23.08.2011 04:16:19 WIB
Sajak T.WIJAYA
Sebelum lebaran, aku kembali dimarahi istri. Catatan-catatan yang meneror di kamar tidur yang kering, menindih dada dan kepala. Tidak ada sejarah para raja dan sultan yang mampu menyelamatkan, termasuk nyanyian para filsuf yang lolos dari penyiksaan.
Puasa hanya serupa lapar. Daun-daun kering dan mulut bagai padang pasir. Tapi istriku terus marah. Dia belari mengelilingi kolam, berharap ikan-ikan lele cepat membesar dan turut gembira menyambut lebaran. Lele-lele menggeliat, tertawa dan sembunyi ke dalam lumpur.
Mengapa pintu lebaran selalu penuh ketakutan? Tidurlah, tidurlah istriku, mari menyusun doa menyambut buko yang indah. Tidurlah. Lebaran tak mungkin dikalahkan dengan kemarahan. Tidurlah. Sambut dia dengan buko-buko yang putih.
2011
