Internasional

Pertalikan OWS dengan Hak-hak Perempuan

coba

24.11.2011 03:11:11 WIB

Oleh Sandra Siagian

NEW YORK (IPS) – DALAM rangka Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 25 November mendatang, sebuah kelompok dari organisasi-organisasi feminis akan bersatu dan menggelar kampanye yang menyerukan akhiri “ekonomi Wall Street yang tak bermoral dan tak beretika” terhadap perempuan dan masyarakat kulit berwarna.

Koalisi Clear Action for/by Women (CLAW), termasuk di dalamnya AF3IRM (http://af3irm.org/), Black Women’s Blueprint (http://blackwomensblueprint.com/), Feminism Now Podcast, ANSWER/PSL, dan Sister Song (http://www.sistersong.net/), menuntut “ekonomi yang lebih beretika dan adil serta mengakhiri eksploitasi dan perlakuan tak adil yang disengaja terhadap perempuan serta masyarakat dan bahkan bangsa kulit berwarna.”

Penyelenggara berencana mengambil kesempatan dari gerakan Duduki Wall Street (OWS) (http://occupywallst.org/), yang digalang beberapa feminis dan perempuan dengan perspektif beragam, dengan orasi dan aksi turun ke jalan dari Battery Park di New York hingga Zuccotti Park.

“Organisasi lain menyadari mereka bekerja dengan gagasan sama, sehingga kami memutuskan memulai aksi 16 hari melawan kekerasan terhadap perempuan (http://www.facebook.com/16DaysCampaign) dengan sebuah kampanye bersama,” ujar Leilani Montes, organisator dari AF3IRM, kepada IPS. “Tak cuma akan menjadi langkah terbaik untuk memulai kampanye, tapi juga akan menjadi kesempatan besar menjadi bagian dari gerakan OWS.”

Farah Tanis, salah satu pendiri dan direktur eksekutif Black Women’s Blueprint, menilai kampanye HAM organisasinya, dalam konteks aksi 16 hari, sejalan dengan gerakan OWS.

“Pada dasarnya memasukkan secara tepat isu perempuan dan antirasisme dalam konteks gerakan keadilan ekonomi adalah bagaimana saya melihat gerakan OWS,” kata Tanis. “Yakni menempatkan perempuan dan masyarakat kulit berwarna secara tepat dalam konteks gerakan keadilan ekonomi dan, bagi kami, itu adalah sebuah pendekatan HAM. Maksud saya, Anda tak bisa sepenuhnya memisahkan hak atas standar hidup layak dari topik yang kita bahas.”

Tanis berkata kampanye mereka akan memperkuat suara perempuan dan fokus pada jaringan-jaringan berbeda di dalam perempuan.

“Ini tentang tahun-tahun dan abad demi abad kekerasan, pelanggaran ekonomi terhadap perempuan, pelanggaran ekonomi terhadap warga kulit berwarna,” katanya.

“Ini bagaikan menyapu di bawah karpet. Itulah mengapa tak banyak dari (suara) kami terwakili dalam gerakan seperti OWS. Sehingga kami menempatkan konteks sejarah serta mencoba menegaskan dan menggambarkan secara historis bahwa kami telah dijauhkan dari gerakan keadilan ekonomi dan kami melihat ini sebagai kelanjutan dari gerakan hak-hak sipil dalam hal keadilan ekonomi dan kesetaraan ekonomi yang mempertimbangkan gender dan ras kami.”



Menjembatani Perbedaan

Menurut AF3IRM, kejahatan Wall Street terhadap perempuan telah memiskinkan 21 juta perempuan di AS dan menaikkan jumlah perempuan di penjara sebesar 500 persen. Mereka juga menunjukkan lebih dari 200.000 perempuan mengalami pelecehan seksual setiap tahun, dengan rerata tertinggi pada perempuan di bawah usia 24 tahun.

Laporan tahun 2009 dari Yayasan Perempuan New York, berjudul “The Economic Status of Women of Color in NYS” (http://www.nywf.org/pdf/Economic_Status_Report.pdf), menulis bahwa meski memiliki tingkat tertinggi dalam angkatan kerja, perempuan kulit hitam dan Latina berada di belakang perempuan kulit putih dan Asia dalam hal pendapatan.

Data sensus 2010 mendukung kenyataan bahwa perempuan lebih miskin daripada laki-laki dalam semua kelompok ras dan etnik, dengan jurang tingkat kemiskinan antara laki-laki dan perempuan lebih besar di AS ketimbang negara lain di dunia Barat.

Perempuan kulit berwarna menerima upah lebih rendah daripada perempuan kulit putih serta rekan pria mereka. Biro Statistik Tenaga Kerja AS tahun 2011 mengungkapkan upah mingguan rata-rata untuk perempuan kulit hitam berkisar 650 dolar dan 510 dolar bagi perempuan Latina, dibandingkan 695 dolar bagi perempuan kulit putih.

Tanis berkata, selain pendapatan, kesehatan merupakan elemen penting lain yang kurang setara.

“Kemiskinan bagi perempuan sangat berbeda dengan kemiskinan bagi laki-laki atau seseorang yang memiliki keistimewaan karena berkulit putih atau akses terhadap sumberdaya,” ujar Tanis.

“Bagi perempuan miskin, kurangnya akses kesehatan berarti kurangnya perawatan ginekologi dan reproduksi. Ini meningkatkan risiko kanker rahim, dan kian tak mampu melakukan perawatan preventif dalam hal kesehatan jantung, pemeriksaan HIV. Semua ini terkait bagi kami di jaringan.”

Meski Tanis dan Montes sangat mendukung gerakan OWS, mereka prihatin dengan laporan mengenai kekerasan dan seksime atau diskriminasi terhadap perempuan dalam protes itu.

“Meski kami mendukukung pesan inti 99 persen, kami juga ingin memastikan adanya tempat aman bagi orang-orang kulit berwarna,” kata Montes. “Perlu ruang aman bagi perempuan dan ini benar-benar pesan yang kami sampaikan di sana dan meletakkannya dalam konteks sejarah ketika kita bicara tentang komisi kebenaran.”



Membuka Kesempatan

Sementara para penyelenggara mengakui bahwa mereka tak tahu arah pasti dan seberapa lama kampanye, mereka memutuskan untuk tetap aktif dan menciptakan sebuah ruang tempat perempuan dapat bergabung dan proaktif seputar isu-isu kekerasan terhadap perempuan.

“Ada ruang-ruang lain untuk eksistensi, tapi kami tak pernah mendapatkan cukup ruang untuk melanjutkan pekerjaan kami,” kata Montes. “Saya ingin melihat apa yang terjadi pada koalisi 25 November. Kami mungkin perlu menyerukannya untuk terus terlibat. Tapi saya ingin melihat kami terus membuat strategi untuk tahun-tahun mendatang dan tak cuma reaktif namun menjadi proaktif.”

“Acara ini akan meningkatkan potensi kami untuk bergerak maju dengan penuh keyakinan dan sebuah bahan pelajaran. Ini baru permulaan,” katanya. *



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait