta kamar mandi. Perahu kajang Kayuagung memuat satu keluarga untuk membawa barang-barang komoditi tembikar yang dijual ke daerah lain melalui sungai. Mereka meninggalkan tempat tinggalnya sampai berbulan-bulan bahkan tahun dan ketika pulang muatan perahu penuh dengan bahan-bahan makanan misalnya beras dan keperluan rumah tangga lainnya serta kayu-kayu yang diperoleh dengan cara barter maupun jual-beli. Menurut keterangan penduduk Kayuagung, perahu kajang juga dapat mengarungi laut dengan menambah layar pada bagian depan perahu.

Tidak tertutup kemungkinan jenis perahu yang digunakan komuniti pra-Sriwijaya yang hidup di daerah rawa sungai merupakan jenis perahu kajang, jenis perahu yang dapat memasuki daerah hulu sungai dan juga dapat berlayar di lautan. Dengan menggunakan jenis perahu tersebut, mereka dapat membawa komoditi hasil hutan seperti kayu-kayu kualitas tinggi, rotan, kemenyan, gading gajah, kulit harimau untuk ditukarkan dengan barang-barang impor.

Komuniti kuno yang terdapat di Kawasan Karangagung Tengah, Air Sugihan dan Delta Berbak merupakan komuniti yang tinggal menetap pada ekosistem rawa pasang surut. Oleh karena itu kepercayaan-kepercayaan tentang lingkungan darat dan air tempat mereka hidup merupakan hal yang universal. Berkaitan dengan hal tersebut hasil budaya materi seperti misalnya bangunan tempat tinggal dan perahu tentunya sesuatu yang memiliki makna dan nilai budaya bagi mereka selain fungsi praktis.

Berdasarkan data etnografi komuniti di DAS Lalan, terdapat kepercayaan-kepercayaan tentang darat dan air. Di darat terdapat kegiatan-kegiatan ritual pendirian rumah, ritual menanam padi dan berladang (beselang nugal). Komuniti yang bertumpu kehidupannya pada Sungai Lalan memiliki kepercayaan tentang antu banyu. Kepercayaan-kepercayaan semacam itu terdapat pula pada Suku Sekah di Kepulauan Bangka-Belitung, yang percaya adanya antu laut dan antu darat (Sopher 1977). Suku Sekah merupakan salah satu komuniti Orang Laut (sea nomad) yang sebagian besar waktunya berada dalam perahu. Ritual-ritual di perahu sering dilakukan, antara lain kegiatan ritual saji-sajian beras atau padi dan daun kelapa yang dibawa dalam perahu sebelum melaut.

Komuniti kuna Karangagung Tengah tentunya memiliki kepercayaan dan kegiatan ritual berkaitan dengan tanah darat dan perairan. Tanah-tanah kering yang lebih tinggi di sekitar rawa (talang) digunakan untuk penguburan, seperti yang terdapat di Situs Sentang dan Lebak Bandung. Di kawasan situs Karangagung Tengah juga terdapat tanah-tanah talang yang dikelilingi oleh rawa, namun belum ada penggalian arkeologis di lokasi-lokasi tersebut. Berdasarkan informasi di sekitar Situs Tanah Abang dan di daerah Air Sugihan terdapat lokasi-lokasi penguburan dengan tempayan kubur seperti di Situs Sentang. Tidak tertutup kemungkinan komuniti pra-Sriwijaya di Karangagung Tengah melakukan penguburan jasad manusia dengan tradisi prasejarah pada tanah kering.


DAFTAR PUSTAKA
Bambang Rudito, 2006, “Pengembangan Pola Hidup Masyarakat di Muara Jambi”, dalam Seminar Melayu Kuno “Titik Temu” Jejak Peradaban di Tepi Batanghari, di Jambi 16 Desember 2006.
Bintarto dan Soerastopo, 1987, Metode Analisa Geografi. Jakarta: L
Jazanul Anwar, Sengli J. Damanik, Nazaruddin Hisyam, 1984 Ekologi Ekosistem Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Manguin, Piere-Yves, Soeroso, Muriel Charras, 2006, “Bab 3 – Daerah Dataran Rendah dan Daerah Pesisir: Periode Klasik” dalam Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu: Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta: Puslibang Arkeologi Nasional.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono, 2006, “Pemanfaatan Lahan Basah : Kontroversi yang Tidak Ada Habisnya” Repro: Jurnal Ilmu Tanah.
Rangkuti, Nurhadi, 2005, “Candi di Rawa Kalimantan” dalam Kompas (Rabu, 21 September 2005).
--------------------, 2007, “Pola Hidup Komuniti Pra Sriwijaya di Daerah Rawa: Studi Etnoarkeologi di Kecamatan Bayung Lencir, Kab. Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan”, dalam Berita Penelitian Arkeologi No.15. Palembang: Balai Arkeologi.
Rangkuti, Nurhadi dan Fadhlan S Intan, 1993, “Tembikar Kayuagung” dalam Sriwijaya dalam Perspektif Sejarah dan Arkeologi (Mindra F. ed.). Palembang: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Sartono, S., 1978, “Pusat-Pusat Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Interpretasi Paleogeografi” dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.
Scholz, Ulrich, 1986, “ Persediaan Tanah di Sumatra Selatan dan Potensinya untuk Kepentingan Pertanian”, dalam Geografi Pedesaan Masalah Pengembangan Pangan (ed. Jurgen H Hohnholz). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Soeroso, 2002, “Pesisir Timur Sumatera Selatan Masa Proto Sejarah: Kajian Permukiman Skala Makro” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IX, Kediri 23-27 Juli 2002.
Sopher, David E, 1977, The Sea Nomads: A Study of the Maritime Boat People of Southeast Asia. Singapore: National Museum.
Tri Marhaeni S Budisantosa, 2002 “Permukiman Pra-Sriwijaya di Karang Agung Tengah: Sebuah Kajian Awal” dalam Jurnal Arkeologi Siddhayatra, vol 7, No.2 Nov. 2002, halaman 65-89, Palembang; Balai Arkeologi.
--------------------------------, 2005, “Permukiman Pra-Sriwijaya di Situs Karangagung Tengah” dalam Berita Penelitian Arkeologi No:13. Palembang: Balai Arkeologi
--------------------------------, 2007, “Tinggalan Rumah Kayu di Karangagung Tengah Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan” dalam Menelusuri Jejak-Jejak Peradaban di Sumatera Selatan. Palembang: Balai Arkeologi
Wijaya, Truman, 2006 “Pengkajian Endapan Gambut Bersistim di Daerah Pakbiban-Beyuku Kec. Air Sugihan, Kab. Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan” (paper lepas).

*) Kepala Balai Arkeologi Palembang

Komentar


Berita Terkait