27.07.2011 10:17:15 WIB
Sajak-Sajak T. WIJAYA
Sejarah
Perempuan-perempuan berlari menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Melayani pembeli bensin, dan mengira telah membuang panci, diterjen dan bedak. Truk-truk yang kehabisan bensin tersenyum. Truk-truk yang melayani para lelaki menyedot minyak bumi dan gas.
Perempuan-perempuan itu menangis di dalam pembangunan. Berulangkali bunuh diri. Bunuh diri yang tak tercatat, sebab lelaki selalu lahir tiap menit memberinya janji, bersama panci yang terus mengikuti ilmu pengetahuan yang digantungkan di dinding dapur.
Para lelaki pun berkata, sebelum dan sesudah melahirkan beri kami bensin.
Setelah memberi bensin, mereka dibiarkan bodoh bersama buah dadanya. Ditinggalkan berulangkali hingga membusuk di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Perempuan-perempuan itu terus menangis di dalam pembangunan. Mereka berlari ke dalam hutan. Berjuang menutup sumur minyak bumi dan gas. Tapi bunting dan menyusui membuat mereka kembali ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Para lelaki terus berkata, sebelum tua dan mati beri kami bensin. Perjalanan kami masih jauh buat mengisi pembangunan.
2011
Pulanglah ke Indonesia
Pulanglah ke Indonesia, katamu.
Kita tidak dapat pulang. Kita tidak pernah pulang. Kita selalu bergerak, menemui setiap perubahan. Indonesia selalu bergerak. Berlari. Ada yang melaju cepat, terseok-seok, atau mati dan kemudian
membusuk.
Pulanglah ke Indonesia, katamu.
Diam itu tak ada. Jadi, maaf, aku tak dapat pulang. Aku selalu pergi dari Indonesia. Sebab Indonesia terus meninggalkanku. Dia hanya meninggalkan catatan yang secara pelahan ditinggalkan kata-kata.
Pulanglah ke Indonesia, katamu.
Sia-sia. Aku sudah berlari ke bagian terdalam dari kelamin Indonesia.
2011
