29.04.2011 23:32:55 WIB
Sajak T. WIJAYA
Jangan kau biarkan tanah di kampung dan kotamu terjual, sebab bangunan-bangunan itu ingin menguburkan doa-doa suci para leluhurmu, yang menjaga Nusantara.
Engkau berdiri di mana?
Dulu bangunan-bangunan itu serupa kapal, yang pelan-pelan mendangkalkan tepian Sungai Musi, kemudian mengangkut jutaan batu dari Gunung Dempo, naskah-naskah yang bersih dari rumah panggung, serta biografi para wali, yang kemudian dibekukan di titik terdalam gunung salju.
Engkau menggunakan telinga yang mana?
Bersihkan tubuhmu dari daki yang ditiupkan debu-debu bangunan itu. Bergegaslah ke Sungai Musi. Mandi. Mandi. Sampai Tuhanmu kembali terlihat bagai cahya yang tak berwarna setitik pun darah.
Mereka datang dari abad-abad yang gagal. Membawa makanan, pakaian, musik, parfum, dan tubuh-tubuh gempal, hingga kau melihat sujud sebagai sia-sia. Mereka membangun abad kemenangan, saat kau terlelap tidur.
Bangun. Bangun. Bangun. Jaga kampungmu. Jaga kotamu. Kibarkan rohmu sebagai badai yang berpusar sampai ruang kerjamu bersih dari Tuhan baru, yang dibawa mereka yang mendirikan bangunan-bangunan persis di ujung lantai sujudmu.
Engkau serupa apa?
Jika kau tak mampu menjaganya, Sungai Musi meluap, menyapu para pendatang yang hari ini tengah menciptakan Tuhan baru di ruang kerjamu.
2011
Ilustrasi: Lukisan "Batanghari Sembilan" karya Suharno Manaf, Usa Kishmada, D’Maah, Amrul Hiban, Rahman R. Hambour, Rudi Maryanto, Indra Kesuma, Heru Andriansyah, dan Erwan Suryanegara (2010).
