Sastra

Akulah Keluarga Menghadap Gunung

coba

23.01.2012 21:39:12 WIB

Sajak T. WIJAYA

Akulah Keluarga Menghadap Gunung

Padamu, akulah keluarga menghadap gunung. Letus api dan kedinginan melahirkan kisahku. Hanya kematian merupakan angin. Yang melukai sungai, daunan, menjadi batu yang kepalanya dipenggal. Yang memindahkan dapur menghadapmu, menjadi pelarian yang diburu gempa dan tersirep.

Padamu, akulah keluarga menghadap gunung. Jalan seribu cahaya di balik ranting-ranting pohon, kususun tiap pagi di tangga rumah, agar kurasakan miliaran angin melilit jantungmu. Mereka rindu padaku, padanya, pada awan-awan di sepanjang dusun ini.

Dusun yang mempertemukan keluarga padamu. Bukit, lembah, bukit, lembah, bukit, lembah, gunung. Padamu, akulah keluarga menghadap gunung. Membalikkan laut menjadi setetes embun di kepala cucu yang berlari ke kota. Mencairkan padang es sebagai selimut perempuan yang tidak pandai membersihkan dapur selama kebun menunggu harap.

Dusun jagalah. Jagalah dusun. Jagalah aku yang menghadap gunung sebagai keluarga, agar kisahku benar-benar angin yang melilit jantungmu.

2012


Kami Tidak Kalah


Kami tidak kalah. Kami hanya lelah. Biarkan kami marah. Cuma itu yang membuat kami terbang. Bebas dari kota.

Kami tidak kalah. Kami ingin surga setelah mati. Biarkan kami menelan iklan-iklan di televisi. Hanya itu yang membuat kami menyelam. Bebas dari sapu dan knalpot truk-truk yang membawa batubara.

Kami tidak kalah! Biarkan kami menonton sepakbola sambil membuat anak. Hanya sepakbola yang membawa kami keliling Eropa. Maka, panggil aku Messi! Messi! Messi yang seksi meskipun kecil.

Ingatlah. Kami tidak kalah. Kami hanya makan tidak teratur. Dari kaki lima ini, biarkan kami mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Cuma itu yang membuat kami cepat tumbuh. Gendut dan kawin lagi.

Kami tidak kalah. Kami hanya dibatasi sekolah. Sekolah gratis, tapi begitu mahal membaca buku, dan membuat senang para guru.

Kami tidak kalah. Kami hanya dihitung.

2012

Komentar


Berita Terkait