Lingkungan Hidup

Eddy Santana Sarankan RS Siloam Ganti Nama

coba

27.01.2012 21:31:45 WIB

PEMBANGUNAN RS Siloam yang ditolak sejumlah warga Palembang tampaknya terus berjalan. Meski begitu, rumah sakit yang terletak di eks Lapangan Parkir Bumi Sriwijaya, Jalan POM IX, Palembang, itu diminta Walikota Palembang Eddy Santana Putra berganti nama.

Permintaan Eddy tersebut, sebelum izin operasional rumah sakit itu keluar. Lebih jauh, demi kebaikan bersama, Eddy akan meminta masukan dari para ulama dan tokoh masyarakat Palembang terkait nama rumah sakit yang saat ini tengah dikerjakan itu.

"Demi kebaikan bersama, kami akan berkumpul dan berdiskusi dengan semua ulama dan tokoh masyarakat Palembang tentang nama baru itu, apakah setuju atau bagaimana. Pertemuan ini harus dilakukan sebelum rumah sakit itu beroperasional,” ucap Eddy kepada pers di Palembang, Jumat (28/91/2012).

Seperti diberitakan sebelumnya, pembanguna RS Siloam yang akan dilakukan Lippo itu menimbulkan reaksi dari warga Palembang, terutama kalangan ulama dan mahasiswa. Mereka menilai RS Siloam memiliki agenda terselubung terkait agama tertentu. Mereka pun minta agar pembangunan rumah sakit itu dihentikan.

Kata Siloam, menurut mereka yang menolak, merupakan nama sebuah situs sebuah kolam di Yerusalem atau di bagian selatan dari Kota Lama. Ini sebagai mitos dari penyembuhan orang buta yang dilakukan Nabi Isa (Yesus).

“Jelas dari namanya jelas ini sebagai simbol dari agama mereka. Kami bukan menolak, tapi mengapa dibangun di tengah kota. Mereka tahu, Palembang ini mayoritas Islam. Kita menerima warga dari agama apa pun. Palembang damai sejak dulu. Tapi ya, jangan berada di tengah kota. Itu memancing. Charitas saja dibangun di masa Palembang dulu, tapi dulunya berada di pinggiran. Sekarang saja berada di tengah kota. Rumah sakit Islam saja berada di pinggiran kota, saat ini. Kalau masih dengan nama Siloam kami menolak,” ujar seorang pemuka agama saat melakukan aksi ke DPRD Sumsel, beberapa waktu lalu.

Sementara sejumlah aktifis LSM menilai pembangunan rumah sakit itu rentan kerusakan lingkungan, serta telah terjadi pengambilan ruang publik. “Bagaimana dengan limbah dari rumah sakit itu dibuang? Sebab lokasi rumah sakit berada persis di tengah kota. Di sekitarnya, selain adanya pemukiman penduduk, juga pusat keramaian dan perkantoran,” kata Direktur Walhi Sumsel Anwar Sadat beberapa waktu lalu.

Akibat protes tersebut, rumah sakit yang semula akan digunakan selama SEA Games XXVI di Palembang, akhirnya tertunda pembangunannya. Baru sekarang pembangunan dilanjutkan kembali. (PK)

Komentar


Berita Terkait