21.11.2010 17:46:05 WIB
Oleh IMRON SUPRIYADI
(Catatan kecil dari Sejumlah Pementasan Teater di Palembang 2010)
Mencatat perjalanan dinamika teater di Palembang, menurut saya di tahun 2010 ada ghirah (semangat) yang menurut saya bukan hal baru, tetapi melihat sejumlah pementasan teater yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga, enam bulan terakhir perjalanan teater di Palembang sangat dinamis. Dalam konteks ini saya melihat ada peningkatan kuantitas pementasan teater yang cukup siginifikan dibanding tahun sebelumnya. Paling tidak, saya mencatat ada 15 event pementasan teater
di Palembang, yang menurut saya menjadi satu fenomena menarik untuk membangun trust (kepercayaan) kepada pemerintah dan pihak swasta untuk kemudian mereka berkewajiban merespon secara positif terhadap perjalanan teater di Palembang. Ini sebagai jawaban; teater di
Palembang tidak mati!
Kenapa saya katakan demikian? Pertama, karena jumlah event pementasan mengalami peningkatan drastis dibanding tahun sebelumnya. Ini sebuah kemajuan. Kedua, dari sejumlah pementasan yang saya lihat, banyak potensi kreasi seni, bukan saja teater tetapi juga cabang lain dari sejumlah sekolah dan kampus, yang notabene menjadi embrio (kader-kader) pelaku seni (dan teater) di Palembang yang sudah seharusnya diakomodir oleh lembaga-lembaga seni yang ada. Bukan hanya
Dewan Kesenian Palembang (DKP) dan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS), tetapi semua baik secara kelembagaan atau individu memiliki tangungjawab sama dalam mengupayakan kader-keder pelaku teater ini tetap konsisten menjaga kreatifitasnya sampai kemudian menelurkan
generasi berikutnya.
Tetapi, satu hal yang harus diakui juga tentang kualitas kemasan, naskah dan elemen lain yang menjadi bagian penting dalam sebuah pementasan teater. Dari sejumlah pementasan, (terutama teater yang lahir dari sekolah dan kampus) belum bisa dijadikan acuan kualitas kelayakan untuk sebuah pertunjukan teater yang layak jual, apalagi ditawarkan kepada pihak swasta. Meskipun, ada satu atau dua kelompok teater dari kalangan mahasiswa yang memberanikan diri menjual tiket
sebagaimana pementasan di berbagai kota di luar Sumatera Selatan. Ini sudah keberanian yang cukup luar biasa. Dan faktanya juga banyak yang menonton.
Namun dari catatan saya, kalau berbincang kualitas pementasan teater memang tidak bisa diukur secara matematis. Penilaian ini sifatnya sangat relative, yang sudah pasti akan disesuaikan dari mana kita menilai sebuah pementasan dan masing-masing orang akan berbeda. Maksud saya, kualitas dan tidaknya pementasan teater masing-masing orang memiliki ukuran yang variatif.
Bagi orang yang sudah biasa menonton pementasan Teater di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, sangat mungkin melihat kualitas pementasan teater di Palembang masih jauh panggang dari api. Tetapi bagi kalangan siswa dan mahasiswa yang baru kenal teater, apapun bentuk pementasannya akan menilai ‘baik’ selama tema ceritanya bisa diikuti sejak awal hingga akhir. Kelompok ini hanya akan mengukur baik buruknya pementasan dalam konteks kedekatan psikologi, apakah karena
kelompoknya yang pentas atau memang karena alur ceritanya yang masuk dalam ruang batin dan logikanya, sehingga pementasan itu dinilai baik dan layak tonton.
Dengan kata lain, kelompok kedua ini kualitas pementasan tidak akan menyentuh hukum panggung seperti bloking, moving, tata artistic, penyutradaraan, music. lighting dan lainnya. Sebab, memang kelompok ini masih awam terhadap seni teater (baru belajar menjadi penonton teater yang baik).
Tetapi bagi kelompok yang memilki standar tinggi, apalagi sudah berpengalaman menonton pementasan teater yang layak jual, akan bisa membedakan dan menilai baik buruknya pementasan teater dari sisi penggarapan, tema cerita dan pesan moral dari sebuah pementasan.
Pesan Sponsor
Lepas dari semua itu, catatan saya kalau melihat sejumlah kelemahan pementasan teater di Palembang, (terutama teater dari sekolah dan kampus) masih sangat diwarnai oleh “racun” sinetron, sehingga panggung teater tak lebih memindahkan adegan sinetron keatas panggung, baik tema cerita, penggarapan dan lainnya. Selain itu, konten (naskah) yang menjadi bagian penting dari pementasan itu sendiri. Sampai hari ini, secara umum teks-teks teater (naskah) yang meuncul ke permukaan belum bisa dijadikan sebuah alat kritik terhadap realitas sosial, yang notabene sangat penting dimunculkan. Yang lebih parah lagi, ada penulis naskah teater yang ‘memaksakan’ pesan sponsor, sehingga tema cerita yang seharusnya bisa diolah lebih dalam, justeru bias oleh
pesanan. Meskipun ini bukan menggadaikan ideologi teater, tetapi karena penulis naskah sudah dihinggapi gambaran rupiah sponsor, sehingga mau tidak mau harus menyelipkan pesan sponsor. Masalahnya bukan tidak boleh mengusng pesan sposor, tetapi hanya bagaimana mengemas, sehingga pesan sponsor tetap sampai, tetapi penoton tidak terasa kalau sedang dibawa kepada sebuah sponsor tertentu. Dalam konteks ini perlunya sebuah kreatifitas maksimal bagi penulis
naskah, sehingga naskah akan lebih hidup ketika dipentaskan.
Sejumlah kelemahan, baik naskah atau kemasan pementasan teater versus sinetron, (bagi teater dari sekolah dan mahasiswa) tidak bisa kita menyalahkan lantai saat kaki kita terikilir saat menari. Demikian juga sejumlah kekurangan dan kelemahan pementasan teater yang lahir dari sekolah dan kampus. Kenapa? Ya karena mereka lahir juga dari pelaku seni teater yang ada di Palembang! Jadi mengapa harus menyalahkan mereka? Mestinya para pelaku teater yang ‘mengaku berpengalaman’ tunjukkan kreatifitasnya dalam sebuah garapan pentas teater yang memiliki nilai jual, manggandeng sponsorship atau lembaga lain,sehingga pementasan itu akan “menjadi guru” bagi pelaku teater
yang baru kenal dengan dunia teater. Kalau sejumlah kelemahan dan kekurangan ini terbiar begitu saja, dengan sendirinya teater yang lahir dari sekolah dan kampus tidak aka nada peningkatan kualitas termasuk teater-teater di kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.
Masalahnya kemudian, kadang sebagian kita mengaku banyak tahu tentang teater, padahal sebenarnya kita baru tahu kulitnya saja, sehingga teater hanya dijadikan sebagai pentas tekstual diatas panggung tanpa membawa pesan moral bagi pelakunya atau bagi masyarakat. Apalagi pola
garapan dan kemasan pentas, naskah dan lainnya. Selain itu, ada kecenderungan kita merasa besar, merasa aktor hebat, sutrdara senior, penulis hebat, pelaku teater yang militan, sehingga menilai remeh orang lain. Pola pikir seperti ini, bila masih menggurita di sejumlah pelaku teater di Palembang, sebaiknya mulai dikikis habis, supaya tidak ada perasaan merasa “paling, ter dan hebat” diantara pelaku teater lainnya. Kenapa ini penting? Karena selama perasaan merasa hebat, merasa aktor senior itu masih menyusup dalam logika dan batinnya, sudah pasti tidak akan mau lagi menerima kritik, masukan dari orang lain, apalagi menonton karya orang lain, termasuk karya anak-anak sekolah dan kampus. “Sudahlah, anak-anak sekolah, kampus paling-paling mak itulah!” kaliamt pesimistis yang sama sekali tidak member motivasi bagi generasi baru bagi dunia teater!
Catatan ini, terlihat dari sejumlah pementasan teater yang muncul belakangan ini. Mungkin juga disebabkan keterbatasan panitia dalam melakukan sosialisasi undangan, sehingga sejumlah pelaku teater di Palembang yang “lebih senior” tak sempat hadir. Sebab, tidak sampainya undangan atau pemberitahuan juga sering menjadi kendala atau alasan ketidakhadiran. Padahal hanya datang sekadar duduk dan menonton sebentar, lalu berbicang seadanya, menurut saya bisa menjadi bagian
penting dalam mengawal proses dinamika seni teater di Palembang. Kedatangan para pelaku teater ‘senior’ menjadi penting artinya bagi motivasi adik-adik siswa dan mahasiswa. Tetapi saya tidak tahu, dari sejumlah pementasan teater di Palembang (terutama yang diselenggarakan bagi siswa dan mahasiswa), hanya antar pelajar dan mahasiswa saja yang datang, sementara para pelaku teater di Palembang yang lebih ‘senior’ hanya satu dua orang saja. Semoga kesibukan mereka sedang
mempersiapkan naskah pementasan teater yang berkulitas, untuk tahun 2011, yang kita harapkan dapat menjadi ‘guru’ bagi kita semua. Baik buruk pementasan bukan masalah, itu sebuah realtifitas. Tetapi menurut saya, kehadiran pelaku teater senior di tengah dinamika teater siswa dan mahasiswa menjadi pendorng semangat bagi mereka agar tetap konsisten melestarikan seni teater di Palembang. Semoga!
DATA EVENT DAN PEMENTASAN TEATER DI PALEMBANG 2010 (Juni-November)
1. Pentas Teater Lawas “Festival Topeng” di Auditorium RRI Palembang
oleh lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur Palembang
2. Pentas Teater Kosong Sembilan “119 Tanda Cinta dari Ayah” di Graha
Budaya Jaka Baring Palembang
3. Festival Teater Tingkat SMA oleh Balai Bahasa Sumsel di Graha
Budaya Jaka Baring
4. Monolog Erwin Janim dalam HUT Dewan Kesenian Palembang
5. Pentas Dulmuluk di Café Raja Penukal oleh Lembaga Kebudayaan
Venesia dari Timur
6. Festival Dulmuluk di Mall Palembang oleh Himpunan Tetare Tradisional Sumsel
7. Festival Teater Tingkat SMA di SMA Negeri 8 Palembang
8. Festival Teater Tingkat SMA dan SMP di Graha Budaya Jaka Baring
Palembang dalam acara PUAS Teater Lawas Universitas PGRI Palembang
9. Pentas Teater Lawas “Gubernur Nyentrik” di Graha Budaya Jaka Baring
Palembang
10. Pentas Teater Gaung di Jakarta dalam Festival Teater Remaja Nasional 2010
11. Pentas Teater Alam “Palu Plastik Daun Pintu” di Surabaya dalam
Festival Seni Surabaya 2010
12. Keikutsertaan (Evan Fajrulah) Pelaku Teater Palembang dalam Mimbar
Teater Indonesia di Taman Budaya Solo.
13. Pelatihan Dasar Teater di Taater Arafah IAIN Raden Fatah Palembang
14. Polsri Mencari Bakat (salah satunya seni teater) oleh Poltek
Sriwijaya Palembang
15. Pentas Teater di internal masing-masing Kelompok dalam HUT Teater
GABI dan Teater Gaung Palembang.
Sumber : Litbang Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur Palembang
