29.09.2011 20:19:47 WIB
Oleh Elizabeth Whitman
PBB (IPS) – “ADA sejarah memalukan dan terdokumentasi dengan baik tentang pelaku tertentu dalam industri yang… menempatkan kesehatan masyarakat dalam risiko untuk melindungi keuntungan mereka sendiri,” kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di depan para pemimpin dunia ketika mereka bertemu untuk membahas isu penyakit tak menular (NCDs) di Majelis Umum PBB ke-66 pekan ketiga September.
Pertemuan tingkat tinggi itu memberi kesempatan bagi negara-negara untuk berbagi kisah keberhasilan dan inovasi dalam memerangi NCDs, sebutan paling umum untuk penyakit kanker, diabetes, pernafasan kronis, dan kardiovaskular.
Mengakibatkan 63 persen kematian di seluruh dunia, atau 36 juta jiwa setiap tahun, NCDs merupakan ancaman serius bagi pembangunan ekonomi dan sosial global.
Pertemuan tersebut, plus deklarasi politik yang disepakati negara-negara anggota, menguraikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasi NCDs. Sebuah tantangan nyata, tetap, dan dapat menjalar muncul: bagaimana memastikan korporasi yang didorong keuntungan dan kelompok industri tak mempengaruhi kebijakan atau upaya lain untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Para pemimpin pemerintahan dan masyarakat sipil sepajat bahwa, sebagaimana deklarasi politik itu nyatakan, pencegahan dan pengendalian NCD membutuhkan “pendekatan multisektor”. Namun banyak juga yang prihatin atas ketiadaan batasan jelas guna membedakan keterlibatan sektor swasta dari ketakpatutan dan berpotensi tak etis, atau memastikan profit tak mengabaikan kesehatan publik.
Konflik kepentingan
Deklarasi politik itu sendiri secara eksplisit mencatat “konflik kepentingan mendasar antara industri tembakau dan kesehatan masyarakat”, tapi tak menyebut hal serupa untuk industri makanan dan minuman atau farmasi. Sebaliknya, deklarasi itu menyerukan kedua sektor swasta itu untuk “memproduksi dan mempromosikan lebih banyak produk makanan dengan diet yang sehat” dan “berkontribusi terhadap upaya meningkatkan akses dan keterjangkauan obat-obatan.”
Tembakau, alkohol berlebihan, diet tak sehat, dan kurangnya olahraga adalah empat penyebab utama NCDs. Kelompok industri memainkan peran kunci dalam tiga penyebab utama itu, betapapun peran menguntungkan atau berbahaya bagi kesehatan masyarakat bisa bervariasi.
Bill Jeffrey, koordinator nasional Centre for Science in the Public Interest, Canada (CSPI-Canada), berkata keterlibatan sektor swasta “takkan terintegrasi” tanpa kode etik. Begitu pula tak ada “hubungan antara perdagangan dan kesehatan, yang secara tepat ditunjukkan dalam deklarasi politik ini.”
CSPI-Canada adalah anggota Koalisi Konflik Kepentingan yang mengusulkan pembuatan kode etik.
Douglas Bettcher, direktur Inisiatif Bebas Tembakau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkata WHO memiliki “pedoman sangat jelas dan tegas yang berhadap-hadapan dengan perusahaan komersial untuk memastikan kebijakan kerja kami tak diselewengkan dan tak terbuka untuk pengaruh yang tak semestinya dari sektor swasta.”
Dia menegaskan, deklarasi politik terbebas dari tekanan sektor swasta. “Disebutkan dengan sangat tegas, ‘dimana dan seperti apa’,” katanya kepada IPS.
Namun, ada “aspek-aspek tertentu yang menurunkan faktor risiko ketika kerjasama dengan industri memiliki manfaat,” katanya. Misalnya, penerapan kebijakan mengurangi sodium dalam makanan dan terlibat dalam pemasaran yang bertanggungjawab bisa membantu meningkatkan kesehatan masyarakat.
Tapi ketika kelompok industri berpartisipasi dalam diskusi atau terlibat dalam pembuatan kebijakan, pengaruh mereka secara langsung dapat melemahkan kepentingan kesehatan masyarakat dalam pengendalian NCDs, sebuah aspek yang lebih menguntungkan dari perspektif farmasi, misalnya, ketimbang pencegahan.
“Memastikan kurangnya fokus pada pencegahan dan lebih menekankan bagaimana mengontrol NCD,” ialah salah satu cara industri farmasi dapat meraih keuntungan dari krisis NCD, ujar Gigi Kellet, wakil direktur kampanye Corporate Accountability International.
Sebelum memulai pertemuan membahas NCD, PepsiCo yang menjadi tuan rumah, bersama kedua lembaga PBB, mengadakan diskusi panel pada pagi harinya di PBB untuk perwakilan pemerintah.
Saat ditanya potensi konflik kepentingan dalam acara semacam itu, Bettcher berkata peristiwa itu terpisah dari acara PBB dan WHO.
Dr Mehmood Khan, CEO Global Nutrition Group dari PepsiCo, mengatakan pada pertemuan terkait NCD ini bahwa dia menekankan perlunya kerjasama swasta-masyarakat. Dia menyatakan secara eksplisit bahwa tugasnya membantu kelompok itu tumbuh hingga 30 milyar dolar pada 2020 dan mengingatkan audiens, “Pengolahan (makanan) sebanding dengan perkembangan kelompok industri makanan utama.”
Sasaran sulit
WHO merekomendasikan tujuan mengurangi angka kematian akibat NCD sebesar 25 persen pada 2025, sebuah target yang dikecualikan dari deklarasi politik dan mengundang kritik banyak pemimpin dunia. Pemantauan NCDs dan target pengurangannya merupakan langkah krusial berikutnya –dan tantangan– kata mereka.
“Tanpa target jelas takkan ada akuntabilitas atau dorongan nyata yang diberikan,” kata Puteri Dina Mired dari Yordania, direktur Yayasan Kanker King Hussein, bicara di Majelis Umum PBB.
Joanna Ralston, CEO World Heart Forum, anggota Aliansi NCD, menyoroti kesenjangan antara rerata NCD di negara maju versus negara berkembang, tempat 90 persen kematian akibat NCD terjadi.
Karena “masyarakat semakin urban, tinggal di kota padat yang sangat besar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah”, pola hidup dan pilihan makanan mereka mengalami perubahan, ujar Ralston kepada IPS. Mereka umumnya kurang gerak badan dan tak punya banyak pilihan untuk makanan sehat.
“Ada sejumlah faktor yang mempengaruhinya,” ujarnya, mulai dari perencanaan perkotaan hingga pengembangan pertanian dan perdagangan. Aspek-aspek ini dalam beberapa hal menjadi bagian dari masalah, tapi dapat juga menjadi bagian dari solusi. Dia juga menyebutkan perlunya upaya lebih keras dalam memperjelas target (memerangi NCD) secara spesifik.
Mengatur jumlah sodium yang diizinkan dalam makanan, misalnya, berdampak pada penyakit kardiovaskular, kata Ralston.
Di seluruh dunia, bukti menunjukkan kemungkinan mengurangi kematian terkait NCD. Tantangannya sederhana: ambil tindakan.
Sesudah memaksakan pelarangan iklan rokok dan undang-undang antitembakau, Uruguay misalnya, mampu mengurangi 25 persen kematian akibat rokok selama periode tiga tahun. Sementara Brazil telah mengambil langkah-langkah meningkatkan jumlah kegiatan fisik untuk anak-anak di sekolah dan mengurangi kandungan sodium dalam label makanan serta menghilangkan lemak tak jenuh dalam makanan.
WHO memperkirakan kematian terkait NCD akan meningkat 17 persen pada dekade selanjutnya, tapi di Afrika bisa sampai 24 persen. Menurut Forum Ekonomi Dunia, selama 20 tahun ke depan, dampak ekonomi global dari keempat penyakit NCDs, plus cacat mental, bisa mencapai 47 trilyun dolar.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
