07.01.2012 23:21:01 WIB
Oleh Ashfaq Yusufzai
PESHAWAR (IPS) – BOM bunuh diri menurun. Serangan bom berkurang. Tapi Taliban terus menyerang sekolah-sekolah perempuan. Untuk mengimbanginya, sejumlah gadis tetap pergi menimba ilmu –sekalipun tanpa gedung sekolah.
Sekolah Menengah Tinggi di Kumbar (di daerah Khyber Pakhtunkhwa, utara Pakistan) merupakan salah satu sekolah yang belum diperbaiki setelah rusak berat akibat ledakan bom pada Mei 2009.
“Ketika untuk sementara tinggal di sebuah kamp di Mardan karena ada operasi militer, kami mendengar kabar buruk bahwa sekolah kami dihancurkan Taliban,” kata Kulsoom Bibi, siswa kelas 9 di Sekolah Tinggi Putri Negeri di distrik Timergara Dir. “Meski sudah lewat dua tahun, sekolah itu belum diperbaiki.”
Kabar baiknya, para gadis melanjutkan studi meski tanpa gedung sekolah.
“Taliban punya kebencian mendalam terhadap pendidikan karena bom bunuh diri dan serangan bom telah berhenti. Selama satu bulan terakhir, kondisi hukum dan ketertiban telah menunjukkan perbaikan, namun serangan terhadap sekolah-sekolah masih berlangsung,” ujar Pervaiz Khan, pejabat pendidikan di distrik Charsadda, Khyber Pakhtunkhwa. Pada 21 Desember lalu dua sekolah diledakkan di sini.
Sebulan terakhir, 13 sekolah di tiga area federasi kesukuan (FATA) di Mohmand, Khyber, dan Orakzai serta di Mardan, Charsadda, dan Peshawar diledakkan dengan dinamit.
Sejak 2006, sekitar 33 sekolah diledakkan oleh para militan di Dir, salah satu dari 25 distrik di Khyber Pakhtunkhwa, ujar pejabat eksekutif distrik Khursheed Ali kepada IPS. “Hanya 11 sekolah yang direnovasi karena pemerintah kekurangan dana dan tak bisa mengalokasikan lebih banyak lagi untuk membangun kembali semua sekolah yang rusak.”
Kepala sekolah Ayesha Bibi mengatakan bahwa siswa masih dicekam ketakutan. “Kampanye melawan sekolah dari Taliban menyebabkan 3.000 siswa tak mendapat pendidikan. Pemerintah memberikan bantuan 20 tenda agar proses belajar-mengajar tetap berjalan,” ujarnya kepada IPS.
Taliban menyatakan, mereka menargetkan tempat pendidikan tertentu. “Kami tak menentang pendidikan, tapi sekolah-sekolah merupakan sumber pendidikan modern dan liberal yang tak diperbolehkan dalam Islam,” ujar Ihsanullah Ihsan, juru bicara tak resmi Tehreek Taliban, kepada IPS via telepon dari tempat yang dirahasiakan. Ihsan mengatakan bahwa Taliban akan terus meledakkan sekolah.
Pervez Khan, asisten direktur untuk pendidikan di Khyber Pakhtunkhwa mengatakan bahwa 755 sekolah telah hancur di provinsi tersebut dan 296 lainnya di FATA yang saling berdekatan.
“Belum berhenti. Akhir-akhir ini kampanye itu malah meluas hingga distrik Mardan, Charsadda, Swabi, Nowshera, dan Peshawar. Sebelumnya distrik-distrik tersebut dianggap aman.”
Pada 22 November, Taliban menanam bom di luar Sekolah Tinggi Putri Negeri di Shah Dand Mardan. Bom meledak ketika polisi berusaha menjinakkannya. “Apabila bom itu meledak beberapa saat kemudian, pasti akan membunuh puluhan siswa yang baru datang,” ujar Khan.
Kepala sekolah Lal Baha mengatakan pernah menerima surat dari Taliban tiga bulan sebelumnya. Isinya meminta mereka mewajibkan siswa mengenakan jilbab. “Sejak itu, mayoritas dari 1.000 siswa kami mengenakan jilbab.”
Beberapa pelajar mengatakan kepada IPS bertekad untuk terus sekolah. “Bila kami berhenti sekolah, itu cuma akan mewujudkan mimpi lama yang diharapkan Taliban,” kata Kausar Bibi, 16 tahun, dari Sekolah Tinggi Negeri di Mardan.
“Mengapa Taliban menghancurkan sekolah? Islam menyerukan untuk memajukan pendidikan bagi lelaki dan perempuan, tapi Taliban melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang Islam perintahkan.”
Para siswa putri dari delapan sekolah lain yang dihancurkan militan pada Januari tahun ini di Khyber Agency tetap optimis. “Sekolah kami tanpa atap, furnitur, dan fasilitas pendidikan lainnya, tapi kami tetap melanjutkan pendidikan,” ujar Gul Ghutai, 9 tahun, siswa kelas tiga di sekolah itu.
Para siswa Sekolah Tinggi Putri Negeri di Domail, distrik Bannu, FATA, tak yakin ketika pemerintah akan merenovasi sekolah mereka yang rusak pada September tahun lalu.
“Lebih dari 800 gadis kini belajar di sekolah dengan beralaskan tikar yang mereka bawa dari rumah,” ujar Zar Pari, guru di sekolah itu.
“Kami sulit menyimak ucapan guru karena kelas penuh sesak, dan sulit sekali duduk di kelas pada musim panas, tapi tak ada cara lain,” kata siswa Mushtari Begum.
Siswa kelas empat di Sekolah Tinggi Putri Negeri di Desa Regi, Peshawar, bernama Shahana Imran mengatakan bahwa dia mengambil jurusan sains agar bisa jadi dokter tapi tak ada peralatan sains di sekolahnya. “Ketika kami masuk sekolah pada 23 April, kami hanya menemukan puing-puing karena sekolah sudah diledakkan pada pagi hari.”
Sardar Hussain Babak, menteri pendidikan Khyber Pakhtunkhwa, mengatakan beberapa lembaga donor telah menjanjikan bentuan dana untuk rekonstruksi.
“Kami telah memulai rekonstruksi atas 127 sekolah di Swat di mana para militan menghancurkan 255 sekolah antara 2007 dan 2009,” ujarnya. Sementara itu pemerintah telah membentuk komite desa untuk menjaga sekolah.
Tak semua pelajar bisa mendapatkan pendidikan minimal. Saeeda Bibi, siswa kelas 7 di Lakki Marwat, Khyber Pakhtunkhwa, mengatakan bahwa seperti 200-an siswa di sana, dia tak bisa bersekolah karena gedungnya diledakkan Mei tahun ini.
“Pemerintah memberi bantuan untuk pembangunan kembali sekolah tapi waktu terus berjalan dan tampaknya tak ada harapan di masa mendatang.”*
Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
