28.11.2011 11:47:24 WIB
Punya sederet prestasi sebagai pemain dan kemudian dinilai cukup menjanjikan sebagai manajer, Gary Speed kemudian justru mengakhiri hidupnya sendiri.
Kematian Speed yang ditemukan tewas bunuh diri, Minggu (27/11/2011) malam WIB, membuat dunia sepakbola pada umumnya tercengang dan berduka.
Speed, salah satu pemain sepakbola tersukses Wales, punya rekam jejak berkilau saat masih aktif bermain. Salah satu torehannya adalah menjadi penampil terbanyak (352 caps) di Premier League 10 Seasons Awards yang menandai 10 tahun pertama gelaran Liga Primer.
Pria kelahiran Mancot, Wales, pada 8 September 1969 tersebut kemudian gantung sepatu pada usia 41 tahun. Sementara di level internasional, Speed tampil 85 kali untuk Wales sebelum memutuskan pensiun pada tahun 2004. Karirnya, baik di level klub maupun internasional, dinilai sebagai salah satu yang paling mengilap di sepakbola Wales.
Peraih penghargaan Member of the Most Excellent Order of the British Empire (MBE) itu lantas beralih ke dunia kepelatihan. Sempat menukangi Sheffield United ia kemudian dipinang oleh timnas Wales.
Debut kompetitif Speed menukangi Wales ditandai dengan kekalahan 0-2 dari Inggris di kualifikasi Piala Eropa 2012. Wales juga sempat melorot ke posisi 117 peringkat dunia FIFA bulan Agustus 2011.
Speed lantas membuktikan diri bertangan dingin dengan membawa Wales menang atas Swiss dan Bulgaria di ajang yang sama. Wales pun melonjak ke posisi 45 peringkat dunia FIFA, sebuah posisi terbaik Wales dalam kurun waktu 17 tahun semenjak menghuni posisi 41.
Dengan usia yang masih muda, Speed pun digadang-gadang akan bisa membawa sepakbola Wales ke masa depan yang lebih cerah. Tetapi sebelum itu terjadi, awan mendung sudah datang seiring dengan kabar tragis, yang kemudian dikonfirmasi, bahwa Speed sudah mengakhiri hidupnya sendiri.
Kejadian tersebut sangat mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Apalagi sekitar 18 jam sebelum ditemukan tewas Speed bahkan masih menjadi bintang tamu di acara Football Focus BBC One.
Seorang rekan yang sudah mengenal Speed selama dua dekade terakhir memang menuturkan kalau sobatnya itu belakangan memang terlihat tidak seceria biasanya. Namun, ia meyakini kalau hal itu tidak cukup kuat untuk membuat Speed memutuskan bunuh diri.
"Gary memang sedikit murung dalam dua atau tiga bulan terakhir. Ia sedikit kurang senang dengan nuansa politik dalam pekerjaannya di Wales meski tim itu tampil bagus di bawah arahannya," ujar rekan yang tidak disebutkan namanya itu kepada Daily Express.
"Tapi itu tidak menjelaskan kematiannya. Pasti ada sesuatu yang jauh lebih besar untuk menjelaskan sesuatu yang sedemikian drastis karena ia sangat menyayangi dua putranya, Ed, yang masih 14 tahun dan menekuni sepakbola, dan Tommy, yang baru 12 tahun tapi sudah menunjukkan bakat sebagai petinju," paparnya.
Sehari sebelum kematiannya, Stan Collymore yang merupakan mantan pemain klub Liverpool juga mengisyaratkan kalau Speed tengah memerangi depresi, sebagaimana dilansir Telegraph.
Spekulasi mengenai alasan Speed menyudahi hidupnya sendiri juga berhembus di dunia maya. Speed diduga depresi karena tengah mengidap sebuah penyakit berat.
Selain itu juga muncul spekulasi bahwa mantan pemain Leeds, Everton, Newcastle United, Bolton Wanderers, dan Sheffield United tersebut depresi karena sebuah suratkabar akan memberitakan sebuah skandal dalam kehidupan pribadinya. Namun, suratkabar The Sun yang disebut-sebut sebagai media tersebut sudah melontarkan bantahan.
Alasan Speed mengakhiri hidupnya sendiri memang masih jadi misteri. Tapi satu hal yang pasti, dunia sepakbola sudah kehilangan salah satu figur terbaiknya.
Selamat jalan, Speed! (dtc)
