01.05.2011 00:40:02 WIB
Sajak T. WIJAYA
Bank yang menghisap, pasar yang menggilas, televisi yang membakar, pemerintahan yang menidurkan, pesawat terbang yang mencakar, pendidikan yang memiskinkan, kesehatan yang mencandukan, maka dunia menjelang kiamat dan kami tertindas, kami ingin berhenti bekerja. Biarkan kami membakar rumahmu serta memukul apa yang menjijikkan yang telah menghancurkan surga. Kami berkumpul di sepanjang Sungai Musi. Surga bukan lagi kejujuran dan bekerja keras. Surga sebuah perlawanan!
Oi, berhentilah bekerja. Tinggalkan kantor yang dipenuhi keinginan para pendatang, yang telah mengeringkan anak-anak dan istri di pusat perbelanjaan. Biarkan si bos tidak mampu lagi bernyanyi dan minum wine di kamar hotel. Jangan dengarkan para pendatang merayu kita. Jangan kunjungi pertemuan-pertemuan yang digelar para motivator. Percayalah surga bukan lagi kejujuran dan bekerja keras. Surga sebuah pembebasan!
Oi, berhentilah bekerja. Bekerja menumpuk kecemasan yang terus memburu hingga ke liang kubur. Hitunglah keletihanmu yang menguap ke pesta-pesta para pendatang. Berhentilah bekerja. Berhentilah roda yang menggilas kita.
Hari ini, mari berbaris bersama lapar dan kebodohan di sepanjang Sungai Musi. Buang semua dahak kemarahan ke arus Sungai Musi. Jangan biarkan para polisi melarang kita. Mandikan mereka dengan air Sungai Musi agar terlihat surga bukanlah melarang, mengancam, memenjarakan, dan menembak para pekerja. Katakan surga sebuah perlawanan terhadap roda yang menggilas.
Dunia menjelang kiamat dan kami tertindas, kami ingin berhenti bekerja. Biarkan kami mandi dan mencuci pakaian yang penuh keringat di Sungai Musi. Kami ingin surga sesungguhnya. Sebuah masa yang dijanjikan Tuhan, tanpa pabrik dan mesin-mesin yang cepat menghitung keuntungan. Tuhan, bekukan otak para pendatang di bank-bank yang dijaga para taun.
2011
