Sastra

Menyalahkan Ibu

coba

16.12.2011 03:05:00 WIB

Sajak T.WIJAYA

Dia ingin terbang tanpa membeli sayap. Dia menjuluk batu agar langit terbuka, dan dibiarkannya batu menimpa makam ibu. Sombong. Tidak sekolah. Cerdas dengan lintasan-lintasan kecemasan dari dalam kamar dingin dan pengap. Kecerdasan yang bertarung dengan siaran televisi.

Dia berbaris menuntut Indonesia. Tidak bekerja. Tidak membaca. Saat pulang, di atas tanah warisan, tidak ada persaudaraan, kecuali keinginan terbang tanpa membeli sayap. Sayap tidak datang, dia pun menyalahkan ibu. Dia naik ke atap rumah: Tidak boleh satu pun pemikiran berbeda dengan pemahaman saya mengenai hidup!

Dia berbaris dan terus bertambah. Meninggalkan kolam, pohon, yang terus diselimuti berbungkus-bungkus penyesalan terhadap ibu.

Datanglah iblis yang merampas tanah warisan. Dia menunjuk saya yang tidak membelikannya sayap.
Tuhan. Hanya Tuhan.

2011

Komentar