Internasional

Doa untuk Perubahan Iklim

coba

22.12.2011 13:17:44 WIB

Oleh Sudeshna Sarkar

KAVRE, NEPAL (IPS) – PENONTON melenguh ketika serangkaian gambar mengejutkan menyorot di layar: tangan-tangan manusia yang habis dimakan habis arsenik, bangkai sapi kurus kering sehingga terlihat dua dimensi, anak kelaparan dengan kaki seperti batang korek api mengenggam susu kambing untuk bertahan hidup.

“Saya menunjukkan gambar-gambar ini kepada Anda agar Anda paham kenapa kita perlu fokus pada lingkungan,” ujar biksu Buddha Tibet berjubah merah yang mengumpulkan foto-foto mengerikan berjudul “A True Story of Mother Earth” di laptopnya.

Karma Samdup Lama, anak seorang petani miskin yang jadi biksu sejak berusia 12 tahun, kini wakil kepala sekolah bagi calon biarawan/biarawati, menunjukkan gambar-gambar itu kepada hampir enam lusin biarawan dan biarawati yang berkumpul di biara Thrangu Tashi Yangste di desa Buddha Namo, sekitar 40 km timur ibukota Nepal.

Ini pertemuan yang tak biasa. Meski dimulai dengan “Tashi Tsikgye”, doa puji-pujian Tibet sebagai ucapan syukur, ini adalah pertemuan tentang perubahan iklim.

“Pertemuan Para Biksu tentang Perubahan Iklim“ itu, digelar November lalu, menghasilkan pernyataan bersama dari beragam biara dan biara perempuan di Nepal untuk mendiskusikan apa yang mereka bisa lakukan untuk mengurangi emisi karbon mereka dan kenapa mereka perlu melakukannya.

Pertemuan itu merupakan gagasan Small Earth Nepal (SEN), sebuah organisasi nonpemerintah yang mengalakkan cara hidup dan konservasi yang berkelanjutan. Ia mendapat dukungan dari Korea Green Foundation, sebuah organisasi berbasis di Seoul yang bekerja di bidang konservasi lingkungan.

“Kami memutuskan untuk memulai program kesadaran perubahan iklim dengan menggandeng biarawan dan biarawati karena Nepal adalah tempat yang sangat relijius,” ujar Niranjan Bista, kordinator untuk program itu di SEN. “Ini sebuah langkah maju bagi komunitas agama untuk memberi inspirasi dan contoh.”

Meski Nepal adalah rumah bagi banyak agama, SEN memilih komunitas Buddha. Pilihan ini didasarkan atas riset Sundar Layalu yang, sebagai bagian dari proyek British Council, membuat penemuan mengejutkan bahwa biara-biara menghasilkan emisi karbon lebih tinggi dari ambang batas.

Ajaran Buddha menolak kemewahan fisik untuk bisa mencapai spritualitas dan para biksu menjalani kehidupan keras. Layalu, yang memilih biara Thrangu Tashi Yangste sebagai objek riset selama 2009-2010-nya, menemukan tingginya emisi karbon disebabkan kombinasi penggunaan bahan bakar fosil dan aliran pengunjung yang reguler.

“Biasanya biara-biara terletak di tempat terpencil, di dataran tinggi; pengangkutan makanan dan kebutuhan lainnya membutuhkan lebih banyak bahan bakar mobil. Mereka juga menggunakan generator untuk menyedot air minum. Selain itu, penggunaan dupa sangat tinggi,” ujar Sudarshan Rajbhandari, wakil ketua SEN.

SEN melatih para biksu memasak makanan dengan menggunakan briket yang terbuat dari bahan daur ulang. Selain itu, biara juga mulai menggunakan panel surya untuk memanaskan air, mengganti cangkir teh dengan mug dari tanah yang bisa terurai secara biologis, menggalakkan penanaman pohon, dan meninggalkan penggunaan kantong plastik.

“Sang Buddha mengajarkan untuk melindungi lingkungan,” ujar Karma Sandup. “Dia bilang kita menyandarkan hidup kita pada empat elemen –air, tanah, udara, dan api– dan kita harus melestarikan mereka. Dia juga bilang tanaman harus dirawat hingga jadi pohon, sebagaimana seorang ibu memelihara anaknya.”

Karma Drolma, biarawati berusia 55 tahun dari distrik pegunungan Manang yang terpencil di Nepal, bergabung dengan Thrangu Tara Abbey untuk menjadi biarawati Buddha Tibet ketika awal masa remajanya. Dia bisa baca tulis hanya dalam bahasa Tibet dan tetap hidup terasing, namun dia sadar bahwa perubahan yang terjadi akibat pemanasan global.

“Gunung-gunung menghilang dan sungai-sungai surut airnya,” ujarnya. “Bila ini terus berlanjut, semua air akan lenyap serta manusia dan hewan akan mati.”

Bista mengatakan, ada alasan khusus untuk memilih biara di Namo Buddha sebagai tempat pertemuan kesadaran iklim. “Ini adalah tempat pendakian dan tujuan wisata ternama. Kami berharap pesan akan diterima orang-orang dengan baik.”

Pertemuan para biksu itu berakhir dengan sebuah janji untuk melakukan apapun untuk mengatasi ancaman global perubahan iklim, “yang pada gilirannya akan mengakibatkan bertambahnya penderitaan manusia, ketidakadilan, dan kerusakan bumi untuk selamanya.”

Sebuah papan, berdiri di pintu masuk biara, mengingatkan penduduk dan para pengunjung akan ajaran Buddha.

“Sang Buddha mengajarkan bahwa kesejahteraan semua mahluk hidup di bumi, bukan hanya manusia, sangat penting dan sama-sama berharga,” demikian tulisan di papan itu. “Oleh karena itu kami wajib mematuhi cara hidup lebih bijak, yang menghasilkan keseimbangan alam dan masa depan yang harmonis.”*

*Artikel ini merupakan salah satu dari serial tulisan yang didukung Climate and Development Knowledge Network.

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait