Budaya

Lukisan Bilik Batu

coba

13.01.2012 08:54:32 WIB

Oleh Wiliem WK

Diterangkan warga yang mendiami perkebunan kopi tempat situs itu berada, dari tujuh situs bilik batu yang terdapat disitu, terdapat satu bilik batu yang dipercaya memiliki kekuatan mistik yang sangat kental aromanya. Hal yang sering dirasakan warga pada salah satu situs itu, yakni dapat menyesatkan warga bila melewati situs tersebut.

"Aku pernah malam hari ketika mengambil durian, ketika sampai disitus ini disesatkan. Hingga pagi, ternyata aku baru sadar saya berada di situs tersebut yang memang banyak warga menyebut "naka", ujar Syahrul, warga yang mengaku sudah 15 tahun berdiam di perkebunan kopi tersebut.

Bentuk Situs Megalitikum Banyak Kesamaan Pada setiap Tempat
Entah karena masih satu kawasan atau satu tempat, situs megalitikum yang dikunjungi Tim Ekspedisi, secara garis besar memiliki banyak kesamaan baik pada bentuknya maupun dari segi lainnya. Tak ada yang begitu membedakan situs-situs purbakala tersebut.

Misalnya saja, dalam setiap arca manusia, baik pahatan, aksesoris arca yang digunakan, di sebuah situs megalitik selalu dimiliki situs yang lainnya.

Bila berkunjung ke situs megalitikum Tinggihari 1, 2, dan 3, malah terdapat semacam tingkatan manusia dalam menghasilkan suatu karya. Pada situs Tinggihari 1, terdapat sebuah perkampungan benda megalitikum berupa Menhir, arca mirip katak, dan arca hewan babi. Sementara, ditempat tersebut juga terdapat beberapa benda megalitik lainnya seperti batu dakon dan batu dolmen.

Pada Menhir yang terletak di depan gerbang komplek Tinggihari I tersebut, berbentuk ukiran manusia setinggi kurang lebih 3 meter dengan berbagai bentuk. Terdapat pahatan manusia dengan dua orang disamping tampak digendong. Sedangkan, satu lagi menaiki pundak diatas kepala.

Sementara pada arca yang mirip katak, sudah menggunakan perhiasan yakni kalung dengan pahatan yang masih terlihat kasar. Sedangkan, pada arca yang diasumsikan masyarakat sebagai binatang babi ini, berposisi berbaring ke kanan badan dengan telentang.

Selain arca dan menhir yang tersaji pada Tinggihari I, dikawasan tersebut juga terdapat beberapa batu megalitik seperti Dakon dan Dolmen. Pada dakon, di kawasan sekitar 2 hektar tersebut memiliki dakon yang berbeda. Pada dakon sejajar kanan dengan arca katak, memiliki empat lubang dengan garis pemisah lubang dakon tersebut. Garis pemisah tersebut, terlihat jelas. Sedangkan pada dakon yang sejajar sebelah kiri, memiliki dua lubang. Sementara pada dakon yang sejajar dengan arca babi, memiliki tiga lubang.

Pada situs megalitikum Tinggihari 2, ditemukan ukiran batu berbentuk manusia yang berposisi duduk dengan kepala menengadah ke atas. Sementara, tangan kanan sedang memegangi seekor binatang. Pada situs kali ini, ukiran patung sudah agak terbentuk rapi yakni pada belakang patung tersebut sudah menggunakan baju. Hal itu terlihat dari punggung patung yang terdapat ukiran baju.

Sedangkan, pada kepala tampak terlihat menggunakan penutup kepala seperti tentara. Kemudian, tangan dan leher sudah menggunakan aksesoris kalung dan gelang.

Pada situs tersebut, pahatan-pahatan yang terlihat sudah menggunakan benda logam. Hal tersebut tampak dari permukaan pahatan yang nampak halus dan sudah memiliki pola yang agak sempurna dari situs yang sebelumnya yakni tinggihari 1. Pada situ tersebut, juga ditemui dakon yakni batu berlubang.

Tak jauh berbeda juga tersaji pada situs terakhir di daerah Tinggihari ini yakni situs megalitikum Tinggihari 3. Pada situs tersebut terdapat dua patung manusia dengan berbagai gaya. Untuk patung pertama, dinamakan patung putri sedangkan pada arca kedua, dinamakan arca manusia.

Pada situs kali ini, sudah sangat terlihat sempurna bila dibandingkan dengan dua situs sebelumnya yakni Tinggihari 1 dan 2. Sempurna bila dilihat dari segi pahatan dan bentuk arca yang semakin mendekati kesempurnaan sebuah karya seni.

Pada situs terakhir pada Tinggihari 3 ini, bentuk serta pahatan sudah sangat sempurna. Arca yang ditampilkan tampak lengkap memakai baju, sanggul, aksesoris serta pahatan yang lebih baik bila dibandingkan dengan situs Tinggihari sebelumnya.

Dalam situs TInggihari tersebut, terlihat jelas bahwa setiap tempat memiliki kesamaan baik dari bentuk, aksesori maupun pahatannya. Hanya yang membedakan halus tidaknya pahatan, apakah masih kasar ataupun aksesoris itu sendiri.

Pada umumnya, sebuah situs megalitikum berupa arca manusia yang terdapat di kawasan tersebut sudah menggunakan baju, aksesoris berupa gelang dan kalung. Selain itu, biasanya berhubungan dengan seekor hewan. Misalnya dalam arca tersebut seorang manusia menunggangi hewan seperti gajah dan kerbau.

Dakon selalu ada dalam sebuah kawasan situs
Bila arca manusia yang dibuat sebagian besar hampir memiliki kesamaan pada sebuah situs megalitikum, tak ubahnya dakon yakni sebuah batu yang berlubang selalu hadir menemani rangkaian situs yang terdapat disebuah tempat.

Ciri-ciri umum, dakon yang selalu hampir terdapat disebuah situs megalitikum memiliki empat lubang sama sisi. Selain itu, lubang yang diciptakan tersebut memiliki garis pemisah antara kesemua lubang tersebut.

Untuk ukuran batu berlubang ini, memiliki kedalaman dan diameter lubang yang hampir sama juga disetiap situs yakni dengan kedalaman 5 hingga 8cm. Sedangkan untuk diameter lingkarannya kurang lebih 6 cm.

Sedangkan untuk garis pemisah pada sebuah lubang dakon, dibuat dengan semacam pahatan yang halus. Untuk bentuk dakon ini, pada beberapa tempat situs tidak berjumlah empat lubang tapi juga terdapat tiga lubang yang sama sisi seperti halnya yang terdapat pada situs arca megalitikum Muara dua, kecamatan Gumay Ulu Lahat.

Pada situs tersebut terdapat sebuah dakon atau batu berlubang yang berbeda dengan ditempat yang lain. Bila pada umumnya dakon memiliki empat lubang atau hanya dua lubang dengan jarak dan ukuran yang sama, namun pada situ arca megalitikum Muara Dua memiliki situs batu dakon dengan hanya tiga lubang yang sama sisi.

Dakon dengan pola seperti itu juga bisa ditemukan di situs megalitikum di desa Belumai Kelurahan Ulu Rurh Pagaralam Selatan. Terletak di perkebunan kopi warga, batu berlubang tersebut memiliki tiga lubang yang sama sisi. Namun pada batu dakon tersebut, lubang yang ditemukan agak dalam bila dibanding keseluruhan batu dakon.

Menurut beberapa jupel yang mengurusi sebuah situs, diterangkan banyaknya dakon yang bertebaran sering dengan adanya situs megalitikum disuatu tempat yang menegaskan sebuah perkampungan purbakala, memiliki fungsi sebagai tempat untuk menumbuk makanan pada zaman purbakala. Tapi yang menjadi pertanyaan batu dakon yang ditemukan tersebut, secara garis besar memiliki kesamaan baik dari segi ukuran, jarak antar lubang hingga banyaknya lubang yang tak jauh berbeda.

Batu lesung yang mempesona
Berbeda dengan dakon yang hampir ada pada sebuah situs purbakala, batu lesung tak demikian. Dengan tampilan lebar dan panjang yang rata-rata sama, memiliki ciri khas masing-masing pada lesung batu tersebut.

Lesung batu hingga puluhan bentuk, dapat dijumpai di desa Pulaupanggung Kecamatan Pajarbulan Kabupaten Lahat. Pada situs tersebut, selain memiliki hingga puluhan situs berupa lesung batu memiliki keunikan tersendiri pada setiap situs.

Umumnya, situs tersebut memiliki ukiran dengan model yang berbeda tanpa merubah ukuran lesung batu tersebut. Misalnya terdapat ukiran hewan seperti ular, katak, gajah, manusia dan lain-lain. Sedangkan untuk ukuran lesung batunya, tak ada yang beda hanya saja ukuran panjang dan lebar yang beda. Namun secara bentuk, tak ada yang berbeda.

Pada situs yang tersebar di kawasan kebun kopi warga kurang lebih seluas 5 hektar tersebut, memiliki keindahan tersendiri. Selain menyajikan banyaknya situs lesung batu dengan ukiran yang berbeda, terdapat pula dakon dengan empat lubang. Selain itu, hadir pula arca manusia yang menunggangi seekor gajah.

Pada situs di tempat tersebut, terdapat sebuah lesung batu yang sangat berbeda. Bila umumnya lesung batu ditemukan dengan bentuk yang panjang, namun pada situ ini terdapat sebuah lesung batu dengan bentuk cembung. Uniknya, pada lesung batu berbentuk cembung tersebut, dihiasi berbagai ukiran baik manusia dan hewan.

Seperti yang terlihat pada situs lesung batu, yang ditemukan oleh sang anak jupel, Ahlan di kebun kopinya tersebut, terdapat ukiran seekor ular yang hendak memangsa dua orang manusia dan melilitnya.


Batu ini Dilinggikan
ASAL muasal berdirinya Desa Lingge, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empatlawang Sumatera Selatan berasal dari kata “Linggi” yang artinya didudukkan. Masyarakat setempat mempercayai karena dari sejarah yang didudukkan tersebut adalah sebuah batu sebagai pertanda pertama kali desa itu dibentuk, hingga sekarang batu tersebut masih berada di tengah desa. Batu berukuran cukup besar dengan diameter sekitar 1 meter dan tinggi sekitar 50 cm tersebut pernah dilakukan penyemenan karena mengalami keretakan.

Batu ini pun masih dapat dilihat secara langsung bila tiba di Desa Lingge atau sekitar 50 Km dari pusat Kota Tebingtinggi. Batu ini tetap terjaga serta terhindar dari panas dan hujan karena berada di bawah perumahan warga setempat, persisnya di sebelah rumah Komar Ali (88) sebagai turunan ke 11 Puyang Rianom Sakti, sebagai puyang desa tersebut.

Masyarakat percaya peninggalan tersebut sebagai benda penanda terbentuknya desa tersebut sejak 900 tahun silam. Setidaknya, seiring perubahan waktu dan penduduk bertambah pesat, sehingga desa ini semakin besar dan penduduknya cukup padat. Dari bentuk permukiman yang sebagian besar menghadap ke jalan raya ataupun sedikit berkumpul untuk wilayah yang jauh dengan jalan, setidaknya tercatat didiami sebanyak 6.375 orang yang terbagi 213 kepala keluarga (KK). Sebagian besar penduduk bermata pencaharian petani dengan perincian 90 persen petani, salah satunya petani kopi dan lainnya. Selebihnya, sebanyak 4,7 persen buruh tani, 5,2 persen wiraswasta dan 0,1 persen PNS.

Menurut keterangan Komar Ali (88) sebagai keturunan ke 11 Puyang Rianom Sakti, sebagai puyang desa tersebut, ditemukannya batu di desa itu saat pertama kali desa itu dibentuk, sehingga nama desa tersebut diambil dari batu itu, yakni linggi yang artinya didudukkan, sehingga posisi batu seperti duduk. Menurut sejarahnya, dahulu kala masuknya pendekar sakti, yakni Raden Sewano Kupang Tinggi (Daerah Kupang Tebingtinggi), Raden Pasari Kuto Rendangan (Desa Muarabetung), Satero Tanjung (Desa Padangburnai) dan Panji Kuto Aur Jawa Reno Paku Rencong (Pendopo) yang disebut Empat Lawang (Empat Pendekar Sakti) yang kemudian menjadi nama Kabupaten Empatlawang.

“Pada masa itulah, anak Rio Sulut, Rianom Sakti menemukan daerah Lingge, sehingga menjadi Desa Lingge sekarang ini. Hingga sekarang batu tersebut masih ada hingga turun temurun puyang Rianom, batu tersebut tetap ada hingga saat ini,” katanya. (sumber: Sriwijaya Post)

Komentar


Berita Terkait