Peristiwa

Meliter dan Polisi Hadir di Kongres Papua

coba

19.10.2011 15:36:55 WIB

PARA peserta Kongres Papua di Jayapura, terkejut saat datang lima kendaraan lapis baja dan ratusan polisi bersenjata lengkap dan perwira militer, Rabu (19/10/2011).

"Tiga tank milik Brigade Mobil (Brimob) dari Polda Papua dan yang lainnya militer itu," kata seorang peserta bernama Oktovianus, seperti dikutip Jakarta Globe.

Pertemuan diadakan setiap tahun untuk mendorong hak-hak orang asli Papua antara suku-suku yang berbeda banyak di sana, telah berlangsung sejak Senin (17/10/2011) kemarin. Lebih dari 5.000 peserta dari 234 suku di Papua telah hadir.

"Acara ini dijadwalkan berakhir Rabu (19/10/2011) sekitar pukul 9 pagi, tetapi sebagai peserta tiba di lapangan di Padang Bulan Abepura di mana kongres telah diadakan, mereka disambut oleh unjuk kekuatan dari polisi dan militer," kata Oktovianus.

"Kongres membahas hak-hak penduduk asli Papua, terutama hak-hak politik," kata Oktovianus.

Penyelenggara, dia menambahkan, telah memberitahu Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan tentang kongres tersebut.

"Pemerintah pusat telah diberitahu tentang kejadian tersebut, serta Polri dan militer, dua minggu sebelum kongres."

Namun, kata dia, tidak ada izin telah diberikan oleh lembaga-lembaga untuk mengadakan acara.

Andreas Harsono dari Human Rights Watch mendesak militer untuk tidak menggunakan kekerasan. "Human Rights Watch menentang kekerasan karena itu tidak memecahkan masalah," kata Andreas.

"Para peserta kongres bisa berbicara tentang isu-isu sensitif, tetapi mereka melakukannya dengan damai, tidak ada kekacauan, dan tidak ada yang dirugikan," katanya, menambahkan bahwa menurut hukum Indonesia segala bentuk pengumpulan diperbolehkan asalkan diberitahu polisi.

"Aku tahu hukum seperti itu tampaknya tidak berlaku di Papua tetapi saya meminta polisi untuk tidak mendiskriminasi orang Papua karena mereka juga bagian dari Indonesia," kata Andreas.

Komentar


Berita Terkait