SEA Games 2011

Tidak Ada “Tujahan” Selama SEA Games XXVI

coba

26.11.2011 23:22:12 WIB

Oleh Taufik Wijaya
Jurnalis dan pekerja seni

BANYAK pihak mencemaskan event SEA Games XXVI yang digelar di Palembang, beberapa waktu lalu, akan dipenuhi dengan aksi premanisme. Misalnya penodongan atau perkelahian berujung “betujahan” yang artinya saling tusuk menggunakan senjata tajm. Tak heran, polisi pun terpaksa membuat spanduk di Stadion Gelora Sriwijaya yang isinya melarang setiap warga sipil membawa senjata tajam dan senjata api. Tapi kecemasan itu tidak terbukti. Selama 11 hari pelaksanaan, tidak satu pun terjadi perkelahian hingga betujahan serta aksi penodongan dan perampokan!

Ini membuktikan, adanya kesadaran yang mendalam dari warga Palembang akan pentingnya rasa aman dan tenang selama pelaksanaan SEA Games XXVI. Ini juga membuktikan kalau masyarakat Palembang mampu melayani para tamu asing, sehingga mereka merasa aman.

Memang, seperti halnya berbagai kegiatan besar, termasuk event olahraga international, pasti terjadi aksi kriminalitas. Baik itu diselenggarakan di negara berkembang, seperti halnya Afrika Selatan
menggelar Piala Dunia 2010, atau juga event olahraga yang digelar negara-negara maju. Namun, sejak lama kota Palembang, seperti kota besar lainnya di Indonesia, dikenal sebagai kota yang paling sering didengar berita mengenai berbagai aksi kriminalitas. Jadi, ketika penyelenggaraan SEA Games XXVI, tindak kriminalitas tidak begitu menonjol, itu dapat dikatakan sebagai suatu prestasi yang luar biasa.

Apresiasi pantas diberikan kepada masyarakat Palembang, aparat keamanan, serta pemerintah.
Berdasarkan data yang didapat, aksi kriminalitas yang terjadi selama SEA Games XXVI, masih dalam tahap yang wajar, terutama terkait dengan keteledoran si pemilik barang, seperti kehilangan sepeda motor di tempat parkir, kehilangan sepeda di Jakabaring Sport City (JSC), atau kehilangan laptop lantaran si pemiliknya teledor.

Tapi, sekali lagi, tidak ada aksi penodongan, perampokan, terhadap para atlet, official, atau para tamu lainnya. Bahkan beberapa tamu SEA Games XXVI, justru merasa “dirampok” oleh para pengelola penginapan dan rumah makan. Artinya, mereka dikenakan biaya yang cukup tinggi.

Padahal sebelum ke Palembang, mereka melakukan survei mengenai biaya makan dan menginap, yang mana harga atau biayanya lebih rendah 300 persen dari harga yang muncul selama pelaksanaan SEA Games XXVI.

“Saya juga mendapat informasi, termasuk dari rekan kerja saya yang bertugas di Jakarta, kalau di Palembang harus hati-hati, sebab sering terjadi aksi kriminalitas. Ternyata itu tidak terjadi. Saya justru
mendapatkan kesan warga Palembang lebih terbuka, gampang akrab, dan suka membantu,” kata seorang wartawan dari sebuah media televisi di Vietnam.

Pengakuan wartawan Vietnam itu, memang tidak terlalu benar, sebab ada tiga wartawan Indonesia yang kehilangan barang miliknya. Yakni sebuah sepeda saat di parkir di JSC, sebuah laptop di pintu gerbang JSC, serta sebuah laptop di sebuah penginapan.

“Wah kalau di Vietnam, mungkin akan terjadi lebih banyak lagi pencurian. Tapi yang jelas, yang jadi korban bukan wartawan asing. Artinya mereka masih menghormati kami,” lanjut si wartawan.
Soal rendahnya aksi kriminalitas selama pelaksanaan SEA Games XXVI, ada sejumlah pihak berpendapat karena banyaknya aparat keamanan dan pertahanan yang berjaga selama pelaksanaan SEA Games XXVI.

Artinya, jika penjagaan tidak terlalu ketat, mungkin akan banyak terjadi tindak kriminalitas. Termasuk melakukan pencurian atau penodongan terhadap para atlet yang tengah menginap di Wisma Atlet.
Tapi pendapat ini tidak terlalu benar.

“Memang ada sih pengaruhnya. Tapi yang namanya penjahat itu, dalam kondisi apa pun dia akan
beraksi. Saya justru sepakat kalau rasa aman selama SEA Games XXVI, karena semua warga Palembang sangat menghormati para tamu. Mereka sadar, kalau para tamu ini jangan dibuat tidak nyaman, sebab mereka akan jera datang ke Palembang,” kata Doni, seorang sopir mobil yang disewa wartawan dari Thailand.

“Saya sendiri, misalnya, sama sekali tidak terpikir mau menipu mereka. Padahal kalau ditipu mereka pasti tidak tahu atau sadar. Mungkin, lantaran mereka baik-baik, dan saya merasa mereka seperti saudara sendiri. Habis wajah dan badannya mirip wong kito,” ujar Doni.

Sikap warga Palembang yang menjaga keamanan selama pelaksanaan SEA Games XXVI memang pantas diapresiasi, seperti yang diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Boediono, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo, Gubernur
Sumatera Alex Noerdin, Ketua KONI Sumsel Muddai Madang, Walikota Palembang Eddy Santana Putra, serta Pangdam II Sriwijaya, Kapolda Sumsel, dan Kapolresta Palembang. [*]

Komentar


Berita Terkait