Internasional

Limbah Medis Ancam Pemulung

coba

06.01.2012 03:49:04 WIB

Oleh David Njagi

NAIROBI, KENYA (IPS) – BAGI Collins Otieno, fajar mengantarkannya pada dualisme nasib; memberikannya sedikit uang atau infeksi. Pasalnya, dia berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan mengais sampah.

Sudah empat tahun lelaki 25 tahun ini menjadi pemulung di Soweto, sebuah daerah kumuh di Nairobi yang terkenal dengan banyak klinik ilegal. Dia telah melihat teman-temannya lumpuh oleh luka infeksi, sementara yang lain meninggal akibat infeksi aneh itu.

Pada hari baik, dia bisa mendapatkan 300 Ksh. (sekitar Rp 27 ribu) –cukup untuk membeli sebungkus tepung jagung dan sedikit sayuran untuk persediaan selama dua hari.

Otieno tak tahu apakah dia sudah terinfeksi limbah medis yang tercampur dengan sampah padat lainnya di tempat pembuangan sampah.

“Suatu waktu saya menemukan janin mati yang dibuang di tempat sampah,” ujarnya. “Saya benar-benar takut. Saya memberitahu seorang tetangga yang membantu saya melapor ke polisi. Saya juga menemukan jarum suntik dan benda tajam lainnya di tempat pembuangan sampah.”

Menurut Dr Linus Ndegwa, manajer program pengendalian infeksi di Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Kenya, setidaknya 0,5 kilogram limbah medis dihasilkan setiap orang di sebuah rumah sakit, dan 20 persen limbah tersebut berpotensi menular.

Itu berarti setidaknya 3.740 kilogram limbah yang dihasilkan dalam satu bulan di Rumah Sakit Nasional Kenya (KNH), tempat sekira 7.500 pasien dirawat.

Secara nasional angka itu bisa lebih tinggi lagi, yang akan jadi jelas bila ada satu sistem untuk memetakan permasalahan dalam fasilitas kesehatan publik, sementara produksi limbah dari klinik ilegal terus berjalan, ujar Ndegwa.

Bukan hal mudah, mengingat tindakan keras terhadap klinik di gang-gang sempit di Nairobi sendiri masih menyisakan lebih dari 15 klinik yang beroperasi secara ilegal setiap bulannya, menurut Kenya Medical and Pratitioners Board.

Masalahnya, badan pengawas dikaitkan dengan ketamakan, korupsi, dan gaji yang rendah. Bayaran mereka, menurut beberapa dokter Kenya, jauh lebih rendah dibanding, misalnya, yang bekerja di Afrika Selatan. Karenanya mereka tergiur.

“Ada beberapa klinik tanpa izin sehingga tak ada cara untuk memantau pembuangan limbah mereka,” ujar Ndegwa. “Ini berarti mereka menggunakan tempat pembuangan sampah di kawasan permukiman. Mungkin ini masalah utamanya sekarang.”

Namun masalah buruknya pembuangan limbah jauh melampaui pemantauan, kendati sudah ada kebijakan pemerintah tentang pembuangan limbah medis.

Menurut Departemen Kesehatan Publik dan Sanitasi, Panduan Manajemen Limbah yang dikembangkan pada 2008 telah membuat negara ini membuang limbah perawatan kesehatan melalui pembakaran.
Namun panduan itu sulit memenuhi kewajibannya, sebagian karena aktivis lingkungan melihatnya sebagai duplikasi peran di antara kementerian-kementerian dalam pemerintahan yang menjalankan fungsi hampir sama.

Beberapa fungsi itu, seperti pembuangan limbahtelah dipercayakan kepada National Environment Management Authority (NEMA). Namun beberapa kementerian seperti Kementerian Lingkungan Hidup masih mengklaim punya kewenangan menangani isu-isu lingkungan.

Di sinilah kebingungan penerapan panduan bersumber, kata beberapa LSM.

Menurut beberapa pejabat, kebijakan pemerintah menekankan pada pembakaran, sebuah proses yang dianggap membahayakan lingkungan. Mereka mengatakan teknologi tanpa pembakaran lebih aman.
Professional Association of Therapeutic Horsemanship International (PATH) menyatakan, pembakaran, seringkali dengan memasukkan jarum suntik plastik, sarung tangan karet, dan sekumpulan bahan yang mengandung bahan kimia seperti klorida, membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan Kenya.

Ketika dibakar, jelas Fred Okuku, pejabat PATH Internasional, limbah bisa memancarkan zat kimia seperti dioksin, yang berpotensi menyebabkan kanker.

“Zat-zat ini juga terbukti jadi polutan organik yang menetap, yang artinya zat-zat itu takkan mudah terurai,” jelas Okuku. “Sehingga zat-zat itu menetap lama di lingkungan yang menyebabkan pemanasan global dan penipisan lapisan ozon.”

Gerakan Sabuk Hijau (GBM) mengidentifikasi pembuangan limbah medis melalui pembakaran bisa meningkatkan pemanasan global, namun kurang mendapat perhatian yang layak.

Menurut Benjamin Kimani, manajer program di GBM, fakta bahwa tak mungkin menelusuri jumlah limbah medis yang dibakar di Kenya karena minimnya data dari pemerintah membuat masalah itu berujung serius.

“Sebagian besar bentuk pembakaran menghasilkan karbondioksida dalam bentuk asap,” kata Kimani. “Karbondioksida ini berkontribusi bagi pemanasan global yang pada gilirannya menyebabkan perubahan iklim.”

Kemungkinan pelepasan hidroflourkarbon (HFC) juga tinggi, karena kebanyakan limbah medis berbentuk plastik, kata Kunga Ngece, manajer program untuk lingkungan dan perubahan iklim di Kedutaan Swedia.

Plastik mengandung CFC dalam level tinggi, yang dilepas ke atmosfer ketika diurai melalui pembakaran.

Untuk saat ini, harapan penanganan limbah terletak pada janji pencarian teknologi pembuangan limbah medis yang lebih baik, menurut Undang-undang Kesehatan Publik.

Beberapa teknologi, seperti penggunaan autoklaf untuk mensterilkan limbah dengan cara penguapan pada suhu 121-130 derajat Celcius untuk membunuh bakteri-bakteri patogen, dipandang sebagai alternatif yang cocok, menurut Okuku.

“Limbah itu lalu dicabik-cabik menjadi materi tak berbahaya yang bisa dibuang di tempat pembuangan sampah publik,” kata Okuku.

Hal itu mungkin juga bisa melindungi ratusan warga Kenya yang berurusan dengan limbah dari infeksi bermacam penyakit seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C, karena paparan darah dan cairan tubuh lain yang ditemukan dalam jarum suntik dan limbah medis lainnya, kata Dr Daniel Yumbya dari Kenya Medical and Practitioners Board.

Banyak penelitian menyebut hal ini adalah mungkin.

Menurut laporan Health Protection Agency (HPA) 2006 yang telah diperbarui, satu dari tiga orang bisa terinfeksi hepatitis B, satu dari 30 orang terjangkit hepatitis C, sementara 1 dari 300 orang akan terjangkit HIV akibat paparan limbah medis.

Namun bagi Otieno, dia berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah kesehatan. Sebab, seperti ratusan pemulung lain di kawasan kumuh yang tak menggunakan pelindung, pemuda itu seringkali tak punya waktu atau uang untuk memeriksakan kesehatan karena jenis pekerjaannya.

Namun bagi Titus, yang sesama pemulung seperti Otieno hanya tahu nama pertamanya, keberuntungannya sudah habis. Titus mengalami oedema pada kakinya, satu kondisi yang menurut para ahli medis menyebabkan bagian-bagian tubuh yang terjangkit membengkak dan bisa menimbulkan luka bakar pada kulit.

Penderitaannya bisa jadi peringatan bagi sekira 60.000 anak jalanan yang memulung di tempat pembuangan sampah di Nairobi, yang menurut para praktisi kesehatan menghadapi risiko infeksi serius.

Menurut PW Wanjohi, pejabat senior kesehatan publik di Departemen Kesehatan Kenya, anak-anak juga terkena tetanus.

Namun pemerintah belum melakukan penelitian yang mengurai tingkat risikonya, ujarnya.
“Anak-anak ini sangat rentan karena usia mereka,” kata Wanjohi. “Kebanyakan dari mereka masih mengembangkan sistem kekebalan tubuh mereka.”*

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait