17.09.2011 19:47:13 WIB
Banyak Pemberitaan Hanya Hura-hura
Pemberitaan sejumlah media di Indonesia saat ini dinilai lebih banyak hura-hura dan hanya meramaikan pemberitaan sehingga masyarakat menjadi bingung lantaran wartawan tidak mencari data akurat.
"Kalau wartawan melakukan investigative reporting, urusan wisma atlet itu menjadi terang, siapa yang salah dan mana yang benar. Tapi itu tidak dilakukan,” kata Ketua Yayasan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) yang juga wartawan senior, Marah Sakti Siregar, di sela-sela acara workshop jurnalisme tentang perkembangan investigative reporting di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Sabtu (17/09/2011).
Menurut Marah dalam workshop yang diselenggarakan SJI Sumsel dan Pemprov Sumsel itu, liputan investigasi di Indonesia memang belum merata dan belum diaplikasikan secara meluas sehingga belum menggembirakan.
Kepala SJI Sumsel Iman Handiman dalam kesempatan itu menekankan, investigative reporting justru semakin penting untuk mengungkap berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Banyak kasus dan skandal hukum yang seolah-olah terkunci padahal bisa dilacak dan dibeberkan melalui investigative reporting.
Dikatakan Iman, PWI melalui SJI terus merangsang wartawan di daerah untuk belajar melakukan peliputan investigasi, dan beruntung Sumsel mendapatkan kesempatan memberikan kuliah investigasi kepada para wartawan.
“Pemberitaan suatu masalah atau kasus nggak untuk ramai saja. Berputar-putar di satu masalah orang jadi bingung. Bila kita tidak melakukan investigative reporting, tumpul jadinya. Fakta yang sebenarnya tidak disajikan. Liputan investigasi memerlukan waktu dan skill, karena itu kita bawa gurunya ke sini, Miss Yvonne Chua dari Filipina,” katanya.
Sementara Asisten III Bidang Kesra Pemprov Sumsel dr Aidit Aziz yang membuka workshop ini mengatakan pihak Pemprov Sumsel menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan peningkatan kompetensi dan profesionalisme wartawan.
“Saya gembira PWI memberlakukan uji kompetensi wartawan. Memang tiap bidang keilmuan harus ada uji kompetensi agar bisa berkiprah di masyarakat. Uji kompetensi untuk wartawan ini sangat baik dan kita sambut gembira,” katanya.
Ketua PWI Sumsel H Oktaf Riyadi mengatakan, kegiatan ini adalah kegiatan yang langka. Ia meminta peserta yang hadir dapat memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya.
Pemateri Miss Yvone Chua dari Filipina yang merupakan Training Director of Philippine Center For Investigative Reporting Jurnalism dan kini aktif di lembaga bernama Vera File mengatakan, selama 30 tahun menjadi jurnalis dia sudah biasa menghadapi masa yang sulit dalam peliputan. Sekalipun demikian, dia sudah tahu harus ke mana jika menghadapi masalah.
Sebagai seorang ibu, katanya, apapun risiko yang ada harus dihadapi dan anak dan suaminya mengetahui dan mengerti kendala yang dihadapinya selama ini.
Yvone menilai tugas jurnalis sama seperti tugas polisi dan militer yang penuh risiko, namun risiko tersebut harus dihadapi.
“Yang terpenting bagaimana kita mendalami materi dan statement narasumber kita buktikan apakah yang disampaikan narasumber itu benar, karena itu harus dilakukan investigative reporting,” katanya.
Karena terpenting seorang jurnalis bagaimana menggali kebenaran berita untuk publik karena itu seorang jurnalis harus menarik jarak antara narasumber atau penguasa agar bisa menjadi kontrol terhadap kebijakan penguasa.
Banyak berita yang bisa diangkat seperti di antaranya masalah korupsi, sistem pendidikan, pajak, minyak, kemacetan lalulintas, penanganan bencana alam, yang semuanya bisa dilakukan investigasi.
“Dalam melakukan investigasi, yang diperlukan bukan hanya keterampilan dasar sebagai jurnalis tetapi bagaimana kita mendapatkan dokumen berkaitan dengan berita dan mindset kita terhadap berita sehingga informasi yang disampaikan kepada publik terang benderang dan semata-mata merupakan fakta,” ujarnya.
Yvonne menunjukkan salah kasus penjualan rumah mewah milik anak presiden Pilipina, Aroyo bernama Mickey Aroyo berprofesi sebagai anggota DPR di California, Amerika Serikat yang ternyata tidak dilaporkan kepada pemerintah Filipina.
Dalam memaparkan materinya Yvone Chua dibantu wartawan senior dan staf Unesco, Arya Gunawan. Kuliah ini diikuti puluhan wartawan media cetak, elektronik dan online se-Sumsel.
